Cerita Pendek, Romance, Slice of Life

Ready in Love

Brio tahu betul kelakuan jalang sahabat masa kecilnya ini tak mungkin bisa diubah. Jadi, ia hanya bisa menekan perasaannya tiap kali gadis itu mendobrak masuk flatnya dengan berburai air mata.

Seperti ini.

“Brioooo!! Gue diputusin!!”

Brio menghela napas. Melirik sedikit pada Tania yang sudah mengempaskan diri di atas kasurnya, tangis gadis yang lebih muda 5 tahun darinya itu langsung memecah isi telinganya. Rasanya ingin sekali menyeret gadis itu keluar dan mengunci flatnya agar tak ada orang yang  bisa masuk lagi karena ia harus bekerja. Tapi Brio tahu, ia tak bisa.

“Emang dasar lunya jalang,” kata Brio sinis sembari berusaha memfokuskan diri pada naskah novel di hadapannya.

Bruk!

Sebuah bantal melayang ke kepala Brio, tapi sayangnya tak cukup keras untuk menggoyahkan posisi pria berumur seperempat abad itu.

“Dasar cupu! Gue bukan cewek jalang! Gue cuman mudah jatuh cinta!”

“Ya terus apa bedanya? Gonta ganti pacar, selingkuh, ngerebut pacar orang? So on deh. Emang lu gak pernah mikirin perasaan orang apa? Pantesan seumur hidup cuman gue yang mau temenan sama lu.”

Brio menang; Tania bungkam. Wajah gadis itu memberengut sembari memeluk boneka Teddy Bear besar yang ia hadiahkan pada Brio di ultah pria itu yang ke-25—biar lu terlihat sedikit unyu, kata Tania setengah tertawa kala itu.

“Yo, lu ganti rokok ya?” kini suara Tania terdengar lebih tenang, tapi malah membahas hal yang tak penting. Ah, seperti inilah Tania, kegalauannya hanya bertahan beberapa kalimat. Setelah itu? Mungkin besok malam Tania sudah pergi clubbing sembari mencari pacar baru.

“Kenapa? Gak suka?” Brio masih meladeni Tania. Meski begitu jengkel dengan kelakuan gadis itu, Brio tetap tak bisa mengabaikannya.

“Gak, baunya enak kok. Mentol ya? Bagi dong!”

“Gak boleh. Lu beli sendiri aja.”

“Uh, pelit!”

Tania pun bangkit, melangkah cepat menuju VCD Player milik Brio sembari mengelap sisa-sisa air matanya. Setelah beberapa saat memilah CD, akhirnya ia memutuskan untuk menikmati suara seksi Adam Levine dan tak lama kemudian Payphone-pun mengudara dengan frekuensi yang dapat memecahkan kaca-kaca jendela, untung saja flat Brio kedap suara.

If happy ever after did exist! I would still be holding you like this! All those fairytales are full of SHIT! One more STUPID love song, I’ll be SICK! Now~ I’m at a payphone!”

Tania menjerit-jerit kegilaan mengikuti lirik lagu yang tengah di putar, menekankan kata-kata makian yang ada pada lagu tersebut, lantas menendang barang-barang Brio yang berserakan di lantai ke sudut ruangan. Sedangkan Brio diam saja, membiarkan gadis itu berpolah semaunya. Otaknya sedang encer mengerjakan deadline dan ia tipe penulis yang bisa menulis meski bom atom meledak di Indonesia. Jadi biarlah Tania berbuat sesukanya, Brio yakin dalam beberapa lagu lagi Tania akan jatuh tertidur di kasurnya dan mengemis untuk dibiarkan menginap malam ini.

 

XOXO

Tepat pukul dua belas malam Brio memencet tombol enter di laptop-nya dan sukses mengirimkan naskah ke editornya. Sejenak ia diam melepas tegang, sembari mengusap dagu dan mulutnya yang kini mulai ditumbuhi kumis dan cambang lagi—sudah seminggu ia lupa bercukur demi mengejar deadline, bekerja sebagai penulis full time seperti ini memang bukan pekerjaan yang bersahabat dengan waktu.

Setelah beberapa saat Brio pun berdiri, mendekati VCD Player-nya untuk mematikan benda yang masih bersuara itu, lalu melangkah menuju kamar mandi sembari melirik kecil ke arah Tania yang sekarang sudah sukses menguasai single bed-nya. Ck, dasar bocah.

Dengan cepat Brio menyelesaikan urusannya di kamar mandi dan melangkah menuju kasurnya, tapi ia tak bisa langsung tidur karena ada Tania di sana. Akhirnya, Brio memilih untuk duduk bersila di lantai dekat kasur dan menatap gadis yang tengah tertidur pulas itu lekat-lekat. Rambut panjang ikal Tania tergerai bebas, menutupi sebagian wajahnya yang terlihat lelah. Meski tertidur, gadis itu terlihat menyisakan sedikit kegelisahan di wajahnya. Brio yakin pria yang tadi mencampakan Tania cukup dekat dengannya, tapi ia tak dapat menyembunyikan rasa senangnya karena Tania kini kembali sendiri, meski hanya sesaat.

 “Tan, pulang sana, udah malem,” kata Brio ketus, tapi hanya sekedar formalitas karena seperti biasa ia akan tetap membiarkan gadis itu menginap di flatnya ini. “Tan, buruan bangun.” Brio mendorong kepala Tania dan gadis itu hanya menggeliat risih.

“Entar bokap lu nyariin lu,” kata Brio lagi dan sepertinya membuahkan lebih banyak reaksi karena Tania membuka matanya pelan-pelan dan menatap brio sedikit berang.

