[Chaptered-1/2] The Stories of 31 May: Kajima

Ok Taecyon

Title           : Kajima

Author     : Benedikta Sekar

Cast           :

–          Ok Taecyon (2PM/JYP Entertainment)

–          Eka Maisari

Lenght     : Chaptered [1/2]

Genre      : Romance, Slice of Life

Rate          : G

Disclaimer:

Saya tidak mengambil keuntungan apa pun dalam pembuatan fanfiksi ini, dalam bentuk uang mau pun materi. Semua cast bukan milik saya. Namun plot dan latar cerita murni dari imajinasi saya.

***

Eka Maisari sadar diri, dengan tinggi 155 cm ia tak mungkin mendobrak pintu kayu flat itu hingga rusak. Jadi, yang dapat ia lakukan hanyalah duduk  bersila di lantai sembari memeluk cake di tangannya dengan hati-hati.

Pukul 23.00 KST.

Tinggal satu jam lagi sebelum Mei digusur Juni, dan Eka benar-benar tak habis pikir untuk menghabiskan sisa hari ulang tahunnya ini di depan pintu flat milik seorang pria yang umurnya terpaut nyaris sepuluh tahun darinya.

“Aku mungkin sudah gila…” bisik Eka sembari tertawa getir, tubuhnya beringsut menempel pada pintu flat bernomor 102 itu lalu menangis dalam hati. “Kali ini yang terakhir, dan  setelah itu aku akan berhenti,” teguhnya.

Eka tidak tahu apa yang membuat sosok pria itu menjadi sangat superior di matanya; dia hanya seorang pegawai kantoran biasa yang tak laku-laku di umurnya yang sudah nyaris berkepala tiga. Pria kasar yang tak segan-segan memarahi orang-orang sekitarnya, tapi juga secara bersamaan adalah orang yang dengan sabar menolongnya saat ia tersesat di tengah-tengah keramaian kota Seoul.

Mengenal pria itu membuat Eka seperti duduk sendirian di sebuah roller coaster yang tengah melaju kencang. Sering kali pria itu menghempaskan tubuhnya ke bawah hingga dia ingin menangis meraung-raung, namun perhatian-perhatian kecil yang diberikan pria itu juga membuatnya berdebar hingga perlahan-lahan merangkak kepuncak yang tertinggi.

Benar, Ok Taecyon adalah pria yang mencuri cinta pertamanya.

Mungkin hidup sendirian di tanah asing menjadi salah satu alasan Eka bisa menjatuhkan hatinya pada pria itu. Tapi Eka yakin, kesepian bukanlah alasan yang tepat untuk menjelaskan kronologi perasaannya ini. Gadis itu lebih percaya kalau takdir mengambil alih hidupnya, hingga akhirnya bersinggungan dengan pria itu di kota ini.

Tik… tik… tik… tik…

Waktu terus bergulir dan Eka mulai sangsi sembari melirik berkali-kali ujung koridor gedung bertingkat lima itu dengan perasaan tak menentu. Apa Taecyon akan pulang sebelum hari ini berakhir?

Perlahan-lahan Eka merisik saku kardigan abu-abunya dan mengambil handphone. Untuk beberapa saat ia ragu untuk menghubungi pria itu, tapi mengingat kalau ini adalah kesempatan terakhirnya, Eka berusaha untuk meneguhkan perasaannya dan memencet panggilan cepat nomor satunya untuk Taecyon.

Nada tunggu terdengar cukup lama, Eka yakin kalau pria itu sedang sibuk sekarang. Tapi ini yang terakhir, teguh Eka sekali lagi, ia tak akan mengganggu kehidupan Ok Taecyon setelah ini.

Ya! Sa Ri-ya!” Bentakan suara Taecyon adalah hal pertama yang menyambut Eka, hingga gadis itu terpaksa menjauhkan telinga beberapa senti dari handphone-nya. “Apa maumu malam-malam begini? Apa kau tidak tahu sekarang jam berapa, hah?”

Eka menarik napas dalam-dalam, menahan air matanya yang langsung menggenang di pelupuk saat mendengar suara pria itu di ujung salauran. Ia pasti akan merindukan cara Taecyon memanggilnya, lidah orang Korea sulit melafalkan namanya hingga pria itu lebih senang memanggilnya dengan panggilan ‘Sa Ri’ yang merupakan penggalan dua suku kata di akhir namanya. Ya ampun, sebenarnya seberapa jauh pria itu mempengaruhi hidupnya?

 “Oppa[1]…”

Wae[2]?”

Lidah Eka terasa sepat, di hati yang paling dalam ia masih ingin memperjuangkan perasaannya. Tapi, bersamaan dengan umurnya yang semakin dewasa, ia sadar semua prilakunya yang kekanak-kanakan harus segera ia tinggalkan . “Taecyon Oppa, mianhae[3].”

“Huh?”

Mianhae, karena sudah memaksakan perasaanku selama ini,” jelas Eka, sembari berusaha keras untuk mengontrol perasaannya. “Aku tahu, semua yang telah aku lakukan benar-benar membuatmu kesal. Aku selalu membangunkanmu pagi-pagi sekali, memasakkan makanan Indonesia yang tak kausukai, mengirimi sms ribuan kali dalam sehari, dan menyatakan perasaanku berkali-kali meski kau sudah menolak. Ya, aku tahu kalau semua hal itu benar-benar mengganggu dan…”

“Hei, hei, hei! Sa Ri-ya, apa maksudmu? Aku tidak mengerti. Sebenarnya apa yang…”

“Aku akan menyerah, Oppa.”

