Diposkan pada Corat-Coret Dicta, Romance

[Coretan Dicta] Cinta yang Melapuk

interior gereja

Sore di Hari Minggu yang terasa biasa saja. Aku memutuskan untuk menapaki marmer gereja untuk menyisihkan waktu untuk Tuhan di penghujung minggu. Aku datang sendirian waktu itu, orang rumah sudah melaksanakan kewajiban itu tadi pagi dan tidak berbidah pada aturan seperti yang aku lakukan.

Jam 17.11 WITA.

Aku masih ingat angka apa yang jam tunjukkan saat kubuka pintu kaca Gereja Hati Yesus Yang Maha Kudus, karena aku melakukannya sembari menilik jam digital di handphone-ku. Saat aku masuk, suasana di dalam gereja masih senggang, hanya ada segelintir umat yang mengisi baris-baris bangku yang disediakan. Ruangan berbentuk separuh lingkaran itu dipenuhi aroma dupa sisa pembakaran yang berasal dari turibulum[1] yang digunakan saat misa pagi tadi. Sementara, suara seorang wanita paruh baya yang mengumandangkan doa Rosario[2] membuat suasana kusyuk di tempat itu semakin menjadi.

Ah, misa belum dimulai rupanya, pikirku tatkala kulihat altar masih sepi penghuni. Menyadari hal itu, aku lantas mengambil air suci di dekat pintu dengan jariku dan membuat tanda salib di dahi dan dadaku, lantas melangkah ke sisi kanan ruang gereja untuk mencari tempat duduk—di sana tak banyak orang yang duduk; hanya ada dua orang cowok yang duduk bersisian di deretan belakang.

Tap. Tap. Tap.

Suara langkah kakiku terdengar nyaring, padahal aku sudah berusaha berjalan sepelan mungkin agar tidak mengganggu kekusyukan; tapi mengingat ruangan ini sangat besar dan minim suara bising, aku yakin suara embusan napas pun akan terdengar sampai beberapa meter. Dan suara senyaring langkah kakiku itu itu lantas mengundang tolehan beberapa umat yang ada, termasuk dua cowok yang sempat kuperhatikan tadi.

Ketika mataku dan kedua cowok itu berserobok, salah satu di antara mereka kembali memalingkan wajahnya tak peduli, namun tidak dengan sepasang mata sipit yang menemukan sosok tak asing baginya di diriku dan menggugah ingatan masa kanak-kanaknya.

Dan hal itu pun terjadi pula padaku.

Dalam sepersekian detik duniaku seakan luntur, aku nyaris tak tahu di mana aku sedang berpijak sekarang. Ketika mata itu menunjukkan rasa yang tak bisa kudefinisikan dengan kata-kata—entah terkejut, entah canggung, entah merasa tak nyaman—aku semakin yakin bahkan sosok itu adalah dia. Dia yang dulu menjadi tokoh utama dari  khayalan kanak-kanakku tentang ‘suami masa depan’.

Napasku tertahan di tenggorokan selama sepersekian detik yang hanya diisi dengan saling melempar pandangan seperti itu. Ketika sepersekian detik itu berakhir, cowok itu kembali duduk dengan normal dan aku pun melangkah sembari menghirup napasku lagi.

Namun, dampak dari sepersekian detik tautan mata itu ternyata berujung pada kinerja sistem saraf motorik-ku yang tak sesuai otak. Sistem tolol itu malah mengikuti hati yang tak ingin melepaskan pandangan dari sosok yang kini jauh lebih menarik dari seratus cowok se-ras yang akhir-akhir itu digandrungi anak-anak muda.

Ya. Aku mengambil tempat duduk di belakangnya. Dua baris tepat di belakangnya.

Cowok itu menyadari hal itu, ia melirik-lirik kecil ke belakang dan terlihat cukup panik saat mengetahui posisiku. Aku tertawa dalam hati, entah mengapa aku merasa senang dengan polahnya itu. Mengingatkanku pada masa pertama kali kumiliki perasaan yang mungkin bisa kusebut cinta.

Pertemuan pertama kami terjadi di dunia taman kanak-kanak. Waktu itu aku dan dia masih polos, ya, masih terlalu polos untuk mengenal perasaan  ketertarikan atar lawan jenis. Kami dekat, sering bermain berdua, bahkan sama-sama terobsesi dengan kue-kue pasir.

