You Complete Me

book_coffee

“Arsène Lupin itu bawa kutukan bagi setiap wanita yang dia cintai.”

Anabel sudah muak mendengar kalimat itu terlontar dari pria yang sama yang kini mengambil tempat duduk di depannya. Sejenak ia mengintip sosok acak-acakan pria itu sebelum akhirnya kembali mematut diri di depan  deret aksara karangan Maurice LeBlanc—pria yang menciptakan sosok The Gentleman Thief, Arsène Lupin.

“Apa pun yang kamu katakan, Rama. Aku lebih memilih sosok keren itu daripada si aneh Holmes,” sahut Anabel sembari mengibaskan ujung rambutnya ke belakang bahu lalu kembali membaca buku berjudul 813 di tangannya. Kacamata minus yang dikenakan Anabel agak melorot dari hidungnya dan pria bernama Rama itu lantas mengulurkan tangannya untuk mendorong kembali kacamata itu ke posisi semula; membuat wanita itu tersentak dan langsung terduduk tegap.

“Jangan bikin kaget gitu!” seru Anabel dengan wajah memerah, sejenak mendapati dadanya berdebar lebih cepat hanya karena gerakan remeh itu.

Sorry, kacamata melorot itu bikin ganggu mata,” jawab Rama sembari membenarkan letak kacamatanya sendiri; Anabel mendengus.

“Cih, dandanan kamu bahkan lebih mengganggu mata.” Anabel mengatakan hal itu memang bukan tanpa alasan. Selain letak kacamatanya, apa pun yang dikenalan Rama tidak ada yang benar. Pria itu memiliki rambut gondrong setengkuk yang berantakan, mengenakan kaus hitam kusut bertuliskan ‘I’m a crazy writer, so what?’ kebanggaannya yang selalu bersanding dengan celana jins yang sudah robek di sana-sini, dan oh, jangan lupa! Pria itu selalu mengenakan sendal jepit nippon busuk yang baru akan diganti setelah putus (dan selalu diganti dengan jenis yang sama).

“Permisi, Mas, mau pesan apa?” seorang pelayan dengan dandanan menor datang menghampiri meja mereka yang terletak di tengah-tengah café; posisi yang selalu disenangi Anabel karena dari tempat ini ia bisa memerhatikan seluruh gerak-gerik pengunjung tempat ini dan mengkhayalkan cerita kehidupan pengunjung-pengunjung itu.

“Jus stroberi, tiramisu, cupcake vanila, dan gula-gula. Kalau kalian juga bisa memberiku semangkuk cokelat leleh, aku akan sangat berterima kasih.”

Pelayan itu mengerjap tak percaya, berpikir tetang bagaimana bisa seorang pria dengan dandanan seperti itu memesan hal yang sangat kontras. Ia bahkan sempat menoleh pada Anabel sedikit, meminta kepastian, dan wanita itu hanya mengangkat bahu sebagai jawaban.

“Mohon tunggu sebentar.” Pelayan itu akhirnya pergi, dan meninggalkan kedua orang itu dengan perasaan bingung.

“Jadi,  kenapa kamu tiba-tiba aja ngajak aku ketemuan?” tanya Anabel sembari menyelipkan pembatas buku pada bacaannya dan menutup buku itu di atas meja. Tatapannya lurus tertuju pada Rama yang sekarang sedang sibuk mengambil beberapa blok gula dari mangkuk gula yang seyogyanya milik Anabel karena wanita itu baru saja memesan kopi.

Writer’s block.”

“Hah?”

Rama memasukan blok-blok gula itu ke mulutnya, lalu mengunyah butiran manis yang di padatkan itu beberapa kali sebelum akhirnya menjelaskan.

“Aku kena writer’s block, padahal deadline-nya minggu depan. Makanya ngajak kamu ketemuan.”

What!?” Anabel berseru nyaring, mengabaikan tatapan risih orang-orang di sekelilingnya, dan memandang berang pada Rama. “Kamu pikir aku gak sibuk ngejar deadline apa? Editor aku sudah jadi drakula!”

Rama diam saja, jangankan meminta maaf, menunjukkan ekspresi menyesal saja tidak. Anabel yang sudah ingin mencecar pria itu dengan berbagai makian terpaksa harus menelan suaranya kembali; takut dikira sinting karena berbicara pada manusia batu itu.

Sungguh, tak pernah sedikit pun Anabel mengira, pertemuannya dengan Rama di acara temu penulis akhir tahun kemarin akan menghantarkannya pada kondisi konyol seperti ini. Anabel dan Rama adalah penulis yang bernaung di penerbit yang sama, tapi tak pernah sekali pun bertemu tatap kecuali saling mengenal nama.

