Diposkan pada Resensi Buku

[Resensi Buku] Cosplay The Series Vol.1 – Bonni Rambatan

Cosplay

Judul                     :               Cosplay The Series, Vol.1

Penulis                 :               Bonni Rambatan

Penerbit              :               Plot Point Publishing

Tahun Terbit      :               Juni, 2012

Tebal                     :               205 halaman

Rate                       :               4/5 bintang

Cosplay bukan hanya tentang tampil cantik seperti tokoh anime dan berhaha-hihi kiri-kanan. Cosplay itu tentang begadang di sela banyak tugas demi menyelesaikan kostum untuk event besok pagi. Cosplay itu tentang tersedak-sedak bau cat agar kostum kita tidak menghina arime orisinalnya. Cosplay itu tentang mengoleskan lem di pipi demi menempelkan wig bandel agar jatuhnya pas membingkai wajah, dan keluar rumah dihiasi noda lem di pipi esok harinya karena kurang bersih cuci muka. Cosplay itu tentang mendisiplinkan diri melupakan segala rasa galau demi membawakan tokoh polos ceria saat di dalam kostum. Betapa segala perjuangan itu telah memberi makna dan menghiasi hidup Annisa.”  – Cosplay: The Series vol. 1, halaman 15

 

Jika kalian mengharapkan cerita cinta remaja yang mehe-mehe, dengan segudang hubungan cinta yang berbelit-belit antara ini dan itu, dan memiliki akhir dengan salah satu tokohnya meninggal, cacat atau pun menyerahkan dengan perasaan cintanya. Kalian salah  besar kalau mau beli buku ini.

Buku Cosplay The Series adalah buku pertama yang aku punya dari penerbit baru ini, Plot Point, dan jujur saja aku cukup terkesima dengan keberanian mereka menerbitkan sebuah serial online; meskipun kenyataan, serial ini sudah memiliki cukup bayak penggemar yang tersebar di seluruh Indonesia mau pun luar negeri. Hahaha.

Awalnya sih enggak begitu tertarik sama buku ini, meskipun suka jejepangan, aku bukan penggemar berat cosplay atau hal-hal yang berbau akting. Jadi, waktu lihat cover buku ini pertama kali di TL Twitter—aku nge-follow akunnya @_PlotPoint—dan lihat langsung di Gramedia, aku enggak gitu tertarik dengan bukunya. Cuman liat cover terus taroh lagi.

Nah, kenapa bisa aku beli? Waktu itu aku sempat berpikir untuk membuat sebuah series dengan tema otaku gitu setelah bikin cerpen ini (Denda), di salah satu adegannya si cewek da si cowok utama bakal ngelakuin cosplay bareng. Well, lantaran aku enggak punya basic cosplay dan temen-temenku di klub Nihon pun sama. Akhirnya aku pun memutuskan untuk membeli buku ini untuk sekedar menjadi refrensi dalam penulisan series itu.

Tapi karena kesibukan yang menghimpit, aku pun enggak sempat nulis serial itu atau bahkan membaca bukunya. Jadi buku ini terlantar berbulan-bulan di atas kotak buku-bukuku. Hahaha. Baru deh, dua hari kemarin aku menyelasaikan membaca novel yang sepertinya akan menjadi berseri-seri ini.

Okay, lanjut ke isi resensinya (ah! Curcol mulu lu, Dict!), hal bagus dari buku ini adalah ceritanya yang remaja bangeeet, namun enggak mehe-mehe kayak cerita remaja lainnya. Sama sekali enggak ada cerita cinta-cintaan atau hal-hal semacam itu. Semua murni tetang persahabatan yang terjadi di antara sebelas orang anggota Q-Cosushinkai Cosplay Club.

Kesebelas orang ini memiliki problema mereka masing-masing. Dengan tokoh utama Annisa yang merupakan tokoh netral dari buku ini—di mana problematika yang ia hadapi tak sebanyak tokoh-tokoh lain—ia menjadi tokoh kunci yang akan menjadi tempat tokoh-tokoh lain menceritakan kisah dan keluh kesahnya.

Si Agnesya, gadis lolita yang jago menjahit punya konflik dengan ayah-ibunya tentang masa depan. Si Bagas, pria tambun yang kikuk namun jago membuat armor dan perlengkapan cosplay ternyata dulu sempat berpikir untuk bunuh diri karena tekanan metal dari orang-orang sekitarnya. Si Ketua ekskul, Ocha, gadis yang suka mukul-mukul kipas kertas besar ke semua orang dan ceria ini juga punya masalah pribadi dengan kakaknya hingga membuatnya murung. Kemudian Vincent, si pembina ekskul, pun ternyata punya masa lalu yang tidak enak dengan sahabat-sahabatnya yang lama.

Dan masih banyak lagi yang lainnya yang mungkin akan diceritakan lebih lanjut di vol. 2, seperti si pencuri makanan Yogi, si mangaka mesum Eka,si titisan sadako Bando, si centil Ayu, si Neko Girl Anya, dan si musisi ganteng Arya.

