Love is Not A Sin

lilin cinta

Udara di bilik kecil berukuran tak lebih dari dua meter persegi itu terasa seperti jarum-jarum kecil yang menusuk permukaan kulitku. Aku meringis berkali-kali di dalam hati, dan menangis diam-diam sebelum akhirnya seseorang yang kutunggu sedari tadi masuk ke dalam bilik yang tepat berada di sebelah bilikku.

Secepat kilat aku mengusap air mata yang sudah terlanjur menetes, dadaku berdebar, dan telapak tanganku basah oleh keringat. Lututku mulai terasa kram dan tak sanggup lagi menopang tubuhku yang mulai limbung, tapi sayangnya, di dalam ruangan ini aku harus berlutut dari awal sampai akhir prosesi.

“Bisakah kita mulai?” suara pria di bilik sebelah memecah hening, kedua bilik kami hanya dipisahkan sebuah tembok dan terhubung oleh jendela kecil berteralis yang memungkinkan suara menyedihkanku terdengar olehnya.

“Ya, Romo[1],” jawabku setengah berbisik. Rasa sakit itu kembali merambat tiap kali kusuarakan panggilan itu di bibirku.

 “Dalam nama Bapa dan Putra dan Roh Kudus. Amin.”

Prosesi dibuka dengan tanda salib, kugerakan jemariku yang gemetaran ke dahi, dada dan bahuku untuk membuatnya, lalu kembali memilin jemarin di atas perut. Dadaku semakin berguncang, prosesi ini sudah di mulai, rasanya ingin lari dan tenggelam dalam dosa ini lebih lama. Tapi aku sudah mengatakan pada diriku sendiri bahwa sekaranglah saatnya untuk menyerah; waktu tak dapat melarutkan perasaan berdosa ini.

“Bapa, berkatilah saya orang berdosa,” kataku lirih,  dan pria itu pun mulai mengucapkan berkatnya yang sudah barang tentu ia hafal luar kepala.

“Sekarang, akuilah dosa Anda.”

Saat kalimat itu keluar dari mulut pria itu, aku tahu apa yang harus aku lakukan berikutnya adalah ‘mengaku’, tapi  mulutku tiba-tiba saja terkunci. Ada tenaga dari dalam hatiku yang memaksa otak untuk berhenti di sini.

Ya Tuhan, maafkan aku, perasaan ini terlampau kuat…

Menit-menit berlalu tanpa ada suara yang keluar dari mulutku. Desauan napasku memenuhi udara; pria di bilik sebelah masih tenang menunggu. Usia dan pengalaman mungkin menjadi alasan kenapa ia mampu sesabar ini menanggapi prilaku aneh umat sepertiku.

Tapi detik masih berlalu tanpa henti, dan aku terus bungkam karena hatiku selalu berontak. Pergumulanku belum selesai meski sudah berada di posisi seperti ini, dan aku mengutuki kelemahanku yang satu ini.

“Jika kamu belum siap mengaku, kamu bisa kembali lagi besok.”

Aku terkesiap. Debaran dadaku berhenti dalam sepersekian detik sebelum akhirnya kutemukan kesadaranku lagi. Ah, apa aku sanggup kembali ke tempat ini besok dan mengulangi perasaan menyiksa yang sama seperti ini lagi?

“Bagaimana?”

Suara bariton itu kembali bertanya; aku menelan ludah. Keringat mengucur di pelipisku dan rambut panjangku yang tergerai asal-asalan mulai lepek. Aku tahu masih ada hari esok untuk mengaku, waktu masih memperbolehkanku untuk berdosa lebih lama lagi bersama perasaan ini. Tapi jika begitu, aku justru takut perasaan itu akan terus tumbuh dan akhirnya menutupi keinginanku untuk bertobat.

Aku memang harus melakukannya. Sekarang.

“Tidak… emmh…” aku terdeham; menelan ludah, masih ada setitik usaha yang hatiku perintahkan untuk berhenti melakukan hal ini, tapi otakku kembali memenangkan kendali. “Saya… akan mengaku sekarang.”

Pria itu tak berkata apa-apa lagi. Dia kembali tenang dalam keheningan, memberiku ruang untuk mengaku. Untuk kesekian kalinya aku menelan ludah, berusaha untuk menenangkan hatiku yang kini tersumpal dan siap dipancung.