Semua orang tahu bahwa Anabela Inggritani adalah penulis novel  yang senang mengusung cerita slice of life dan romance, lalu mendasarinya dengan latar belakang permasalahan sosial yang biasanya jarang disukai oleh penulis-penulis Indonesia, seperti: gay, gigolo,  wanita penghibur, cinta sedarah, cinta antara awam dan calon pastor, dan lain-lain.

Anabel pribadi menemukan kepuasan tersendiri ketika mampu mengangkat hal-hal tabu seperti itu ke dalam tulisan. Tak jarang saat mengangkat tema cerita yang seperti itu Anabel harus melakukan reset langsung di lapangan, diantara lain mendatangi klub malam khusus kaum gay, mewawancari wanita-wanita penghibur, dan hal-hal gila lainnya. Tapi menilik hasil kerja kerasnya itu, Anabel pun akhirnya mampu menulis cerita yang terasa sangat nyata dan tidak mengada-ada.

Sedangkan Ramayana Abdiguna sendiri dikenal sebagai penulis buku bestseller yang mengambil genre sci-fic, fantasy, thrill dan mystery sebagai pokok utama tulisannya—genre yang jarang diminati pembaca di Indonesia namun sangat laris di luar negeri. Dari editornya yang suka bergosip, Anabel tahu bahwa kepala editor mereka sangat menyukai Rama dan menjulukinya penulis genius; penulis yang hanya terlahir lima puluh tahun sekali di setiap generasi. Ah, Anabel selalu menganggap julukan itu berlebihan, tapi ketika wanita itu akhirnya membaca salah satu buku yang ditulis Rama. Hahaha, mau tak mau ia harus mengakui kata genius memang pantas dijahit di otak pria itu.

Rama adalah penulis yang berani, ia memainkan imajinasinya sesuka hati tanpa lupa mengaitkannya dengan kondisi nyata di lapangan; sangat berbeda jauh dari Anabel yang mengutamakan data-data dan riset. Rama juga senang menggunakan alur maju-mundur, dan  menggunakannya dengan tepat meskipun menulis dalam sudut pandang orang ketiga yang memungkinkannya melompati setiap adegan yang ada. Alur yang diberikan Rama juga tak pernah membosankan dan pas dibaca, padahal buku-bukunya setebal karangan J.K. Rowling yang bahkan bisa digunakan untuk memukul kecoa. Tapi, dibalik kesempurnaan tulisan Rama, kadang Anabel menemukan error dari penggambaran Rama tetang tokoh utama ceritanya yang selalu dikisahkan aneh dan terkesan tidak masuk akal. Tapi menilik bagaimana sifat penulisnya yang seperti itu, Anabel akhirnya tahu alasan di balik tokoh-tokoh aneh yang diciptakan Rama di bukunya.

Dan akhirnya, rasa penasaran akan sosok Rama pun menuntun Anabel mendatangi acara temu penulis yang selalu diadakan pada akhir tahun, setelah mendapat kabar dari editornya bahwa Rama—yang selalu menghindari acara seperti itu—memutuskan datang.

“Aku udah baca buku kamu yang terakhir.” Rama akhirnya bersuara setelah pesanannya datang, pelayan yang mengantarkan pesanan itu memita maaf pada Rama karena tak dapat menyediakan cokelat leleh, dan menawari Rama semangkuk madu yang disambut baik oleh Rama. Pelan-pelan Rama menyelupkan gula-gula pesanannya ke dalam madu dan memakannya seolah-olah itu adalah makanan utamanya.

“Yang mana?” sahut Anabel ketus, ia masih jengkel dengan Rama yang memaksanya bertemu sementara editornya sudah merong-rong minta naskah.

“Soal wanita yang jatuh cinta sama calon pastor itu,” jawab Rama dengan mulut belepotan madu. “Aku gak pernah baca buku segila itu dari penulis Indonesia. Bawa-bawa agama lagi, kayak gak tahu aja Indonesia sensitif sama agama.”

“Ha? Sama deh kayak kamu,” balas Anabel buru-buru. “Mana ada orang Indonesia yang kepikiran nulis tetang energi alam di Kalimantan yang mengakibatkan pulau itu jadi pulau teraman di dunia karena mampu membelokan sirkum pasifik dan sirkum mediterania ke pulau-pulau di dekatnya.” Anabel melipat kedua tangannya di depan dada lantas bersandar ke bangkunya. “Dasar gila.”