Sejujurnya, taman kanak-kanak adalah masa-masa yang nyaris kulupakan di umurku yang kian menua. Tapi sosoknya masih cukup cancang di ingatanku, hingga akhirnya kami terpisah saat masuk sekolah dasar—dia pindah ke keluar kota bersama keluarganya—dan ingatanku tentangnya memudar. Tak ada rasa kehilangan waktu itu, hanya sedikit rasa sepi ketika tahu tak ada lagi teman bermain di kotak pasir.

 Tapi dinamika hidup mengenalkanku pada perasaan-perasaan baru pada orang lain, hingga sosok bocah bergigi ompong itu nyaris hilang dari ingatanku. Lima tahun terlampaui, dan aku duduk di kelas 5 sekolah dasar—masa ketika otakku telah tercemari oleh berbagai macam tontonan bertema cinta yang muncul silir berganti di televisi—dan sosok dia datang kembali; dengan outfit yang rupawan nan memesona.

Hahaha. Bagaimana mungkin aku tidak mengkorelasikan perasaanku kala itu dengan pencemaran definisi tentang ‘cinta’ yang kutonton di televisi?

Ah, aku pikir aku cinta dia.

Dan selama dua tahun yang tersisa di sekolah dasar, aku menikmati setiap sensasi dari ‘cinta’ itu. Berdebar saat di dekatnya, mencuri lirik padanya, mengulum senyum saat ia berbicara denganku, mencari-cari kesamaan dengannya, cemburu saat ada ‘saingan cinta’ bermunculan, dan semuanya! Jika diingat lagi tentang hal itu, yang tersisa hanyalah rasa geli dan juga kutukan pada pencipta televisi karena benda itu telah mencemari otakku kala itu.

Jadi, masa sekolah dasarku berlalu dengan segala intrik anak-anak yang ingin buru-buru akil balik dan tibalah saatnya kami menghadapi jenjang yang lebih tinggi. SMP, sekolah menengah pertama. Di jenjang ini aku tak punya kesempatan untuk berada di tempat yang sama dengannya, aku memutuskan untuk sekolah di ibu kota provinsi, Palangkaraya, dan ia pun tetap di sana—di kota kecil di bagian utara Sungai Barito. Ada sedikit rasa menyesal saat aku memutuskan hal ini, tapi apa boleh buat? Aku ingin pendidikan yang lebih baik.

Setengah tahun berjalan untuk masa-masa pembiasaan diriku hidup jauh dari orangtua, tapi tiba-tiba saja aku mendengar kabar bahwa dia pindah kembali ke kota yang sebelumnya ia tinggali—Kota Seribu Sungai, Banjarmasin. Ada segelumit rasa sedih ketika aku sadar bahwa aku tak mungkin bertemu dengannya meskipun aku pulang kampung. Tapi, kembali lagi aku berbenah hati, well, ini hanya tentang perihal waktu sampai aku melupakannya kembali.

Sayang, ketika aku sudah berkomitmen untuk merelakan perasaanku padanya. Gempuran globalisasi menerpa pergaulanku, aku dituntut untuk mengenal jejaringan sosial dan akhirnya kembali terperangkap dengan kebiasaan lama; menjadi seorang penguntit. Ya, aku menemukan akun jejaringan sosialnya, bahkan sebagian besar dari diriku parcaya, bahwa aku membuat akun jejaringan sosial itu hanya untuk menemukan keberadaannya yang telah tak terjangkau lagi.

Maka, selama tiga tahun di sekolah menengah pertama aku kembali mengejar sosoknya di balik layar digital. Tersenyum simpul saat ia meng-update foto terbaru, tertawa saat ia membuat status yang menggelikan, memberikan komentar dan tanda suka yang bertujuan mencari perhatian, dan sebagainya. Wow, jangan tanyakan perasaanku saat itu, rasanya benar-benar seperti seorang penguntit. Tapi hebatnya, meski rasa sakit karena tak dapat bertemu dengannya terus meranggas, aku tetap menikmatinya.

