[Kolaborasi] Mirror

mirorr

Bagi banyak orang, mungkin punya saudara kembar adalah hal yang mengundang keingintahuan. Ya, bagaimana rasanya memiliki seseorang yang sangat mirip denganmu, sehingga saat melihat saudaramu, kau seperti melihat dirimu sendiri? Bagaimana rasanya memiliki seseorang yang diperlakukan sama persis denganmu, saat hal yang kau dapatkan, juga didapatkan oleh saudaramu? Bagaimana rasanya memiliki seseorang yang tahu segala hal tentang dirimu, karena ia adalah temanmu semenjak dalam rahim ibu?

Kau ingin tahu bagaimana rasanya? Lebih baik jangan. Karena aku tahu persis, rasanya tidak enak.

Dian dan aku, Dana, lahir berselisih 15 menit dari sebuah indung telur yang sama.  Karenanya, kami punya wajah identik, tanpa sedikit pun bagian yang berbeda pada fisik kami. Saat kami berdiri berhadap-hadapan, Dian dan aku bagaikan sedang bercermin. Namun, yang membuatnya berbeda adalah sisi cermin yang dimiliki Dian menunjukkan senyuman, sementara di sisiku? Kau hanya akan menemukan pantulan wajah yang muram.

Dian memiliki segalanya yang diinginkan orangtua dan masyarakat; cantik, ceria, dan cerdas. Sementara aku? Kendati kecantikan Dian adalah milikku juga, aku tak memiliki bagian yang mampu membuat orang lain bangga. Mama dan Papa mungkin memerlakukanku sama seperti Dian, tapi aku tahu, di lubuk hatinya yang paling dalam seorang Dana hanyalah sekedar ‘anak yang harus dirawat’, bukan dicintai.

Pandanganku pada Dian pun semakin hari semakin berlumur iri. Hingga saat kami beranjak remaja dan duduk di bangku menengah tinggi, pandangan iri itu berubah menjadi benci tatkala sebuah kejadian yang merusak hubungan kami.

Dian ternyata menusukku dari belakang.

Saat itu, di jam istirahat, aku tengah duduk sendirian di kelas, menatap ke luar jendela. Tidak seperti Dian yang berlagak Diva, easygoing, dan mudah bergaul, aku seseorang dengan kepribadian penyendiri dan tertutup. Aku hanya punya satu fokus titik pandang. Haqi. Beberapa minggu ini, perhatianku selalu tersita padanya. Darahku
berdesir setiap aku menatapnya meski hanya dari kejauhan. Mungkin inilah yang orang-orang sebut dengan cinta pertama.

“Kamu suka dia, kan?” Seseorang tiba-tiba membuyarkan lamunanku. Suara Dian. “Haqi memang lumayan, sih,” timpalnya. Aku hanya diam, seperti biasa, tak tahu harus menjawab apa. “Kenapa nggak ungkapin perasaan ke dia?”

Wajahku bersemu merah, seperti direbus. “Mustahil, dong.”

“Karena seharusnya cowok yang nembak cewek? Ah, udah ketinggalan zaman itu.”

“Aku nggak bakal bisa ngasih tahu dia.”

“Ya sudah, nanti aku yang sampaikan.” Aku mengangkat alisku. Tak percaya mendengar kata-kata Dian. “Kamu gila,” sahutku pendek.

“Lihat saja nanti.” Ia menimpali.

Dan aku tak menyangka, karena beberapa hari kemudian, yang kudengar adalah Haqi dan Dian yang resmi pacaran. Rupanya bukan perasaanku yang ia sampaikan. Dian yang menyampaikan perasaannya sendiri. Dan saat kutanya, ia hanya menjawab,”Yah, kulihat-lihat, dia lumayan juga, sih. Jadi karena aku yang berani, mending buatku aja kan?”

Aku terdiam. Tak dapat berkata-kata, apa lagi mencaci maki gadis itu. Rasa iri yang sudah mengakar daging, akhirnya semakin tertumpuk dengan kebencian dan membuatnya semakin menjadi. Sejak saat itu aku semakin menarik diri dari Dian. Aku iri, dan sekarang benci padanya. Tak pernah lagi kubercerita dengannya tentang diriku, masalah Haqi, cinta pertamaku itu, akan menjadi yang terakhir.

