Diposkan pada Cerita Pendek, Psy-thriller

Pagi Berdarah

air-mata-darah

SMA Nusa Bangsa mendadak geger pagi ini, semua murid diliburkan dan pintu gerbang dihalangi garis polisi. Kasak-kusuk dari tetangga mulai riuh, tangis dan juga jeritan dari keluarga korban pun tumpang tindih, sementara wartawan berseleweran tak tahu juntrungannya—berharap mendapat gambar yang bagus agar tidak dimarahi atasan.

Aku pun hanya meringis prihatin sembari mengikuti seorang polisi masuk ke dalam mobil yang akan membawaku ke kantor mereka. Tidak, aku bukanlah si Psikopat yang memulai tragedi ini. Aku hanyalah murid biasa yang kebetulan menjadi penemu pertama tempat kejadian perkara dan yang menjerit seperti orang gila ketika mendapati lantai kelas yang bersimbah darah itu.

Jujur aku masih syok dengan apa yang aku lihat. Aku sungguh tak menyangka, gadis polos seperti Yanti tega melakukan tindakan sekeji itu. Padahal, selama ini ia salah satu murid kebanggaan guru. Yah, meskipun pada kenyataan tindakan pengucilan dan cemooh datang silih berganti membuat tabiatnya menjadi semakin aneh.

“Apa Saudari Irine mengenal semua korban dan juga pelaku?”

Bagaimana mungkin aku tidak mengenal mereka? Mereka semua teman sekelasku. Terutama Yanti. Gadis itu selalu menjadi sorotan karena memiliki kemampuan bicara yang ulung. Ia sangat talkative, ia senang berdebat dengan guru dan mempertanyakan hal-hal yang tidak ia ketahui. Kadang kala hal itu menghidupkan suasana di kelas, namun di lain pihak, banyak murid-murid lain beranggapan kalau Yanti hanya mencari perhatian dan congkak.

Terutama Dewi, ia merasa sangat terganggu dengan polah Yanti. Tidak hanya itu, ia pun jengkel dengan kepedean gadis yang memiliki tubuh bongsor dan berjerawat itu. Dewi yang cantik dengan tubuh lampai memiliki kepopuleran yang terkenal di angkatan kami. Sifat angkuhnya pun sama terkenalnya, ia bagaikan ratu di sekolah, dan tak segan-segan melakukan hal buruk pada orang-orang yang ia rasa mengganggu.

Sungguh, aku masih ingat dengan jelas hari itu. Baru satu bulan semenjak kami mengenakan pakaian putih abu-abu. Guru Ilmu Sosial kami meminta masing-masing murid membuat sebuah argumentasi dan mempersentasikannya di depan. Dan saat tiba pada giliran Dewi, banyak sekali kesalahan dan argumentasi yang tidak masuk akal yang gadis itu berikan (Dewi memang masuk ke sekolah ini lantaran uang yang mengalir deras dari saku orangtuanya). Namun, nyaris tak ada satu orang pun di kelas yang berani mengungkapkan kesalahan itu, karena kami tahu Dewi tidak suka orang-orang yang menyatakan kelemahannya. Hingga tiba-tiba saja, Yanti, dengan kepolosannya mengungkapkan semua kesalahan yang ia ketahui dari argumentasi Dewi. Guru kami memuji Yanti dengan tindakan berani itu, dan memberi nilai tambah. Tapi tidak bagi Dewi, ia tak pernah lupa bagaimana Yanti mempermalukan dirinya di depan kelas.

“Apa Anda tahu masalah yang terjadi di antara mereka?”

Ya, aku tahu, semua murid di kelas dan guru pun sebenarnya juga tahu. Semenjak kejadian itu, Dewi mulai memprakarsai aksi pengucilan untuk Yanti. Ia mulai dengan sifat talkactive gadis itu yang mengganggu, hingga akhirnya melipir pada fisik Yanti yang memang tak begitu menarik. Akibat perbuatan Dewi itu, tak ada satu orang pun yang mau mendekati Yanti. Teman-teman di kelas pun bahkan menganggap lebih baik tidak mendapat nilai sama sekali ketimbang harus bekerja di satu kelompok yang sama dengannya.

