[Coretan Dicta] Rammadan Juga Penuh Berkah Bagiku

Sekolahku libur sepanjang bulan Rammadan.

Di Kalimantan Selatan, pemerintah provinsi membuat peraturan daerah yang menyatakan libur kepada sekolah-sekolah negeri sepanjang bulan Rammadan berlangsung. Sebagai penganut agama Katolik (Roma), aku tak pernah merasa terganggu dengan hal itu, justru merasa senang. Meski sedikit risih karena pada akhirnya liburan Natal-ku di penghujung tahun dipotong—aku akan bagi rapot tanggal 24 Desember, dan masuk tanggal 3 Januari—aku bisa terima itu sebagai konsekuensi karena memilih bersekolah di sekolah negeri.

Sekedar mengingatkan, di catatan ini aku tak ingin membahas soal agama dan lain-lain. Gak ada unsur yang menyinggung SARA karena aku hanya ingin menceritakan apa yang terjadi pada diriku saat libur Rammadan berlangsung selama beberapa tahun belakangan ini. Ceritanya memang agak tragis, tapi aku tidak menyangkutpautkannya dengan Rammadan karena aku menganggap hal itu sebagai pertanda dari Tuhan untuk menyeretku lebih dekat padanya.

Jadi pada kenyataannya, Rammadan juga berkah bagiku yang beragama Katolik, tidak hanya bagi saudara-saudaraku yang beragama Muslim.

Tahun 2011, aku baru kelas X di SMAN 7 Banjarmasin. Liburan Rammadan tahun itu kulalui dengan tergeletak di kasur dengan wajah dan tubuh luka-luka. Yeah, aku kecelakaan. Kecelakaan tunggal yang terjadi karena menabrak polisi tidur dengan kecepatan tinggi.

Saat itu maghrib, aku diminta tanteku untuk mengantar Eyang Putri ke sembayang lingkungan yang berada di rumah salah satu umat. Aku tidak ikut sembayangan waktu itu karena tidak ingin, sesederhana itu kah? Iya. Karena sebentar lagi libur, saat itu aku berpikir untuk lebih banyak berleha-leha di rumah ketimbang menghadiri sembayang lingkungan yang membosankan. Hingga akhirnya Tuhan meneggurku dengan kecelakaan konyol itu.

Aku mungkin sedang berkendara kembali dengan pikiran kosong saat aku selesai mengantar Eyang Putri, dan lupa bahwa di depanku ada jejeran polisi tidur yang tingginya kurang ajar (karena bahkan jika kalian berkendara dengan cepatan pelan sekalipun, bagian bawah kendaraan kalian tetap akan membentur) sehingga berkendara dengan kecepatan tinggi (40 km/jam).

Kejadiannya sangat cepat, hal terakhir yang aku ingat sebelum pingsan adalah kendaraanku yang oleng dan tubuhku yang terhempas ke aspal. Kesadaranku kembali saat aku sudah di rumah sakit. Dan ketahuilah, sebenarnya Tuhan tak pernah memberikan musibah tanpa penyelesaian.

Saat aku mengalami kecelakaan tunggal itu, jalanan ternyata sedang sepi, sangat sepi. Tapi ternyata, aku pingsan tepat di depan rumah keluarga yang dulunya adalah tetangga Eyang Putriku. Anak keluarga itu adalah teman masa kecilku—aku lupa namanya—dan saat mereka membawaku ke rumahnya, aku langsung dapat mereka kenali. Padahal, aku bahkan tak membawa tanda pengenal waktu itu, aku hanya mengenakan celana training, kaus, dan TANPA HELM! Hahaha, luar biasa. Itu sebuah kebetulan yang Tuhan rencanakan bagiku.

Kecelakaan itu mengakibatkan wajahku lecet-lecet dan lututku berdarah, tapi luka yang paling parah adalah aku mengalami tuli tidak permanen di telinga kiriku dan serangan Vertigo—kondisi di mana seseorang merasa bumi berputar dan tak memiliki kesimbangan yang baik, kira-kira seperti itu. Aku bahkan dirujuk untuk rontgen di bagian kepala karena takut mengalami gegar otak. Tapi ternyata, kondisiku tidak separah kelihatannya. Sekarang Vertigo tak lagi menyerangku dan aku bisa mendengar dengan baik. Yang kusesalkan hanyalah luka di bagian lutut yang meninggalkan bekas kehitaman yang jelek sekali, setiap kali melihatnya, aku mendapati diriku buruk rupa dan tak pede. Meski sekarang rasa tak pede itu tak separah dulu,  aku tetap menyesalinya.

Tahun itu liburanku 100% bed rest. Tak melakukan hal apa pun kecuali menganggur di rumah. Padahal sebelumnya aku berencana untuk berlibur ke Muara Teweh untuk mengunjungin orangtuaku, terutama Papa yang waktu itu masih dalam masa penyembuhan dan pengobatan. Tapi apa yang terjadi tahun itu tidak lebih buruk dari yang terjadi tahun 2012.

Liburan Rammadan tahun 2012 kuhabiskan nyaris sepenuhnya di rumah sakit. Bukan, bukan aku yang sakit, melainkan Papa. Bulan Rammadan tahun itu Papa mengalami serangan pertamanya dan divonis harus cuci darah karena ginjalnya sudah tak berfungsi lagi. Itu adalah pukulan berat bagiku, terutama Mama yang otomatis menjadi tulang punggung keluarga satu-satunya semenjak Papa sakit.

Liburan itu Mama tak henti-hentinya menangis, aku juga menangis, adikku pun sama. Sepanjang hari aku terus berdoa untuk kesembuhan Papa, dan berharap Tuhan menjamahnya dan memberikan keajaiban. Kondisi Papa benar-benar buruk waktu itu, aku nyaris mengira akan kehilangan Papa saat itu juga karena sakit yang menahun itu telah mencapai puncaknya. Tapi keajaiban datang, perlahan-lahan kondisi Papa membaik dan secara pribadi Papa yang semula berkeyakinan Kristen Protestan meminta imannya dikukuhkan menjadi Katolik.

“Aku ingin ikut anak-anak,” kata Papa. Dan malam itu juga keluarga dari pihak Mama langsung mencari Pastor untuk melakukan pengukuhan dan sakramen pengurapan orang sakit.

Nah, kejadian ini mungkin menggelitik kalian yang mungkin tak tahu apa yang membedakan Katolik dan Protestan. Tapi aku tak akan menjelaskannya di sini, kalian bisa mencari artikel dan infonya di Google atau Wikipedia, sangat jelas tertera di sana. Hanya saja dalam kasus Papa-ku ini, di Katolik, kami memiliki sakramen-sakramen yang salah satunya adalah sakramen pengurapan orang sakit. Sakramen ini bertujuan untuk melapangkan jalan dan memberikan harapan kesembuhan pada penderita; biasanya diberikan pada orang-orang yang sakit keras.

