[Kolaborasi] The Perfect One

Ada sesuatu yang saat ini masih mengganjal di benakku. Seperti ada sebuah duri yang bersarang di hatiku. Aku sudah coba untuk berpura-pura tak merasakan sakit yang ditimbulkan oleh duri ini, tapi semakin aku berusaha semakin dalam ia menancap ke dasar hati. Entah sampai kapan harus kutahan semua perih dari tajamnya belati kehidupan yang tak henti menyayat-nyayat dinding hatiku. Bahkan dengan segala kekuatanku, sepertinya mustahil aku mampu melawan…

“Lu bikin tokoh utama di cerita lu menderita lagi, Bay?”

Secepat kilat aku menoleh ke arah samping dan mendapati seorang wanita tengah berdiri di belakangku. Tubuh lampainya membungkuk untuk melihat apa yang baru saja kutulis di kertas putih Microsoft Word, kemudian terkekeh geli.

“Sudah gue duga,” katanya sembari menarik kursi dan duduk di sebelahku. “Bayu, Bayu… coba sekali-kali bikin tokoh utama yang berasal dari keluarga terpandang dan kaya raya, terus lu bikin komedi-tragis aja ceritanya,” imbuhnya lagi.

Mendengar coletehan wanita itu aku hanya tersenyum, memaklumi dirinya yang tak mengerti apa-apa. “Gue enggak bisa bikin tokoh kayak gitu, Ambar,” tanggapku, lantas kembali menarikan tangan di atas keyboard, menambahkan beberapa kalimat lanjutan. “Gue menulis berdasarkan hidup yang gue jalani, dan nyatanya, hidup gue menderita kan ya?” kataku lagi sembari tertawa hambar.

“Ah lu Bay, gak boleh bilang gitu, orang yang enggak punya kaki sama tangan aja masih bahagia jalanin hidupnya.”

“Hahaha, gue main-main aja kok, gitu aja diseriusin sih?” sahutku sambil menatap layar laptop-ku. Memang aku sering tidak fokus jika ada teman bicara saat aku sedang menulis.

“Kenapa berhenti?”

“Gak. Lagi mikir aja,” jawabku sekenanya.

 “Emang kali ini lu mau bikin cerita tentang apa lagi?”

“Tentang cowok yang mencintai orang yang sudah jadi pacar orang,”

“Ih, parah banget sih cerita lo.” Dia mendorong bahuku.

“Hahaha, biarin deh. Gue juga yang nulis, jadi terserah gue dong,”

Masih belum ada tambahan kata yang kutulis. Aku memang sedang berpikir, bukan tentang kalimat apa yang akan kutuliskan, tapi aku memikirkan Ambar, tokoh wanita yang akan kutulis dalam cerpenku kali ini. Dan seperti tulisanku, aku mencintai dia yang sudah punya pacar.

Untuk beberapa saat keheningan merambah di antara kami; tak tanggapan dari Ambar atau sambungan dariku. Kami tenggelam dalam pikiran kami masing-masing, meski pada kenyataanya aku sudah dapat menduga maksud dari ajakkan makan siang dari Ambar ini.

“Adam selingkuh lagi, Bay.” Ambar akhirnya bersuara, membuka sesi curhatannya denganku. Dengan satu gerakan cepat ia merogoh sebungkus Marlboro Menthol dari saku blazer abu-abunya dan menyulut api—menikmati ketenangan semu dari litingan nikotin. “Gue udah capek.”

“Kenapa lu enggak putus aja?” sahutku cepat, menyuarakan pertanyaan yang selalu berkeliaran di kepalaku tiap kali masalah pacar-gue-selingkuh ini muncul.

“Gue pengen, Bay.” Ambar menghisap dalam-dalam batang rokoknya, kemudian mengembuskan asapnya ke udara, menelan seluruh oksigen bersih yang seharusnya menjadi milikku. “Tapi gue…”

“Lu takut gak bisa nemuin yang lebih baik dari Adam?” Aku menyambar sebelum ia sempat melanjutkan kata-katanya.

“Salah satunya. Dan masih banyak lagi,” katanya setuju.

“Kenapa harus takut?” Aku memburu.

“Gue masih berharap dia berubah sih. Selain itu juga sayang banget udah hampir empat tahun hubungan kami. Rasanya aneh aja kalo tiba-tiba ada yang hilang.”

“Udah deh. Lu kan cantik, mandiri lagi, siapa yang gak tergila-gila sama lu?”

“Ah, itu sih bisa-bisa lu aja,”

“Gue serius ini,”

“Berarti lu tergila-gila juga dong sama gue,” katanya sambil mendorong bahunya ke bahuku.

