[Coretan Dicta] Terima Kasih, Silent Reader!

silent reader

Ehem, tes… tes… *benerin mic*

Yahoo! Semua! Lama ya aku gak ngerusuh dan curcol cetar membahana di sini. Hahaha. Well, sesuai judul sih, jadi di posting-an ini aku menulis khusus untuk para silent reader-ku. Entah mereka yang reguler datang ke sini tapi ngerasa enggak perlu komentar, atau mereka yang nyasar dari Google sampai akhirnya terlempar ke lembah curam nan elek ini (baca: blog ini, haha).

Jadi, di sini aku enggak bakal ngeluh panjang lebar kenapa kalian tidak meninggalkan jejak. Aku enggak bakal marah-marah sama kalian. Aku enggak bakal maksa kalian untuk selalu komentar di blog. Dan aku enggak bakalan cela-cela kalian karena kalian ngobrak-abrik blog aku yang udah jelek ini tanpa permisi. Hehehe.

Kenapa?

Karena itu hak kalian.

Sederhana aja kan ya? Seperti kata politisi yang kerjanya menggendutkan diri sama uang rakyat. Semua orang punya hak suara, dan jika orang itu memilih untuk tidak mempergunakan hak suaranya? Ya sudah, mau bagaimana lagi? Golput deh. Aku pribadi sih pasrah-pasrah aja; dikomentari ya syukur, enggak dikomentari woles aja.

Tujuan aku menulis memang untuk dibaca, bukan untuk dikomentari apalagi dipuji-puji setinggi langit (yah, meski kalau baca pujian tetep aja berasa di awang-awang, hahaha), tapi pada hakekatnya, aku menulis tanpa pamrih. Seperti yang pernah kubilang di suratku untuk penikmat kata…

Ada kolom komentar di bawah, dan kusediakan untukmu berkata-kata. Digunakan atau tidak, itu hakmu. Aku telah memberikan milikku, dan tak menuntutmu untuk melakukan hal yang sama.

Karena inilah cintaku padamu, Penikmat Kata. Kuberikan semua kata-kata yang kupunya; tanpa pamrih dan setulus hati padamu. Tapi, jika ada setitik cinta yang ingin kamu beri padaku.

Sudikah kamu memberitahuku? – Untuk Kamu, Penikmat Kata!

Seperti itulah prinsipku. Aku nulis ya nulis aja sih, gak peduli mau dikomentari atau enggak karena itu hak kalian—Para Penikmat Kata. Padahal, pada dasarnya aku penulis yang menerima segala macam tulisan, entah itu yang berbau pujian sampai makian. Semua komentar di blog ini akan kubalas dengan rasa terima kasih yang besar, karena semua jenis komentar adalah bentuk apresiasi yang pastinya membantuku berkembang.

 Cuman, belakangan ini ada satu hal yang cukup menggangguku dari kebiasaan silent reander ini…

Bagaimana caranya aku berterimakasih pada kalian?

Kalian kan sudah capek-capek menikmati tulisanku; entah dengan perasaan senang, sedih, atau marah. Tapi, aku enggak pernah mengungkapkan rasa terima kasihku pada kalian. Aku pribadi jadi ngerasa enggak enak karena selalu ngerasa senang tiap kali ngeliat statistik visitor blog yang melonjak. Padahal, silent reader adalah bagian dari pembaca yang juga membuat statistik itu naik.

Tapi mau bagaimana lagi? Karena kalian enggak pernah kasih komentar atau pun jejak, aku pun gak bisa melacak kalian (duilee, lu kira detektif, Dic!) dan mengucapkan terima kasih.  Akhirnya, karena aku enggak bisa ngapa-ngapain, aku pun memutuskan untuk membuat posting-an ini sebagai tanda terima kasihku pada kalian yang sudah diam-diam mengintip kata-kata di blog ini dengan berbagai rasa.

Terima kasih telah membaca kata-kataku yang sederhana ini, Silent Reader! Semoga berkesan dan berkenan bertandang kembali ke tempat ini!

