[The Secret Lovers] Part 1: This is Our Relation, Face It!

secret_lover

Ia pergi dengan gaya yang apa adanya. Jaket kanvasnya ia simpan di belakang motornya, tidak ia pakai, hanya ia simpan begitu saja. Tangannya memegang kunci motor yang siap membawanya pergi ke mana pun. Sementara cewek-cewek menjerit di belakangnya, meneriakkan namanya, dan berharap mendapatkan perhatian darinya. Tapi sayang, ia bahkan tak melirik ke arah cewek-cewek itu. Secepat kilat ia memasang helm dan pergi dari lingkungan sekolah seperti angin.

Huh. Aku mendengus kesal.

Terlalu banyak bertingkah, cibirku dalam hati sembari kembali berkutat dengan persamaan fisika; pekerjaan yang tadi terhenti karena kekacauan yang ditimbulkan oleh kehadiran cowok itu di sekitarku.

Namanya Favian Fausta. Biasa dipanggil Vian, atau cewek-cewek ganjen di sekolah lebih memanggilnya ‘sayang’,’bebeb’, atau apa pun itu yang seolah-olah menandakan kalau Vian adalah pacar mereka. Meski baru kelas X di SMA Tunas Bangsa, pamornya bahkan sudah terkenal di seantero sekolah. Vian nyaris memiliki hal yang semua cowok inginkan, dari ketampanannya, kecakapannya dalam hal olahraga, gayanya yang cool, tipe cowok penuh tantangan (maksudnya, sering jadi bahan taruhan anak-anak cewek), dan lain-lain.

Aku bukannya tak suka dengan Vian, tapi para penggemarnya yang super posesif dan kadang kala anarkis itu membuatku risih. Aku tak suka menjadi pusat perhatian, tapi ketika berada di dekat Vian dengan cewek-cewek membuntutinya, aku seolah-olah terserap oleh daya magnet dari adegan-adegan itu hingga konsentrasiku terpecah. Aku sungguh tak bisa membayangkan apa yang cewek-cewek itu lakukan jika mereka tahu kalau Vian itu…

Bip. Bip.

Aku mengerjap lantas buru-buru mengambil handphone di saku seragam, dan mendapati sebuah sms masuk.

From: Favian Fausta

Kir, buruan.

Aku menarik satu sisi bibirku ke atas dan mendecak, sesegera mungkin merapikan kembali buku-buku pelajaran yang berserakkan di meja taman depan sekolah dan memasukkannya ke dalam tas. Lantas setengah berlari menuju tempat pacarku biasa menunggu untuk pulang bareng.

Ya. Pacarku.

***

“Kir, White Day mau kencan?”

Secepat kilat aku menoleh ke arah Vian yang sekarang tengah sibuk dengan PSP di tangannya. Tubuh jangkungnya, yang hanya dibalut kaus hitam dan celana pendek selutut, tidur terlentang di kasurku.

“Lu tanggal segitu bukannya sibuk, Vi?” tanggapku sembari menggeser kursi belajarku mendekati kasur.

“Emang gue sibuk apaan?” Vian malah balas bertanya tanpa mengalihkan dua manik tembaganya dari layar PSP.

“Lu kan sibuk ngasih balesan cokelat dari penggemar-penggemar lu di hari Valentine kemaren,” jawabku lantas terkekeh.

Mendengar candaan absrudku, Vian secepat kilat bangkit duduk dan melempar PSPnya ke atas kasur. “Enggak lucu, Kir,” sahutnya sedatar ekspresinya sekarang ini. “Lu tahu kalau gue ngembaliin semua cokelat itu ke mereka.”

Aku pun mendecak sembari melipat kedua tangan di dada. “Padahal sayang, lu kan bisa kasih ke gue semuanya. Lupa ya gue suka cokelat.”

“Itu kan dari cewek lain.”

So, what? Makanan semua sama, enggak penting dari siapa,” sahutku jutek.