“Pengakuan dosa terakhir saya…” aku diam sebentar, mencoba mengingat-ingat kapan terakhir kali aku berada di ruangan ini dengan perasaan yang jauh berbeda dengan sekarang, karena dulu dosaku hanyalah dosa-dosa remeh yang mungkin aku kulakukan lagi dikemudian hari.  “Tiga tahun yang lalu, saat Paskah.

“Saya… ingin mengakui dosa saya… sejak saat itu.”

Ayolah, Agata, katakan sekarang!

“Bapa, saya tahu… ini konyol.”

Ya, Agata! Sekarang saatnya, mengakulah! Mengakulah!

“ Umur saya masih muda, masih pantas dipanggil gadis dan menikmat cinta yang menggebu-gebu pada lelaki mana saja. Tapi… kenyataan tentang umur saya itu tak selaras dengan mental saya.” Aku meremas tanganku erat-erat hingga kuku-kukuku jariku membekas di kulit.  ”Terlahir dari keluarga tanpa ayah dan ibu yang terlalu mengekang membuat saya mencari sosok laki-laki yang mampu memberiku rasa aman dan perhatian; hal yang tak pernah saya dapatkan sepanjang hidup saya.

“Saya mencoba mengencani pria-pria dewasa, yang umurnya terlampau jauh dari saya. Tapi rata-rata pria-pria itu telah beristri dan tak menginginkan hal lain selain tubuh saya. Sungguh, saya tidak berzinah dengan mereka, Bapa. Saya langsung memutuskan hubungan saat mereka mulai meminta tubuh saya. Untuk sekian lama saya berhenti mencari, lelah dan pasrah dengan keadaan, hingga akhirnya saya menemukan sosok itu…”  Aku menggigit bibir; menahan napas, lalu berkata, “Pada diri Imam yang sekarang berada di hadapan saya.”

Udara di bilik ini semakin menyesakan dan menusuk. Aku tahu pria itu juga merasakan hal yang sama setelah mendengar pengakuanku itu, tapi karena aku belum selesai, pria itu tak mengatakan apa pun untuk menyela.

“Saya… jatuh cinta pada Imam itu, Bapa.”

Aku mengaku pada Tuhan dalam prosesi ini; aku berbicara pada Tuhan di tempat ini. Pria itu bukanlah orang yang akan mengampuniku, dia hanya perantara yang Tuhan berikan sebagai tempatku mengaku.

“Bapa, maafkan dosa saya ini.”

Air mataku mulai menggenang di pelupuk, dengan berbicara lebih lama lagi, aku tahu kalau aku akan berakhir menangis sesungkukan. Tapi aku belum selesai, dan aku tahu pria itu pun ingin mendengarku mengakui lebih banyak lagi.

“Saya mengenalnya tiga tahun yang lalu sebagai Imam baru di paroki saya. Dia memang terlihat seperti Imam kebanyakan, terlepas dari pujian ibu-ibu gereja betapa tampan dan gagah dirinya, dan ibu-ibu itu pun menyesalkan pilihannya mengabdi pada-Mu, Imam ini benar-benar seorang imam.” Aku merasakan pipiku menghangat, mengingat bagaimana sosok pria itu dibenakku kembali membuatku berdebar.

“Tapi saya jatuh cinta padanya bukan karena sosoknya, melainkan karena hatinya yang penuh belas kasih pada-Mulah yang membuat perasaan saya salah kaprah. Saya tahu, semua kebaikan yang dia berikan pada saya hanyalah semata-mata pelayanan. Tapi perhatiannya, bagaimana cara Imam itu berbicara pada saya seolah-olah saya adalah orang yang berarti baginya, sentuhan tangannya di kepala saya untuk menenangkan saya, dan semuanya… adalah hal yang saya inginkan selama ini.

“Bapa…” akhirnya, aku benar-benar menangis. Untuk beberapa detik kubiarkan diriku dikuasai air mata, hinggga kucoba untuk mendapatkan kembali suaraku. “Bapa… maafkan saya atas perasaan ini.

“Saya jatuh cinta pada orang yang seharusnya tidak boleh saya cintai. Bapa, saya berdosa… Saya berdosa. Saya ingin menuntaskan perasaan saya. Ampuni saya, Bapa. “

Aku kembali dikuasai tangis yang sudah tak terbendung lagi, dan akhirnya kututup pengakuanku ini dengan suara terbata-bata.

“Romo… saya menyesali…  semua dosa saya. Dengan hormat saya… mohon ampun dan… penitensi[2] yang setimpal .”