Tidak hanya sampai di situ, Yanti pun selalu diperolok, semua orang menjijik-jijikannya seakan-akan menyebut namanya saja dapat menyebabkan penyakit parah. Yanti diindikasikan sebagai ‘sesuatu’ yang buruk, jelek, dan setara dengan hal-hal tabu. Sungguh perlakuan yang sangat tidak mengenakan. Aku pribadi kasihan padanya, tapi aku tak bisa melakukan apa pun. Selain aku tak ingin ikut dikucilkan, aku pun tak tahu apa yang harus aku lakukan untuk menolongnya.

“Bagaimana sikap Yanti terhadap semua perlakukan itu? Apa dia memberontak dan marah?”

Tidak. Yanti diam saja. Namun, ada perubahan yang sangat signifikan dari sikapnya. Ia menjadi lebih pemurung, kepercayaan dirinya menghilang entah ke mana, dan suaranya yang dulu selalu terdengar di setiap mata pelajaran pun tak lagi ada. Ia berusaha untuk tidak terlihat agar orang-orang berhenti memperoloknya. Sayangnya, bukannya menghilang, segala prilaku buruk yang ia terima malah semakin menjadi-jadi.

Dewi dan kawan-kawannya semakin senang memperolok Yanti karena gadis itu tidak melawan sama sekali. Bahkan tidak hanya memperolok-olok Yanti,  mereka pun mulai menyerang Yanti dengan serangan fisik. Seperti menjegal kaki, menarik rambut dan lain sebagainya. Yanti semakin depresi dan sempat beberapa hari tak masuk karena prilaku buruk itu. Tapi bukannya merasa bersalah, Dewi malah senang dan berkata dengan nyaring di depan kelas bahwa tanpa Yanti kelas kami menjadi lebih enak sebagai tempat belajar.

Aku sungguh tak habis pikir dengan tingkah Dewi yang kejam itu. Beberapa anak di kelas pun mulai merasa kasihan pada Yanti dan berhenti melakukan tindakan pengucilan itu. Namun Dewi mengancam akan melakukan hal yang sama seperti yang ia lakukan terhadap Yanti pada orang yang mencoba menolong gadis itu. Kami semua takut, perasaan serba salah pun mucul. Hingga pada akhirnya kami semua mencoba untuk menutup mata dan telinga atas semua kejadian itu.

“Apa hal itu yang memicu Yanti untuk berbuat seperti ini?”

Bukan. Yanti masih terlihat tabah meski tekanan yang ia terima semakin menjadi-jadi. Ia mungkin depresi, tapi hal itu tak lantas membuatnya melakukan tidakan sekeji itu. Yanti benar-benar gadis yang kuat. Namun, kekuatan Yanti itu hancur tatkala sebuah tamparan batin yang lebih berat menyapa hidupnya.

Ayah Yanti meninggal dunia. Kecelakaan beruntun di jalan tol.

Tak pernah aku melihat Yanti menangis tersedu-sedu seperti itu sebelumnya. Dari teman-teman sekelas, hanya segelintir orang yang datang melayat ke rumah gadis itu dan salah satu dari segelintir orang itu adalah aku. Sungguh, hatiku tersayat ketika melihat keadaan Yanti saat itu, aku benar-benar ingin menolongnya! Tapi apa daya, wajah bengis Dewi yang mengancam tak mampu kuhilangkan dari benak. Jadi, yang bisa aku lakukan hanyalah berdoa dalam hati bahwa berkat kejadian ini Dewi merasa kasihan dan  berhenti melakukan perbuatan jahat pada Yanti.

Tapi ternyata, kenyataan tidak seindah harapanku. Dewi justru menggunakan kematian ayah Yanti sebagai bahan baru ejekannya pada gadis itu. Sungguh keterlaluan.

