Corat-Coret Dicta

[Coretan Dicta] Kritik Sastra: Menilik Sifat Buruk Manusia Pada Karya Sastra

Kritik sastra adalah pembacaan kembali sebuah karya sastra secara mendalam dengan cara mengupas habis unsur-unsur yang ada dalam karya tersebut. Kritik sastra meliputi unsur intrinsik dan ekstrinsik karya yang ingin kita kritik. Unsur intrinsik antara lain adalah tokoh, penokohan, alur, latar, pesan/nilai, tema, dan sudut pandang. Sedangkan unsur ekstrinsik adalah mengungkapkan mengapa atau bagaimana karya tersebut bisa lahir, berupa paradigma atau fakta yang terjadi di masyarakat.

Dalam menulis kritik sastra, kita dituntut untuk memahami setiap kata dan kalimat yang berada dalam karya sastra tersebut, karena satu kalimat atau bahkan hanya satu kata, bisa menjadi isu yang besar. Isu yang besar di sini maksudnya adalah, kemampuan setiap kata mau pun kalimat untuk menyampaikan sebuah pemikiran atau paham hingga dapat mempengaruhi pembacanya.

Untuk lebih jelasnya, kemarin malam Kak Teguh Puja telah membimbingku (juga dua blogger lainnya di room chat yang berbeda, Kak Lia dan Kak Rahayu) untuk membuat sebuah kritik sastra dari salah satu karya beliau. Dan kebetulan sekali aku memilih karya yang menurutku (sangat) rumit, karena aku tidak tahu kalau kritik sastra ternyata sedemikian complicated-nya. Hahaha.

Nah, sebelum para penikmat kata membaca kritik sastra yang aku buat dengan bimbingan Kak Teguh, silakan terlebih dahulu membaca karya sastra yang dimaksud.

Titik Terakhir.

Sudah di baca? Apa kalian telah memahami penuh seluruh maksud dari karya sastra tersebut. Jika belum begitu mengerti, mari  kubantu dengan kritik sastra yang aku dan Kak Teguh buat ini. Pertama-tama, mari kita lihat karya sastra tersebut dari setiap pargarafnya.

Paragraf pertama:

Aku tak mampu lagi berkata-kata. Lidahku kelu seolah mati rasa. Semua yang kulihat kini benar-benar nyata dan jelas mataku pun tak mungkin salah. Segala citra yang telah kubangun ternyata jauh dari apa yang kulihat sekarang.

Di sini kita bisa menemukan ketidakberdayaan tokoh si aku atas kondisi yang tengah ia hadapi. Pada paragraf tersebut, kita mendapati kata kelu dan mati rasa di kalimat kedua yang menunjukkan bagaimana kondisi tersebut membuat si ‘aku’ lumpuh. Namun, pada paragraf ini kita belum mengetahui, apakah tokoh ‘aku’ ini perempuan atau laki-laki

Paragraf kedua:

Awalnya kukira ini mengenai diriku. Tapi ternyata tidak. Ini tak lebih dari masalah kecemburuan istriku mengenai bidadari-bidadariku; untuk tidak menyebut mereka sebagai peliharaanku. Di depanku, jelas terlihat istriku yang marah dan memegang pemukul kayu. Entah untuk apa ia memegangnya seperti itu. Mungkinkah ia ingin memberikanku pelajaran? Mungkinkah ia ingin membunuhku dengan kayu besar yang kini digenggamnya?

Baru di paragraf kedua kita bisa memahami dan mengerti aku itu siapa dan apa posisinya. ‘Di depanku, jelas terlihat istriku yang marah dan memegang pemukul kayu.’ Dari kalimat tersebut kita dapat mengetahui kalau si aku adalah seorang suami dan di hadapannya sekarang tengah berdiri si ‘istri’. Kemudian di paragraf kedua kita pun menemukan tokoh ‘bidadari-bidadariku’ yang menjadi objek kecemburuan si istri, namun kita belum bisa mendefinisikan, apa atau siapa sebenarnya ‘bidadari-bidadariku’ itu

Paragraf ketiga:

Rasanya kaget bercampur bingung. Kupikir istriku akan baik-baik saja. Di dalam keseharian kami yang terdahulu, ia acuh, tak begitu banyak mempermasalahkan mengenai kucing dan babi; begitu ia memanggil bidadari-bidadariku, sangat tidak sopan sebenarnya. Katanya, tak masalah memberi makanan bagi kucing yang lapar dan memanjakannya dengan memberi kehangatan setiap harinya. Begitu juga dengan babi yang juga tak kalah laparnya. Ia sering mengutarakan dukungannya. “Biarlah, babi itu menikmati waktunya denganmu yang juga tak ubahnya seperti itu, sayang.”

