[Coretan Dicta] BLOG SAYA SUDAH AMAN! KEMBALILAH BERKUNJUNG!

Jadi singkat saja, kemarin malam, setelah aku tepar karena harus beres-beres misa syukur yang diadakan di rumahku. Aku langsung cek blog ini karena motoku adalah ‘tidak ada hari tanpa ngecek blog meskipun lagi hiatus’. Namun, saat aku mencoba mengakses blog-ku yang ter-cintah  ini, tiba-tiba sebuah laman muncul dengan kata-kata yang bikin perasaanku cetar-membahana-ulala-badai-catharina.

“URL ini telah dicekal karena berkemungkinan mengunduh perangkat lunak berbahaya tanpa sepengetahuan Anda, tapi jika… bla… bla… bla…”

WHAT THE F*** IS THIS!?

Untuk beberapa detik aku hanya bisa tercengang dengan mata melebar. Hingga akhirnya kututup tab Google Chrome-ku dan kembali membuka blog-ku di tab  baru; berharap kalau peralihan laman itu hanya sebuah ilusi. Tapi ternyata, laman itu masih saya muncul! Membuatku semakin frustasi dan tak tahu harus berbuat apa.

Dengan perasaan frustasi seperti itu, akhirnya aku mencoba untuk mempelajari sedikit hal apa yang menyebabkan blog-ku  bisa sampai seperti itu. Ternyata ada sebuah web yang entah bagaimana caranya mampu menginfeksi blog-ku dengan virus sehingga berkemungkinan mengunduh perangkat lunak berbahaya tanpa diketahui oleh si pengguna komputer. Menyadari hal itu, dari frustasi aku langsung menjadi panik. Bagaimana cara memperbaikinya?!

Pertama, yang aku lakukan adalah menghapus semua komentar yang tersangkut di-spam, karena satu-satunya kemungkinan virus itu datang adalah dari komentar-komentar seperti itu. Selama ini aku jarang menghapus komentar spam, karena menurutku komentar-komentar itu tidak terlalu membuatku terganggu. Lagipula, WordPress sepertinya memiliki kemampuan untuk menghapus sendiri komentar spam yang tersangkut saat aku menyimpannya terlalu lama, jadi aku sama sekali tak memiliki pikiran bahwa komentar spam itu dapat seberbahaya ini.

Kedua, aku memverifikasi blog-ku dengan fitur Webmaster Tools yang ada di Google. Setelah menelisik berbagai macam cara untuk memperbaiki blog-ku, aku mendapat saran dari Google untuk memverifikasi blog agar Google dapat membantu blog-ku terhindar dari serangan virus semacam ini. Tapi, pada awalnya aku benar-benar tidak tahu apa itu ‘memverifikasi blog‘ dan bagaimana cara melakukan hal itu. Setelah memberikan URL blog-ku di Webmaster Tools, aku diberikan sebuah meta tag–istilah yang baru pertama kali aku temui–untuk di ‘masukkan’ ke dalam blog. Terus, aku langsung mikir: gimana cara masukinnya? Aku kan bego banget soal beginian. Selama nyaris 3 tahun menjalani dunia per-blog-an, aku enggak pernah ketemu hal-hal semacam ini. Jadi lumrah dong kalau dengan begonya aku berpikir kalau meta tag itu dijadian sebuah posting-an di blog b(–3–)d. Tapi, setelah berkali-kali melakukan verifikasi blog, dan gagal, aku mulai curiga kalau cara mem-posting itu meta tag itu salah. Hingga pada akhirnya aku bertanya pada Google bagaimana cara menverifikasi blog itu, dan ternyatanya… caranya sangat mudah-dah-dah-dah!

Cara menverifikasi blog WordPress di Webmaster Tools:

  1. Buka fitur Webmaster Tools. Kalian bisa cari di Google untuk mempercepat pencarian fitur tersebut jika kalian bingung.
  2. Setelah masuk. Kalian bakal diminta memasukan URL blog, dan masukkan saja! 😉
  3. Kemudian, kalian akan menerima meta tag dari Webmaster Tools. Nah, sampai sini, jangan bingung, jangan panik! Aku bakal bantu caranya.
  4. Log in blog WordPress kalian di tab baru. Dan ikuti runutan setelah ini (karena blog-ku dalam bahasa Indonesia, jadi aku pake bahasa Indonesia ya).
  5. Pergi ke dasbor — lanjut ke perkakas — buka perkakas yang tersedia — Tarraaa! Kalian menemukan tempat memasukan meta tag! Memasukkan Meta Tag
  6. Setelah memasukan meta tag dan memencet tombol ‘Simpan Perubahan’, kembali lah ke tab Webmaster Tools yang sempat kalian tinggalkan tadi. Lalu, klik tombol merah bertuliskan ‘VERIFIKASI’.
  7. SELAMAT! Blog WordPress Anda berhasil di verifikasi oleh Google!

