[Resensi Buku] Seasons to Remember – Ilana Tan

Judul buku : Seasons to Remember

Pengarang : Ilana Tan

Penerbit : Gramedia Pustaka Utama

Tahun terbit : Januari, 2013

Tebal : 160 halaman

Rate : 3/5 bintang

Harga : Rp 57.000,-

“Aku tidak tidak membuat rencana atau kerangka ketika menulis. Satu cerita hanya diawali dengan satu ide cerita sederhana, lalu aku menunggu ide itu berkembang dengan sendirinya.” – Ilana Tan

Enggak butuh waktu lama untuk membaca buku ini, nyatanya, isi buku ini hanyala kutipan-kutipan manis yang berada di dalam tetralogi empat musimnya Ilana Tan. Ada rasa ketipu juga sih, awalnya aku berharap kalau ini lanjutan dari cerita 4 musim tersebut. Meniliki tak ada sinopsis di belakang buku ini dan cover yang super mengundang; membuatku benar-benar berharap dan percaya kalau aku bakal menemukan cerita-cerita manis seperti yang aku temukan di tetralogi empat musim. Sayangnya, TIDAK, seperti yang kubilang tadi, isinya hanyalah kutipan-kutipan dari buku empat musim, kesan-kesan penggemar dan prakata dari Ilana Tan sendiri tentang tetraloginya yang empat musim. Padahal, aku yang sebelumnya cukup kecewa dengan buku terakhir Ilana Tan–Sunshine Become You–berharap buku yang satu ini mampu mengembalikan rasa cintaku pada tulisannya.

Kemudian, nilai minus yang lain adalah, banyaknya bagian kosong di setiap lembarnya. Okay, kalau kalian mau tahu, setiap halaman buku tersebut hanya memiliki SATU kutipan saja. Bayangkan, betapa ruginya kalian membayar uang 57.000 hanya untuk membeli 160 halaman yang isinya bahkan bisa di kompres menjadi 50 halaman saja. Emmmh, aku sungguh tak tahu apa maksud membuat ruang kosong itu, jadi mungkin, agar aku tidak merasa rugi telah membeli buku itu. Bagian-bagian yang kosong agan kucoret-coret dengan pensil, hahaha πŸ˜›

Namun, yang harus diacungi jempol di sini adalah si pembuat cover buku dan si penggambar ilustrasi pada setiap bagian kutipan yang dibagi empat, yaitu:

– Bag. 1 Summer in Seoul
– Bag. 2 Autumn in Paris
– Bag. 3 Winter in Tokyo
– Bag. 4 Spring in London

Sangat menggambarkan isi dari cerita tersebut, terutama bagian ke-2, jatuh cinta dengan ilustrasi apartemen Tara yang kesannya sangat sendu dan sepi. Great job GPU! Memang tak salah kalian menjadi perusahan pernerbitan terbesar di Indonesia.

Kemudian, nilai plus lagi dari buku ini adalah, membangkitkan rasa kangenku pada buku-buku empat musim. Benar-benar buku nostalgia yang apik. Bagi kalian yang sudah pernah membaca buku tetralogi empat musim dan kalian ingin membaca ulang buku itu namun tak memiliki waktu? Aku sarankan untuk membeli buku ini, kalian akan kembali tersenyum, menangis, dan marah saat membaca semua kutipan itu.

Jadi, kesimpulannya, bintang tiga ya. Satu bintang untuk cover, satu bintang untuk ilustrasi, satu bintang untuk kutipan nostalgianya! πŸ™‚

46 pemikiran pada “[Resensi Buku] Seasons to Remember – Ilana Tan

    1. Iya, –” PHP banget sih sama covernya, salah saya juga langsung kepincut sama cover sih. Hahaha, tapi ya sud, seenggaknya bukunya cukup kece dipajang di rak. hahaha.

      Wah, itu buku recomended bangeeeeet! bagus banget, pokoknya tetralogi 4 musim is the best deh. Untuk sunshine becomes you… errr, masing2 orang sih pendapatnya. Hahahaha. kalau menurut saya agak kurang.

  1. Huehehe… aku juga hampir ketipu loh, dikta…
    Waktu liat bukunya di gramedia, aku mau beli tapi lagi nggak ada uang…
    Terus aku bilang sama temenku kalo Ilana Tan nulis buku baru… Eh, besoknya dia beli dan ngomel soalnya dia juga ngira itu novel lanjutan dari 4 seasonnya Ilana… hehehe
    Akhirnya, aku pinjem dia deh buat liat ilustrasi2nya
    hehehe :p

    1. Aaaaaaaaaaa~ beruntungnyaaa! Saya sampai sebel pas buka buku itu, dan menyadari bahwa isinya hanya kutipan-kutipan yang sebenarnya sudah pernah saya baca dan saya resapi (bahkan untuk yang autumn in paris saya nyaris hapal di luar kepala) #dueeeng Sejujurnya baca buku ini berasa dapat zonk…–__–“

