[Resensi Buku] The Ocean at The End of The Lane – Neil Gaiman

ocean

Judul                     : The Ocean at The End of The Lane

Penulis                 : Neil Gaiman

Penerbit              : Gramedia Pustaka Utama

Terbit                    : Juli, 2013

Tebal                     : 264 halaman

Rate                       : 4,5/5

“Tidak ada yang lulus atau gagal dalam menjadi manusia, Sayang.”Mrs. Hempstock Tua (The Ocean at The End of The Lane, Neil Gaiman, hal. 253)

Aku membeli buku ini tanpa berpikir dua kali. Masih berandalkan feeling dan believe kalau apa yang kupegang adalah buku keren. Dan berbeda jauh dengan perasaanku saat membaca serial #STPC dari Swiss milik Alvi Syahrin, buku yang satu ini adalah jeckpot!

Secara garis besar, buku ini menceritakan pengalaman masa kecil seorang pria yang mengalami petualangan mengerikan, menakjubkan, mengesankan, juga yang tak terlupakan sampai akhirnya ia menua.

Saat itu ia baru berumur 7 tahun, ia tinggal bersama keluarga kecilnya di sebuah desa kecil di Inggris. Hidupnya normal sampai suatu hari, karena keluarganya memiliki kendala finansial, kamarnya harus disewakan pada seorang penambang opal dari Afrika Selatan. Apa yang terjadi pada penambang ini? Penambang ini bunuh diri karena perasaan bersalah pada kawan-kawannya di Afsel tatkala ia menghabiskan semua uang yang dipercayakan padanya. Ternyata, bunuh diri ini berdampak pada rentetan kejadian mengerikan yang diakibatkan oleh seorang Kutu—begitu keluarga Hempstock memanggil mahkluk-mahkluk pengganggu yang lolos dari Samudra.

bocah itu tak tahu apa-apa tentang asal muasal kejadian itu akhirnya diajak seorang gadis kecil bernama Lettie Hempstock ke perkebunan mereka yang berada di ujung jalan setapak. Keluarga Hempstock-lah yang menemukan mayat si Penambang Opal pertama kali dan merasa bertanggung jawab untuk melindungi si bocah dari ulah si Kutu.

Di sinilah pertama kali si bocah mengenal Lettie. Gadis kecil berumur 11 tahun itu mengajak si bocah menuju Samudra yang pada kenyataanya adalah sebuah kolam ikan kecil di perkebunan hempstock. Tapi Lettie bersikeras kalau itu adalah Samudra. Aneh, bagi bocah kecil itu, tapi ia tak begitu ambil pusing dengan perkataan Lettie.

Setelah kembali dari rumah Lettie Hempstock, kejadian mengerikan mulai terjadi. Diawali dengan si bocah yang tiba-tiba saja memuntahkan sekeping uang logam, yang akhirnya menuntunnya kembali ke keluarga hempstock (oh ya, lupa cerita, kalau keluarga hempstock hanya terdiri dari tiga orang, Littie Hempstock, Gienne Hempstock, dan Mrs. Hempstock Tua) untuk meminta pertolongan sampai akhirnya ia menalami sebuah kejadian mengerikan saat ia bertemu langsung dengan sosok Kutu berbentuk kain kanvas penuh sobekan dan wajah yang meleleh.

Ia pikir segalanya usai saia Lettie mengusir kutu tersebut, tapi ternyata, dengan ceroboh si bocah melepaskan tangan Lettie saat gadis itu memerintahkannya untuk tidak melepaskan tangannya dan membuat bocah malang itu menjadi media atau portal antara Samudra dan dunia nyata.

Melalui tubuh bocah itu si Kutu masuk ke dunia nyata dalam bentuk cacing di kakinya. Si Kutu kemudian berubah sosok menjadi seorang wanita bernama Ursula Monkton yang kemudian menjadi pengasuh si bocah dan adiknya. si bocah yang mengetahui sosok asli dari Ursula Monkton pun mengalami depresi berat. Ia tak boleh keluar rumah, ia dihukum, dan lain sebagainya bahkan sosok Ursula Monkton itu sampai mengancam akan membunuh si bocah jika ia belari kabur dari rumah mereka dan pergi ke rumah Para wanita Hempstock untuk meminta pertolongan.

Nah, apa yang terjadi pada bocah ini selanjutnya? Apa ia selamat dari sosok Ursula Monkton itu? Apa Para wanita Hempstock dapat menolong mereka? Atau justru ada bahaya yang lebih besar dari hanya sekedar Kutu menunggu? Kekekeke~ Temukan sendiri pada bukunya!

Buku ini bergenre fantasi, misteri, dan petualangan. Harusnya menjadi buku yang sangat sulit untuk ditulis karena penulis harus berhasil membawa sosok fantasi ke dalam cerita. Tapi Paman Gaiman berhasil membangun perasaan mencekam, luar biasa, berdebar, dan takjub pembaca dengan kesederhanaan narasi dan cerita dari sudut pandang seorang anak berumur 7 tahun.

Meski menggunakan alur mundur dan sudut pandang orang pertama tunggal pelaku utama, Paman Gaiman tak kesulitkan membangun latar, alur, dan plot yang rumit itu menjadi sesuatu yang begitu nyata di mata pembaca. Sungguh, membaca buku ini seperti menonton sebuah film yang gak kalah kerennya kayak nonton HarPot or Lord of The Ring. Tapi, meskipun buku ini sungguh luar biasa dalam penggambaran plot dan cerita. Aku agak sedikit kurang srek dengan bagaimana cara penulis menunjukan amanat dalam cerita ini.

Sampai setengah buku ini aku hanya menikmati cerita, belum mendapatkan pesan apa pun dari buku ini. Sampai akhir pun, aku masih merasa kalau cerita ini sedikit menggantung, meskipun pada akhirnya si bocah mampu melanjutkan hidupnya seperti sedia kala. Something missing, klimaks sangat terasa anti klimas dapet banget, tapi ada pemanis di buku ini yang bagiku kurang. Ah, mungkin lebih kepada taste dan pandangan subjektifku sebagai pembaca. Hahaha. Jadi, minus 0,5 ya, terlepas dari beberapa typo yang aku temukan di buku ini sih (lagi malas ngebahas typo :P)

Akhir kata, buku ini benar-benar pantas menjadi salah satu bacaan dan koleksi kalian, selain covernya yang keren abis itu, cerita dan plot buku ini benar-benar pantas menjadi teman kalian di hari yang suntuk!

11 pemikiran pada “[Resensi Buku] The Ocean at The End of The Lane – Neil Gaiman

    1. Beugh, buku ini emang pantes dibaca berkali-kali sih Kak! Saya kebawa banget pas baca buku ini, apa lagi pas bagian si bocah kabur dari rumah terus dikejer sama Ursula Monkey itu *main plesetin aja* hahahaha. Aduh, deg-degan! ><

    1. Halo, Kakak! Selamat datang di blog saya ya ihihihihi. Boleh dipanggil siapa nih?

      Hahaha, kebetulan juga buku ini adalah buku pertama yang saya baca dari Paman Gaiman. Karya2 beliau yang sebelumnya belum pernah saya baca. Kemudian, untuk perbandingan dengan Murakami-Oujisan, hihihihi, saya belum pernah baca buku beliau, kepengen baca tapi belum kesampaian di dompet dan feelingnya. Hohohoho.

      1. haloo..panggil saja jamlima (memang terdengar aneh, tapi lama-lama akan terbiasa :p)

        iya, memang harga novelnya relatif mahal, 😦 oh ya, tapi banyak lho cerpennya yang bisa dilihat gratis. 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s