Cerita Bersambung, Romance, Slice of Life

[The Secret Lovers] Part 2-A: I Can’t Bear It, Let’s Stop This

Sebelum baca part ini, mari baca part sebelumnya!  (Part 1: This Is Our Relation, Face it!)

breakup

Giovani Tanuwijaya. Putra tunggal dari pemilik perusahaan tekstil ternama, Budi Handono Tanuwijaya. Hidup bergelimpangan harta, namun selalu low profile dan murah senyum. Di kelas ia termasuk anak yang cerdas, mampu menyerap pelajaran dengan baik meski bukan yang terbaik.

Aku acapkali berada di kelompok kerja yang sama dengannya, dan kami sering berinteraksi meski canggung masih saja menyelimuti. Bagiku ia teman sekelas yang sangat baik, sifat cepat membaurnya membuatku nyaman berada di dekatnya. Meski wajahnya bukan tipe yang akan langsung membuat para cewek terpesona (cewek-cewek di kelas baru sadar kalau Gio itu cakep setelah ngelihat senyum lesung pipinya itu beberapa kali), tapi bagiku yang jarang mengotak-ngotakkan cowok dari wajahnya. Gio sudah termasuk dalam daftar cowok yang tak perlu aku antisipasi dengan nada jutekku.

“Gio, lu seharusnya enggak usah repot-repot kayak gini. Gue jadi enggak enak,”  kataku sembari melirik tas karton berisikan dress retro yang tempo hari sempat aku dan Gio lihat di majalah dengan perasaan tak enak hati.

“Kenapa harus ngerasa enggak enak? Kan baju itu lu sendiri yang beli,” sahut Gio sembari bersandar pada pintu mobilnya. Cowok itu baru saja mengantarku pulang, dan sekarang kami tengah berdiri berhadapan di depan pagar rumahku

“Tapi lu sampai minta diskon 90% sama yang punya butik, Gi! Harganya lima ratus ribu, dan gue cuman bayar empat puluh lima ribu. Itu yang punya toko rugi besar!” sahutku setengah memekik.

“Itu karena lu bersikeras enggak mau gue beliin, ya udah, gue mintain diskon aja,” kata Gio santai, lantas tertawa melihat ekspresiku sekarang ini.

“Ampun, Gi…” aku mengacak-acak rambut panjangku sembari ikut tertawa. “Kalau gue enggak gitu, lu pasti beliin dress ini buat gue. Gue justru malah yang enggak enak sama lu.”

“Enggak usah ngerasa enggak enak, gue kepengen beliin itu buat lu kan emang ada maksud terselubung.”

“Eh?”

Gio tersenyum lebar, kemudian melangkah mendekatiku. Satu tangannya menyentuh lembut pipiku dan mengusapnya. “Lu kelihatan gloomy banget hari ini,” katanya sembari melebarkan senyum di wajahnya. Aku yang masih setengah sadar dengan tindakan pria itu, hanya dapat mengerjap kaget. “Jadi gue kepengen bikin perasaan lu baik lagi. Muka jutek lu masih lebih cantik dari ekspresi lu hari ini.”

Aku terkesiap mendengar perkataan Gio, hingga aku tak sadar ada orang ketiga yang sedari tadi memperhatikan kami berdua dan kini tengah berlari mendekat.

PLAK!

Sraaak!

“Vian…?!”

Vian menampar tangan Gio menjauh dan menarikku ke belakang tubuhnya. Cowok itu menatap Gio seakan-akan ingin menelannya bulat-bulat. Untuk beberapa detik tak ada satu pun dari kami yang berbicara. Hingga akhirnya Vian maju selangkah dan menatap wajah Gio semakin lekat.

“Kirana milik gue.”