  2. zolakharisa

    Pas lihat Kak Dicta ngetweet ini dan muncul di timeline-ku tadi, aku langsung buru2 buka lho Kak. Hehe, kebetulan aku emang baru aja pengin beli buku itu dan waktu ingat harganya cukup mahal, sempet ketahan juga takut… Zonk. Akhirnya, pas baca resensi kakak ini ketemu jawabannya! Beruntung belum beli waktu itu, soalnya emang lagi cari novel bagus sih. Ah, Kak Dicta juga suka tetralogi empat musim? Sama kalau begituuu! *gak ada yang nanya* sekian kak πŸ˜€

    1. Syukurlah, dirimu tidak bernasip sama seperti diriku, Adik! πŸ˜€ Sepertinya membuat resensi buku ini adalah pilihan yang tepat. Hahahaha.

      Waaaah, suka bangeeeet! BANGET! Apa lagi yang di Autumn T____T novel pertama dan terakhir yang bisa bikin aku nangis.

  3. lady

    smua tulisan ilana sukses bikin q klepek2. walopun temany sdrhn tp cr eksplor dia amazing.ngincer buku ni jg bnrnya…thx resensinya,bs jd pencerahan πŸ˜‰

    1. Halo, Ira Ajummah! Selamat datang di blog saya yang ecek-ecek, semoga betah ya!

      Senang banget blog saya dikunjungi sama Ira Ajummah, saya sering liat komentan Ira Ajummah di Korean Indo, khususnya artikel Big Bang. Pengen banget bisa ngobrol sama Ira Ajummah, tapi malu dan segan gitu kali dikira SKSD. Hehehe.

      Untung! Hihihihi, saya menyelamatkan satu orang lagi dari perasaan ‘gue-ketipu-sama-ini-buku’. Syukurlah. Terima kasih sudah bersedia membaca ya Ira Ajummah, silakan datang kembali!

      1. haayyy… haayy.. jugaa.. ternyata sudah kenal toh sama saya?? ahh~~ saya jadi pengen GR. hahahahaaa #narsis kumat!#
        walahhh dicta darling gak usah malu kalo mau ngobrol, saya juga biasanya suka SKSD koqq~~ hahahaa

        iyaahh nih, beruntung deeh baca resensi mu. soale dari kemaren ngebet banget pengen beli buku ini..

        sama-sama…. okee deehh nanti kapan-kapan pasti mampir ke sini lagi. πŸ˜€

    1. Kebetulan karena saya sudah lama baca buku itu, jadi enggak bikin resensinya. Menurut saya pribadi kelemahan buku tersebut berada pada plot dan setting cerita yang ‘kurang gereget’. Ada beberapa hal common atau standart yang terjadi. Di antara lain:
      – Benci jadi cinta
      – Dua saudara yang memperebutkan hati seorang gadis
      – Latar yang begitu-begitu saja
      – Dan terakhir ending yang ‘menurut saya’ sangat common. Salah satu dari pemeran utama kita meninggal (ups! sorry spoiler)
      Intinya sih Kak Ilana ingin menggabungkan cerita 4 season menjadi satu buku di dalam sunshine becomes you. Hahaha.
      Nah, segitu aja sih yang menurut aku kurangnya. Lebihnya, seperti biasa, Ilana sangat hebat dalam bermain diksi yang mendayu-dayu πŸ˜€

      1. Indah retno

        Tp masih penasaran ma tuh novel..benar juga si ,konflik yang diciptakan kak ilana tan itu sering muncul dinovel lain dan mudah di tebak tp aku suka sama diksi yang dia gunakan,keren banget gak bosenin

      2. Baca aja! πŸ˜€ Enggak rugi kok. Saya pribadi sih ngerasa enggak pernah rugi baca buku-buku Ilana Tan (kecuali yang ini sih). Iya, emang diksinya Ilana Tan itu sesuatu banget, bisa bikin pembaca kebawa meski konflik yang ditawarkan biasa-biasa saja. πŸ˜€

      3. Hihihihi, ayo nabung! πŸ˜€
        Wah, saya enggak pernah baca online kalau buku. Senengnya baca hardcopy πŸ˜€ kecuali novel yang dikasih langsung sama penulisnya. Hahaha, baru deh saya baca.

  4. Indah retno

    Susah kalau nabung buat beli buku semacam novel,kebutuhan lain berasa melambai2 didepan mata..haha lebay
    lagian tempat tinggalku jauh dari toko buku semacam gramedia. Ya jadinya aku baca novel secara online kalau gak biasanya juga minjem-minjem#plaak gak modal ye..hehe

    1. Wah, memang tinggal di mana kalau boleh tahu? Suka baca kan enggak harus beli bukunya, di mana aja asalkan bisa baca, entah itu baca koran atau apa gitu, tetap ada manfaatnya πŸ˜€

      1. Indah retno

        Di desa daerah semarang..tp kalau toko buku kaya gramedia itu adanya dipusat kota semarang dan butuh waktu sekitar 2jam’an buat kesana..iye bener banget baca buku dimana aja bisa

  5. Indah retno

    Enggak aku lebih suka membaca drpada menulis..kadang-kadang kepikiran untuk nulis sesuatu tp selalu berhenti ditengah jalan karna ide melayang-layang entah kemana..haha
    btw rumah kamu mana?