Kemudian, di paragraf ketiga, barulah kita mulai menemukan masalah dalam cerita ini. ‘Di dalam keseharian kami yang terdahulu, ia acuh, tak begitu banyak mempermasalahkan mengenai kucing dan babi; begitu ia memanggil bidadari-bidadariku, sangat tidak sopan sebenarnya.’ Bidadari-bidadari kita definisikan seperti wanita cantik dan menawan. Kenapa si suami memiliki bidadari-bidadari cantik tersebut, sementara ia sudah memiliki istri? Ini sudah menandakan konflik dalam cerita ini. Para paragraf ketiga ini pula lah kita dapat menemukan truning point atau titik balik dari karya sastra ini. Penulis menggunakan alur mundur untuk mengisahkan kembali apa yang menyebabkan si istri bermemegang kayu di hadapan si suami. Namun di paragraf ini, konflik masih blur atau kurang jelas.

Paragraf keempat:

Istriku tidak begitu perduli denganku. Iya, aku tahu itu. Sejak kapan aku tahu? Sejak hari kedua pernikahan kami. Benar apa yang orang lain utarakan, wanita seperti istriku hanya akan terlihat belangnya ketika sudah menikah. Dan benarlah apa yang orang tuaku khawatirkan. Istriku hanya berusaha memerasku setiap harinya. Uang belanja bertambah setiap bulannya. Entah untuk apa lagi ia pergunakan uang yang kuberikan. Terlebih di saat tahun pertama pernikahan kami berjalan, “Aku butuh spa dan perawatan yang teratur, Mas. Penuhi kewajibanmu,” ucapnya begitu mudah tanpa merasa sedikit pun malu.

‘Istriku tidak begitu perduli denganku.’ Akhirnya pertanyaan dari masalah tersebut terjawab, si istri tidak perduli dengan suami. Pada paragraf ini kita pun mendapatkan informasi lain tentang drajat sosial si suami dari kalimat: ‘Istriku hanya berusaha memerasku setiap harinya.’  Kata ‘memeras’ adalah kunci utama dari paragraf ini. Si istri menikah dengan suaminya yang kaya raya hanya karena dia ingin memeras si suami.

Paragraf kelima:

Begitu yang terjadi di tahun-tahun selanjutnya. Entah berapa uang yang telah ia habiskan semenjak pernikahan kami. Dan hingga kini, yang kutemukan hanyalah sosoknya yang semakin hari semakin gemerlap dengan hidup pilihannya.

Di paragraf ini kita kembali dijelaskan tetang, sifat sang istri yang mata duitan. ‘Dan hingga kini, yang kutemukan hanyalah sosoknya yang semakin hari semakin gemerlap dengan hidup pilihannya.’ Kata ‘gemerlap’ telah menggambarkan bagaimana si istri memiliki sifat matrealistis, yang sangat akut karena ia memilih untuh hidup gemerlap atau penuh dengan kekayaan dan harta.

Paragraf keenam:

Pernahkah ia memberiku hidangan utama?

Jangan tanya masalah itu. Ia merasa tubuhnya bukan milikku. Ia menikah bukan untuk mengizinkanku menyentuh tubuhnya. Ia menikahiku karena ingin uangku dan juga kuasa yang kumiliki.

Namun, konflik tidak sampai hanya di situ. Kembali dijelaskan di paragraf selanjutnya bahwa si istri ternyata tidak menafkahi suminya dengan nafkah batin. Kata ‘hidangan utama’ pada kalimat pertanyaan, ‘Pernahkah ia memberiku hidangan utama?’ merujuk pada nafkah batin yang seharusnya diberikan kepada si suami. Namun, ternyata  si istri tidak memberikannya dan hal itu di pertegas dengan kalimat, ‘Ia merasa tubuhnya bukan milikku.’

Paragraf ketujuh:

Tidak ada makanan pembuka sedikit pun?

Kalau saja bukan karena masalah karier dan juga harga diri yang kumiliki di depan publik masyarakat negeri ini. Mungkin aku akan serta merta menceraikannya di hari ketiga pernikahan kami. Namun ternyata memang sudah takdirnya aku seperti ini. Terperangkap dengan seorang wanita pemeras harta. Bahkan untuk kewajiban yang agama kami anjurkan saja ia tidak mau lakukan itu. Katanya itu hanya bagi mereka yang tak punya lagi kebebasan untuk memilih. Untukku, hanya segala omelan saja yang bisa kuterima. Untukku, hanya sekian list belanja yang harus kusiapkan koceknya setiap saat. Istri sialan!

