[Kompetisi #NulisKilat] Resolusi

 banner_nulis_kilat

“Resolusi tahun 2013: aku ingin lebih kurus dari tahun 2012.”

Kalimat itu mengawali diriku yang baru saat tahun 2013 dimulai hampir setahun yang lalu. Tanpa pikir panjang kulontarkan begitu saja di Twitter dan menyadari aku tak bisa menariknya kembali. Semua melihatnya, kabar menyebar begitu cepat di media jejaring sosial, dan keesokan harinya semua warga SMA tempatku menuntut ilmu tertawa terbahak-bahak.

Aku diperolok.

Aku, Bernadeta Utari, yang sejak kecil telah dicap sebagai ‘Anak Botol Galon’ ingin kurus?!

Hahaha. Lelucon macam apa itu? Mereka saling bertanya, saling berbisik, saling bergunjing, bahkan berani tertawa di depanku. Meremehkan resolusiku dan kalau bisa dibilang menginjak-injaknya. Aku bukan gadis populer, bahkan cenderung tersisih, tapi berani berkicau muluk-muluk seperti itu di media sosial? Astaga. Congkak sekali, kata mereka.

Hari berikutnya aku masih bisa sabar dan berpikir mungkin mereka akan cepat melupakan kicauanku. Tapi hari-hari berlalu, dan perlakuan mereka justru semakin parah karena mendapati tubuhku yang tak kunjung berubah.

Aku mulai depresi.

Aku meruntuki diri dan menyesali segala perbuatan yang telah kulakukan di awal tahun baru. Seharusnya aku menjadi manusia baru di tahun 2013, manusia yang lebih baik, tapi mengapa malah berujung mendapatkan pem-bully-an mental seperti ini? Padahal, itu akun pribadiku, aku bebas mengutarakan apa yang aku inginkan, mereka tidak berhak menghakimi atau bahkan merendahkanku. Tapi kenapa mereka seenaknya menggunjing dan memperolokku?

Apa salahku? Kenapa mereka begitu jahat?

“Itulah hukum sosial, Deta. Kamu gak bisa menyalahkan lingkungan sosialmu karena sejak awal sudah seperti itu adanya.”

Aku menoleh ke arahmu yang tiba-tiba saja sudah duduk di sampingku; cowok yang baru di pertengahan semester kemarin pindah di kelasku. Kala itu aku terlonjak kaget, buru-buru menghapus air mata yang sudah terlanjur meleleh, dan berusaha menutupi jejak-jejaknya. Aku sudah ingin menyemprotmu karena seenaknya mencuri tempat rahasiaku—pohon mangga tua di belakang gudang perkakas sekolah yang telah lama ditinggalkan—ini, tapi aku sudah terlalu lelah untuk meninggikan suara.

“Belajarlah untuk mengenali lingkunganmu sebelum bertindak, karena kalau udah salah bertindak, lingkunganmu akan membunuhmu.” Kamu, yang kukenali bernama Adrian Pangestu, kembali berbicara tanpa kuberi izin seolah-olah tahu segalanya tentangku. Buru-buru aku membuang muka, terlalu malas menyuarakan ketidaksukaan akan kehadiranmu. “Hidup itu kayak medan pertempuran yang gak ada batasnya. Sebagai seorang pejuang yang tengah menjalani medan pertempuran itu, setiap individu manusia selalu dihadapkan dengan lingkungan dan sistem sebagai rintangannya

“Makanya, seharusnya sebelum melalui sebuah fase kehidupan, manusia harus mengenali lingkungan dan sistem di mana mereka tinggal sekarang. Karena kalau gak hati-hati, salah-salah mereka akan terjebak dan berakhir menyerah pada hidup.”

Aku mulai gerah dengan kata-katamu. Ingin sekali aku melayangkan tanganku yang besar ke wajahmu karena sudah seenaknya menilai diriku. Aku benci dinasihati, lebih-lebih oleh cowok sok tahu sepertimu.

“Bukan urusanmu, Dri, mendingan kamu pergi aja sebelum anak-anak lain lihat kita di sini dan berpikiran yang enggak-enggak.” Aku semakin membuang muka, masih enggan untuk pergi lebih dulu karena sejak awal ini tempatku. Kamu yang seenaknya datang dan mencampuri duniaku. “Kamu bilang sendiri ‘kan kalau harus hati-hati dalam bertindak? Kamu gak malu apa duduk berdua sama cewek gendut kayak aku hah? Kamu bakal dijauhin sama kayak aku.”

Air mataku mulai menggenang di pelupuk, lalu buru-buru kuseka dengan kedua tangan.

“Aku sih gak peduli. Wong aku yang milih di sini kok,” jawabmu cepat, lalu terkekeh jenaka. “Kalau aku sudah milih, aku gak bakal menyesal meskipun diejek sama anak-anak satu sekolahan. Ya sama lah kayak kicauanmu itu di Twitter.”

Sontak aku mengerjap, lantas menoleh ke arahmu. Meski jengkel, harus kuakui aku tertarik dengan ucapanmu. Melihatku menujukkan perhatian, senyummu melebar.

“Saat nge-twit itu kamu punya tujuan baik, ‘kan? Kamu pengen berubah; kamu memilih untuk berubah.” Matamu menyipit dan menatapku lekat, sejenak jantungku berhenti berdetak karena baru pertama kali ditatap seperti itu oleh lawan  jenis. “Kalau sudah milih, harusnya kamu bertanggungjawab. Karena kamu sudah melawan lingkungan sosialmu.”

