Resensi Buku

[Resensi Buku] Swiss: Little Snow in Zurich – Alvi Syahrin

swiss

Judul                     : Swiss: Little Snow in Zurich

Penulis                 : Alvi Syahrin

Penerbit              : Bukune

Terbit                    : 2013

Tebal                     :297 halaman

Rate                       : 2/5

Harga                    : Rp 52.000,-

“Yang sebenarnya aku pikirkan selama ini hanya kamu. Yang aku sayang selama ini hanya kamu. Dan, kalaupun aku menyukai salah seorang perempuan di sana, aku tidak akan memilih mereka. Aku sudah memilihmu.” – Rakel to Yasmine, Swiss: Little Snow in Zurich, hal. 279

Saat membeli buku, aku bertaruh dengan feeling-ku. Kadang buku-buku yang kutaruhkan dengan menginvestasikan uangku untuk membelinya kumenangkan dengan kualitas cerita yang sangat keren dan dasyat. Maka, selayaknya aku membeli serial #STPC dari kota Melbourne, Paris, Roma, dan Barcelona yang lain, aku pun mempertaruhkan uangku dengan buku ini. Tapi sayangnya, untuk kali ini aku cukup merugi.

Pertama-tama, mari kuceritakan garis besar dari plot buku yang kubaca dengan sekuat tenaga ini. Buku ini menceritakan tentang dua orang anak manusia yang dipertemukan oleh nasip di sebuah dermaga kota Zurich. Mereka pengunjung reguler di tempat itu, tapi tak saling menyapa atau bahkan bersuara, hanya melirik dan diam-diam mengagumi. Sampai akhirnya, salah seorang dari mereka, Karel Steiner melangkahi garis pembatas itu dan memulai percakapan dengan Yasmine.

Percakapan yang mengawali cerita panjaaaang cinta mereka.

Pada mulainya, semua terasa biasa-biasa saja. Karel dan Yasmine menjalin hubungan layaknya muda-mudi kebanyakan yang meniti semuanya dari pertemanan. Musim dingin membekukan kebersamaan mereka dalam potret-potret kamera Yasmine yang terasa hidup. Menyebabkan, benih-benih cinta mulai merekah di hati Yasmine, dan perasaan itu semakin menguat saat Rakel mengajaknya melakukan kegiatan musim dingin yang tertera di sebuah daftar kegiatan miliknya. Yasmin percaya itu adalah kencan terselubung dari Rakel.

Tapi ternyata, daftar kegiatan musim dingin itu merupakan cerita lain bagi Rakel. Anak laki-laki, remaja berumur 16 tahun itu, ternyata memiliki rahasia yang bersangkut paut dengan keberadaan Dylan dan Elena. Siapa kedua orang ini? Mereka adalah teman Yasmine di high school. Teman Yasmine yang dulunya adalah sahabat Rakel dan mereka memiliki masa kelam tersendiri, dan kini mereka saling membenci.

Terutama Rakel dan Dylan. Kedua anak laki-laki ini sudah memiliki masalah sebelumnya, berhubungan dengan masa lalu, dan masalah mereka semakin runyam ketika Dylan yang cinta mati pada Yasmine mengetahui bahwa gadis itu ternyata menyukai Rakel. Terlepas dari rasa cintanya, Dylan merasa kalau dirinya harus menyelamatkan Yasmine dari rasa sakit atas perasaan gadis itu untuk Rakel. Karena Dylan tahu, bahwa Rakel punya maksud lain terhadap Yasmine yang berhubungan dengan daftar kegiatan musim dingin mereka dan kamera.

Jadi, apakah perasaan Yasmine terbalaskan? Apakah Dylan akhirnya dapat mendapatkan Yasmine? Apa Rakel pada akhirnya mengaku pada Yasmine tentang daftar kegiatan musim dingin itu?

Jeng, jeng! Penasaran dengan rahasia itu? Kalau maksa tahu ya baca aja bukunya di toko buku atau beli segera. Hehehe.

Well, untuk resensinya. Aku gak menemukan hal-hal menarik dalam buku ini selain covernya yang sialnya keren banget dan ilustrasi-ilustrasi di dalamnya yang setengah mati apik banget. Sedikit banyak kutemukan kejutan dalam buku ini, terutama tentang daftar kegiatan itu yang ternyata bukan dituliskan oleh pihak yang diperebutkan dalam hubungan asmara di masa lalu, melainkan oleh adik Rakel yang meninggal dan belum sempat mewujudkannya (hubungan adik Rakel dengan persahabatan Dylan, Elena dan Rakel tetap kurahasiakan biar gak terlalu spoiler). Cukup terkejut di sini, tapi gak benar-benar bikin ‘WOW’ gitu dan malah membuat plot di buku ingin terkesan maksa.

Penulis sepertinya berusaha untuk memanipulasi tema dan plot mainstream dengan kejutan itu, tapi (bagiku) gagal karena tidak benar-benar mampu membangun gunung berapi dalam cerita ini. Klimaks-nya nyaris gak terasa, mungkin yang paling tinggi di bagian Yasmine, Rakel, Dylan, dan Elena duduk bersama dan berusaha menyelesaikan masalah mereka namun, berakhir bencana karena masalah mereka justru semakin runyam. Rakel dan Yasmine berpisah; Yasmine akhirnya mencoba untuk berkencan dengan Dylan untuk melupakan Rakel dan Rakel pun mulai mengencani gadis-gadis yang mendekatinya untuk mengisi sesuatu yang hilang dari dirinya saat berpisah dari Yasmine.