Tak terasa tiba saatnya aku memilih sekolah menengah atas, papa mengusulkanku untuk sekolah ke Jogja, tapi om dan tanteku yang selama ini telah merawatku di perantauan berpendapat kalau aku lebih baik tetap dekat; mereka ingin aku sekolah di Banjarmasin. Kebetulan di sana ada eyang putri-ku yang masih cukup kuat untuk mengurus dan ‘mendidik’-ku, lagi pula eyang putri tidak tinggal sendiri di sana. Ada om dan tanteku yang lain yang pasti bisa menjagaku dengan baik. Alhasil, aku menyetujui saran om dan tanteku itu, dan mendaftar si salah satu sekolah menengah atas negeri terpandang di kota itu. Yeah, aku pun kembali berkemas untuk pindah rumah.

Dan… Banjarmasin. Mendengar nama kota itu selalu mengingatkanku tentang keberadaannya. Sekarang aku telah tinggal di sana, namun tak sekali pun aku mampu mencuri waktu untuk mencari keberadaannya. Aku hanya berharap akan adanya pertemuan kebetulan yang mempertemukan kami. Setiap kali aku ke mall atau ke mana pun aku selalu berdandan sebaik mungkin, kalau-kalau kami bertemu di jalan dan berpapasan. Hahaha. Konyol memang, tapi itulah kenyataannya.

Tindak-tanduk seperti itu berlangsung di bulan-bulan awal. Sampai akhirnya aku menyerah ketika aku menyadari kebetulan seperti itu tak mungkin terjadi. Mengingat Banjarmasin adalah kota yang sangat luas, sekolahnya juga berbeda denganku, bahkan paroki gereja[3] pun berbeda. Aku yakin kalau kami tak akan bertemu secara kebetulan. Tapi ternyata…

Aku menatap punggung cowok yang berada beberapa meter di depanku dengan perasaan campur aduk. Punggungnya terlihat lebih lebar dari saat terakhir kali aku bertemu, atau jauh lebih lebar dari semua foto yang kulihat di akun jejaringan sosialnya. Aku benar-benar tak menyangka kebetulan seperti itu akan datang di saat aku benar-benar tidak siap—waktu itu aku nyaris tidak berdandan dan hanya mengenakan kaus-celana denimsneakers yang menurutku enggak banget—tapi rasa yang meletup-letup di dadaku menutupi rasa malu tentang penampilanku dan bersikeras untuk berada cukup dekat agak bisa memperhatikannya.

Semakin lama melihat sosoknya dadaku semakin berdebar. Kepalaku lantas bekerja menyusun kata-kata jikalau ia menyapaku saat misa usai. Kata sapaan ‘hai juga’ dan ‘apa kabar?’ terlintas silih berganti, menimbang apa ada kata-kata lain yang mungkin saja lebih baik bisa menjadi pilihan yang bagus. Hingga aku tak ingat pada waktu yang terus bergulir dan misa segera di mulai.

Semua umat berdiri saat lonceng  berdetang. Tapi tepat sebelum pastur muncul, dua orang cewek  melangkah terburu-buru menuju tempat duduk kosong yang berada di samping kedua cowok yang berada di depanku; tampaknya terlambat.

Salah satu cewek itu bertubuh tinggi dan langsing, kulitnya putih juga terawat, bahkan tanpa melihat wajahnya pun aku tahu kalau ia sangat cantik. Cewek itu duduk tepat di sebelahnya dan tersenyum meminta maaf akan keterlambatan dirinya. Aku pikir tak ada yang salah dengan hal itu, mungkin cewek itu hanya temannya. Tapi pemikiran itu langsung luluh lantak saat kulihat pergelangan tangan cewek itu dilingkari gelang yang sama persis dengan yang dia pakai saat itu.

Astaga. Jelas sudah kenapa aku bisa bertemu dengannya secara kebetulan di gereja, sementara selama ini aku tak pernah bertemu dengannya di tempat ini karena paroki gereja kami berbeda. Dia kemari karena ingin bertemu dengan cewek itu, karena cewek itu adalah…

 Aku meremas jemariku sekuat tenaga. Hatiku teriris, aku bahkan tak bisa konsentrasi saat pastur mulai mengucapkan doa pembuka dan disusul dengan ibadat sabda. Semua rasa yang sebelumnya aku nikmati berubah menjadi tidak enak dan kini terasa pahit. Aku ingin pindah tempat duduk, karena tiba-tiba saja bangku yang aku tempati terasa panas. Tapi sayangnya misa telah di mulai, jadi aku tak bisa berbuat apa pun selain diam dan menahan rasa sakit menatap pemandangan di hadapanku.