Vian menatapku lekat dan menggelengkan kepalanya; menyerah dengan sifat jutekku yang menurutnya perlu direhabilitaasi. “Pokoknya tanggal 14 kita kencan,” kata Vian dengan nada memerintah, bahkan cenderung memaksa; sifat manja terselubungnya sepertinya mulai mengambil alih.

“Kencan kayak biasa aja ya?” tanggapku angin-anginan sembari melirik kalender tanggal 14. Wah, besoknya ada pratikum kimia, harus belajar.

“Enggak, kita jalan dari rumah, dan lu pulang bareng gue,” jawab Vian cepat.

“Tapi gue enggak mau ambil risiko ada anak Tunas Bangsa yang ngeliat kita jalan bareng!” protesku.

So, what?” Vian bangkit dari kasur, menyambar PSP-nya kemudian beringsut mendekatiku. Aku yang masih tak suka dengan ide kencan itu tak ambil pusing dengan polahnya, hingga tiba-tiba saja wajah Vian secepat kilat mendekati wajahku dan…

Cup!

…Vian mengecup pipiku sekilas.

“Lu pacar gue, dan gue enggak peduli tanggapan orang tentang hubungan kita.” Setelah berkata seperti itu Vian pun berbalik ke arah pintu kamarku dan menghilang di baliknya, meninggalkanku yang masih membatu di tempat dengan serpihan nyawa berterbangan entah ke mana.

Dasar, kebiasaan!

Aku langsung meloncat ke atas kasur dan membenamkan wajahku yang memanas ke bantal saat nyawaku kembali ke tempatnya semula. Tapi karena kacamata minus yang masih kukenakan terasa menekan pangkal hidungku, aku pun menelengkan kepala ke samping dan langsung menangkap sebuah foto berbingkai di meja samping kasurku. Kuambil foto itu dan tersenyum tipis.

Itu foto waktu keluargaku dan keluarga Vian liburan bersama ke Bali. Waktu itu dia baru kelas satu SMP dan aku kelas dua. Selisih umur kami memang satu tahun, tapi sejak dulu kami sudah terbiasa menggunakan gue-lu ketimbang aku-kamu, bahkan setelah pacaran kebiasaan memanggil seperti itu pun tetap kami pertahankan. Yah, mengingat cinta yang bertumbuh di antara kami bermula dari persahabatan yang menahun, pasti akan menjadi aneh dan canggung ketika kami mengubah cara memanggil.

Kami bisa bersahabat karena rumahku dan Vian bersebelahan. Kedua orangtua kami pun berhubungan akrab, jadi mau tak mau kami sering bertemu dan main bersama. Lama kelamaan hubunganku dan Vian semakin dekat. Apa lagi saat masa puber menyerang kami, tubuh Vian yang semula lebih pendek dariku menjulang tinggi saat ia menginjak umur 15 tahun. Suaranya berubah, caranya berjalan dan berbicara pun berubah. Semua berubah. Dan perubahan-perubahan pada diri Vian pun seirama dengan perubahan perasaanku terhadapnya.

Meski sepertinya aku yang menyukai Vian terlebih dahulu. Tapi nyatanya Vian-lah yang mengajakku berpacaran, yah, walau pun caranya menembak khas ‘Vian banget’. Dia cuman berbilang seperti ini: ‘Karena SMP kita beda, kalau gue bisa masuk SMA yang sama kayak lu, Kir, kita pacaran. Ok?’ Hahaha, waktu itu aku cuman melongo takjub, pertama kalinya ditembak cowok dan caranya sangat tidak romantis. Tapi, mengingat aku punya perasaan yang sama, aku pun menerima tawaran Vian tanpa berpikir dua kali.

Tapi, pacaran satu sekolah dengan Vian ternyata membawa bencana tersendiri buatku. Vian yang super perfect langsung memiliki populeritas yang melejit saat menjadi murid baru, membuatku khawatir dengan hubungan kami yang pasti akan berdampak buruk dengan masa-masa tenang SMA-ku. Aku tak suka menjadi pusat perhatian, jika di dalam drama pementasan aku disuruh memilih menjadi pemeran utama atau pohon, aku pasti akan langsung memilih peran pohon yang tak terlihat. Posisi seperti itu membuatku merasa nyaman.

