Diposkan pada #14DaysofInspiration, Cerita Pendek

Embun

embun-pagi

“Hah…”

Embun mendesah jengkel, menciptakan pendar-pendar uap air di sekitar wajahnya. Sebentar lagi fajar dan itulah waktu di mana ia harus bekerja untuk memandikan anak-anak bumi di bawah kaki tak kasatmatanya.

“Ayolah, Pak Matahari, aku sudah tidak sabar menunggumu,” keluh Embun dengan wajah gusar. “Aku ingin cepat-cepat menyelesaikan pekerjaan membosankan ini.”

Pak Matahari yang sedang tertatih-tatih memanjat langit hanya tertawa kecil, telah terbiasa mendengar gerutu Embun yang selalu tak sabaran. “Embun… Embun, bersabarlah sejenak, nikmati harimu.”

Embun membuang muka. “Oh, Pak Matahari, aku bosan! Pekerjaanku sungguh tak berguna!”

Tes. Tes. Tes.

Ketika Pak matahari mulai tinggi, Embun pun menapaki anak-anak bumi. Didengarnya tawa kegirangan bocah-bocah liat itu tatkala kaki-kakinya menyiramkan air dalam bentuk pertikel. “Lihat mereka,  tak ada satu pun dari anak-anak Bumi yang berterima kasih padaku. Mereka selalu bersyukur pada Nona Hujan, dan melupakan peranku di setiap paginya. Oh, aku sungguh tidak berguna!” keluh Embun untuk yang kesekian kali.

Mendengar keluhan yang nyaris berulang di setiap paginya, Pak Matahari pun prihatin, sembari memanjat ia berpikir untuk membuat Embun untuk lebih percaya diri. Hingga beberapa saat sebelum Embun menghilang dari hadapannya, Pak Matahari pun menawarkan pekerjaan sampingan untuk Embun.

“Embun, apa kau melihat batu besar yang ada di sana?”

“Yang mana Pak Matahari? Apakah yang berada  di bawah pohon besar itu?”

“Ya, batu itu,” jawab Pak Matahari sembari menerikkan sinarnya. Embun pun mendekati batu itu dan menjejak kaki-kakinya, tak berpengharuh besar pada kedudukan batu yang stagnan.

“Apa yang kaumau dariku, Pak Matahari? Apa aku harus memecahkan batu ini? Hahaha.” Embun terbahak, merasa diri bodoh dengan lelucon yang ia buat sendiri.

Tapi Pak Matahari tak tertawa, ia menanggapi serius lelucon yang Embun buat. “Benar, aku percaya kau bisa memecahkannya.”

“Apa?!” Embun terbelalak, tubuhnya mulai memudar karena pekerjaannya sebentar lagi selesai. “Tapi bagaimana bisa?”

“Dengan kesabaran, Embun, dengan kesabaran. Panjatlah pohon itu lalu tunggu sampai tetes-tetes tubuhmu mencair dan akhirnya jatuh di atas batu itu. Percayalah, kau mampu memecahkannya.”

Embun bungkam, Pak Matahari semakin tinggi memanjat dan pekerjaan Embun pun selesai. Namun, Embun tak dapat berhenti memikirkan perkataan Pak Matahari tentang kemampuannya memecah batu.

***

Esok paginya, Pak Matahari memanjat dengan perasaan bingung; keluhan Embun tak menyambutnya seperti biasa. Ketika ia sudah cukup tinggi memanjat untuk melihat Embun, Pak Matahari  mendapati Embun tengah berkonsentrasi menapaki pohon di atas batu. Menanti dengan sabar tubuhnya mencair dan jatuh di atas batu.

Pak Matahari tersenyum simpul, sinarnya menerik senang. Ia tak berniat menyapa Embun sekarang, ia takut akan mengganggu konsentrasi Embun. Biarlah Embun bekerja hingga ia mendapatkan apa yang ingin dicapainya.

Maka, pagi berganti pagi, Embun dengan sabar menjatuhkan air di atas batu itu setiap paginya. Ia ingin sekali membuktikan perkataan Pak Matahari. Namun, telah lama berlalu, batu itu tak kunjung pecah. Ia menyerah berkali-kali, tapi Pak Matahari kembali meyakinkannya bahwa kesabaran adalah hal yang paling utama, dan Embun pun berakhir dengan mencoba memecahkan batu itu lagi.

