Diposkan pada Cerita Pendek, Romance

My Stupid Teacher

papan tulis cinta

“Sumpah demi cendol Bang Ujang yang enaknya setengah mati, gue selalu benci liat muka tengil lu pas ngajar, Mo.”

Cowok yang berdiri di hadapan gue itu sontak tertawa sementara gue masih dengan tampang kusut duduk di kursi paling depan. Ruang kelas XII-IPA 4 sudah kosong melompong sejak satu  jam yang lalu dan hanya menyisakan gue dan seorang guru di dalamnya. Pelajaran terakhir tadi Matematika, dan karena dari 35 murid di kelas ini cuman gue satu-satunya siswa yang remedial pelajaran kancrut itu, gue akhirnya dapat pelajaran tambahan dari guru yang bersangkutan.

“Tapi gini-gini gue kan tetap guru lu, Van.”

Guru bernama Bimo Anggoro itu mengambil langkah mendekati meja gue lalu meletakan kertas ulangan gue di sana. Secepat kilat gue membuang muka ke tembok, gak sudi mendapati angka tiga tertoreh di kertas itu.

“Dua ulangan terakhir kamu merah semua, Veronica Vanya, bapak harap kamu bisa memperbaikinya di ulangan selanjutnya.” Bimo tiba-tiba ngomong pakai bahasa yang biasa dia pakai saat di kelas, dan seketika itu juga gue makin enek berlama-lama menghirup udara di ruangan sama dengan dia.

“Ini semua gara-gara lu! Kenapa sih lu harus ngajar di sekolah ini?” balas gue ketus; mendelik sinis ke arah cowok itu.

Bimo melotot. “Kok gue?”

“Gue gak suka kalau lu ngajar gue!” Gue to the point, udah sejak awal semester kemarin gue pengen protes soal ini sama cowok itu, tapi gue selalu gak bisa nemu waktu yang tepat. Ah, bukan gak nemu sih, gue bahkan gak punya waktu untuk ngomong berdua aja sama Bimo. Cowok itu terlalu sibuk ngajar!

“Gue kan wali kelas lu juga, Van, mana mungkin gue berhenti ngajar. Ngerti dikit lah,” jawab Bimo dengan wajah melas, gue kembali buang muka.

Hening. Gue bungkam, dan Bimo pun begitu. Gue sebenarnya benci keheningan kayak gini, tapi untuk saat ini, gue rasa diam adalah pilihan yang tepat. Well, diam bantu gue memikirkan kembali hubungan konyol gue dan Bimo.

Cowok itu, Bimo, dan juga gue adalah teman masa kecil. Meski selisih umur 7 tahun, kami sering main bareng karena anak-anak yang ada di komplek perumahan kami ya cuman kami berdua. Gap umur yang besar pun gak bikin gue harus panggil dia Kakak, Abang, atau semacamnya. Gue sama dia biasa pakai lu-gue, justru Bimo sendiri yang minta untuk terus manggil dia begitu meski sekarang kami sudah besar—dia udah jadi guru matematika dan gue murid tingkat akhir sekolah menengah.

Gue nyaman dengan kondisi gue dan Bimo yang begitu. Gue sayang Bimo, dan menghargai dia yang tetap memerlakukan gue sama dari dulu sampai sekarang. Gue pikir, mungkin akan ada baiknya jika keadaan itu berlangsung untuk selamanya, karena bersama Bimo gue menemukan diri gue utuh dan nyaman.

Tapi, ketika gue tahu bahwa Bimo adalah guru yang bakal gantiin Pak Narmin—guru matematika gue sebelum Bimo—yang pensiun, semuanya gak sama lagi. Gue selalu bingung memosisikan diri gue saat bareng Bimo. Bimo yang selama ini gue kenal berbeda 180 derajat saat dia jadi guru di sekolah, dia berubah serius dan kaku dan gue gak siap menghadapi perubahan Bimo itu. Sungguh, gue gak tahu apa ini kutukan atau semacamnya, tapi intinya cuman satu.

Gue benci kondisi kami sekarang.

“Vanya.”

Gue tersentak, tiba-tiba aja Bimo manggil gue dengan nada serius yang bikin jantung gue kempat-kempot. Bimo jarang ngomong dengan nada kayak gitu ke gue, terakhir kali dia begitu saat gue gak sengaja nginjak mobil remote control-nya dan menyembunyikan benda rusak itu di bawah lemari, umur gue tujuh tahun dan dia empat belas; Bimo ngambek satu minggu sama gue waktu itu. Bimo selalu tahu tiap kali gue menyembunyikan sesuatu, dan semenjak kejadian itu, gue gak pernah mencoba bohong atau menyimpan rahasia dari Bimo.

“Jawab jujur, Van, kenapa lu gak suka gue ngajar di kelas lu?”

Gue memalingkan muka dengan menunduk dalam-dalam, tengkuk gue berkeringan dan dengan segera menggosoknya.

“Jangan coba bohong sama gue. Gue tahu lu nyembunyiin sesuatu, Van, lu selalu gosok tengkuk tiap kali lu nyoba cari alasan.”