Jadi untuk menghindari kemungkinan buruk itu, aku minta Vian untuk merahasiakan hubungan kami. Awalnya dia menolak, tapi aku mengancam akan putus dengannya jika ia berani mengatakan pada orang lain tentang hubungan kami. Dan mendengar ancamanku itu, dengan setengah hati Vian menerimanya.

 Sekarang, sudah nyaris satu tahun berlalu dan hebatnya tak ada satu orang pun di sekolah yang tahu kalau aku dan Vian pacaran. Dunia SMA-ku masih berlangsung dengan tenang. Namun, akhir-akhir ini ada perasaan aneh yang menggangguku tiap kali aku melihat pamor Vian yang semakin melejit di sekolah. Banyak sekali cewek cantik dengan tubuh lampai memperebutkan Vian, mereka semua ingin memonopolinya. Sementara aku, pacar Vian sendiri, tak pernah berani memanggilnya dengan sebutan ‘sayang’ atau berusaha untuk bersikap egois.

Perasaan aneh itu semakin meranggas hingga membuatku ragu. Apa benar tujuanku menutupi hubungan ini  adalah untuk mempertahankan ‘masa tenang SMA-ku’? Atau sebenarnya aku mengemukakan alasan itu hanya sebagai tameng dari rasa ketidakpercayaan diriku menjadi pacar Vian?

***

Duh, kayaknya aku enggak cocok pakai dress deh, terlalu ‘berkibar-kibar’.

Aku membolak balik lembar demi lembar majalah fesyen yang kupinjam dari Betari—teman sekelasku yang lebih senang memenuhi tasnya dengan majalah dan alat make up ketimbang buku pelajaran—dan mulai merasa bingung dengan jenis pakaian yang akan kukenakan untuk kencan tanggal 14 Maret besok lusa.

“Lu cantik kok kalau pakai dress.”

Aku tersentak sembari menoleh ke arah kursi kosong di sebelahku dan mendapati seorang cowok tiba-tiba duduk di sana dan tersenyum manis sekali ke arahku.

“Sekali-sekali pakai dress kan enggak masalah, Kir,” sambung cowok itu lagi.

Mendengar perkataannya itu, aku hanya mendengus pelan sembari membalik halaman yang memamerkan dress retro selutut berwarna kuning. “Emang lu pernah lihat gue pake dress apa?”

Mendengar nada sinis dariku, cowok bernama lengkap Giovani Tanuwijaya itu hanya menggeleng dan membalik kembali halaman yang memamerkan dress tadi. “Gue kenal yang punya butik ini, lu mau gue beliin?”

“Ah, gila lu, Gi!” aku langsung menutup majalah itu dan menindihnya dengan lenganku. “Gue cuman mau liat-liat doang, enggak ada niat beli. Lagian dress di rumah gue ada banyak kok. Cuman gue-nya aja males pakai.”

“Oh, gue kira lu emang kepengen beli baju, soalnya jarang-jarang lu pinjem majalah sama Betari,” sahut Gio, menanggapi penjelasanku. “Emang lu mau datang ke pesta atau apa gitu?”

“Errr, a-ada sih, pesta pertunangan anaknya temen papa,” dustaku, mencari-cari alasan. “Yah, enggak mungkin kan gue datang ke acara penting gitu pakai jeans.”

“Baru pertama kali ke acara gituan?” tanya Gio, dan aku mengangguk saja. “Garden party atau indoor?”

“Emmh, pesta taman, kayaknya,” jawabku sekenanya.

“Mau gue kasih saran buat busana lu di pesta nanti?” tawar Gio sembari mengambil kertas kosong dan pulpen di dalam tasku tanpa minta izin terlebih dahulu. “Mama gue kebetulan punya butik, dan tiap kali ke pesta, dia sama kakak perempuan gue pasti ngobrak-abrik butik selama tiga jam cuman buat nyari dress. Postur badan lu kayaknya enggak beda jauh sama kakak gue, jadi gue bisa kira-kira dress kayak gimana yang cocok buat lu.”