Maafkan aku karena belum bisa membuat tulisan yang mampu membuat kalian tergerak untuk menorehkan sepatah kata di sini. Aku akan belajar lebih banyak lagi, dan menulis lebih baik lagi agar suatu hari nanti kalian mau menyapaku. Dan sampai saat itu tiba, aku akan membalas sapamu dengan sekeranjang besar rasa terima kasih dan mungkin saja, melalui itu kita dapat menjadi sahabat tak kasat mata di ranah yang disebut…

Kata.

\:D/

[Photo taken from unknown place]

[Kolaborasi] Mirror

mirorr

Bagi banyak orang, mungkin punya saudara kembar adalah hal yang mengundang keingintahuan. Ya, bagaimana rasanya memiliki seseorang yang sangat mirip denganmu, sehingga saat melihat saudaramu, kau seperti melihat dirimu sendiri? Bagaimana rasanya memiliki seseorang yang diperlakukan sama persis denganmu, saat hal yang kau dapatkan, juga didapatkan oleh saudaramu? Bagaimana rasanya memiliki seseorang yang tahu segala hal tentang dirimu, karena ia adalah temanmu semenjak dalam rahim ibu?

Kau ingin tahu bagaimana rasanya? Lebih baik jangan. Karena aku tahu persis, rasanya tidak enak.

Dian dan aku, Dana, lahir berselisih 15 menit dari sebuah indung telur yang sama.  Karenanya, kami punya wajah identik, tanpa sedikit pun bagian yang berbeda pada fisik kami. Saat kami berdiri berhadap-hadapan, Dian dan aku bagaikan sedang bercermin. Namun, yang membuatnya berbeda adalah sisi cermin yang dimiliki Dian menunjukkan senyuman, sementara di sisiku? Kau hanya akan menemukan pantulan wajah yang muram.

Dian memiliki segalanya yang diinginkan orangtua dan masyarakat; cantik, ceria, dan cerdas. Sementara aku? Kendati kecantikan Dian adalah milikku juga, aku tak memiliki bagian yang mampu membuat orang lain bangga. Mama dan Papa mungkin memerlakukanku sama seperti Dian, tapi aku tahu, di lubuk hatinya yang paling dalam seorang Dana hanyalah sekedar ‘anak yang harus dirawat’, bukan dicintai.

Pandanganku pada Dian pun semakin hari semakin berlumur iri. Hingga saat kami beranjak remaja dan duduk di bangku menengah tinggi, pandangan iri itu berubah menjadi benci tatkala sebuah kejadian yang merusak hubungan kami.

Dian ternyata menusukku dari belakang.

Saat itu, di jam istirahat, aku tengah duduk sendirian di kelas, menatap ke luar jendela. Tidak seperti Dian yang berlagak Diva, easygoing, dan mudah bergaul, aku seseorang dengan kepribadian penyendiri dan tertutup. Aku hanya punya satu fokus titik pandang. Haqi. Beberapa minggu ini, perhatianku selalu tersita padanya. Darahku
berdesir setiap aku menatapnya meski hanya dari kejauhan. Mungkin inilah yang orang-orang sebut dengan cinta pertama.

“Kamu suka dia, kan?” Seseorang tiba-tiba membuyarkan lamunanku. Suara Dian. “Haqi memang lumayan, sih,” timpalnya. Aku hanya diam, seperti biasa, tak tahu harus menjawab apa. “Kenapa nggak ungkapin perasaan ke dia?”

Wajahku bersemu merah, seperti direbus. “Mustahil, dong.”

“Karena seharusnya cowok yang nembak cewek? Ah, udah ketinggalan zaman itu.”

“Aku nggak bakal bisa ngasih tahu dia.”

“Ya sudah, nanti aku yang sampaikan.” Aku mengangkat alisku. Tak percaya mendengar kata-kata Dian. “Kamu gila,” sahutku pendek.

“Lihat saja nanti.” Ia menimpali.

Dan aku tak menyangka, karena beberapa hari kemudian, yang kudengar adalah Haqi dan Dian yang resmi pacaran. Rupanya bukan perasaanku yang ia sampaikan. Dian yang menyampaikan perasaannya sendiri. Dan saat kutanya, ia hanya menjawab,”Yah, kulihat-lihat, dia lumayan juga, sih. Jadi karena aku yang berani, mending buatku aja kan?”