Dahiku mengerut, masih tak paham dengan istilah-istilah yang kamu pakai. Tapi dalam hati aku memaklumi, mungkin karena kamu dulu tinggal di pulau-pulau maju seperti Jawa dan Sulawesi sehingga aku yang sejak lahir tinggal di Kalimantan ini susah untuk memahami tatanan bahasamu yang rumit.

“Jadi gini nih ya, to the point aja deh.” Kedua tanganmu mulai memperagakan sesuatu yang tak kasatmata di udara.

“Kamu itu harus berubah, kamu gak bisa paksa mereka yang udah nge-bully kamu untuk berubah karena itu sudah muncul alami. Mereka bereaksi atas apa yang kamu lakukan di media sosial, jadi, aksi dari reaksi itu ada pada siapa?” alismu meninggi, memintaku menjawab hingga akhirnya aku menunjuk wajahku sendiri.

“Tepat. Sumbernya kamu sendiri, ‘kan?” aku mengangguk berat, memastikan jawaban.

“Jadi ini semua salahku?”

“Kasarnya? Iya, ini semua salah kamu sendiri, bukan salah mereka.” Mendengar jawabanmu yang justru semakin membuatku down, aku mulai berang, tapi kamu buru-buru menambahkan sebelum sempat aku mencecar.

“Jadi, untuk menghentikan para pem-bully-mu itu, yang harus diubah bukanlah mereka tapi diri kamu sendiri.”

Aku mengerjap beberapa kali; sama sekali tak pernah berpikiran sampai seperti itu. Selama ini aku hanya meruntuk dan menyesali nasibku, lantas menyalahkan orang-orang yang mem-bully-ku karena aku tahu bahwa aku tak salah. Aku selalu berpikir merekalah yang salah; mereka yang harus bertanggungjawab karena telah berbuat seperti ini padaku. Tak kusangka, sekarang seseorang membuka mataku dan mengatakan bahwa justru akulah yang salah.

“Jadi…” aku menelan ludah, masih merasa syok dengan semua ini, “aku… aku harus gimana?”

Kamu menarik bibir ke atas, lebih lebar dari sebelumnya hingga gigi-gigi putihmu terlihat jelas. “Buktikan ucapanmu,” jawabmu mantap. “Buktikan kalau kamu bisa kurus. Buktikan kalau resolusi tahun 2013-mu berhasil dan buat mereka bungkam karena tak punya alasan lagi untuk menghinamu. Jadikan kata-kata mereka cambukan  untuk meraih sukses. Bukannya malah menjadi tekanan, dan justru mengalahkanmu. Banyak orang yang kalah dengan lingkungan sosial mereka dan berakhir dengan terus lari menyalahkan para pem-bully-nya. Tapi, gak sedikit orang yang akhirnya sukses dan dengan berani membungkam orang-orang yang meremehkannya hingga tak punya alasan lagi untuk menghina.

“Change yourself before you change the world.”

Kamu menepuk bahuku, meremasnya seperti seorang motivator kenamaan yang sering muncul di televisi. Merasa begitu hebat karena telah membuka mata gadis gendut-depresi sepertiku. Tapi tak sedikit pun aku melihat raut pongah di wajahmu, justru rasa bangga dan semangat yang lebih kentara di sana. Hatiku terasa penuh, baru pertama kali aku merasa begitu utuh dalam menjalani hidup. Pelan-pelan raut wajahku terpengaruh olehmu, senyumku yang beberapa waktu belakangan ini menghilang akhirnya mengembang.

Benar. Di tahun 2013, aku harus menjadi Deta yang baru.

“Makasih, Dri,” kataku tulus dan kamu masih bertahan dengan senyummu.

“Sama-sama,” sahutmu. “Anggap aja ini hadiah perpisahan dariku karena kamu udah banyak bantuin aku selama tinggal di Banjarmasin.”

“Eh?”

Mataku melebar, barang tentu nyaris keluar. Tapi raut wajahmu masih tak berubah seakan-akan hanya mengatakan hal yang biasa kamu katakan di kota-kota yang dulu pernah kamu tinggali. Diam-diam, aku mendengar ada sesuatu yang pecah di hatiku.

***

“Ayo, ketemuan di malam tahun baru 2014, aku bakal izin ke papaku untuk liburan tahun baru di Banjarmasin aja. Aku ingin lihat sejauh mana kamu berubah di tahun 2013.”

Itu yang kamu katakan saat aku memberanikan diri bertanya apa harus secepat ini kehilangan seorang teman baik sepertimu. Janji itu mungkin hanya salah satu bentuk penghiburanmu, tapi tetap kupegang teguh sampai detik ini—lima belas jam sebelum pergantian tahun menuju 2014.

Sudah nyaris satu tahun aku tak bertemu tatap denganmu, kita masih sering bertukar kabar melalui pesan di Twitter (aku terlalu malu untuk me-mention akunmu) dan kuceritakan semua progres perubahan diriku. Mulai dari pola hidup sehat yang kujalani setelah berkonsultasi dengan dokter dan kursus memoles wajah yang diajarkan oleh tanteku. Aku juga memanjangkan rambut, dan mulai berlajar merawat dan menatanya dengan baik. Pokoknya, sudah tak terhitung berapa banyak waktu dan tenaga yang aku habiskan untuk merubah diri.

Aku hanya ingin membuatmu bangga.