Hening. Eka tak mendengar apa pun dari Taecyon, bahkan embusan napasnya pun tidak, hingga akhirnya gadis itu memilih untuk melanjutkan kata-katanya dan menuntaskan segalanya.

 “Hari ini hari ulang tahunku yang ketujuhbelas, tapi aku tak tahu apa kau punya cukup peduli untuk tahu hal itu.” Kini Eka lebih bisa mengatur napas; hatinya telah bulat. “Untuk terakhir kalinya aku ingin bertemu denganmu dan merayakan hari ini. Tapi, sialnya, meski aku telah menunggu sangat lama, kau tidak juga kembali ke flatmu. Jadi, kupikir lebih baik aku mengatakannya sekarang sebelum hari berganti…” Eka menarik napas berat dan mengembuskannya perlahan untuk memantapkan hatinya menutup segala ruang.

Oppa, Annyeong[4].”

“Sa Ri-ya! Kau—”

Tuuuuut…

Eka langsung memutuskan hubungan telepon tanpa mendengar balasan dari Taecyon, tangis yang sedari tadi ditahannya langsung lepas begitu saja. Tubuhnya seketika itu juga lemas, tak dapat bergerak barang seinci pun selain berguncang hebat akibat luapan perasaannya yang tertumpah di matanya.

Eka Maisari menangis sekeras-kerasnya; tak tahu apa ia masih punya hati untuk jatuh cinta lagi setelah ini.

***

Tap! Tap! Tap!

Suara langkah kaki yang sangat cepat menusuk-nusuk gendang telinga Eka. Perlahan-lahan suara langkah itu pun semakin nyaring hingga akhirnya memaksa gadis itu mengerjap dan bangun. Hal pertama yang ia ingat sebelum benar-benar memiliki kesadarannya adalah ia menangis luar biasa di depan pintu flat Taecyon sampai tertidur.

Errmh, jam berapa sekarang?

Pukul 23.59 KST. Itu yang jam tangan digitalnya tunjukkan; membuka kenyataan bahwa sebentar lagi Mei berlalu dan Eka tahu, itu isyarat bahwa hatinya juga akan bernasip sama.

“Sa Ri-ah!”

Eh?

Tiba-tiba saja seorang pria berlutut di depan Eka dan meremas bahu gadis itu kuat-kuat dengan kedua tangannya. Setiap detik berjalan begitu cepat, sebelum sempat Eka mengenali sorot mata familiar itu, ia merasakan tubuhnya di tarik sekuat tenaga dan berhenti bergerak ketika tubuhnya menabrak dada pria itu; tenggelam dalam pelukannya.

KaKajima[5]…”

Pria itu berusaha keras berbisik di tengkuk Eka dengan napas terputus-putus, namun Eka masih mampu mendengarnya dengan baik, dan seketika itu juga merasakan ruang-ruang hati yang sebelumnya hampa penuh dengan rasa bahagia.

Tanggal 31 Mei belumlah berakhir baginya.

Con.

______________________

Dicta say to Eka Maisari:

Saengil Chuka hamnida, Eka-ssi! Aku tahu hadiahnya terlalu cepat, tapi aku sudah enggak sabar untuk menunjukkannya padamu. Selamat berulang tahun yang ketujuhbelas semoga segala upaya, harapan, obsesi serta mimpimu tercapai. Jadilah anak yang berbakti terhadap orang tua, bangsa, negara juga agama. Di umur yang semakin dewasa ini, mungkin hal-hal gila dan bodoh sudah semakin terlimitasi, tapi aku harap, meski pun kamu sudah tambah dewasa, jiwa tetap muda ya! :*

Oh ya, fanfiction ini bikinnya cukup dengan perjuangan, sebelumnya aku ada menulis fanfic yang lain untukmu, tapi fanfic itu ternyata tak lebih baik dari sampah. Jadi langsung kubuang dan menulis plot baru yang lebih gereget. Hahaha. Semoga berkenan di hatimu ya! *peluk cium*

Akhir kata, terima kasih karena sudah menjadi temanku yang baik! Semoga di kemudian hari hubungan kita menjadi semakin erat 🙂 *peluk lagi*

Dicta say to reader:

Yahoo! Balik dengan proyek fanfiction untuk hadiah ulang tahun teman-temanku. Fanfic-nya enggak cuman ini kok, masih ada dua fanfic lain yang menyusul. Ditunggu dengan sabar sampai tanggal 31 Mei ya 😀 oh ya, tolong minta doanya juga ya untuk teman-teman yang merayakan ulang tahunnya pada tanggal ini :*


[1] (bahasa Korea) Panggilan adik perempuan kepada kakak laki-laki

[2] (bahasa Korea) Kenapa?

[3] (bahasa Korea) Maaf

[4] (bahasa Korea) Oppa, selamat tinggal

[5](bahasa Korea) Jangan pergi

Iklan

9 thoughts on “[Chaptered-1/2] The Stories of 31 May: Kajima

    1. Hehehe, makanya judulnya The Stories of 31 May, ceritanya enggak cuman satu 😀 Semoga tanggal itu menjadi tanggal yang berkesan yaaa 😀

      Oh ya, Eka bilang terima kasih ucapannya, dan selamat ulang tahun juga 😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s