“Basi lu ah, Yo, kayak lu gak tahu bokap gue aja,” sahut Tania sembari menjulurkan tangan langsingnya dan balas mendorong wajah Brio. “Gue nginep lah, kayak biasa,” sambung Tania sembari menarik tubuhnya semakin dalam di balik selimut dan mendekatkan diri ke tembok; menyisakan sedikit ruang untuk Brio tidur.

Brio mendengus, tapi akhirnya turut masuk ke dalam selimut dan memiringkan tubuh ke arah yang berlawanan dengan Tania, berusaha membuat dirinya senyaman mungkin; dengan begini kasurnya muat untuk dua orang.

Beberapa saat berlalu dalam hening, meski matanya terpejam, Brio tak dapat langsung tertidur karena semakin bertambah usia ia punya banyak masalah dengan kehidupan yang mengganggu pikiran juga hatinya.

“Yo,  lu udah tidur?”

Brio membuka satu matanya, sedikit terkejut dengan suara Tania yang memecah keheningan lagi. Aneh, biasanya jika sudah terlelap, gadis itu sangat sulit untuk bangun.

“Belum,” jawab Brio singkat sembari menutup kembali matanya. “Udah ah tidur sana, besok gue anterin lu pulang pagi-pagi.”

“Kapan gue bisa nemu orang yang bener-bener sayang sama gue ya, Yo?” Tania berbicara lagi, mengabaikan Brio yang memintanya tidur kembali. “Gue bosen begini terus, gue pengin nemu orang itu dan hidup sama dia aja. Gue muak tinggal sama bokap gue.”

Brio diam saja, dalam hati ia sebenarnya merasa kasihan pada Tania—gadis yang kehilangan kasih sayang ibunya sejak lahir dan ditelantarkan oleh ayahnya yang gila harta juga wanita. Meski di luar Brio kerap mengetusi Tania atau pun mengucapkan kata-kata kasar padanya, gadis itu tidak tahu betapa dalamnya perasaan Brio padanya. Bahkan lebih dalam dari yang Brio kira selama ini.

“Abrio Wibowo! Lu dengerin gue gak sih?” sebuah pukulan ringan melayang di bahu Brio, dan sontak membuat pria itu kembali dari lamunan singkatnya. Brio dapat merasakan Tania mengubah posisi tidurnya dan kini menatap punggungnya; embusan napas gadis itu sedikit membuat tengkuknya geli.

“Gue denger kok.” Akhirnya Brio membuka matanya lebar-lebar, tapi masih enggan untuk berbalik dan beradu wajah dengan gadis itu. “Terus lu mau cari di mana orang kayak gitu hah? Tingkah lu aja belum bener.”

Tania diam, tapi embusan napasnya statis, pertanda ia sedang berpikir.

“Gue gak tahu harus gimana,” kata Tania setelah terdiam cukup lama. “Gue sadar kalau gue ini cuman cewek pemberontak yang gak punya otak.

“Kuliah gue gak selesai, kerjaan gue main mulu. Bokap bukannya negur gue atau apa, malah ngebiarin gue semakin binal dan lebih seneng ngurus pacar-pacarnya juga bisnisnya yang lagi melambung. Gue  ditelantarin bersama uang-uang di tabungan gue, mungkin menurutnya uang bisa menyelesaikan segalanya termasuk mental anaknya. Hahaha, kayaknya hidup gue udah gak ada artinya lagi buat dia.”

“Kalau lu mau bunuh diri tolong jangan di flat gue, cari aja tempat lain,” sambar Brio buru-buru; merasa sangat tidak senang dengan gelagat aneh Tania.

“Tolol lu ah, gue masih pengen hidup kok. Keenakan bokap gue kalau misalnya gue mati; gak ada lagi tanggungan.”

Brio diam saja, tak menanggapi Tania lagi dan membiarkan gadis itu melanjukan kata-katanya.

“Hah…” akhirnya Tania hanya mendesah berat, mungkin sudah bingung ingin bicara apa. “Seandainya semua orang di hidup gue kayak lu, Yo,” bisik Tania di belakang kepala Brio. Perlahan jemari gadis itu meremas kaus oblong Brio dan merapatkan tubuhnya pada tubuh pria itu. Brio sendiri bisa merasakan pipi Tania menempel di bahunya dan membiarkan gadis itu mencari tempat nyampan di punggungnya.

Selama ini Brio sudah tahu, meski terlihat kuat, Tanya hanya gadis kesepian yang rapuh. Bila sedikit saya tergunjang, ia akan hancur berkeping-keping.

“Gue sayang sama lu, Yo.”

Suara Tania terdengar sedikit bergetar. Brio yakin gadis itu akan menangis, tapi ia sendiri tak tahu harus berbuat apa. Selama ini, Tania yang ia kenal jarang sekali menunjukkan air mata, meski pun Brio tahu jelas bahwa dibalik tawanya Tania selalu menangis.

“Tolong, jangan pernah tinggalin gue,” kata Tania lagi, dan seiring kalimat itu terlontar, tangis gadis itu pun pecah. Meski tak nyaring, mendengar Tania menangis saja sudah cukup membuat hati Brio teriris-iris. Ingin sekali Brio berbalik dan memeluk Tania erat-erat untuk menghentikan tangisnya itu.

Tapi Brio tidak bisa.

Perasaannya terlalu rumit untuk diartikan dan ia tak mau bertindak gegabah. Biar saja seperti ini, biar saja ia telan sendiri perasaannya tanpa perlu Tania berbagi beban.