Kata-kata Vian mengubah ekspresi terkejut di wajah Gio menjadi sebuah senyuman yang tak bisa kudefinisikan—entah itu bertanda mengerti atau memiliki maksud lain—tapi Gio tak menjawab apa pun. Sembari tersenyum ia balas menatap Vian, kedua cowok itu tengah berbicara dengan ekspresi wajah mereka, dan aku sama sekali tidak mengerti bahasa ekspresi antar cowok yang mereka gunakan sekarang.

“Kir, gue balik ya.” Gio mendongakan kepalanya untuk melihatku lebih jelas di balik tubuh jangkung Vian, dan tersenyum seperti biasanya seolah-olah tak ada yang terjadi. Kemudian ia masuk ke dalam mobil dan pergi tanpa mendengar balasanku.

Sepeninggal Gio, Vian langsung menyeretku masuk ke dalam rumah dan membawaku ke kamar. Berkali-kali aku memintanya melepaskan cengkraman di tanganku, tapi cowok itu diam saja sampai akhirnya ia menghempaskan tubuhku di atas kasur.

“Kenapa lu ngehindarin gue?”

 Aku tak langsung menjawab pertanyaan Vian karena tubuhku yang ia hempaskan belum dapat kukuasai sepenuhnya. Hingga beberapa saat kemudian aku duduk di pinggiran kasur dan mendongak untuk menatap Vian.

“Gue lagi enggak mau ngomong sama lu!” jawabku ketus sembari melipat kedua tangan di depan dada.

“Kirana! Kita enggak bisa nyelesaiin masalah ini kalau enggak ngomong!” Suara Vian meninggi, kembali memarahi tindak tandukku yang kekanak-kanakan. Lagi-lagi aku merasa ciut, merasakan kesenjangan pola pikir di antara kami yang membuatku semakin malu mengakui diri lebih tua darinya.

“Sekarang mau lu apa?” tanyaku, menyerah dengan keadaan.

“Gue mau kita go public, engak usah pacaran sembunyi-sembunyi kayak gini lagi.”

“Enggak mungkin!” tanggapku cepat, menatap cowok itu lekat-lekat untuk menunjukkan keteguhan pemikiranku. “Gue udah bilang kan kalau gue—“

“Lu enggak suka hidup lu di ganggu ‘kan? Karena pamor gue bikin lu ngerasa enggak nyaman? Karena lu takut dengan semua kemungkinan yang sebenarnya belum terjadi kalau lu ngaku jadi pacar gue ‘kan?” Vian memotong kalimatku, suaranya yang terdengar serak membuatku nyaris percaya bahwa ia ingin menangis. Tapi tidak, Vian tidak menangis, egonya sebagai laki-laki tak membiarkan air mata menetes sedikit pun di wajahnya. Hanya saja, ekspresinya itu… begitu…

“Gue capek, Kir…” Vian meremas rambutnya dengan satu tangan, terlihat frustasi dengan kondisi ini. Melihatnya seperti itu, aku langsung membuang wajah ke dinding; dadaku sakit. “Gue udah bilang kalau gue enggak sanggup kayak gini terus. Gue terlalu cinta sama lu, sampai gue enggak bisa mikir lagi gimana caranya biar lu tuh sadar, Kir.

“Gue cinta sama lu, bukan karena penampilan lu atau apa kata orang. Gue cinta sama lu karena itu lu, bukan orang lain.”

Aku menutup mulutku, menahan isakan yang sudah berada di ujung lidah. Lagi-lagi, kata-kata indah bak roman picisan itu keluar dari mulut Vian. Puluhan kali aku memutar kata demi kata itu di kepalaku, berusaha untuk meyakininya. Tapi sisi lain dari logikaku selalu berhasil menumbuhkan rasa ketidakpercayaan diri itu.

Seorang Kirana Putri yang seperti ini tak pantas bersanding dengan seorang Favian Fausta.

Seketika itu juga tangisku pecah. Hati dan kepalaku kacau, seirama dengan air yang terus mengalir tanpa henti dari kedua mataku. Melihatku dalam keadaan seperti ini, Vian sadar kehadirannya tak membuat perasaanku menjadi lebih baik. Kembali, tanpa berkata-kata, Vian keluar dari kamarku. Meninggalkanku yang kini (lagi-lagi) menangis tanpa mempedulikan hari esok.