Aku telah berjanji dengan diriku sendiri. Jika aku diberi kesempatan bertemu denganmu nanti, aku ingin melihat wajahmu yang tersenyum dengan penuh rasa bangga itu lagi. Meskipun kamu lupa padaku atau pun menganggap janji bertemu di penghujung tahun itu hanya bualan semata. Janji itu telah memberiku kekuatan dan dorongan untuk berubah.

Ping! Ping!

Sebuah suara nyaring membuyarkan lamunanku, dengan cepat aku menoleh ke arah Blackberry-ku yang berkedip dan mengerang malas. Siapa sih yang pagi-pagi ganggu? Paling-paling ucapan selamat tahun baru kepagian.

From Khairunnisa

Detaaaaa! Bangun! Udah siang, Kebooo! Siang ini kita jadi jalan gak?

Ya kan? Gak penting kayak gini. Nisa salah satu teman baikku di sekolah, dia beberapa kali membantuku ketika aku dicemooh oleh teman-teman yang lain. Ia gadis baik hati yang selalu memberiku bantuan moral yang sangat berarti karena membuatku merasa tidak sendirian di sekolah.

Kubalas singkat sms Nisa tapi nyatanya tak kunjung beranjak dari kasur. Sudah terlanjur pegang handphone, sekalian aja ngecek yang lain. Dengan cepat aku membuka fitur Twitter di handphone-ku dan langsung meloncat ke timeline-mu dengan harapan yang tinggi. Tapi aku langsung kecewa ketika mendapati tak ada perubahan yang berarti. Kicauan terakhirmu bertanggal 25 Desember, mengucapkan selamat natal pada followers-mu. Pesan yang terakhir kita tukar di direct messages pun hanya ucapan selamat natal satu sama lain.

Setelah itu kamu menghilang.

Aku mulai gelisah, aku ingin bertanya tetang janjimu di malam pergantian tahun ini, tapi aku terlalu sungkan karena takut terkesan terlalu berharap. Aku takut jika nanti aku berharap terlalu tinggi kenyataan akan mengempaskan harapanku itu keras-keras ke bumi.

Setelah mengecek mention, cek follower, cek timeline yang isinya penuh resolusi 2014, dan fitur-fitur jejaring sosial yang lain, akhirnya aku hanya mendesah berat sembari melempar handphone-ku ke atas kasur. Kayaknya kamu memang lupa dengan janji itu. Ya sudahlah, setidaknya aku masih punya kenangan denganmu dulu.

Buru-buru aku bangkit, melangkah gontai menuju pintu kamar. Hari ini mungkin akan jadi hari paling membosankan bagiku.

Ping! Ping!

Argh!

Nisa! Kenapa lagi sih? Belum sempat aku berlalu, suara handphone-ku kembali menahan, dengan jengkel aku menoleh ke arah benda yang berkedip itu. Ada rasa enggan untuk memedulikannya, tapi mengingat polah Nisa yang tak senang pesannya diabaikan oleh siapa pun juga, akhirnya aku memutuskan untuk membalasnya.

Tapi… eh? Bukan sms dari Nisa? Ini ternyata pemberitahuan direct messages di Twitter.

From @AdrianP

Baru otw Banjarmasin nih. Delay tiga jam di Soetta. See you yah, Det! Kira-kira jam 12 siang aku nyampe. Kita ketemuan di Soto Banjar Bang Amat aja, sekalian makan siang. Hehehe.

WHAT THE…?!

Aku langsung melempar handphone-ku ke kasur dan mengerjap tak percaya. Jantungku berdebar begitu keras seperti ingin meledak. Ini gak mungkin kan? Kamu? Itu tadi? Sekali lagi aku menyambar handphone dan membaca ulang pesan yang masuk ke akun Twitter-ku seakan-akan itu hal paling mustahil yang terjadi di hidupku.

Ya Tuhan, aku tidak sedang bermimpi, kamu menepati janji!

***

Pukul 14.00 WITA. Sepuluh jam sebelum tahun berganti. Aku duduk sendirian di pojok rumah makan Soto Banjar paling terkenal di Banjarmasin. Suara musik panting[1] yang menjadi salah satu daya tarik tempat ini selain posisinya yang berada di pinggir Sungai Barito menenggelamkan kesunyianku.

Kamu belum datang juga.

Padahal aku sudah berdandan sangat rapi, mengenakan baju terbaikku, dan mengerahkan seluruh kemampuanku selama ini, bahkan sempat bercekcok dengan Nisa karena seenaknya membatalkan janji kami siang ini hanya demi kamu. Tapi kamu belum juga datang.

Sepiring soto banjar dan air putih telah tandas olehku, beberapa pelayan yang sibuk lalu lalang mulai risih dengan keadaanku yang stagnan; bertanya-tanya kapan kiranya aku pergi karena banyak orang yang mengantri ingin duduk. Di saat-saat seperti ini aku mulai menyesali kesungkananku meminta nomor handphone-mu. Seandainya dulu aku sedikit lebih berani melangkahi garis pembatas yang kubuat, mungkin aku tak akan kerepotan mengirimimu pesan lewat direct messages Twitter berkali-kali tanpa kamu gubris.