Gue juga sayang sama lu Tan, bisik Brio dalam hati.

XOXO

Besok paginya Tania bangun lebih dulu dan pergi tanpa meninggalkan pesan apa pun—sangat tidak biasa. Brio yang mulai merasa ada yang tidak beres dengan polah Tania langsung menelepon ke rumahnya. Yang menjawab Bi Sumi, dia bilang Tania pulang pagi-pagi sekali dan sekarang sedang tidur di kamarnya. Untuk sementara Brio bisa bernapas lega, tapi pikirannya masih tak tenang.

Ada apa dengan Tania?

Brio mencoba mengorek informasi dari Bi Sumi, tapi pembantu yang sudah mengabdi pada Keluarga Pambudi puluhan tahun itu hanya berkata tidak tahu. Dan akhirnya Brio mengakhir sambungan telepon dengan hati gundah. Ia yakin ada yang salah dengan gadis itu, tapi ia pun bingung harus mencari informasi dari mana.

Ah, pusing!

Akhirnya Brio melemparkan tubuhnya kembali ke atas kasur dan menikmati day off-nya untuk sementara waktu. Pikirannya melayang pada hari pertama ia bertemu dengan Tania. Itu sepuluh tahun yang lalu, saat itu Brio masih bocah ingusan berumur 15 tahun. Orangtua mereka saling mengenal. Ayah Tania, Pak Hariono Pambudi, dan ayahnya sama-sama almameter di perguruan tinggi terkenal di Indonesia. Dan mereka berdua saling memperkenalkan anak masing-masing di acara reuni.

Waktu itu Tania hanya gadis kecil berumur 10 tahun yang pemalu. Brio yang diminta ayahnya mengakrabkan diri dengan gadis itu menurut, dan terus menemani Tania sepanjang acara reuni berlangsung. Tapi hubungan mereka tak hanya berakhir sampai di situ, Tania jadi sering mampir ke rumahnya. Bermain sepanjang hari bersamanya bahkan menginap berhari-hari. Brio pun tak merasa terganggu akan hal itu karena ia sendiri anak tunggal—ia ingin sekali punya adik, tapi ibunya sudah terlalu tua untuk menambah anak.

Namun, lama kelamaan prilaku Tania mulai berubah sejak karir ayahnya semakin menanjak dan seringnya ia melihat wanita-wanita asing datang ke rumahnya. Mental Tania yang sedang berkembang merekam prilaku itu sebagai polah yang biasa dan akhirnya terjerumus pada hal-hal bebas—clubbing, rokok dan minuman keras.

Brio sudah berkali-kali meminta Tania menghentikan prilakunya itu, tapi gadis itu tak pernah mengubris dan akhirnya Brio menyerah dengan satu syarat: no free sex, no drugs. Dan untungnya Tania mau menurut, meski sering bergonta-ganti pacar Tania tak pernah bercinta dengan laki-laki mana pun, bahkan tiap kali ditawari ganja oleh teman-temannya, Tania menolak dengan tegas. Brio percaya itu, karena ia pernah sekali menguntit Tania saat gadis itu pergi clubbing dan melihat sendiri bagaimana Tania menolak semua ajakan itu.

Tapi kemarin? Brio merasakan sesuatu terjadi pada Tania dan gadis itu menutupinya. Kalau tidak, kenapa ia mengucapkan hal-hal yang aneh seperti itu dan menangis? Kenapa?

Tunggu, Tania tak benar-benar berencana bunuh diri kan?

Brio sontak bangkit dan duduk di sisi kasurnya; berpikir semakin keras. Tapi Tania yang Brio kenal bukan cewek segegabah itu. Tania memang rapuh, tapi Brio percaya kalau hal itu tak akan sampai membuat gadis itu depresi dan bunuh diri. Mungkin ada masalah yang tak ingin Tania ceritakan padanya, mungkin hanya pertikaian sepele dengan teman-teman clubbing-nya. Ya, ya, mungkin saja begitu. Brio cukup melihat perkembangan masalah ini dalam beberapa hari baru mengambil keputusan.

Ia harus hati-hati agar perasaannya tidak turut campur memerintah tindakannya.

XOXO

Oh.

CUKUP SUDAH.

Brio menghisap batang nikotinnya dalam-dalam, merasakan asap masuk memenuhi paru-parunya dan melepaskannya dalam sekali dengusan. Sudah lima hari berlalu sejak Tania terakhir kali datang ke flatnya, dan gadis itu tak sedikit pun menunjukkan batang hidungnya pada Brio lagi. Jangankan bertatap muka, mendengar suaranya pun Brio tidak bisa. Berkali-kali pria itu mencoba untuk menghubungi nomor Tania—handphone mau pun rumah—tapi ia tak mendapatkan apa yang ia cari.

Kalau begini terus, Brio yakin ia akan gila.

Jadi, di sinilah ia sekarang, berdiri tak jauh dari pintu masuk sebuah club malam sembari menghabiskan beberapa putung A Mild Mentol-nya sebelum memutuskan untuk masuk. Ingar-bingar musik yang mampu memecahkan gendang telinga menyambut Brio dan ia yang tak terbiasa dengan hal itu langsung mengerutkan dahi dalam-dalam; mencoba beradaptasi.

Brio mendongak tinggi-tinggi, berharap menemukan sosok Tania di antara para remaja yang sedang menari kesetanan atau di antara orang-orang yang tengah menegak botol-botol vodka di counter. Tapi nihil, tempat ini terlalu luas dan sesak untuk di tangkap matanya. Jadi pria itu memutuskan untuk mendatangi salah satu bartender yang barang tentu mengenali Tania sebagai pelanggan rutin tempat itu.