Oh. Aku benar-benar ingin menangis saat itu.

Aku tak pernah tahu kalau ternyata dia sudah dimemiliki ‘seseorang’. Ya, aku tak tahu karena akun jejaringan sosialnya tak sedikit pun menunjukkan hal itu; tak ada keterangan in relationship, tak ada status tentang penuh lovey-dovey, tak ada sama sekali!

Sungguh. Seandainya sejak awal aku tahu hal itu, seandainya sejak awal aku tahu kalau aku tak mungkin punya harapan barang setitik pun padanya. Mungkin perasaanku tak akan sesakit itu, mungkin, aku masih bisa menyapanya dengan senyuman tanpa perlu menangis dalam hati. Ya, aku masih bisa bersikap seperti kawan lama yang telah bertahun-tahun tak berjumpa. Tapi jika begitu jadinya, apa aku masih bisa melakukan hal itu semua?

Tubuhku gemetar, sepanjang misa berlangsung aku hanya bisa menggigit bibir menahan perih di hati juga air mata di pelupuk. Dan ketika misa berakhir, aku tak mampu lagi bertahan dan langsung bergegas pergi. Meninggalkan tempat itu secepat mungkin dengan perasaan hancur.

Ah, kalian tak akan bisa membayangkan perasaanku hari itu. Sesampainya di rumah aku tak bisa membendung air mata dan menangis di kamar mandi. Hahaha, ya, moto ‘saat galau maka ber-shower-lah’ ternyata sudah aku pakai bahkan sebelum moto itu tenar.

Dan sekarang, aku hanya bisa mengenang hari itu sebagai titik balik perasaanku. Ya, sejak hari itu aku berhenti berharap. Kutata kembali perasaanku untuknya, tak mengindahkan letupan-letupan liar saat kutemukan tanda-tanda kehadirannya di jejaringan sosial, mencoba menahan naluri untuk menguntit akunnya, dan lain sebagainya. Jadi, dengan berbagai usaha itu, apa aku berhasil melupakan perasaanku padanya?

Hahaha. TIDAK.

I believe first love never die, and this is mine. Nyatanya, tak segampang itu  aku melupakan perasaan yang bertahun-tahun aku pendam untuknya. Bayangkan, aku terus menyimpan perasaanku pada cinta pertamaku selama lima tahun! Dan tak pernah sedikit pun aku berhenti memikirkan keberadaannya di muka bumi ini. Tapi aku tahu, waktu selalu punya cara untuk menyembuhkan setiap luka asalkan kita mau untuk benar-benar sembuh, begitu logikanya.

Sudah satu tahun berlalu sejak kejadian itu, dan aku pikir aku telah berhasil memudarkan perasaan candu yang menyakitkan itu. Sedikit demi sedikit perasaan yang bernama ‘cinta’ itu mulai melapuk. Meski aku tak mungkin bisa membuangnya, sesungguhnya aku hanya perlu menyerahkan diri pada waktu dan membiarkan semua mengalir apa adanya.

Benar. Aku percaya pada waktu.

Waktu pasti akan melapukan cinta, dan waktu pula yang akan menuntunku menemukan cinta yang terakhir.

Fin.

A/N:

Ini sebenarnya bukan fiksi, ini kenyataan. Biased on true story of my life. Jadi aku masukin ke dalam katagori ‘Corat-Coret Dicta’, hehehe. Semoga enggak terasa aneh ya.

Terus… err, mau bilang apa lagi ya? Aku enggak tahu harus bilang apa. Saat menulis ini aku benar-benar menguras seluruh perasaanku untuknya. Sebelumnya, aku pernah mengobjekan cinta pertamaku ini dalam beberapa karya fiksi (Kue Pasir dan Untuk W), tapi dalam tulisan-tulisan itu tak ada yang benar-benar kutulis sedalam ini *ngelap air mata*. Kupikir ini bagus juga, mengingat semua orang harus move on, dan aku tak bisa terus-terusan memikirkan dia. Aku percaya dia sekarang sudah punya pacar—mengingat bagaimana keren dan suksesnya dia sekarang—dan ia sangat menyayangi pacarnya itu. Lagipula, sekarang aku sudah menemukan cara untuk  benar-benar legowo dan n’rimo, jadi aku tinggal menyerahkan diri pada waktu untuk melapukan cintaku padanya dan memberiku cinta yang baru.

