Yearning

Elizabeth  Parker duduk termangu di kursi kayunya, menatap bunga-bunga Bougainvillea berbagai warna yang ia tanam di pekarangan belakang rumahnya hampa.

Hatinya risau.

Hari ini ulang tahunnya yang ke-80, dan ia sendirian di sini—di rumah masa tua yang seumur hidup ia impikan, tapi kenapa ia tidak bahagia? Diliriknya kursi kosong di sampingnya, dan bibirnya mengulas senyum getir.

Seharusnya kau di sini, Sam, bisiknya dalam hati dan seketika itu juga rindu meledak di dadanya. Elizabeth mendesah; napasnya patah-patah. Dengan satu tarikan napas panjang Elizabeth memejamkan matanya, menahan air yang nyaris menetes di sudut matanya. Sementara angin sepoi-sepoi menerbangkan aroma sore; membuainya dengan kadamaian yang selalu ia harapkan datang menjemput.

Saat Elizabeth membuka matanya yang ia temukan bukanlah bunga-bunga Bougainvillea-nya, namun sebuah altar yang penuh dengan nuansa putih; menantinya melangkah mendekat.

Seketika itu juga Elizabeth menyadari kalau ia tengah mengenakan gaun pengantinnya dulu. Ia melihat tangannya yang berbalut sarung tangan putih, lalu menyentuh wajahnya. Tak ada kerutan. Kulit-kulit tuanya yang kendur kembali kencang. Di mana dia?

Elizabeth lantas kembali menatap altar, matanya kemudian menangkap sesosok pria yang berdiri di depan altar dan langsung menyadari bahwa pria itu adalah dia.

Sammy.

Elizabeth ingin berlari menerjang pria itu dan memeluknya erat untuk meluapkan rindunya yang menggebu-gebu, tapi langkahnya pelan—begitu anggun. Ia bisa mendengar suara lonceng gereja yang beradu dengan lantunan organ meskipun hanya ada dirinya dan Sammy di ruangan itu. Aroma mawar yang lembut mengecup cuping hidungnya, dan perasaan bahagia menyebar ke seluruh tubuhnya.

Kini Elizabeth bisa melihat sosok Sammy semakin jelas. Mata hazel pria itu menatapnya begitu lekat, senyuman manis terukir di wajah persegi itu, dan ia terlihat seperti saat pertama kali mereka bertemu; begitu muda, begitu menawan.

Ketika Elizabeth berhenti di depan Sammy, pria itu langsung menyambut tangan Elizabeth dan mengajaknya berdansa dalam diam. Mereka berdansa begitu luwes, berputar di sekeliling altar seolah-olah ingin menunjukkan kepada Tuhan betapa bahagianya mereka sekarang ini. Elizabeth tertawa lepas, jiwanya gembira; kembali ke masa ketika cinta masih membungkusnya seperti kepompong—rasanya nyaman dan tentram—dan Sammy terus tersenyum lebar, membuatnya semakin merasa luar biasa.

Namun kemudian, musik berhenti, lonceng tak lagi terdengar. Dansa mereka berakhir dan Sammy melepaskan genggaman tangannya. Sejenak ia menatap Elizabeth, lalu meraih wajah wanita itu untuk mencium dahinya lembut sebelum akhirnya melangkah pergi.

Elizabeth sontak merasa kehilangan. Hatinya yang semula berbunga-bunga tiba-tiba saja mencelus. Ia ingin berlari mengejar Sammy, tapi kakinya tertahan di lantai. Hingga akhirnya ia hanya bisa berteriak.

“Sam! Bawa aku!”

Sammy yang berada di depan pintu sontak berbalik, menatap Elizabeth dengan cara yang jauh berbeda. Di sana ada amarah, senyum tak lagi tampak, Elizabeth bahkan bisa merasakan gemeretak giginya yang terkatup rapat.

Sammy tidak ingin membawanya.

Elizabeth ingin menjerit lagi, memohon-mohon agar diizinkan pergi bersama dengan belahan jiwanya itu. Tapi seketika itu juga dunianya menjadi gelap. Sammy menghilang, pijakkannya runtuh, dan ia mendengar sebuah suara malaikat memanggil.

Malaikat kecilnya.

 

Granny? Granny? Wake up!”

Elizabeth membuka matanya perlahan dan sorot matanya pelan-pelan menangkap wajah bulat seorang gadis kecil yang memeluk kakinya.

