[Epilogue] The Stories of 31 May: Our Stories Has Begun

Epilogue

Title                       : Our Stories Has Begun

Author                  : Benedikta Sekar

Cast                       :

–          Ok Taecyon (2PM/JYP Entertainment)

–          Sa Ri (Eka Maisari’s OC)

–          Jang Hyun Seung (Beast/Cube Entertainment)

–          Jang Hyun Ra (Tamara Putra’s OC)

Lenght                  : Chaptered [Part 1 | Part 2 — End]

Genre                   : Romance, Slice of Life

Rate                       : G

Disclaimer           :

Saya tidak mengambil keuntungan apa pun dalam pembuatan fanfiksi ini, dalam bentuk uang mau pun materi. Semua cast bukan milik saya. Namun plot dan latar cerita murni dari imajinasi saya.

 

His Flat.

Ok Taecyon tak pernah menyangka akan  menemukan dirinya sefrustasi ini hanya karena kemungkinan kehilangan seseorang. Ia telah terbiasa hidup mandiri, terpisah jauh dari orangtuanya yang bersekukuh tinggal di Boston, dan mengadu nasip di kampung halamannya. Orang-orang datang dan pergi silih berganti di hidupnya; ada yang kembali, ada pula yang benar-benar pergi. Tapi Taecyon tak pernah ambil pusing dengan kenyataan itu, ia tak peduli dengan sebuah perpisahan karena ia tahu hal itu pasti akan datang.

Namun, pikiran idealis Taecyon itu hancur tatkala takdir mempertemukannya dengan gadis itu. Hidupnya porak poranda, mengenal gadis itu membuat emosinya labil hingga ia lupa untuk menstabilkan diri. Ia mengutuk pertemuan mereka, karena pertemuan itu memaksanya untuk membenci perpisahan.

Oppa? Kenapa melamun?” suara sopran gadis itu menyentakan Taecyon dari lamunannya dan kembali menyeretnya duduk di hadapan gadis itu.

Taecyon hanya tersenyum tipis dan tak mengatakan apa pun, ia tak perlu menjawab karena gadis itu akan menemukan analisisnya sendiri.

“Jangan terlalu sering melamun, Oppa,” kata gadis itu lagi sembari memakan kue ulang tahunnya yang ia bawa sendiri; waktu sudah menunjukkan lewat tengah malam, dan gadis itu masih saja kukuh untuk merayakan 31 Mei yang telah lewat.

Dalam diam Taecyon menilik mata sembab gadis itu masih menunjukkan semburat yang biasa ditunjukkannya. Ini aneh, terakhir kali Taecyon menatap mata itu ia justru merasa ingin menghapusnya dari muka bumi ini. Tapi, beberapa jam yang lalu saat gadis ini meneleponnya dan mengungkapkan keinginan untuk berhenti mencoba menaklukannya. Seketika itu juga pikiran Taecyon menghitam dan bayangan kehilangan sosok itu membuatnya ketakutan setengah mati.

“Lihat! Oppa melamun lagi!” seruan gadis itu kembali menyeret Taecyon; ia memang tak habis pikir, kenapa perasaannya berubah sedemikan drastisnya terhadap gadis itu. Tapi apa mau dikata? Hati kadang tidak sekubu dengan otak, jadi, yang bisa ia lakukan sekarang hanyalah menghadapi kenyataan perasaannya.

“Kata ibuku, jika orang sering melamun dengan pikiran kosong, hantu-hantu akan mendatangi orang tersebut dan merasukinya! Dalam bahasa Indonesia disebut kesurupan. Nah! Makanya jangan sering-sering melamun, Oppa. Aku tidak tahu apa hantu-hantu di Korea sama dengan di Indonesia, tapi aku tak ingin kau kesurupan.

Lagi-lagi, Taecyon tertawa dalam hati, polah delusional gadis itu membuatnya muak sekaligus candu baginya.

“Aku tidak melamun dengan pikiran kosong, Sa Ri-ya,” jawab Taecyon sembari menyandarkan punggungnya di kursi dan melipat kedua tangannya di depan dada.

 Gadis Indonesia yang lebih senang ia panggil Sa Ri itu, menarik alisnya ke atas dan berhenti mengunyah kue ulang tahunnya. “Lalu? Apa yang Oppa pikirkan?”

“Aku sedang berpikir untuk membeli flat yang lebih besar dari ini.”

“Kenapa?”

“Karena tahun depan kau mungkin akan tinggal bersamaku.”

Taecyon menyuarakan kekehannya saat melihat wajah Sa Ri yang tercengang. Sekarang ia percaya, bahwa kehilangan ekspresi seperti ini akan membuatnya berhenti memiliki hidup.

***

Jang House

Jang Hyun Seung tahu kalau ia suami yang keterlaluan. Ia mungkin sukses menaklukan perusahaan tempatnya bekerja dengan didikasi dan keuletannya, tapi saat ia berhadapan dengan istrinya sendiri, ia benar-benar seperti anak umur 3 tahun yang belum bisa baca-tulis.