Aku terdiam. Tak dapat berkata-kata, apa lagi mencaci maki gadis itu. Rasa iri yang sudah mengakar daging, akhirnya semakin tertumpuk dengan kebencian dan membuatnya semakin menjadi. Sejak saat itu aku semakin menarik diri dari Dian. Aku iri, dan sekarang benci padanya. Tak pernah lagi kubercerita dengannya tentang diriku, masalah Haqi, cinta pertamaku itu, akan menjadi yang terakhir.

“Kamu bertengkar dengan adikmu?” tanya satu-satunya sahabatku di kelas, Ninda.”Kalian makin hari makin jarang tegur sapa. Kalian ‘kan kembar, harusnya kalian kompak.” Rupanya ia memperhatikan bahwa aku dan Dian semakin hari semakin jauh saja. Sudah tak seperti layaknya saudara.

“Aku merasa dikutuk, karena berwajah sama sepertinya. Dia licik. Dia jahat.” Kemudian tanpa sadar aku menitikkan air mata sambil membicarakan apa yang menjadi bebanku selama ini pada Ninda. Perlakuan mama dan papa yang seakan lebih menyayangi Dian yang periang daripada aku yang pemurung. Dian yang selama ini berhasil membuatku cemburu setelah merebut Haqi. Dan perasaan rendah diriku yang semakin besar karena aku tahu aku tak mampu menyaingi ‘pesona’ Dian. Karena menjadi kembarannya, aku sangat lelah terus-menerus dibandingkan dengannya.

“Aku merasa Dian juga pasti merasakan hal yang sama, Dan.” Ninda berpendapat.

“Maksudmu?”

“Kamu renungkan, deh, untuk apa dia capek-capek pacaran dengan Haqi? Dia mau buat kamu iri. Tapi kenapa? Pasti, dia juga ngerasa insecure terhadap kamu.”

“Oh ya?” Aku tersentak. Jika dipikir, perkataan Ninda ada benarnya.

“Mungkin kalau kamu tahu perasaan Dian ke kamu, hubungan kalian juga membaik.”

Aku diam. Mencoba merenungkan perkataan Ninda.

Apa benar Dian begitu?

Perasaanku mulai tak tenang. ada sebagian dari diriku yang berharap kalau Dian bukan seperti yang kukira. Hingga akhirnya aku memberanikan diri untuk mengajak Dian berbicara empat mata di kamar kami.

“Yan, sebenernya apa maksud kamu ngerebut Haqi dariku?” tanyaku serius, dan Dian langsung membuang muka.

“Emangnya Haqi punya kamu sampai-sampai kamu bilang aku ngerebut dia?” jawabnya sinis, dan aku semakin naik pitam.

Kutarik bahu Dian dan memaksa saudara kembarku itu bersetatap. Aku tahu dia menyembunyikan sesuatu. “Dian! Jawab jujur! Kamu kenapa bersikap brengsek kayak gini? Kamu punya segalanya! Kamu punya yang gak aku punya! Aku iri sama kamu, dan aku gak mau jadi benci ke kamu!”

“Lebih baik kamu benci sama aku dari pada kamu iri, Dana!”

Aku terperangah. “Ap-apa?”

“Aku kepengen kamu lebih percaya diri,” jawab Dian akhirnya. “Kamu kira aku nggak tahu, kalau selama ini kamu iri sama aku, Dan? Kita ini kembar! Aku bisa ngerasain perasaan kamu. Tapi kamu selalu sibuk sama diri kamu sendiri. Kamu sibuk mempermasalahkan apa yang bisa kulakukan dan kamu nggak bisa lakukan. Kamu sibuk mengeluh kenapa kamu nggak sehebat aku, nggak seperti aku!” Dian berkata dengan nadayang sedikit meninggi.

Aku seperti tertampar. Benarkah aku seperti yang dikatakan Dian? Benarkah bahwa selama ini aku terlalu sibuk mengeluh, dan lupa mensyukuri apa yang aku punya?
“Kamu terbutakan oleh rasa iri dan benci kamu, Dan. Kamu nggak lihat kalau selama ini Papa, Mama, dan aku, juga sayang kamu. Aku pengen kamu mengembangkan potensi kamu, meraih prestasi berdasarkan bakat
kamu. Aku pengen kamu jadi diri sendiri, Dan, nggak sibuk membandingkan diri kamu dengan aku. Meski kembar, kita ini individu yang berbeda.” Dian berkata lembut, sambil menggenggam tanganku erat.