Papa dirawat di rumah sakit kira-kira dua minggu lebih, menghabiskan biaya sangat besar dan keletihan dari kami sekeluarga. Tapi ada rasa syukur yang terbersit di benakku, aku sudah membayangkan tahun itu akan pergi ke Gereja bersama; maju mengambil hosti bersama; dan segalanya bersama Papa saat Natal. Tapi sayang, ternyata Tuhan berkehendak lain, beberapa bulan kemudian Tuhan memanggil Papa ke sisi-Nya pada tanggal 30 November 2012—Papa tak dapat bertahan pada serangan keduanya.

Liburan Rammadan dan Natal tahun itu menjadi saat-saat terkelam sepanjang 17 tahun hidupku di dunia ini.

Nah, maka mari kita beralih pada Rammadan tahun ini, 2013. Sekarang aku berada di pertengahan bulan Rammadan, dan kondisiku ternyata tak ubahnya tahun-tahun sebelumnya. Aku tidak tahu apa yang akan terjadi nanti, tapi aku akan menceritakan apa yang telah terjadi dan harapanku di masa yang akan datang.

Menjelang liburan Rammadan yang bertepatan dengan liburan kenaikan kelas. Aku dikejutkan dengan kondisi Eyang Putri-ku yang memburuk dan harus dirawat di rumah sakit—rumah sakit yang sama yang menjadi tempat Papa-ku dirawat tahun 2012. Hal itu menimbukan kembali ketakutan-ketakutan, kemungkinan-kemungkin terburuk, dan lain sebagainya. Well, aku  tak akan menjelaskan lebih lanjut kisah ini karena sudah kuceritakan di coretanku sebelumnya. Kondisi Eyang Putri-ku sekarang stabil, meski sempat masuk rumah sakit lagi beberapa hari karena muntah darah, tapi aku yakin kondisinya tak akan memburuk dalam waktu dekat.

Di awal bulan Rammadan atau puasa, aku disibukkan dengan kegiatan Sinode Keuskupan Banjarmasin. Sinode itu semacam sidang yang dilaksanakan oleh seluruh umat Katolik di Kalimantan Selatan untuk menentukan tujuan  Gereja di keuskupan ini ke depannya; aku benar-benar merasa bangga dengan mengambil bagian sebagai notulen dalam sidang tersebut. Kegiatan tersebut baru saja selesai hari Jumat kemarin, dan aku berencana untuk pergi ke MuaraTeweh hari Senin besok untuk berlibur sekaligus mengurus pembuatan KTP dan SIM-ku.

Tapi ternyata, hahaha, Tuhan selalu saja tak membiarkanku untuk menikmati Liburan Rammadan-ku. Pertama, aku mendapat kabar bahwa jalan menuju Muara Teweh ternyata mengalami longsor hingga tak dapat memiliki kepastian untuk pergi. Kedua, huuuft, ternyata aku mengalami kecelakaan lagi.

Tadi siang, motor yang aku kendarai menabrak kendaraan lain yang berbelok tiba-tiba di depanku. Orang yang kutabrak tak mengalami luka atau bahkan jatuh dari sepeda motor, tapi aku? Aku jatuh dan mengalami luka pada dagu dan lutut. Luka pada lututku yang baru ini bersisian dengan luka yang kudapat dua tahun yang lalu, dan semakin memperburuk pemandangan. Hatiku benar-benar teriris saat melihat luka di lututku itu dan langsung menangis saat mendapati luka di daguku mengeluarkan darah cukup banyak.

Saat itu aku tidak pingsan, aku langsung di bawa ke rumah orang yang berbelok sembarangan itu karena tak begitu jauh dari KTP. Motorku lecet meski masih bisa dikendarai, dan orang itu meminta maaf padaku berkali-kali; ngomong-ngomong, aku menduga umurnya tak beda jauh dariku, sekitar akhir umur belasan. Pembantu di rumah itu memberiku obat merah dan air putih, beberapa orang memintaku untuk di bawa ke klinik,  tapi aku muak dengan suasana itu. Setelah beberapa saat di rawat aku langsung pamit pulang, mengabaikan keinginanku untuk menuntut biaya berobat dan memaafkan mereka.

Sampai di rumah aku bilang sekenanya saja kalau aku habis jatuh dari motor kepada Om dan Tanteku, dan langsung memberi obat salep pada luka-lukaku. Lalu tepar, tidur dan berdoa.

Well, itu kondisiku di pertengahan liburan Ramadanku tahun 2013. Malam ini sembari menulis coretan ini aku mulai merenungi segala kejadian yang terjadi selama tiga tahun terakhir ini. Aku tahu ini mungkin sebuah pertanda, wahyu yang Tuhan kirimkan padaku agar aku sadar menjadi lebih dekat padanya… Ah, bukan, bukan menjadi lebih dekat pada-Nya. Tapi menyadari kehadiran-Nya di sisiku. Tuhan selalu ada di mana pun aku berada, bahkan sekarang ketika aku tengah menulis coretan ini.

Tuhan membimbingku untuk sadar dan semakin bertekun dalam iman. Meski memerlukan waktu sampai tiga bulan Rammadan agar aku sadar akan kuasa dan hadirat-Nya disepanjang helaan napasku; terlambat tetap lebih baik dari pada tidak sama sekali.

Malam ini aku menangis sembari berdoa dan menggengam Rosario. Aku sadar inilah saatnya aku berubah menjadi sosok yang lebih baik dan kuat; akan kucanangkan devosi kepada Bunda Maria mulai malam ini hingga di sisa hidupku. Imanku menyakini, doa-doa yang terhatur melalui Bunda Maria akan tersampaikan pada Putra-Nya yang Tunggal, diamini Bapa di Surga dan akan kembali padaku melalui Roh Kudus.

🙂

Benar, bulan Rammadan memang bulan yang penuh berkah, tidak hanya bagi saudara-saudaraku yang beragama Muslim, tapi juga bagiku. Karena melalui setiap kejadian yang terjadi di Bulan Rammadan, imanku semakin kuat dan teguh.

Terima kasih.

Banjarmasin,

21 Juli 2013

03.14 WITA

Atas nama Bapa dan Putra dan Roh Kudus

[Resensi Buku] The Way We Were – Sky Nakayama

Judul                     : The Way We Were

Penulis                 : Sky Nakayama

Penerbit              : Gagas Media

Terbit                    : 2013

Tebal                     : 257 halaman

Rate                       : 3/5

Ihiy, buku kedua Kak Omi yang aku beli dan baca. Nah, karena ini sudah buku kedua, aku benar-benar berharap sangat besar pada buku ini!

Cerita dikit, setengah dari buku ini aku baca sekitar jam 2 malam karena gak bisa tidur dan akhirnya tuntas jam 4-an WITA. Buku ini berhasil membuatku penasaran karena menunggu-nunggu klimaks seperti gunung berapi meletus di kepalaku. Dan apakah aku menemukannya? Sayangnya, sampai buku ini tutas kulahap, gunung berapi itu tak meletus-leteus juga.