Damn you, Vian, cuman lu satu-satunya cowok yang bisa bikin gue nangis dua malam berturut-turut!

***

Seandainya saja aku tidak ingat kalau aku harus berbicara dengan Gio perihal kejadian kemarin, mungkin sekarang aku masih berada di atas kasur dan berdalih pada mama kalau aku sakit. Sepanjang hari aku hanya menatap papan tulis di depan kelasku nanar, aku ingin sekali tidur, tapi pelajaran pertama pagi ini adalah fisika dan Bu Wiji pasti akan memotong nilaiku jika aku tidur di kelasnya.

Sembari menahan rasa perih di mata akibat menangis semalam, aku memutuskan untuk mengajak Gio ke perpustakaan dan bicara empat mata dengannya di jam istirahat kedua. Aku tak mungkin membiarkan Gio berspekulasi sendiri tentang hubunganku dengan Vian. Menjelaskan padanya tentang kami sepertinya pilihan yang baik. Semoga saja ia mengerti dan dapat membantuku untuk menjaga rahasia ini dari khalayak umum.

Tapi anehnya, Gio terlihat tak begitu tertarik dengan ceritaku tentang Vian. Ia lebih peduli memperhatikan kedua katung mataku yang menghitam seperti panda di balik kacamata minusku. Maka dengan satu gerakan ia menarik kacamataku dan memaksaku memamerkan kedua mata panda itu.

“Lu harus tidur, Kir,” komentarnya saat melihat kantung mata hitam yang kini terlihat jelas.

“Gue enggak papa,” sahutku ketus sembari merampas kembali kacamataku dari Gio.

“Gue antarin lu pulang sekarang ya?” katanya lagi dengan wajah khawatir.

“Dibilang juga gue enggak papa.” Aku masih bersikeras dan tanpaknya Gio pun menyerah.

“Jadi, gue minta sama lu buat ngerahasiain hubungan gue dengan Vian,” kataku, menarik kembali pembicaraan ke jalurnya semula.

“Kenapa sih lu enggak putus aja sama dia?” Gio menarik tubuhnya ke belakang dan bersandar pada kursi. “Bukannya lu tertekan pacaran sama dia?”

Aku diam saja, tak menanggapi perkataan Gio itu. Sesungguhnya,  pikiran untuk putus sempat terlintas, tapi aku sadar, sosok Vian yang sudah memenuhi duniaku tak mungkin dapat kuhapus begitu saja. Aku bahkan nyaris percaya bahwa waktu seumur hidup pun tak mungkin membuatku berhenti memikirkan cowok itu.

“Ok deh, gue mau rahasiain,” kata Gio akhirnya setelah keheningan yang cukup lama  terjalin di antara kami, “tapi dengan satu syarat.”

“Apa?” tanyaku cepat, sedikit terkejut saat Gio mengajukan syarat seperti itu. Kuraharp bukan hal-hal aneh seperti memaksaku menjadi pelayannya selama seminggu atau apa pun itu.

“Berhenti nangis untuk cowok itu.” Gio menunjuk mataku dan tersenyum. “Janji sama gue kalau lu enggak akan datang ke sekolah dengan mata seperti itu. Wajah lu jadi jelek banget.”

Aku sontak manyun dan Gio hanya terkekeh geli sembari satu tangannya mengacak-acak rambutku. “Lu cewek teraneh yang pernah gue temui di muka bumi ini, Kir!”

***

Aku dan Gio baru saja ingin keluar perpustakaan karena jam istirahat sudah berakhir, tapi saat ingin melewati pintu perpustakaan, ibu penjaga perpustakaan tiba-tiba saja memanggilku dan menghentikan gerakan kami berdua.

“Kirana, tolong antar buku ini ke lab biologi ya.”

