Ready in Love

Brio tahu betul kelakuan jalang sahabat masa kecilnya ini tak mungkin bisa diubah. Jadi, ia hanya bisa menekan perasaannya tiap kali gadis itu mendobrak masuk flatnya dengan berburai air mata.

Seperti ini.

“Brioooo!! Gue diputusin!!”

Brio menghela napas. Melirik sedikit pada Tania yang sudah mengempaskan diri di atas kasurnya, tangis gadis yang lebih muda 5 tahun darinya itu langsung memecah isi telinganya. Rasanya ingin sekali menyeret gadis itu keluar dan mengunci flatnya agar tak ada orang yang  bisa masuk lagi karena ia harus bekerja. Tapi Brio tahu, ia tak bisa.

“Emang dasar lunya jalang,” kata Brio sinis sembari berusaha memfokuskan diri pada naskah novel di hadapannya.

Bruk!

Sebuah bantal melayang ke kepala Brio, tapi sayangnya tak cukup keras untuk menggoyahkan posisi pria berumur seperempat abad itu.

“Dasar cupu! Gue bukan cewek jalang! Gue cuman mudah jatuh cinta!”

“Ya terus apa bedanya? Gonta ganti pacar, selingkuh, ngerebut pacar orang? So on deh. Emang lu gak pernah mikirin perasaan orang apa? Pantesan seumur hidup cuman gue yang mau temenan sama lu.”

Brio menang; Tania bungkam. Wajah gadis itu memberengut sembari memeluk boneka Teddy Bear besar yang ia hadiahkan pada Brio di ultah pria itu yang ke-25—biar lu terlihat sedikit unyu, kata Tania setengah tertawa kala itu.

“Yo, lu ganti rokok ya?” kini suara Tania terdengar lebih tenang, tapi malah membahas hal yang tak penting. Ah, seperti inilah Tania, kegalauannya hanya bertahan beberapa kalimat. Setelah itu? Mungkin besok malam Tania sudah pergi clubbing sembari mencari pacar baru.

“Kenapa? Gak suka?” Brio masih meladeni Tania. Meski begitu jengkel dengan kelakuan gadis itu, Brio tetap tak bisa mengabaikannya.

“Gak, baunya enak kok. Mentol ya? Bagi dong!”

“Gak boleh. Lu beli sendiri aja.”

“Uh, pelit!”

Tania pun bangkit, melangkah cepat menuju VCD Player milik Brio sembari mengelap sisa-sisa air matanya. Setelah beberapa saat memilah CD, akhirnya ia memutuskan untuk menikmati suara seksi Adam Levine dan tak lama kemudian Payphone-pun mengudara dengan frekuensi yang dapat memecahkan kaca-kaca jendela, untung saja flat Brio kedap suara.

If happy ever after did exist! I would still be holding you like this! All those fairytales are full of SHIT! One more STUPID love song, I’ll be SICK! Now~ I’m at a payphone!”

Tania menjerit-jerit kegilaan mengikuti lirik lagu yang tengah di putar, menekankan kata-kata makian yang ada pada lagu tersebut, lantas menendang barang-barang Brio yang berserakan di lantai ke sudut ruangan. Sedangkan Brio diam saja, membiarkan gadis itu berpolah semaunya. Otaknya sedang encer mengerjakan deadline dan ia tipe penulis yang bisa menulis meski bom atom meledak di Indonesia. Jadi biarlah Tania berbuat sesukanya, Brio yakin dalam beberapa lagu lagi Tania akan jatuh tertidur di kasurnya dan mengemis untuk dibiarkan menginap malam ini.

  Baca lebih lanjut