Bilik ini akhirnya dipenuhi oleh suara tangisku. Pria itu tak bersuara, untuk sekian lama sampai akhirnya tangisku sedikit mereda dan ia mulai berbicara dengan cara yang tak pernah kuperkirakan.

“Mencintai  bukanlah sebuah dosa.”

Aku mengerjap, terkejut dengan pernyataan itu.

“Pada siapa pun cinta itu berlabuh, dalam bentuk apa pun cinta itu ditunjukkan, dan bagaimana cinta itu tercipta. Cinta tak pernah berdosa.”  Pria itu mengulurkan tangannya dari sela-sela terali yang memisahkan kami, meminta tanpa suara padaku untuk menyambutnya, dan aku melakukan apa yang ia minta tanpa berpikir dua kali.

“Terima kasih telah mencintai saya, Agata.” Pria itu menggenggam tanganku erat, penuh kehangatan. Tak ada nada marah, antipati atau apa pun yang bernada tidak enak keluar dari padanya. Yang kutemukan justru pengertian dan aura nyaman yang tak pernah kubayangkan sebelumnya.

“Saya juga mencintaimu, karena saya selalu mengangungkan cinta sebagai sesuatu yang berharga.”

“Romo…” hatiku dipenuhi rasa bahagia, aku tahu cinta yang pria itu maksud bukanlah cinta yang sama seperti yang aku rasakan. Tapi mendengarnya berkata seperti itu membuatku merasa jauh lebih baik. Sangat dan jauh lebih baik.

“Jangan buang cintamu pada saya,  karena saya tidak ingin dibenci oleh umat saya sendiri.” Pria itu tertawa kecil, dan tawanya berhasil memaksakan sebuah senyuman di wajahku. “Pandanglah cinta yang kamu berikan pada saya dengan cara yang berbeda, itu saja sudah cukup.

“Kadang-kadang, cinta hanyalah sebuah teori yang setiap pribadi coba untuk definisikan sendiri dan terjebak dalam pengertian itu. Cinta bukan hanya tetang pengertian dan aman. Cinta bisa berarti banyak hal yang kamu sendiri tidak akan pernah tahu berasal dari mana dan menciptakan kondisi yang seperti apa.

“Maka, penuhilah dirimu dengan cinta, dan rasakan seluruh dunia menjadi jauh lebih baik karena cinta yang berbeda-beda datang silih berganti untuk memenuhi dirimu.”

Hening meraba suasana, tapi genggaman tangan pria itu masih erat kurasakan; mengingatkanku bahwa aku masih harus mendengar kata-katanya

“Sekali lagi, Agata, terima kasih karena telah mencintai saya. Tapi di luar sana, ada pria yang lebih pantas menerima cinta dalam bentuk seperti itu darimu. Tuhan telah menyiapkan pria itu untukmu, dan saat kau menemukannya, perkenankanlah aku memberkati cinta kalian berdua di depan altar.”

Setelah berkata seperti itu, pria itu melepaskan genggaman tangannya, lalu menutup prosesi dengan tanda salib tanpa memberikan penitensi apa pun padaku. Kemudian, ia pun keluar dari biliknya dan meninggalkanku yang kembali menangis di dalam bilikku sendiri.  Tapi kali ini, aku menangis bukan karena merasa begitu berdosa.

Aku menangis karena merasa begitu dicintai.

Fin.

_______________

Dicta’s note:

Tuhan, tolong jangan kutuk saya jadi batu! Tolong, jangan kutuk saya karena mencurahkan ide-ide gila seperti ini ke dalam tulisan! Tuhan, toloooong! *teriak-teriak di dalam bilik pengakuan dosa*

Well, hahaha, *calm down* setelah terakhir bikin cinta terlarang antara guru dan murid. Sekarang saya bikin cinta terlarang antara awam dan Imam. Saya ini kesambet setan apa sih? Duh, saya sendiri gak tahu kenapa saya nulis ini! Saya sepertinya sudah gila!

Jujur, saya dulu sempat sih nulis dengan tema yang nyaris sama, tapi gak saya publish karena saya mengangkat cerita yang absrud dan gak ada pesannya sama sekali. Akhirnya saya menulis dengan mengakat tema yang sama dan menambahkan bumbu-bumbu di sana-sini biar sedap. #eaaaa semoga dapat dinikmati!

Anyway, cuman mau memberitahu, kalau “prosesi” yang aku maksud dalam cerita ini adalah sakramen pengakuan dosa (tobat). Aku sih gak bakal ngasih penjelasan lebih tetang hal itu karena kita punya Om Google di sini. Tapi kurang lebih, kalian bisa menemukan bagaimana prosesi itu berlangsung seperti dalam cerita ini—tidak termasuk adegan nangis-nangis dan pegangan tangan itu sih. Hahaha.

