Flash Fiction, Romance

Be Sparkling With Me

Lusi memandang orang-orang yang tengah berlalu lalang di hadapannya dengan jenuh. Sesekali ia mencibir bahkan tak jarang tertawa datar karena orang-orang itu tak ubahnya lelakon gadungan baginya. Sudah setengah jam ia bertahan seperti ini—sendirian di depan kelas Kimia-2 tanpa seorang pun kawan.

Yeah, pelajaran kosong untuk yang kedua kalinya hari ini.

Dan Lusi tak tahu apa yang harus ia lakukan ketika saat-saat seperti itu muncul. Sebagian besar teman sekelasnya menjarah kantin; sisanya bahu membahu mendekorasi lapangan sekolah untuk event tahunan yang membosanankan ini.

“Heh, Gus! Talinya tadi mana? Mana?” Seseorang berseru nyaring di tengah-tengah pekerjaannya menyambung kayu yang patah, sementara yang lainnya menyahut jika ia tak tahu dengan lebih nyaring.

 Lagi-lagi Lusi tertawa datar. Semua orang sibuk di tengah lapanan basket; ada yang benar-benar sibuk ada juga yang sok sibuk. Dalam hati Lusi hanya bisa mencibir dan menyayangkan acara konyol yang menyebabkan uangnya untuk membayar sekolah ini terbuang percuma.

Cih. Kenapa HUT Sekolah saja harus sedemikian besarnya?

Jangka waktu tiga bulan untuk merayakan seluruh rangkaian acara HUT baginya adalah pemborosan waktu juga uang; karena akan banyak sekali waktu belajar yang terpotong hingga uang sekolah pun terbayar percuma selama tiga bulan itu.

Huh, kenapa sekolahnya harus seperti ini sih?

“Jangan bengong sendirian, Lus, entar kesambet setan.”

Bahu Lusi berjengkat; terkejut dengan suara bariton yang tiba-tiba saja menyusup di indra pendengarannya. Lusi lantas menoleh ke suara itu berasal, dan mendapati seorang cowok jangkung telah berdiri tak jauh darinya.

“Kamu enggak kerja, Lan?” tanya Lusi ketus, ketika ditiliknya kartu panitia yang masih bergantung di leher cowok itu.

“Lagi ganti sift sama teman bentar,” jawab cowok bernama Rolan itu seraya duduk di samping Lusi; menempelkan bahu satu sama lain.

“Kenapa sih kamu mau ikut beginian?” Lusi melipat kedua tangannya di depan dada lalu menyilangkan kakinya. “Buang-buang waktu tahu enggak.”

Mendengar komentar cewek di sampingnya, Rolan hanya tergelak sembari menautkan pandangan matanya pada gadis itu. “Ikut organisasi itu seru loh, sakit dan  seneng di tanggung bareng-bareng; bagus buat bekal kalau mau kerja nanti,” jawab Rolan diplomatis, kemudian ia menunjuk baleho yang tergantung di salah satu tembok sekolah sembari berkata, “Plus, aku suka tema HUT tahun ini.”

Lusi melirik sembentar ke baleho yang ditunjuk Rolan dan tersenyum sarkaktis. “Be sparkling? So what kalau kamu suka?”

“Hahahaha, serius nih Lus, temanya bikin aku ingat kamu terus,” jawab Rolan jenaka, namun di lain pihak, Lusi hanya mampu terpaku dengan wajah kaku.

“Maksud kamu?”

Ekspresi wajah Rolan perlahan-lahan berubah serius, tatapannya semakin lekat dan tanpa sadar ia meraih satu tangan Lusi yang terlibat di depan dada; menggenggamnya demikian erat seolah-olah itu adalah genggaman terakhirnya.

“Kamu orangnya kaku, susah bergaul sama orang, enggak pernah mikir hal lain selain belajar, paling males ikut kegiatan-kegiatan ini-itu dan lebih suka diam di rumah sambil baca buku. Kamu kayak punya dunia sendiri, Lus…”

Rolan menarik napas panjang dan mendesah sembari menarik kedua sudut bibirnya; membentuk senyum lebar di wajah tampannya.

“Tapi itu yang bikin kamu bersinar di mata aku; kamu berbeda, jauh beda dari aku,” Rolan terkekeh sebentar dan mengeratkan genggaman tangannya. “Tapi hebatnya, cuman aku yang bisa menemukan sinar itu di kamu; cuman aku, cowok beruntung itu.  Dan pada akhirnya, sinar kamu memang cuman buat aku,  dan kamu…

“Hanya dapat bersinar bersamaku. Hehehe.”

“WOI! ROLAN! KAMPRET LU! Malah asyik pacaran pas lagi sibuk-sibuknya gini! Buruan panggil Paman Huri!!”

“Iya, Des! Bentar doang! Cewek gue lagi pasang muka bete makanya gue gombalin dulu!” Rolan tertawa renyah sembari berdiri, bersiap untuk pergi. Tapi sebelum Rolan benar-benar menghilang, ia masih sempat berbisik di telinga Lusi.

Be sparkling like always, Darling, be sparkling with me.

