Corat-Coret Dicta

[Coretan Dicta] First Impression: Salam Kenal, Puisi!

Sepanjang kugemari hobi menulisku, aku tak pernah sekalipun mencoba untuk bersungguh-sungguh menulis puisi atau berbagai hal yang menyangkut dengan keindahan estetika, diksi yang bertabrakan dan arti yang implisif. Bukan karena tidak suka, karena hal itu not my cup of coffee, karena hal itu bukan gue banget!

Sampai suatu ketika, sekitar tiga minggu yang lalu, seorang teman menawariku mengikuti lomba FLS2N (Festival Lomba Seni SMA Nasional) cabang cipta puisi—menggantikannya. Meski senang ditawari seperti itu, secepat kilat aku menolak, memintanya mencari yang lain karena aku pribadi menyadari bahwa aku tak punya cukup kemampuan untuk menulis puisi. Tapi pada akhirnya, aku pun menerimanya dengan berbagai pertimbangan.

Tepat pada malam harinya, aku pun langsung me-mention dan bertanya kepada semua teman-teman blogger yang aku tahu sering menulis puisi untuk meminta mereka memberiku berbagai tips menulis puisi. Adanya berbagai macam saran yang membantu membuatku bersemangat dan mulai memupuk rasa percaya diriku.

Aku pun mulai membaca puisi-puisi di perpustakaan, aku cari-cari di internet aspek-aspek apa saja yang perlu kita tuangkan ke dalam puisi. Dan sebagainya dan sebagainya. Dan untuk mempersingkat saja, lomba tingkat kota Banjarmasin dimulai dan aku pun mengerahkan semua yang kubisa. Kutulis puisi panjang dengan format narasi, dan akhirnya aku berhasil merebut posisi sebagai perwakilan kota Banjarmasin untuk mengikuti lomba tingkat provinsi. Benar-benar sesuatu yang sangat membanggakan bagiku. Tapi meskipun begitu, juri mengatakan bahwa penulis puisi yang terpilih bukanlah penulis terbaik, melainkan karena puisi yang ia buat memiliki poin yang lebih tinggi ketimang komepetitor yang lainnya. Agak kecewa dengan kenyataan itu, tapi apa mau dikata, aku benar-benar masih seorang pemula.

Maka, tak lama kemudian, rangkaian lomba tingkat provinsi dimulai; tepatnya pada hari Senin, 20 Mei 2013. Lomba tingkat provinsi diadakan di Banjarmasin, jadi sebenarnya aku tak perlu menginap seperti teman-teman yang berasal dari kabupaten lain. Tapi berhubung hotel tempat nginapnya enak plus makanan gratis, dan  aku ingin mencari teman-teman baru, maka aku pun ikut menginap.

Teman-teman baruku dari berbagai daerah di Kalimantan Selatan sangat menyenangkan. Tak ada yang jaga image, enggak ada atmospire persaingan. Saking dekatnya kami, kami sampai bikin video harlem shake untuk kenang-kenangan. Cuman aku enggak ikut, karena aku lebih memilih untuk memegang kameranya ketimbang bergoyang aneh seperti itu. Hahahah XD.

Ini dia teman-teman kompetitiorku, enggak cuman cipta puisi, baca puisi pun juga ada. Hehehe. Eh, mahkluk putih apa itu? XD
Ini dia teman-teman kompetitiorku, enggak cuman cipta puisi, baca puisi pun juga ada. Hehehe. Eh, mahkluk putih apa itu? 😄

Pada tanggal 21 Mei 2013, hari Selasa, lomba pun di mulai. Sebelum lomba aku diberi beberapa petuah dari seorang alumni lomba FLS2N tahun lalu dari SMA 2; namanya Irwan, tapi aku manggilnya Encek. Hahaha. Petuahnya sangat baik, dan aku senang sekali bisa belajar dari dia. Aku mulai menganggap puisi bukan hal tabu untukku. Dan saat lomba, aku pun mengerahkan semua yang kubisa.

Belajar dari pengalaman lomba di kota, aku tidak menulis puisi narasi panjang. Jadi aku membuat puisi pendek sepanjang satu halaman dengan judul ‘Pasar Kata-Kata’, dan aku benar-benar puas dengan hasil kerjaku itu. Aku benar-benar percaya diri, karena aku menganggap, kalau puisi itu adalah puisi terbaik yang pernah aku buat sepanjang hidupku. Dan saat mengumpulkannya aku pun nyaris percaya, kalau aku pasti akan memenangkan kompetisi ini. Hahaha.

Tapi rasa percaya diri yang terlalu besar memang pedang bermata dua. Kadang kita memang perlu mengontrol rasa percaya diri itu agar tidak terlalu banyak, karena jika terlalu banyak, maka akan menyakitkan jika realitas menimpa tubuh kita.

Yeah, I failed…            

Pengumuman lomba cipta puisi tadi pagi, dan hanya aku yang tak bisa menyumbangkan piala apa pun kepada kota Banjarmasin. Rasanya sangat sakit. Emang siapa sih orang di dunia ini yang enggak benci menjadi orang gagal? Enggak marah ketika dirinya hanya sebagai penonton orang-orang pemegang piala dan terpaksa tersenyum mengucapkan selamat. Tapi… They deserve that. Aku ini masih terbilang pemula dalam menulis puisi, baru belajar 3 minggu. Sedangkan para juara telah melalang buana di dunia sastra puisi bertahun-tahun. Hahaha. Seharusnya aku tidak besar kepala dan sadar; karena akan sangat konyol jika akulah yang berdiri di sana, sementara mereka semua lebih berpengalaman daripada aku.

Akhir kata, inilah kesan pertamaku terhadap puisi. Tidak begitu menyenangkan karena berakhir menyakitkan seperti ini (menyakitkan karena aku terlalu percaya diri, seharusnya aku bisa lebih woles aja, jadi saat kalah aku tak perlu merasa sakit hati) tapi aku tak akan menyerah dengan puisi. Mungkin, sekarang bukan kesempatanku untuk berkarya, Tuhan pasti sudah menyiapkan sesuatu yang besarku untukku di akhir cerita.

#pukpukDicta

_____________

A/N:

Kalian bisa baca puisiku yang berjudul Pasar Kata-Kata di blog ini dan nilai sendiri apa puisi itu masih bisa disebut puisi yang baik atau tidak. Hehehe, Terima kasih.

Iklan

15 thoughts on “[Coretan Dicta] First Impression: Salam Kenal, Puisi!”

  1. Dicta gak apa-apa, kecewa boleh tapi jadiin penyemangat. Yg penting kan udah ikut meramaikan lomba itu. Semangat, kalo ada lomba lagi ikutan lagi.
    Btw, makhluk putih itu apa? Hehe.

    1. Iya, saya mulai belajar menyukai puisi, jadi kepengen mengembangkannya menjadi lebih baik lagi
      😀
      Hahaha, makhluk putih itu ada diri saya yang bertransformasi menjadi kabut asap. Hohohoho.

  2. Kamu sangat beruntung, Dict!
    Kamu gak menang itu benar-benar keberuntungan yang patut kamu syukuri.
    Bayangkan kalau kamu yang menang, kamu gak akan bilang “aku tak akan menyerah dengan puisi” dan mungkin itu akan bikin kamu gak belajar nulis puisi lagi.
    Awesome, Dict!

  3. Jangan lalu mencap puisi tidak menyenangkan gara-gara gak menang dalam suatu lomba, justru jadikan itu tantangan buat Dicta untuk bisa hasilkan puisi yang lebih baik nantinya. Dicta cukup punya talenta di situ koq 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s