Beberapa hal unik yang dapat kuambil dari buku ini adalah pertama, cover dan ilustrasi-ilustrasinya. Di cover ada dua pasang tangan yang terlihat saling menyambut dan menurutku itu sangat manis tatkala disandingkan dengan judul bukunya The Way We Were. Mulanya melihat cover yang begitu aku mengira cerita ini adalah tetang sepasang muda mudi yang memiliki masa lalu yang berhubungan, tapi ternyata enggak, hihihi, ini tetang bagaimana cara mereka menemukan apa itu cinta sesungguhnya.

Lanjut ke isi, novel ini bercerita tentang seorang gadis bernama Laut Senja—nama tokohnya keren ya?—yang mengalami pergolakan dengan keluarganya yang rusak karena sang ayah ketahuan selingkuh. Akhirnya, gadis ini pun memutuskan untuk kuliah di bandung dan menghindari orang rumah, terutama ibunya yang Laut anggap tak pernah menyayanginya setara dengan kakak-kakaknya.

Di saat yang bersamaan, Laut yang juga gak pernah merasakan cinta akhirnya merasakan getaran aneh itu tatkalah ia bertemu dengan Oka dan Kei. Kedua cowok itu adalah sahabat, awalnya, bagi Laut mereka berdua hanyalah kakak. Tapi lama kelamaan, setelah begitu banyak kejadian terlalui,Laut sadar kalau Kei-lah yang selalu ada di saat paling berat dalam hidupnya. Padahal, di lain pihak Oka justru lebih punya perasaan ingin melindungi Laut; Oka jatuh cinta dengan Laut sejak pertama kali mereka bertemu.

Well, apakah cinta ini berjalan mulus dalam bentuk segitiga ini? Ternyata masih ada satu habatan lagi. Sahabat Laut yang bernama Alin pun ambil bagian dalam cinta yang rumit ini. Alin juga jatuh cinta pada Kei. Woah, ternyata cinta segi empat, sodara-sodara! Sementara Laut sedang depresi menghadapi keluarganya, ia pun harus terjebak dalam perasaan konyol bernama cinta itu.

Nah, bagaimana kah ending-nya?  Bagaimana Laut menghadapi keluraganya? Bagaimana akhirnya cinta menuntun Laut kepada orang yang tepat? Mari beli buku ini segera!

Jeng-jeng! *taruh senter di bawah muka* Sekarang waktunya kasih pendapat pribadi ke buku ini. Berikut beberapa hal yang menurutuku kurang gereget.

Pertama adalah ketidakkonsistenan konflik utama dalam buku ini. Di buku ini ada dua konflik besar yang sama sekali tidak memiliki jembatan atau benang merah, yaitu keluarga Laut yang hancur karena ayahnya selingkuh dan cinta segi empat antara Laut, Oka, Alin, Kei. Kedua konflik besar ini berjalan beriringan dan kadang terasa saling rebut-rebutan perhatian. Di bab-bab tertentu konflik cinta lebih dominan, tapi tiba-tiba saja diserobot langsung sama konflik keluarga. Perasaan pembaca yang sudah berbunga-bunga langsung jatuh ketika cerita berlari dengan kecepatan cahaya ke konflik keluarga.

Sebenarnya, gak masalah sih untuk dua konflik besar kayak gini dalam novel, menurutku. Banyak juga novel-novel yang mengangkat cerita multi-konflik, tapi kadang kala aku sebagai pembaca menginginkan hanya satu konflik utama dalam cerita yang bisa dieksplor lebih dan tidak tanggung-tanggu, lalu konflik utama itu diselesaikan dengan diikuti konflik lanjutan yang juga selesai seiring dengan konflik utama itu. Tapi sayangnya, aku kesulitan menemukannya dalam novel ini.

Kedua, tetang alur maju mundur yang sering digunakan penulis. Aku pribadi sih enggak masalah, tapi seperti yang pernah kubilang diresensi sebelumnya, kadang terlalu banyak bikin kurang greget. Beberapa contoh alur maju-mundur yang membuatku sedikit terganggu adalah pada saat momen pernyataan cinta Laut pada Kei, kemudian saat Laut menemukan foto ibunya dan Tante Kartika, dan saat Oka berbicara dengan Dennis. Alur maju-mundur bikin kita mampu menuliskan dua cerita dalam satu momen sekaligus sehingga mempersingkat alur dan memperdalam perasaan pembaca pada tokoh karena si tokoh melamunkan kejadian yang lampau. Tapi karena alur maju-mundur sering sekali ditemukan dalam buku ini, kadang kala pembaca pun jadi bingung sampai mana ceritanya telah berjalan. Karena saat kita sudah maju menikmati cerita, penulis mengajak kita mundur kambali dan kemudian maju, lalu mundur lagi.

Ketiga, kebetulan-kebetulan, dari buku sebelumnya aku sudah tahu penulis memiliki sense twist yang menonjol dalam bidang kebetulan. Tapi menurutku, ada beberapa kebetulan yang menurutku agak dipaksakan dalam cerita ini. Contohnya, saat Laut bertemu Tante Kartika di Bali, Laut bertemu Kei di Lombok, laut ketumu Oka di bus. Sebenarnya gak begitu kentara sih kebetulannya, mungkin karena aku terlalu sensitif kali ya. Hahaha.

Keempat, Mikroekonomi. Uhuk, saya gak ngerti. Hahaha. Dalam salah satu adegan di buku ini, Oka ngajarin Laut tentang mikroekonomi yang dijelaskan secara rinci dari halaman 169 sampai halaman 174. Berhubung aku gak ngerti, sebenernya kepengen aku skip, tapi entah mengapa aku selalu menganggap setiap adegan dalam cerita memiliki suatu alasan. Jadi, kubaca adegan itu dan akhirnya menemukan alasan adegan itu nantinya akan berujung pada romantisnya Oka mendapatkan ide untuk mengecat langit-langit kamar Laut. So sweet, terbalas aja sih baca mikroekonomi itu, tapi tetap aja sedikit menggangguku.

Terakhir, antiklimas yang kurang menelan. Aku sih berharapnya bakal ada adegan cetar membahana ulala di endingnya yang mampu menuntaskan dua konflik besar itu. Tapi, sayaaaaang banget, anti-klimaksnya di mulai saat Laut kabur-Laut kembali-Keluarga Laut bersama selingkuhan ayahnya musyawarah-pertengkaran besar-berakhir saat Laut menasihati kedua orangtuanya-Laut menikah. Ah, mana lagi nih halamannya? Mau lagi! Mau baca lagi! Kecewa berat saat buku ini habis karena aku masih mau lebih dari itu 😦

Oh ya, sedikit spoiler sih, di awal kalian mungkin bakal ngerasa ada cinta-cintaan gitu antara Oka dan Laut. Tapi sadar gak sih, kebanyakan yang bilang deg-degan, suka, tertarik itu berada di sudut pandangnya Oka; bukan Laut. Aku sendiri baru sadar pas si Laut tahu-tahunya suka sama Kei. Hahaha. Sendirinya kaget kenapa tiba-tiba Laut suka sama Kei, padahal di awal cinta-cintaan gitu sama Oka, tapi ternyata itu semua hanya perasaan Oka. Aduh. Good job banget sih debu bintangnya dari penulis.