Rama terkekeh pelan meski ekspresinya nyaris tak berubah. Satu tangannya memotong-motong tiramisu menjadi bagian-bagian kecil, sementara tangannya yang lain menuang separuh madunya ke atas kue itu.

“Kamu juga baca bukuku rupanya,” gumam Rama sembari memasukan potongan tiramisu berlumur madu itu ke mulutnya. “Aku pikir kamu gak suka baca bukuku.”

Anabel terdiam, selama ini ia tak pernah bilang kalau ia membaca nyaris semua (yup! Nyaris semua, karena ia kesulitan menemukan buku-buku pertama Rama) buku karangan Rama. Harga dirinya sebagai penulis pun kadang sulit menerima bahwa ada penulis lain yang lebih darinya.

“Ke-kebetulan aja baca.” Anabel membuang muka, kagok kepergok seperti itu. Ah, salahkan emosinya yang suka meledak-ledak. “Penasaran sama tulisan kamu yang katanya juga bestseller di Jepang.”

“Aku…” Rama menggantung suaranya, tangannya sibuk melemparkan potongan cupcake vanila ke dalam mangkuk madunya dan mengaduk kue-kue itu hingga benar-benar tercampur dengan cairan lengket berwarna keemasan itu.

“Aku sudah baca semua bukumu.”

“Eh? Serius kamu?” Anabel sontak memajukan tubuhnya dan mengerjap tak percaya. Ia sendiri juga tak pernah tahu kalau Rama membaca bukunya.

“Iya, serius, dan buku kamu jelek semua.”

UHUK.

Ada pisau tak kasatmata menancap di punggung Anabel.

“Kalau jelek ya gak usah di baca kali!” Anabel meledak, menyesal merasa sedikit senang ketika tahu Rama juga membaca bukunya.

Rama tak acuh, sibuk melahap potongan cupcake-nya di mangkuk madu. “Aku benci buku-buku kamu; buku-buku itu beda jauh dengan yang aku tulis,” kata Rama di sela kunyahannya. “Terlalu nyata, terlalu hidup.

“Bikin aku ngerasa tulisan aku sendiri itu gak ada apa-apanya dibandingkan dengan tulisanmu.”

Anabel mengerjap, kebiasaannya kalau ada hal yang membuatnya bingung atau terkejut. Dan sekarang ia mengalami kedua hal itu bersamaan.

“Aku ini aneh,” lanjut Rama setelah melahap semua potongan cupcake-nya. “Aku gak pernah bisa nulis tokoh yang benar-benar nyata, karena aku gak ngerti. Aku ngerasa manusia itu rumit, susah dipelajari, aku gak bisa menemukan teori yang mampu menggambarkan manusia sebenarnya. Jadi, aku hanya menulis hal-hal imajiner, tokoh-tokoh absrud dan gak jelas; tokoh-tokoh yang cuman aku aja yang mengerti, karena mereka semua adalah aku. ”

Rama mengaduk-aduk jus stroberinya tanpa berniat menyecap sedikit pun cairan berwarna merah muda itu. Anabel tak mampu berkata-kata sekarang, jujur, ia ingin mengungkapkan hal yang sama persis seperti yang Rama katakan padanya. Tapi ia terlalu pengecut untuk itu dan menelan kembali kata-katanya. Selama ini ia iri pada Rama, iri karena pria itu mampu menciptakan imajinasi liar yang dirinya sendiri tak mampu ciptakan. Meski Anabel berani mengambil dasar-dasar cerita yang sulit, tapi ia sendiri sadar kalau imajinasinya hanya sebatas itu, ia tak pernah berani menulis lebih.

“Jadi, ini alasan kamu kena writer’s block?” akhirnya Anabel bersuara setelah terdiam sekian lama. Ia tak tahu apa yang harus ia katakan, jadi ia lebih memilih menganalisa segalanya dan akhirnya mengambil kesimpulan dari setiap perkataan Rama.

“Yah…” Rama mengangkat satu kakinya ke atas kursi dan menaruh dagunya di atas lututnya. “Bisa dibilang begitu.”

Ha, you just fine with the way you are, Rama,” tanggap Anabel sinis. “Dibandingkan aku, karya kamu sudah bestseller di mana-mana.”

“Aku selalu pengen tanya hal ini sama kamu.” Rama mengabaikan ucapan Anabel, dan membuat wanita itu gondok setengah mati. Tapi perkataan Rama itu tak urung membuat wanita itu semakin penasaran dengna isi kepala  pria aneh itu. “Sejak aku sengaja datang ke acara temu penulis akhir tahun kemarin untuk ketemu kamu dan pertemuan-pertemuan kita setelahnya yang membuatku lebih mengenal kamu.