Keadaan si suami yang kebutuhan biologisnya tidak dipenuhi pun semakin dibuat menderita dengan kalimat pertanyaan lain, ‘Tidak ada makanan pembuka sedikit pun?’. Jangankan hidangan utama yang telah dijelaskan pada paragraf sebelumnya, si istri pun tak mau memberikan hidangan pembuka. Selain itu, pada paragraf ini pun kita dapat mengetahui, bahwa hubungan sumai-istri pasangan ini tidaklah sehat atau tidak fair. Karena si istri menuntut suami memberikan nafkah dan uang yang banyak padanya, namun ia tak sedikit pun melaksanakan kewajibannya sebagai istri. ‘Untukku, hanya segala omelan saja yang bisa kuterima. Untukku, hanya sekian list belanja yang harus kusiapkan koceknya setiap saat. Istri sialan!’

Paragraf kedelapan:

Dan itulah yang membuatku mencari-cari pelampiasan di luar rumah.

Satu hari aku bertemu dengan wanita yang istriku panggil dengan ‘kucing’, namanya tak lagi dianggap penting oleh istriku. Dengan angkuh ia utarakan itu di saat aku membawa wanita itu ke rumahku. “Wanita sepertimu tak lebih bagus dari kucing jalanan.”

Setelah kita mengetahui ketidakadilan yang terjadi di dalam rumah tangga tersebut, di paragraf berikutnya kita akhirnya dapat menarik kesimpulan bahwa bidadari-bidadari yang disebutkan di awal adalah sebuah bentuk ironi. Ironi sendiri maksudnya adalah berkebalikan dengan yang seharusnya. Bidadari seharusnya digambarkan sebagai sesosok wanita cantik yang rupawan serta berkepribadian baik, namun sang istri memberikan julukan si bidadari dengan ‘kucing jalanan’ yang memiliki makna yang kurang baik. ‘“Wanita sepertimu tak lebih bagus dari kucing jalanan.”’

Paragraf kesembilan:

Dan begitulah, tahun kedua diisi oleh kehadiran kucing di rumahku. Ia tak seperti istriku. Ia begitu berhasrat dengan keberadaanku. Ia selalu meminta dimanja olehku. Aku senang, sangat senang. Ternyata sebagai lelaki, aku masih punya harga diri. Kucing itu membutuhkan kehadiranku. kucing itu selalu haus akan gombalanku.

Setelah kita mendengar kata ‘kucing jalananan’ di paragraf sebelumnya, pastilah kita berpikiran tentang nature of cat, apa hubungan kucing dan majikannya? Yup, benar, kucing pasti minta dimanja dan minta disayang. Karena itulah si istri memanggilnya kucing jalanan. Namun justru itulah yang selama ini dicari oleh si suami yang tak pernah merasakan diri dibutuhan oleh sosok wanita. Si kucing sangat berhasrat padanya, hingga harga diri si suami yang sempat terluka akibat perlakuan si istri bisa kembali terangkat. ‘Ternyata sebagai lelaki, aku masih punya harga diri. Kucing itu membutuhkan kehadiranku. ‘

Paragraf kesepuluh:

Namun seperti tak ubahnya manusia lainnya, hasratku pun bertambah setiap saatnya, setelah kucing itu menemaniku sepanjang setahun lamanya, aku menemukan lagi satu sosok wanita baru yang juga menggairahkanku. Tak berbeda seperti sebelumnya, istriku juga menamai wanita baruku ini seenak udelnya saja. Babi. Ya, begitu istriku memanggilnya.

Di paragraf ini kita disuguhkan dengan kenyataan bahwa ternyata si suami pun tak ubahnya sang istri. Sama-sama serakah. Namun dalam bentuk atau objek yang berbeda. ‘Namun seperti tak ubahnya manusia lainnya, hasratku pun bertambah setiap saatnya, setelah kucing itu menemaniku sepanjang setahun lamanya, aku menemukan lagi satu sosok wanita baru yang juga menggairahkanku.’ Wanita tersebut dipanggil, atau di sebut si istri babi. Kenapa si istri menyebut wanita itu babi?

Paragraf kesebelas:

Wanita keduaku ini memang tak lebih cantik daripada istriku. Dan karena alasan itu, istriku terus saja mengolok-ngoloknya.