Aku terperangah. Aku baru sadar bahwa selama ini akulah yang memilih untuk menjadi penyendiri, pendiam, dan pemurung. Seandainya waktuku kugunakan lebih produktif, pasti aku akan meraih banyak hal. Hidupku juga akan lebih bahagia, tanpa harus menjadikan diriku seperti saudara kembarku. Aku bisa menjadi diriku sendiri, yang lebih baik dari ini.

“Terima kasih, Dian…” Aku seketika memeluknya. “Dan maafkan aku, selama ini sudah berburuk sangka sama kamu.” Dian mengelus punggungku. Akhirnya kurasakan lagi sentuhan hangat dari ‘kawan satu rahim’ku itu. Saudara kembarku yang aku sayang.

“Oh ya, untuk masalah Haqi…” Tiba-tiba Dian menarik jarak dariku dan menatapku lekat-lekat. ”Aku bohong pada orang-orang kelau Haqi dan aku pacaran.”

“Hah?”

“Yah, memang benar kalau aku menembaknya, tapi waktu itu aku…” Dian mengulum senyum dan menatapku lembut, “…menggunakan namamu.”

Aku terkesiap, mengerjap, jadi itu artinya… Haqi tidak…

“Dan Haqi marah padaku karena dia tahu kalau aku berbohong.” Dian tertawa renyah dan kembali memelukku lebih erat. “Kamu tahu gak apa yang Haqi bilang padaku? ‘Yan, wajah kamu emang mirip sama Dana, meski kamu berusaha bertingkah semirip mungkin sama dia. Aku tahu Dana yang sebenarnya gak bakalan mau nembak aku duluan. Kalian beda, dan yang aku suka itu Dana.

Aku yang bakalan nembak Dana duluan.’”

“Kyaaaa!” Dian memekik kesenangan seolah-olah dialah yang menerima ucapan itu. Aku yang mendengarnya bahkan tak dapat bekedip sedikit pun. Aku terlalu kaget; terlalu bahagia.

“Makanya, Dan! Entar kalau nanti Haqi tembak kamu, kamu harus jawab ‘iya’ dengan percaya diri. Kamu pantes mendapatkan hal-hal terbaik! Pantes! Ih, aku jadi iri deh sama kamu.”

Dian tertawa lagi, dan aku pun tertular oleh tawanya. Untuk pertama kalinya, kutemukan potongan diriku yang hilang. Untuk pertama kalinya, kurasakan setiap sisi bayangan yang ada di cermin, memiliki ekspresi yang sama.

Fin.

Colaboration With Jusmalia Oktaviani

(Photo taken from http://kimberlykinrade.com/2011/03/a-tale-of-two-women/blackandwhitephotographyfacefemalemirrorreflection-64898a07781698ac7d311da16306a8df_h/)

[Resensi Buku] If I Stay – Gayle Forman

Judul                     : If I Stay

Penulis                 : Gayle Forman

Penerbit              : Gramedia Pustaka Utama

Terbit                    : Januari, 2012 (cetakan keempat)

Tebal                     : 200 halaman

Rate                       : 4,5/5

Harga                    : Rp 52.000,-

“If you stay, I’ll do whatever you want. I’ll quit the band, go with you to New York. But if you need me to go away, I’ll do that, too. I was talking to Liz and she said maybe coming back to your old life would be too painful, that maybe it’d be easier for you to erase us. And that would suck, but I’d do it. I can lose you like that if I don’t lose you today. I’ll let you go. If you stay.” –Adam Wilde to Mia Hall, halaman 192, If I Stay

***

Mia Hall, gadis pemain cello yang memiliki keluarga nyentrik tapi hangat serta pacar yang sangat memujanya; memiliki masa depan yang sangat cerah di Julliard—sekolah musik terkenal di New York—serta pilihan-pilihan hebat yang bisa dipilihnya. Sayangnya, Mia tiba-tiba saja harus kehilangan semua itu hanya dalam sekejap mata di pagi bersalju.