Gio mulai menulis berbagai macam benda-benda fesyen yang masih terasa asing untukku di kertas kosong tersebut, padahal aku belum mengiyakan. Tapi karena sepertinya Gio membantuku dengan tulus, aku pun menyimak saja semua komentar dan penjelasannya tentang busana yang pantas kukenakan dengan senang hati dan rasa syukur.

Mulai hari ini, Gio Tanuwijaya, masuk dalam daftar teman dekatku.

***

Kamis, 14 Maret 2013.

Aku berdandan mati-matian untuk hari ini. Menggunakan lensa kontak, make up, wedges dan tas tangan yang senada dengan dress abu-abuku. Aku menuruti semua yang Gio sarankan padaku kemarin. Ternyata, fesyen garden party yang ia sarankan sangat cocok denganku. Aku sendiri takjub saat bercermin dan mama sampai pangling saat aku pamitan pergi. Mama pikir aku mau pergi ke pesta ulang tahun atau sejenisnya, tapi saat kubilang aku janjian dengan Vian, mama semakin kaget karena biasanya aku hanya mengenakan jins-kaus-kardigan-kets saja.

“Gitu dong kalau mau pergi kencan sama pacar! Dandan yang cantik biar pacarnya enggak kabur,” komentar mama dan aku hanya mencubit pinggangnya lantaran gemas.

Yah, meski terkesan angin-anginan, tak dapat kumungkiri bahwa aku sangat senang tiap kali Vian mengajakku berkencan. Apa lagi ini White Day, meski cokelat yang kuberikan padanya saat Valentine hanya cokelat buatan alakadarnya, Vian terlihat sangat senang saat menerimanya dariku (sebenarnya, aku nyaris lupa tetang hari  Valentine kalau saja Vian tidak terus-terus membicarakan tentang iklan cokelat di TV).

Tik. Tik. Tik.

Jam 17.15, Vian terlambat 15 menit. Yap, akhirnya aku menyogok Vian dengan memperbolehkannya main PSP di kamarku selama seminggu penuh agar ia mau melakukan ritual kencan kami seperti biasa—berangkat-pulang sendiri-sendiri—sebenarnya ini agak merugikan. Mengingat kalau aku akan sulit untuk fokus belajar ketika cowok itu berada di sekitarku.

Aku melirik  jam tanganku kembali, dan waktu ternyata telah lewat setengah jam dari waktu yang dijanjikan. Jengah untuk terus menunggu di depan pintu bioskop, aku pun buru-buru menelepon cowok itu; cukup khawatir jika terjadi sesuatu hal yang buruk padanya.

Nada sambung terdengar, dan… Tuuuuut… huh?

Aku mengerjap menatap layar datar handphone-ku bingung. Kenapa Vian memutuskan sambungan?

Bip. Bip. Ada sms masuk!

From: Favian Fausta

Otw.

On the way, katanya. Aku pun mengangkat wajah dan melihat ke arah sekitar, berharap menemukan sosok Vian berlari menghampiriku. Tapi ternyata…

“Vian, Sayaaaaang! Traktir kita nonton ya!”

What the…

Sepertinya aku perlu alat pacu jantung sekarang. Cewek-cewek ganjen anak Tunas Bangsa kenapa bisa ada di sini?!

Aku melihat sosok Vian yang dikelilingi beberapa cewek dari kejauhan, jeritan cewek-cewek itu bahkan terdengar sampai tempatku berdiri. Aku benar-benar terkejut dengan pemandangan itu. Tak kusangka kejadian seperti ini akan terjadi. Perasaan sedih pun berpadu menjadi satu dengan perasaan terkejut, menyadari bahwa aku tak mungkin bisa berkencan dengan Vian dengan kondisi seperti ini.