Tidak cukup dengan kucing, babi pun jadi pelampiasan keangkuhan istriku. Sungguh istri sialan!

Beberapa tahun bersama kucing dan babi membuatku semakin tak kuasa menolak berbuat dosa, tak lagi cukup harta yang kumiliki untuk mereka. Hingga akhirnya pilihan itu datang. Mark up adalah satu-satunya jalan. Awalnya aku menolak. Bukan itu yang aku mau dulu. Bukan dengan cara itu aku ingin memperkaya hidupku. Tapi, keyakinan manusia memang tidak lebih tebal dari secarik kertas. Hanya karena goresan sekecil apa pun, kertas dengan mudahnya akan robek. Begitu juga dengan keyakinanku. Korupsi jadi pilihanku.

Barulah di paragraf kesebelas kita tahu, kenapa si istri memanggil si wanita kedua ini babi. Karena si wanita kedua tidak lebih cantik dari si istri. Selain itu, si istri pun sebenarnya tahu tentang keberadaan si kucing dan si babi, dan menjadikan kedua orang itu sebagai bahan olokannya. ‘Wanita keduaku ini memang tak lebih cantik daripada istriku. Dan karena alasan itu, istriku terus saja mengolok-ngoloknya.’ Dan di paragraf ini pula kita tahu, saat si suami memelihara kucing dan babi, di tambah istri yang matre, pedapatannya pasti tidak cukup untuk memenuhi ketiga wanita itu.

Paragraf keduabelas:

Tahun ke tahun membuatku semakin lihat menjalaninya. Korupsi, menipu, membual, menjadi munafik setiap saatnya bukan lagi hal yang sulit bagiku. Awalnya memang susah, tapi ternyata menjadi begitu mudah ketika aku sudah terbiasa.

Di sini dijelaskan bahwa suami semakin tenggelam di dalam dosa. Selain ia melakukan tindakan korupsi, ternyata dia juga menipu, membual, dan menjadi orang yang munafik. Sampai akhirnya, perbuatan-perbuatan dosanya itu menempatkan dirinya berada di posisinya sekarang. ‘Hingga akhirnya aku temui hari yang kutakutkan menjadi hari terakhirku.’ Kalimat tersebut menandakan titik di mana cerita kembali ke awal. Di mana si suami tengah dihadapankan pada posisi yang tidak berdaya di depan istrinya yang tengah memegang kayu.

Paragraf penutup:

Aku tak mampu lagi berkata-kata. Lidahku kelu seolah mati rasa. Semua yang kulihat kini benar-benar nyata dan jelas mataku pun tak mungkin salah. Segala citra yang telah kubangun ternyata jauh dari apa yang kulihat sekarang.

Awalnya kukira ini mengenai diriku. Tapi ternyata tidak. Ini tak lebih dari masalah kecemburuan istriku mengenai bidadari-bidadariku; untuk tidak menyebut mereka sebagai peliharaanku. Di depanku, jelas terlihat istriku yang marah dan memegang pemukul kayu. Entah untuk apa ia memegangnya seperti itu. Mungkinkah ia ingin memberikanku pelajaran? Mungkinkah ia ingin membunuhku dengan kayu besar yang kini digenggamnya?

“Lebih baik kamu mati saja, lelaki busuk! Biar kuhabiskan uangmu untuk diriku sendiri.”

Hanya seringai panjang yang terakhir kali bisa kuingat sebelum kesadaranku menghilang. Perlahan. Dan akhirnya memudar. Itu titik terakhir dimana Iblis memintaku menjadi bagian dari golongannya.

Di bagian akhir cerita ini, dua paragraf awal diulangi untuk memberikan kesan penekanan bahwa cerita kembali ke adegan awal setelah kita melalang buana pada kejadian sebab-akibat di masa lalu. Kemudian, ada tambahan paragraf yang menjadi akhir dari cerita ini. Dan akhir dari cerita ini adalah si suami yang dibunuh oleh istrinya, karena istrinya ingin seluruh harta milih suami menjadi miliknya sendiri. Dan kemudian, si suami pun harus menebus dosa-dosanya dengan menjadikan diri kawanan iblis.

Fiuh *ngelap keringat*, okay, I already do my best for this. Jadi untuk review atau kritik per paragraf sudah ya? Sekarang kita lanjut untuk menemukan kesimpulan dalam karya sastra ini. Aku berpendapat bahwa penulis di sini sedang berusaha untuk memaparkan pada kita apa-apa saja bentuk dari sifat jelek manusia yang sering kali kita hadapi di kehidupan sehari-hari.

