[The Secret Lovers] Part 2-B: I Can’t Bear It, Let’s Stop This

Part Sebelumnya:

Part 1      : This is Our Relation, Face It!

Part 2-A  : I Can’t Bear It, Let’s Stop This

breakup

SMA Tunas Bangsa terlihat cukup ramai pagi ini, ada segerombolan besar cewek berlari menuju mading dan beberapa mengobrol di selasar kelas dengan ekspresi yang aneh; tampak sangat tidak biasa. Tapi sayangnya, aku tak cukup punya peduli untuk memerhatikan tingkah laku siswa-siswi di sekolah ini lantaran kepalaku diisi dengan berbagai macam hal. Jadi, aku hanya melangkah seperti biasa di lorong menuju kelasku tanpa sedikit pun merasa terpengaruh pada  sekitar.

Beberapa hari belakangan ini semua berjalan cukup normal bagiku. Vian dan aku sama-sama tahu jika kami berani membicarakan tentang apa-hubungan-kita-bakal-gopublic-atau-enggak di saat-saat seperti ini, yang kami dapatkan hanyalah perdebatan tak berujung. Jadi, kami memilih untuk sama-sama diam dan melakukan semua hal yang biasa kami lakukan sebelum permasalahan itu muncul.

Sejujurnya ini menyakitkan, terlebih bagi Vian yang terang-terangan tak ingin menutupi hubungan kami. Tapi apa mau dikata, aku tetap tak mau hubungan kami diketahui orang-orang di sekolah. Terlepas dari kenyataan kalau aku tak ingin menjadi sorotan khayalak dengan status ‘pacar Vian’, aku sendiri tak tahu apa yang akan penggemar-penggemar Vian lakukan terhadapku jika mereka tahu idola mereka adalah pacarku.

Byuuuuur!

Astaga. Apa ini?

Tubuhku basah kuyup oleh air yang entah datang dari mana. Untuk sepersekian detik otakku tak berfungsi, hingga tiba-tiba saja seseorang mendorongku dari belakang dan aku tergelincir jatuh ke lantai koridor.

“Jadi, cewek ini pacarnya Vian?”

DEG.

Aku terbelalak; napasku tercekat. Secepat kilat aku mengangkat wajahku yang basah oleh air dan mendapati beberapa cewek tengah berdiri di dekatku. Aku mengerjap beberapa kali, berusaha untuk memperjelas penglihatanku yang dipenuhi air hingga kukenali seorang cewek yang selama ini selalu terlihat berada di dekat Vian di mana pun cowok itu berada.

Tiara Larasati.

Cewek tingkat akhir jurusan IPS itu sangat terkenal di sekolah karena statusnya sebagai anak ketua yayasan. Tapi hanya satu hal yang kupedulikan darinya, Tiara adalah seorang ‘penggencet’.

Brak!

Tiara membanting ember di tangannya ke lantai hingga pecah, lantas melangkah mendekat dan menarik kerah bajuku hingga tubuhku terangkat separuh.

“Putus sama Vian!” bentaknya tanpa tedeng aling-aling, aku yang masih kaget dengan kondisiku sekarang ini hanya dapat menatap cewek itu kaku; dan hal itu justru membuatnya semakin beringas. “Lu denger enggak sih!?”

Plak!

Aku ditampar, dan ini yang pertama kalinya sepanjang 17 tahun hidupku, rasanya benar-benar sakit; tidak hanya di wajahku, tapi juga di hatiku. Dan tiba-tiba saja, entah dari mana kekuatan yang aku dapatkan, kucengkram pergelangan tangan Tiara yang tengah meremas kerah bajuku dan memaksa cewek itu menyudahi dominasinya dengan melempar lengannya ke udara.

“Jangan sentuh gue,” kataku dengan penuh penekanan dan raut wajah Tiara langsung berubah berang. Dengan tubuh basah kuyup aku pun bangkit berdiri dengan sedikit terhunyung lalu menatap cewek di hadapanku itu tak kalah sengit. “Gue enggak sudi disentuh sama tangan kotor lu itu.”