Nah, ngomong-ngomong, Dict, apa untungnya memverifikasi blog sih? Well, yang pasti kalian akan terhindar dari apa yang baru saja terjadi pada blog-ku! Google akan memperingati dan melindungi blog kalian dari serangan virus-virus jahat sehingga pembaca aman membaca blog kalian.

Terakhir, setelah memverifikasi blog, yang aku lakukan sisanya adalah menunggu. Yup! Ternyata, Google tak langsung mengembalikan blog-ku ter-cintah kepada keadaan semula. Kemarin malam aku sempat stres dan berpikir kalau memverifikasi blog tidak cukup, sampai akhirnya malam sangat larut dan aku pasrah. Kalau misalnya blog ini enggak bisa kembali, aku bakalan berhenti nge-blog atau aku bikin blog baru. Opsi pertama cukup kuat, mengingat jika aku memaksakan diri untuk ngebangun blog baru, aku pasti bakal ngerasa beda dan takutnya bikin aku enggak semangat nulis karena masih kepikiran blog yang lama. Tapi syukurlah, setelah pulang sekolah hari ini aku kembali mengecek blog-ku dan aku tak menemukan peralihkan laman itu! \(ToT)/ Blog-ku sembuh! Aku sampai memekik saking senangnya! Enggak pernah ngerasa sebahagia ini selama menjalani dunia per-blog-an.

Akhir kata, terima kasih sudah bersedia menyimak penjelasan ini. Semoga kalian terbantu dan buru-buru ngacir untuk memverifikasi blog WordPress kalian ya. Setidaknya untuk berjaga-jaga, ‘mencegah lebih baik dari pada mengobati’ kan? 🙂 Kemudian, aku bakal comeback soon! Udah setengah bulan ini aku enggak posting apa pun di blog ini, dan ada rasa rindu ingin menyapa kalian dengan tulisan-tulsian fiksiku dan non-fiksiku (maksudnya curcolan). Doakan ya, agar aku nulisnya lebih lancar lagi. Hihihihi.

Dadah! See you soon! *melambai* *tebarin bunga Mawar*

[Kolaborasi] Menggenggam Cahaya

Beberapa sering bertanya. Ada pula yang kemudian menerka-nerka. Ada keinginan mereka untuk mengikuti jejak yang selama ini tengah kulakukan belasan tahun lamanya. Berguru. Belajar lagi mengenai sesuatu yang mungkin saja belum sepenuhnya mereka tahu. Dibandingkan dengan masa-masa awal perkenalanku dengannya, belasan tahun ini telah menjadikanku begitu dekat dengannya. Ia, guru spiritualku. Seseorang yang benar kuhormati dan kutuakan. Ucapnya adalah tulah, bila tak diikuti. Perintahnya adalah kewajiban, bahkan bila terkadang itu melanggar atau menabrak apa-apa yang sebelumnya kupercayai.

Ya, aku memang terdengar seperti seekor kerbau yang dicocok hidungnya; begitu menuruti dan meyakini apa pun yang ia katakan. Tapi kehadiran guru spiritual itu nyatanya mampu membuat hidupku berubah seratus delapan puluh derajat. Aku yang dulunya pecandu narkoba, aku yang dulunya hidup berantakan, aku yang dulu yang berbidah pada Tuhan, aku yang begitu ‘sakit’, kini menjadi menjadi tahir dan berjalan lurus kembali.

Bersama guru spiritualku itu, aku menemukan cahaya yang hilang dari hidupku. Setiap kali aku menuruti apa yang ia katakan, aku merasa sangat bahagia. Ada kepuasan batin tersendiri yang aku dapatan tatkala ia memberiku pujian atas tindakan yang aku lakukan berdasarkan titahnya. Dan hal itu telah berlangsung sangat lama, ya lebih tepatnya tiga belas tahun sudah berlalu sejak pertama kali aku mengenalnya. Aku benar-benar mempercayai guru spiritualku itu.

