[Resensi Buku] The Fifth Mountain – Paulo Coelho

IMG00618-20130929-0935

Judul                     : The Fifth Mountain (Gunung Kelima)

Penulis                 : Paulo Coelho

Penerbit              : Gramedia Pustaka Utama

Terbit                    : Cetakan kelima, 2013

Tebal                     : 379 halaman

Rate                       : 5/5

Harga                    : 62.500,-

“Mungkinkah Tuhan itu jahat?” desak si anak laki-laki

“Tuhan maha kuasa. Jika ia membatasi dirinya hanya dengan melakukan apa-apa yang baik. Dia tidak bisa disebut Maha Kuasa; itu berarti Dia hanya menguasai satu bagian alam semesta, dan ada orang lain yang lebih berkuasa daripada-Nya, yang mengawasi dan menilai tindakan-tindakannya. Kalau demikian halnya, aku lebih memilih memuja orang yang lebih berkuasa itu.” – percakapan Nabi Elia, hal 311

Sekali lagi aku jatuh cinta dengan tulisan pria yang menurutku masih terlihat tampan di umurnya yang sudah nyaris mengecup angka 80 tahun. Di lembar-lembar terakhir buku ini, tanganku gemetaran, rasanya ada hati yang terjatuh ke lantai rumah; dan itu hatiku. Ada perasaan, harga 62.500,- buku ini tidak seberapa berharga dengan apa yang telah diajarkannya pada hidupku. Jika bisa lebih dari rate 5 bintang, mungkin aku akan kasih rate buku ini 10/5 bintang. Hahahaha.

Baiklah cukup memuji-mujinya, buku ini menceritakan atau diambil dari cuplikan kisah hidup Nabi Elia—salah satu nabi terkenal pada kitab perjanjian lama di Alkitab—tapi tema yang ditawarkan bersifat SANGAT UNIVERSAL dan pastinya bakal sangat menyentuh hati setiap umat beragama yang ada di dunia ini, kususnya di Indonesia sih.

Eyang Coelho menawarkan tema hubungan antara umat dan Tuhannya di dalam konflik batin yang sering kali terjadi ketika kita mengalami cobaan-cobaan berat dan sengit. Buku ini mengisahkan bagaimana pada mulanya Elia mendapat panggilan sebagai Nabi Tuhan, hingga akhirnya ia lari dari kampung halamannya sendiri yaitu Yerusalem, lalu diutus Tuhan kepada seorang janda yang tinggal di Akbar, salah satu kota di Fenisia (orang Israel menyebutnya Lebanon).

Elia menjadi buronan tatkala raja Israel, Raja Ahab, akhirnya menyembah berhala karena pengaruh putri Fenisia yang ia nikahi. Putri bernama Izebel itu memaksa rakyat Israel menyembah Baal—dewa-dewa Fenisia—dan membunuh semua nabi-nabi Tuhan yang berteguh pada imannya. Nabi-nabi itu disuruh memilih menyembah Baal atau mereka akan dibunuh, namun bagi Elia, satu-satunya pilihan adalah ia harus mati. Maka, sesuai petunjuk Malekat Tuhan yang datang padanya, Elia pun kabur ke padang pasir dan menunggu di sana. Di padang pasir, akhirnya Tuhan pun memberinya perntah untuk pergi menemui seorang janda beranak satu di kota Akbar, salah satu kota Fenisia, kota penyembah berhala.

Widih, ajegile ya? Apa gak langsung dibunuh tuh si Elia? Hehehe, intermezo dikit ah.

Jadi, menurut sejarah yang tertulis di Alkitab, Elia menunjukkan mukjizat pada janda tersebut dan akhirnya di terima di dalam rumah perempuan itu. Tapi di kota seperti Akbar, berita tentang datangnya Nabi Israel ke tanah mereka langsung menyebar dengan cepat, tapi para penduduk tidak dapat mengusir nabi Elia karena adanya hukum keramahtamahan. Apaan itu? Hukum keramahtamahan adalah hukum karma yang waktu itu mereka percayai, jadi, setiap orang asing yang datang di daerah mereka harus mereka sambut dengan baik, karena jika tidak, anak-cucu mereka akan diperlakukan buruk di negeri-negeri asing. Wew, seandainya Indonesia (masih) menganut hukum itu ya 😀

“Ada saat-saat kita mengalami cobaan, dan ini tak bisa dihindari. Tapi ada alasannya mengapa semua itu terjadi.”

“Alasan apa?”