“Nyonya Jang, berhentilah mendiamiku…” Hyun Seung duduk di samping istrinya yang duduk melipat dada di atas ranjang mereka. Wajahnya masam, masih marah dengan prilaku suaminya sebelum ini. “Aku bukannya sengaja melupakan ulang tahunmu ‘kan? Aku hanya ingin ada kesan.”

Jang Hyun Ra, istrinya, masih bergeming; tak memiliki tanda-tanda untuk berbicara. “Hei, Nyonya Jang, bicaralah padaku. Apa aku harus berlutut agar kaumau memaafkanku?”

Hyun Seung lantas berluntut di hadapan Hyun Ra, lalu menarik jemari istrinya yang terlipat ke dalam genggaman tangannya. “Hyun Ra,” panggil Jung Hyung dengan nada lembut, ia benar-benar merasa bersalah dengan sikap egoisnya hari ini.

“Aku janji 31 Mei tahun depan kita akan merayakan ulang tahunmu seharian; berdua saja. Aku akan ambil cuti satu minggu dan kita akan berlibur ke mana pun kaumau. Aku benar-benar akan merayakan ulang tahunmu senormal mungkin, aku akan berhenti bertindak bodoh dan mencoba hal-hal baru yang akan membuatmu senang. Aku berjanji, tahun depan akan menjadi 31 Mei yang tak akan terlupakan bagimu.”

Hyun Seung menatap istrinya lekat-lekat, berharap hati wanita itu tergerak dan memaafkannya. Namun, Hyun Ra tetap berwajah masam dan membuang muka ke tembok sembari menyahut perkataan suaminya ketus.

“Bukan berdua, tapi bertiga,”

“Huh?”

Hyun Ra mengambil sesuatu dari laci meja samping tempat tidurnya dan langsung memberikannya pada Hyun Seung.

“Aku sudah ingin mengatakannya padamu sejak pagi tadi, tapi kau membuatku kesal seharian ini.” Hyun Seung berhenti bernapas, dadanya berdebar sangat cepat. “Memang belum pasti karena aku belum memeriksakannya ke dokter, tapi benda itu 99% akurat. Jadi, kau tahu apa artinya itu kan?”

Hyung Seung  tak bisa berkata-kata, air matanya langsung meleleh saat mendapati test pack di tangannya menunjukkan tanda positif. Sungguh, ia pria paling berbahagia di muka bumi ini.

Fin.

  Baca lebih lanjut

[Chaptered 2/2] The Stories of 31 May: Haengbok

hyunseung

Title                       : Haengbok

Author                  : Benedikta Sekar

Cast                       :

–          Jang Hyun Seung (Beast/Cube Entertainment)

–          Jang Hyun Ra (Tamara Putra’s OC)

–          Ok Taecyon (2PM/JYP Entertainment)

Lenght                  : Chaptered

Genre                   : Romance, Slice of Life, Friendship

Rate                       : G

Disclaimer           :

Saya tidak mengambil keuntungan apa pun dalam pembuatan fanfiksi ini, dalam bentuk uang mau pun materi. Semua cast bukan milik saya. Namun plot dan latar cerita murni dari imajinasi saya.

***

Jang Hyun Ra ingin sekali membalik meja makan mewah di hadapannya ini sekuat tenaga dan akhirnya merusak hari yang menurutnya sudah buruk sejak matahari terbit.

Dasar suami tak berperasaan!

Hyun Ra melirik sinis pada pria yang tengah duduk di sampingnya—tertawa sangat lebar kepada kolega-kolega kerjanya yang duduk di sekitar mereka. Suasana meja makan sangat ramai, petinggi-petinggi perusahaan sangat menyukai suaminya itu; entah karena ia muda dan cerdas atau karena sangat pandai membuat joke. Ah, Hyun Ra tak peduli, yang ia tahu hanyalah hari ini akan menjadi hari terburuk sepanjang tahun ini.

 “Ya, Jang Hyun Seung,” Hyun Ra memanggil nama lengkap suaminya dengan nada sinis sementara jemarinya meremas ujung gaun malamnya yang berwarna pastel di bawah meja karena jengkel. “Kau tahu kan hari ini tanggal berapa?”

“Tanggal 31 Mei ‘kan?” jawab Hyun Seung tanpa melihat ke arah Hyun Ra, perhatiannya tertuju pada CEO perusahaannya yang tengah menceritakan koleksi cerutu terbaiknya dari seluruh dunia.

“Benar sekali, lalu?” Hyun Ra tetap kukuh mengorek ingatan suaminya tentang hari ini.

“Lalu, apa?” bukannya menjawab, Hyun Seung justru malah balas bertanya, hati Hyun Ra semakin geram dibuatnya.

“Sudahlah, lupakan saja…” kata Hyun Ra akhirnya, menyerah dengan tindak tanduk suaminya yang menjengkelkan dan kembali berkutat dengan steak di hadapannya.