Aku mendesah berat, bertopang dagu, dan akhirnya melamunkan hal yang akan kulakukan saat bertemu denganmu: aku ingin mengobrol panjang lebar. Aku ingin bercerita tentang bagaimana hidupku berubah sejak kita berbicara di bawah pohon mangga itu. Bagaimana orang-orang menertawakanku saat kubawa sayur sebagai bekal makan siangku di sekolah, bagaimana tawa mereka menjadi pecutan bagiku untuk terus berusaha, bagaimana akhirnya suara tawa itu tak lagi terdengar saat berat badanku berangsur-angsur turun, dan bagaimana, pada akhirnya, mereka justru berbondong-bondong mendekatiku untuk menanyakan resep diet sehatku. Ya, aku ingin menceritakan semuanya padamu. Aku ingin menunjukkan padamu, Deta yang sekarang, bukan lagi Deta yang gendut-depresi di bawah pohon mangga. Deta yang sekarang bisa berubah dan mengalahkan lingkungan sosialnya; Deta yang baru.

Perlahan-lahan air mataku meleleh. Aku benar-benar ingin bertemu denganmu. Ada rasa takut kalau sebenarnya pesanmu tadi hanyalah sebuah bualan, atau sebenarnya itu sungguh-sungguh tapi ada sesuatu yang terjadi padamu. Aku ingin melakukan sesuatu, tapi aku tak tahu harus berbuat apa.

Ping! Ping!

Aku tersentak, mendapati suara familiar dari handphone-ku. Buru-buru aku mengelap air mata yang sudah terlanjur meleleh dan mencari-cari benda persegi panjang kecil itu di tas.

Ternyata direct messages! Dari kamu!

From @AdrianP

Minta nomor kamu, Det! Tasku dicuri orang di bandara; sekarang aku lagi di kantor polisi.

Setelah membaca pesan itu mataku langsung membulat, meski ada rasa lega karena ternyata kamu tidak membual, tapi tetap saja aku khawatir dengan keadaanmu sekarang. Tapa berpikir panjang lebar aku buru-buru mengirim nomor handphone-ku dan beberapa saat kemudian ada nomor asing menghubungi.

“Halo?”

“Det! Sorry banget nih! Kamu di Bang Amat?”

Untuk sepersekian detik jantungku berhenti. Astaga, kapan terakhir kali kudengar suaramu?

“I-iya, masih di sini. Anu… kamu gimana? Mau dijemput aja?”

“Gak, gak usah! Gila aja kamu jemput aku di sini, jalan macet gila kayak gini juga. Biar aku cari cara buat ke Banjarmasin. Kamu tunggu aja di sana.” Suaramu terdengar rusuh, aku semakin gelisah. Aku benar-benar ingin berbuat sesuatu.

“Di mana? Bang Amat tutupnya sore.”

“Aduh, iya ya! Udah gini aja. Di Banjarmasin acara tahun barunya apaan sih?”

“Ada parade pasar terapung sama pesta rakyat di Taman Siring sih, emang kenapa?”

“Oh ya? Okay, kamu tunggu di Taman Siring aja, cari tempat aman tapi jangan jauh dari keramaian. Kita ketemuan di sana aja. Kamu pake baju apa?”

Sejenak aku melihat penampilanku dan berkata. “Celana jins warna abu-abu, kemeja pink, dan kardigan putih.”

“Rambutmu masih pendek?”

“Gak, panjang sepunggung.”

Okay, tunggu aku ya. Pokoknya tunggu aku, aku pasti datang nemuin kamu. Sekarang udah dulu ya, pake nomor orang nih. Bye.”

Tuuut. Tuuut. Tuuut.

Sambungan terputus, bahkan sebelum sempat aku menarik napas untuk bertanya kapan kira-kira kamu menemuiku. Akhirnya, kuturunkan handphone dari telinga dan menarik napas dalam-dalam; dadaku masih bergemuruh hebat sekali.

Mendengar suaramu saja sudah seperti ini, bagaimana nanti jika kita bertatap muka?

***

“Ini sudah jam 11 malam, Det! Kamu masih kukuh aja nungguin dia?”

Nisa mulai protes. Sudah nyaris lima jam aku memaksanya menemaniku menunggu di Taman Siring dan kumaklumi jika cewek itu mulai gelisah.

“Dia bilang pasti datang kok.” Ini jawaban yang sudah aku lontarkan ratusan kali kepada Nisa, berharap ia masih bisa tenang menemaniku. “Aku tahu dia bukan orang yang suka ingkar janji.”

“Kalau kamu bukan temen aku, sudah aku tinggal deh digodain sama cowok-cowok nakal di sini,” kata Nisa lagi sembari membenarkan letak kerudung birunya yang agak miring. “Pokoknya kamu harus traktir aku bakso Paman Ujang satu minggu!” sambung Nisa lagi, mengingatkan sogokan yang aku tawarkan padanya.

“Iya, iya, pokoknya temenin aja deh,” sahutku sembari melayangkan pandangan pada sekeliling, dan kami pun dibisukan oleh keramaian. Aku dan Nisa sengaja memilih duduk di tempat yang agak terpinggir namun dekat dengan stand-stand makanan dan paman-paman penjual bakso gerobak agar tidak terlalu jauh dengan keramaian. Aku rasa ini tempat yang cukup strategis.

“Nisa lagi di Siring nemenin Deta, Pa.”

Suara cempreng Nisa yang tengah berbicara di handphone-nya menyita perhatianku. Sontak dahiku mengerut, aku yakin itu panggilan dari Papa-nya. Oh, kuharap Om Arif tidak meminta Nisa pulang.

“Tapi kasihan Deta sendirian, Pa, Nisa sudah janji mau temenin dia sampai temennya datang.” Duh, beneran disuruh pulang, Nisa pun berusaha menolak perintah Papanya. Namun, matanya melirikku gelisah karena merasa di posisi yang sangat tidak menyenangkan. “Tapi, Pa, Nisa gak enak sama Deta…” sekali lagi Nisa melirikku, matanya seolah-olah berkata aku-harus-gimana-nih.