Vian dan cewek-cewek di sekitarnya terlihat semakin mendekat, mata cowok itu pun menangkap sosokku dan berusaha untuk membuatku diam di tempat dengan ekspresinya. Tapi aku tahu, aku tak mungkin diam. Aku harus pergi!

Dengan putaran cepat aku berbalik dan melangkah buru-buru menjauh dari bioskop. Tak peduli dengan Vian dan kencan kami yang harus kubatalkan secara sepihak. Pokoknya rahasia hubungan ini harus tetap terjaga.

“Kirana!”

Vian meneriakkan namaku, namun aku tetap melangkah sembari menutup telinga. Hingga akhirnya suara Vian tak terdengar lagi, dan aku berhasil keluar dari tempat itu. Sejujurnya, ada sebagian kecil dari hatiku berharap Vian mengejarku dan memperlihatkan pada khalayak umum adegan nyata dari dari film-film roman di bioskop. Tapi tidak, Vian tak mengejarku, selain ia tak bisa karena cewek-cewek itu menahannya sekuat tenaga. Vian selalu menghargai setiap keputusan yang kuambil.

***

I’m in misery

There ain’t nobody who can comfort me

Why won’t you answer me?

The silence is slowly killing me

Suara Adam Levine yang berkumandang di kamar ini terdengar sangat menyindir kondisiku dan Vian. Sudah dari sepuluh menit yang lalu Vian menyelesaikan cerita tentang kronologi (kegagalan) kencan kami sore tadi, tapi aku hanya diam sembari memeluk lutut di atas tempat tidur. Sementara Vian memunggungiku dan duduk di pinggiran kasur sembari menungguku berkata-kata.

Lima menit… sepuluh menit… kembali berlalu. Aku masih saja diam, hingga akhirnya Vian mulai tak sabar dan kembali membuka suaranya.

“Maafin gue, Kir, gue ngerusak hari ini.” Vian menundukkan kepalanya sembari mengusap kedua pipinya lelah. Mungkin ia sudah muak dengan keheningan yang kuciptakan; berharap dengan meminta maaf dan membebankan seluruh kesalahan pada dirinya sendiri mampu membuatku tergerak untuk menyelesaikan masalah ini bersama.

“Lu enggak perlu minta maaf,” kataku sinis. Akhirnya membuka suara karena keputusasaan Vian terlihat sangat jelas dari getsur tubuhnya. “Kalau cewek-cewek itu kebetulan ketemu sama lu ya mau gimana lagi? Lagian kencan enggak satu-dua kali ini.”

“Lu enggak papa?” Vian menoleh ke arahku, dan aku balas menatapnya tak acuh.

“Mau digimanain  lagi? Toh gue sendiri yang minta kan buat ngerahasiain hubungan kita?” sahutku, masih dengan nada sinis yang kentara.

“Kir, bisa enggak kita berhenti kayak gini?” Suara Vian meninggi, kesabarannya benar-benar hilang dan sepertinya dia akan meledak sebentar lagi. Sejak awal dia memang tak setuju untuk menyembunyikan hubungan kami.

“Gue udah enggak tahan nyembunyiin hubungan kita, Kir! Gue enggak tahan cuman bisa lihat lu dari jauh kalau lagi di sekolah, gue enggak tahan sama cewek-cewek yang selalu ngikutin gue seolah-olah gue pacar mereka! Emangnya lu pikir kenapa gue belajar mati-matian biar bisa masuk SMA yang sama kayak lu, hah? Gue pengen deket sama lu! Gue pengen jadi pacar lu!”

