Corat-Coret Dicta

[Coretan Dicta] Rammadan Juga Penuh Berkah Bagiku

Sekolahku libur sepanjang bulan Rammadan.

Di Kalimantan Selatan, pemerintah provinsi membuat peraturan daerah yang menyatakan libur kepada sekolah-sekolah negeri sepanjang bulan Rammadan berlangsung. Sebagai penganut agama Katolik (Roma), aku tak pernah merasa terganggu dengan hal itu, justru merasa senang. Meski sedikit risih karena pada akhirnya liburan Natal-ku di penghujung tahun dipotong—aku akan bagi rapot tanggal 24 Desember, dan masuk tanggal 3 Januari—aku bisa terima itu sebagai konsekuensi karena memilih bersekolah di sekolah negeri.

Sekedar mengingatkan, di catatan ini aku tak ingin membahas soal agama dan lain-lain. Gak ada unsur yang menyinggung SARA karena aku hanya ingin menceritakan apa yang terjadi pada diriku saat libur Rammadan berlangsung selama beberapa tahun belakangan ini. Ceritanya memang agak tragis, tapi aku tidak menyangkutpautkannya dengan Rammadan karena aku menganggap hal itu sebagai pertanda dari Tuhan untuk menyeretku lebih dekat padanya.

Jadi pada kenyataannya, Rammadan juga berkah bagiku yang beragama Katolik, tidak hanya bagi saudara-saudaraku yang beragama Muslim.

Tahun 2011, aku baru kelas X di SMAN 7 Banjarmasin. Liburan Rammadan tahun itu kulalui dengan tergeletak di kasur dengan wajah dan tubuh luka-luka. Yeah, aku kecelakaan. Kecelakaan tunggal yang terjadi karena menabrak polisi tidur dengan kecepatan tinggi.

Saat itu maghrib, aku diminta tanteku untuk mengantar Eyang Putri ke sembayang lingkungan yang berada di rumah salah satu umat. Aku tidak ikut sembayangan waktu itu karena tidak ingin, sesederhana itu kah? Iya. Karena sebentar lagi libur, saat itu aku berpikir untuk lebih banyak berleha-leha di rumah ketimbang menghadiri sembayang lingkungan yang membosankan. Hingga akhirnya Tuhan meneggurku dengan kecelakaan konyol itu.

Aku mungkin sedang berkendara kembali dengan pikiran kosong saat aku selesai mengantar Eyang Putri, dan lupa bahwa di depanku ada jejeran polisi tidur yang tingginya kurang ajar (karena bahkan jika kalian berkendara dengan cepatan pelan sekalipun, bagian bawah kendaraan kalian tetap akan membentur) sehingga berkendara dengan kecepatan tinggi (40 km/jam).

Kejadiannya sangat cepat, hal terakhir yang aku ingat sebelum pingsan adalah kendaraanku yang oleng dan tubuhku yang terhempas ke aspal. Kesadaranku kembali saat aku sudah di rumah sakit. Dan ketahuilah, sebenarnya Tuhan tak pernah memberikan musibah tanpa penyelesaian.

Saat aku mengalami kecelakaan tunggal itu, jalanan ternyata sedang sepi, sangat sepi. Tapi ternyata, aku pingsan tepat di depan rumah keluarga yang dulunya adalah tetangga Eyang Putriku. Anak keluarga itu adalah teman masa kecilku—aku lupa namanya—dan saat mereka membawaku ke rumahnya, aku langsung dapat mereka kenali. Padahal, aku bahkan tak membawa tanda pengenal waktu itu, aku hanya mengenakan celana training, kaus, dan TANPA HELM! Hahaha, luar biasa. Itu sebuah kebetulan yang Tuhan rencanakan bagiku.

Kecelakaan itu mengakibatkan wajahku lecet-lecet dan lututku berdarah, tapi luka yang paling parah adalah aku mengalami tuli tidak permanen di telinga kiriku dan serangan Vertigo—kondisi di mana seseorang merasa bumi berputar dan tak memiliki kesimbangan yang baik, kira-kira seperti itu. Aku bahkan dirujuk untuk rontgen di bagian kepala karena takut mengalami gegar otak. Tapi ternyata, kondisiku tidak separah kelihatannya. Sekarang Vertigo tak lagi menyerangku dan aku bisa mendengar dengan baik. Yang kusesalkan hanyalah luka di bagian lutut yang meninggalkan bekas kehitaman yang jelek sekali, setiap kali melihatnya, aku mendapati diriku buruk rupa dan tak pede. Meski sekarang rasa tak pede itu tak separah dulu,  aku tetap menyesalinya.

