Diposkan pada Corat-Coret Dicta

[Coretan Dicta] Poetica’s Journal: Membangun Tokoh & Stream of Consciousness

pen

Untung ada Kak Lia!

Hehehe, jadi ini jurnalku untuk pertemuan Poetica yang ketujuh  dan kedelapan. Mengingat jurnal ini memang agak terlambat kubuat dan banyak sekali materi yang dilupakan oleh kapasitas otak berpentium satu milikku ini. Akhirnya aku pun melirik jurnal buatan Kak Lia (cek di sini) dan mendapati jurnal itu sangat lengkap! Jadi, aku pun tinggal copy materi dari sana dan menyampaikannya dengan caraku sendiri.

So, here they are!

Pertemuan Ketujuh:

Dipertemuan ini, kami diberi materi tentang salah satu jenis narasi yaitu Stream of Consciousness (SOC) atau aliran pemikiran. SOC juga bisa disebut Inner Monologue, atau berbicara dengan diri sendiri.

Dalam aplikasinya di sebuah tulisan SOC bisa di gunakan untuk POV 1 (sudut pandang orang pertama) dan POV 3 (sudut pandang orang ketiga). Namun, untuk penggunaan POV 3, pembaca akan merasa lebih jauh dari si penulis karena penulis berada di luar cerita; berkebalikan dengan POV 1 yang terasa dekat karena penilis masuk ke dalam cerita.

Untuk penggunaan SOC dalam POV 1, si pencerita dalam cerita tidak secara langsung memerankan tokoh protagonis/tokoh utama dalam cerita tersebut. Atau bisa dibilang juga, sudut pandang orang pertama pelaku sampingan.

Contoh:

Bagaimana mungkin aku tidak mengenal mereka? Mereka semua teman sekelasku. Terutama Yanti. Gadis itu selalu menjadi sorotan karena memiliki kemampuan bicara yang ulung. Ia sangat talkactive, ia senang berdebat dengan guru dan mempertanyakan hal-hal yang tidak ia ketahui. Kadang kala hal itu menghidupkan suasana di kelas, namun di lain pihak, banyak murid-murid lain beranggapan kalau Yanti hanya mencari perhatian dan congkak.

Terutama Dewi, ia merasa sangat terganggu dengan polah Yanti. Tidak hanya itu, ia pun jengkel dengan kepedean gadis yang memiliki tubuh bongsor dan berjerawat itu. Dewi yang cantik dengan tubuh lampai memiliki kepopuleran yang terkenal di angkatan kami. Sifat angkuhnya pun sama terkenalnya, ia bagaikan ratu di sekolah, dan tak segan-segan melakukan hal buruk pada orang-orang yang ia rasa mengganggu. – Pagi Berdarah

Nah, dalam penggalan cerita di atas, tokoh ‘aku’ tidak menceritakan dirinya, melainkan menceritakan orang lain yaitu Yanti dan Dewi. Dia hanyalah orang ketiga atau pelaku sampingan dalam cerita tersebut, sementara Yanti dan Dewi-lah yang menjadi tokoh protagonis dan antagonis yang menggerakan cerita.

Untuk lebih sederhananya lagi, penggunaan SOC dalam POV 1 itu seperti kita membuat seorang tokoh yang bercerita tentang orang lain di kehidupannnya. Tokoh ‘aku’ di sana, adalah kita yang juga masuk ke dalam cerita namun tidak berperan serta dalam membentuk cerita selain hanya menceritakan apa yang terjadi pada tokoh lain yang menjadi tokoh utama. Errr, kira-kira seperti itulah. Aku harap penjelasanku bisa dimengerti. Hahaha.

Oh ya, satu lagi, pengunaan SOC di POV 1 membuat kita nyaris tak perlu menulis dialog. Seperti contoh di atas, aku hanya menggunakan narasi untuk menjelaskan apa yang sedang terjadi antar tokoh dalam ceritaku. Jadi SOC di POV 1 itu adalah pure, atau murni SOC.

Kemudian, penggunaan SOC dalam POV 3 itu bagiku seperti, tokoh yang sedang ngedumel atau tokoh yang sedang berbicara/meracau dengan dirinya sendiri. Dalam POV 3, tidak seluruh bagian cerita menggunakan SOC. Hanya beberapa bagian dari cerita yang menggunakan SOC karena dalam POV 3, kita sebagai penulis berada di luar cerita. Jadi kita tak bisa membuat seluruh tokoh ngedumel sendiri kan ya? Hahaha.

Contoh:

Dion menatap gadis itu pergi meninggalkan dirinya di ruangan itu sendirian, tanpa banyak bicara atau bahkan mengucapkan selamat tinggal. ‘Ini yang terbaik,’ pikir Dion dalam hati, jemarinya mengusap wajahnya; lelah dengan segala masalah di hidupnya. ‘Seandainya saja aku tak pernah bertemu dengan Gina. Seandainya saja aku tak jatuh cinta dengannya,’ ratap Dion lagi tanpa sedikit pun berkata-kata, kali ini cukup hatinya saja yang menjeritkan rasa sakit.