Well, thank you, Kak Teguh untuk tugasnya yang lumyan bikin saya kerepotan karena punya sejarah kelam seperti ini perihal cinta pertama. Hahaha. Tapi serius, tugasnya benar-benar bikin saya plong! Semoga ini tulisan terakhir yang aku berikan untuk dia.

SEMANGAT, DICT! #caripacarterakhir


[1] Pendupaan atau wiruk. Sebuah bejana tempat dibakarnya dupa untuk pendupaan liturgis.

[2] Salah satu doa dalam tradisi gereja Katolik. Biasanya menggunakan alat bantu doa berupa seperti kalung yang memiliki biji berjumlah 59, dan dinamakan Rosario.

[3] Dalam gereja Katolik ada pembagian wilayah yang di sebut Paroki. Di Banjarmasin ada tiga wilayah paroki di dekenat kota, yaitu: Paroki Katedral, Paroki Hati Yesus Yang Maha Kudus, dan Paroki Santa Maria.

Iklan

Penulis:

Pecinta Naruto dan Conan, menganggap menulis adalah sebuah obsesi dan membaca buku sama dengan bernapas. Suka menghabiskan waktu di sudut kedai sendirian; ditemani laptop dan makanan yang paling murah di kedai tersebut :)

35 tanggapan untuk “[Coretan Dicta] Cinta yang Melapuk

    1. Yah, pasti harus sabar dong ya. hahaha. Lagian kan saya juga sudah berusaha untuk Move On, Kak 😀 Yang berlalu biarlah berlalu #eaaak Terima kasih ya sudah mau baca, semoga tulisan saya bisa lebih baik lagi hehehe. *gandeng Danny*

  1. And I’m gonna miss you like a child misses their blanket
    But I’ve got to get a move on with my life
    It’s time to be a big girl now
    And big girls don’t cry

    kayaknya lagu ini cocok buat dicta, sabar ya 🙂

    1. Hahaha, nuansa yang berbeda apa nih maksudnya? Beda dengan saya yang biasanya? Kekekeke~ Mau bagaimana lag, apa yang saya tulis adalah apa yang saya rasakan pada objek di dalam tulisan saya dan menulis ini pun sama 😀

      Terima kasih ya Kak sudah mau mampir. Sering2 mampir ya!

  2. Kalau kata Novelle Vague, to tell you everything by saying nothing. Coba dengarkan lagunya de, judulnya: In a Manner of Speaking. 😀

    1. Tapi kadang tell something without saying itu macem useless… Haha, entar ujung2nya kayak saya ini. Udah kasih kode macem2 ya tetap aja orangnya enggak sadar dan akhirnya pacaran sama cewek lain 😄

      Terima kasih sudah membaca Kak Teguh. PRnya ZUPER!

      1. 😛 Ya, jangan ngasih kode sama seseorang yang gak bisa menerjemahkan kodenya, de. That will be useless, indeed. 😀

        Zuper juga yang mengerjakannya. 😀

    1. Waduh, tulisan saya menusuk-nusuk, semoga dalam konotasi yang baik ya 😀 Hehehe. Terima kasih karena sudah membaca tulisan saya dan menyukainya ya Kak. Semoga saya bisa bikin yang lebih baik lagi.

  3. saya juga pernah lho ngerasain kayak gini,,, hampir persis ceritanya,, dan skarang sudah bisa move on, lebih tepatnya memaksa move on karena dia sudah pacaran sama teman saya snediri… hahahahha

    1. Pacaran sama temen sendiri… itu…. lebih nyesek kayaknya ya. *peluk Kak Mita* Enggak papa Kak, mari kita fokus cari cinta terakhir kita. Hehehe. Semangat!

      Terima kasih ya Kak sudah mau baca tulisan saya. Semoga bisa lebih baik lagi.

      1. hahahha,,, bener dic,,, rasanya nyesek pake banget dic,,,,,
        tapi ya udah lah,,, saya gak mungkin misahin mereka,,, sudah di iklaskan saja,,,, cari yang lebih baik dari dia,,,, Semangaaatttttttt
        sama-sama,,, 😀

    1. Iya, luar biasa… tapi kebetulan kamar mandi saya sebenarnya enggak ada shower, alhasil saya kenceng-kenceng aja nyiram air ke muka buat nyembunyiin tangisan. Huahahaha.