“Coba lu ngertiin perasaan gue sedikit aja!” aku balas membentak, tak tahan jika harus disalahkan dalam hal ini meski pada kenyataan semua masalah berawal dari pemikiran kekanak-kanakanku. “Lu tahu kan kalau gue enggak suka jadi sorotan? Gue enggak suka dikenal orang di mana-mana karena hal itu bikin gue enggak bisa fokus ke hal yang lebih penting! Dan dengan lu yang sekarang, yang begitu dipuja-puja sama cewek satu sekolahan, apa lu pikir ngaku pacaran dengan lu bikin gue ngerasa tenang!? Apa lu pikir cewek-cewek itu bakal nerima cewek kayak gue, si kutu buku, si freak, si nona enggak populer kayak gue jadi pacar lu, hah!? Boro-boro nerima, mereka justru bakal ngetawain gue!”

Aku terengah-engah, air mata mulai menumpuk di pelupuk, namun sekuat tenaga kutahan agar tidak dicap lemah. Vian diam saja, menatapku begitu datar seolah-olah apa yang aku katakan barusan sudah ia ketahui sejak dulu. Ia kemudian naik ke atas kasur, mendekatiku, lantas menarik tubuhku ke dalam pelukannya.

“Vi! Vian! Lepasin gue!” Pelukan lembut Vian membuat dadaku sesak, aku nyaris tak dapat bernapas dan berusaha keras untuk melepaskan diri. Tapi tenaga Vian yang lebih besar, dan emosiku yang sedang tak stabil membuat cowok itu lebih dapat mendominasi hingga aku menyerah dan membiarkannya melakukan apa yang dia mau.

“Gue cinta sama lu apa adanya, Kir.” Vian berbisik pelan di tengkukku, pelukannya yang semakin erat secara bersamaan membuat perasaanku sesak.  Kata-katanya yang manis seperti cerita roman picisan pun bukannya membuat perasaanku lebih baik, tapi malah semakin membuat rasa kesal di dadaku menggebu-gebu.

Sungguh. Rasanya tidak tepat, rasanya tidak benar. Vian tak seharusnya bertindak seolah-olah ia mengerti segalanya seperti ini, Vian tak seharusnya bersikap baik padaku yang seperti ini.

“Tinggalin gue sendiri, Vi.”

Vian mengendurkan pelukannya dan menempatkan dirinya menatap wajahku lekat-lekat. “Kita harus selesaiin ini sekarang, Kirana.”

“Tinggalin gue! Gue mau sendiri!” Aku berteriak nyaring, tapi tak berbuat apa pun untuk membuat tubuh Vian menjauh. Aku sudah terlalu lelah dengan seluruh perasaan tak mengenakkan di kepala dan hatiku, hingga menggerakkan jari barang seinci pun aku tak sanggup.

“Keluar, Vi!”

Tanpa banyak bicara lagi Vian pun membebaskan tubuhku dari pelukannya, dan kemudian berbalik pergi dari kamarku. Sepeninggal Vian, aku tak kuasa lagi menahan tangis, buru-buru kukunci pintu kamar, mematikan lampu dan bergulung di dalam selimut. Mengabaikan mama yang memanggil-manggilku dari luar dan memasrahkan diri pada emosi kecewekanku.

Malam ini, aku mengambil risiko terbangun dengan kantung mata menghitam esok pagi.

***

Bip. Bip.

From: Favian Fausta

Kirana! Lu di mana?!

 

Aku menatap layar handphone-ku tanpa ekspresi saat membaca sms dari Vian yang masuk setelah puluhan kali ia mencoba menelepon tanpa kujawab. Percuma saja, Vi, sms ini pun tak akan kubalas. Dasar cowok bebal!

Merasa tak ada gunanya lagi aku menghidupkan handphone, aku pun memilih untuk segera mencopot baterainya dan melemparkan benda itu sekenanya ke dalam tas selempangku.

Vian pasti tengah kelabakan mencariku yang mungkir dari janji pulang bereng kami hari ini. Yah, sebut saja aku pengecut, tapi aku benar-benar tidak ingin berinteraksi dengannya dalam hal apa pun. Aku perlu mendinginkan otakku apa lagi hatiku; melihatnya sekarang malah membuat perasaanku lebih buruk.

Tin! Tin!