Baiklah, kesimpulannya bintang 3, pengennya sih kasih 4 karena buku ini bagus sekali. Tapi mengingat beberapa catatan yang kutliskan di atas, aku rasa hanya bisa memberikan bintang 3. Hehe. Buku ini sangat cocok bagi kalian yang suka membaca buku yang mampu mengombang-ambingkan perasaan kalian sebelum akhirnya menyeret ke perairan yang tenang. Seperti Laut!

[Resensi Buku] Paris: Aline – Prisca Primasari

Paris

Judul                     : Paris: Aline

Penulis                 : Prisca Primasari

Penerbit              : Gagas Media

Terbit                    : 2012-2013

Tebal                     : 214

Rate                       : 5/5

Pernah gak sih ngerasa bosan dengan tokoh cowok yang cool, jaim, cuek, dewasa di dalam novel?  Dan bosen sama tokoh cowok yang punya tipe-tipe Tsudare, sebenarnya cinta tapi sok diem dan malah bilang benci? Well, Kalau kamu memang ngerasa seperti itu, coba deh baca buku ini, dijamin kalian gak bakalan ketemu sama cowok yang bertipe seperti itu!

Namanya Aeolus Sena, dia adalah cowok aneh yang mengajak tokoh utama cewek kita, Aline Ofeli, untuk untuk ketemuan di penjara paling mengerikan di Paris. Aline menemukan porselin milik Sena yang pecah, dan berniat untuk mengembalikannya karena porseline itu sepertinya berharga bagi Sena.

Beberapa hal unik dari buku ini adalah alurnya yang bisa kunikmati karena tidak begitu sulit dan asyik. Selain itu hubungan Sena-Aline yang gak canggung, dan cenderung sering berantem membuatku merasa senang karena berasa nonton orang pacaran beneran. Hahaha. Biasa kan kalau di novel-novel pake acara canggung, malu-malu, dll. gitu. Terakhir dan salah satu alasan terbesar kenapa aku memberi bintang 5 adalah si Aeolus Sena ini. Penulis sangat berhasil menggambarkan sifat dan karakter Sena yang urakan, suka teriak-teriak sendiri, ceplas-ceplos, dll. Hingga aku merasa terkejut dan sedikit berdebar-debar karena di balik semua sifat Sena yang sinting itu ternyata dia menyembunyikan sesuatu dari Aline. Sesuatu yang menjawab seluruh pertanyaan Aline tetang kenapa harus bertemu di penjara? Kenapa Sena bertingkah seolah-olah ia baru pertama kali datang ke Paris padahal ia sudah kuliah 4 tahun di sana? Kenapa Sena bekerja di tempar reparasi mesin tik?

Dan jika kalian ingin tahu jawabannya bersama dengan Aline, silakan beli buku ini di toko buku terdekat dan temukan rahasianya!

Well, meskipun aku sangat suka buku ini dan memberi bintang lima. Ketahuilah, masih ada beberapa error yang kutemukan di buku ini. Pertama, penyebutan ibu-mama yang berbeda yang menjurus pada orangtua perempuannya  Sévigne Devereux pada halaman 114, Aline dan Sévigne menggunakan panggilan Mama, sedangkan padaha bagian akhir Halaman 194, meski hanya sekali Aline menggunakan ibu. Yah, anggaplah aku terlalu teliti, tapi kadang yang gak konsisten gini bikin aku sedikit terganggu ketika aku suka banget sama bukunya. Kedua, tentang penggunaan bahasa Prancis yang tidak menggunakan catatan kaki. Rada bete juga sih yang ini, aku tidak akan menyebutkan satu-satu kata-kata perancis itu karena selain ribet ngetiknya juga banyk banget. Hahaha.

Jadi yah, kesimpulannya adalah bintang 5, karena apa? Karena aku suka sama tokoh Sena di sini. Behubung karena si penulis ini Otaku sama sepertiku, dan Sena menginprementasikan tokoh cowok-cowok anime banget yang jarang ditemui di novel-novel Indonesia kebanyakan, jadi yah gitu deh. Gimana? Subjektif? So What sih, hahahaha. Pokoknya buku ini pantas dimasukan ke dalam daftar bacaan kalian!

Embun

embun-pagi

“Hah…”

Embun mendesah jengkel, menciptakan pendar-pendar uap air di sekitar wajahnya. Sebentar lagi fajar dan itulah waktu di mana ia harus bekerja untuk memandikan anak-anak bumi di bawah kaki tak kasatmatanya.

“Ayolah, Pak Matahari, aku sudah tidak sabar menunggumu,” keluh Embun dengan wajah gusar. “Aku ingin cepat-cepat menyelesaikan pekerjaan membosankan ini.”

Pak Matahari yang sedang tertatih-tatih memanjat langit hanya tertawa kecil, telah terbiasa mendengar gerutu Embun yang selalu tak sabaran. “Embun… Embun, bersabarlah sejenak, nikmati harimu.”

Embun membuang muka. “Oh, Pak Matahari, aku bosan! Pekerjaanku sungguh tak berguna!”

Tes. Tes. Tes.

Ketika Pak matahari mulai tinggi, Embun pun menapaki anak-anak bumi. Didengarnya tawa kegirangan bocah-bocah liat itu tatkala kaki-kakinya menyiramkan air dalam bentuk pertikel. “Lihat mereka,  tak ada satu pun dari anak-anak Bumi yang berterima kasih padaku. Mereka selalu bersyukur pada Nona Hujan, dan melupakan peranku di setiap paginya. Oh, aku sungguh tidak berguna!” keluh Embun untuk yang kesekian kali.

Mendengar keluhan yang nyaris berulang di setiap paginya, Pak Matahari pun prihatin, sembari memanjat ia berpikir untuk membuat Embun untuk lebih percaya diri. Hingga beberapa saat sebelum Embun menghilang dari hadapannya, Pak Matahari pun menawarkan pekerjaan sampingan untuk Embun.

“Embun, apa kau melihat batu besar yang ada di sana?”

“Yang mana Pak Matahari? Apakah yang berada  di bawah pohon besar itu?”

“Ya, batu itu,” jawab Pak Matahari sembari menerikkan sinarnya. Embun pun mendekati batu itu dan menjejak kaki-kakinya, tak berpengharuh besar pada kedudukan batu yang stagnan.

“Apa yang kaumau dariku, Pak Matahari? Apa aku harus memecahkan batu ini? Hahaha.” Embun terbahak, merasa diri bodoh dengan lelucon yang ia buat sendiri.