Damn. Gue lupa kebiasaan gue yang itu.

“Vanya!”

Brak! Bimo menggebrak meja  dan gue langsung terlonjak kaget. Gue mengerjap beberapa kali, mencoba mengatur debaran jantung gue yang masih gak beraturan. Sejak kapan Bimo kayak gitu? Sejak kapan!?

“Mau lu apa sih, Van? Jawab gue!”

 “Gue mau kita balik kayak dulu!”

Brak! Gue berdiri dengan berani sembari balas menggebrak meja. Gue tahu kalau gue gak bisa lari lagi, gue udah capek sembunyi dari Bimo tetang perasaan gue sekarang. Lama-lama kayak gini mungkin bisa bikin gue masuk rumah sakit jiwa.

“Gue mau balik ke waktu lu belum ngajar di kelas gue atau bahkan di sekolah gue! Gue mau balik ke waktu lu dan gue belum punya hubungan lain yang namanya guru dan murid! Gue mau balik karena gue gak butuh diri lu yang sekarang, gue cuman butuh lu yang dulu!”

Air mata gue meleleh, hidung gue pun mampet dan bahu gue berkedut-kedut menahan tangis. Tapi gue tahu, gue masih belum selesai mengaku.

“Vanya…” Bimo menatap gue intens, gue balas menatap meski sosoknya kabur karena air mata. “Semua pasti berubah. Kondisi kita gak mungkin sama kayak dulu.”

“Bukannya lu sendiri yang bilang kalau kita gak bakal berubah, Mo?” suara gue mulai terdengar seperti suara anak kecil yang merengek. Tapi gue masa bodoh, gue tarik napas dalam-dalam dan mencoba untuk mengendalikan emosi gue yang mulai hancur. “Lu sendiri kan yang bilang sampai kapan pun kita bakal jadi Vanya dan Bimo yang sama? Iya kan?”

Bimo menatap gue kepayahan lalu bersedekap, gue tahu dia masih ingat dengan perkataanya itu. “Tapi sekarang kan lu juga murid gue, Van…”

“Dan itu yang gue gak mau!” suara gue meninggi, meski terdengar sedikit tercekik. “Kalau lu gak bisa pindah dari sekolah ini, gue aja yang pindah!”

“Apa? Lu gila! Lu kan udah kelas tiga! Mana bisa seenaknya kayak gitu?” Bimo mencengkram bahu gue dan memaksa gue menatapnya.

“Mending gue pindah sekolah dari pada gue gila karena lu!”

“Vanya! Kenapa sih lu ngotot banget gak mau jadi murid gue?!”

“Karena gue suka sama lu, Bego!”

Bimo melotot; gue menarik diri menjauh sambil sesekali terisak. Akhirnya gue ngaku juga. Gue udah gak peduli lagi dengan hubungan gue dan Bimo yang sekarang rusak karena pengakuan idiot gue itu. Dengan satu gerakan cepat gue menyambar tas ransel gue yang tersampir di sandaran kursi dan bergegas berbalik untuk pergi. Meninggalkan Bimo yang mematung; gak berusaha untuk mengejar gue dan memperbaiki keadaan.

Malam ini gue perlu berkotak-kotak tisu.

***

“Van, lu ke mana sih semingguan ini? Bolos ya? Atau lu pergi liburan gak bilang-bilang gue?” Diana, teman sebangku gue, langsung mencecar dengan pertanyaan-pertanyaan ketika gue baru aja duduk. Bel masuk sebenarnya sudah berdering sejak tadi, tapi gue sengaja datang telat karena gue menghindar berpapasan dengan seseorang di koridor.

“Gue sakit,” jawab gue sekenanya, gak sepenuhnya bohong kok, gue bener-bener sakit segala-galanya semingguan ini.

“Oh, gue kira lu liburan, udah mau nagih oleh-oleh gue. Hehehe.” Mendengar perkataan Diana itu gue langsung menepuk perutnya yang sudah melebihi lingkar pinggang rok sekolahnya.

“Eh, Pak Bimo semingguan nyariin lu terus tuh.” Gue tahu kok, dia juga hari-hari datangin rumah gue, batin gue. “Tiap hari kalau papasan sama gue dia selalu tanya apa gue tahu kabar lu gimana. Aneh banget. Lu ada hubungan apa sama Pak Bimo?”

“Gak ada,” jawab gue cepat sembari mengeluarkan buku Biologi dari dalam tas. “Mungkin karena gue izin gak pake surat kali, dia kan wali kelas.” Hubungan Bimo dan gue emang gak pernah gue kasih tahu ke siapa pun di sekolah, bahkan Diana yang masuk daftar sahabat gue pun tidak. Alasannya? Simple, gue cuman gak mau menyebarkan kenyataan bahwa Bimo adalah guru gue sekaligus sahabat masa kecil gue  malah bikin gue semakin muak sama dia dan perasaan gue sendiri.

“Oh, mungkin gitu kali ya…” Diana manggut-manggut.

“Selamat pagi, Anak-Anak!”

“Selamat pagi, Pak!”