Hyun Ra akan menghajar suaminya itu setibanya di rumah.

  Baca lebih lanjut

[Chaptered-1/2] The Stories of 31 May: Kajima

Ok Taecyon

Title           : Kajima

Author     : Benedikta Sekar

Cast           :

–          Ok Taecyon (2PM/JYP Entertainment)

–          Eka Maisari

Lenght     : Chaptered [1/2]

Genre      : Romance, Slice of Life

Rate          : G

Disclaimer:

Saya tidak mengambil keuntungan apa pun dalam pembuatan fanfiksi ini, dalam bentuk uang mau pun materi. Semua cast bukan milik saya. Namun plot dan latar cerita murni dari imajinasi saya.

***

Eka Maisari sadar diri, dengan tinggi 155 cm ia tak mungkin mendobrak pintu kayu flat itu hingga rusak. Jadi, yang dapat ia lakukan hanyalah duduk  bersila di lantai sembari memeluk cake di tangannya dengan hati-hati.

Pukul 23.00 KST.

Tinggal satu jam lagi sebelum Mei digusur Juni, dan Eka benar-benar tak habis pikir untuk menghabiskan sisa hari ulang tahunnya ini di depan pintu flat milik seorang pria yang umurnya terpaut nyaris sepuluh tahun darinya.

“Aku mungkin sudah gila…” bisik Eka sembari tertawa getir, tubuhnya beringsut menempel pada pintu flat bernomor 102 itu lalu menangis dalam hati. “Kali ini yang terakhir, dan  setelah itu aku akan berhenti,” teguhnya.

Eka tidak tahu apa yang membuat sosok pria itu menjadi sangat superior di matanya; dia hanya seorang pegawai kantoran biasa yang tak laku-laku di umurnya yang sudah nyaris berkepala tiga. Pria kasar yang tak segan-segan memarahi orang-orang sekitarnya, tapi juga secara bersamaan adalah orang yang dengan sabar menolongnya saat ia tersesat di tengah-tengah keramaian kota Seoul.

Mengenal pria itu membuat Eka seperti duduk sendirian di sebuah roller coaster yang tengah melaju kencang. Sering kali pria itu menghempaskan tubuhnya ke bawah hingga dia ingin menangis meraung-raung, namun perhatian-perhatian kecil yang diberikan pria itu juga membuatnya berdebar hingga perlahan-lahan merangkak kepuncak yang tertinggi.

Benar, Ok Taecyon adalah pria yang mencuri cinta pertamanya.

Baca lebih lanjut

[Resensi Buku] Sesuatu yang Tertunda – Sky Nakayama

Sesuatu yang Tertunda novel sky nakayama

Judul                     : Sesuatu yang Tertunda

Penulis                 : Sky Nakayama

Penerbit              : Plot Point Publishing

Terbit                    : April, 2013

Tebal                     : 207 Halaman

Rate                       : 4/5 Bintang

Harga                    : Rp 39.000 ,-

“Sempurna itu milik Tuhan, Ya.  Kamu, aku, kita semua memiliki kekurangannya masing-masing. Karena itulah kita bertemu orang lain, untuk menemukan orang-orang yang bisa melengkapi kekurangan kita, sembari belajar untuk menerima serta memaklumi kekurangan yang mereka punya. That’s How life works.” – Alina to Aria, Sesuatu yang Tertunda, halaman 77

Yey! Kutuntaskan novel ini dalam dua hari karena ingin buru-buru membuat resensinya. Hehehe. Dan bukunya emang benar-benar tidak mengecewakan kok! 😀

Buku ini menceritakan hubungan antara Alina, Aria, dan Arian yang merupakan tetangga. Aria dan Arian adalah saudara yang memiliki kepribadian yang sangat bertolak belakang. Arian yang lebih tua memiliki pembawaan yang supel dan hangat sedangkan adiknya Aria berkebalikannya, ia begitu kaku dan lebih terkesan jutek. Namun, kakak beradik ini tetap memiliki jiwa persaudaraan yang sangat erat dan baik; termasuk soal wanita.

Maka, munculah Alina, gadis ceria yang baru saja pindah ke sebelah rumah mereka. Alina memberikan warna tersendiri pada hidup kedua pria bersaudara ini, terlebih bagi Aria yang baru saja menemukan dirinya hancur saat ditinggal kawin pacarnya. Sementara itu Alina yang kehilangan sosok seorang kakak pun dapat menemukan dirinya terlindungi saat bersama Arian dan Aria, lalu sosok sahabat lamanya yang bernama Dio pun muncul kembali secara mengejutkan dan melengkapi hari-hari Alina.

Sampai pada akhirnya, saat cinta telah merekah dan perasaan terpaku erat-erat. Rahasia di masa lalu merusak seluruh kebahagiaan. Mau tahu apa rahasianya? Baca aja bukunya! 😛 Hahaha.