Tapi ternyata, seluruh rasa hormat dan pengabdian yang aku berikan untuknya selama belasan tahun itu hanya sia-sia belaka; persepsiku terhadap citranya benar-benar tergilas hancur. Ketika tiba-tiba saja, sebuah berita buruk menamparku hingga aku tak tahu apa  yang harus aku lakukan terhadap hubunganku dengan guru spiritualku itu. Seandainya saja berita itu berasal dari oknum tak terpercaya, aku mungkin hanya menganggap hal itu hanyalah cemooh untuk menjatuhkan guru spiritualku itu, tapi sumber dari pemberitaan ini adalah… istri guru spiritualku sendiri.

Entah mengapa hatiku menjadi remuk redam mendengar setiap ucapan yang terlontar dari istri guruku. Bukan satu hal yang aneh bila kemudian aku juga mengenalnya. Istrinya selalu ada di setiap perhelatan dan juga di setiap pertemuanku dengan guru spiritualku. Tak mungkin bila tak pernah sekali pun bertemu dengannya.

Darinya kudengar banyak hal yang tak pernah kubayangkan sebelumnya, layaknya bayi yang belum bisa memutuskan apa-apa. Aku pun seperti ikut menjadi bebal dengan kenyataan yang tengah aku hadapi. Jadi selama ini semuanya adalah kebohongan? Sandiwara saja? Aku tak ingin sekali pun percaya, tapi sedikit demi sedikit, semuanya terasa semakin jelas. Keanehan-keanehan yang dahulu pernah kuanggap wajar, ternyata berarti lain setelah kudengarkan semuanya dari istrinya.

Guru spiritualku ternyata memiliki banyak istri simpanan dan menjunjung ‘makhluk gaib’.

Baca lebih lanjut

[Coretan Dicta] Cinta yang Melapuk

interior gereja

Sore di Hari Minggu yang terasa biasa saja. Aku memutuskan untuk menapaki marmer gereja untuk menyisihkan waktu untuk Tuhan di penghujung minggu. Aku datang sendirian waktu itu, orang rumah sudah melaksanakan kewajiban itu tadi pagi dan tidak berbidah pada aturan seperti yang aku lakukan.

Jam 17.11 WITA.

Aku masih ingat angka apa yang jam tunjukkan saat kubuka pintu kaca Gereja Hati Yesus Yang Maha Kudus, karena aku melakukannya sembari menilik jam digital di handphone-ku. Saat aku masuk, suasana di dalam gereja masih senggang, hanya ada segelintir umat yang mengisi baris-baris bangku yang disediakan. Ruangan berbentuk separuh lingkaran itu dipenuhi aroma dupa sisa pembakaran yang berasal dari turibulum[1] yang digunakan saat misa pagi tadi. Sementara, suara seorang wanita paruh baya yang mengumandangkan doa Rosario[2] membuat suasana kusyuk di tempat itu semakin menjadi.

Ah, misa belum dimulai rupanya, pikirku tatkala kulihat altar masih sepi penghuni. Menyadari hal itu, aku lantas mengambil air suci di dekat pintu dengan jariku dan membuat tanda salib di dahi dan dadaku, lantas melangkah ke sisi kanan ruang gereja untuk mencari tempat duduk—di sana tak banyak orang yang duduk; hanya ada dua orang cowok yang duduk bersisian di deretan belakang.

Tap. Tap. Tap.

Suara langkah kakiku terdengar nyaring, padahal aku sudah berusaha berjalan sepelan mungkin agar tidak mengganggu kekusyukan; tapi mengingat ruangan ini sangat besar dan minim suara bising, aku yakin suara embusan napas pun akan terdengar sampai beberapa meter. Dan suara senyaring langkah kakiku itu itu lantas mengundang tolehan beberapa umat yang ada, termasuk dua cowok yang sempat kuperhatikan tadi.

Ketika mataku dan kedua cowok itu berserobok, salah satu di antara mereka kembali memalingkan wajahnya tak peduli, namun tidak dengan sepasang mata sipit yang menemukan sosok tak asing baginya di diriku dan menggugah ingatan masa kanak-kanaknya.

Dan hal itu pun terjadi pula padaku. Baca lebih lanjut