    1. Hihihhi, dilatih aja lagi, mungkin nanti bisa lebih terasah πŸ˜€ Rumah saya? Saya tinggal Di Banjarmasin, kalimantan selatan πŸ˜€ Ngomong-ngomong, kakak line berapa? Saya ’96.

    1. Untung banget sih, Kak Fya! Seandainya waktu itu saya tanya2 sama temen2 saya apa ada yang punya, mungkin saya gak rugi sebanyak itu kali ya…–__–”
      Iya, saya juga setuju, 4 season emang legenda. Ketimbang Sunshine becomes you, saya masih lebih menyukai 4 season:)

      1. fyaminwoo

        Yup! sampe kamar banjir pas baca yg autumn in paris πŸ˜€

        ahaha, nggak papa dic, itung-itung nambah koleksi buku kamu xD berguna juga kalo ada temen yg pinjem (maklum saya doyan pinjem)

        yg sunshine becomes you itu…apaya…eumm endingnya sebenernya nggak ketebak sih. Tapi nggak tahu kenapa kurang duarrr gitu pas dibaca -___-“

      2. Sejujurnya, saya mulai kecewa sama Ilana Tan saat membaca sunshine becomes you. Setelah menjadi penulis best seller dengan 4 season, beliau tidak menemukan ide2 baru dan cemerlang lagi. Therefor, sunshine becomes you itu justru malah terkesan seperti buku yang mencoba menggabungkan 4 buku (4 season) sebelumnya menjadi satu buku. Makanya kesannya kurang duar.

    1. Saya menyesal sekali sih Kak Riko. Hahahahaha. Tapi yah, semoga gramedia tidak menjual nama penulisnya aja di kemudian hari dan benar-benar memikirkan pembaca yang menharapkan sebuah cerita, bukan buku kutipan. πŸ˜€

    1. Autumn emang buku pertama dan yang terakhir yang bisa bikin saya nangis Kak πŸ˜€ Benar2 buku melegenda. Kita diangkat naik, tapi dibelakangnya entar ke banting jatuh banget. Hancur deh hati. Hahahaha. Terima kasih sudah bersedia membaca resensi saya ya. Silakan datang kembali!

  6. Halo kak,salam kenal aku pengunjung baru di blog kakak ini πŸ™‚ aku nemu blog kakak ini secara gak sengaja,pas nyari info tentang Ilana Tan πŸ˜€

    Perasaan yang aku rasain kurang lebih sama dengan kakak. Waktu itu aku yang lagi nyari buku Ilana Tan yang Summer in Seoul (aku baru baru ini ngoleksi karya Ilana Tan) gak sengaja liat tetralogi Ilana Tan itu. Aku mikirnya itu mungkin karya terbaru Ilana,tapi ternyata… Setelah beli aku ngerasa kayak ketipu. Ternyata isinya adalah kutipan2 dari masing2 novelnya. Sempat pengen nangis juga. Tapi yah udah telanjur… #maaf kak jadi curhat aku πŸ˜€

    Setuju sama pendapat kakak. Ilustrasinya sama covernya emang patut diacungin jempol. Ngundang banget πŸ™‚ Dan aku paling suka baca yang kutipan dalan novel Ilana yang Autumn in Paris. Menyentuh dan terasa mendalam πŸ™‚

    Aku gak pandai berkata kata kak,jadi maaf kalo terkesan aneh dan semacamnya komentar aku ini(_ _)#BOW Salam kenal yah kak~ πŸ˜€

    1. Halo, Fadilaaaaa!

      Aduh, banget ya baru bisa balas komentar kamu. Saya sedang hiatus untuk Ujian Nasional. saya senang sekali baca komentar kamu. Sudah lama saya tidak punya komentar panjang yang bersemangat mengomentari tulisan atau resensi saya. Mengajak disukusi yang panjang! Aduuuh! Saya bener-bener seneng πŸ˜€

      Kalau kamu ada resensi buku atau rekomendasi buku bagus. ayo diskusi bareng πŸ˜€

      Terima kasih ya sudah mau datang, berkunjung ke blog saya. Semoga berkenan datang kembali!

  7. saya belum baca novel yang ini.. kira-kira seprti apa? menarikkah seprti autumn paris?

    novel yang menarikkk.. sedih juga.. saya membaca nya aja sampai menangis tak terbaca ternyata mereka memiliki hubungan darah.. bener-bener kasih tak sampai.. tapi suka sama sifat tara duppont di sini..

    Numpang promo ya jangan lupa juga buat berkunjung ke blog saya:
    obat kista tradisional.
    obat pelangsing herbal
    terimakasih sebelumnya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s