[Kompetisi #NulisKilat] Resolusi

 banner_nulis_kilat

“Resolusi tahun 2013: aku ingin lebih kurus dari tahun 2012.”

Kalimat itu mengawali diriku yang baru saat tahun 2013 dimulai hampir setahun yang lalu. Tanpa pikir panjang kulontarkan begitu saja di Twitter dan menyadari aku tak bisa menariknya kembali. Semua melihatnya, kabar menyebar begitu cepat di media jejaring sosial, dan keesokan harinya semua warga SMA tempatku menuntut ilmu tertawa terbahak-bahak.

Aku diperolok.

Aku, Bernadeta Utari, yang sejak kecil telah dicap sebagai ‘Anak Botol Galon’ ingin kurus?!

Hahaha. Lelucon macam apa itu? Mereka saling bertanya, saling berbisik, saling bergunjing, bahkan berani tertawa di depanku. Meremehkan resolusiku dan kalau bisa dibilang menginjak-injaknya. Aku bukan gadis populer, bahkan cenderung tersisih, tapi berani berkicau muluk-muluk seperti itu di media sosial? Astaga. Congkak sekali, kata mereka.

Hari berikutnya aku masih bisa sabar dan berpikir mungkin mereka akan cepat melupakan kicauanku. Tapi hari-hari berlalu, dan perlakuan mereka justru semakin parah karena mendapati tubuhku yang tak kunjung berubah.

Aku mulai depresi.

Aku meruntuki diri dan menyesali segala perbuatan yang telah kulakukan di awal tahun baru. Seharusnya aku menjadi manusia baru di tahun 2013, manusia yang lebih baik, tapi mengapa malah berujung mendapatkan pem-bully-an mental seperti ini? Padahal, itu akun pribadiku, aku bebas mengutarakan apa yang aku inginkan, mereka tidak berhak menghakimi atau bahkan merendahkanku. Tapi kenapa mereka seenaknya menggunjing dan memperolokku?

Apa salahku? Kenapa mereka begitu jahat?

“Itulah hukum sosial, Deta. Kamu gak bisa menyalahkan lingkungan sosialmu karena sejak awal sudah seperti itu adanya.”

Baca lebih lanjut

[Coretan Dicta] The Best Holiday Ever!

Wow, it’s hard to start it all over again after all these so GREAT time!

Okay, how I put these. Aku gak pernah mengharapkan akan mendapatkan perayaan natal yang sangat menyenangkan tahun ini. Sampai-sampai aku bingung mau cerita dari mana, dan akhirnya cuman bisa melongo di depan layar Ms.Word tanpa menuliskan satu kata pun. Jadi, akhirnya aku mulai menulis dengan hal-hal ngaco kayak gini. Hahaha.

Liburan akhir tahunku kumulai tanggal 18 Desember dengan pulang kampung ke Muara Teweh (Ibukota kabupate Barito Utara, Kalimantan Tengah), aku bertaruh kalian gak pernah dengar nama kota itu kecuali yang tinggal di Kalimantan—itu pun aku ragu apa mereka semua tahu, hahaha. Tapi aku gak langsung ambil jasa travel yang menuju ke Muara Teweh. Dari Banjarmasin aku memilih untuk pergi ke Palangkaraya terlebih dahulu.

Untuk apa?

Untuk ngerusuh.

Hahahaha. Palangkaraya adalah ibukota provinsi Kalimantan Tengah, aku rasa sudah banyak yang tahu kota ini karena pernah dicanangkan menjadi Daerah Khusus Ibukota beberapa tahun belakangan ini. Di kota ini aku pernah tinggal 3 tahun sepanjang kehidupan SMP-ku.

 Tempat tenang nan asri ini benar-benar tempat yang cucok untuk kalian menenangkan diri. Kota ini memang terkesan sunyi, para penduduknya gak begitu ramai dan padat. Di sini pun gak punya objek nongkrong keren macem mall atau tempat perbelanjaan yang super wow. Kalau dibandingkan Banjarmasin (tempat tinggalku sekarang), kepadatan-perkembangan-keramaian kota Palangkaraya bahkan gak sampai setengahnya, karena kota ini menata kotanya dengan hati-hati dan tidak sembarangan. Tapi efek buruknya ya itu, kesannya kota Palangkaraya kudet gitu, padahal warga kotanya open minded dan selalu update dengan perkembangan sekitar.

Lanjut soal kenapa aku mau ngerusuh di sini. Well, yang pasti sih mau ketemu temen-temen SMP-ku dulu. Masa-masa SMP itu masa-masa yang asyik menurutku sih, daku masih polos soal “kehidupan sosial masyarakat” sehingga aku berteman dengan semua orang tanpa mengalami perasaan “di-bully”, padahal, kalau dingat-ingat lagi aku cukup sering di-bully sih di SMP, cuman aku bebal dan gak ngerasa aja. Hahaha.