“Kamu bertengkar dengan adikmu?” tanya satu-satunya sahabatku di kelas, Ninda.”Kalian makin hari makin jarang tegur sapa. Kalian ‘kan kembar, harusnya kalian kompak.” Rupanya ia memperhatikan bahwa aku dan Dian semakin hari semakin jauh saja. Sudah tak seperti layaknya saudara.

“Aku merasa dikutuk, karena berwajah sama sepertinya. Dia licik. Dia jahat.” Kemudian tanpa sadar aku menitikkan air mata sambil membicarakan apa yang menjadi bebanku selama ini pada Ninda. Perlakuan mama dan papa yang seakan lebih menyayangi Dian yang periang daripada aku yang pemurung. Dian yang selama ini berhasil membuatku cemburu setelah merebut Haqi. Dan perasaan rendah diriku yang semakin besar karena aku tahu aku tak mampu menyaingi ‘pesona’ Dian. Karena menjadi kembarannya, aku sangat lelah terus-menerus dibandingkan dengannya.

“Aku merasa Dian juga pasti merasakan hal yang sama, Dan.” Ninda berpendapat.

“Maksudmu?”

“Kamu renungkan, deh, untuk apa dia capek-capek pacaran dengan Haqi? Dia mau buat kamu iri. Tapi kenapa? Pasti, dia juga ngerasa insecure terhadap kamu.”

“Oh ya?” Aku tersentak. Jika dipikir, perkataan Ninda ada benarnya.

“Mungkin kalau kamu tahu perasaan Dian ke kamu, hubungan kalian juga membaik.”

Aku diam. Mencoba merenungkan perkataan Ninda.

Apa benar Dian begitu?

Perasaanku mulai tak tenang. ada sebagian dari diriku yang berharap kalau Dian bukan seperti yang kukira. Hingga akhirnya aku memberanikan diri untuk mengajak Dian berbicara empat mata di kamar kami.

“Yan, sebenernya apa maksud kamu ngerebut Haqi dariku?” tanyaku serius, dan Dian langsung membuang muka.

“Emangnya Haqi punya kamu sampai-sampai kamu bilang aku ngerebut dia?” jawabnya sinis, dan aku semakin naik pitam.

Kutarik bahu Dian dan memaksa saudara kembarku itu bersetatap. Aku tahu dia menyembunyikan sesuatu. “Dian! Jawab jujur! Kamu kenapa bersikap brengsek kayak gini? Kamu punya segalanya! Kamu punya yang gak aku punya! Aku iri sama kamu, dan aku gak mau jadi benci ke kamu!”

“Lebih baik kamu benci sama aku dari pada kamu iri, Dana!”

Aku terperangah. “Ap-apa?”

“Aku kepengen kamu lebih percaya diri,” jawab Dian akhirnya. “Kamu kira aku nggak tahu, kalau selama ini kamu iri sama aku, Dan? Kita ini kembar! Aku bisa ngerasain perasaan kamu. Tapi kamu selalu sibuk sama diri kamu sendiri. Kamu sibuk mempermasalahkan apa yang bisa kulakukan dan kamu nggak bisa lakukan. Kamu sibuk mengeluh kenapa kamu nggak sehebat aku, nggak seperti aku!” Dian berkata dengan nadayang sedikit meninggi.

Aku seperti tertampar. Benarkah aku seperti yang dikatakan Dian? Benarkah bahwa selama ini aku terlalu sibuk mengeluh, dan lupa mensyukuri apa yang aku punya?
“Kamu terbutakan oleh rasa iri dan benci kamu, Dan. Kamu nggak lihat kalau selama ini Papa, Mama, dan aku, juga sayang kamu. Aku pengen kamu mengembangkan potensi kamu, meraih prestasi berdasarkan bakat
kamu. Aku pengen kamu jadi diri sendiri, Dan, nggak sibuk membandingkan diri kamu dengan aku. Meski kembar, kita ini individu yang berbeda.” Dian berkata lembut, sambil menggenggam tanganku erat.