Akhirnya, meski hatiku juga merasa kurang aman, kukatakan dengan gerakan mulutku kalau Nisa bisa pulang dan meninggalkanku sendiri.

“Iya, Pa iya, Nisa pulang nih bentar lagi.” Nisa menutup sambungan dengan Papanya lalu menatapku lekat. “Det, sorry banget…” katanya dengan wajah memelas dan aku hanya tersenyum.

“Gak papa, pulang aja gih. Papa kamu nyariin.”

“Tapi kamu tetep traktir bakso Paman Ujang ya?” mendengar pertanyaan itu, sontak aku tergelak.

“Iya, iya. Kapan sih aku ingkar janji,” jawabku masih setengah tertawa.

Okay deh, aku pulang ya. Kamu hati-hati sendirian di sini. Kalau sampai jam 12 Adri gak datang, kamu cepet-cepet pulang aja. Nanti kamu diapa-apain sama orang.” Aku mengangguk, lantas Nisa pun buru-buru membereskan barang-barangnya  dan berlalu.

Kini aku sendirian di sini.

Waktu berjalan lamat-lamat, semakin malam Taman Siring justru semakin padat dengan pengunjung yang ingin menghabiskan detik-detik berakhirnya tahun 2013 bersama-sama. Berbagai lampu multi warna-warna dari kapal terapung dinyalakan sehingga terpantul cantik di permukaan Sungai Barito. Stand-stand makanan dan pernak-pernik masih ramai dengan suara transaksi. Tua-muda hilir mudik di depanku, bersama keluarga, teman atau pasangan. Tak ada yang terlihat murung, semua wajah terlihat sangat gembira menyambut pergantian tahun, dan aku berharap aku menemukan wajahmu diantara wajah-wajah gembira itu.

“Lima belas menit lagi jam 12 malam! Kembang api akan mulai dinyalakan!”

Terdengar suara dari pengeras suara yang berada di tengah-tengah taman, beriringan dengan ledakan bunyi kembang api pertama untuk menyambut tahun yang akan berganti. Sontak seluruh mata di tempat ini tertuju sepenuhnya pada langit dan aku pun mengalihkan perhatian ke arah yang sama. Pelan-pelan aku berdiri sembari menyampirkan tasku di bahu dan bersedekap. Kudekati kerumunan orang-orang  yang tengah menonton dan mendongak tinggi-tinggi, berusaha mengalihkan hati yang nyeri dengan warna-warna cantik di langit pergantian tahun.

Seandainya kamu ada di sini, Dri. Seandainya kamu ada di sini.

“Kamu Deta ya?!”

Tiba-tiba saja seseorang mengentakkan bahuku dan memaksaku menoleh ke arah samping. Sejenak aku mengerjap, berusaha membiasakan mata yang sulit mengenali orang di tempat gelap. Tapi ledakan cahaya di langit membantuku melihat. Dan aku melihat…

Kamu.

“Adri?”

“Beneran kamu Deta?! Kamu Deta!?” aku mengangguk pelan. “Yes! Yes! Yeah! Kamu beneran Deta!” cowok di depanku ini langsung melonjak kegirangan, tak peduli dengan orang-orang di sekitar yang memandang keheranan, dan tiba-tiba saja kamu menarik tubuhku hingga menabrak dadamu.

“Akhirnya ketemu kamu juga, Det!” serumu di belakang kepalaku, aku yang masih terpana dengan kejadian ini hanya bisa diam, tak tahu harus berkata apa; aku bahkan nyaris pingsan jika tangan kokohmu tak melingkar di punggungku dan menahanku.

“Kamu tahu gak?” kamu melepaskan pelukanmu dan meremas bahuku kuat-kuat, mungkin kamu sadar kalau kakiku sudah lemas sekarang ini. “Hari ini hari paling gila dalam hidupku!” serumu begitu nyaring disusul sebuah cerita panjang terlontar dari mulutmu.

“Aku baru aja turun dari pesawat, dan waktu aku titipin tas ke orang karena pengin ke toilet ternyata tas aku dicuri! Handphone, dompet dan semua-semuanya ada di tas itu! Aku frustasi. Dua jam aku ngerusuh di bandara, pihak bandara sampai panggil polisi karena aku marah-marah terus dan minta ganti rugi. Akhirnya aku di bawa ke kantor polisi terdekat buat dimintai keterangan, tapi prosesnya berbelit-belit sementara aku harus cepet-cepet ketemu kamu. Akhirnya aku pinjem handphone pak polisi buat kirim pesan ke kamu dan telepon. Aku pikir pak polisi bisa berbaik hati nganterin aku sampai ke Banjarmasin, tapi tenyata mereka semua gak bisa! Aku mulai bingung, pengen minjam uang buat bayar taksi tapi gak ada juga yang mau pinjemin! Emang dasar polisi-polisi gak bertanggung jawab!

“Akhirnya aku jalan, Det! Aku jalan! Aku jalan sampai ke terminal dan berharap ada supir angkot atau bus yang berbaik hati kasih tumpangan buatku, tapi semuanya nolak karena aku gak punya uang sepeser pun. Sampai akhirnya ada truk yang bawa pupuk berhenti di dekatku, dengan berani aku gedor pintu supirnya. Aku tanyain, dia mau kasih tumpangan gak ke aku sampai Banjarmasin, dan untungnya dia mau! Tapi aku harus duduk di belakang, di atas karung-karung pupuk. Ah, gak papa lah! Yang penting sampai  Banjarmasin. Tapi di tengah jalan ada-ada aja halangannya! Ban truknya bocorlah! Terus sepanjang jalan macet lah! AH, pokoknya banyak masalah deh!

