Diposkan pada Puisi

[Puisi] Pasar Kata-Kata

pasar tempo dulu

Aku telisik (risik)

Persegamaan kata tumpang tindih

Di pemburit mayapada

 

Ada raungan ayat-ayat dan mazmur suka cita

Saling tempur di lapangan penuh mata

Mengumbar kesunyian selangkang

Mengkidungkan larik-larik anti birahi

 

Ada pula leguhan janji-janji materi

Saling gempur di medan kuasa selebar kelor

Mengobral kemerdekaan masa-masa lampau

Melantunkan nada-nada kemakmuran ‘suatu hari nanti’

 

Lalu kelakar tawa kaum perwira pun turut berdesakan

Memparodikan lelakon pandawa

Yang memerangi culas kurawa

Yang seyogyanya tergilas

 

Namun, Kawan

Tiap kata

Selalu bertopeng ganda

 

Masih jelas kucerna

Suara hawa memperkosa martabat

Demi segenggam beras

Yang ingin ia tabur

Di perut-perut bocah jembatan layang

Yang tangisnya lebur

Menutupi sajak-sajak penderitaan!

 

Ya.

Paradigma

Menjadi tempo stagnan

Di tiap desau napas

Pasar kata-kata

 

 

[puisi tanpa gelar ini dibuat untuk lomba FLS2N tingkat Provinsi Kalimantan Selatan]

Iklan

Penulis:

Pecinta Naruto dan Conan, menganggap menulis adalah sebuah obsesi dan membaca buku sama dengan bernapas. Suka menghabiskan waktu di sudut kedai sendirian; ditemani laptop dan makanan yang paling murah di kedai tersebut :)

17 tanggapan untuk “[Puisi] Pasar Kata-Kata

  1. Jadi inget pas sekolah, kalau kami banyak berkata2, dibilang guru, “Kelas kayak pasar”
    *apa hubungannya? Hehe…
    Good Luck lombanya mbak….

    1. Halo, Kak Elam!
      Hahaha, bener banget, makanya, bangsa Indonesia sekarang emang sudah kayak pasar. Banyak omongnya. 😄

      Wah, lombanya sudah beres kak, dan puisi saya ini kalah. 😦 Tapi enggak papa, yang diambil kan pengalamannya 😀 Terima kasih ya Kak udah bacaaa 😀

  2. Hai, Dicta… Masih ingat petuah-petuah gajeku via twitter, haha ^^
    Aku juga ikut lomba ini tahun lalu tkt prov. Guess what?!! Aku kalah. haha, 😀
    Waktu itu aku jga nulis ttg ‘jelekny’ RI, dan yg menang itu puisi yg nulis masalah2 di RI tapi dikasi solusinya juga. Jd yg bs aku tangkep, *hup!* kalo puisi yg dilombain jangan ngejelekin aja, tapi kasi juga bagusnya ato solusinya. Habisnya aku pernah jga ikut lomba cipta puisi tkt prov yang isinya kejelekan sama kebagusan (?) bangsa, dan yg itu aku dpt juara. Trus puisi-puisi juara yg lain juga bgitu, nulis kbaikan n kburukannya.

    Hehe, koment aku kepanjangan ya dan isinya malah curhatan. -__-
    Intinya aja, (yg di atas pembukaan *hee*) puisimu bagus, cuma kyakny terlalu sarkastik gtu.
    Diksinya mantap! Tp penggunaan kata denotatif sekali-sekali perlu untuk diikut sertakan. 😀
    Terus menulis, 😀

    1. Ohhhh, saya baru tahu kalau haru begitu! Karena ini lomba tingkat nasional, penulis-penulis yang berlomba diharapkan selain dapat mengkritik juga memberikan solusi kan ya? Okay, pantas saya kalah, karena saya terlalu terfokus dengan permasalahan tanpa memikirkan solusi yang dapat saya berikan *mengangguk2*
      saya tidak tahu karena juri tidak memberikan perbandingan gitu. Baiklah, lain kali saya akan menulis lebih baik lagi. Terima kasih atas saran dan kritikannya ya Kak :* reviewnya sangat ngena!

    1. Iya, bener kamu, yang penting berkarya. Selain itu, mungkin ini salah satu cara Tuhan untuk kasih tahu saya kalau puisi itu juga sangat menyenangkan untuk dipelajari. :*
      Kamu lebih keren dari saya.

  3. Pemilihan diksinya sudah bagus, Dict, dan apa yang ingin kamu sampaikan melalui puisi ini berhasil, walaupun tanpa solusi seperti yang dibilang Mbak Deta di atas 🙂
    Overall, keren deh pokoknya! 😀
    Oh iya, itu ada beberapa typo, mungkin pas mindahinnya ke blog gak kamu periksa lagi 😀

    1. Iya, banyak typo, saya rada buru-buru juga sih mindahinnya tadi. Hehehe, iya, saya bener-bener mengemukakan dan mengeluarkan semua yang saya bisa di puisi ini. Tapi sayang ya itu tadi, kekurangannya di solusi.

      Terima kasih udah baca ya kak Putra.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s