Aku menatap tumpukan buku tebal tetang cara membedah binatang amfibi yang disodorkan Bu Sri—penjaga perpustakaan—padaku dengan pandangan kaget. “Banyak banget, Bu,” protesku sembari menunjuk buku-buku yang bertumpuk di atas meja itu.

“Kan ada Gio,” kata Bu Sri lagi sembari menunjuk Gio yang berdiri di sampingku dengan dagunya.  “Tolongin ibu ya, kan kalian udah minjem perpus buat pacaran. Hihihi.”

Aku langsung melirik Gio dan cowok itu hanya tersenyum seperti biasanya. “Ya udah deh, Bu, sini kita bantuin,” kata Gio sembari mengangkat satu tumpukan besar buku-buku itu, mau tak mau aku pun mengakat tumpukan lain yang tak begitu tinggi dan bersiap untuk pergi.

“Eh, aduh, ternyata masih ada lagi.” Bu Sri terlonjak saat melihat tumpukan buku yang sama di bagian bawah meja, kemudian ia menatap aku dan Gio sesaat, terlihat sangsi jika kami dapat membawanya. “Sebentar ya, ibu cari orang dulu,” kata Bu Sri akhirnya sembari berlari ke depan pintu perpustakaan. Ia menoleh ke kanan dan ke kiri untuk mencari bala bantuan terakhir, hingga akhirnya ia meneriakan nama seorang murid yang ia lihat pertama kali.

“Favian!!”

Deg.

Aku mengerjap berkali-kali, aliran darahku tiba-tiba tersendat di pembulu darah dan aku nyaris lupa untuk bernapas. Please, bukan cowok itu, please, bukan..

“Vi, kamu bantuin Kirana sama Gio angkatin buku-buku ke lab biologi ya?”

UHUK. Mati. Memang Favian yang itu.

Vian menoleh ke arahku dan Gio yang masih berdiri di tempat kami semula, senyum Gio yang tampaknya tak pernah luntur menyapanya sementara aku yang tak tahu harus berekspresi seperti apa hanya dapat melempar pandangan ke tumpukan buku di tanganku.

“Mana bukunya, Bu?” Vian masuk ke dalam perpustakaan disusul Bu Sri yang langsung membawanya mendekati kami.

“Itu di bawah meja, tolong ya kalian bertiga, soalnya mau dipakai Bu Dewi buat pratikum.”

Tanpa banyak bicara, Vian langsung mengambil buku-buku yang tertumpuk di lantai dan melangkah menuju lab biologi mendahului kami. Aku dan Gio pun menyusulnya di belakang tanpa ada keinginan untuk melangkah sejajar apa lagi melewatinya.

Suasana hening, tak ada satu pun dari kami yang mau bicara atau sekedar menyuarakan sesuatu. Gio yang melangkah di sampingku hanya tersenyum, seolah-olah kondisi yang sedang kami alami sekarang ini bukan perkara yang rumit. Sementara itu aku yang entah mengapa merasa ‘super canggung’ jadi salah tingkah, bahkan nyaris terjatuh saat melangkah.

“Lu enggak papa?” tanya Gio saat aku tersandung untuk kesekian kalinya. “Lu masih bisa jalan kan?”

“Eh, iya, gue enggak papa,” jawabku cepat sembari menggelengkan kepalaku kuat-kuat. “Mungkin karena kurang tidur aja, hehehe,” imbuhku mencari-cari alasan.

“Makanya, jangan nangis mulu. Sayang kan energi lu kebuang percuma.”

Aku terdiam, tak menanggapi perkataan Gio barusan  karena pikiranku langsung teralih pada Vian yang melangkah tepat di depan kami. Entah apa maksud Gio berkata seperti itu, aku yakin Vian bisa mendengar apa yang baru ia katakan padaku mengingat jarak yang hanya satu meter. Aku menelan ludah, melirik Gio yang tersenyum puas kemudian kembali mematut diri pada punggung Vian, berharap dengan sangat cowok itu tidak ambil pusing dengan perkataan Gio tadi.