Aduh, tampangnya masih super unyu2 kan ini. Itu yang pojokan aku, dari badannya aja kelihatan kan kalau aku dulu GENDUT banget.
Aduh, tampangnya masih super unyu2 kan ini. Itu yang pojokan aku, dari badannya aja kelihatan kan kalau aku dulu GENDUT banget.

Hal pertama yang aku lakukan saat sampai di Palangkaraya adalah makan. Gue laper banget booo! Separuh perjalanan Banjarmasin-Palangkaraya aku habisin tepar karena mabok. Ah, mabok karena kebodohan aku sendiri juga sih, pake sarapan sayur mentah padahal biasanya buah (maklum lagi food combining seumur hidup nih). Akhirnya bengah dan mual deh nih perut, tapi untungnya separuh perjalanan sisanya kuhabiskan dengan perasaan yang cukup mendingan karena ketemu teman ngobrol yang seru di sebelah. Makasih Mbak Friska! (kalau gak salah ingat namanya juga sih ini, hahaha)

Di sisa tanggal 18 aku habiskan jalan bareng sepupuku dan dibeliin tanteku baju natal keren. Ya Tuhan, baru kali ini aku ngejalanin hari natal dengan baju natal keren kayak gini. Seumur hidup aku selalu ngelaluin natal dengan baju kaus dan celana jins! Kenapa? Karena selama ini badanku gak muat pake baju-baju natal itu L so sad banget kan? Padahal aku kepengen banget pake baju-baju natal keren kayak gitu, cuman gak pernah kesampaian. Hiks.

With Chynara. Sepupuku yang mukanya dayak banget. Cantik kan? Masih kelas 1 SMP!
With Chynara. Sepupuku yang mukanya dayak banget. Cantik kan? Masih kelas 1 SMP!

Terus, tanggal 19 Desember pun tiba. Aku Baca lebih lanjut

[Resensi Buku] Mitos dan Fakta Kesehatan – Erikar Lebang

PIC_13-12-27_14-52-27

Judul                     : Mitos dan Fakta Kesehatan

Penulis                 : Erikar Lebang

Penerbit              : Penerbit Buku KOMPAS

Tahun terbit       : Juni, 2012

Tebal                     : 198 halaman

Rate                       : 5/5

Harga                    : –

“Manusia tidak ditakdirkan untuk hidup dalam kelaparan mau pun kekenyangan bekepanjangan, ia harus hidup dengan asupan makanan yang cukup untuk membuatnya mampu hidup sejahtera.” –Erikar Lebang,  Mitos dan Fakta Kesehatan, hal 75

 

Sebenarnya  ini bukan buku pertama yang aku baca dari Mas Erikar Lebang, sebelumnya aku sudah baca Food Combining itu Gampang  dan Mitos dan Fakta Olahraga dan Yoga. Tapi dari semua buku Mas Erikar yang udah aku baca, aku memilih buku ini karena lebih mudah diresensi (berhubung ini resensi buku non-fiksi pertamaku) dan lebih awam untuk dibaca segala kalangan.

Buku ini berisi tentang kumpulan kultwit dari sang penulis yang disiarkan dan disebarluaskan oleh beliau di akun twitternya @erikarlebang. Kultwit beliau dibagi dalam lima bab “kibulan” yaitu kibulan pencernaan, kibulan makanan, kibulan sayur dan buah, kibulan air, dan kibulan susu. Masing-masing bab menjelaskan banyak sekali fakta serta jawaban dari mitos-mitos kesehatan yang bersangkutan dengan kelima kibulan tersebut.

Kebanyakan kibulan dari Mas Erikar emang sangat kontroversial dan bertentangan dengan pemikiran konvesional kebanyakan. Makanya Mas Erikar menyebutnya kibulan biar yang baca menanggapi dengan santai. “Suka Syukur, gak suka silakan unfoll” kata-kata tersebut yang kerap sekali Mas Erikar keluarkan saat selesai berkibul ria di Twitter (coba cek sendiri di twitternya kalau gak percaya XD).

Salah satu kibulan Mas Erikar yang paling kontroversial adalah kibulan tentang susu. Mas Erikar kentara sekali memerangi pemberian produk susu bagi anak sebagai minuman utama dan memerangi susu sebagai indikasi kesehatan seseorang.

“Somehow some people are insane enough dalam ‘menempatkan’ susu sapi dalam bentuk susu formula, terutama sebagai asupan utama.” –  hal 158

Semua kibulan Mas Erikar dikemas dengan bahasa santai nan asyik khas anak gaul sehingga gak terkesan diceramahi dan di nasihati dalam buku ini. Dan sebagai follower setianya selama 6 bulan belakangan ini, aku pun terkibuli seratus persen sama kibulan Mas Erikar Lebang. Hahaha. Semua Mitos dan Fakta dalam buku ini benar-benar terbukti dan menurut aku sangat bisa dipercaya, karena aku mengaplikasikannya sendiri dalam kehidupanku.