Beberapa poin plus di buku ini adalah penerbit Plot Point sepertinya cukup menunjukkan profesionalitasnya sebagai penerbit dengan memberikan cover, ilustrasi dan penjilidan yang apik sehingga sedap dipandang, dibaca dan disimpan; berbeda dengan buku kumcer yang sebelumnya kuresensi (red. Siwon Six). Selain peran penerbit yang bagus, gaya bahasa dan tema cerita tentang rahasia di masa lalu menjadi poin tambah bagiku, great job deh!

Tapi sebagus-bagusnya cerita, pasti ada kurangnya juga kan ya?

Kurangnya dari buku ini salah satunya adalah banyak sekali kebetulan-kebetulan. Kebetulan banget Alina jadi tetangga Arian dan Aria, kebetulan banget Dio jadi barista baru di Blue Valvet (café tempat Alina bekerja), kebetulan banget Aria ketemu mantannya di festival, kebetulan banget Alina menemukan kalung abangnya di rumah Dio dan sebagainya-dan sebagainya. Menurut kacamata pembaca awam (yang kebetulan sedikit gila), kebetulan-kebetulan dalam sebuah cerita memang diperlukan namun jika kebetulan-kebetulan itu terjadi berkali-kali… emmmh, lumayan bikin jenuh gitu. Jadi, enggak ada kejutannya sama sekali.

Selain banyaknya kebetulan tersebut, anti-klimaks dan penutup dari novel ini terkesan cepat dan terburu-buru sehingga gak berasa. Di lembar-lembar terakhir aku nyaris baca skimming karena feel ending-nya kurang nendang (mungkin pengaruh waktu dan otak saya yang lagi error juga sih). Ada sesuatu yang kurang, klimaksnya enggak begitu nyampe dan anti-klimaksnya enggak berasa, intinya sih gitu. Sayang banget di esekusinya ini, seandainya bisa lebih lagi, aku gak segan-segan kasih bintang sempurna. Hehehe *dijitak kak Omi*.

Nah, segitu deh resensinya, jadi saya kasih 4 bintang untuk buku ini. Minus satu bintang karena ‘kebetulan-kebetulan’ dan esekusinya yang kurang. Selebihnya, buku ini benar-benar cocok untuk menemani kalian di waktu-waktu senggang dan mampu memaksa kalian rela begadang untuk menyelesaikan buku ini, seperti aku. 😀

[Resensi Buku] Siwon Six

Siwon Six buku kumpulan cerpen

Judul : Siwon Six

Penulis: Annis DR, Cholida Rizkina, Gina Gabrielle, Kanya Stira, Riesty Aqmarina, Cira Cla

Penerbit: Plot Point Publishing

Tahun Terbit: Maret, 2013

Tebal: 119 halaman

Rate: 3,5 /5 bintang

“Ini kisah mereka. Nasib seorang bayang-bayang bintang besar, jiwa yang terjebak dalam tubuh yang salah, beban identitas yang tak diinginkan, obsesi akan kekayaan, kesalahpahaman fatal, dan rasa kehilangan yang menuntun seseorang melintas batas negara berbekal bongkah-bongkah roti Gyeongju.”

Akhirnya! Punya waktu juga untuk menuntaskan kumcer ini. Hahaha, maafkan buku-bukuku tercinta, baru sempat memanjakan kalian sekarang (#plak Please deh,Dict! Gak usah banyak mulut! langsung aja ke resensinya!).

Well, secara garis besar, Siwon Six adalah kumpulan cerpen yang terdiri dari 6 cerpen yang ditulis oleh 6 penulis berbeda yang masing-masing dari mereka menceritakan 6 sosok lain dari Choi Siwon (salah satu personel boyband Super Junior). Dengan kata lain, kumcer ini mengambil tema mitos ‘Di dunia ini ada 7 orang yang setidaknya memiliki wajah yang sama’ dan keenam penulis ini ingin menceritakan keenam ‘siwon’ lain yang ada di dunia.

Aku enggak bakalan menceritakan isi masing-masing dari cerpen yang ada karena aku yakin bakalan enggak seru. Tapi yang jelas, masing-masing cari cerita benar-benar menunjukkan hidup yang sangat bertolak belakang dengan keadaan Siwon yang sesungguhnya.

Poin-poin keren dari buku ini adalah tema yang penulis hadirkan di sini sungguh jarang, bahkan aku pribadi baru pertama kali membaca cerpen yang menghadirkan kehidupan seseorang yang mirip dengan artis terkenal. Kehidupan yang benar-benar bertolak belakang. Dan cara mereka mengemasnya pun benar-benar epic dan fantastic!

Spoiler dikit deh, kalian bakal bertemu seorang pria yang bekerja menjadi doppelganger dan merasakan sebagian diri dari sosok Siwon sebenarnya; kemudian seorang wanita  yang  cintanya tertepuk sebelah tangan dan terjebak di sosok yang tak diinginkannya; seorang pria yang bingung dengan jati dirinya dan selalu merasa berada di dalam kotak yang salah; seorang supir yang memiliki mimpi setinggi awang-awang; empat orang sahabat yang disandra oleh penjahat ganteng; dan yang terakhir adalah pemilik toko roti yang hidup dalam pencarian si buah hati.