Ya ampun, sebenarnya ada apa dengan cowok-cowok ini?

Perjalanan (yang bagiku panjang dan menyiksa) menuju lab biologi berakhir, Vian langsung meletakan tumpukan buku-buku itu di atas meja guru dan tindakannya itu ditiru olehku dan Gio. Untuk beberapa detik Vian diam saja, sampai akhirnya Gio mengakhiri kegiatan ini dengan mengajakku kembali ke kelas.

“Balik yuk, Kir. Pelajarannya Pak Joko nih.” Gio tersenyum padaku sembari menggiringku keluar dari lab biologi, meninggalkan Vian yang masih terpaku di tempatnya. Tapi belum sempat aku melangkahkan kaki keluar dari ruangan itu, Vian memanggilku.

“Kir.” Aku berhenti, kemudian berbalik dan mendapati Vian berjalan mendekatiku. Tatapannya datar seperti biasa, hingga aku tak tahu apa yang tengah ia pikirkan sekarang ini.

“Maafin gue.”

 Vian meraih satu tanganku dan meletakan sebuah benda di sana, kemudian berlalu tanpa mengucapkan apa pun lagi. Sementara aku terdiam, menggenggam benda yang baru saja Vian berikan padaku erat-erat, merasakan kehangatan di dadaku yang selalu aku temukan setiap kali aku bersama Vian.

Ah, tidak. Benda yang Vian berikan bukan benda romantis seperti cincin, kalung, atau apa pun itu yang mengindikasikan keromantisan di novel-novel roman.

Benda ini hanya obat tetes mata.

Tapi yang membuatku tersentuh bukan kegunaan benda ini bagi mata pandaku. Melainkan kenyataan bahwa Vian membawa benda ini sepanjang hari—Vian memikirkanku. Padahal ia sendiri tahu, kesempatan memberikan benda ini padaku di sekolah sangat kecil. Kemungkinannya itu hanya satu berbanding seribu, tapi ia tetap membawanya dan berharap pada satu kemungkinan itu.

Aku memandang obat tetes mata di tanganku lekat-lekat, kemudian tertawa, merasa diri sendiri begitu konyol dengan perasaan bahagia yang tiba-tiba saja muncul.

Tolong, beritahu aku jika ada wanita lain di muka bumi ini yang merasa begitu dicintai ketika pacarnya memberikan obat tetes mata.

***

From: Favian Fausta

Hari ini lu mesti pulang bareng gue.

Sms itu kubaca tepat sebelum aku memasuki ruang kelas, dan isinya langsung membuat perasaanku kalut. Sms Vian terus terlintas di kepalaku selama pelajaran terakhir berlangsung hingga aku tak dapat fokus memperhatikan senyawa asam-basa di papan tulis. Apa aku bisa bersikap seperti biasa kembali?

Obat tetes mata yang Vian berikan tadi memang membuat perasaanku jauh lebih baik, tapi obat tetes mata tidak bisa menyelesaikan masalah kami. Pulang bersamanya pasti akan terasa sangat canggung, dan aku tak ingin saat-saat seperti itu dipenuhi dengan rasa canggung.

Yah, pulang bersama Vian memang sudah menjadi kebiasaanku semenjak kami berada di sekolah yang sama. Selain karena papa yang hanya bisa mengantarku ke sekolah dan tak dapat menjemput karena pekerjaan di kantornya, Vian juga bersikeras untuk mengantarku pulang. Padahal aku sudah menolak karena takut akan ada murid lain yang melihat kami. Tapi Vian berjanji padaku akan memilih jalan tikus yang jauh, sehingga tak seorang pun yang bisa melihat. Dan untungnya janji itu memang terbukti karena ritual pulang kami ini masih terus berlangsung dengan aman sampai sekarang

Teeeet… teeeet… teeeet…

Aku mengerjap sembari memerhatikan sekelilingku, sedikit kaget dengan bel pulang sekolah yang entah mengapa terasa begitu cepat; mungkin karena aku hanya melamun saja dari tadi. Hahaha.