“Bagaimana kamu bisa menulis seperti itu?”

Anabel terkesiap, dadanya berdebar tak kauran dan wajahnya terasa begitu panas. Dari balik kacamatanya, Rama menatap Anabel begitu lekat dan membuat wanita itu semakin salah tingkah. Anabel tak tahu kenapa perasaannya selalu tak karuan setiap kali bertemu Rama, mereka bahkan tak bisa dibilang dekat; setiap kali bertemu hal-hal yang mereka bicarakan selalu berkisar soal buku dan buku. Hanya saja, kali ini Rama membawa pembicaraan mereka ke topik yang sama sekali tidak diinginkannya bahkan cenderung Anabel hindari. Karena Anabel tak ingin mengakui perasaan aneh yang menggelegar di dadanya, karena sekali perasaan itu terkoyak Anabel tahu ia tak akan tahan untuk menutupinya, karena Anabel  tak dapat menutupinya maka ia akan langsung mengakui kalau dirinya…

“Aku jatuh cinta sama tulisanmu.”

“Tulisanmu bikin aku jatuh cinta.”

Anabel dan Rama mengatakan kedua kalimat itu bersamaan dan langsung menyadari perasaan mereka masing-masing. Keduanya pun buru-buru membuang muka ke arah lain untuk menutupi rona merah di wajah mereka; tahu benar tindakan konyol mereka itu sangat kontras dengan kenyataan kalau umur mereka sama-sama 24 tahun.

“Jawab pertanyaanku.” Rama yang terlebih dulu berusaha mencairkan suasa canggung di antara mereka, memberanikan diri untuk menatap Anabel meski dengan risiko menunjukkan wajahnya yang memerah; wajah yang baru pertama kali ia miliki sepanjang hidupnya di dunia ini. Rama tak habis pikir, kenapa baru sekarang ia bisa merasakan hal-hal seperti ini.

“Aku gak tahu…” jawab Anabel. “Aku hanya… menulis. Menulis apa yang aku sukai.”

“Terus kenapa kamu bilang kayak gitu tadi?”

“Bil-bilang apa?” Anabel semakin membuang wajahnya, yakin lehernya akan terpelintir jika ia memaksa lebih dari ini.

“Kamu…” Rama menahan suaranya, tak sanggup menyelesaikan suaranya karena terlalu memalukan. “Ah, sudahlah… lupain aja. Itu konyol.”

“Kita berdua sama-sama konyol.” Anabel mengintip Rama dari sudut matanya, tapi masih belum berani menatap pria itu langsung. Dadanya berdebar terlalu bringas.

“Kita saling iri pada tulisan satu sama lain… terus tanpa sadar ketagihan, lalu akhirnya…”

“Jatuh cinta.”

Rama yang menyelesaikan kalimat Anabel; membuat wanita itu menundukan kepala dalam-dalam karena malu. Tapi Rama tak sampai hati untuk membiarkan jantung Anabel istirahat sejenak, ketika tiba-tiba saja pria itu meraih tangan Anabel yang terlipat di depan dada dan menggengamnya begitu erat.

“Sekarang aku tahu, kenapa aku selalu kepengen ketemu kamu kalau lagi writer’s block. Kamu punya sesuatu yang gak aku punya, sesuatu yang ingin aku miliki sejak dulu.” Rama mengeratkan genggaman tangannya, ingin memberitahu Anabel dengan getsurnya bahwa ia serius. “Aku memang gak pinter berkata-kata secara lisan, tapi aku cuman ingin kamu tahu kalau…”

Satu tangan Rama yang lain lantas menyentuh pipi Anabel dan memaksa wanita itu mengangkat wajah untuk membalas tatapannya.

You complete me and I want you to be mine.”

Ah.

Anabel tahu kalau di saat seperti ini ia tak seharusnya menangis. Tapi ia terlalu bahagia untuk berkata-kata dan membiarkan air mata menjawab semuanya. Ya, tulisan Rama memang membuatnya iri juga ketagihan, tapi apa yang ia cari selama ini sebenarnya ada pada diri pria itu.

Hanya Rama, si penulis gila pecandu makanan manis itu, yang mampu membuatnya merasa utuh.

Fin.

A/N:

For someone who fills words with another taste than me, someone who will never know this story made for him. A friend who have a big dream and I hope he can make it. Hihihi.