Wajah Lusi langsung memanas dan ia mulai merasakan seluruh darahnya mengalir langsung ke wajahnya. Buru-buru Lusi memalingkan wajah ke arah lain untuk menyembunyikan wajahnya yang memerah, tapi Rolan terlanjur menangkap ekspresi itu dan pergi sambari tertawa penuh kemenangan.

Sepeninggal Rolan, Lusi hanya bisa terdiam dengan perasaan dipernuhi oleh perkataan cowok itu. Sekarang, ia tak punya waktu lagi untuk merasa kesal dengan event tahunan ini, karena wajah tengil pacarnya kembali membuat perasaannya jauh lebih baik.

Fin.

A/N:

Ini cerpen yang aku tulis untuk proyek buku antalogi Smaven Bercerita yang diadakan seminar kepenulisan- Be Sparkling With Smaven. Seminar ini adalah salah satu dari banyak acara yang diadakan sekolahku–SMAVEN–untuk merayakan hari jadinya yang kesekian (iye, aku lupa). Hahahaha. Keren banget enggak sekolahku? *nyombong dikit enggak papa toh?*

IMG00254-20130326-1627

Terima kasih untuk ketua koordinator seminar kepenulisan, Pradissa Avia Emeralda, yang sudah bekerja keras untuk mengoordinir terbitnya buku ini *peluk*. Buku ini memang tidak untuk diperjualbelikan, dan hanya dibagikan secara gratis pada para kontributor sebagai kenang-kenangan. Tapi meskipun begitu, ini benar-benar sebuah penghargaaan besar bagi penulis bau kencur kayak aku.

Terima kasih SMAVEN! Terima kasih sekolahku! SMAVEN SOEKSES!

Iklan

18 thoughts on “Be Sparkling With Me”

    1. Eh? Masa? Berarti kebetulan dong ya, saya bahkan belum pernah baca fiksi pertama Kakak itu. Beneran, sungguh, suweeeeer. Saya ngambil idenya dari tema HUT sekolah saya.

      Tulisan ini juga saya bikin sekitar bulan januari. Baru terbit sekarang aja. Sekali lagi maaf banget ya Kak kalau misal ada kesamaan, dan bikin kakak enggak enak hati. Semoga masih berkenan untuk membaca. Terima kasih *deep bow*

      1. slow aj sist 🙂
        mirip scara karakter dan dunianya aja kok, tp km dari sdut pndang wanita. pencitraan tokoh bisa aja sama kan, sering kaya gtu.
        saya suka gaya brceritanya, bisa kolaborasi nih!

      2. Hahaha, maaf kak, saya biasaan kayak gini sih. Kadang suka enggak enakan sama orang 😦 Jadi langsung nanggapin serius gitu.

        Wah, boleh kapan-kapan, atur waktu aja Kak, saya masih sekolah juga sih ini. Add aja YM saya: dictavip@yahoo.co.id 😀 boleh minta YM Kakak?

    1. Err, enggak keren kok kak. Banyak penulis lain yang lebih hebat dari saya. Hahaha. Cuman segini aja enggak ada apa2nya. Tapi tetap terima kasih ya kak atas apresiasinya 😀 *jabat tangan* Semoga tulisan Kakak juga bisa benar-benar ‘tertulis’ 😀

  1. Selamaatt yaa kak dicta! Buat ceritanya yg entah udah berapakali terbit :), ceritanya simple tp ngena. Tokoh perempuannya gak jauh beda sama sifat asliku *sigh*.

    1. Wah, iya, terima kasih ya ucapan selamatnya 😀 ini senang banget loh dapat kesempatan seperti ini. Hehehe. Wah, mirip sama kamu ya? Hihihi, kebetulan yang manis ya. 😛

      Terima kasih sudha berkenan membaca ya say! Silakan datang kembali.

    1. Hehehehe, yang baca aja bilang gitu apalagi yang nulis Kak. MIMPI GUE BANGET deh. Hahahahaha. *ngakak guling2*

      Terima kasih sudah menyempatkan diri membaca ya kak
      😀 silakan datang kembali!

      1. Sudah dua orang termasuk kakak yang ngaku kalau lusi mirip dengan dirinya 😄 Hihihihi *tunjuk komentar di atas kakak* saya di SMA juga enggak mau ikut organisasi sih, cuman dipaksa juga jadi panitia2 gitu. 😄

      2. kwkkwk, kebanyakan novel dan cerita2 roman juga kayak gitu dict. contohnya bella swan di twilight, jamie sullivan di a walk to remember, ronnie di the last song, cewek-cewek biasa (yang emang pada kenyataannya banyak yang kayak gitu, suka baca, asik sendiri, gak terlalu populer, pokoknya bener2 cewek biasa) dan mereka dapetin cowok super keren. otomatis saya (yang juga merasa tipikal cewek biasa yang mereka gambarkan di novel2), jadi memimpikan hal itu jadi kenyataan kwkkwkw *curcol*

      3. Iya, sih. Saya juga waktu nulis ini kayak ngerasa sebagian itu diri saya. Syukurlah saya bisa membangun tokoh yang true to life. Hihihihi. Kadang masih kelepasan gitu bikin tokoh yang enggak masuk akal. hahaha.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s