“Pertanyaan itu tak dapat kita jawab sebelum atau bahkan selama kita mengalami cobaan-cobaan itu. Setelah berhasil mengatasinya, barulah kita mengerti mengapa kita diberi cobaan-cobaan tersebut.” – Percakapan Nabi Elia dan Imam Agung, hal 60

Saat kemunculan Elia menjadi buah bibir, abdi Tuhan itu pun dihadapkan kepada Imam Agung, seorang pemuka agama yang berada di Akbar. Ia ditanyai berbagai macam hal, sampai akhirnya dibiarkan untuk tinggal sebagai ‘tawanan’. Nilai kepala Elia akan sangat berarti bagi kota tersebut. Itulah tujuan dan keputusan Gubernur Akbar juga Imam Agung untuk mempertahankan Elia di kota mereka.

Waktu pun berlalu. Tiba-tiba anak dari perempuan yang rumahnya ia tinggali jatuh sakit. Orang-orang mulai beranggapan bahwa Elia membawa kesialan dan kebencian ke kota mereka. Gubernur Akbar pun diminta untuk mengusir Elia, tapi karena ia masih memikirkan betapa berharganya kepala Elia, ia tidak melakukannya. Sampai akhirnya anak perempuan itu meninggal dan Elia pun langsung dijatuhi hukuman oleh warga Akbar.

Tapi kembali, Tuhan memberinya anugrah dan Elia pun membangkitkan anak itu dari kematian. Tapi keajaban itu bukan malah membuat warga Akbar kembali ke jalan Tuhan, tapi malah menganggap Elia mendapat anugrah dari Dewa-Dewa Baal yang bermukim di Gunung Kelima. Tapi Elia membiarkan hal itu terjadi, asalkan ia masih bisa tinggal di sana.

Waktu kembali bergulir di kota Akbar. Seiring munculnya kemah-kemah Bangsa Asyur di ujung cakrawala yang terlihat ‘akan menyerang’ kota Akbar, kecemasan pun meningkat. Tapi berbulan-bulan berlalu, pasukan Asyur tidak juga menyerang hingga pelan-pelan terlupakan. Elia pun, meski masih diliputi kegalauan dan kecemasan akan tugasnya mengembalikan bangsa Israel ke jalan Tuhan, kembali mengisi waktunya sebagai penasehat di masyarakat Akbar karena kebijaksanaannya. Tapi di lain pihak, sosok perempuan yang rumahnya ia tinggali semakin menyilaukan hatinya dan menyelimuti dirinya dengan cinta. Tanpa sadar, Elia jatuh cinta pada wanita itu.

“Dia merasa bebas. Sebab cinta membebaskan.” – hal 119

“Cinta akan menang dalam pertempuran ini, dan aku akan mencintai perempuan ini sepanjang sisa hidupku.” – hal 121

Dari lengan pakaiannya perempuan itu  mengeluarkan lempeng tanah liat bertulisan.

“Apa arti kata itu?” tanya Elia.

“Cinta.”

Elia mengambil lempeng itu, tidak  berani menanyakan mengapa perempuan itu memberikan lempeng ini padanya.  – Percakapan Nabi Elia dan perempuan yang dicintainya, hal 161

Tapi Elia tahu, tugasnya mengharuskan hati yang total. Dan jatuh cinta adalah salah satu hal yang harus ia hindari. Maka ia tetap memendam perasaan itu hingga akhirnya, bencana datang pada kota Akbar.

Perang terjadi.

Perang yang seharusnya bisa dihentikan secara damai namun gagal ditangani oleh Elia terjadi. Perang ini pula yang merenggut banyak kehidupan di kota itu, membumi hanguskan segala isinya, juga… membunuh orang yang sangat dicintai Elia.

Pada titik ini, Elia merasa benar-benar sengsara, merasa begitu ditinggalkan, merasa gagal. Mengapa Tuhan memalingkan wajah darinya? Mengapa doa-doanya tak didengarkan? Mengapa Tuhan harus merenggut orang yang ia cintai?

Mengapa tragedi mengerikan ini harus terjadi di hidupnya?

Dan dengan semua kesedihan dan kesengsaraan itu. Elia pun memulai pergumulannya dengan Tuhan. Apakah Elia mampu membangun kembali kota yang telah hancur itu? Apa Elia mampu menarik kembali bangsa Israel dari dewa-dewa Baal yang hanya mitos?

Mari! Beli buku ini, SEGERA!

Well, ada satu pesan yang benar-benar tertanam dalam benakku selama membaca buku ini.