Bisa dilihat pada contoh di atas, bahwa SOC pada POV 3 memerlukan kalimat penjelas yang menunjukkan inner monologue, atau kalimat yang menjelaskan si tokoh tengah bergumul dengan pikirannya sendiri. Sehingga, SOC tak bisa selalu digunakan dalam setiap bagian di cerita yang menggunakan POV 3. Maka dari itu SOC pada POV 3 bisa dikatakan SOC yang tidak murni.

Sebagai PR di pertemuan ini, aku dan kakak-kakak di Poetica disuruh membuat sebuah cerita menggunakan SOC (mau di POV 1 atau POV 3, terserah) dengan genre trhiller. Sebagai wajengan dari Kak Teguh, beliau pun memberi tips kepada kami seperti berikut (ngutip di blog Kak Lia juga sih hehehe) :

Proporsi narasi, dialog dan action akan mempengaruhi alur cerita. Terlalu banyak narasi panjang akan mengurangi suspense, jadi gunakan kombinasi antara action dan dialog untuk adegan yang menegangkan. Sebaliknya, perbanyak narasi serta kurangi action dan dialog untuk memperlambat alur cerita. Mainkan kombinasi antara ketiganya untuk mengatur ritme cerita.

Dengan memperhatikan betul-betul saran dari Kak Teguh, aku pun berusaha untuk membuat tulisanku seseimbang mungkin. Sehingga terciptalah tulisan Pagi Berdarah yang sebelumnya sudah ku-posting, sebagai hasil PR dan forum pertemuan ketujuh.

Pertemuan kedelapan:

Dipertemuan ini kami sepenuhnya membicarakan penokohan dalam cerita. Di mana kami sangat di ingatkan untuk membuat tokoh yang konsisten dan true to life. Nah, mari kujelaskan kedua unsur tersebut.

Konsisten/konsistensi. Unsur ini adalah unsur yang sangat penting atau sangat riskan dalam sebuah cerita. Di mana kita dituntut untuk membuat tokoh yang konsisten dari awal sampai akhir. Semisal, kita membuat tokoh kita di awal cerita adalah seorang tukang becak yang sangat miskin. Sampai akhir cerita, kita harus menunjukkan bahwa si tukang becak tersebut memang benar miskin adanya. Dari cara kita menjelaskan bagaimana dia berbicara, mengenakan pakaian, bertingkah laku, menanggapi sebuah peristiwa, pola pikiran, dan lain-lain. Tokoh tersebut harus konsisten adalah seorang tukang bacak yang miskin.

Jangan sampai kita membuat si tukang becak berbicara seperti ini: “Silakan naik, Pak, becak saya memang kurang fashionable, tapi lumayanlah.” (–___–) Tokohnya sangat tidak konsisten kan ya? Masa ada tukang becak ngomong kayak gitu? Nah, jadi, kalau kita membuat sebuah tokoh. Di awal “seperti ini” jangan kita menulis di ceritanya si tokoh “seperti itu” kemudian kembali lagi “seperti ini”. Jadi tidak konsisten.

True to life. Maksud dari unsur yang satu ini adalah, kita harus bisa membuat tokoh yang dapat membuat pembaca percaya bahwa tokoh tersebut benar-benar nyata di kehidupan. Berikan detail yang menyeluruh, dan buat tokoh tersebut senyata mungkin dalam cerita tersebut. Hingga tak ada celah bagi pembaca untuk bertanya-tanya: emang ada manusia yang kayak gini? Kalau aku jadi itu tokoh, aku pasti bakal kayak gini! Nah, sebagai penulis, kita harus membuat pemikiran-pemikiran ketidak percayaan seperti itu menghilang dari pembaca kita.

 Terus, kalau buat cerita fantasi gimana? Justru di cerita bergenre seperti itulah kita harus memiliki true to life yang sangat kuat! Tarik contoh cerita Alice in Wonderland. Apa benar wonderland itu ada? Apa benar Alice terjatuh ke dalam lubang? Nah, sebagai penulis kita harus dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut, dan membangun logika bahwa tokoh Alice dapat membesar dan mengecil, ia juga seorang pahlawan untuk menyerang Ratu Hati, dan lain sebagainya. Kita harus membentuk logika terhadap tokoh tersebuh, sehingga dapat dipercaya benar-benar nyata di kehidupan.

Nah, bagaimana caranya membangun tokoh yang seperti itu. Forum Poetica ada membagikan caranya kepada kita dengan cara memberikan pertanyaan-pertanyaan seperti ini kepada tokoh yang akan kita bentuk.

1) Siapa karakter yang tengah kamu buat?

2) Apa yang menjadi cita-cita atau tujuan hidupnya?