Tapi Pak Matahari tak tertawa, ia menanggapi serius lelucon yang Embun buat. “Benar, aku percaya kau bisa memecahkannya.”

“Apa?!” Embun terbelalak, tubuhnya mulai memudar karena pekerjaannya sebentar lagi selesai. “Tapi bagaimana bisa?”

“Dengan kesabaran, Embun, dengan kesabaran. Panjatlah pohon itu lalu tunggu sampai tetes-tetes tubuhmu mencair dan akhirnya jatuh di atas batu itu. Percayalah, kau mampu memecahkannya.”

Embun bungkam, Pak Matahari semakin tinggi memanjat dan pekerjaan Embun pun selesai. Namun, Embun tak dapat berhenti memikirkan perkataan Pak Matahari tentang kemampuannya memecah batu.

***

Esok paginya, Pak Matahari memanjat dengan perasaan bingung; keluhan Embun tak menyambutnya seperti biasa. Ketika ia sudah cukup tinggi memanjat untuk melihat Embun, Pak Matahari  mendapati Embun tengah berkonsentrasi menapaki pohon di atas batu. Menanti dengan sabar tubuhnya mencair dan jatuh di atas batu.

Pak Matahari tersenyum simpul, sinarnya menerik senang. Ia tak berniat menyapa Embun sekarang, ia takut akan mengganggu konsentrasi Embun. Biarlah Embun bekerja hingga ia mendapatkan apa yang ingin dicapainya.

Maka, pagi berganti pagi, Embun dengan sabar menjatuhkan air di atas batu itu setiap paginya. Ia ingin sekali membuktikan perkataan Pak Matahari. Namun, telah lama berlalu, batu itu tak kunjung pecah. Ia menyerah berkali-kali, tapi Pak Matahari kembali meyakinkannya bahwa kesabaran adalah hal yang paling utama, dan Embun pun berakhir dengan mencoba memecahkan batu itu lagi.

Tes. Tes. Tes.

Embun berjuang keras, untuk meneteskan air di atas batu. Kadang kala Angin nakal mengganggunya dan menerbangkan tetesan airnya.  Tapi Embun memegang teguh perkataan Pak Matahari tentang kesabaran dan kemudian ia mencoba lagi. Tak ingin menyerah, atau bahkan berhenti lagi, sampai suatu hari…

Crak.

Embun terlonjak, ia mendengar sesuatu retak dan menyadari itu adalah permukaan batu yang saban pagi ia tetesi air. “Pak Matahari! Pak Matahari! Aku berhasil! Lihat! Batu itu pecah!”

Pak Matahari tertawa. “Embun… Embun… itu hanya sebuah retakan kecil. Apa kau puas dengan hanya retakan itu?”

Embun bungkam, sadar kalau dirinya terlalu cepat merasa puas. “Tidak, tidak. Tentu aku tidak puas, aku akan memecahkan batu itu! Pasti!”

Lalu, Embun kembali menetesi air pada batu yang mulai terkikis itu setiap paginya. Ia akan memanggil-manggil Pak Matahari ketika mendapati retakan baru pada batunya dan kembali menetesi batu itu agar lebih banyak retakan yang ia dapatkan. Ia tak akan puas sampai batu itu benar-benar pecah dan hancur. Ia tak akan pernah puas sampai keinginannya benar-benar tercapai!

Crak.

Embun terkesiap, ada sebuah retakan besar di batu yang  kini telah berlubang di sana-sini. Pak Matahari yang melihat itu pun menyadari kalau tak lama lagi keinginan Embun pun akan tercapai. Embun berdebar, beberapa tetesan lagi, iya yakin batu itu akan pecah. Dan…

Tes. Tes. Tes. CRAAAK!

Batu besar itu pecah. Embun berhasil!

“Pak Matahari! Lihat! Aku berhasil! Aku berhasil! Aku bisa memecahkan batu itu!!” Embun berlari kegiranganan, anak-anak Bumi pun semakin kebasahan, Pak Matahari tertawa lebar. Embun merasakan kekuatan yang tak pernah ia sadari menjalar di sekujur tubuhnya. Ia merasa menjadi Embun yang baru.

“Lihat Embun, lihat kemampuanmu!” Pak Matahari berseru di sela tawanya. “Embun sekecil dirimu bahkan bisa melakukan hal besar! Percaya dirilah! Percaya dirinya!”

Maka, mulai sejak itu, Embun semakin bersemangat menjalani pekerjaannya. Ia tak lagi menganggap remeh dirinya sendiri karena tahu bahwa dirinya lebih kuat dari yang ia kira. Embun hanya perlu bersabar dan yakin, bahwa ia bisa melakukan apa yang orang banyak kira mustahil.

Fin.

 

P.S:

Kadang kala kita merasa diri kecil dan tak berguna; kita semua sama seperti Embun, kita hanya tidak mau bersabar dalam mencapai tujuan kita. Percayalah, sabar adalah salah satu kunci terpenting dalam mencapai tujuan.

[Coretan Dicta] Gila, Dicta Kerja Magang?!

Halo, lama enggak corat-coret di mari, apa kabar kalian semuaaaaa? Well, sekarang mau cerita-cerita aja sih. Memang rada  gak nyambung sama judulnya, tapi ya sudahlah, blog-blog aku ini. Ya suka-suka aku! 😛

Okay, beberapa bulan belakangan ini aku sedang sibuk wara-wiri rumah sakit. Bukan, bukan aku yang sakit, tapi Eyang Putri. Sebenarnya, semenjak kehilangan Papa tahun lalu, aku sudah ilfeel dan benci banget kalau di suruh nginap atau pergi ke rumah sakit. Untungnya sih rumah sakitnya bukan rumah sakit tempat Papa berpulang, tapi Papa sempat dirawat lama banget di rumah sakit itu. Jadi ya… you know lah, aku bela-belain muter jalan biar gak lewat ruangan tepat Papa dirawat dulu. Hahaha.

Eyang Putri sakitnya lumayan parah, Lukemia, tapi aku masih belum tahu stadium berapa. Dokter yang seharusnya menangani Eyang Putri sedang seminar ke luar negeri, dan pulangnya masih tidak dapat diprediksi, jadi rawat jalan. Keliatannya sih, belum sampai stadium tinggi, berhubung Hb Eyang Putri belum kemakan habis sama Leukosit-nya dan dalam kisaran aman (Hb 7-8). Tapi tetep aja, aku sampai stres dan bingung sendiri.