Dimulai dari jeniper (jeruk nipis peres) di pagi hari, kemudian sarapan buah, lalu menium air putih tanpa substansi lain (sudah enam bulan aku lupa rasanya teh, aku cuman minum air putih!), banyak makan sayur mentah, mengurangi asupan protein hewani, dan semuanya! Dan kini aku merasakan sendiri dampak positifnya di hidupku. Well, aku tak akan menceritakan lebih lanjut bagaimana Food Combining telah mengubah hidupku, karena aku akan menceritakannya di lain kesempatan buat kalian. Ceritanya panjang soalnya! XD

Intinya buku ini sangat cocok bagi kalian yang mulai merasa kualitas hidupnya menurun, terutama yang suka pusing, flu, batuk, kurang fit, asam lambung tinggi dan lain-lain. Biar kalian gak salah kaprah menyalahkan sumber penyakit kalian. Karena sumber permasalahan yang kalian alami itu ternyata sesederhana apa yang masuk ke mulut kalian!

So, bintang 5 ya untuk buku ini. Bintang sempurna ini kudedikasikan untuk ilmunya, karena hanya dengan kicauan twitter-nya Mas Erikar telah mengubah hidupku. *sungkem*

Wife Duties

bed

04.24 AM

Perempuan harus bangun lebih pagi.

Aku mengerjap dengan berat, sudut-sudut mataku masih lenget seperti lem, tapi aku tahu kalau aku harus bangun. Sekarang.

“Where you goin’, Hon?”

Seseorang melingkarkan lengan kokohnya di perutku ketika aku hendak bangkit berdiri; memaksaku menoleh ke arahnya.

Make breakfast,” jawabku dan pria berambut pirang itu langsung menyapu wajahnya di kulit punggungku sembari mengeratan pelukan di pinggangku.

Just sleep a little bit more. Aku tak pernah memaksamu untuk selalu bangun lebih pagi dariku.”

“That’s my duty as your wife. I’ll do it, even if you don’t force me to.”

“Ah, What’s wrong with these east culture.” Pria itu masih saja mengeluh dan aku hanya tergelak jenuh.

“Sudahlah, Bryan, lepaskan aku. You big kebo, go away,”  protesku saat pria itu masih tak kunjung melepaskan pelukannya.

“Kenapa kau tak pernah berpolah seperti perempuan kebanyakan?” Bryan, suamiku itu,  mengintipku dari sudut matanya yang nanar. Bisa kulihat iris mata biru itu di keremangan lampu kamar menatapku lekat-lekat, seolah-olah tak habis pikir dengan istrinya ini. Bryan selalu bilang, ‘When I see you, It’s like I see a new person everyday’ dan pria itu selalu menatapku begitu ketika ia merasakannya.

“Para perempuan selalu bermimpi dibangunkan suaminya dengan senampan sarapan di atas tempat tidur,  ciuman selamat pagi, pelukan mesra, even morning sex. But you?” Bryan perlahan bangkit duduk di sampingku, tubuh telanjangnya memamerkan otot tubuhnya yang kencang meski tak begitu kekar, sontak wajahku bersemu. We had a great sex last night.

“Sejak kita menikah sampai sekarang kau selalu bangun jauh lebih pagi dariku. Melakukan semua tugas rumah tangga pagi-pagi sekali padahal kau harus mengurus café-mu lagi setelahnya. Aku benar-benar tak habis pikir. Bagaimana bisa kau melakukan semua itu sendirian?”

Aku terdiam, memandang Bryan sama lekatnya dengan pria itu, kemudian tersenyum penuh pengertian. Pria bule ini tak pernah tahu bagaimana isi kepala wanita-wanita timur di bentuk dari kepatuhan dan rasa hormat kepada suami yang sangat mendalam. Doktrin yang mau tak mau harus diaplikasikan oleh seluruh wanita saat berumah tangga dan akhirnya menjadi sebuah budaya.

Listen, Bryan.” Baca lebih lanjut

[Puisi] Separuh Cahaya

separuh cahaya

Satu tahun yang lalu,

kita terpisah dalam ruang, waktu,

juga dunia yang berbeda.

 

Tatkala elegi menghantar

tubuhmu dalam kotak putih gading

dingin di bawah bumi

itulah waktu separuh cahayaku

 

padam

 

Aku hilang arah

 

Pusing bukan kepalang

 

Tapi waktu harus tetap berjalan

meski tertatih

dan melalui kala dengan letih

semua pun berubah,

antara aku dan sekitarku,

dan aku berhasil bertahan

 

Waktu yang tak pernah berhenti

mengajariku,

dirimu memang separuh cahayaku

dan aku oleng karena kehilanganmu

tapi Tuhan masih sisakan cahaya lain

yang lebih kuat, meski redup

yang masih tegar, meski ditiup

yang harus kujaga, agar hidup

satu-satunya cahaya yang tersisa

 

Maka,

dengan sisa-sisa keringat

dan waktu yang tenggat

berselubung hikayat-hikayat

milikmu yang menjadi rahmat

 

Kulanjutkan hidup

meski tanpa separuh cahaya

30.11.12

Muara Teweh

Setelah peringatan satu tahun kepergian Papa