“Apa lu bilang?!” Tiara mendorong bahuku hingga aku mundur beberapa langkah. “Lu enggak takut sama gue, hah?!”

“Kenapa harus takut?” kuangkat dagu sembari menyeringai, lantas membuang muka ke arah tembok. “Lu pikir diri lu hebat apa?”

Untuk beberapa detik tak ada balasan dari Tiara, ia mungkin sedang menahan rasa jengkelnya padaku. Hingga tiba-tiba saja kedua tanganku disergap oleh salah seorang ‘antek-antek’ Tiara yang berbadan besar dan cewek itu mengunci tanganku kuat-kuat di belakang tubuhku.

“Lepasin gue!” Aku meronta sekuat tenaga, berusaha untuk melepaskan diri dari cewek tambun di belakangku. Namun, tubuhku yang jauh lebih kecil darinya membuat semua usahaku sia-sia.

“Ini akibatnya kalau lu coba-coba ngebangkang sama gue.” Tiara mendekat sembari mengangkat tangannya tinggi-tinggi, bersiap melayangkan tamparan keduanya. Aku refleks menunduk, mencoba sebisa mungkin untuk menghindar hingga beberapa saat sebelum tamparan itu benar-benar menyentuh wajahku gerakan Tiara terhenti.

Ada seseorang berdiri di depanku.

Secepat kilat aku mengangkat kembali wajahku dan mendapati sosok Vian terpantul di mataku. Kulihat punggung cowok itu naik-turun, berusaha menghirup udara yang sepertinya ia tahan saat berlari kemari.

“Lepasin Kirana!” bentak Vian lagi saat napasnya mulai kembali terkumpul.

Perlahan-lahan cewek tambun itu melepaskan tubuhku dan aku pun buru-buru beringsut ke sisi di mana tak ada seorang pun yang dapat menjangkauku dengan mudah. Vian mengambil posisi di depanku, dan pandanganku kembali terhalang olah bahu lebarnya. Ia menatap Tiara lekat-lekat dan kembali berbicara.

“Jangan sentuh cewek gue, atau gue enggak segan-segan balas apa yang udah lu perbuat sama dia.”

Wajah Tiara terlihat pucat, ia menatapku yang bersembunyi di balik tubuh Vian dengan tatapan penuh kebencian, hingga akhirnya ia pergi di susul antek-anteknya. Orang-orang yang tadi mengerumuni kami pun mulai berlalu, dan beberapa dari mereka bahkan ada yang tertawa senang mendapat tontonan gratis.

Aku sudah tahu, saat hubunganku dan Vian terbongkar, tak hanya Tiara yang membenciku, tapi semua cewek yang menyukai Vian—entah terang-terangan atau pun diam-diam—pun merasakan hal yang sama.

***

Thank’s bajunya,” kataku sembari memasukkan seragam putih abu-abu-ku yang basah ke dalam tas. Setelah kejadian ‘menggelikan’ di koridor, Vian langsung menyeretku ke toilet dan menyodorkan baju olahraganya padaku. Aku yang mengerti apa maksud perbuatannya langsung menyambar baju itu dan mengganti bajuku yang basah dengan baju olahraganya tanpa banyak bicara.

“Gue anterin lu pulang sekarang,” kata Vian dengan nada memerintah sembari menarik tanganku pergi. Tapi, aku yang merasa tak suka dengan nada bicaranya itu sontak menepis tangannya dan berkacak pinggang.

“Gue mau belajar,” tolakku tegas.

“Tapi Kir…”

“Jangan kira hal remeh kayak gini bikin gue takut,” sambarku; memotong ucapan Vian dan membuat cowok itu bungkam.

“Bukannya ini yang lu mau?” aku membuka suara kembali, dan nada sinis melunjur dengan mulusnya dari bibirku. “Gue udah enggak punya hidup tenang gue di sekolah ini, dan sekarang, lu mau paksa gue untuk enggak sekolah hanya karena itu? Gue enggak selemah yang lu pikirin, Vi, gue enggak selemah itu.”

Aku berbalik dan pergi. Meninggalan Vian yang masih bungkam; bergelut dengan pikirannya sendiri.