Tes. Tes. Tes.

Embun berjuang keras, untuk meneteskan air di atas batu. Kadang kala Angin nakal mengganggunya dan menerbangkan tetesan airnya.  Tapi Embun memegang teguh perkataan Pak Matahari tentang kesabaran dan kemudian ia mencoba lagi. Tak ingin menyerah, atau bahkan berhenti lagi, sampai suatu hari…

Crak.

Embun terlonjak, ia mendengar sesuatu retak dan menyadari itu adalah permukaan batu yang saban pagi ia tetesi air. “Pak Matahari! Pak Matahari! Aku berhasil! Lihat! Batu itu pecah!”

Pak Matahari tertawa. “Embun… Embun… itu hanya sebuah retakan kecil. Apa kau puas dengan hanya retakan itu?”

Embun bungkam, sadar kalau dirinya terlalu cepat merasa puas. “Tidak, tidak. Tentu aku tidak puas, aku akan memecahkan batu itu! Pasti!”

Lalu, Embun kembali menetesi air pada batu yang mulai terkikis itu setiap paginya. Ia akan memanggil-manggil Pak Matahari ketika mendapati retakan baru pada batunya dan kembali menetesi batu itu agar lebih banyak retakan yang ia dapatkan. Ia tak akan puas sampai batu itu benar-benar pecah dan hancur. Ia tak akan pernah puas sampai keinginannya benar-benar tercapai!

Crak.

Embun terkesiap, ada sebuah retakan besar di batu yang  kini telah berlubang di sana-sini. Pak Matahari yang melihat itu pun menyadari kalau tak lama lagi keinginan Embun pun akan tercapai. Embun berdebar, beberapa tetesan lagi, iya yakin batu itu akan pecah. Dan…

Tes. Tes. Tes. CRAAAK!

Batu besar itu pecah. Embun berhasil!

“Pak Matahari! Lihat! Aku berhasil! Aku berhasil! Aku bisa memecahkan batu itu!!” Embun berlari kegiranganan, anak-anak Bumi pun semakin kebasahan, Pak Matahari tertawa lebar. Embun merasakan kekuatan yang tak pernah ia sadari menjalar di sekujur tubuhnya. Ia merasa menjadi Embun yang baru.

“Lihat Embun, lihat kemampuanmu!” Pak Matahari berseru di sela tawanya. “Embun sekecil dirimu bahkan bisa melakukan hal besar! Percaya dirilah! Percaya dirinya!”

Maka, mulai sejak itu, Embun semakin bersemangat menjalani pekerjaannya. Ia tak lagi menganggap remeh dirinya sendiri karena tahu bahwa dirinya lebih kuat dari yang ia kira. Embun hanya perlu bersabar dan yakin, bahwa ia bisa melakukan apa yang orang banyak kira mustahil.

Fin.

 

P.S:

Kadang kala kita merasa diri kecil dan tak berguna; kita semua sama seperti Embun, kita hanya tidak mau bersabar dalam mencapai tujuan kita. Percayalah, sabar adalah salah satu kunci terpenting dalam mencapai tujuan.

Iklan

Penulis:

Pecinta Naruto dan Conan, menganggap menulis adalah sebuah obsesi dan membaca buku sama dengan bernapas. Suka menghabiskan waktu di sudut kedai sendirian; ditemani laptop dan makanan yang paling murah di kedai tersebut :)

12 tanggapan untuk “Embun

  1. Yang ini simpel tapi ngena, saia suka dengan analogi setitik embun yang merasa kecil dan ciut akan dirinya sendiri. Kadang orang juga merasa begitu ya, seperti saia sekarang ini. Merasa ikut ditegur juga dengan cerita yang singkat tapi sangat bermakna ini 🙂

    1. Kebetulan. Saya bikin ini juga karena mirip banget sama saya. Secara gak langsung nyindir saya jg sih. Hahaha.

      Terima kasih sudah membaca kak! 😀 silakan datang kembali! *melambai dengan manis*

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s