“Ah, Tania? Natania Pambudi itu?” Bartender yang tengah melempar shaker ke udara itu sontak menghentikan gerakannya lalu menuangkan cocktail pesanan pelanggannya itu ke dalam gelas yang sudah ia sediakan sembari berpikir untuk menjawab pertanyaan Brio.

“Tadi sih gue lihat dia lagi ngisep ganja bareng temen-temen cowoknya di sana, mungkin masih di sana,” kata bartender itu sembari menunjuk satu arah di pojokan club. Mendengar hal itu sontak Brio membeliakan matanya hingga nyaris keluar. Untuk sesaat ia merasakan ada batu yang menghantam kepalanya, tapi setelah itu, yang ia tahu darahnya mendidih sangat panas.

Tanpa berbasa-basi untuk mengucapkan terima kasih Brio langsung berlari menuju arah yang tadi ditunjuk oleh si bartender. Brio menabrak banyak orang, membuat sedikit kerusuhan dengan memecahkan beberapa botol, bahkan nyaris tersulut rokok seseorang, tapi yang ada di pikiran Brio hanyalah Tania dan menyeret gadis itu keluar dari tempat terkutuk ini.

Dan Brio akhirnya berhenti, tercekat, tatkala akhirnya matanya berserobok dengan sosok Tania yang kini tertawa dikelilingi banyak pria dan bibir menghisap sebatang… ganja? Ya, ganja. Brio tidak bodoh, meskipun tak pernah menghisap ganja, ia bisa membedakan rokok dan lintingan objek candu itu dengan sangat jelas. Ditambah lagi, Tania tak sendirian menghisap benda itu, pria-pria di sekelilingnya ikut berpesta, merapatkan diri pada gadis itu, memeluk tubuhnya yang hanya berbalutkan tank top dan celana pendek. Beberapa tangan nakal meraba dada Tania atau mencium bibir gadis itu, tapi bukannya mengelak, Tania hanya tertawa sembari membalas perlakuan itu.

Tania yang Brio lihat sekarang, bukanlah Tania yang selama ini ia kenal.

Dan ketika menyadari hal itu, isi kepala Brio rasanya langsung meledak. Ia membiarkan perasaannya mengendalikan emosi dan bertindak implusif dengan berlari mendatangi Tania lantas menghentakan tangan gadis itu di udara hingga lintingan ganjanya terlepas.

“Lu udah gila ya, Tan!”

Tania yang masih nge-fly karena pengaruh ganja yang ia hisap hanya mengerjap, lalu terkejut mendapati pria yang tengah mencengkram tangannya saat ini adalah Brio. Tapi rasa keterkejutan itu tidak bertahan lama, Tania langsung menepis tangan pria itu dan tertawa sumbang.

“Ngapain lu di sini hah?” kata Tania ketus sembari memungut kembali ganjanya dan menghisap benda itu. “Hidup gue bukan urusan lu,” sambung Tania disusul tawa semua pria yang ada di dekat Tania.

Mendengar jawaban Tania, Brio pun semakin berang. Tanpa banyak bertingkah lagi ia langsung menyeret tubuh Tania keluar dari tempat itu meski gadis itu berontak bahkan menggigit dan memukul bahu Brio saking jengkelnya.

“Brio! Lepasin gue! Bangsat lu! Lepasin gue!” Tania mulai mencaci, mereka berdua membuat kegaduhan semakin menjadi di ruangan itu. Tapi beberapa orang yang melihat hanya bertindak tak acuh dan kembali kepada kesibukan masing-masing. Sampai akhirnya Brio berhasil membawa Tania keluar, dan langsung melemparkan tangan gadis itu di udara.

“Tan! Lu kenapa sih tiba-tiba jadi kayak gini!?” Brio langsung membentak Tania sangat nyaring hingga gadis itu mundur beberapa langkah. Sekarang sudah pukul lewat tengah malam, tak banyak orang yang lalu lalang di sekitar tempat itu, jadi Brio mau pun Tania sadar kalau mereka bisa puas saling membentak di sana.

“Apa peduli lu! Lu sendiri kan bilang kalau gue ini cuman cewek jalang!?”

“Iya, lu emang jalang! Tapi lu bukan pelacur!”

Tania diam, dadanya kembang-kempis, ia pun menahan marah.

“Sekarang gue antar lu pulang!” Brio mencoba menarik tangan Tania lagi tapi dengan cepat gadis itu menepisnya.

“Gak! Gue gak mau pulang! Itu bukan rumah gue!”

“Lu jangan kayak bocah deh!”

“Gue emang masih bocah, terus kenapa!?” Tania menangkat dagunya; tak ingin menyerah begitu saja. “Gue emang gak setara dengan lu. Gue masih pengin main-main dan nikmatin hidup gue! Jangan kira karena gue anak broken home terus lu bertingkah seolah-oleh jadi pengganti bokap gue dan sok ngatur-ngatur ya! Gue gak butuh itu!”

Plak!

Brio menampar Tania. Untuk pertama kalinya Brio menampar seseorang dan orang itu adalah Tania. Brio sendiri takjub dengan perbuatannya, tapi ia sadar betul saat melakukan hal itu.

“Gue kecewa sama  lu, Tan,” kata Brio dengan penuh penekanan. Hatinya menghitam, bayangan Tania yang tengah menghisap ganja dan bercumbu dengan pria lain membuatnya tak bisa berpikir panjang. Ia marah, ia sangat marah. “Gue pikir suatu hari nanti lu bisa berubah, tapi ternyata lu malah tambah parah. Gue gak habis pikir kenapa lu tiba-tiba kayak gini.”