Aku terperangah. Aku baru sadar bahwa selama ini akulah yang memilih untuk menjadi penyendiri, pendiam, dan pemurung. Seandainya waktuku kugunakan lebih produktif, pasti aku akan meraih banyak hal. Hidupku juga akan lebih bahagia, tanpa harus menjadikan diriku seperti saudara kembarku. Aku bisa menjadi diriku sendiri, yang lebih baik dari ini.

“Terima kasih, Dian…” Aku seketika memeluknya. “Dan maafkan aku, selama ini sudah berburuk sangka sama kamu.” Dian mengelus punggungku. Akhirnya kurasakan lagi sentuhan hangat dari ‘kawan satu rahim’ku itu. Saudara kembarku yang aku sayang.

“Oh ya, untuk masalah Haqi…” Tiba-tiba Dian menarik jarak dariku dan menatapku lekat-lekat. ”Aku bohong pada orang-orang kelau Haqi dan aku pacaran.”

“Hah?”

“Yah, memang benar kalau aku menembaknya, tapi waktu itu aku…” Dian mengulum senyum dan menatapku lembut, “…menggunakan namamu.”

Aku terkesiap, mengerjap, jadi itu artinya… Haqi tidak…

“Dan Haqi marah padaku karena dia tahu kalau aku berbohong.” Dian tertawa renyah dan kembali memelukku lebih erat. “Kamu tahu gak apa yang Haqi bilang padaku? ‘Yan, wajah kamu emang mirip sama Dana, meski kamu berusaha bertingkah semirip mungkin sama dia. Aku tahu Dana yang sebenarnya gak bakalan mau nembak aku duluan. Kalian beda, dan yang aku suka itu Dana.

Aku yang bakalan nembak Dana duluan.’”

“Kyaaaa!” Dian memekik kesenangan seolah-olah dialah yang menerima ucapan itu. Aku yang mendengarnya bahkan tak dapat bekedip sedikit pun. Aku terlalu kaget; terlalu bahagia.

“Makanya, Dan! Entar kalau nanti Haqi tembak kamu, kamu harus jawab ‘iya’ dengan percaya diri. Kamu pantes mendapatkan hal-hal terbaik! Pantes! Ih, aku jadi iri deh sama kamu.”

Dian tertawa lagi, dan aku pun tertular oleh tawanya. Untuk pertama kalinya, kutemukan potongan diriku yang hilang. Untuk pertama kalinya, kurasakan setiap sisi bayangan yang ada di cermin, memiliki ekspresi yang sama.

Fin.

Colaboration With Jusmalia Oktaviani

(Photo taken from http://kimberlykinrade.com/2011/03/a-tale-of-two-women/blackandwhitephotographyfacefemalemirrorreflection-64898a07781698ac7d311da16306a8df_h/)

20 pemikiran pada “[Kolaborasi] Mirror

      1. Teguh Puja

        Kolaborasinya bagus, de. Coba di anak Poetica yang lain, sama siapa lagi yang belum pernah duet sama kamu?

        Kepingin lihat hasil kreatifnya lagi kalau kamu kolaborasi sama yang lain. 😉

      2. Hehehe, nanti saya ajakin kalau ada waktu. Soalnya saya biasanya duet nunggu diajakin, itu pun kadang karena gak ada waktu jadi gak bisa. (T__T) Makasih ya kak atas waktunya untuk membaca.

      3. Teguh Puja

        Heem, semoga beberapa waktu ke depan, kamu jadi punya waktu yang cukup longgar untuk nulis lagi seperti sebelum-sebelum ini.

        Semangat de! 😉

    1. Wah, Halo, Rita! Selamat datang di blog saya, semoga betah berlama-lama di tempat ini ya. Terima kasih sudah membaca tulisan saya meskipun kebanyakan curcolan gaje. Hahaha. *peyuk anget*

      Silakan bertandang kembali! 😀

  1. Haii 😀 /siapa lo ;_;/
    kenapa saat aku baca ini aku malah merasa ditampar dan disindir?;___; walaupun ga punya sodara kembar tapi aku merasa jadi dana dan adek kandung aku yang jadi dian T_T makasi cerita ini bikin aku sadar /lap ingus/
    beautiful story ka Dicta! keep writing yaps /peyuk/

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s