The Last For Us

empty bed

Di mana Marlboro keparat itu?

Bagas meraba-raba meja di samping tempat tidurnya dengan mata separuh terpejam; berharap menemukan sakelar lampu baca kamar 201 itu dan membantu menemukan putung-putung nikotin kegemarannya.

“Shit…” Bagas mulai frustasi, meski lampu telah menyala, hal itu sama sekali tidak membantu pencariannya. Lidah pria itu mulai kelu, rasa masam yang selalu muncul saat mulutnya tak bercumbu dengan objek candunya itu mulai menyiksa, dan Bagas benci itu.

“Rokokmu terjatuh di lantai…” sebuah suara memecah keheningan yang semula menemani Bagas sendirian, dan setelah mendengar petunjuk itu, Bagas pun langsung melongokan kepalanya ke lantai.

“Thank’s, Amy.” Setelah mendapatkan apa yang ia cari, Bagas pun langsung menarik tubuhnya untuk duduk bersandar di atas kasur dan menyulut Marlboro-nya.

“Your body is still sexy, huh?” seorang wanita yang hanya berbalutkan udara beringsut mendekati Bagas dan menyandarkan kepalanya di dada pria itu. Pipi tirusnya mengusap lembut kulit cokelat Bagas; berusaha menemukan kenyamanan di sana. “Kupikir iklim Indonesia sudah merusak tubuhmu.”

Bagas diam saja, tak begitu suka dengan joke menyebalkan Amy tentang negeri kelahirannya.  Meskipun begitu, ia tak pernah marah dengan ucapan gadis Kaukasoid itu karena ia sendiri tak punya hak untuk marah. Nyaris sepanjang 24 tahun hidupnya di dunia ini ia habiskan di Negeri Paman Sam. Bagas pindah dan menjadi warga negara Amerika saat umurnya baru satu tahun—ayahnya menikah lagi dengan seorang bule setelah ibunya meninggal ketika melahirkannya—dan tak memiliki ‘rasa’ apa pun dengan negeri bernama Indonesia.

Semua hal tentang Indonesia benar-benar asing baginya. Ia hanya tahu nama tempat itu karena ia selalu menulis ‘Solo, Indonesia’ ketika seseorang meminta tempat dan tanggal lahirnya. Ia pun tak punya hasrat untuk mengetik nama tempat itu di Google dan mencoba untuk mencari informasi lebih mendalam tentang Indonesia, hingga segala kultur, prilaku, bahkan pola pikir Bagas pun bukan menunjukkan seseorang yang berdarah asli Indonesia.

 Yah, pada dasarnya Bagas tak bisa menyalahkan ayahnya yang tak pernah mengajarinya tentang budaya negeri kelahirannya atau pun mengajaknya berkunjung ke Indonesia hingga ia menjadi seperti itu. Tapi sampai detik ini, Bagas masih tak bisa terima dengan keputusan ayahnya yang tiba-tiba saja mengirimnya ke Indonesia tiga bulan lalu dan memutuskan jalan hidupnya seenak jidat.

“Hei, apa yang kaupikirkan?” Suara lembut Amy menyusup ke telinga Bagas hingga pria itu kembali menemukan dirinya berada di atas ranjang salah satu hotel milik kota Boston. “Kau terlihat murung. Apa karena…”

 Bagas membungkam sisa kalimat Amy dengan bibirnya, perlahan ditariknya tubuh wanita berambut blonde itu merapat hingga tak ada ruang yang memisahkan kulit mereka. Marlboro yang baru ia nikmati beberapa hisapan langsung terjejal bersama putung-putung sejenis di dalam asbak; sepertinya Bagas menemukan hal lain yang dapat menyibukan bibirnya ketimbang memenuhi paru-paru dengan racun.

“Bagas…” Amy mendorong bahu Bagas menjauh, menciptakan jarak tipis di bibir mereka yang cukup untuk sekedar berbisik. “Kita tak bisa berbuat apa-apa.”