Aku sayang banget sama Eyang Putri, gak bisa bayangin gimana hidupku tanpa beliau. Secara aku sekarang tinggal di rumah dia, meski bareng sama keluarga Om-ku, tapi tetap aja, rasanya bakalan beda banget. Gak ada lagi yang ngomelin aku, gak ada lagi yang masakin aku sayur bening, gak ada lagi nasihat-nasihat yang berulang-ulang, dan semuanya. Lagi pula, aku gak siap kehilangan orang-orang yang kucintai dalam kurun waktu dua tahun berturut-turut gini. Kalau Tuhan berkehendak meminta Eyang Putri duduk di sisinya, kuharap bukan dalam tahun-tahun terdekat ini. Aku belum kerja, aku belum bisa kasih apa-apa untuk beliau selain prilaku tidak genius dan kamar yang berantakan. Terlebih lagi, aku belum pernah ngajak calon cucu menantu ke rumah! #DUAK

Yah, berhubung Papa sudah tak bisa mendampingiku di hari pernikahanku kelak, aku ingin, kali ini Tuhan memberiku kesempatan menunjukkan pada Eyang Putri betapa aku bahagia bersanding di depan altar bersama orang yang akan menjadi pasanganku menghabiskan sisa hidup ini (Wetseh!). Ayo, comblangin aku ke siapa gitu? Biar lulus SMA aku langsung nikah *dirajam*.

Oh ya, tadi aku ada ngebahas soal pekerjaan ya? Okay, let’s go back to the title. Sebenarnya, pekerjaan ini datang tanpa kuduga-duga. Eyang Putri yang beberapa hari yang lalu baru keluar dari rumah sakit dan sekarang nginap di rumah tanteku yang satu lagi (di Banjarmasin, anak Eyang Putri ada dua) tiba-tiba saja tadi siang ngajak aku ngobrol di meja makan dan bilang kalau Om-ku sedang nyari pegawai magang dan tanya apa aku mau kerja sama Om-ku itu.

Sontak aja aku mengangguk senang! Sebenarnya, sudah lama aku pengen nyari kerja sambilan atau apa gitu. Tapi selalu dilarang sama Mama (dan Papa yang waktu itu masih ada) dengan alasan kalau tugasku sebagai anak itu belajar aja gak usah mikirin nyari uang gitu. Ya sudah deh, urunglah niatku magang selama dua tahun di SMA.

Terus, gak berapa lama setelah Eyang Putri ngomong kayak gitu, Om-ku yang nawarin kerjaan tadi pulang ke rumah. Sontak deh aku nodong dengan bersemangat, “Om, nyari pegawai magang ya?” Om aku yang baru pulang dari kebun langsung kagok dan bingung, mungkin dia sudah lupa gitu pernah nawarin kerjaan gitu ke Eyang Putri. Hahaha. Tapi akhirnya dia iya-iya aja dan pas kutanya jam kerja dan lain-lain (soal gaji gak kutanya, malu ah) ini beberapa hal yang dapat kutangkap dari pekerjaanku.

  1. Aku bekerja sekurang-kurangnya 2 jam per hari.
  2. Hal-hal yang aku kerjakan cuman membuat nota-nota pemasukan-pengeluaran, mencocokan harga barang, in put-out put data, dan lain-lain.
  3. Waktu kerjanya fleksible, pas pulang sekolah atau sore-sore. Soalnya kerjanya di rumah Om aku juga, pegawainya cuman aku aja. Jadi ya, semacam kelonggaran karena aku keluarga kali.
  4. Kerjanya gak setiap hari. Buahahahaha, paling enak nih! Soalnya Om beli-jual barangnya gak setiap hari juga.

Nah, itu aja sih bayangan aku kerja nanti. Kelihatannya mudah dan enggak seribet kerja kantoran beneran. Tapi ini pengalaman pertamaku! Aku sama sekali gak pernah magang atau kerja beginian. Meski yang memperkerjakan aku Om-ku sendiri, tapi tetap saja aku harus profesional dan gak menye-menye. Suatu hari nanti aku pasti ngerasain kerja beginian, dan menanggapi pengalaman pertamaku ini dengan serius pasti jadi acuanku untuk kedepannya. Huft. Serem juga ya kalau mikirin masa depan? Semoga di masa depan aku bisa jadi pimpinan dan tak melulu jadi orang bawahan.

Aku mulai kerja normal kayaknya dalam beberapa hari ke depan, karena aku belum paham sistemnya dan istilah-istilah perkantorannya. Besok sih sudah mulai rutin ke sana, sembari jengukin Eyang Putri juga. Errmh, harus bangun pagi nih! Untungnya gak puasa sih, temen-temen yang puasa pasti enak banget adem anyem di rumah atau bahkan liburan. Tapi gak papa, demi uang jajan tambahan dan pengalaman, aku pasti bisa!

Anyway, ada gak yang mau bagi pengalaman soal kerja kantoran gini ke aku? Hitung-hitung berbagi dan saling membantu gitu. Hihihi.

My Stupid Teacher

papan tulis cinta

“Sumpah demi cendol Bang Ujang yang enaknya setengah mati, gue selalu benci liat muka tengil lu pas ngajar, Mo.”

Cowok yang berdiri di hadapan gue itu sontak tertawa sementara gue masih dengan tampang kusut duduk di kursi paling depan. Ruang kelas XII-IPA 4 sudah kosong melompong sejak satu  jam yang lalu dan hanya menyisakan gue dan seorang guru di dalamnya. Pelajaran terakhir tadi Matematika, dan karena dari 35 murid di kelas ini cuman gue satu-satunya siswa yang remedial pelajaran kancrut itu, gue akhirnya dapat pelajaran tambahan dari guru yang bersangkutan.

“Tapi gini-gini gue kan tetap guru lu, Van.”

Guru bernama Bimo Anggoro itu mengambil langkah mendekati meja gue lalu meletakan kertas ulangan gue di sana. Secepat kilat gue membuang muka ke tembok, gak sudi mendapati angka tiga tertoreh di kertas itu.

“Dua ulangan terakhir kamu merah semua, Veronica Vanya, bapak harap kamu bisa memperbaikinya di ulangan selanjutnya.” Bimo tiba-tiba ngomong pakai bahasa yang biasa dia pakai saat di kelas, dan seketika itu juga gue makin enek berlama-lama menghirup udara di ruangan sama dengan dia.

“Ini semua gara-gara lu! Kenapa sih lu harus ngajar di sekolah ini?” balas gue ketus; mendelik sinis ke arah cowok itu.

Bimo melotot. “Kok gue?”

“Gue gak suka kalau lu ngajar gue!” Gue to the point, udah sejak awal semester kemarin gue pengen protes soal ini sama cowok itu, tapi gue selalu gak bisa nemu waktu yang tepat. Ah, bukan gak nemu sih, gue bahkan gak punya waktu untuk ngomong berdua aja sama Bimo. Cowok itu terlalu sibuk ngajar!

Baca lebih lanjut

[Resensi Buku] Melbourne: Rewind – Winna Efendi

Melbourne Rewind

Judul                     : Melbourne: Rewind

Penulis                 : Winna Efendi

Penerbit              : Gagas Media

Terbit                    :  2013

Tebal                     : 328 halaman

Rate                       : 4 / 5

Kalian suka baca buku sambil mendengarkan lagu? Tapi kadang-kadang lagu-lagu itu gak singkron dengan apa yang dibaca dan bikin kalian gak mood baca lagi? Hahaha. Melalui Melbourne: Rewind, Kak Winna Efendi memberikan solusinya.