“Udah! Lu enggak usah tangisin bokap lu itu! Malahan lu harusnya bersyukur bokap lu mati cepet, Yan! Jadi bokap lu enggak liat seberapa nistanya anaknya yang satu ini! Hahahaha.”

Yanti langsung menangis histeris tatkala mendengar perkataan Dewi yang begitu menyakitkan itu. Dan untuk pertama kalinya Yanti berontak dan menerjang Dewi yang tidak menyangka gadis itu akan lepas kendali hingga Dewi terjengkal jatuh ke lantai. Tapi, Yanti tak hanya sampai di situ, ditahannya tubuh Dewi di lantai dan sambil menangis Yanti menampar wajah Dewi berkali-kali, meluapkan segala rasa yang ia tahan selama ini.

Semua itu berjalan begitu cepat, hingga baru beberapa menit kemudian para murid laki-laki melerai tindakan Yanti tersebut dan menyelamatkan Dewi yang wajahnya mulai berwarna kebiruan. Kejadian itu berbuntut dengan Yanti di-skorsing oleh pihak sekolah, dan Dewi masih dapat melenggang dengan tenang di sekolah meski dengan wajah lebam. Sungguh tindakan memihak yang sangat kentara dari sekolah. Seharusnya, Dewi sejak dari dulu mendapatkan skorsing atau bahkan dikeluarkan dari sekolah.

“Apa Saudari Irene tahu kronologi pembantaian itu?”

Aku tidak tahu secara jelas apa yang terjadi. Tapi yang pasti, kemarin, saat pulang sekolah aku melihat wajah Dewi pucat pasi saat menemukan sebuah surat di dalam tasnya. Ia berserta teman-temannya pun langsung membatu dan tak keluar dari ruang kelas sampai seluruh murid menghilang; menyisakan dirinya, teman-temannya dan Yanti yang terdiam di bangkunya seperti mayat hidup.

Aku pun menduga kalau surat itu dari Yanti, dan benar saja, di ruang kelasku yang menjadi lokasi kejadian ditemukan surat yang berisikan kalimat-kalimat ancaman. Surat itu pun ditunjukkan padaku untuk memastikan apa surat itu benar ditulisan oleh Yanti atau tidak. Dan ya, benar, itu memang tulisan Yanti. Mengingat hanya Yanti yang memiliki dendam sedemikian besarnya kepada Dewi hingga mampu menulis seperti ini:

‘Aku pasti akan membunuh kalian semua. Jika ingin selamat,  suruh penjaga sekolah pulang dengan otoritasmu dan mari kita bicara .’

Sepertinya Yanti sudah merencanakan pembantaian itu jauh-jauh hari dan matang. Nyaris tak ada yang menduga bahwa di dalam tas usang milik Yanti, gadis itu membawa sebilah golok dan segulung kawat besi yang ia gunakan untuk membunuh Dewi dan teman-temannya. Aku tak bisa membayangkan bagaimana kejadian itu berlangsung. Mereka bahkan tak sempat kabur dari  ruang kelas dan harus merenggang nyawa dengan potongan tubuh tersebar di dalam kelas.

Hal pertama yang aku lihat di lokasi kejadian adalah sepotong tangan yang tergeletak tepat di balik pintu kelas. Kemudian di susul tumpukan kepala di atas meja guru yang berjumlah lima kepala dan ceceran darah memenuhi lantai kelas yang putih. Sampai sana aku mulai mual dengan bau anyir darah, namun mataku menangkap kembali tubuh-tubuh tanpa kepala dengan kaki-tangan tak lengkap  tergantung dengan diikat di vetilasi jendela.

Aku menutup mulutku dengan tangan, berusaha untuk tidak menjerit. Namun seperti ada sebuah kekuatan magis yang besar, aku pun menoleh ke arah papan tulis dan mendapati sebuah tulisan dari darah terpampang jelas di sana.

‘Dunia ini terlalu kotor untuk aku tinggali.’