“Sampai di Bajarmasin ternyata sudah jam sembilan malam. Tapi truk yang aku tumpangin gak mau anterin aku ke siring, jadi aku akhirnya ngemis-ngemis tumpangan di pinggi jalan lagi. Luntang-luntung kayak gembel. Sampai akhirnya aku dapat tumpangan dan bisa ke sini… terus aku keliling nyariin kamu… terus aku… aku…”

Melihat wajahku yang setengah kebingungan kamu pun sepertinya sadar kalau ceritamu sudah terlalu panjang hingga menguras waktu. Pelan-pelan kamu menarik napas dan melepaskannya dalam sekali helaan. Kini kamu terlihat lebih tenang, terlihat lebih bisa mengendalikan emosi.

“Kamu… gak papa, Dri?” tanyaku ragu-ragu, melihatmu menatapku dari atas sampai bawah. Hening menyergap kita berdua sementara ledakan kembang api dan decakan kagum mengisi suara, kini aku punya waktu untuk memerhatikanmu yang benar-benar terlihat berantakan—kaus putihmu kotor, jaketmu kusam, dan celana parasutmu robek di bagian lutut. Tapi penampilanmu sekarang ini sudah cukup membuatku sadar bahwa kamu kini berada di depanku, bersamaku, dan janjimu terpenuhi.

“Kamu berubah, Det,” katamu, sembari meremas bahuku keras, mengabaikan pertanyaanku sebelumnya. “Kamu benar-benar berubah. Kamu berhasil.”

Senyummu mengembang, lebar sekali, penuh dengan rasa bangga dan puas—seperti yang aku harapkan muncul darimu. Aku benar-benar terkesima, sulit mengendalikan rasa bahagia yang meledak-ledak di dadaku. Sampai beberapa saat aku hanya bisa terdiam hingga akhirnya membuka suara.

“Makasih sudah nepatin janji, Dri,” kataku tulus, berusaha keras menahan rasa haru. “Aku pikir kamu lupa.”

“Mana mungkin lah aku lupa,” sahutmu setengah tertawa. Tanganmu turun dari bahuku dan menggenggam pergelangan tanganku. Wajahmu mendekat dan menatapku lekat-lekat. “Aku gak akan pernah lupa dengan janji yang kubuat bersama cewek yang aku suka.”

Aku terkesiap; kesulitan bernapas. Beberapa tetes air mata meleleh di sudut mataku, dan tak bisa kuseka karena kamu menggenggam tanganku begitu erat. Ledakan kembang api terus memecah suara di sekitar kita, baru saja pengeras suara mengumumkan kalau sebentar lagi akan menghitung mundur waktu bergantian tahun. Tapi aku terlalu tak habis pikir dengan apa yang baru kudengar.

“Kamu… kamu bilang apa?”

Kamu hanya tertawa mendapati reaksiku yang seperti itu dan menikmatinya.  “Kamu pikir kenapa aku bela-belain datang jauh-jauh dari Jakarta ke sini, terus ngelalui hari yang gila kayak gitu kalau aku gak suka sama kamu, hah?

“Aku suka kamu, Det,” ulangmu dengan penuh penekanan. Tiba-tiba saja tatapanmu melembut, tapi aku justru hanya bisa tercekat; sekali lagi merasakan jantungku berhenti berdetak. Di tengah-tengah kebisuan kita, orang-orang mulai menghitung mundur.

“Lima!!”

Kulihat kamu mendongak, menatap kembang api yang ditembakan semakin besar. Menantiku bersuara.

“Empat!!”

“Det, searang resolusi tahun 2014 kamu apa?” akhirnya kamu bertanya, karena aku tak kunjung bersuara.

“Tiga!!”

Aku masih diam. Aku benar-benar tidak tahu harus berbicara apa; aku terlalu bahagia.

“Dua!!”

Akhirnya aku menarik napas dalam-dalam, membiarkan air mata mengalir deras dari di sudut-sudut mataku, dan berkata, “Resolusiku tahun 2014: aku ingin lebih berbahagia dari tahun 2013… Bareng kamu!”

“Satu!!”

“Selamat tahun baru!!”

Semua orang berseru, terompet bertalu-talu, kembang api semakin nyaring dan besar meledak, suara gegap gempita memenuhi udara. Tapi aku tahu kamu mendengar apa yang aku katakan karena matamu langsung tertuju padaku dan senyuman yang sangat lebar tertera di wajahmu. Tawamu terdengar, tawa bahagia. Lalu kamu kembali menarikku ke dalam pelukanmu dan kudengar kamu berbisik di telingaku.

“Aku juga punya resolusi. Resolusiku tahun 2014 masih sama dari tahun sebelumnya. Aku pengin bikin cewek yang aku sukai lebih bahagia dari tahun 2013.”

Fin.

_______________

A/N:

Yiha! Terima kasih sudah membaca cerpenku yang sedang diikutkan lomba #NulisKilat dari @_PlotPoint dan @bentangpustaka ya! Doakan semoga cerpen ini menang karena nulisnya penuh perjuangan banget. Hahaha.