Tania menyentuh pipinya, Brio bisa melihat gadis itu terguncang dengan perbuatannya tadi. Tapi ia sudah gelap mata, di hadapannya sekarang bukanlah Tania yang selama ini ia jaga. Brio telah gagal menjaga Tania dan membiarkan gadis itu melebihi batasnya. Lebih-lebih merasa marah pada Tania, sebenarnya Brio lebih ingin memarahi dirinya sendiri.

“Sekarang terserah lu mau apa. Lu mau nge-drugs! Lu mau nge-sex sama cowok mana pun! Terserah! Gue udah gak peduli lagi!”

Brio melangkah pergi. Tanpa Tania di genggaman tangannya. Ia bisa mendengar sayup-sayup Tania menangis di keheningan malam. Tapi ia sudah terlalu marah untuk berbalik dan memeluk Tania.

Ia sudah tak peduli lagi.

XOXO

“Lu kenapa sih, Yo?”

Andre, teman sejawat sekaligus editor Brio, mengguncang bahunya keras hingga pria itu terjaga dari lamunannya. Semenjak kejadian malam itu, Brio jadi semakin sering melamun. Ada selumit rasa menyesal dengan perbuatannya waktu itu, tapi semakin ia memikirkannya, yang ada ia justru semakin marah dengan dirinya sendiri karena membiarkan Tania menjadi seperti itu.

“Gak, gue gak papa,” sahut Brio sekenanya, lantas menyesap kopi tubruknya yang kini sudah dingin karena sedari tadi ia abaikan. “Sampai mana kita tadi?”

Mata Andre menyipit, menatap Brio penuh telisik karena pertanyaan itu membuktikan kalau Brio tidak konsentrasi dengan apa yang sedang ia bicarakan. Andre menindih kertas-kertas di atas meja mereka dengan kedua sikunya dan mencondongkan tubuhnya mendekati Brio, lalu berbisik, “Lu abis ngehamilin anak orang ya?”

Brio sontak mendorong wajah Adrian dan memaksa pria berkacamata tebal itu kembali duduk manis di kursinya. “Apaan sih lu! Mabuk ya? Ya, enggak lah!” sahut Brio risih sedangkan Adrian masih saja menatap Brio penuh selidik sembari membenarkan letak kacamatanya yang miring.

“Ya terus kenapa belakangan ini lu gak konsen mulu hah? Kayak orang punya tanggungan hidup banyak aja lu ah,” kata Adrian lagi, masih berusaha mencongkel cerita dari sahabatnya itu.

“Dibilang juga gue gak papa. Kepo banget sih lu!” kini Brio semakin risih, gelagatnya kentara terlihat tak tenang; seperti menyembunyikan sesuatu yang besar.

“Ini soal cewek itu ya?” alis Adrian meninggi; Brio hanya membuang wajahnya ke gelas kopi. “Anak tunggal keluarga Pambudi itu kan? Natania Pambudi?”

Brio masih diam saja. Karena tak menyangkal, Andre tahu kalau masalah Brio pasti bersangkutan dengan gadis itu. Andre sendiri tak pernah bertemu dengan gadis bernama Tania ini, ia hanya mengenalnya dari cerita-cerita Brio. Satu-satunya gadis yang sering Brio keluhkan polahnya, tapi akhirnya diam-diam mencuri hati pria malang ini. Andre tahu, di balik semua keluhan Brio tentang kelakuan Tania yang diceritakan padanya, terselip rasa sayang yang begitu dalam. Buktinya? Sampai seumur ini mana ada perempuan yang nyatol bersadang status ‘pacar Abrio Wibowo’ padahal tidak sedikit yang bahkan rela menyerahkan keperawanannya untuk pria itu.

“Dia kenapa lagi? Dihamilin orang?”

Brio langsung menatap tajam ke arah Andre, seketika itu juga hatinya jadi panas. Tapi Andre yang tidak tahu menahu duduk permasalahannya hanya mengangkat bahu. “Apa? Gue kan cuman nebak,” katanya membela diri.

“Gak usah asal tebak kalau gak tahu,” kata Brio ketus lalu melipat kedua tangannya di depan dada. “Tanya Google sana! Jadi gak asal tebak aja.”

“Oke! Nih, gue cari di Google!” Andre menyambar smartphone-nya yang tergeletak di atas meja dan langsung membuka laman Google. Ia tahu ini konyol, tapi dari pada ia meladeni tingkah labil sahabatnya ini, Andre lebih memilih mematut diri pada layar smartphone-nya. Dan setelah mengetik beberapa kata kunci, Andre akhirnya menemukan beberapa berita yang menyangkut keluarga Pambudi yang menjadi hot issue di beberapa situs.

“Oh, gue tahu nih masalahnya sekarang…” Brio melirik Andre sembari mengerutkan dahinya heran. “Bokapnya cewek itu ditangkap KPK ya? Kasus korupsi nih.”

“Apa lu bilang?” Brio yang justru baru mendengar berita itu sontak menyambar smartphone Andre dan membaca berita yang tertera di layar. Inti berita itu cuman satu: Hariono Pambudi kini dinaikin statusnya menjadi tersangka.

“Lu gak  tahu soal ini, Yo? Astaga, berapa lama sih lu gak bersentuhan dengan televisi dan internet? Isu itu kan sudah lama.”