***

To: Favian Fausta

Gue pulang sendiri hari ini. Jangan tanya macem-macem, kita ngomong besok aja.

 

Kumasukan kembali handphone-ku dalam tas dan terus melangkah di trotoar sembari merenung. Karin bilang kalau ada orang yang pasang foto-fotoku dan Vian saat pulang sekolah di mading, dan foto-foto itu di beri judul ‘Favian Fausta Ternyata Punya Pacar’. Pantas saja suasana pagi tadi terasa sangat berbeda—lebih hidup dari biasanya. Aku tak pernah berpikir kalau pada akhirnya ada orang yang menemukan hubungan kami dengan cara seperti itu. Aku sendiri belum melihat foto-foto tersebut, tapi yang pasti pihak sekolah sudah mencobot foto-foto itu dari mading.

“Hah…”

Aku mendesah, berharap dengan sangat semua yang terjadi hari ini hanyalah mimpi dan aku terbangun di atas ranjang. Tapi tidak, ini bukan mimpi dan aku terpaksa menghadapi kenyataan ini bagaimana pun caranya.

Sesungguhnya, aku tak pernah menyangkah hari ini akan datang karena aku selalu percaya dengan kemampuanku menyembunyikan diri. Selama ini aku telah berhasil menjadi seorang siswi SMA Tunas Bangsa yang tak pernah menjadi menonjol. Bagiku, menjadi biasa itu menenangkan, damai, dan aku suka itu. Tak banyak yang mengenalku, hanya teman sekelas dan beberapa teman dekat seperti Karin saja yang berhasil mendapatkan perhatianku. Selebihnya kujuteki atau hanya sekedar menyapa.

Tapi sekarang semua hal itu telah hilang; semua orang kini tahu siapa Kirana Putri. Di masa depan tak akan kutemukan lagi ketenanganku, hari-hari di mana tak ada seorang pun yang mempermasalahkan keeksistensianku dan lebih memilih mengacuhkanku. Dan semua ini karena foto-foto konyol yang entah diambil oleh siapa, juga karena kecerobohanku sendiri.

Ya ampun, kenapa tiba-tiba semua jadi begini?

 “Jangan pasang muka kayak pengen nangis gitu dong, Kir.” Bahuku berjenggat kaget, dan saat aku berbalik, kudapati senyum Gio terpampang jelas di mataku. “Hari yang buruk, ya?”

Aku menarik satu sisi bibirku dan bertolak pinggang. “Jangan bikin tambah buruk dengan nunjukin simpati yang sia-sia gitu lah,” sahutku sinis. “Mau apa lu?”

“Idih, jutek banget sih.” Gio melebarkan senyumnya dan senyum itu menulariku; entah mengapa aku merasa begitu nyaman ketika mendapati masih ada senyum untukku hari ini.

“Ah, coba lu pulang sama gue aja, ending-nya enggak bakal kayak gini kan?” Gio mengacak-acak rambutku gemas.

“Hah?” dahiku berkerut dan cowok itu hanya tertawa renyah.

“Udahlah, pokoknya hari ini lu harus pulang bareng gue,” kata Gio seraya menarik satu tanganku dan menggenggamnya erat seakan-akan tak ingin melepaskannya lagi. “Gue mau ngebuktiin kalau lu pantas ngedapatin orang yang lebih baik dari cowok enggak punya hati itu.”

Gio tersenyum lebar sekali, dan aku hanya dapat mengerjap karena terbius oleh senyum itu. Hal selanjutnya yang kutahu adalah Gio menyeretku menuju Nissan Juke merahnya yang terparkir tak jauh dari tempat itu dan membawaku pergi tanpa mendengar jawaban dariku.

Ah, memangnya apa yang bisa aku lakukan? Kepala dan hatiku sedang tidak beres hingga tak mampu berkata tidak pada hal apa pun.

***

“Gimana perasaan lu? Feel better?”

Aku menyedot habis Cola Diet pesananku sembelum akhirnya menjawab dengan lantang pertanyaan Gio. “Gue benci cewek-cewek caper itu!!”