Bisa kita lihat sifat serakah suami-istri dalam karya sastra tersebut. Kadang kala kita dibutakan oleh harta dan kenikmatan duniawi yang akhirnya menjerumuskan kita pada hal-hal yang tidak baik. Si istri begitu buta oleh harta, ia menginginkan seluruh harta suaminya hanya untuk dirinya sendiri tanpa mau melaksanakan kewajibannya sebagai istri. Karena diperlakukan seperti itu, si suami pun mencari pelampiasan yang akhirnya menuntunnya menjadi serakah pada kenikmatan duniawinya.

Tindakan si suami tersebut memacu sifat jelek yang lain dari sang istri, yang mencerminkan diri kita juga. Yaitu, suka memperolok sesama, si istri menamai bidadari-bidadari si suami dengan sebutan ‘kucing’ dan ‘babi’ karena ia merasa derajatnya lebih tinggi dari kedua wanita itu. Kemudian, sama halnya yang terjadi pada si istri, perselingkuhan itu pun menyebabkan dirinya berbuat hal yang tidak terpuji, yaitu korupsi.

Ini adalah sebuah satir yang dihadirkan oleh si penulis kepada orang-orang yang memiliki jabatan. Sebuah ironisasi dari kekuasaan yang digunakan semena-mena oleh para pejabat di negeri ini. Selain korupsi, ternyata si suami pun digambarkan dengan lebih kurang baik lagi dengan sifat menipu, membual juga kemunafikan. Semua sifat buruk pada manusia yang seharusnya kita hindari.

Di akhir cerita, penulis kembali menghadirkan anti-klimaks yang memembuat kita terperangah. Di mana si suami akhirnya mati dibunuh oleh si istri yang cemburu pada kehadiran para bidadari-bidadari tersebut, kecemburuan di sini tentu bukan karena cemburu cinta, melainkan cemburu karena harta si suami terbagi-bagi pada bidadari-bidadari simpanan si suami. Si istri menginginkan harta tersebut hanya untuk dirinya.

Sungguh, sebuah paradigma yang sangat mengenaskan terjadi di masyarakat kita sekarang ini, ketika seseorang membenarkan diri untuk membunuh atau mengambil hak hidup milik orang lain hanya karena harta dan kekuasaan.

Maka, karya ini pun di tutup dengan kalimat: ‘Itu titik terakhir dimana Iblis memintaku menjadi bagian dari golongannya.’ Untuk menyampaikan pada kita, seluruh tabiat jahat yang telah dipaparkan dalam cerita ini tak ubahnya menyamakan diri dengan iblis. Lambang dari segala keburukan dan kejahatan di muka bumi ini. Maka, marilah kita berbuat baik dan menghindari semua tindakan jahat tersebut agar tidak disamakan atau dimasukan ke dalam golongan para iblis.

Buing, buing, selesai!

Hahahaha, kritik sastra pertama gueeeeh! Bikinnya 5 jam dari siang sampai sore, Bung! *menari dengan liar* Terima kasih untuk Kak Teguh atas pelajaraan yang ia bagi pada saya tentang kritik sastra ini. Akhirnya saya memahami satu hal penting dari mempelajari materi ini, kalau sebenarnya…

Tidak ada tulisan yang gagal; kegagalan itu ada ketika kita gagal mengapresiasi sebuah karya sastra.

Iklan

16 thoughts on “[Coretan Dicta] Kritik Sastra: Menilik Sifat Buruk Manusia Pada Karya Sastra”

      1. Wahahahahaha, jangan gitu kak, seperti yang dibilang di atas, semua tulisan itu enggak ada yang gagal atau pun ngaco. Yang salah itu ketika kita gagal mengapresiasi sebuah tulisan 😀 Ayo Kak, saya tunggu kritik sastranya! 😀

      1. Wah, kakak bisa bikin prosaaa?! *berbinar* saya enggak bisa bikin prosa *sigh* bahkan kadang bingung, bagaimana membedakan prosa dan puisi. Sekolah aja lagi kak, hihihihi *ditabok*

      2. bukan sayaaa kwkkwkw, inget aja dulu suka bahas-bahas prosa di kelas sastra sama guru yang killernya setengah mati tapi baik. dulu waktu sekolah sy masuk jur bahasa dict, cuma saya contoh hasil produk gagalnya kwkkwkwkw

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s