Brio tercekat, tenggorokannya terasa sakit hingga ia tak bisa berbicara sepatah kata pun. Semuanya tiba-tiba menjadi terang di mata Brio, dari dimulainya perubahan sikap Tania dan setiap perkataan gadis itu yang sarat akan keputusasaan. Jantung Brio pun berdebar kencang, kesadaran akan kasus ini membuat Brio takut akan apa yang terjadi pada Tania, ditambah lagi dengan apa yang telah pria itu lakukan terhadapnya malam itu: Brio telah menelantarkan Tania di saat ia seharusnya memeluk gadis itu dan mengatakan semuanya akan baik-baik saja.

Sial! Kenapa semuanya jadi begini?!

“Yo, mending lu sekarang cari Tania deh.” Andre yang sedari tadi membiarkan Brio tenggelam dengan pikirannya sendiri akhirnya memecah kebekuan di antara mereka. “Apa pun yang terjadi dengan cewek itu, sekarang cuman lu yang dia punya.”

Seperti ada sesuatu yang pecah di kepalanya, Brio langsung menyadri satu hal penting itu; merasa diri begitu tolol karena mengetahui hal itu justru dari Andre. Kenapa ia tak sadar lebih cepat?! Argh!

 Tanpa banyak bicara Brio langsung berdiri dan berlari keluar dari kedai kopi itu menuju Ninja-nya yang terparkir di luar. Waktu sudah menunjukkan pukul sembilan malam, dan bagaimana pun caranya Brio harus menemukan Tania malam ini juga.

Brio takut besok ia justru menemukan berita lain tentang kasus bunuh diri.

XOXO

Tidak ada. Tidak ada. Tidak ada. Tidak ada!

TANIA TIDAK ADA DI MANA PUN.

Brio sudah mencari gadis itu di rumahnya, tapi yang ia temukan justru poster besar bertuliskan ‘disita oleh pemerintah’ yang bertanggal hari ini. Club yang nyaris saban malam di sambangi Tania pun sudah di kelilinginya berkali-kali, tapi sosok Tania tak juga ia temukan. Brio pun sudah memacu motornya keliling kota, ke tempat-tempat yang ia tahu pernah Tania datangi atau tempat-tempat yang sebenarnya ia sendiri tak tahu, tapi Tania tak ada di sana. Ia bahkan dengan hati pesimis mencari Tania ke kolong-kolong jembatan, siapa tahu Tania sudah menjadi homeless sejak beberapa hari yang lalu meski rumahnya baru hari ini di sita.

Brio pun mencoba menghubungi kerabat Tania yang lain, tapi mereka semua tak dapat dihubungi, kalau pun bisa mereka sendiri hanya menjawab sinis—malu karena kasus yang menimpa salah satu keluarga mereka atau tak peduli karena selama ini hubungan mereka sangatlah buruk dengan Hariono Pambudi. Pria itu juga sudah mencoba mendatangi beberapa teman Tania atau bahkan mantan-mantan pacar Tania, tapi mereka malah menertawakan Brio dan menyuruhnya mencari di tempat lain.

Tania lagi ngambang di laut kali, salah satu mantan Tania yang sempat gadis itu selingkuhi mencela dan Brio nyaris saja menonjok bocah itu kalau seandainya ia tidak ingat kalau hal itu hanya membuang-buang waktu.

ARGH, Brio sudah melakukan semua yang bisa ia lakukan untuk mencari Tania. Tapi hasilnya nihil. Kini harapan satu-satunya hanyalah menghubungi polisi, tapi birokrasi di negara ini berbelit-belit dan ia tak mau membuang waktu membuat laporan sana-sini.

Apa yang harus ia lakukan sekarang? Cuman dirinya yang satu-satunya bisa gadis itu harapkan! Cuman dirinya satu-satunya…

Tunggu. Satu-satunya? Kalau dirinya satu-satunya harapan Tania, mungkinkah…

Menyadari satu hal penting itu Brio langsung berlari menuju motornya dan memacu mesin itu secepat mungkin kembali ke flatnya sendiri. Satu-satunya tempat yang belum ia periksa, satu-satunya tempat yang justru paling mungkin didatangi oleh orang yang dari tadi ia cari.

Bodohnya!

XOXO

“Hah… hah… hah…”

Napas Brio terputus-putus, ia tidak tahu kapan terakhir kali ia berolahraga, tapi yang jelas ia sangat kecapaian sekarang ini, bahkan rasanya nyaris mati. Padahal ia hanya berlari menaiki tangga menuju flatnya di lantai lima—sedikit-banyak ia menyesali ketidaksabarannya menanti lift. Ah, pengaruh usia.

Bruk.

Brio jatuh terduduk di lantai, tepat di depan seorang gadis yang (kali ini) tengah duduk menghisap rokok di depan pintu flatnya; gadis itu menatap Brio seolah-olah tak ada yang salah dengan pria itu. Sementara Brio masih terengah-engah, tak sanggup berkata apa pun karena seluruh energinya terkuras habis untuk mengais oksigen di udara.

“Emang ke mana lagi gue bisa pergi selain ke flat butut lu ini hah?” Tania akhirnya bersuara, sembari mengembuskan asap rokoknya ke wajah Brio. Sontak pria itu terbatuk-batuk keras. “Dasar tolol. Udah berapa tahun sih lu kenal sama gue?” Tania lantas menendang kaki Brio dengan sepatu bot hitamnya ringan lalu tertawa sumbang—menyadari kebodohan pria di hadapannya ini.