Di lembar awal, kalian akan menemukan track list lagu yang dibagi menjadi empat bab—rewind, pause, play, fasr forward—masing-masing bab itu memiliki empat lagu yang menggambarkan setiap cerita yang terjadi di dalam cerita. Benar-benar membuatku tertarik dan akhirnya men-download semua lagu tersebut yang bertotal 16 lagu dan mendengarkan lagu-lagu tersebut sesuai setiap bab cerita yang tengah kubaca. Dan ternyata, lagu-lagu itu keren semua! Yang paling kusuka adalah Kiss Me Slowly-nya Parachute, One and Only-nya Teitur, dan Life After You-nya Daughtry. Bahkan setelah aku menuntaskan novel ini, aku masih mendengarkan lagu-lagu itu berulang kali.

Okay, cukup untuk sesi unik dari novel ini, langsung aja ke jalan ceritanya. Well, tema utamanya sih simple, CLBK (cinta lama bersemi kembali). Cuman Kak Winna mengemasnya dengan sangat epic dengan melibatkan perasaan para tokoh utama dalam cerita ini.

Si cewek bernama Laura dan si cowok bernama Max. Mereka dulu pacaran saat kuliah di Melbourne, Laura di jurusan perbankan dan Max jurusan yang ngurusin soal cahaya—karena cowok ini rupanya terobesesi sekali dengan cahaya. Ketemuan awalnya saat si Max ngambil walkman-nya Laura di tempat barang hilang karena ngira kalau walkman itu gak ada yang punya. Lalu, gitu deh, mereka kenalan ngerasa cocok satu sama lain dan akhirnya pacaran.

Mereka pacaran dengan cara yang berbeda, mereka pacaran karena masing-masing dari mereka telah terbiasa satu sama lain dan tahu luar dalam. Salah satunya selalu menghabiskan waktu di sebuah café  yang bernama Prudence. Di tempat ini pertama kali mereka berkencan dan mulai merasakan getar-getar cinta (wetseh!).Tapi sayang, mereka pacaran gak lama, mereka harus putus ketika salah satu pihak memiliki mimpi yang sangat besar.

Mereka akhirnya ketemu lagi beberapa tahun kemudian, si Laura sudah jadi penyiar radio midnight dan si Max jadi penata cahaya atau lighting di konser-konser. Mereka ketemu tanpa saling adu argumen, justru mereka bertemu dan menjalani hari-hari yang sama seperti yang mereka jalani saat pacaran dulu. Mereka merasa tak punya beban karena mereka gak pacaran lagi. Mereka nyaman menjadi teman saja.

Yeah, itu sih yang mereka harapkan, tapi ujung-ujungnya ya sudah dapat dipastikan kalau mereka punya rasa lagi (if you know what I mean lah). Konflik lainnya adalah saat Laura berkenalan dengan evan yang merupakan pacar Cee, sahabatnya. Evan ternyata adalah pendengar rutin siaran radionya dan memiliki selera musik yang sama persis dengan Laura. Laura benar-benar merasa menemukan orang yang cocok dan tiba-tiba saya benih-benih cinta tumbuh di hatinya; sejenak melupakan kehadiran Max yang selalu ada untuknya. Tapi menurutku konflik ini sih cuman sekedar pemicu klimaks ketika Max akhirnya bilang kalau dia… Uhuk, apa ya? Cek sendiri ya di bukunya! Hahaha.

Poin plus dari buku ini sudah jelas konsepnya sepert track list lagu itu. Sooooo, genius! Baru pertama kali beli buku yang menghadirkan lagu sebagi soundtrack setiap cerita. Love. Terus, penggunaan sudut pandang orang pertama yang dibagi dua antara Max dan Laura juga keren, dapet banget feel-nya. Memang cocok untuk menceritakan novel dengan konflik seperti ini karena kita perlu tahu perasaan masing-masing individu utamanya 😀 Terakhir, soal latarnya, meski hanya berkisar tentang musik, aku sangat menikmati penggambarannya yang bagus. Festival musik, bioskop di atas atap, dll. Nice to know ada hal-hal seperti itu di Melbourne. Makasih Kak Winna!

Dengan semua kelebihan itu, pada awalnya mau kasih buku ini bintang 4,5 sih, tapi aku kurangin jadi 4 karena beberapa alasan. Pertama, the ending make me mencak-mencak. Masalahnya, mungkin karena ketiadaan dialog, memang narasinya super bagus dan ngejelasin segalanya. Kalau dengan hanya duduk di depan Max kembali di café Prudence, itu tandanya Laura telah menuntaskan penantian cowok itu dan rujukan. Tapi yah, rasanya ada yang kurang gitu, kayak makan nasi goreng gak pake garem. Hambar. Well, mungkin ini terdengar sedikit subjektif sih, tapi itu pendapatku.

Kedua juga yang terakhir, Konfliknya kurang gereget. Intinya CLBK, si cowok sadar kalau dia masih ada rasa, pemicunya untuk ngaku karena si cewek suka pacar sahabatnya sendiri. Cemburu, gitu sih. Somehow, terasa terlalu simple untuk buku 328 halaman. Ada sih intrik-intrik tentang cerita masa lalu, tapi enggak cukup kuat untuk menopang ceritanya 😦 I want more. Hehehe.

 Yak, jadi kesimpulannya bintang 4 ya, minus satu bintang karena ending-nya yang gitu dan konflik-nya yang kurang gimana-gimana. Buku ini sangat cocok untuk kalian yang suka dengar-dengar lagu lawas atau suka mendengarkan musik sembari membaca. Ada kesan dan perasaan tersendiri yang akan kalian dapatkan dari buku ini.

Ayo, dengarkan!

[Resensi Buku] The Timekeeper – Mitch Albom

Judul : The Timekeeper

Penulis : Mitch Albom

Penerbit : Gramedia Pustaka Utama

Terbit : Oktober, 2012

Tebal : 312 Halaman

Rate : 5/5

“Ada sebabnya Tuhan membatasi Hari-hari kita.”

“Mengapa?”

“Supaya Setiap hari itu berharga.” – The Timekeeper, halaman 288 

Tanpa berpikir dua kali aku memberikan bintang 5 pada buku ini. Buku inspiratif yang mengajarkanku menghargai setiap waktu yang Tuhan berikan padaku setiap harinya.

Buku ini menceritakan tentang kisah seorang pria bernama Dor, yang hidup di zaman dahulu kala, dan diceritakan sebagai pria yang menemukan jam pertama kali. Ia yang memiliki rasa penasaran pada waktu dan pengukuran-pengukuran akhirnya mendapatkan ‘berkah’ menjadi seorang Penjaga Waktu yang tak bisa mati dan hidup dalam pertapaan di dalam gua; merenungi hidupnya yang hancur setelah kepergian istrinya Alli, dan dipaska keluhan-keluhan manusia tentang waktu.

