Wife Duties

bed

04.24 AM

Perempuan harus bangun lebih pagi.

Aku mengerjap dengan berat, sudut-sudut mataku masih lenget seperti lem, tapi aku tahu kalau aku harus bangun. Sekarang.

“Where you goin’, Hon?”

Seseorang melingkarkan lengan kokohnya di perutku ketika aku hendak bangkit berdiri; memaksaku menoleh ke arahnya.

Make breakfast,” jawabku dan pria berambut pirang itu langsung menyapu wajahnya di kulit punggungku sembari mengeratan pelukan di pinggangku.

Just sleep a little bit more. Aku tak pernah memaksamu untuk selalu bangun lebih pagi dariku.”

“That’s my duty as your wife. I’ll do it, even if you don’t force me to.”

“Ah, What’s wrong with these east culture.” Pria itu masih saja mengeluh dan aku hanya tergelak jenuh.

“Sudahlah, Bryan, lepaskan aku. You big kebo, go away,”  protesku saat pria itu masih tak kunjung melepaskan pelukannya.

“Kenapa kau tak pernah berpolah seperti perempuan kebanyakan?” Bryan, suamiku itu,  mengintipku dari sudut matanya yang nanar. Bisa kulihat iris mata biru itu di keremangan lampu kamar menatapku lekat-lekat, seolah-olah tak habis pikir dengan istrinya ini. Bryan selalu bilang, ‘When I see you, It’s like I see a new person everyday’ dan pria itu selalu menatapku begitu ketika ia merasakannya.

“Para perempuan selalu bermimpi dibangunkan suaminya dengan senampan sarapan di atas tempat tidur,  ciuman selamat pagi, pelukan mesra, even morning sex. But you?” Bryan perlahan bangkit duduk di sampingku, tubuh telanjangnya memamerkan otot tubuhnya yang kencang meski tak begitu kekar, sontak wajahku bersemu. We had a great sex last night.

“Sejak kita menikah sampai sekarang kau selalu bangun jauh lebih pagi dariku. Melakukan semua tugas rumah tangga pagi-pagi sekali padahal kau harus mengurus café-mu lagi setelahnya. Aku benar-benar tak habis pikir. Bagaimana bisa kau melakukan semua itu sendirian?”

Aku terdiam, memandang Bryan sama lekatnya dengan pria itu, kemudian tersenyum penuh pengertian. Pria bule ini tak pernah tahu bagaimana isi kepala wanita-wanita timur di bentuk dari kepatuhan dan rasa hormat kepada suami yang sangat mendalam. Doktrin yang mau tak mau harus diaplikasikan oleh seluruh wanita saat berumah tangga dan akhirnya menjadi sebuah budaya.

Listen, Bryan.” Aku memegang kedua sisi kepala Bryan dan mendekatkan wajahnya padaku. “Kita lahir dengan segala perbedaan kultur, budaya, kebiasaan, bahasa, pola pikir, dan sebagainya. Sulit menemukan kesamaan di antara kita dengan semua perbedaan itu. Tapi ternyata, Tuhan berkata lain, kita bertemu dan berkomitmen,” kukecup hidup mancung pria itu lembut lalu kembali berbicara, ”di hadapan teman-teman, keluarga, dan Tuhan. Bahwa kita adalah dua orang yang kini menjadi satu. Kita menikah.

“Eyang Putri-ku selalu bilang…”

Your Grandma?

Yes, My Grandma. Kita kunjungi makamnya di Solo tahun lalu.” Kulingkarkan tanganku di leher pria itu dan merapatkan tubuh kami. “Dia selalu bilang padaku sejak kecil bahwa tugas penting perempuan itu ada di tiga tempat, yaitu sumur, dapur, dan kasur. You know what I mean?

Bryan mengangguk tapi dari ekspresinya ia masih tak begitu mengerti.

“Pertama, perempuan harus bisa bekerja. Ia tak boleh hanya bersantai seharian dan malas. Ia harus mencuci, menyapu, merapikan rumah dan lain sebagainya karena mengurus rumah adalah pekerjaan utamanya selain di kantor.

“Kedua, perempuan harus bisa memasak. Bagaimana pun caranya, gizi dan kesehatan makanan sebuah keluarga ada di tangan istri. Perempuanlah koki utama di dalam sebuah rumah tangga, sekalipun ia punya pembantu yang bisa disuruh memasak setiap hari.

“Dan yang terakhir…” kueratkan pelukanku dan mengigit telinga suamiku itu. “Perempuan harus bisa melayani suaminya di kasur. Yeah, you know this so well, right?

Bryan terkekeh di belakang tengkukku dan mencium pundakku yang polos mesra. “Well, I understand, but can you just take it easy, Honey? Relax, I won’t hit you if you ask me to make breakfast sometime.