Ah, masing-masing cerita benar-benar menunjukkan sosok yang sangat berbeda dari Siwon yang sebenarnya!

Namun di samping ceritanya yang epic, ada beberapa hal yang menurutku kurang dalam buku ini. Yaitu, nyaris seluruh cerita yang ditawarkan di buku ini terkesan gloomy dan sedih. Ada dua cerita yang berakhir tragis (dan berdarah-darah), dan sisanya ada yang sedih, kemudian patah hati, lalu realitas yang menyakitkan; satu cerita ada yang berakhir dengan ceria, dan cukup membuatku menarik bibir ke atas setelah bergidik dan terharu dengan cerita-cerita sebelumnya. Namun, komposisi cerita seperti itu membuat perasaanku sebagai pembaca tak cukup merasa terombang-ambing jadi ya… ermmmh, flat aja. Hehehe.

Selain komposisi ceritanya, aku juga merasa kecewa dengan penjilidan buku yang kurang baik dari penerbit. Menurutku, tidak ada masalah dengan bentuk cover-nya meski sedikit kurang mengundang, yang menjadi masalahnya adalah kebiasaanku untuk menilik dan membandingkan jilidan setiap buku yang ingin aku beli dengan buku-buku yang sama. Sebelum membeli buku, aku selalu memastikan buku yang aku beli tak bercacat, tidak ada sobekan, tidak ada goresan, tidak ada ujung yang terlipat barang seinci pun dan sebaganya-dan sebagainya karena aku sangat menghargai buku-bukuku.

Dan saat aku melakukan itu pada tumpukan buku Siwon Six, aku memerlukan waktu yang lebih lama untuk memilih karena banyak sekali jilidan yang miring dan tidak rapi! Okay, anggap saja aku lebay, tapi sebagai pembeli kadang kita menginginkan sesuatu yang sesempurna mungkin kan? Pasti enggak ada yang mau membeli buku yang berpenampilan ‘kurang’ karena kita bakal ngerasa rugi. Kadang pembaca pun melihat cover dulu baru mau baca sinopsisnya. Hehehe.

Lalu, selain jilidan cover-nya, ternyata ada beberapa halamanan buku ini yang tertempel satu sama lain, hingga akhirnya aku harus merelakan ujung beberapa halaman itu tersobek tidak rapi (aku lupa ada benda bernama gunting di dunnia ini) karena aku sangat ingin menyelesaikan buku itu. Hiks, tidaaaaak! *nangis guling-guling*

Jadi akhir kata, 3,5 bintang untuk buku ini. Minus 1 bintang karena penjilidan bukunya yang kurang rapi (well, aku cukup keras untuk point penerbit ini) dan 0,5 untuk komposisi ceritanya. Buku ini benar-benar sangat cocok untuk kalian yang sudah bosen dengan fantiction-fanfiction korea dan kalian yang ingin membaca tulisan-tulisan yang berbeda dari biasanya. Ayo! Beli segera!

[Coretan Dicta] First Impression: Salam Kenal, Puisi!

Sepanjang kugemari hobi menulisku, aku tak pernah sekalipun mencoba untuk bersungguh-sungguh menulis puisi atau berbagai hal yang menyangkut dengan keindahan estetika, diksi yang bertabrakan dan arti yang implisif. Bukan karena tidak suka, karena hal itu not my cup of coffee, karena hal itu bukan gue banget!

Sampai suatu ketika, sekitar tiga minggu yang lalu, seorang teman menawariku mengikuti lomba FLS2N (Festival Lomba Seni SMA Nasional) cabang cipta puisi—menggantikannya. Meski senang ditawari seperti itu, secepat kilat aku menolak, memintanya mencari yang lain karena aku pribadi menyadari bahwa aku tak punya cukup kemampuan untuk menulis puisi. Tapi pada akhirnya, aku pun menerimanya dengan berbagai pertimbangan.

Tepat pada malam harinya, aku pun langsung me-mention dan bertanya kepada semua teman-teman blogger yang aku tahu sering menulis puisi untuk meminta mereka memberiku berbagai tips menulis puisi. Adanya berbagai macam saran yang membantu membuatku bersemangat dan mulai memupuk rasa percaya diriku.

Aku pun mulai membaca puisi-puisi di perpustakaan, aku cari-cari di internet aspek-aspek apa saja yang perlu kita tuangkan ke dalam puisi. Dan sebagainya dan sebagainya. Dan untuk mempersingkat saja, lomba tingkat kota Banjarmasin dimulai dan aku pun mengerahkan semua yang kubisa. Kutulis puisi panjang dengan format narasi, dan akhirnya aku berhasil merebut posisi sebagai perwakilan kota Banjarmasin untuk mengikuti lomba tingkat provinsi. Benar-benar sesuatu yang sangat membanggakan bagiku. Tapi meskipun begitu, juri mengatakan bahwa penulis puisi yang terpilih bukanlah penulis terbaik, melainkan karena puisi yang ia buat memiliki poin yang lebih tinggi ketimang komepetitor yang lainnya. Agak kecewa dengan kenyataan itu, tapi apa mau dikata, aku benar-benar masih seorang pemula.