Gio terkekeh lalu mengacak-acak rambutku untuk yang kesekian kalinya hari ini; entah kenapa ia begitu terobsesi dengan hal itu. “Gue yakin lu enggak bakal berhenti mukul mesin Punch and Hit itu kalau seadainya petugas enggak marahin.”

“Gue baru puas kalau mesin itu hancur,” sahutku sembari tertawa. “Seandainya saja mesin itu mukanya si Tiara, gue bakal senang hati bayar segala ganti ruginya.” Gio ikut tertawa dan kami tenggelam dalam tawa kami masing-masing.

Awalnya aku tak tahu apa maksud Gio ketika ia menyeretku memasuki game center. Tapi, ketika dia menunjuk sebuah mesin pukul-pukulan, hahaha, aku langsung tahu kalau cowok itu ingin aku meluapkan segala kekesalanku hari ini.

Thank’s ya, Yo. Hari ini bisa lebih buruk kalau enggak ada lu tadi.” Aku tersenyum tulus ke arah Gio dan cowok itu terlihat mengerjap beberapa saat sebelum akhirnya ia membalas senyumku.

Anything for the girl who I love.”

Suara Gio yang lembut itu menusuk telingaku, merambat melalui setiap sel-sel sensorikku hingga ke otakku yang mencoba mencerna, tapi sayang, tak ada satu pun dari otot tubuhku yang bereaksi. Aku membatu, dan diam-diam kembali mengutuki hari ini di dalam hati.

***

“Mungkin gue terdengar sedikit memaksa, tapi bisa enggak lu mikir kemungkinan untuk putus dari Vian dan pacaran sama gue?”

Itu yang dikatakan Gio saat aku kehilangan kemampuan bereaksi atas kata-katanya. Meski dia bilang begitu, yang bisa aku lakukan saat itu hanyala mengerjap dan terus mengerjap; tidak yakin apa aku sedang bermimpi atau tidak. Lantas, Gio pun memilih tertawa saat melihat polahku dan memutuskan untuk mengantarku pulang.

Maka, di sinilah aku sekarang, tidur terlentang di atas kasur sembari menatap langit-langit kamar yang berwarna biru, sementara Maroon 5 menghentakan perkusinya dari DVD Player-ku untuk memenuhi ruangan ini. Biasanya aku menemukan ketenangan tersendiri saat melakukan hal seperti ini, tapi masalahku terlalu pelik untuk diredam dengan suara musik senyaring apa pun. Jadi, pikiranku akhirnya mengelana  ke waktu-waktu lampau saat aku dan Vian belum resmi pacaran sampai detik sekarang saat masalah terbesar dalam hubungan kami hadir. Lantas, sebuah pertanyaan muncul dan membuatku semakin merana.

Apa hubungan kami tidak akan sepelik ini kalau seandainya kami tak pacaran?

Yah, bukannya aku menyesali hubungan ini. Aku cinta Vian, dan aku sadar bahwa perasaanku meluap-luap untuknya hingga tak dapat ditahan lagi. Tapi semua hal menjadi semakin rumit akhir-akhir ini. Dimulai dari polah Vian yang tak suka jika aku menyembunyikan hubungan kami (well, sejak awal dia memang tidak suka, tapi kami punya perjanjian sebelumnya) hingga akhirnya hubungan kami terbongkar. Aku tak ambil pusing dengan siapa yang menyebarkan foto-foto yang membeberkan hubungan kami, mungkin saja dia salah satu dari penggemar Vian yang membuntuti cowok itu hingga akhirnya menemukan kalau setiap pulang sekolah Vian diam-diam pulang bareng denganku; tapi yang jelas, hubungan kami sekarang tidak sama lagi.

Sungguh. Ini melelahkan, bersama Vian terasa melelahkan. Berdosakah aku jika merasa begitu? Apa cuman aku yang merasa seperti itu?