Bagas tersenyum getir, direngkuhnya tubuh lampai Amy dalam pelukan dan merasakan setiap inci kulit wanita itu di tubuhnya. “Kita bisa kabur,” bisik Bagas sembari mengecup tengkuk Amy.

“Dan menghancurkan hidupmu?” Amy tertawa hambar, lalu mengigit bahu Bagas gemas. “Aku mungkin wanita jalang, tapi tak cukup jalang untuk merusak hidup orang lain.”

“You have my ring.”

“But not your future,” sanggah Amy buru-buru. Air mata menggenang di pelupuknya, namun wanita itu telah terbiasa menahan cairan itu agar tidak meleleh. Jemarinya bergetar, memeluk tubuh maskulin Bagas sekuat tenaga; berharap menemukan hidupnya kembali sempurna sama seperti malam-malam yang sering mereka lalui bersama. Tapi malam ini, rasa hambar ternyata menggorogoti hatinya.

“Amy, kau tahu kalau aku…”

Tonight will be the last for us,” bisik Amy buru-buru, lalu mencium telinga Bagas. Bibir merah marunnya lantas turun menyusuri cambang tipis pria itu dan berakhir saat lidahnya merasakan aroma tembakau di bibir Bagas. Beberapa lumatan dalam ia berikan di bibir penuh nikotin itu, hingga akhirnya ia berhenti dan menatap Bagas lekat-lekat.

“Jangan bicarakan hal-hal tidak penting malam ini.” Amy menyapu bibirnya di hidung Bagas, lalu merekatkan tubuh mereka kembali. “Aku tak ingin setiap detik yang berlalu terbuang percuma.”

Bagas terdiam, menatap warna baby blue mata Amy lekat-lekat untuk sekedar menemukan bayangan wajahnya di sana. Bagas yakin betul ia akan sangat merindukan pemandangan ini; segala prilaku Amy dan bagaimana cara wanita itu melengkapi hari-harinya. Dan ketika Bagas memikirkan kemungkinan esok pagi ia tak akan menemukan semua yang ia miliki sekarang, dalam sekejap pria itu menyadari bahwa waktu yang ia gunakan untuk bernapas pun adalah sia-sia.

Prepare yourself.

Bruk!

Bagas menghempaskan tubuh Amy ke atas ranjang dan tersenyum sekilas sebelum akhirnya ia menyerahkan diri pada hasrat hatinya.

I’ll drive you crazy all night.

 

***

Yeah, Dad… Urusanku sudah selesai, aku akan kembali ke Indonesia secepatnya. Bagaimana pekerjaanmu?” Bagas memasukan irisan kuning telur ke mulutnya sembari mendengar ayahnya berbicara di ujung saluran telepon.

“Syukurlah, kalau begitu,” kata Bagas saat kabar baik yang ia terima. Untuk beberapa saat ayahnya menyambung kisah tentang pekerjaan, sebelum akhirnya bertanya tentang sesorang.

“Amy?”

Bagas terdiam sesaat; suaranya tercekat. Bagas pun merogoh saku jas hitamnya dan mengeluarkan sebuah cincin platina dari sana. Untuk beberapa detik ada senyum miris di wajahnya; hatinya teriris tipis-tipis. Bagas ingin sekali berteriak dan memaki ayahnya sekarang, tapi pria itu tak pernah dididik untuk melawan orangtua. Hingga semarah apa pun Bagas pada ayahnya, ia hanya akan menekan perasaannya; ia sudah terbiasa.

Yeah, as you wish, we broke up.” Lidah Bagas tiba-tiba terasa asam, ia ingin merokok segera. “Tidak, tidak. Kami putus baik-baik, Dad. Amy mengerti kondisi kita.

Eh-ehm, Okay… Oh, Dad, don’t apologize.” Bagas berdiri, berjalan menuju balkon kamar hotelnya yang menghadap ke laut sembari menimang-nimang cincin di tangannya. “This’s not your fault. Kau pun terpaksa menyetujui perjanjian yang ditawarkan eyang kakung ‘kan? Yeah, I’m fine, Dad, terima kasih karena sudah menjagaku selama ini. Kau mengambil keputusan yang tepat ketika memilih untuk menikah lagi dan pindah kemari; meski keluargamu menentang dan kau harus berhutang dengan eyang kakung.”