3) Apa/siapa penghambat karakter untuk meraih cita-cita atau tujuan hidupnya?

4) Bagaimana cerita karakter yang dibuat mengalami kegagalan dalam meraih cita-cita atau tujuan hidupnya?

5) Apa/siapa yang membuat karaktermu bangkit dan mengubah perspektifnya?

6) Bagaimana urutan peristiwa karaktermu sampai meraih mimpinya?

7) Bagaimana kamu membuat akhir yang memuaskan tanya pembaca?

Jawaban:

1) Andini. Seorang siswa SMA yang tinggal bersama neneknya di kota Banjarmasin, dan tinggal terpisah dari ibunya karena ibunya harus bekerja di luar kota, sedangkan ayahnya telah meninggal setahun yang lalu.

2) Sejak kecil ia gemar membaca buku. Dari kegemarannya membaca buku, Andini akhirnya gemar menulis dan membuat ceritanya sendiri. Ia akhirnya mulai memupuk mimpi menjadi seorang penulis yang karyanya dicetak secara mayor di seluruh Indonesia.

3) Namun sayangnya, nenek dan ibu Andini tidak setuju dengan impiannya itu. Mereka menentang Andini dan memaksanya untuk melanjutkan kuliah ikatan dinas agar memiliki masa depan yang terjamin ketimbang menjadi penulis.

4) Andini yang impiannya tidak didukung sepenuhnya oleh keluarga akhirnya menyetujui saran melanjutkna kuliah di ikatan dinas dan meninggalkan impiannya sebagai seorang penulis yang dapat menerbitkan sebuah buku. Baginya, berbakti kepada orangtua adalah pilihan utamanya untuk sekarang.

5)   Tapi ternyata, Andini tak sepenuhnya berhenti menulis. Ia masih aktif di dunia blog dan terus meng-update blognya. Saban hari semakin banyaklah pembaca di blog-nya dan semakin terkenal blog-nya itu. Dini mulai berani kembali bermimpi sebagai penulis. Sedikit demi sedikit ia pun mulai menulis naskah novel pertamanya, dan berharap yang terbaik bagi novelnya tersebut.

6) Setelah menyelesaikan naskah pertamanya. Andini ingin sekali mengirimkan tulisannya tersebut ke sebuah penerbit. Namun ia bingung penerbit manakah yang cocok dengan naskahnya. Hingga akhirnya, salah seorang pembacanya di blog, dan kebetulan  karyawan di sebuah penerbitan menyarankan Andini untuk mengirimkan naskah tersebut ke penerbitan tempatnya bekerja.

7) Akhirnya naskah Andini di terima di penerbitan tersebut, dan dicetak di seluruh Indonesia. Meskipun ia tak sepenuhnya menjadi seorang penulis, namun hatinya telah terpuaskan dengan karyanya yang diterbitkan tersebut.

Nah, cara tersebut diharapkan dapat membantu kita membangun tokoh yang konsisten dan true to life. Tapi ingat, penokohan sangat erat dengan alur, alur akan membangun tokoh sedangankan tokoh akan berpengaruh agar alur cerita dapat dinikmati dengan baik. Jadi perhatikan betul-betul kedua aspek tersebut.

Pertemuan ini menetaskan dua PR, yang pertama adalah PR  2 minggu, yang mengharuskan kami melanjutkan kalimat yang Kak Teguh berikan. Dan PR 2 bulan, yaitu menyusun kerangka novel. Untuk PR 2 minggu, aku membuat cerbung yang berjudul The Secret Lovers. Kenapa cerbung? Karena mengaplikasikan penokohan seperti itu menurutku tidak cukup hanya cerpen. Jadi ya, aku bertaruh dengan diriku sendiri, untuk menyelesaikan sebuah cerbung dan berharap sebelum bulan April cerita itu telah selesai 🙂 Doakannya! *tersenyum manis pada sekolah*

Yak, sekian saja jurnalku, jika ada yang ingin ditanyakan bisa komentar langsung di bawah atau di page yang sudah aku sediakan di atas ‘Ada Tanya Untukmu, Dict!’. Terima kasih telah menyimak, senang bisa berbagi ilmu dengan kalian! *peluk satu-satu*

Iklan

Penulis:

Pecinta Naruto dan Conan, menganggap menulis adalah sebuah obsesi dan membaca buku sama dengan bernapas. Suka menghabiskan waktu di sudut kedai sendirian; ditemani laptop dan makanan yang paling murah di kedai tersebut :)

6 tanggapan untuk “[Coretan Dicta] Poetica’s Journal: Membangun Tokoh & Stream of Consciousness

    1. A-anu… Err, saya enggak pinter ko, ini juga masih belajar Kak. Hahahaha. Jangan sirik sama saya, saya malah lebih sirik ke kakak lagi (soalnya udah enggak jomb** lagi) Hahahaha.

      Terima kasih sudah mau mampir ya Kak 😀 Silakan datang kembali!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s