No, I won’t.” Aku menggeleng pasti. “Melakukan itu semua sudah kewajibanku. Memang, kadang-kadang aku jenuh dan ingin berhenti sesekali, tapi ketika aku berpikir seperti itu, aku langsung sadar, hanya itu satu-satunya caraku untuk menunjukkan rasa hormat pada suami. Aku ingin menunjukkan padamu bahwa aku mampu menjadi istrimu secara utuh, tidak hanya menjadi teman bercintamu atau juru masakmu atau pengurus rumah tanggamu, tapi aku bisa melakukan semua itu bersamaan  sekaligus mendampingimu. Dan hal itu merupakan suatu kebanggaan tersendiri bagiku. Jadi, jangan suruh aku berhenti, karena kau hanya akan melukai perasaanku.”

Bryan terdiam, dia mungkin kehabisan kata-kata, sekali lagi ia menatapku lekat-lekat dan aku hanya tertawa.

Do you understand now?” tanyaku lagi tapi Bryan masih diam. “Okay, I guess you do. Now, please let me do what I must do and go back to sleep. I’ll wake you up when breakfast is ready.

Aku melepaskan pelukanku lalu turun dari kasur, mengenakan kembali pakaianku dan memandang Bryan untuk terakhir kalinya sebelum melangkah ke pintu kamar. Tapi sebelum sempat aku berlalu, Bryan tiba-tiba saja melempar bantal ke arahku dan aku sontak berbalik.

Hey! What are you doing?

Nothing.” Bryan mengangkat bahu. “Hanya ingin memastikan kalau aku benar-benar menikahi manusia biasa, bukannya alien dari pelanet Mars. Hahaha.”

Bryan tertawa, tawa yang terlihat begitu bahagia. Lalu ia kembali menjatuhkan diri di atas kasur dan melanjutkan tidurnya. Aku sendiri hanya dapat menggeleng-gelengkan kepala dan tersenyum lebar dengan hati penuh.

Merasa begitu bahagia menjadi perempuan, dan juga seorang istri.

Fin.

A/N:

Hay! Hay! Hay! I’m BACK! Yeah! Akhirnya, ya Tuhaaaannn… punya juga waktu buat nulis fiksi lagi *nangis kejer*. Belakangan emang benar-benar sibuk. Selain sekolah, aku juga belajar dagang dan masih kerja di tempat om-ku. Hahaha. Jadi ya gitu, waktu kebagi-bagi dengan hal lain, pegang laptop juga kalau gak buat ngerjain tugas atau nonton film (doh!). Lagian, emang lagi buntu, gak niat nulis, writer’s block, dan lain-lain. Tolong dimaklumi ya.

Anyway, cerita sedikit tentang cerpen ini. Aku pribadi suka banget waktu menulis ini, selain dibuat dengan mengambil dasar petuah dan nasihat nyata dari Eyang Putri-ku. Aku ingin berbagi pemahamanku dengan teman-teman semua, khususnya perempuan, tentang posisi kita sebagai seorang perempuan. Semoga kalian dapat memahami dan mengerti apa yang aku maksud dalam cerita ini ya 😀 Terima kasih telah membaca, semoga kita bisa berbagi pandangan melalui tulisan ini!

Iklan

15 thoughts on “Wife Duties

  1. ih mba sama banget…kadang-kadang suamiku protes dan hanya ingin memeluk aq aja sampe susah mau ngapa2 in..but i love it 😉

    1. Halo, Kak Mila! 😀
      Hihihihi, suami kayaknya kadang gak ngerti posisi istri ya, padahal kita kerja di rumah buat mereka juga. Tapi masih minta dimanja2 gitu, XD

      Terima kasih sudah membaca ya, semoga berkenan datang kembali.

      1. iya..gpp sih asal klo gda makanan jgn pake acara ngambek2 aja hehhehe…iya pasti klo sempet saya mampir lagi ^_^

    1. Woah, tulisannya keren banget! 😀 Saya baru baca dan bikin saya semakin penasaran dengan hidupan berumah tangga (yaelah, masih lama kali Dict) Terima kasih sharenya kak, senang saya dapat ilmu baru.

  2. Welcome back, dek!
    I love your post. Suka banget sama cerpen ini dan OMG! Jangan-jangan kita punya nenek yang samaaaa. Hahahaha. Oh ya ampun, segala petuah itu pun nenekku pernah kasih ke aku ; sumur, dapur, kasur. A wife duties. Errr…. Dapur is my a big problem. 😀

    Aku suka cerpen ini dek.

    1. I’m back, kakak! 😀
      Wah, bisa juga tuh, jangan2 nenek2 kita pada saling kenal dan pernah saling bertukar pikiran gitu. Hahaha.
      Aduh, saya di sumur aja belum becus apa lagi di dapur. Hahahaha.

      Ah, saya juga suka nulisnya, terima kasih ya kak sudah berkenan membaca. Silakan datang kembali!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s