“Kir, pulang bareng yuk!”

Tiba-tiba saja Gio sudah berada di depan mejaku dan tersenyum sangat lebar. Beberapa murid di kelas memandangi kami, bahkan Karin teman sebangkuku langsung ber-cieeeeh! ria dan kabur saat aku sudah ingin melemparnya dengan kotak pensil.

“Errr, sorry,Gi…” Aku buru-buru memasukan buku dan peralatan sekolahku ke dalam tas, lantas berdiri sembari membenarkan letak kacamataku yang miring. “Gue enggak bisa pulang bareng sama lu, emh, ada urusan.”

“Urusan apa? Gue anterin lu ke sana deh,” balas Gio, terkesan tak ingin melepasku begitu saja.

“Enggak usah, Gi, serius, gue bisa sendiri,” elakku lagi. “Dah, Gio, sampai besok ya!” Setelah menyampirkan tas selempangku di bahu, aku pun langsung bergegas pergi sebelum sempat Gio mendesakku lebih lama lagi.

Sebelum benar-benar keluar dari lingkungan sekolah, aku sengaja mengambil jalan memutar agar melewati kelas Vian, berharap menemukan cowok itu dan kami dapat bertukar pandangan. Tapi sayangnya aku tidak menemukannya, dengan perasaan sedikit kecewa aku pun keluar dari lingkungan sekolah dan setengah berlari menuju sebuah gang sempit yang berada dua ratus meter dari gerbang.

Gang sempit yang berujung pada jalan besar di lingkar utara kota itu hanya bisa dilewati sepeda motor. Dulu gang itu sering dilalui penduduk, namun karena pemukiman kumuh yang ada di gang tersebut telah dialokasikan ke tempat lain oleh pemerintah, kini gang tersebut cukup sepi bahkan jarang ada orang yang sadar akan gang tersebut. Aku dan Vian biasa bertemu di sana tiap kali pulang sekolah, dan pulang lewat sana—yeah, berputar ke utara dari sekolah kami yang berada di pusat kota menuju rumah kami yang berada di bagian timur.

Langkahku melambat saat gang yang kutuju sudah di depan mata. Setelah melirik kiri-kanan untuk memastikan tidak ada satu pun anak SMA Tunas Bangsa yang lewat, aku pun memasuki gang tersebut.

“Lama banget.”

Suara sinis Vian menyapaku saat aku melangkah mendekatinya yang tengah duduk menyamping di atas CBR hitam milikinya. Sejenak aku berhenti melangkah, dadaku berdebar, kata-kata yang sudah kurangkai di kepala hancur berkeping-keping. Sekarang, semua terasa kosong; nyatanya, otakku menjadi kosong saat duniaku dipenuhi oleh Vian.

“Sini.” Vian menggoyangkan tangannya, memintaku untuk mendekatinya. Sedikit ragu aku pun melanjutkan langkahku dan kini berdiri tepat di hadapannya.

“Udah pakai obat matanya?” tanya Vian dan aku hanya mengangguk sebagai jawaban iya. Tapi tiba-tiba saja cowok itu menarikku merapat kemudian melepas kacamataku untuk membuktikan sendiri apa perkataanku benar atau tidak. “Nanti di rumah pakai lagi ya,” katanya sembari mengembalikan kacamataku ke tempatnya semula saat mendapati diriku berkata jujur.

“Iya,” jawabku sembari membenarkan letak kacamata yang sedikit miring ,dan jawaban singkatku itu pun mengantarkan keheningan di antara kami.

Aku sungguh tak tahu apa yang harus aku katakan, rasanya benar-benar canggung dan membingungkan. Ya, bingung, aku bingung dengan diriku sendiri, karena selama ini Vian-lah yang selalu bersikap lebih dewasa, sementara aku selalu saja membuat onar dan menghibahkan rasa bersalah padanya. Selalu Vian yang meminta maaf, selalu Vian yang merasa diri bersalah. Aku tak tahu apa yang Vian pikirkan tentang sifatku ini, tapi aku merasa kalau diriku benar-benar…

tidak berguna.