Tahun itu liburanku 100% bed rest. Tak melakukan hal apa pun kecuali menganggur di rumah. Padahal sebelumnya aku berencana untuk berlibur ke Muara Teweh untuk mengunjungin orangtuaku, terutama Papa yang waktu itu masih dalam masa penyembuhan dan pengobatan. Tapi apa yang terjadi tahun itu tidak lebih buruk dari yang terjadi tahun 2012.

Liburan Rammadan tahun 2012 kuhabiskan nyaris sepenuhnya di rumah sakit. Bukan, bukan aku yang sakit, melainkan Papa. Bulan Rammadan tahun itu Papa mengalami serangan pertamanya dan divonis harus cuci darah karena ginjalnya sudah tak berfungsi lagi. Itu adalah pukulan berat bagiku, terutama Mama yang otomatis menjadi tulang punggung keluarga satu-satunya semenjak Papa sakit.

Liburan itu Mama tak henti-hentinya menangis, aku juga menangis, adikku pun sama. Sepanjang hari aku terus berdoa untuk kesembuhan Papa, dan berharap Tuhan menjamahnya dan memberikan keajaiban. Kondisi Papa benar-benar buruk waktu itu, aku nyaris mengira akan kehilangan Papa saat itu juga karena sakit yang menahun itu telah mencapai puncaknya. Tapi keajaiban datang, perlahan-lahan kondisi Papa membaik dan secara pribadi Papa yang semula berkeyakinan Kristen Protestan meminta imannya dikukuhkan menjadi Katolik.

“Aku ingin ikut anak-anak,” kata Papa. Dan malam itu juga keluarga dari pihak Mama langsung mencari Pastor untuk melakukan pengukuhan dan sakramen pengurapan orang sakit.

Nah, kejadian ini mungkin menggelitik kalian yang mungkin tak tahu apa yang membedakan Katolik dan Protestan. Tapi aku tak akan menjelaskannya di sini, kalian bisa mencari artikel dan infonya di Google atau Wikipedia, sangat jelas tertera di sana. Hanya saja dalam kasus Papa-ku ini, di Katolik, kami memiliki sakramen-sakramen yang salah satunya adalah sakramen pengurapan orang sakit. Sakramen ini bertujuan untuk melapangkan jalan dan memberikan harapan kesembuhan pada penderita; biasanya diberikan pada orang-orang yang sakit keras.

Papa dirawat di rumah sakit kira-kira dua minggu lebih, menghabiskan biaya sangat besar dan keletihan dari kami sekeluarga. Tapi ada rasa syukur yang terbersit di benakku, aku sudah membayangkan tahun itu akan pergi ke Gereja bersama; maju mengambil hosti bersama; dan segalanya bersama Papa saat Natal. Tapi sayang, ternyata Tuhan berkehendak lain, beberapa bulan kemudian Tuhan memanggil Papa ke sisi-Nya pada tanggal 30 November 2012—Papa tak dapat bertahan pada serangan keduanya.

Liburan Rammadan dan Natal tahun itu menjadi saat-saat terkelam sepanjang 17 tahun hidupku di dunia ini.

Nah, maka mari kita beralih pada Rammadan tahun ini, 2013. Sekarang aku berada di pertengahan bulan Rammadan, dan kondisiku ternyata tak ubahnya tahun-tahun sebelumnya. Aku tidak tahu apa yang akan terjadi nanti, tapi aku akan menceritakan apa yang telah terjadi dan harapanku di masa yang akan datang.

Menjelang liburan Rammadan yang bertepatan dengan liburan kenaikan kelas. Aku dikejutkan dengan kondisi Eyang Putri-ku yang memburuk dan harus dirawat di rumah sakit—rumah sakit yang sama yang menjadi tempat Papa-ku dirawat tahun 2012. Hal itu menimbukan kembali ketakutan-ketakutan, kemungkinan-kemungkin terburuk, dan lain sebagainya. Well, aku  tak akan menjelaskan lebih lanjut kisah ini karena sudah kuceritakan di coretanku sebelumnya. Kondisi Eyang Putri-ku sekarang stabil, meski sempat masuk rumah sakit lagi beberapa hari karena muntah darah, tapi aku yakin kondisinya tak akan memburuk dalam waktu dekat.

Di awal bulan Rammadan atau puasa, aku disibukkan dengan kegiatan Sinode Keuskupan Banjarmasin. Sinode itu semacam sidang yang dilaksanakan oleh seluruh umat Katolik di Kalimantan Selatan untuk menentukan tujuan  Gereja di keuskupan ini ke depannya; aku benar-benar merasa bangga dengan mengambil bagian sebagai notulen dalam sidang tersebut. Kegiatan tersebut baru saja selesai hari Jumat kemarin, dan aku berencana untuk pergi ke MuaraTeweh hari Senin besok untuk berlibur sekaligus mengurus pembuatan KTP dan SIM-ku.