Maka, tak lama kemudian, rangkaian lomba tingkat provinsi dimulai; tepatnya pada hari Senin, 20 Mei 2013. Lomba tingkat provinsi diadakan di Banjarmasin, jadi sebenarnya aku tak perlu menginap seperti teman-teman yang berasal dari kabupaten lain. Tapi berhubung hotel tempat nginapnya enak plus makanan gratis, dan  aku ingin mencari teman-teman baru, maka aku pun ikut menginap.

Teman-teman baruku dari berbagai daerah di Kalimantan Selatan sangat menyenangkan. Tak ada yang jaga image, enggak ada atmospire persaingan. Saking dekatnya kami, kami sampai bikin video harlem shake untuk kenang-kenangan. Cuman aku enggak ikut, karena aku lebih memilih untuk memegang kameranya ketimbang bergoyang aneh seperti itu. Hahahah XD.

Ini dia teman-teman kompetitiorku, enggak cuman cipta puisi, baca puisi pun juga ada. Hehehe. Eh, mahkluk putih apa itu? XD
Ini dia teman-teman kompetitiorku, enggak cuman cipta puisi, baca puisi pun juga ada. Hehehe. Eh, mahkluk putih apa itu? XD

Pada tanggal 21 Mei 2013, hari Selasa, lomba pun di mulai. Sebelum lomba aku diberi beberapa petuah dari seorang alumni lomba FLS2N tahun lalu dari SMA 2; namanya Irwan, tapi aku manggilnya Encek. Hahaha. Petuahnya sangat baik, dan aku senang sekali bisa belajar dari dia. Aku mulai menganggap puisi bukan hal tabu untukku. Dan saat lomba, aku pun mengerahkan semua yang kubisa.

Belajar dari pengalaman lomba di kota, aku tidak menulis puisi narasi panjang. Jadi aku membuat puisi pendek sepanjang satu halaman dengan judul ‘Pasar Kata-Kata’, dan aku benar-benar puas dengan hasil kerjaku itu. Aku benar-benar percaya diri, karena aku menganggap, kalau puisi itu adalah puisi terbaik yang pernah aku buat sepanjang hidupku. Dan saat mengumpulkannya aku pun nyaris percaya, kalau aku pasti akan memenangkan kompetisi ini. Hahaha.

Tapi rasa percaya diri yang terlalu besar memang pedang bermata dua. Kadang kita memang perlu mengontrol rasa percaya diri itu agar tidak terlalu banyak, karena jika terlalu banyak, maka akan menyakitkan jika realitas menimpa tubuh kita.

Yeah, I failed…            

Pengumuman lomba cipta puisi tadi pagi, dan hanya aku yang tak bisa menyumbangkan piala apa pun kepada kota Banjarmasin. Rasanya sangat sakit. Emang siapa sih orang di dunia ini yang enggak benci menjadi orang gagal? Enggak marah ketika dirinya hanya sebagai penonton orang-orang pemegang piala dan terpaksa tersenyum mengucapkan selamat. Tapi… They deserve that. Aku ini masih terbilang pemula dalam menulis puisi, baru belajar 3 minggu. Sedangkan para juara telah melalang buana di dunia sastra puisi bertahun-tahun. Hahaha. Seharusnya aku tidak besar kepala dan sadar; karena akan sangat konyol jika akulah yang berdiri di sana, sementara mereka semua lebih berpengalaman daripada aku.

Akhir kata, inilah kesan pertamaku terhadap puisi. Tidak begitu menyenangkan karena berakhir menyakitkan seperti ini (menyakitkan karena aku terlalu percaya diri, seharusnya aku bisa lebih woles aja, jadi saat kalah aku tak perlu merasa sakit hati) tapi aku tak akan menyerah dengan puisi. Mungkin, sekarang bukan kesempatanku untuk berkarya, Tuhan pasti sudah menyiapkan sesuatu yang besarku untukku di akhir cerita.

#pukpukDicta

_____________

A/N:

Kalian bisa baca puisiku yang berjudul Pasar Kata-Kata di blog ini dan nilai sendiri apa puisi itu masih bisa disebut puisi yang baik atau tidak. Hehehe, Terima kasih.