Di vol. 1 ini, inti ceritanya adalah perjuangan mereka bersebelas dalam mempertahankan ekskul mereka yang hendak dibubarkan oleh sekolah. Sekolah ingin membubarkan eskul itu karena hasutan dari seorang tokoh antagonis, bernama Sukma (ini cowok, awal baca aku kira cewek sih, hahaha) yang merupakan mantan sahabat Vincent dan memiliki dendam pribadi dengan pria itu.

Well, aku enggak akan memberikan spoiler lebih banyak lagi. Yang pasti, di buku ini aku menemukan pesan yang sangat mendalam dan sangat ngena buat jiwa remajaku.

“Temukan jati dirimu, dan bertahanlah dengan hal itu meski seluruh dunia mengucilkanmu. Karena itu kamu!”

Ini sangat menginspirasi, bagaimana seluruh tokoh yang ada dalam cerita ini diselamatkan oleh cosplay. Jati diri mereka ada di cosplay, dan mereka tidak pernah main-main dengan hal itu. Seperti yang aku kutip di atas, cosplay enggak segampang kelihatannya ‘kan? Dan aku sangat terkesan dengan hal ini. Karena aku merasakan sendiri dan melihat sendiri bagaimana anak-anak yang menyandang sebutan otaku dan suka jejepangan itu dianggap aneh dan sering dijauhi padahal mereka hanya menyatakan kegemarannya (alah, curcol lagi). Okay, dari segi cerita, ini udah keren bangeeet!

Nah, tapi, sekeren-kerennya cerita pasti ada sisi minusnya kan? Ini nih minusnya.

Well, dengan tokoh sebanyak ini, novel ini emang pantes dibagi-bagi menjadi beberapa volume. Namun, sisi jelek dari banyaknya tokoh cerita di sini adalah, kesusahanku sebagai pembaca untuk menghafal nama setiap tokoh dengan kepribadiannya masing-masing. Kadang aku harus kembali ke bagian awal untuk membedakannya, lalu kembali melanjutkan membaca. Saat menulis resensi ini pun aku masih harus membuka novel ini lagi untuk mencocokan nama dan kepribadian masing-masing tokoh.

Tapi, kekurangan ini cukup ditutupi dengan penggunaan sudut pandang ketiga yang easy reading. Tidak berbelit-belit. Sangat remaja. Di novel ini sangat banyak narasi yang panjang, bahkan untuk menceritakan suasana pagi di rumah Annisa pun Kak Bonni harus menulisnya dalam beberapa lembar. Namun, aku pribadi tidak merasa begitu terganggu dengan hal ini, karena narasinya memang bagus.

Kemudian, nilai minus yang lain adalah pengeditan tulisan yang sangat tidak baik dari pihak penerbitan. Aku mungkin memaklumi karena Plot Point adalah salah satu penerbit baru yang mencoba bersaing di dunia literasi. Namun, akan lebih baik jika mereka mampu membuktikan kalau kualitas kerapian bukunya bisa sebanding dengan penerbit-penerbit lain. Cover? Okay, itu keren dengan gambar separuh badang dari seorang cosplayer cewek. Sinopsis? Okay, enggak mehe-mehe juga berbelit-beli. Tapi isinya itu loh, typo bertebaran! Banyak kalimat dan kata yang harus dicetak miring, kalimat tidak selesai, kemudian typo yang paling nyebelin itu ‘nafas’ yang seharusnya ditulis ‘napas’ dan ‘resiko’ yang seharusnya ditulis ‘risiko’! Errh, typo-typo sederhana ini adalah musuh bebuyutanku.

Semoga kedepannya Plot Point mampu mengedit dengan lebih teliti semua buku-buku yang diterbitkan. Bukan hanya sebagai penghargaan pada penulis, tapi juga kenyamanan pembaca yang membacanya.

Jadi, aku kasih bintang empat ya, minus satu bintang karena beberapa nilai minus yang tadi aku jabarkan.

Akhir kata, buku ini sangat cocok untuk kalian yang suka jejepangan karena kalian bakal ngerasa ‘gueee bangeeet’; dari ngerasa dikucilkan dan lain sebagainya. Selain itu, buat kalian juga yang udah bosan dengan cerita remaja yang mehe-mehe dan plot yang gitu-gitu aja. Buku ini pun bisa menjadi alternatif untuk kalian baca.

Iklan

Penulis:

Pecinta Naruto dan Conan, menganggap menulis adalah sebuah obsesi dan membaca buku sama dengan bernapas. Suka menghabiskan waktu di sudut kedai sendirian; ditemani laptop dan makanan yang paling murah di kedai tersebut :)

2 tanggapan untuk “[Resensi Buku] Cosplay The Series Vol.1 – Bonni Rambatan

  1. menarik. tapi cukup baca reviewnya dicta aja deh, kurang hobi jejepangan soalnya hehe. walah saya malah baru kata2 itu penulisan yang bener seperti itu. malu rek…

    1. Hahaha, iya Kak, emang remaja banget sih ceritanya. Dan kadang juga saya enggak ngerti2 juga istilah cosplay meski suka jejepangan. 😀 Wah, kalau masalah typo sih kembali ke pembaca juga sih Kak, kadang ada pembaca yang enggak masalah sama hal itu. Tapi saya pribadi yang kebetulan bocah ababil agak kurang srek gitu sama typonya. Heee.

      Terima kasih ya Kak sudah baca resensi saya 😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s