Aku terlonjak kaget dan langsung menoleh ke arah Nissan Juke berwarna merah yang tiba-tiba saja berhenti di dekatku.  Untuk beberapa saat aku hanya menatap mobil itu penuh kebingungan, namun saat jendela mobil itu terbuka. Kudapati sebuah wajah yang sangat kukenali di sana.

“Gio?”

“Hai, Kir!” sapanya sembari memamerkan senyum lebarnya yang terlihat sangat manis dengan lesung pipi di kedua sisi wajahnya. “Bareng yuk?”

Mendengar tawaran itu aku langsung menggeleng cepat, aku bahkan tak begitu akrab dengan cowok ini dan menerima tawaran pulang barengnya terasa agak kurang sopan.  “Rumah gue enggak begitu jauh kok, cuman ganti angkot dua kali,” tolakku halus.

“Ck.” Gio mendecak, lantas keluar dari mobilnya dan langsung membukakan pintu penumpang yang berada tepat di hadapanku. “Masuk, Kir. Pamali lho nolak kebaikan orang,” kata Gio tanpa sedikit pun melunturkan senyum di wajahnya. Aku yang kagok diperlakukan bak nona bangsawan seperti itu hanya bisa tersenyum kaku. Kutatap wajah Gio lekat-lekat untuk menyatakan rasa sungkan, tapi pria itu lantas menarik tanganku dan memaksaku untuk masuk ke dalam mobilnya.

Bruk! Pintu tertutup dan aku mendapati diri berada di jok empuk mobil Gio. “Gi, kita mau ke mana? Langsung pulang kan?” tanyaku sesaat setelah Gio berada di balik kemudi.

Gio tak langsung menjawab pertanyaanku itu. Ia terlebih dahulu menyalakan mesin mobilnya, memasukan gigi dan sebelum benar-benar menginjak gas, ia menoleh ke arahku dan tersenyum lebar.

“Enggak. Gue mau ngajak lu kencan dulu.”

***To Be Continue***

A/N:

Waaaaa! Cerbung pertama sayaaa! Maaf ya kalau hasilnya jelek. Sebenarnya bikin ini pun agak sedikit ragu-ragu juga. Selama ini enggak pernah bisa nulis panjang-panjang. Paling banter juga nulis 4 lembar, dan itu pun sudah ngos-ngosan. Tapi ternyata, aku kena musibah. Ankleku terkilir dan hal itu membuatku enggak bisa kemana-mana (sekarang aja masih bengkak T__T), jadi memilih untuk mengerjakan PR Poetica aja.

Pas lagi ngerjain, aku bingung manu ngelanjutin gimana itu kalimat, akhirnya iseng-iseng bikin mind map yang dulu sempat diajarin sama Kak Azura di Forum Bahasa Indonesia Online Smaven (bisa download materinya di Magic Box yang ada di blog ini, GRATIS!). Terus, aku bangun penokohan dari tokoh-tokoh di cerbung ini dengan materi yang Kak Teguh kasih di Forum Poetica kemarin (Jurnal pertemuan 7 dan 8-nya nyusul yaaa), karena materi yang Kak Teguh kemarin kasih itu  agak  mungkin aku aplikasikan hanya dalam sebuah cerpen atau bahkan flash fiction saja. Aku  lemah banget ngebangun karakter, makanya selama ini enggak pernah berani bikin cerbung atau fanfict chaptered yang mengharuskan menulis tokoh secara konsisten dan nyata di kehidupan. Makanya pas di kasih materi kemarin, dan di kasih PR, aku pun mengambil risiko dengan membuat cerbung ini.

Semoga cerbung ini tidak mengecewakan ya, Penikmat Kata! Part 2-nya sedang proses 😀 Cerbung ini enggak bakal kayak novel atau sinetron kok. Di mind map saya cukup 3 part 😀 Masih belum berani bikin yang lebih panjang. Hahaha. Terima kasih sudah mau membaca! Semoga tulisan saya bisa lebih baik dari ini.

35 pemikiran pada “[The Secret Lovers] Part 1: This is Our Relation, Face It!