Ambar tertawa sangat lebar; tidak menyadari kata-katanya barusan begitu menohok dadaku. Bertahun-tahun aku memendam perasaan ini, bertahun-tahun pula aku berusaha keras untuk menerima kenyataan friend zone yang Ambar tempatkan pada posisiku. Aku sudah kebal dengan segala canda yang menciptakan tawa di wajah Ambar, tapi menoreh luka di hatiku. Ya, tawa Ambar tentang hubungan kami kadang kala dapat kuterima dengan lapang dada, tapi ada saat di mana aku hanya dapat terdiam dan memikirkan kembali apa sebenarnya yang aku harapkan dari wanita ini. Dan saat-saat seperti itu terjadi sekarang.

“Bay, lu enggak papa?” Ambar mengguncang bahuku dan menatapku khawatir. “Lu enggak kesambet setan kan?” imbuhnya dengan nada bercanda, kupaksakan senyum di wajahku dan kemudian menggeleng. Keceriaan yang Ambar berikan di duniaku selalu mampu membuat duri-duri di hatiku terasa jauh lebih bersahabat; meski tak benar-benar menghilangkannya.

“Jadi, lu masih enggak mau putus sama dia?” aku menarik pembicaraan kembali ke jalur, kemudian memencet tombol sleep  di laptop-ku dan menutup benda itu, nafsu menulisku selalu menghilang ketika wanita ini berada di ruangan yang sama denganku.

“Enggak, he’s a perfect guy, you know?” Ambar menghisap rokoknya dalam-dalam, lantas membuang asapnya pelan-pelan. Beberapa orang yang tengah makan tampak tertanggu dengan polah wanita itu, tapi seperti biasa, Ambar selalu cuek bebek.

How come?” sahutku dengan nada menantang. “Bagaimana bisa cowok tukang selingkuh kayak gitu jadi cowok yang sempurna buat lu?”

Ambar tak langsung menjawab pertanyaanku, ia menghisap dalam-dalam benda adiktif kegemarannya terlebih dahulu sebelum akhirnya menjawab.

“Yah, dia memang bad boy, dan karena itu dia cocok sama gue.”  Ambar mendekatkan wajahnya ke wajahku, manik tembaganya menatapku lekat hingga membuatku terpana untuk beberapa saat. “Because I’m a bad girl too.”

I know you for a long time, lu gak perlu ingetin gue,” kataku sambil mendorong pipinya dengan tanganku.

Yeah, begitulah. Makanya gue gak yakin ada orang lain yang mau nerima gue yang bad girl ini,” ia menghisap puntung rokok yang tinggal sedikit itu hingga habis, menghembuskan asapnya ke udara. Lalu ia masukkan puntung rokoknya ke dalam asbak.

“Gue mau kok nerima lu,” kataku dengan nada serius.

 “Hahaha, ngaco lu, Bay. Ngerokok aja enggak. Gue juga masih heran kenapa lu tahan temenan sama gue,” ia tertawa mendengar kata-kataku yang sebenarnya sejak tadi ingin kukatakan.

“Eh gue serius, Ambar,”

Ambar menoleh ke arahku, tatapannya tepat mengarah ke mataku. Kubalas menatap matanya dalam-dalam, ada keindahan yang selama ini mengganggu pikiranku di matanya. Kemudian tercipta hening, tatapan kami saling berkait. Kami bergelut dengan pikiran kami masing-masing. Aku tak tahu apa yang sedang bergulir di benaknya, tapi di otakku yang saat ini berputar-putar adalah kekaguman yang tak henti kurapalkan dalam hati.

“Ah, lu ngerjain gue,” Ambar kembali mendorong pipiku.

“Ambar, gue tahu lu mungkin gak ada perasaan apa-apa ke gue. Tapi jujur aja gue orang yang pertama yang akan nerima lu, saat lu akhiri hubungan lu dengan Adam.”

Aku menatap Ambar lekat-lekat, berusaha menunjukkan pada gadis itu kesungguhan dari kata-kataku. Namun Ambar membuang muka; ia ragu, ya, lagi-lagi keraguan yang selalu menutupi logikanya selama ini.

“Gu-gue… enggak…”

“Ambar…” kupotong kata-kata Ambar sebelum wanita itu menyelesaikannya sembari menarik wajahnya untuk menatapku. “Kalau lu ngerasa diri lu enggak pantas untuk ngedapatin cowok terbaik di muka bumi ini. Biarin gue jadi yang jadi cowok itu.

“I will try to be the perfect one, for you.”

 

Fin.

“Collaboration With Putra Zaman

8 pemikiran pada “[Kolaborasi] The Perfect One

    1. Wah! Kunjungan pertama kemari? Komentar pertama? Hahahaha, terima kasih sudah berkenan mampir dan menjejak kata ya Kak. Terus, terima kasih sudah membaca ya kak 😄 Semoga karya kami bisa lebih bagus dari ini! 😀

      Silakan datang kembali!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s