Bagas diam sebentar, dipandanginya cincin yang ditinggalkan Amy pagi ini di atas meja untuk terakhir kali, sebelum akhirnya ia melempar benda itu ke laut dan membiarkan hatinya ikut larut.

Yeah, aku akan menerima perjodohan itu.”

Fin.

___________

A/N:

La-la-la-la~ Salahkan Adam Levine yang mencemari otakku dengan suara dan tubuhnya yang seksi. Salahkan Maroon 5 karena membuatku tergila-gila dengan lagu mereka hingga terpengaruh dengan lirik-lirik lagu mereka yang ‘terlalu jujur’. Salahkan saja merekaaaa! *kabur* *dilemparin granat* Aku nulis ini sambil dengerin lagu Maroon 5 yang judulnya Daylight, kalau kalian ingin meresapi cerita ini lebih dalam, coba saja bacanya sambil denger lagu itu. Pasti rasanya maknyus.

Well, setelah baca ini kalian pasti kaget. Kok bisa Dicta yang unyu-unyu ini, yang selalu nulis cerita remaja yang kiyut-kiyut, bisa nulis cerita ‘dewasa’ yang notabenenya bukan Dicta bangeeeet. Hehehe. Jawabannya sederhana.

“Aku menantang diriku sendiri untuk menulis ini.”

Sejujurnya aku bahkan ingin menuliskan adegan yang ‘lebih’ dari ini. Tapi mengingat kalau konflik dan plot yang aku tawarkan di sini sangat sederhana, aku enggak mungkin kan menonjolkan sisi ‘dewasa’-nya lebih kuat. Aku tetap ingin ada ke-balence-an, jadi pembacaku masih dapat menemukan hikmah dari cerita ini. Hohohoho. Semoga terhibur sekaligus ikut melebur ya.

Terima kasih!

Oh ya, cerbung, PR, request-an menyusul ya! 😀

*Buing! Buing!*

Iklan

38 thoughts on “The Last For Us

    1. Hahaha, udah 17 tahun kan XD #sokdewasa
      Waks! Saya lupa ganti namanya, hehehe, nama awal dari cerita ini Dion. Tapi saya ganti jadi Bagas biar ada kesan Indonesianya. Maaf bikin kaget.

  1. Cerita orang dewasa tapi masih oke kok dicta, gak terlalu ‘jujur’ kaya lirik mas levine.
    Aku suka karakter Bagas. 😉

    1. Hihihi, syukurlah kalau masih oke. 😀 Berarti masih aman untuk dibaca anak2 remaja.
      Iya, saya enggak mendalami semua lirik Maroon 5 sih di cerita ini, cukup bagian reff lagu Daylight 😀
      Saya juga suka sama Bagas *cium cambangnya Bagas*
      Terima kasih sudah mau baca ya kak, silakan bertandang kembali! 😀

    1. Saya juga suka fotonya, tapi sayangnya bukan saya yang foto. Nemu di google. Tapi saya edit warna sama kontrasnya biar kesannya melankolis dan sesuai sama ceritanya, aslinya sih biasa-biasa aja. Kamar hotel mereka yang ada dalam cerita saya nyaris sama sama view foto itu 🙂
      Terima kasih ya kak Noni sudah bersedia mampir.

  2. akhirnya sayapun menampakkan wujud di cerita ‘pemacu adrenalin’ ini, HA HA HA #PLAKK :3
    hehe, annyeong, reader baru, baru seminggu :3 ini bagus lo, aku suka narasinya, apik. Gak ada typo lagi, diksi yg dipilihpun sederhana tapi ‘JLEB’ hehe.
    BTW di Amerika ada rokok Marlboro juga? hehe brrti impor dari indo dong #gakpentingbangetsumfeh  ̄︶ ̄

    1. Halo, Kak Ryn! Selamat datang di blog sederhana saya ya, terima kasih sudah bersedia mampir semingguan ini.
      Ah, senangnya ada yang suka tulisan saya, saya memang enggak punya diksi yang super ‘wow’ jadi saya cuman pake kata-kata yang saya punya dan menggunakannya semaksimal mungkin. hahaha.