“Maaf…” akhirnya Brio mampu bersuara, ditatapnya Tania begitu lekat hingga gadis itu berhenti tertawa. “Gue gak tahu kalau…”

“Udahlah…” Tania mengibaskan tangannya di udara, lalu menghisap rokoknya dalam-dalam sebelum mematikan bara merahnya di lantai. Pelan-pelan ia mengeluarkan asap yang memenuhi paru-parunya dari mulut, berharap dengan begitu rasa frustasinya selama ini ikut larut. “Sejak awal yang salah itu gue kok. Gue terlalu naif. Gue kira gue bisa dapatin hati lu kalau misalnya gue terus-terusan gangguin hidup lu dengan semua masalah-masalah gue. Tapi ternyata gue salah.” Tania mengacak-acak lalu meremas rambutnya, terlihat sedikit ragu dengan apa yang coba ia katakan.

Brio yang mendengar pengakuan itu hanya bisa terpaku, mendengarkan, sekaligus merenungi perasaannya sendiri.

“Meskipun gue berusaha mengambil perhatian lu, lu selalu mencoba menjaga jarak sama gue. Lu peduli sama gue, tapi lu selalu menahan diri untuk bertindak  lebih dari sekedar sahabat. Brio gue tahu perasaan lu… lu…” suara Tania semakin bergetar, emosinya mulai dikendalikan oleh tangis, tapi ia masih mencoba untuk menyuarakan isi hatinya dengan bernapas panjang-panjang.

“Brio… lu sayang kan sama gue?”

Mata Tania yang memerah karena menahan air mata menatap Brio begitu lekat, tapi pria itu masih saja bungkam; terlalu bingung untuk berbicara.

“Lu sayang sama gue, tapi kenapa lu gak pernah bilang, Yo?”

Brio mengusap mulut dan dagunya, masih tak percaya dengan apa yang gadis itu katakan padanya. Isi kepala dan hatinya disampaikan secara gamblang oleh Tania—orang yang selama ia sembunyikan dari itu semua.

“Sebenarnya apa yang nahan lu buat ngaku?”

Tania masih mencecar, tapi Brio juga masih tenggelam dengan pikirannya sendiri. Selama ini ia mendiamkan perasaannya itu hanya karena satu hal: ia merasa belum pantas dan Tania pantas mendapatkan laki-laki yang lebih dari dirinya.

Sebelum ini ia hanya penulis freelance semi pengangguran yang tak punya apa-apa. Semenjak keluar dari rumah karena menentang keinginan ayahnya untuk menjadi seorang akuntan, ia tahu betul hidupnya kini bergantung dengan ambisinya menjadi seorang penulis. Perasaannya kepada Tania harus ia kubur dalam-dalam demi ambisi itu.

 Brio pikir, jika nanti ia mampu menghidupi dirinya sendiri, ia bisa membuka suara tentang hatinya kepada Tania. Tapi saat itu tak kunjung tiba dan waktu ternyata berlalu begitu cepat. Ia sekarang 25 tahun, tapi keinginannya itu tak kunjung terwujud. Maka ia menahan perasaannya sendiri dan membangun jarak tak kasatmata dengan gadis itu dengan kalimat-kalimat kasar dan sikap tak acuh. Brio pikir ini cara terbaik untuk menghadapi Tania tanpa perlu melukai perasaan gadis itu. Tapi sekarang? Justru dirinyalah yang paling melukai gadis itu.

“Gue…” Setelah terdiam cukup lama akhirnya Brio bersuara, dengan satu tarikan napas yang panjang, pria itu pun mengaku.

“Gue gak pantes buat lu, Tan.”

Mendengar pengakuan Brio itu, Tania langsung menatap Brio dengan sorot mata yang seolah berkata what-did-you-say-moron dan dengan cepat meremas kerah baju pria itu.

“Lu gak berhak menentukan apa yang pantas dan gak pantas buat gue!” bentak Tania di sela air matanya yang mulai meleleh.

“Lu lihat gue sekarang! Lu lihat! Sekarang gue cuman cewek miskin, gelandangan, dan terlantar karena bokapnya ditangkap! Gue cuman anak koruptor, Yo! Gue anak maling! Dan apa lagi yang bikin lu nahan diri buat ngaku kalau lu sayang sama gue hah? Apa?!”

Tania menangis, lebih nyaring dari yang pernah Brio ingat selama ini. Dan yang membuat Brio semakin miris, tangis ini untuk karena dirinya.

“Sekarang… sekarang gue cuman punya lu, Yo…” Tania mulai sesungkukan, ia semakin erat meremas kerah baju Brio dan menunduk dalam-dalam, mencoba menyembunyikan wajahnya dari pria itu. “Kalau lu gak mau nerima gue… ke mana lagi gue harus pergi? Ke mana lagi, Yo?”

Hati Brio mencelus; pertahanannya runtuh. Secepat kilat ia menarik tubuh Tania ke dalam pelukannya dan melingkarkan tangannya erat-erat ke tubuh gadis itu; melakukan hal yang selama ini sangat ingin ia lakukan.

“Gue sayang sama lu, Tan,” kata Brio, pada akhirnya menyuarakan isi hatinya. “Gue cinta banget sama lu.”

Tania yang menengar itu tak bisa lagi membendung perasaannya, ia langsung melepaskan pelukan Brio dan menatap pria itu dengan wajah basah karena air mata.

“Akhirnya lu ngomong juga,” kata Tania dengan bibir bergetar, kedua tangannya menyentuh wajah Brio perlahan; terlihat masih ragu dengan apa yang ia dengar. “Lu beneran sayang kan sama gue?”

Tanpa menjawab pertanyaan itu Brio langsung menarik kepala Tania dan melumat bibir gadis itu dengan bibirnya. Untuk beberapa saat ia menikmati sensasi yang selama ini hanya bisa diimpikannya sebelum akhirnya ia melepaskan ciumannya.