      Terima kasih ya Kak sudah mau baca, silakan datang kembali!

  4. Udah lama (rasanya) gak mampir ke blognya Kak Dict dan malah ketemu tulisan ini :’)
    Hah… *tarik napas* ini sukses bikin aku nangis lho kak hehehe. Ceritanya dikemas dengan baik, dan aku suka di bagian akhir tentang ‘waktu’. Menurutku emang bener sih, waktu yang bakal menentukan tentang itu :”). Ngomong-ngomong, aku ketemu kata silir, itu maksudnya silih ya kak? Hehe atau emang ada kata itu?

    1. Halo, Zolaaa! Makasih ya sudah setia mampir 😀 Hihihi, mari mulai sekarang kita lebih menghargai dan mencintai waktu. Wah, iya, saya typo. Arti silir sama silih itu beda. Terima kasih ya sudha diingetin 😀 *peyuuuk*

  5. Saya nemuin kata “cacang” di cerita di atas, artinya apa ya? 😀
    Oh ya, saya sebenarnya rada’ bingung membaca cerita di atas, cowok yang ditemuin di gereja itu cowok yg sama waktu ketemu pertama kali di TK bukan?
    Karena di cerita itu kan dijelasin klo setelah SD mereka berpisah. Kemudian si “aku” mulai bisa melupakan anak bergigi ompong (cowok di gereja) itu.
    Sorry kalau mungkin saya yang ga ngerti dengan susunan kalimatnya 😀

    Btw, entah kenapa saya lebih suka kalau kata “cowok” itu diganti dengan “lelaki”, soalnya kan cerita ini ga pake kata2 gaul seperti “gue”, “elu”. Jadi kaya’nya kok lebih pas pake kata “lelaki” daripada “cowok”.
    Hehe, ini cuma kesan saya setelah membaca cerita ini 🙂
    Overall, karena ini merupakan bagian dari cerita pribadi, saya sih ga menuntut hal-hal yang saya kemukakan di atas untuk diubah/diperbaiki, jadi slow aja 😀
    Dicta ini memang berbakat menulis, keep nulis terus ya, tulisannya nyaman dibaca 🙂
    Btw, pernah posting tulisannya di kemudian.com ga?

    1. Saya jawabin satu-satu ya
      – Saya typo! Hehehe, yang bener itu ‘cancang’ bukan ‘cacang’. Cancang artinya berdiri tegak lurus/pancang. Jadi maksud saya dalam konteks kalimatnya, ingatan saya tentang cinper saya itu masi cancang atau tegak lurus atau pancang atau ada. Hahahaha.
      – karena saya pake alur maju mundur, mungkin kakak jadi bingung. Jadi gini kronologinya.
      saya ketemu dia di gereja-saya flash back-ketemu pertama kali pas TK-pisah pertama kali sama dia pas masuk SD karena dia pindah keluar kota- nah, saya sudah mulai lupa sama dia-pas kelas 5 SD dia ternyata pindah kembali ke kota saya dan saya sadar kalau saya suka sama dia-tapi pas SMP saya kepisah lagi sama dia, karena saya yang pindah keluar kota dan dia tetap di sana-setelah satu tahun, saya dengar kabar kalau cinper saya itu pindah lagi ke ke kota yang sebelumnya pernah ia tinggalin, jadi saya enggak bisa ketemu sama dia meskipun saya pulang kampung-pas SMA, saya pindah ke kota di mana cinper saya tinggal (bukan kampung halaman saya)-dan akhirnya saya kebetulan ketemu sama di gereja dengan cara seperti itu. DONE. Semoga bisa di pahami ya, emang agak ribet sih. Hahahaha.
      -kenapa saya pake cowok tetimbang lelaki? karena saya masi SMA! Hahahaha. kalau pake lelaki kesannya sok dewasa gimana gitu, dan saya enggak begitu suka. 😄 Kayak bukan diri saya. Hahaha. Mungkin kesan cerita ini dewasa karena enggak ada dialog yang saya pake, tapi sebenarnya saya mau nunjukkin sisi remaja saya pada cerita ini. Hehehe.
      -terkahir, kemudian.com? wah, saya baru tahu ada situs begituan. itu memangnya situs apa Kak?