Kumiringkan tubuhku dan beralih menatap tembok kamar yang penuh dengan poster dan foto-foto polaroid. Ada si Seksi Adam Levine—yang nyaris memenuhi separuh tembok kamarku—di sana dan foto-foto polaroid Vian yang kuambil diam-diam. Kebanyakan foto-foto  itu berlatar di kamar ini, kami melakukan banyak hal di sini, dan semakin lama kamarku mulai terasa penuh oleh sosok Vian. Vian bagian dari tempat ini juga bagian dari diriku. Nyaris setiap hari dia datang kemari, bahkan sebelum kami resmi pacaran. Dan belakangan ini, ketika cowok itu tak ada di sini, aku mulai merasa kehilangan.

“Gue enggak bisa tenang kalau di sini terus.” Aku berguman pada diriku sendiri seraya bangkit dan berdiri tegak. Kulihat jam dinding kamarku yang menunjukkan pukul tujuh malam dan meyakini Mama sudah siap dengan makan malam. Kalau pun belum, mungkin aku bisa sedikit membantu. Akan kulakukan apa pun asal sosok Vian tidak menggerogotiku, meskipun itu memasak.

Kumatikan lengkingan suara Adam dari DVD Player-ku dan melangkah cepat ke arah pintu sembari mencepol rambutku tinggi-tinggi ke atas. Lalu, tubuhku yang hanya berbalutkan kaus putih kebesaran dan celana pendek dengan gesit membuka pintu; tak sadar bahwa ada seseorang berdiri di balik papan itu sedari tadi dan akhirnya menabrak dadanya

Uh, aroma sampo ini…

Aku mengangkat wajah dan langsung terkejut saat mendapati guratan wajah Vian hanya berjarak beberapa senti dariku. Dengan sigap aku mundur; sontak membentak.

“Lu ngapain di sini?!”

Vian diam saja, menatapku tanpa ekspresi. Sejenak aku merasa takut, Vian jarang berekspresi seperti ini, karena secuek dan sekaku apa pun Vian, ia tak punya wajah sedingin itu.

“Sejak kapan lu di sini? Kenapa enggak masuk?” tanyaku lagi karena Vian tak kunjung menjawab pertanyaanku. Aku mulai jengkel, Vian kembali bertingkah aneh dan aku benci itu.

“Hah…” aku berkacak pinggang seraya membuang muka. Vian masih bungkam dengan wajah dinginnya itu, tengkukku mulai berkeringat karena takut, aku tahu ada yang tidak beres dengan cowok ini dan aku benar-benar tak mau tahu apa itu. “Ya udah kalau lu enggak mau ngomong, gue ke bawah.”

Tapi belum sempat aku menyeret tubuhku menjauh dari Vian, cowok itu buru-buru mencengkram lenganku dan menarikku kembali masuk ke dalam kamar.

Brak!

Suara pintu dibanting dan…

Clek.

Terkunci.

Aku tak bisa kabur, aku tahu itu. Aku harus hadapi ini. Atmosfir di kamarku semakin menyesakan dengan aura yang dibawa Vian masuk. Rasanya ingin sekali sesuatu terjadi seperti gempa bumi atau kiamat saja sekalian agar aku bisa terbebas dari setuasi mengerikan ini.

“Gue mau ngomong.” Vian akhirnya bersuara, ia melangkah mendekat dan kami berdua akhirnya berdiri berhadapan di tengah-tengah kamarku.

“Bukannya gue udah sms kalau kita ngomong besok,” sahutku mengingatkan tentang sms-ku tadi siang.

“Gue mungkin bakal nurut kalau seandainya aja lu enggak balik sama cowok itu,” balas Vian cepat dengan nada penuh penekanan. Aku berdebar, aku yakin Vian melihat Gio mengantarku pulang tadi.

“Emang kenapa kalau gue balik sama dia. Gio temen gue,” kataku membela diri, tak sudi menjadi pihak yang terpojok dalam ruangan ini.

“Temen?” Vian mendengus; darahnya mendidih. “Itu sih menurut lu! Dia nganggap lu lain, Kir! Gue tahu dia suka sama lu!” Vian akhirnya meledak, dan dadaku semakin cepat bedebar. Vian tak pernah semarah ini padaku, tak pernah. Tapi emosiku sedang labil sekarang, dan aku benar-benar tak suka cara Vian memojokkanku dan berkata seolah-olah apa yang kulakukan itu semuanya salah.