Aku menahan napas, tangisan tak dapat kubendung lagi. Aku menjerit sangat nyaring dan berlari ke ruang guru, berharap menemukan pertolongan. Tapi ternyata, yang dapatkan bukanlah guru-guru yang sedang melakukan rutinitas paginya, melainnya guru-guru yang menangis histeris tatkala melihat salah seorang murid mereka bunuh diri di ruangan itu.

Ya. Yanti bunuh diri.

Gadis itu memotong urat nadi tangannya dengan cutter dan membiarkan dirinya mati lemas kehabisan darah serta oksigen di ruangan itu. Tak ada satu guru pun yang berani memindahkan mayat Yanti atau pun mayat murid lain di ruang kelas sampai polisi datang. Guru-guru perempuan hanya menangis tersedu-sedu sedangkan yang laki-laki berusaha keras agar tak ada murid selain aku yang melihat lokasi kejadian itu.

Sungguh pagi yang sangat kacau di SMA Nusa Bangsa. Aku sendiri tak dapat melakukan apa-apa sampai polisi datang membawaku pergi untuk dimintai keterangan. Aku diperiksa selama kurang lebih enam jam hingga akhirnya aku diperbolehkan pulang. Selama perjalanan pulang ayah menceramahiku dengan berbagai hal perihal kejadian ini. Tentang aku yang tak boleh menyakiti orang lain, tentang aku yang tak boleh bertindak gegabah, dan lain-lain. Tapi, aku tak begitu mendengarkan ceramah itu, karena pikiran juga hatiku dipenuhi dengan rasa bersalah kepada  Yanti juga Dewi.

Seandainya aku bisa lebih berani dan tak peduli dengan ancaman Dewi, lantas menolong Yanti untuk bangkit dari keterpurukannya. Aku yakin, tak akan pernah ada kejadian seperti ini menimpa teman-teman sekelasku.

Fin.

A/N:

Untungnya aku enggak berpikiran seperti Yanti saat di-bully dulu. Hahaha. Selain itu, aku masih beruntung, aku masih punya teman-teman yang tak pernah pergi dari sisiku saat semua tindakan buruk itu menimpaku. Jadi, untuk kalian yang memiliki teman, saudara atau kenalan yang mengalami hal yang sama. Aku harap kalian tidak meninggalkan mereka, melainkan mendekatkan diri kepada mereka dan memberi mereka kekuatan 🙂

Iklan

Penulis:

Pecinta Naruto dan Conan, menganggap menulis adalah sebuah obsesi dan membaca buku sama dengan bernapas. Suka menghabiskan waktu di sudut kedai sendirian; ditemani laptop dan makanan yang paling murah di kedai tersebut :)

60 tanggapan untuk “Pagi Berdarah

  1. Bagus banget Kak… makin lama makin betah deh blogwalk di sini, ceritanya bagus-bagus… Singkat tapi ngena, tapi juga nggak menggurui. Keren Kak (y) ngefans deh ^^

    1. Enggak kadang sih, yang paling ringan dari efek pembullyan secara psikologis menurut saya adalah nilai sekolah yang anjlok. Dan itu terjadi pada saya, saya sempat digituin sih, tapi sampai di bagian yang dijijik-jijikin itu. Enggak pernah diserang fisik 🙂 Tapi untung masih punya temen yang kuat topang saya.

      Terima kasih sudah berkenan membaca ya Kak 😀

      1. iyaa.. semoga perbuatan ini tak lagi ada di kemudian hari. Dukungan keluarga dan teman memang sangat berperan ya,, thanks juga udah share tulisan ini

      2. Hehehe, iya, 🙂 Bener sekali, pokoknya dukungan orang2 terdekatlah yang berperan teguh pada si korban. Sama-sama Kak 😀 Semoga tulisan saya bisa lebih baik dari ini.