Anyway, karena kebetulan cerpen ini diikutkan lomba dan berlatar salah satu tempat atau kota di Indonesia, aku pun sekalian menjadikan ini ajang promosi kotaku, Banjarmasin. Semua tempat di dalam cerpen ini beneran ada loh. Terutama Soto Banjar Bang Amat, bener-bener Soto Banjar terenak di Banjarmasin dan sudah terkenal se-Indonesia! Cekidot deh foto-fotonya di bawah.

Nih lihat, penampakan soto Banjar Bang Amat! Menggugah selera banget kan? Pokoknya harus nyobain!
Nih lihat, penampakan soto Banjar Bang Amat! Menggugah selera banget kan? Pokoknya harus nyobain!
Rumah Makan ini di pinggran sungai Barito loh! :D
Rumah Makan ini di pinggran sungai Barito loh! 😀
Ini para pemusik pantingnnya :D
Ini para pemusik pantingnnya 😀

Nah, yang penasaran Taman Siring itu gimana, nih, silakan lihat fotonya!

Ini penampakan siring kalau ada pesta kembang api.
Ini penampakan siring kalau ada pesta kembang api.
Kalau malam-malam biasa siring lumayan sepi sih :)
Kalau malam-malam biasa siring lumayan sepi sih 🙂

Nah, sekian tulisan saya semoga berkenan di hati dan doakan aku berhasil ya! Setidaknya, kalau pun tidak menang aku bisa mengenalkan pada kalian keunikan kota Banjarmasin.

(source: http://www.google.com)


[1] Musik instrumental khas Banjarmasin

33 pemikiran pada “[Kompetisi #NulisKilat] Resolusi

    1. Hahaha, yoi kak, saya bingung banget waktu mau mulai nulis ini. Semacam gak dapat ide baru gitu. Akhirnya saya curcol deh, soalnya idenya lebih mudah diaplikasikan kalau sudah menyangkut pengalaman pribadi 😛 Tapi sayangnya saya gak nemu cowok macem Adrian 😦 Seandainya nemu, malam ini sih lain cerita… #delusional

      makasih ya kak sudah berkenan mampir dan melirik barang sejak. Torehan katanya berarti banget!

  1. Nggak kebayang kalau jadi Adrian, tas dicuri orang trus semua barang berharga di sana itu rasanya..ugh, lemes.
    Deta keren nih, walau badai menghadang tetap menerjang *apaan sih* yah, pokoknya gitu deh, tetap fokus mencapai tujuannya walaupun awalnya sempat down juga.
    Dicta musti tanggung jawab karena aku jadi pengen makan soto banjar bang amat sekarang 😀

    1. Saya juga gak kebayang, kalau saya bisanya nangis kejer dulu baru lapor polisi 😄

      Deta macem gambaran diri saya setahun yang lalu. Tapi gak benar-benar seperti Deta sih. Saya senang menuliskan karakternya 🙂 Semoga kedepannya saya bisa lebih eksplor lagi menggambarkan karakter yang jatuh bangun gini.

      Hihihi, enak banget kan kelihatannya? Harus dicoba deh kak kalau punya kesempatan ke Banjarmasin.

      Terima kasih sudah membaca ya Kak, semoga masih berkenan untuk mampir lagi ke sini.

  2. Dict? Aku senyum-senyum gak karuan baca ini, 🙂 Sesuatu menggelitik waktu baca cerita yang nama tokoh utamanya sama kayak namaku, :3

    Kalo beneran ada Adrian yang kayak gitu, mungkin aku akan beneran kurus, hohoho~~
    Terus menulis, Dict! Akan terus ku kepoin blog ini, 😀

    1. Ini bukannya kebetulan loh kak, hahaha. Gak tahu kenapa saya suka nama Kakak (sering muncul di kolom komentar blog saya sih #eaaa *muah-muah*), jadi pas selesai bikin nama lengkapnya Bernadeta Utari. Saya bikin aja nama panggilannya Deta, asalnya mau milih Tari XD. Makasih ya kak sudah sering mampir ke blog saya.

      Ah, kakak udah langsing, mending biar sehat aja :*

      Kepoin terus aja ya kakak, saya gak keberatan dikepo. Terima kasih doanya :*

      1. hohoho~~ aku sudah tahu kalau namaku punya daya tarik~~
        Iya, dek. Aku suka kepoin blog ini krn crita2nya segar2, :3 Sekaligus pelampiasan krn waktu nulis udah gk sebnyk wktu sma dulu, :” jadi sekrh lbh banyk ngebaca kry orang, hehe…

        Trus berkarya, Dict. 😀

  3. Diktaaaa… ceritamu bener2 cerita yang cocok dibaca waktu liburan hehe, kaya film2 yang diputer sebelum tahun baru. Lalu lokalitasnya terasa sekali. Salut. Semoga menang ya! Lalu kirim cowok kaya Adri biar diet 2014 berhasil. Ah, tapi abis baca cerita ini jadi pengen soto banjar…

    1. Kak Ginaaaa!
      \:D/
      Makasih ya sudah mau mampir. Hihihihi. Iya, saya emang seneng nunjukkin lokalitas daerah saya, gak tahu, seru aja gitu ngasih tahu orang-orang kalau di Kalimantan ada banyak tempat2 dan event2 seru. Ayo ke Banjarmasin kak kalau ada kesempatan, cobain soto Banjarnya gak bakalan rugi deh 😄

    1. Selamat datang di blog saya! 😀 Makasih ya Kak sudah bersedia mampir di sini. Semoga betah dan mau mampir lagi :3 Hihihi, makasih tulisannya dibilang manis, penulisnya juga manis dong ya #pletak

  4. Wah, baru kelar baca.. bagus lho Adek..
    Suasana Banjarmasinnya juga kental, jadi minder aku sama promosi kotanya, ini totalitas.. >_<

    awalnya aku kira lebih ditekankan ke proses diet, tapi ternyata ada romansanya juga.. hihihi~
    Two thumbs deh.. ^^

    1. Awal mau ikut kompetisi ini sih emang tujuannya mau promosi kota. Saya seneng pake latar kalimantan, dan seringnya Banjarmasin karena saya tinggal di sini. Hahaha. Tapi gak tahu sih, apa berimbang sama storyline-nya atau enggak.