Lalu, sebagai tugas akhir, Dor diperintahkan untuk pempertemukan dua orang manusia yang memiliki problematika kehidupan mereka masing-masing. Sarah Lemon, seorang siswi yang memiliki hubungan buruk dengan ibunya setelah kasus perceraian kedua orangtuanya dan dibutakan oleh cinta pertama, dan Victor Delamonte, pria tua yang menyabet gelar orang terkaya ke-14 di dunia namun harus takluk melawan penyakit kanker dan gagal ginjal.

Kedua orang itu hidup di dunia yang sangat berbeda dan tujuan yang berbeda pula. Sarah ingin waktu berjalan sangat cepat, sedangkan Victor ingin waktu berjalan lambat. Dan setelah Dor mempertemukan mereka berdua dalam kondisi mereka yang nyaris mati, mata mereka pun terbuka dan menyadari, bahwa waktu yang lampau tak dapat diubah tapi harapan masa depan dan apa yang mereka miliki sekarang adalah hal yang paling berharga.

*sroooot* *ngelap ingus*

Fantastic!

I just love this book soooo much!

Jika kalian sudah muak dengan buku-buku roman picisan yang mempermasalahkan cerita remaja yang gitu-gitu aja? Kenapa enggak sekali-sakali kalian baca buku sepert ini? Buku inspiratif yang bakal menunjukkan cerita yang keren pada kalian tapi juga mengajarkan kalian tentang apa waktu itu sebenarnya.

Buing! Buing!

[Resensi Buku] Roma: Con Amore – Robin Wijaya

con amore

Judul : Roma: Con Amore

Penulis : Robin Wijaya

Penerbit : Gagas Media

Terbit : 2013

Tebal : 374 halaman

Rate :4/5

“Ada perbedaan tipis di antara benci dan cinta. Dan yang menyekat keduanya hanyalah perasaan tak mau memaafkan.” – Robin Wijaya, Roma:Con Amore, Halaman 336

Roma:Amore adalah salah satu buku terbaik yang aku punya. Buku ini mengisahkan tentang seorang pelukis bernama Leonardo Halim yang memiliki cita-cita besar mengadakan pameran tunggal bersekala internasional. Ia memiliki sebuah lukisan yang sangat personal berjudul ‘The Lady’, lukisan itu adalah lukisan seorang wanita dengan latar Gereja Santa Agnes, Roma.

Saat ia tengah mengadakan pameran bersama beberapa seniman lain di Roma,takdir mempertemukannya dengan Felice Patricia; seorang wanita yang bekerja di KBRI. Pertemuan pertama mereka dalam keadaan yang kurang menyenangkan karena ada masalah dengan pengiriman lukisan yang dibeli oleh bos Felice. Namun, meskipun begitu pertemuan itu sangatlah membekas bagi kedua insan tersebut.

Pertemuan kedua mereka terjadi beberapa bulan kemudian di Bali saat Felice ingin menghadiri pesta pernikahan kakaknya, Anna. Felice yang tanpa sengaja mengetahui bahwa Leo mengikuti acara pameran di sana berinisiatif datang dengan tujuan membunuh waktu agar ia tak perlu bertemu dengam Mamanya.

Kisah kedua insan ini pun berlanjut kembali di Roma saat Leo mendapat kesempatan ikut dalam tur pemran bersekala dunia. Kisah mereka menjadi menarik ketika masing-masing dari mereka sebenarnya sudah memiliki kekasih; Felice memiliki kekasih seorang Italian, bernama Franco, dan Leo memiliki kekasih yang memiliki profesi di bidang seni kaca, Marla.

Apa yang terjadi pada perasaan cinta yang bertumbuh di hati kedua insan ini? Hohoho, temukan akhir kisah mereka di buku keren ini.

Buku ini benar-benar seperti buku pemandu tur bagi kalian yang ingin ke Roma. Kak Robin Wijaya menggambarkan kota Roma benar-benar senyata mungkin. Aku gak tahu apa beliau pernah ke Roma atau hanya berbekal dengan riset di Google. Tapi yang jelas, nilai plus dari buku ini adalah penggambaran latar yang sangat nyata. Seolah-olah Roma-lah yang menjadi momok utama cerita ini. Well, judulnya aja Roma, pastilah Roma yang menjadi bintang utama dari cerita ini. Bugh! Udah deh, urusan latar dalam buku ini JUARA! Sejauh ini, buku Roma: Con Amore ini adalah satu-satunya buku yang berlatar luar negeri yang mampu memberiku gambaran kuat tentang latarnya (aku belum baca seri ‘Setiap Tempat Punya Cerita’ yang lain sih).

Plot cerita ini pun bagus, meski si Penulis adalah seorang pria. Kak Robin tak segan-segan mengangkat cerita tentang Romance dan berhasil mengesekusinya dengan sangat epic! Sesekali aku menemukan diriku tersenyum di awal buku, namun saat klimaks dari buku ini mulai muncul aku jadi manusia robot! Tegang bok! Pengen cepat-cepat antiklimaks. Dan menurutku, ending-nya pun sangat tidak mengecewakan. Just love it.

Tapi, seperti biasa, pasti ada minusnya kan ya?

Lagi-lagi ini masalah penerbit. Errmh, banyak banget typo dan kata-kata yang seharusnya diberi italic dibiarkan begitu saja. Satu dialog menggantung di halaman 276:

“Kenapa kamu membawa aku ke sini, Felice?” tanya Leo, memecah keheningan.

Aku hanya ingin berbagi dengan. Tentang sebuah tempat paling berharga. Yang aku cintai dulu dan kini,” jawab Felice, tenang.

Pas lagi adegan-adegan romantis nih, langsung rusak gegara typo seupil ini –” bikin rada bad mood bacanya.

Selain itu, aku rada sedikit terganggu dengan penggunaan bahasa Italia yang lumayan atau terlalu sering. Well, mungkin tujuannya untuk menghidupkan suasana Italia di buku ini. Tapi, penggunaan bahasa Italia pada hal-hal remeh seperti membedakan jalan dan jalan kecil itu rada ganggu juga. Since, istilah itu masih bisa diganti dengan bahasa Indonesia. Kurasa gak masalah kan ya? Hahaha.

Dialog dalam buku ini memang rada kaku, bukan dalam artian terlalu formal/baku atau apa pun itu. Tapi kesannya buku banget. Tapi bagian ini emang gak begitu mengganggu kok, toh aku sangat menikmati narasi dan dialognya yang sangat epic!

Kesimpulannya, bintang 4 ya! Minus satu bintang karena typo, penggunaan bahasa Italia yang sedikit berlebihan dan dialog yang rada kaku. Buku ini sangat cocok untuk kalian yang ingin bacaan ringan bertema Romance di sore hari yang tenang. Buku ini mampu membawa kalian ke Roma!