“Eh? Pak Bimo?” gue melotot ke arah papan tulis, dan terkejut mendapati Bimo berdiri dengan stelan gurunya—kemeja lengan panjang, celana katun dan sepatu pentofel—di sana. Dada gue berdebar, menyadari betapa kangennya gue sama wajah Bimo selama satu minggu menghindari cowok itu.

“Pak Anwar yang ngajar biologi kalian sedang berhalangan pagi ini, jadi jamnya tukeran sama bapak yang siang. Sekarang simpan buku biologi kalian, dan buka buku matematika.” Sial, padahal gue sudah berencana untuk pura-pura sakit dan pulang cepat nanti.

“Veronica Vanya?”

“Van!” Diana menyenggol bahu gue dan menyadarkan gue dari keterpakuan akan kehadiran Bimo.

“Y-ya, Pak?” gue angkat tangan, dan mata Bimo menemukan gue di deretan bangku belakang.

“Ke mana kamu semingguan ini tidak masuk sekolah?” Bimo menatap gue dalam-dalam, meski dia bertanya dengan nada gurunya, gue tahu tatapan itu mengindikasikan Bimo yang selama ini gue kenal.

“Saya… emmh, anu, sakit Pak.”

“Sakit apa?”

“Vanya patah hati kali, Pak!” Seseorang menyeletuk dan langsung disusul tawa seisi kelas. Tapi gue gak tertawa, begitu juga Bimo yang masih menatap gue dengan cara yang sama; celetukan itu tepat sasaran.

“Sudah-sudah! Diam semua.”

Kelas masih ricuh meski sudah ditegur, tapi Bimo tak begitu ambil pusing dengan hal itu dan mengambil beberapa lembar soal dari sela buku-bukunya. Kemudian, ia melangkah mendatangi meja gue dan menyerahkan lembaran-lembaran soal itu.

“Kerjakan soal-soal itu sampai selesai. Itu hukuman karena kamu bolos pelajaran selama seminggu ini,” kata Bimo, lalu berbalik dan memandang seisi kelas. “Yang lain perhatikan papan tulis, kita lanjutkan pelajaran kita ke bab selanjutnya.”

Kelas berangsur-angsur hening, semua terfokus ke papan tulis dan memerhatikan Bimo yang sedang menerangkan pelajaran. Sementara gue mulai ngedumel dan mencak-mencak dalam hati sembari membuka lembar-lembar soal yang gak gue pahami itu.

Eh?

Gue mengerjap beberapa kali, menemukan sebuah kertas memo terselip di antara soal-soal itu.

Van, gue bakal sabar nunggu lu sampai lulus.

Tulisan tangan Bimo. Apa maksudnya dia nulis kayak gitu? Nunggu gue? Ngapain juga mesti nunggu gue sampai lulus?

Gue ambil kertas memo berwarna biru itu dengan dahi berkerut, masih bingung dengan maksud Bimo tetang menunggu di sini. Tapi, ketika gue membalik kertas tersebut dan mendapati ada kalimat lain yang tertera di sana, seketika itu juga segala sesuatunya menjadi terang benderang.

Gue juga suka sama lu, Bego!

Secepat kilat gue menatap Bimo yang masih mengajar di depan kelas; mata gue berair, gue siap menangis. Gue gak percaya Bimo-lah yang menulis pesan ini, sampai akhirnya cowok itu melirik sekilas ke arah gue dan tersenyum simpul.

Sialan. Gue yakin seisi kelas bakal menganggap gue gila karena tiba-tiba saja menangis sekencang ini.

Dasar guru bego!

Fin.

 

A/N:

Errr, udah lama gak nulis fiksi dan tiba-tiba saja comeback dengan nulis hubungan terlarang antara guru dan murid gini. Hahaha. Well, maklumi ya kalau hasilnya kurang memuaskan. Aku sudah berusaha sebisa mungkin menulis dengan baik. Hehehe. Terima kasih sudah membaca!

Iklan

Penulis:

Pecinta Naruto dan Conan, menganggap menulis adalah sebuah obsesi dan membaca buku sama dengan bernapas. Suka menghabiskan waktu di sudut kedai sendirian; ditemani laptop dan makanan yang paling murah di kedai tersebut :)

25 tanggapan untuk “My Stupid Teacher

  1. engg..*mikir* dulu ada g yak guru cowok disekolah yg tampan wkwk..
    Syukurlah Bimo jg suka sm Vanya, kalau g kan kasian dianya, udah patah hati trus ketemu tiap hari hihi… Ceritanya bagus Dict, tetap semangat buat nulis ya 🙂

      1. Kemarinff yg mau aku lombain udah di review sama kak Amer.. Lihat reviewnya sih aku jadi ngurungin niatku buat ngirimin.. Habis banyak banget sih yg musti dibenerin hahahaha… 😄

    1. Hahaha, saya juga sih Kak, pengeeeeen banget jadi Vanya dan ketemu Bimo di sekolahan. Hahahaha.

      Wah, kakak suka cerita2 cinta terlarang gitu ya? Hahaha. Terima kasih sudah membaca, silakan datang kembali.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s