Cerita sedikit kenapa aku bisa punya ide cerita gila ini, aku kebetulan kesem-sem sama seorang Romo. Hahaha. Bukannya merasa cinta seperti dalam cerita ini sih, perasaan kayak kalian ngeliat cowok cakep dan kalian kagum sama dia. Itu romo beneran cakep dan gagah, hahaha. Kalau romo yang lain datang ke acara gereja pake celana katun, kemeja, dll. Yang kesannya kebapak-bapakan. Dia malah pake jins dan kaus! Kadang pake kemeja kalau acaranya formal, tapi… dengan postur yang gagah, wajah yang cakep. Beugh, aku gak pernah bosan ngeliatin dia. Kalau ada orang awam ngeliat dia gak pake jubah, aku yakin gak ada yang nyangka kalau dia seorang Romo, termasuk aku waktu pertama kali ketemu dia. 😄

Terus, beberapa hal lain yang memicu saya menulis cerita ini adalah Paulo Coelho. Kemarin baru beres baca bukunya yang Aleph dan merasa menemukan banyak sekali pencerahan, dari segi spiritual dan cara pandang. I like that book, Eyang Paulo menginspirasi orang tanpa mencoba menggurui. Hal yang tak pernah bisa aku ciptakan dalam tulisanku sendiri dan akhirnya aku mencoba untuk melakukan hal yang sama dalam cerita ini. Eeer, entah berhasil atau tidak, yang jelas hanya kalian yang bisa menanggapi.

Terima kasih sudah membaca! Akan sangat menyenangkan jika kalian memberitahuku apa yang kalian pikirkan setelah membaca tulisan ini.

(Photo taken from google)


[1] Panggilan orang Jawa untuk Pastor (Bahasa Belanda), Imam pemimpin Misa di Gereja Katolik

[2] Denda atau ganjaran yang diberikan pada saat selesai mengaku dosa oleh Imam yang menjadi perantara. Biasanya berbentuk doa-doa yang harus dilakukan oleh si pengaku dosa.

7 pemikiran pada “Love is Not A Sin

  1. Cinta terlarang lagi. >.<
    Tapi yang ini udah nggak bisa satu ya? 😥 *srott-lap ingus*
    "Pandanglah cinta yang kamu berikan pada saya dengan cara yang berbeda," ini kalimat favorit saya selain kalimat-kalimat cantik lainnya, 😀

    Tapi, Dict, aku ngerasa cerita ini bisa jadi lebih bagus lagi, aku ngerasa feelnya perlu dikasi bumbu lagi, biar lebih greget legit gimana gitu, hehehe…

    Overall, aku enjoy kok baca cerita ini, 😀 Thumbs up!

    1. Hahahahaha, entah kenapa lagi senang yang genre ginian Kak. 😄
      Saya juga suka kalimat itu! 😀 Ngebayangin itu pastor ngomong langsung ke saya gitu #dikeplak

      Errh, bener banget sih, saya juga ngerasain hal yang sama. Feel-nya gak dapat meski saya ngerasa pesan yang saya kasih kesampaiin dengan baik. Mungkin karena temanya dan bagaimana cara saya menulis cerita ini sangat hati2 karena mengangkat sesuatu yang sensitif penyebabnya 🙂 tapi ya sudah, let it be deh. Nanti saya coba tambah2in kalau ada yang nyantol. Hahaha.

      Terima kasih sudah membaca ya Kak! 😀 lope-lope buat kakak.

      1. Sesuatu yang terlarang itu kadang2 menarik buat ditelisik, 😄

        Iya, pesannya nyampe juga sih, kalau menurut aku. 🙂 Cuma ya itu, feelnya itu, hehehe…
        Emang sih, kadang2 kalo terlalu hati2 ceritanya jadi kaku, -_-

        I’m waiting for next story, yaa… :*
        Muach,

    2. Iya, nulisnya berdebar-debar dan bikin bingung sendiri. Hahaha. Apa hasilnya bakal aneh atau sesuai yang diharapkan. hohoho. Tapi ya, kadang kehati-hatian memang berdampak pada feel dari ceritanya sih. Terima kasih sudah bersedia menanti! 😀

  2. Ping-balik: [Coretan Dicta] The Best Holiday Ever! | Kata-Kata Dicta

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s