[Puisi] Pasar Kata-Kata

pasar tempo dulu

Aku telisik (risik)

Persegamaan kata tumpang tindih

Di pemburit mayapada

 

Ada raungan ayat-ayat dan mazmur suka cita

Saling tempur di lapangan penuh mata

Mengumbar kesunyian selangkang

Mengkidungkan larik-larik anti birahi

 

Ada pula leguhan janji-janji materi

Saling gempur di medan kuasa selebar kelor

Mengobral kemerdekaan masa-masa lampau

Melantunkan nada-nada kemakmuran ‘suatu hari nanti’

 

Lalu kelakar tawa kaum perwira pun turut berdesakan

Memparodikan lelakon pandawa

Yang memerangi culas kurawa

Yang seyogyanya tergilas

 

Namun, Kawan

Tiap kata

Selalu bertopeng ganda

 

Masih jelas kucerna

Suara hawa memperkosa martabat

Demi segenggam beras

Yang ingin ia tabur

Di perut-perut bocah jembatan layang

Yang tangisnya lebur

Menutupi sajak-sajak penderitaan!

 

Ya.

Paradigma

Menjadi tempo stagnan

Di tiap desau napas

Pasar kata-kata

 

 

[puisi tanpa gelar ini dibuat untuk lomba FLS2N tingkat Provinsi Kalimantan Selatan]

The Last For Us

empty bed

Di mana Marlboro keparat itu?

Bagas meraba-raba meja di samping tempat tidurnya dengan mata separuh terpejam; berharap menemukan sakelar lampu baca kamar 201 itu dan membantu menemukan putung-putung nikotin kegemarannya.

“Shit…” Bagas mulai frustasi, meski lampu telah menyala, hal itu sama sekali tidak membantu pencariannya. Lidah pria itu mulai kelu, rasa masam yang selalu muncul saat mulutnya tak bercumbu dengan objek candunya itu mulai menyiksa, dan Bagas benci itu.

“Rokokmu terjatuh di lantai…” sebuah suara memecah keheningan yang semula menemani Bagas sendirian, dan setelah mendengar petunjuk itu, Bagas pun langsung melongokan kepalanya ke lantai.

“Thank’s, Amy.” Setelah mendapatkan apa yang ia cari, Bagas pun langsung menarik tubuhnya untuk duduk bersandar di atas kasur dan menyulut Marlboro-nya.

“Your body is still sexy, huh?” seorang wanita yang hanya berbalutkan udara beringsut mendekati Bagas dan menyandarkan kepalanya di dada pria itu. Pipi tirusnya mengusap lembut kulit cokelat Bagas; berusaha menemukan kenyamanan di sana. “Kupikir iklim Indonesia sudah merusak tubuhmu.”

Bagas diam saja, tak begitu suka dengan joke menyebalkan Amy tentang negeri kelahirannya.  Meskipun begitu, ia tak pernah marah dengan ucapan gadis Kaukasoid itu karena ia sendiri tak punya hak untuk marah. Nyaris sepanjang 24 tahun hidupnya di dunia ini ia habiskan di Negeri Paman Sam. Bagas pindah dan menjadi warga negara Amerika saat umurnya baru satu tahun—ayahnya menikah lagi dengan seorang bule setelah ibunya meninggal ketika melahirkannya—dan tak memiliki ‘rasa’ apa pun dengan negeri bernama Indonesia.

Semua hal tentang Indonesia benar-benar asing baginya. Ia hanya tahu nama tempat itu karena ia selalu menulis ‘Solo, Indonesia’ ketika seseorang meminta tempat dan tanggal lahirnya. Ia pun tak punya hasrat untuk mengetik nama tempat itu di Google dan mencoba untuk mencari informasi lebih mendalam tentang Indonesia, hingga segala kultur, prilaku, bahkan pola pikir Bagas pun bukan menunjukkan seseorang yang berdarah asli Indonesia.

 Yah, pada dasarnya Bagas tak bisa menyalahkan ayahnya yang tak pernah mengajarinya tentang budaya negeri kelahirannya atau pun mengajaknya berkunjung ke Indonesia hingga ia menjadi seperti itu. Tapi sampai detik ini, Bagas masih tak bisa terima dengan keputusan ayahnya yang tiba-tiba saja mengirimnya ke Indonesia tiga bulan lalu dan memutuskan jalan hidupnya seenak jidat.

“Hei, apa yang kaupikirkan?” Suara lembut Amy menyusup ke telinga Bagas hingga pria itu kembali menemukan dirinya berada di atas ranjang salah satu hotel milik kota Boston. “Kau terlihat murung. Apa karena…”

 Bagas membungkam sisa kalimat Amy dengan bibirnya, perlahan ditariknya tubuh wanita berambut blonde itu merapat hingga tak ada ruang yang memisahkan kulit mereka. Marlboro yang baru ia nikmati beberapa hisapan langsung terjejal bersama putung-putung sejenis di dalam asbak; sepertinya Bagas menemukan hal lain yang dapat menyibukan bibirnya ketimbang memenuhi paru-paru dengan racun.

“Bagas…” Amy mendorong bahu Bagas menjauh, menciptakan jarak tipis di bibir mereka yang cukup untuk sekedar berbisik. “Kita tak bisa berbuat apa-apa.”