      Errr, rokok Marlboro ‘kan emang aslinya diproduksi di Amerika sejak tahun 1920-an. Jadi sudah pasti ada di Amerika dong. Hahahaha. Malah justru Indonesia yang membangun anak perusahaan rokok Marlboro di Indonesia dan mengembangkan sendiri pabriknya. Jadi, nama Marlboro itu bukan di ambil dari nama Malioboro, tapi nama sebuah kota di Amerika yang bernama Marlboro. Hehehehe. Kalau mau lebih jelasnya silakan cari di google sih, banyak artikelnya 😀 Hohoho.

      Terima kasih sudah mau membaca tulisan saya ya, emoga masih berkenan mampir dan berkunjung! 😀

      1. aku kelahiran 99 :3
        jadi yg seharusnya panggil kakak itu aku -﹏-
        hehehehe,
        ohhh ternyata bgituuu hehe, maap dehh, aku mmng gk bisa ngilangin kebiasaan :3 suka nyeletuk padahal gatau apa apa, Ya Allahhh ada apa dengankuuuu #PLAKK
        ahahaha, okedeh aku pasti bkal sering mampir (:

      2. Oh, 99 ya, hehehe, dikira lebih tua gitu. Saya biasanya kalau baru kenalan sama orang manggil kakak dulu. 😀

        Wah, enggak papa kok, saya juga sering nyeletukin orang sampai2 mereka sebel sama saya. Itu lumrah *kompak*

        Ah, senangnya, ditunggu ya kunjungannya yang lain. 😀

    1. Haloooo, Kak Deta 😀
      Hahaha, bisa dibilang begitu lah, memanfaatkan umur yang sudah cukup untuk menulis hal-hal seperti ini. Tapi ya emang tetap perlu mengingat pembaca yang masih di bawah umur sih. Hohohoo.
      Terima kasih sudah mau membaca tulisan saya Kak, semoga tulisan saya bisa lebih baik lagi dari ini. 😀

  3. Adegannya nanggung #plak

    daebak lah, btw knp kamu lbh ska nulis orific dri pda fanfiction? Apa maksud dan tujuanmu?

    1. Bahahahahahak, dasar cowwwwooook! Pembaca saya kan masih banyak yang di bawah umur, jadi saya tetep bikin yang aman dibaca semua umur! XD

      Emmh, kenapa ya? Mungkin karena dengan ori fic saya bebas menentukan seperti apa sosok tokoh cerita saya. Kalau fanfic kan saya harus pakem sama sosok aslinya, jadi rada kurang bebas gitu 😀

  4. Kak Dicta~ Wooa, maaf baru baca, kmaren (sok) sibuk xD

    Aku masih kecil~~ *tutupmuka /sokinnocent #JDUAKH
    Um, sebenerny aku gaterlalu keganggu kok sma scene No Children itu xDD

    Woah, kasian banget ya Bagas, harus nerima perjodohan dan ninggalin Amy u,u
    Oh iya, tadi nemu typo satu kata, tapi lupa dimana xD

    Overall, bagus kak.. Bahasamu juga gak terlalu berat dan bisa mengalir.. hoho.. Nice 😀

    1. Halo, Helmy! Aaaaa, senangnya kamu berkunjung lagi *cupika-cupiki* Lama tak merasakan jejak-jejakmu di tempat ini. Jadi kangen. Hohohoho.

      Awwwh, syukurlah, ternyata enggak terlalu mengganggu. Semoga masih bisa ditangkap ya pesannya *ting-ting-ting* Sebenarnya saya bikin ini pun masih agak ragu, apa pembaca-pembaca muda bakalan marah sama saya. Tapi untunglah tidak, semoga banyak yang berpikiran seperti kamu ya. Hahahaha.

      Yes! Terima kasih ya sudah mau berkunjung, silakan berkunjung kembali. 😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s