15 pemikiran pada “You Complete Me

  1. Halo, saia mampir dan membaca. Tulisannya manis banget, analoginya bisa seperti cupcake Rama yang ada di mangkuk madu. Hehe. Saia suka dengan dua karakternya yang dibuat sangat berbeda kutub. Yang satu jatuh cinta dengan riset, sementara yang satu lebih suka bermain dengan intuisi sendiri. Gak kentara kalau ini akan berbicara mengenai cinta. Dikira hanya mengenai dua orang yang bertukar anggapan mengenai sebuah karakter yang hendak diciptakan oleh Rama. Hehe. Tulisanmu semakin bagus, dek. Saia suka bacanya.

    1. Halo kak! Maaf baru bisa balas komentar kakak sekarang. Sudah berminggu2 kebelakangan ini saya menyisiri jalanan mencari jaringan internet dan tidak menemukannya T__T dan akhirnya memutuskan menggunakan hape aja untuk balas komentar kakak.

      Hahahaha, emang tujuan awalnya nulis ini romance sih. Tp emang di puter2in biar gak boring. Ah, tulisan saya biasa2 aja sih padahal. Tp syukurlah kalau kakak suka 😀 *peluk* terima kasih sudah membaca!

    1. Hahaha, aduh, makasih ya Kak! Saya pas nulisnya seneng sih. Jadi tambah senang kalau kakak mau baca sampai habis. Tapi niat baca aja saya sudah seneng ko. Hahahaha.

      Terima kasih ya sudah baca, kak Kris! 😀

  2. Suatu saat aku akan mengalami adegan itu dgn ‘Rama’ku sendiri yang masih disimpan Tuhan, *komentar apa ini?*
    Keren, Dict. Walopun bukan cinta terlarang lagi, tapi aku tetep suka. Feelnya dapett banget. Thumbs up!

    Pokoknya nanti aku bakal ngalamin adegan itu, *obsesipribadi* *diusirpemilikblog* 😀

    1. Sesungguhnya, saya juga punya obsesi yang kayak gitu sih kak. Hahaha. Mikir, kalau misalnya pacar saya juga blogger terus kita saling balas2an cerpen di blog *melayang ke atap-atap*
      Kita sama aja sih kak. Hahahaha.

      Terima kasih sudah membaca ya kak! 😀

  3. KAK DIKTA!!!
    I’M HERE… Your story makes my mood better than yesterday-lah pokonya HAHA xD *ceritanya abis galau nih

    Haiyyooo buat siapa tuh kak??
    Aku jadi penasaran sama him di note ending itu.. *pinjem evil smirk Kyuhyun

    *cukup rusuhnya balik ke story
    BAGUS!! Aku nemun typo 1 sih kayaknya.. Tapi gak tau juga itu typo beneran ato mata aku yang masih ngantuk karena abis begadang *curcol
    Diksi kakak udah gak perlu dragukan lagi dan…
    KAPAN NULIS NOVEL SENDIRI KAK?? /pertanyaan macam apa inih?/ ditendang/
    ADUHHH KAK AKU JUGA SUKA YANG MANIS-MANIS LOOO!!! DAN AKU JUGA SUKA BERKHAYAL KAYAK RAMA!!! HAHAHA~ *Capslock keinjek ayam… Penggambaran karakter kakak BAGUS BANGET dan cerpen ini SUKSES BEEERRRAAATT!! Kakak ternyata berbakat buat yang tipe fluff juga ya… Kakak emang multitalent dah pokoknya…

    Luph yu pull deh kak *bahasa apa ini?
    Maap komen rusuh.. Saya lagi error belakangan ini xDD

    1. Aduh, maaf banget ya Rit baru bisa balas komentar panjang cetar membahana ulalamu ini. Hahaha. Okay, saya balasin satu-satu deh.

      Pertama2 terima kasih sudah mau baca tulisan saya ya. Saya sebenarnya suka nulis fluffy ko, cuman belakangan ini emang jarang nulis yg genrenya begitu. Tapi kalau kamu mau bongkar2 tulisan lama saya di blog ini. Ada ko yg sejenis ini 😀

      Terus, soal typo, di mana ya? Jangan takut buat kasih tahu saya soal typo, soalnya saya seneng kalau reader saya kritis. Ayo bilang aja.

      Errr, novel ya? Aduh, saya masih belum ada waktu ngerjain novel. Takut keteteran gitu, jadi lebih seneng nulis di blog gini. Lebih seru :3

      Ah, udah, jangan galau2 lah 😀 sekali lagi terima kasih sudah baca cerita saya ya! Semoga berkenan kembali lagi.

    1. Hihihhi, selamat datang di blog saya Nona yang suka memberantakan kata-kata *ditampol karena kurang ajar*

      Saya juga suka sama cerita ini. Yah, semoga saya bisa menulis lebih baik dari ini. Terima kasih telah membaca, silakan datang kembali!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s