Tapi ternyata, hahaha, Tuhan selalu saja tak membiarkanku untuk menikmati Liburan Rammadan-ku. Pertama, aku mendapat kabar bahwa jalan menuju Muara Teweh ternyata mengalami longsor hingga tak dapat memiliki kepastian untuk pergi. Kedua, huuuft, ternyata aku mengalami kecelakaan lagi.

Tadi siang, motor yang aku kendarai menabrak kendaraan lain yang berbelok tiba-tiba di depanku. Orang yang kutabrak tak mengalami luka atau bahkan jatuh dari sepeda motor, tapi aku? Aku jatuh dan mengalami luka pada dagu dan lutut. Luka pada lututku yang baru ini bersisian dengan luka yang kudapat dua tahun yang lalu, dan semakin memperburuk pemandangan. Hatiku benar-benar teriris saat melihat luka di lututku itu dan langsung menangis saat mendapati luka di daguku mengeluarkan darah cukup banyak.

Saat itu aku tidak pingsan, aku langsung di bawa ke rumah orang yang berbelok sembarangan itu karena tak begitu jauh dari KTP. Motorku lecet meski masih bisa dikendarai, dan orang itu meminta maaf padaku berkali-kali; ngomong-ngomong, aku menduga umurnya tak beda jauh dariku, sekitar akhir umur belasan. Pembantu di rumah itu memberiku obat merah dan air putih, beberapa orang memintaku untuk di bawa ke klinik,  tapi aku muak dengan suasana itu. Setelah beberapa saat di rawat aku langsung pamit pulang, mengabaikan keinginanku untuk menuntut biaya berobat dan memaafkan mereka.

Sampai di rumah aku bilang sekenanya saja kalau aku habis jatuh dari motor kepada Om dan Tanteku, dan langsung memberi obat salep pada luka-lukaku. Lalu tepar, tidur dan berdoa.

Well, itu kondisiku di pertengahan liburan Ramadanku tahun 2013. Malam ini sembari menulis coretan ini aku mulai merenungi segala kejadian yang terjadi selama tiga tahun terakhir ini. Aku tahu ini mungkin sebuah pertanda, wahyu yang Tuhan kirimkan padaku agar aku sadar menjadi lebih dekat padanya… Ah, bukan, bukan menjadi lebih dekat pada-Nya. Tapi menyadari kehadiran-Nya di sisiku. Tuhan selalu ada di mana pun aku berada, bahkan sekarang ketika aku tengah menulis coretan ini.

Tuhan membimbingku untuk sadar dan semakin bertekun dalam iman. Meski memerlukan waktu sampai tiga bulan Rammadan agar aku sadar akan kuasa dan hadirat-Nya disepanjang helaan napasku; terlambat tetap lebih baik dari pada tidak sama sekali.

Malam ini aku menangis sembari berdoa dan menggengam Rosario. Aku sadar inilah saatnya aku berubah menjadi sosok yang lebih baik dan kuat; akan kucanangkan devosi kepada Bunda Maria mulai malam ini hingga di sisa hidupku. Imanku menyakini, doa-doa yang terhatur melalui Bunda Maria akan tersampaikan pada Putra-Nya yang Tunggal, diamini Bapa di Surga dan akan kembali padaku melalui Roh Kudus.

🙂

Benar, bulan Rammadan memang bulan yang penuh berkah, tidak hanya bagi saudara-saudaraku yang beragama Muslim, tapi juga bagiku. Karena melalui setiap kejadian yang terjadi di Bulan Rammadan, imanku semakin kuat dan teguh.

Terima kasih.

Banjarmasin,

21 Juli 2013

03.14 WITA

Atas nama Bapa dan Putra dan Roh Kudus

Iklan

7 thoughts on “[Coretan Dicta] Rammadan Juga Penuh Berkah Bagiku”

    1. Iya, sebenarnya sempat down juga sih. Tapi pikiran negatif psti berdampak pada hal-hal negatif pula. Makanya saya merenung, apa yang sebenarnya Tuhan inginkan dari saya 😀 Hihihihi.ya Kak! 😀

  1. Memang kadang Tuhan melakukan sesuatu untuk kebaikan kita yang pada saat terjadinya kita tidak tahu apa baiknya bagi kita, bahkan seringnya kita malah marah-marah. Tapi yakinlah, semuanya akan baik pada waktunya.

    1. Nah! Iya banget Mas Chris 😀 saya juga sempat down dan bingung, kenapa rentetan kejadian mengenaskan itu terjadi pada diri saya. Tapi akhirnya saya sadar, dan meyakini, kalau setiap kejadian memiliki alasannya masing-masing.

      Terima kasih telah membaca 😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s