[Resensi Buku] If I Stay – Gayle Forman

Judul                     : If I Stay

Penulis                 : Gayle Forman

Penerbit              : Gramedia Pustaka Utama

Terbit                    : Januari, 2012 (cetakan keempat)

Tebal                     : 200 halaman

Rate                       : 4,5/5

Harga                    : Rp 52.000,-

“If you stay, I’ll do whatever you want. I’ll quit the band, go with you to New York. But if you need me to go away, I’ll do that, too. I was talking to Liz and she said maybe coming back to your old life would be too painful, that maybe it’d be easier for you to erase us. And that would suck, but I’d do it. I can lose you like that if I don’t lose you today. I’ll let you go. If you stay.” –Adam Wilde to Mia Hall, halaman 192, If I Stay

***

Mia Hall, gadis pemain cello yang memiliki keluarga nyentrik tapi hangat serta pacar yang sangat memujanya; memiliki masa depan yang sangat cerah di Julliard—sekolah musik terkenal di New York—serta pilihan-pilihan hebat yang bisa dipilihnya. Sayangnya, Mia tiba-tiba saja harus kehilangan semua itu hanya dalam sekejap mata di pagi bersalju.

Jika kalian membaca sinopsis tentang pilihan antara hidup dan mati pada sebuah buku; kalian pasti berpikir sang tokoh utama dalam keadaan hidup tapi ia dalam kondisi terancam yang sebenarnya tak akan benar-benar membuat si tokoh utama mati. Tapi dalam buku ini, ungkapan berada posisi antara hidup-mati bukanlah ungkapan hiperbolis yang digunakan penerbit untuk menarik kalian membelinya, atau bertujuan untuk menipu kalian. Ungkapan itu benar-benar terlaksana di dalam buku ini.

Mia mengalami kecelakaan hebat yang mengubah hidupnya 180 derajat; dalam sekejap ia kehilangan keluarga dan nyaris hidupnya. Tapi Tuhan memberikan kesempatkan untuk Mia memilih—antara hidup dan mati—dalam keadaan yang koma parah. Dengan bentuk sesosok roh atau arwah yang terpisah dari raganya, Mia mampu melihat bahkan mendengar semua kejadian selama tubuhnya koma.

Gadis itu bisa melihat tubuhnya di bawa dari Oregon tempat asalnya, menuju sebuah rumah sakit di Portland menggunakan helikopter; menyaksikan sendiri para dokter mengoprasinya dan memasang selang-selang serta kabel di tubuhnya dengan perasaan miris. Sepanjang kondisi yang membingungkan itu, Mia tak tahu harus berbuat apa hingga pilihan satu-satunya adalah berpikir dan merenungi kehidupannya.

Dimulai hari di mana dirinya lahir, berkenalan dengan cello, kedua orangtuanya yang pecinta musik rock, kelahiran adiknya, pertemuannya dengan kekasihnya—Adam Wilde, dan hari di mana hidupnya menjadi satu bagian dengan hidup kekasihnya itu. Renungan-renungan itu adalah sebuah flashback pajang dari hidup Mia membuat gadis itu bingung, apakah ia mampu hidup tanpa itu semua? Tanpa keluarganya? Tanpa kepastian yang jelas?

Maka, hanya Adam-lah satu-satunya harapan terakhir Mia mengubah keputusannya.

AH! Cerita dalam buku ini benar-benar luar biasa. Sebuah sudut pandang yang nyaris tak pernah aku pikirkan sebagai seorang penulis. Sebuah cerita yang membuatmu tersadar betapa kehidupan adalah sebuah anugrah yang sangat berharga; betapa setiap pilihan yang diberikan kehidupan padamu perlu dipikirkan sematang-matangnya; betapa sesungguhnya kesempatan kedua adalah hal yang benar-benar kamu butuhkan, bukannya menyerah dan pasrah. Buku ini benar-benar akan memberikan ‘sesuatu’ padamu. Entah itu air mata, rasa haru, atau senyum penuh kelegaan pada akhirnya.

Terus, Dict, dengan segala kelebihan itu kenapa gak kasih bintang 5?

Well, alasan aku kasih bintang 4,5 adalah alur cerita ini yang selesai begitu cepat karena hanya berlatarkan 24 jam masa koma Mia. Novel ini 90% menceritakan flashback kehidupan Mia yang membuat kalian mengerti mengapa kehilangan Mia membuat kehidupan orang-orang yang mencintai gadis itu begitu sedih dan menderita—terutama kekasih Adam; bagaimana Mia sangat mencintai orangtuanya serta adiknya Teddy, dan kehilangan mereka membuat Mia tak bersemangat untuk menjalani hidup.

Yup, alur mundur.

Kira-kira baru kali ini aku membaca novel dengan menggunakan alur mundur, dan mungkin bagiku terasa sedikit aneh. Gak puas gitu. Hahaha. Tapi beberapa saat yang lalu aku browsing di Goodreads dan menemukan kalau ternyata buku ini masih ada sekuelnya! Yipee! Penasaran dengan kehidupan Mia selanjutnya, aku yakin akan lebih fantastic daripada buku ini. Lihat saja, mungkin aku bakal kasih bintang 5. 😀

So, If I Stay adalah buku yang akan sangat tepat menemani kalian di saat liburan. Buku yang sangat pantas untuk menjadi salah satu koleksi kalian, atau bahkan dibaca berkali-kali. Oh ya, akhir kata, siapkan tisu sebelum membaca karena hanya membaca 30 halaman pertama saja mata kalian pasti sudah berkaca-kaca minta nangis.

24 pemikiran pada “[Resensi Buku] If I Stay – Gayle Forman

    1. NDE/OBE itu apa ya Kak Raf? Saya baru dengar 0_0
      Iya, sangat jarang. Saya sendiri bertanya2 kenapa gak diadaptasi jadi film aja, menurut saya ceritanya lebih bagus dari twilight. Hahahaha.

      1. Emmmh, kira-kira begitu. Tapi yang jelas, si Mia bisa masuk ke lift, ikut naik ke helikopter dll. tanpa disadari oleh manusia2 sadar di sekitarnya seolah2 dia hanya bayangan atau orang tak kasat mata. dan dia gak bisa tembus tembok, dia gak bisa melakukan hal2 yang dilakukan hantu.

      1. lebih ngenes lagi dict, pernah saya nanya ke toko buku, ternyata stoknya cuma ada dua, dan itu udah pake didiskon gede, tapi pas saya nanya orang tokonya bilang udah gak tau dimana letak buku itu T_T

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s