Pokoknya, setelah adegan ini, plot cerita jadi luar biasa garing dan membosankan. Terutama saat Rakel dan Yasmine saling memiliki teman kencan sendiri. Penulis terkesan memanjang-manjangkan anti-klimaks biar novelnya tebal, dan karena hal itu di bab-bab terakhir aku hanya membaca skimming. Aku sudah tahu endingnya bahkan sejak awal klimaks, tapi gak bisa cepet-cepet ke ending karena untuk meresensi sebuah buku harus baca dari awal sampai akhir.

Aku pribadi pun ngerasa kalau penulis juga sadar kalau anti-klimaksnya kurang gereget, sampai akhirnya ia menambahkan klimaks lain yang menurutku lebih dipaksakan. Rakel dan Ibu-nya pindah ke New York saat hubungan Rakel dan Yasmine mulai membaik. Errrhm, di buku ini pun tidak diceritakan kenapa ibunya memutuskan pindah. Tahu-tahu ia bilang kalau segala sesuatunya sudah disiapkan dan mereka tinggal pindah, terus gimana bisa ngurus surat-surat kepindahan tanpa tanda tangan dari orang-orang yang pindah? Bisa ya? Atau emang hukum di Swiss kayak gitu? #Duak *Ditendang* Okay, aku ngelantur, abaikan saja. Tapi serius, rada bete juga dibagian ini, bener-bener bete karena bikin capek bacanya. Maaf untuk penulis, kesimpulannya, plot mainstream Anda kurang berhasil dimanipulasi dan cenderung gagal.

Fuuuh, panjang bener tentang plotnya. Eits, tunggu dulu, masih ada hal-hal lain yang mengganggu di buku ini. Yaitu tentang bahasa Swiss-Jerman  atau Jerman dalam buku ini yang kayaknya penempatannya kurang tepat, to much, menurutku. Kadang terkesan kurang konsisten karena aku gak bisa bahasa Jerman, jadi lebih enak kalau baca dialog yang fokus pake bahasa Indonesia dan sedikit diselingi bahasa Jerman biar lebih kerasa latarnya. Dan ngomong-ngomong soal latar, penulis pun tanpa kurang mendalami latar tempat ini. Penjelasannya terkesan setengah-setengah dan kurang dalam, hanya berkisar tentapa apa? Di mana? Atau kenapa? Tidak benar-benar bercerita. Mungkin itu disebabkan oleh riset yang kurang mendalam atau karena seri tempat di Swiss ini memang susah dicari data-datanya. Aku tidak tahu. Yang pasti, feel latar tempat yang seharusnya menjadi pedoman dalam seri #STPC kurang dapat dihidupkan oleh penulis. 😦 sorry to say, ya.

Untuk gaya kepenulisan penulis, ermmh, jujur saja aku gak bisa membandingkan karena ini buku pertama yang aku baca dari penulis. Tapi jujur saja, gaya menulisnya bukan cangkir kopi saya. Ada hal-hal dari gaya kepenulisannya yang membuat penggambaran tokoh ceritanya menjadi absrud. Seperti penggunaan istilah anak laki-laki yang aku konotasikan sebagai anak-anak berumur 10 – 12 tahun dan bukannya anak remaja berumur 16 tahun, serta dialog-dialog yang antar tokoh yang terkesan lebih dewasa dari umur dalam cerita yaitu remaja. Kenapa aku bilang begitu? Soalnya, aku sekarang remaja, berumur 17 tahun, jadi aku tahu bagaimana perasaan-perasaan remaja sesungguhnya dan nyaris tak bisa membayangkan ada remaja atau anak-anak berpikiran sedewasa itu tentang cinta. Hahaha. Begitulah.

Jadi, kesimpulannya, bintang 2 ya! Awalnya mau kasih 3, tapi aku gak tega untuk membohongi perasanku sendiri 😦 jadi bisanya kasih segitu. Satu bintang untuk cover dan ilustrasinya, satu bintang untuk bacaannya. Buku ini sangat bagus sebagai koleksi kalian karena cover dan ilustrasinya keren abis, bakal sangat bagus dipajang deh! Silakan dibeli! 😀

Iklan

8 thoughts on “[Resensi Buku] Swiss: Little Snow in Zurich – Alvi Syahrin”

  1. saya belum beli satupun serial STPC ini.. belum penasaran sih 😀
    membaca reviewnya malah nggak pengen beli :mrgreen: tapi nggak tahu untuk seri yang lainnya dari STPC ini..

    1. Saya sudah bikin resensi, Roma, Paris dan Melbourne kok kak 😀 bisa cek di Menu atau di pencarian doang. Buku2 stpc yang lain bagus2 kok, terutama melbourne dan Paris. Cuman Swiss yang sejauh ini bikin saja kecewa. 😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s