  2. Pesannya bagus banget 🙂 dan deskripsi kematiannya keren.. Bisa buat aku bener” bayangin itu ruang kelas kayak apa dan badan” berserakan sampe akunya meringis >< keren ma 😀

    1. Dan harapan saya memang seperti itu. Semua tak ada lagi yang berniat untuk membuli sesamanya karena kita di dunia ini sederajat dan memiliki akhlak yang sama. Terima kasih sudah mau membaca ya Kak Iqbal! Silakan datang kembali 😀

    1. Hahaha, syukurlah, bisa ngena. Semoga di luar sana banyak bullier yang baca ini dan bertobat 😀
      Terima kasih ya Kak sudah membaca tulisan saya. Semoga tulisan saya bisa lebih baik lagi dari ini.

      1. soalnya salah satu yang sering di bull* dulu ya saya 😀
        tapi saya anggap angin lalu doank 😀 dan ngga jadi killer
        soalnya hukum karma kan berlaku

        ok sama2 mba teruslah berkarya 😀

      2. #Tooosss! Sama dong, saya juga mantan orang yang dibuli. Sebenarnya masih sering di bulli sih, tapi bener apa kata Kak Ichsan. Hukum karma pasti berlaku! 😀

        Kakak juga terus berkarya ya! 😀

  3. aihhh mak jang….aku tuh suka bgt pembunuhan sadis kayak gini 😄 #kagaknormal but seriously this is too simple but too perfect. emg tekanan jiwa itu bisa bikin efek samping yang diluar nalar kita dan kemarahan adalah sumber kekuatan seseorang untuk bisa melakukan apa aja.

    keep writing dek! tapi ngomong2 kamu dibully sperti apa? ;/ jahat bgt sih ada org kyk gitu

    1. Hahaha, sebenarnya enggak gitu suka sih. Tapi dulu pernah bikin cerita macem pembantaan gitu juga sih. 😛

      Saya di Bully sampai bagian yang menjijik-jijikan itu loh. Saya seperti diindikasikan sebagai sesuatu yang buruk. Makanya saya stres banget waktu itu. Tapi untungnya, sekarang enggak begitu kentara lagi sih semua tindakan mereka ke saya. Hahahaha.

      Terima kasih ya Kak, sudah mau baca tulisan saya! 😀

  4. bagus!
    aq dulu juga dibully.. tapi cuek aja. awas kalo macem2 ama aku.. hahaha. karena, sejak diriku di bully, aku memagari diri dengan menjadi tomboy, harus bisa kelahi, dan yang penting: pintar mengintimidasi 😄

    jadi, walo semua menjauhiku.. cuek aja.. toh guru2 masih memihakku karena, mereka tau kalo aq dibully 😄 untungnya aq memilih SMA yang bukan tujuannya teman-teman SMPku.. hihihi~

    tapi buat aku.. ini kurang psikopat 😄 kalo adegan mutilasinya sih, oke punya. hahaha.. keep on writing!

    1. Waduh, kurang psikopat? O_o yang psikopat yang kek gimana ya? Wah, sayangnya saya enggak punya keberanian seperti kakak sih. Jadi saya cuman bisa diam dan tak berkutik. Hihihihi, marah pun paling di dalam hati aja 😛

      Terima kasih sudah mau membaca ya kak, semoga tulisan saya bisa lebih baik lagi.

  5. Hai salam kenall!!
    Wah senasib kita, korban bully waktu sd juga. Sering dulu adegan2 mutilasi terlintas di kepala waktu parah2nya. Nyebelin banget deh para bullyer itu, untungnya ga sampe jadi kenyataan ;p

    1. Halo, Kak! Salam kenal juga! Boleh dipanggil kakak siapa nih? Wah, waktu SD sudah mikir yang psikopat gitu, kakak ekstrem banget! Hihihihi. Untung sekali tidak terlaksana. Terima kasih sudah berkenan mampir di blog sederhana saya ya. Semoga tulisan saya bisa lebih baik lagi! 😀

  6. Dikta… ini bagus dan serem :3
    Dan entah kenapa pas banget timingnya sama masalah aku nih!
    Jadi aku nggak bakal ngulangin kesalahannya Irine..
    hehehe
    Thank you

    1. Salam kebal juga Kak Novia! Selamat datang di blog saya yang biasa-biasa ini! 😀 Hehehe. Walah, saya malah nyaris enggak pernah baca tulisan yang horor-horor gitu loh kak 😄 Hahaha.