“Jangan buat gue ngulangin kalimat memalukan kayak gitu lagi,” kata Brio serius dan mendengar hal itu Tania hanya terkekeh geli, air matanya meleleh lagi, tapi kali ini hatinya penuh dengan rasa bahagia.

“Kalau gitu gue cari cara lain.”

Tania kembali menyatukan bibir mereka dan mencium Brio lebih intens dari sebelumnya. Brio yang sedikit kaget dengan tindakan gadis itu mencoba menandingi lumatan yang ia terima, namun Tania terlalu bersemangat hingga akhirnya Brio tahu apa maksud dari ciuman ini.

“Hei.” Brio melepaskan ciuman mereka sesaat dan menatap Tania lekat. “Gue gak punya kondom.”

Tania hanya tergelak dan kembali mencium Brio dalam-dalam.

“Gue gak peduli.”

Dan akhirnya, bagi Brio mau pun Tania, malam itu menjadi milik mereka berdua.

XOXO

Brio sedikit kaget ketika mendapati jam dinding di kamarnya sudah menunjukkan pukul satu siang saat ia terbangun. Dengan cepat ia bangkit dari tidurnya dan duduk di pinggir kasurnya. Tubuhnya letih sekali karena semalam ia harus meladeni nafsu gadis amatiran.

Ehmm… senyum Brio sontak mengembang tatkala mengingat kejadian semalam, diliriknya gadis yang sekarang tengah tertidur pulas dengan tubuh telanjang itu dan merasa begitu bahagia mendapati ada bercak darah membekas di kasurnya. Sepanjang hidupnya di dunia ini, baru kali ini Brio terbangun dengan perasaan bahagia luar biasa.

Gue bakal ngelindungin lu seumur hidup gue, Tan, bisik Brio dalam hati sembari menarik laci nakas di dekat tempat tidurnya dan mengambil sebuah kotak kecil di sana.

Gue gak akan pernah ragu lagi.

Brio membuka kotak kecil itu dan mendapati sebuah cincin platina yang ia beli dengan honor pertamanya. Pelan-pelan ia menyelipkan benda itu di jari manis tangan kiri Tania kemudian mencium tengkuk gadis itu.

“Gue sudah siap.”

Fin.

 

A/N:

Wow! Wow! Wow! Wow! Sabar-sabar. Hahaha. Apa yang kalian baca ini beneran di tulisan sama bocah (nyaris) 18 tahun nih. Hahaha. Aku sendiri gak nyangka bisa nulis tulisan segila ini 😄 To much harsh words, to much crazy feeling between the characters, but honestly I really happy when I write it!

Aku bener-bener suka sama karakter-karakterku di cerita ini, meski aku menceritakannya dari sudut pandang condong ke Brio. Tapi aku juga senang dengan karakter Tania yang juga sama begonya kayak Brio. Sama-sama jatuh cinta tapi gak siap. Hahaha.

Saking sukanya sama mereka aku sampai gambar visual mereka di mata aku. Nih, gambarnya.

See! See! See! Bagus gak? Gambarin mereka cuman pake App Paint di laptop. Bahahahak
See! See! See! Bagus gak? Gambarin mereka cuman pake App Paint di laptop. Bahahahak

Gimana? Mirip gak sama visual di kepala kalian? Hahaha, tapi yang jelas ini cuman khayalan aku. Terserah kalian mau mengkhayalan Brio dan Tania seperti apa.

Oh ya, cerpen ini emang sengaja kutulis agak panjang. Sebagai salah perpisahan sama hari liburanku. Minggu depan aku sudah masuk sekolah lagi. Hiks. Jadi susah buat sering-sering nulis. Doakan aku lulus dan masuk universitas yang aku inginkannya! 😀

Akhir kata, terima kasih sudah membaca, semoga kalian senang dengan cerita ini!

Iklan

17 thoughts on “Ready in Love”

  1. Astaga, Dict. -__- aku yang baru dapet KTP bimbang mau ngelanjutin baca atau gak. Tp krn penasaran sama ceritanya, akhirnya gak sadar ngebaca sampai akhir, :3

    Bahasanya itu ringan tapi substansi ceritanya rada’ berat,
    Kerenlah, pokoknya!

    1. Kwkwkwkw, saya juga waktu nulisnya rada ragu sih. Apa saya ngangkat tulisan yang terlalu berat atau enggak. Tapi saya cukup tertantang untuk menulis ini, jadi saya terus lanjutin 😄 Terima kasih ya sudah mau baca, semoga tulisan saya bisa lebih baik dari ini.

    1. Hi, Imaaaaaam! Maaf ya Kakak baru bisa balas komentar kamu sekarang, soalnya baru bisa bebas haris ini. nyahahaha. Iya, Kakak pribadi juga suka banget tulisan ini. Waktu nulis + ngeditnya hepi gitu. Semoga bisa nulis yang lebih bagus dari ini lagi ya 😀 Kamu juga semangat ngeblog-nya! Semangat!

    1. Halo, Mas Chris! Maaf ya Mas, saya baru bisa balas komentarnya sekarang. Aduh udah dua bulan. Hahahaha. Saya harus berjuang dulu menghadapin Ujian Nasional, jadi blognya saya Hiatuskan.
      Ah, terima kasih telah membaca ya 😀 saya pribadi juga suka dengan tulisan saya yang ini. Semoga bosa mencerahkan hati.

      Sekali terima kasih ya Mas sudah mampir, silakan datang kembali!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s