Jika kalian membaca sinopsis tentang pilihan antara hidup dan mati pada sebuah buku; kalian pasti berpikir sang tokoh utama dalam keadaan hidup tapi ia dalam kondisi terancam yang sebenarnya tak akan benar-benar membuat si tokoh utama mati. Tapi dalam buku ini, ungkapan berada posisi antara hidup-mati bukanlah ungkapan hiperbolis yang digunakan penerbit untuk menarik kalian membelinya, atau bertujuan untuk menipu kalian. Ungkapan itu benar-benar terlaksana di dalam buku ini.

Mia mengalami kecelakaan hebat yang mengubah hidupnya 180 derajat; dalam sekejap ia kehilangan keluarga dan nyaris hidupnya. Tapi Tuhan memberikan kesempatkan untuk Mia memilih—antara hidup dan mati—dalam keadaan yang koma parah. Dengan bentuk sesosok roh atau arwah yang terpisah dari raganya, Mia mampu melihat bahkan mendengar semua kejadian selama tubuhnya koma.

Gadis itu bisa melihat tubuhnya di bawa dari Oregon tempat asalnya, menuju sebuah rumah sakit di Portland menggunakan helikopter; menyaksikan sendiri para dokter mengoprasinya dan memasang selang-selang serta kabel di tubuhnya dengan perasaan miris. Sepanjang kondisi yang membingungkan itu, Mia tak tahu harus berbuat apa hingga pilihan satu-satunya adalah berpikir dan merenungi kehidupannya.

Dimulai hari di mana dirinya lahir, berkenalan dengan cello, kedua orangtuanya yang pecinta musik rock, kelahiran adiknya, pertemuannya dengan kekasihnya—Adam Wilde, dan hari di mana hidupnya menjadi satu bagian dengan hidup kekasihnya itu. Renungan-renungan itu adalah sebuah flashback pajang dari hidup Mia membuat gadis itu bingung, apakah ia mampu hidup tanpa itu semua? Tanpa keluarganya? Tanpa kepastian yang jelas?

Maka, hanya Adam-lah satu-satunya harapan terakhir Mia mengubah keputusannya.

AH! Cerita dalam buku ini benar-benar luar biasa. Sebuah sudut pandang yang nyaris tak pernah aku pikirkan sebagai seorang penulis. Sebuah cerita yang membuatmu tersadar betapa kehidupan adalah sebuah anugrah yang sangat berharga; betapa setiap pilihan yang diberikan kehidupan padamu perlu dipikirkan sematang-matangnya; betapa sesungguhnya kesempatan kedua adalah hal yang benar-benar kamu butuhkan, bukannya menyerah dan pasrah. Buku ini benar-benar akan memberikan ‘sesuatu’ padamu. Entah itu air mata, rasa haru, atau senyum penuh kelegaan pada akhirnya.

Terus, Dict, dengan segala kelebihan itu kenapa gak kasih bintang 5?

Well, alasan aku kasih bintang 4,5 adalah alur cerita ini yang selesai begitu cepat karena hanya berlatarkan 24 jam masa koma Mia. Novel ini 90% menceritakan flashback kehidupan Mia yang membuat kalian mengerti mengapa kehilangan Mia membuat kehidupan orang-orang yang mencintai gadis itu begitu sedih dan menderita—terutama kekasih Adam; bagaimana Mia sangat mencintai orangtuanya serta adiknya Teddy, dan kehilangan mereka membuat Mia tak bersemangat untuk menjalani hidup.

Yup, alur mundur.

Kira-kira baru kali ini aku membaca novel dengan menggunakan alur mundur, dan mungkin bagiku terasa sedikit aneh. Gak puas gitu. Hahaha. Tapi beberapa saat yang lalu aku browsing di Goodreads dan menemukan kalau ternyata buku ini masih ada sekuelnya! Yipee! Penasaran dengan kehidupan Mia selanjutnya, aku yakin akan lebih fantastic daripada buku ini. Lihat saja, mungkin aku bakal kasih bintang 5. 😀

So, If I Stay adalah buku yang akan sangat tepat menemani kalian di saat liburan. Buku yang sangat pantas untuk menjadi salah satu koleksi kalian, atau bahkan dibaca berkali-kali. Oh ya, akhir kata, siapkan tisu sebelum membaca karena hanya membaca 30 halaman pertama saja mata kalian pasti sudah berkaca-kaca minta nangis.