“Kalau dia suka sama gue emang kenapa? Terus gue harus jauhin dia? Sembunyi dari dia? Ya enggak kan? Gue mau tetep temenan sama dia!” kataku setengah menjerit, mataku mulai berair, luapan emosiku mulai tak terkendali. Aku mulai takut jika hal-hal bodoh keluar dari mulutku.

“Kirana! Jadi lu anggap gue apa? Lu enggak mikirin perasaan gue, hah!?” Vian menyahut tak kalah nyaring, memaksaku untuk mundur beberapa langkah karena tidak tahan dengan suara cowok itu.

“Lu jangan kekanak-kanakan kayak gini dong, Vi!” jeritku, setengah memohon agar Vian berhenti memberondongi dengan tekanan.

“Iya, gue akui kalau gue masih anak-anak! Emang apa salahnya gue cemburu?”

“Lu enggak percaya sama gue?”

“Gimana gue bisa percaya kalau bahkan selama ini gue ragu apa lu suka sama gue atau enggak!”

Aku terperanjat. Dadaku terasa tertohok oleh tombak tak kasat mata hingga rasa sakitnya membuatku tak dapat berkata apa pun lagi. Semua adegan dan kejadian terlintas cepat di depan mataku seperti film pendek; semua perasaan menghambur keluar. Banyak hal yang terkuak di antara kami, kejujuran yang coba dicari oleh Vian dan kenyataan perasaanku hanya dengan kalimat itu. Tapi hanya ada satu hal yang kutahu pasti.

Semua salahku.

Tiba-tiba saja ada keheningan yang mencekam, aku tak punya kata-kata lagi untuk diutarakan karena semua tertelan oleh rasa bersalah. Seharusnya tidak seperti ini, seharusnya aku menyadarinya sejak awal, seharusnya Vian mengatakan hal ini sejak awal, seharusnya aku bisa menghindari hal ini jika sejak awal aku menyerah atas Vian, seharusnya… seharusnya…

Cukup!

Aku sudah tak tahan lagi. Vian tak pantas untuk menderita labih lama lagi. Aku harus berhenti.

“Kir, sekarang gue cuman mau satu hal.” Vian memecah keheningan, tapi aku tak mampu mendengar apa pun lagi. Pikiranku kosong, dan sebuah keputusan gila melintas cepat di kepalaku. “Tolong lu…”

“Kita putus aja, Vi.”

“Apa?”

Lidahku terasa tercekat, tapi aku tak bisa menarik kata-kata bodoh yang sudah terlontar dari mulutku.

“Lebih baik, kita putus aja.”

**To Be Continue**

A/N:

Okay, Part 2 berakhir di sini. Hehehe. Bagaimana kelanjutannya? Mari bersabar menunggu hidayah datang padaku. Hahahaha.

12 pemikiran pada “[The Secret Lovers] Part 2-B: I Can’t Bear It, Let’s Stop This

  1. “Aku tak pernah berpikir kalau pada akhirnya ada orang yang menemukan hubungan mereka dengan cara seperti itu” Bukannya kalimat itu ada dalam pikirian Kirana? Kalau iya, bukankah seharusnya kalimatnya “………… akhirnya ada orang yang menemukan hubungan kami ……..”?

  2. Wakss… akhirnya setelah bermingguminggu ospek, bisa buka blogmu lagi,… Dan nemuin cerita ini bener2 nyenenginn…

    Ceritanya superr banget, Dict. Menyadarkan ku betapa rindunya aku ke cerita2mu… *eaa*
    Keren, tapi aku mau kamu tanggung jawab, Dict. Habisnya setelah baca ceritamu aku jadi galau,, :3

    1. Halo, Kristin 😀

      Terima kasih ya sudah mengikuti dan menyukai cerbung ini. Aduh, maaf baru bisa balas komentarmu sekarang, saya sedang hiatus untuk persiapan UN. Hehehe.

      Sabar ya, sedang mengumpulkan ide-ide cerita yang ketumpuk sama rumus-rumus kimia. Hahaha.

      Silakan datang kembali dan melihat-lihat!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s