      Eh, awalnya juga mau nekanin ke proses diet itu, tapi saya pikir terlalu remeh sih konfliknya, jadi saya loncatin aja adegan itu dan ngebahasnya sedikit2. 😄

      Terima kasih ya kak sudah bersedia mampir. Silakan datang kembali!

      1. tapi bagus lho, kalau masalah berimbang atau nggaknya yang tau porsinya hanya mereka, para juri.. hehehe~

        hehe~ gemuk itu jangan dipikirkan, soalnya banyak yang kurus bingung gimana caranya biar agak gemukan.. #KeluarTopik 😀

        sama2 dek.. semangat yah!! ^^

      2. Lah, justru itu yang saya khawatirkan. Waktu saya blogwalking ke blog-blog kometitor lain kayak kakak saya banyak nemu yang mampu mengembangkan ide dan latarnya sama kuat. Hiks. Saya jadi sedikit pesimis.

        Aduh, kakak ngomongin gemuk2 saya jadi kesindir nih 😄 kebetulan saya mirip Deta, sedang berjuang untuk kurus. Cuman sayangnya masih belum punya Adri di sisi saya 😛

      3. Ah, yasudahlah dek. Aku juga pasrah sama karyaku. Namanya juga usaha, apalagi kita dikejar deadline, pokok kita udah maksimal dengan waktu yang terbatas.. hehehe~

        waduh, maaf nih. jangan merasa tersindir ya. Aku yang kurus aja mau nambah berat badan gak bisa2 ini. huft~
        haha~ kalo gitu buruan punya Adri biar lebih semangat lagi.. 😀

      4. Iya, pasrah aja, yang penting udah maksimal. Jadi kalau kalah ya seenggaknya kita membuahkan karya :*

        Santai aja kok kak, saya udah tahan banting masalah berat badan. Hahaha. Soalnya saya sudah sampai tahap temen-temen-minta-resep-diet-sehat-ke-saya 😄

        Nunggu Adri yang matanya biru aja #eaaak

      5. nah, paling nggak kita mampu membuahkan karya sesuai deadline yang mencekik.. 😀

        wah, udah turun dunk berarti?
        dek, mau tanya, buat naikin berat badan musti gimana ya? :3

        eh, dicat aja biar biru dek., haha~

      6. Iya, udah turun lumayan. Hahaha. Saya #foodcombining sih kak, merubah pola makan dan hidup sesuai juklak Tuhan. Hahaha. Coba follow @erikarlebang #foodcombining gak cuman buat nurunin badan tapi bikin orang menemukan berat idealnya. Entah naik atau turun. Menurut saya itu sih yang paling bagus 🙂

  5. Gantian aku yang main-main di blog kamu. Hehehe. Ah tulisan kamu juga keren sekali. Sensasi Banjarmasinnya kerasa banget. Jadi pengen main-main ke sana. Anyway, good luck buat kamu, aku, dan semua peserta #nuliskilat yah! Hihihi :3

    1. Halo kak Pradita! Ihiy, makasih ya kunjungan aliknya :*
      Wah, ayo main2 ke sini! Ditunggu ya kalau ada kesempatan 😀 hihihi.

      Semoga plot paint sama bentang pustaka nerbitin semua karya yang ada! AMIN. Hahaha.

  6. Halo Diktaaaa. Lama tak bersua :”)

    Kalau kamu bilang “mainstream ending”, tapi justru yang saya kagumi adalah gimana cara kamu membuat koridor cerita yang bisa membawa pembaca ke ending tersebut. Saya suka prosesnya soalnya nggak biasa!

    Dan sebenernya cerita ini cukup menohok saya. Karena nggak semua orang, termasuk saya, yang bisa bangkit melalui tamparan menyakitkan dan merubahnya jadi motivasi. Saya masih kesulitan dalam hal ini *ups curhat*

    1. Haloooo, Kakaaaaak! Arrrg, maaaaaf yaaaa saya baru bisa balas komentar kakak sekarang T__T Baru selesai UN nih. Jadi baru bisa ngebalasin komentar2 di blog.

      Iya, tulisan ini salah satu tulisan favorite saya. Saya nulisnya pas libur, jadi gak ada bebas atau gak pas lagi suntuk. Saya sendiri sedikit-banyak PD sih saya karya saya ini, tapi ternyata saya kalah. Hahaha. Ya sudahlah, mungkin belum rejeki.

      Oh, dan sebenarnya tokoh utama cewek di sini sebagian kecil adalah diri saya. Hahaha. Cuman minus sosok Adrian yang memotivasi saya untuk berubah. Mungkin lain waktu saya akan ceritakan di blog ini bagaimana saya berubah. untuk sekarang saya masih malu umbar foto pribadi. Hahahaha.

      Terima kasih ya kak sudah membaca tulisan saya! Semoga mencerahkan hati Kakak 🙂 Silakan datang kembali.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s