      Terima kasih atas kunjungannya ya, silakan datang kembali 😀

      1. Oh gitu ya rupanya, sorry klo aku rupanya memang bingung dengan susunan alur dari cerita itu. Hehe

        Kalau menurut pendapat pribadiku sih kata “lelaki” masih nunjukin sisi remaja kok, tapi ini sih selera pribadi aja, tergantung personal masing-masing 🙂

        kemudian.com itu website tempat kita bisa sharing cerpen/cerbung/fanfic/flash fiction/puisi dll, bisa saling berkomentar dan beropini antar user/penulis, jadi bisa melihat penilaian dan kesan orang lain yang membaca tulisan kita 😀
        *bukan promosi.
        Soalnya aku juga member kemudian.com, cuma aku lebih aktif jadi pembacanya daripada penulis, haha

    2. Hihihi, iya selera orang beda-beda sih Kak. Wah, gitu ya… saya sudah melipir sebentar ke situs itu tadi dan mulai mengerti beberapa bagian. Situs itu macem komunitas menulis gitu ya? Beda sama blog, kalau kemudian.com lebih menjurus ke situs jejaringan sosial gitu. Keren banget. Tapi yah, saya lebih enak posting di blog sih. Lebih tertata semau saya dan udah kebiasaan. Hehehe.

  6. Astaga-_- aku baru ngeh setelah pangkas habis ini cerita eon, PR dari kak teguh dan aku lupa/galitanah/tidur/plak! Ini pasti karena Writerblock-ku ga sembuh dan menumpuknya tugas dari segala macam bela pihak T______T *curhat*

    Cinta pertama, ha~, kalau dipikir2 pantes aja aku ga bisa nulis,_, wong aku ga pernah ada cinta pertama dan apa ya, rasanya aneh aja nulis slice of life. Maafkanlah adikmu yang nista ini kak tegus/terjang/. Sebenernya aku ada kendala ngebuat PR itu eon, pertama karena aku ga inget sama sekali tentang tsunami ataupun banjir gitu2 di Indonesia(jangan salahin aku, ini emang karena otakku yang terlalu acuh sama keadaan) dan Cinta pertama, nyindir? AKU GAK ADA CINTA PERTAMA T______T HUEEEEEEEE.

    Lah ini kenapa jadi sesi curhat-,- seharusnya aku komen tentang cerita eon yak. Yah as always, mengunggah hati dan aku sempet terhura karena tulisan eon. Aku tahu perasaan eon waktu ngeliat cowok itu, karena emang aku suka meratiin orang dan ngerasa yang mereka rasa. Hahaha tabah ya eon, yah mungkin emang dia cuman peralihan aja dari tuhan supaya eon ga bosen nunggu jodoh yang sebenernya, yang udah disiapin sama tuhan #eaaa sok bijak orang dia sendiri ngejomblo/DUAGH!/

    Well, jomblo juga ga buruk2 amat. Malah asik <–dari segi orang idealis. Semangatlah eon, saranku, jangan denger lagu six degrees of separationnya The Script, ntar malah tambah hancur/Dzing!/ Tapi ngmng2 udah lama juga aku ga mampir kesini,____, mian juga ya eon baru sempet hadir dan malah ngomong panjang lebar tanpa artian yang jelas dan makna yang mengugah hati/plak!/ absurd banget dah nih komentar.

    Intinya SEMANGAT! dan terima kasih atas karya mengharukannya! 🙂

    Regards,

    Orizuruzen your hardcore fan 😄

    1. Wah,panjang banget sih komentarmu Zen. Aku sampai takjub dan speechless. Jadi bingung mau bales apa, makanya kalau balasannya pendek gini, tolong dimaafin ya! 😄

      Pertama, kalau enggak punya cinta pertama ya dikarang-karang zen. Tulis aja siapa cowok pertama yang bikin kamu merasa tertarik. Siapa cowok pertama yang cakep banget di mata kamu. Yah, kalau cinta pertama kamu idol pun namanya tetap cinta pertama kan? 😄

      Kedua, Aku percaya jodoh enggak kemana. Itu cowok mungkin emang bukan jodoh aku 😄

      Terakhir, jomblo enggak pernah buruk, sayaaang! Jomblo memang surga! (menghibur diri XD) Terima kasih sudah membaca ya, Zen, jangan bosan2 gitu datang terus kasih komentar panjang 😀 Senang banget baca komentar kamu.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s