“Maafin gue, Vi.”

Akhirnya aku memberanikan diri untuk memecah suara dengan permintaan maaf. Aku tak dapat menemukan kalimat lain yang lebih menunjukkan rasa bersalah ketimbang kalimat ‘maafin gue’ yang acapkali kudengar keluar dari mulut Vian akhir-akhir ini. Entah, mungkin bagi kami kata ‘maaf’ seolah-olah bisa menyelesaikan segalanya.

“Lu enggak perlu minta maaf,” sahut Vian sembari menepuk-nepuk kepalaku sayang, “Salah gue yang enggak ngertiin perasaan lu.”

Mendengar tanggapan itu aku hanya bisa menggigit bibir, berusaha menahan rasa perih yang belakangan ini semakin melumut di dada. Aku tak pernah berpikir rasa pengertian Vian yang begitu besar pada sifat jelek yang kumiliki dapat membuat perasaanku sebegini sakit.

“Ayo, pulang!” ajak Vian akhirnya sembari membenarkan posisi duduknya di atas CBR hitamnya dan menyodorkan helm—yang setiap pagi ia titipkan di warung jajanan yang ada di depan gang—padaku.

Tanpa banyak bicara aku menurut; mengenakan helm itu dan duduk menyamping di jok belakang motornya. Pada akhirnya, segala rasa yang berkecambuk di dadaku tercekat di tenggorokan dan tertelan kembali. Aku kalah oleh rasa takut, takut karena jika aku berani bersuara yang aku lakukan itu hanya akan membuat Vian semakin repot.

Mesin motor menyala dan aku pun melingkarkan tanganku di pinggang Vian untuk berpegangan. Sebelum motor besar ini benar-benar bergerak, aku berbisik di punggungnya tanpa cowok itu sadari.

“Gue sayang banget sama lu, Vi.”

**To Be Continue**

A/N:

ALOHA! Hihihihi, maaf ya baru bisa ngelanjutin cerbung ini sekarang. Banyak alasan yang ingin aku kemukakan, dari WB, tugas sekolah, gak ada waktu, dll. Tapi akhirnya aku dapat menyelesaikan part ini cukup panjang dan menikmat setiap katanya. Part 2 kubagi dua bagian, ada A dan B, kenapa? Selain panjang dan takut kalian boring banget bacanya, aku cuman pengen lihat reaksi dan ketertarikan kalian terhadap cerita ini. Hahaha. Tanggapan kalian di Part 2-A ini mempengaruhi konflik yang akan terjadi di Part 2-B. Kira-kira apa ya yang akan terjadi selanjutnya? Hihihihi. Semoga bukan hal yang serem-serem ya? 😄 Soalnya mood-ku belakangan ini bermasalah.

Oke deh, akhir kata, terima kasih telah membaca, semoga tidak mati kebosanan ya Para Penikmat Kata!

Iklan

8 thoughts on “[The Secret Lovers] Part 2-A: I Can’t Bear It, Let’s Stop This”

  1. Good. Tapi kok aku lebih suka yg part pertama ya, Kak. Tapi yang ini aku juga suka. Kirananya modis gak Ka? *pertanyaaan apa ini?*

    1. UHUK, duh, bener banget sih yang kamu omongin. Sebenarnya rada kurang dapat feelnya di part ini karena kubagi dua. Tapi karena kepanjangan dan takut para pembaca boring, ya kupisah. Nyatanya, part ini bisa lebih panjang lagi –”

      Kirana modis? Gak kok, bukannya dia malah minta bantuan sama Gio untuk milih baju kencan. Baju juga kalau gak Gio ancam bakal beliin dia gak mau beli baju dress. Kwkwkwkw.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s