“Kalau kau pejuang yang baik, kau tidak akan menyalahkan dirimu, tapi kau juga tidak akan mengulangi kesalahanmu.” –  Nabi Elia, hal 171

Ketika aku lagi down, stress dan bingung menjalani hidup. Aku menemukan diriku menyesali masa lalu dan mengutuki diri. Tapi buku ini menyadarkanku, menyematkan pejuang di hatiku dan mengatakan kalau masa lalu harus di ubah untuk membentuk masa depan yang lebih baik. Masa lalu tidak untuk disesali, kita hidup di masa sekarang dan belajar untuk mengubah masa depan. Ah, ini kutipan yang sungguh luar biasa. Kuulang-ulang setiap hari 😀 sampai aku memahaminya sekuat tenaga.

Hal yang berbeda dan unik dari buku ini adalah bagaima Eyang Coelho menyampaikan cerita penuh inspiratif ini tanpa terkesan mengguri. Ini pula yang kutemukan dari dua buku sebelumnya yang telah kubaca Aleph dan The Winner Stands Alone. Dalam kedua buku tersebut, Eyang Coelho berhasil menginspirasi jiwaku tanpa membuatku memiliki kesan ‘dinasehati’ oleh si penulis. Berbeda dengan semua buku inspiratif yang pernah kubaca.

 Di setiap susunan katanya kutemukan ajaran, ide-ide, dan gagasan yang dimiliki Eyang Coelho dengan jelas. Bagaimana ia menuangkan ‘dirinya sendiri’ dalam setiap tulisannya. Bagaimana ia menceritakan dirinya sendiri dalam bukunya. Oh, I can’t tell you more how much I love him and how much he changes my life, just with his books!Buku Eyang Coelho adalah buku yang GUEH BANGETZ.

Again, no complain.Meski sedikit ada typo dari penerbit dari bagian tanda baca, dan beberapa huruf yang kabur karena pencetakan yg kurang bagus. Aku sudah terlanjur terpesona dengan isi buku ini sampai-sampai tak peduli dengan typo dan sebagainya.

Buku ini benar-benar pantas untuk kalian baca. Bagi anak-anak muda labil sepertiku, bagi kalian yang merasa betapa beratnya hidup ini dan betapa tidak adilnya Tuhan, yang merasa tragedi datang silih berganti, dan sebagainya.

Kalian harus baca buku ini dan kalian akan sadar, betapa Maha Kuasanya Sang Pencipta 😀

16 pemikiran pada “[Resensi Buku] The Fifth Mountain – Paulo Coelho

  1. Lumayan bagus. Gw ngabisin 3 hari buat ngebaca buku ini di perpus kampus, disela-sela waktu kosong kuliah (ada juga beberapa buku Coelho lainnya, tapi gw lagi males baca, padahal mah gratis minjemnya). Sekilas sih sama kisahnya si Elia sama kayak Ayub, cuman Ayub lebih ngenes gituh.

    1. Idih, kakak ko enak banget sih! Pengen punya perpustakaan kayak gituuuuu! (T__T) Eyang Coelho mah karya2nya gak ada duanya sih. Hahaha. menurut saya.

      Kalau dibandingkan sama Ayub sih jelas aja lebih kelihatan menderita si Ayub. Pake ditelen ikan segala.hahaha. 😄 tapi kisah Elia dan bergumulan lebih ngena sih 😀

  2. Indah

    Duh, dek, kamu cinta banget yah sama om coelho. Jadi pengin coba baca neh.
    Oiya kemaren di basement blok m square jakarta aku banyak nemu buku seken om coelho, kenapa gak beli yah? Huhu masalahnya pake bahasa inggris, aku seyem duluan. Hehe. Malah jadi beli buku eyang Pram dan Mbak Ayu Utami. :))

    1. Iya, saya cinta banget sebanget-bangetnya sama Eyang Coelho ganteng ini. Kwkwkwkw. Ayo dibaca buku2nya. Gak bakal rugi kokkak, cari aja yang bahasa Indonesia 😀

      Saya malah gak pernah baca buku Mbah Pram sama Bude Ayu, sering lihat buku2 mereka padahal, tapi belum dapat hidayah buat beli. Hahaha.

    1. Iya, di Banjarmasin tax buku2 mahal banget. Kalau di Jawa harga komik 17.500, di Banjarmasin bisa sampai 20.000 atau 21.000 apalagi novel yang hitungannya lebih banyak. Untungnya sih saya pake kartu diskon, jadi bisa dapat potongan harga 10% 😀 Yah, gak naik2 amat lah.

  3. Ping-balik: [Book Review] The Fifth Mountain by Paulo Coelho @Gramedia #ResensiPilihan | lustandcoffee

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s