Bagas tersenyum getir, direngkuhnya tubuh lampai Amy dalam pelukan dan merasakan setiap inci kulit wanita itu di tubuhnya. “Kita bisa kabur,” bisik Bagas sembari mengecup tengkuk Amy.

“Dan menghancurkan hidupmu?” Amy tertawa hambar, lalu mengigit bahu Bagas gemas. “Aku mungkin wanita jalang, tapi tak cukup jalang untuk merusak hidup orang lain.”

“You have my ring.”

“But not your future,” sanggah Amy buru-buru. Air mata menggenang di pelupuknya, namun wanita itu telah terbiasa menahan cairan itu agar tidak meleleh. Jemarinya bergetar, memeluk tubuh maskulin Bagas sekuat tenaga; berharap menemukan hidupnya kembali sempurna sama seperti malam-malam yang sering mereka lalui bersama. Tapi malam ini, rasa hambar ternyata menggorogoti hatinya.

“Amy, kau tahu kalau aku…”

Tonight will be the last for us,” bisik Amy buru-buru, lalu mencium telinga Bagas. Bibir merah marunnya lantas turun menyusuri cambang tipis pria itu dan berakhir saat lidahnya merasakan aroma tembakau di bibir Bagas. Beberapa lumatan dalam ia berikan di bibir penuh nikotin itu, hingga akhirnya ia berhenti dan menatap Bagas lekat-lekat.

“Jangan bicarakan hal-hal tidak penting malam ini.” Amy menyapu bibirnya di hidung Bagas, lalu merekatkan tubuh mereka kembali. “Aku tak ingin setiap detik yang berlalu terbuang percuma.”

Bagas terdiam, menatap warna baby blue mata Amy lekat-lekat untuk sekedar menemukan bayangan wajahnya di sana. Bagas yakin betul ia akan sangat merindukan pemandangan ini; segala prilaku Amy dan bagaimana cara wanita itu melengkapi hari-harinya. Dan ketika Bagas memikirkan kemungkinan esok pagi ia tak akan menemukan semua yang ia miliki sekarang, dalam sekejap pria itu menyadari bahwa waktu yang ia gunakan untuk bernapas pun adalah sia-sia.

Prepare yourself.

Bruk!

Bagas menghempaskan tubuh Amy ke atas ranjang dan tersenyum sekilas sebelum akhirnya ia menyerahkan diri pada hasrat hatinya.

I’ll drive you crazy all night.

  Baca lebih lanjut

[Coretan Dicta] How’s Your Hiatus, Dict?

Awesome!

Ketika aku memutuskan untuk mengambil ‘cuti’ atau hiatus dari dunia per-blog-an, aku benar-benar melakukannya. Aku berhenti menyentuh keyboard netbook-ku; aku mengabaikan PR Poetica yang menumpuk (maaf Kak Teguh!), aku tidak mengerjakan request-an temanku (maaf Zen!), aku tidak memikirkan plot cerita di kepalaku, aku tidak melakukan apa pun yang berbau menulis. Ya, aku berhenti menulis!

Kenapa aku melakukan hal itu? Simple sih jawabannya: aku kepengen nge-refresh otak! Selain kesibukan sekolah yang menuntut kefokusanku, aku pun mulai jenuh dengan perihal tulis menulis. Aku capek dengan plot cerita baru yang meletup-letup di kepalaku, aku capek dengan rasa tertekan karena tulisan-tulisan yang belum selesai, aku capek dengan segala tetek bengek EYD yang harus diperhatikan, aku capek menulis karena lama kelamaan hobi itu mulai mengambil alih seluruh duniaku. Aku cuapeks.

Well, bukannya aku enggak suka nulis lagi sih—aku masih suka nulis kok, suka banget malah—buktinya aku masih setia ngecek blog, nge-share link-link tulisan lama di Twitter, dan lain sebagainya; meskipun hiatus. Lantas, kenapa kamu capek nulis, Dict?

Jadi gini, aku yang masih remaja ababil ini, ternyata belum bisa mengatur waktu 24 jam yang dikasih Tuhan dengan efisien. Selama aku mengembangkan blog ini, di otakku nyaris 80% hanya memikirkan bagaimana caranya agar tulisanku cepat-cepat selesai lalu di-posting dan visitor-ku semakin menanjak. Ah… aku selalu memikirkan dunia ini; aku benar-benar cinta dunia literasi.

Tapi karena kecintaanku itulah, ternyata aku semakin lama semakin melupakan dimensi kehidupanku yang lainnya. Aku jadi enggak terlalu giat belajar, begadang malam-malam  hanya untuk menyelesaikan tulisan, jarang bantu-bantu di dapur, dan lain sebagainya. Somehow, aku justru berpikir kalau diriku ini useless. Untuk apa aku punya blog yang bagus, tapi di kehidupan nyata aku ternyata tak bisa melakukan apa-apa? Maka, aku memutuskan untuk berhenti menulis untuk sementara waktu.

Nah, selama hiatus, aku ngapain aja sih? Baca lebih lanjut