      Terima kasih sudah berkenan untuk bertandang ya Kak, semoga tulisan saya bisa lebih baik lagi dari ini 😀

      1. Justru malah saya yang harusnya belajar dari Kakak, hahaha *garuk2 kepala* Masih kecil, soalnya, hahaha. Iya, baiklah, kalau gitu mari kita saling menginspirasi ya Kak! 😀

  7. Suka ceritanya Dicta, dan pesannya ngena juga. *untunglah nggak pernah merasakan bullying*
    Ada dua kata yang typo: seknifikan (signifikan) dan talkactive (talkative)
    sekian komenku, semangat menulis! *lirik blog yang udah penuh sarang laba-laba*

    1. Sip, Kak! Sudah saya benerin. 😀 terima kasih ya revisinya! Wah, untung sekalinya tidak pernah merasakan dibully, 😀 HIhihi. Semoga semakin banyak orang-orang seperti Kakak di muka bumi ini 🙂 Terima kash sudah bersedia mampir ya Kak, silakan datang kembali.

  8. Hihihi… Aku tau banget komentarku itu datengnya telat :D, harap maklum ya neesan karna aku itu agak norak -_-. Dari cerpen ini, aku dapet pelajaran yg berarti banget! Emang sih kalo di bully itu ada perasaan dendam yg timbul di hati. Malah kadang aku suka memupuk benci itu hingga membuahkan akar yg kokoh. Bener deh keren, neesan! Penulisannya rapi dan diksinyaaa.. Huh, kapan aku bisa bikin cerita ngeri sekeceh ini? Wkwk.

    1. Halo, Agneees! Akhirnya bisa komentar juga ya? Hihihihi. Senangnya kamu bela-belain komentar di blog saya. *peluk* Selamat datang yaaa! Semoga betah berlama-lama di sini.

      Iya, saya dulu dendam banget sama yang ngebuli saya. Sampai sekarang juga masih dendam sih. Enggak mau ngomng atau apa gitu ke orang yang ngebuli saya. Hehehe. Tapi positif thinking aja 😀 Ah, kamu tulisannya juga kereeeeeen! Pasti bisa kok !:D Terus berkarya saja!

      1. Iyaaaa hihihi :D. Humm, tapi rasanya, saat aku mencoba mengejar neesan, neesan malah terbang terlalu tinggi. Aku memulainya dengan merangkak sebagai awal dan terpesona dengan neesan yg sudah mahir berlari. Saat aku mulai bisa berjalan, neesan malah mengepakkan sayap dan terbang tinggi ke langit 😀 #apasih. Wkwkw. Amiiinnn semoga suatu saat (entah kapan) aku bisa nulis sekeren neesan!

      2. Semua perlu proses, Darling! 😄 Aku seumuran kamu juga begitu kok, bahkan seumur kamu enggak pernah bisa menulis sebagus yang sekarang kamu bikin. Nanti kamu seumur aku mungkin sudah bisa melampaui aku ‘kan? siapa yang tahu.

        Ayo semangaaaat! 😀

  9. Halo Kak Dicta~ Helmy di sini 😀 Woaah, lama banget ya nggak main ke sini. Ngomong-ngomong, I’m so enchanted by this one. Simpel tapi bermakna banget terutama buat saia yang baru menapak masa SMA, hihihi. Sukaaak~

    1. Halo, Hel, maaf ya baru bisa balas komentarmu, sedang dalam masa2 sulit. Hahahaha.
      Ah, cerpen ini juga sangat bermakna buat saya, karena saya pernah mengalami hal yang sama seperti tokoh utama cerita ini. Tapi untungnya tidak membuat saya patah arang dan berakhir melakukan pembantaian. Hahahaha. Hanya khayalan liar saya aja. 😄

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s