    1. Hehehe, makasih ya sudah dibilang bagus *malu2*

      Enggak, itu bukan kursus. Itu forum online, yang dibangun kakak-kakak blogger yang saya kenal. Sama kayak kemarin yang kita ikutin itu, cuman pengajarnya berbeda. Nah, itu gunanya punya banyak teman blogger, terus kepo, terus caper. Hahahaha. Kadang kalau enggak kepo enggak dapa ilmu. 😀

    1. Wah! Selamat datang di blog saya yaaaa!Terima kash sudah berkenan mampir 😀
      Saya juga masih penulis amatir kok, Kakak Black Angel ada blog? boleh saya mampir?

      Sekali lagi terima kasih sudah berkenan mampir ya 😀 semoga betah berlama-lama di blog saya 😀

    1. Halooo! Kunjungan pertama ya? Terima kasih ya sudah berkenan mampir ke blog saya 😀
      Wah, syukurlah tulisan saya disukai. Semoga tulisan saya bisa lebih baik dari ini ya, Kak. Terima kasih sudah membaca! Silakan datang kembali.

  1. Ping-balik: [Coretan Dicta] Poetica’s Journal: Membangun Tokoh & Stream of Consciousness | Kata-Kata Dicta

  2. agnes-chan

    Errr komentarku emang selalu dtg terlambat :D. Oiiaa, harusnya “mungkir” apa “mangkir” kak? Hihihi, aku yg biasanya baca cerpen baku masih bersosialisasi dengan cerpen yg kata katanya gaul :D. Meski menurutku ada yg kurang… Entah apa itu *abaikan

    1. Hehehe, yang baku itu ‘mungkir’, Dear 😀 Jadi, bukan ‘memangkiri’, tapi memungkiri ‘kan? Kalau di atas imbuhannya aja yang beda. 😀

      Di sini emang pake bahasa gaul kok, tapi untuk dialognya aja dan di beberapa bagian yang menurutku perlu jadi masih bisa easy reading. 😀 Thanks yaaa, sudah mau membaca, silakan datang kembali!

      1. oh ya, baru ngecek tadi di KBBI, thanks ya Kak udah ngingetin.
        Agnes, keduanya sama kata baku. Cuman artinya beda.
        Mangkir: itu lebih kayak tidak hadir, atau tidak datang
        Mungkir: itu lebih tidak mengiakan, atau tidak mengakui
        Hehehe, gitu… 😄 Sorry ya ngasih info yang salah. Thanks a lot for Kak Putra!

  3. Ini berhasil menggeser karya favorit saya “Indahnya Begadang”. Renyah dimulut, enak ditelen, manisnya berasa lama ( emang cemilan -_- )
    Bingung mau komentar apa.

    1. 😄 Waduh, senangnya tulisan saya ternyata suka dinikmati sama Kak Joz. Hihihihi. Dibikin cemilan juga enggak papa kok, jadi bacanya sembari duduk di selasar rumah ditemani segelas teh. XP Azek.

      Terima kasih sudah membaca ya Kak! Semoga tulisan saya bisa lebih baik lagi 😀

  4. Ping-balik: [The Secret Lovers] Part 2-A: I Can’t Bear It, Let’s Stop This | Kata-Kata Dicta

  5. Imam Maulana

    Ceritamu mengasikkan, Ka. Bacaan ringan dikala jam ekonomi membunuhku. Aku bisa ngebayangin semua tokohnya. Unsur realitanya kuat. Habis ini langsung ke part duanya. 😀

    1. Halo! Halo, Imam! Wah, akhirnya dirimu muncul! *jabat tangan erat2* Aduh, sebenarnya ini cerbung lama banget sih, dan gak tahu apa tulisannya masih kece atau enggak. Tapi tetap terima kasih ya sudah mau baca. Silakan lanjut ke part selanjutnya! 😀

  6. Ping-balik: [The Secret Lovers] Part 2-B: I Can’t Bear It, Let’s Stop This | Kata-Kata Dicta

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s