“Granny? Apa yang terjadi? Kau tertidur di kursimu. Kupikir kau tidak akan bangun lagi!” Amanda, cucu pertama Elizabeth memandangnya khawatir, sontak ia teringat mimpinya barusan lantas tertawa dalam hati.

 “Tidak papa, aku hanya kelelahan.” Elizabeth bangkit, menggandeng tangan malaikat kecilnya masuk. “Apa ayah dan ibumu membawa manisan yang kuinginkan?”

“Tentu saja! Malam ini semua akan berkumpul merayakan ulang tahun Granny!”

Amanda tertawa renyah, dan Elizabeth tersenyum lebar. Hatinya menghangat kembali; penuh diisi cinta dari gadis kecil itu.

‘Tentu saja, Sam, tentu saja. Aku tidak boleh menyusulmu sebelum malaikat-malaikat kecil kita tahu bagaimana caranya mencintai,’ bisik Elizabeth dalam hati, diiringi suara lonceng gereja di ujung cakrawala.

End.

(Words Count 598)

“Diikutsertakan dalam Giveaway Hujan Daun-Daun

Jiwa-Jiwa yang Menuntut Damai

Jiwa orang-orang yang meninggal tetap bersama kita meskipun kita hanya bisa melihat mereka melalui mimpi. Ketika datang, mereka tak banyak bicara, kadang kala hanya tersenyum dan mengangguk atau barang kali terlihat murung karena jiwa mereka mendamba pertolongan.

 “Apa enak di sana, Pak?”

Pria berkumis tebal yang kulihat itu berwajah murung. Tubuhnya yang besar dan gemuk terlihat kaku seolah-olah kesulitan bergerak. Ia tak langsung menjawab pertanyaan yang kulontarkan. Selama beberapa detik keheningan menyelimuti kami di ruangan penuh cahaya putih itu sebelum akhirnya ia menggeleng dan menjawab.

“Enggak.”

Dan aku terjaga. Pelan-pelan aku bangkit dan duduk di pinggir tempat tidur. Mengatur napas juga kesadaranku yang masih berada di dua dunia. Lagi-lagi ada jiwa yang datang padaku dan kali ini Pak Koco. Ya, aku kenal pria berkumis tebal itu. Ia tetanggaku,  seorang tukang gigi yang cukup terkenal di kota ini; meninggal beberapa bulan yang lalu karena serangan jantung.

Setelah berhasil mengendalikan diri, secepat kilat aku meraih  Rosario yang selalu kuletakan di atas nakas dekat tempat tidurku dan mulai berdoa. Mendoakan jiwa Pak Koco, mohon kedamaian baginya dan juga jiwa-jiwa lain yang masih mengais doa damai bagi mereka.

Setelah selesai berdoa aku bangkit, berjalan menuju balkon kamarku dan menyandarkan perutku pada pagar pembatasnya. Udara pagi menyapa lembut wajahku, aku pun tersenyum sembari merapikan helai-helai rambutku di belakang telinga. Pagi yang damai, batinku. Maka, aku pun menutup mata, membiarkan suasana pagi menenggelamkanku, dan mulai mengosongkan pikiran untuk bermeditasi.

Aku tahu, bukan hanya aku seorang yang pernah mengalami hal ini. Mereka yang kehilangan anggota keluarga atau kerabatnya acapkali mengalami mimpi serupa. Tapi kadang-kadang mereka tidak mengerti maksud dari mimpi-mimpi tersebut; beberapa dari mereka bahkan mengacuhkannya, menganggapnya hanyalah bunga tidur semata. Tapi ketahuilah, mereka—jiwa-jiwa orang yang meninggal itu—muncul bukan tanpa alasan.

Pertama kali hal ini terjadi ketika aku, yang duduk di kelas tiga SMA, mengalami depresi berat karena tidak bisa mengerjakan UAS dengan baik. Aku sudah belajar mati-matian, les setiap hari, dan berjuang untuk memahami semua pelajaran yang diperlukan, tapi tetap saja tes itu masih terlalu sulit bagiku. Maka siang itu—usai menjalani UAS—aku tertidur, lelah dengan belajar dan muak untuk pergi les yang sia-sia. Dan saat itulah, Papa yang sudah meninggal mendatangiku untuk pertama kalinya.

Papa terlihat lebih muda daripada saat terakhir kali kuingat, mengenakan kaus, celana jins, jaket kulit dan topi—penampilan kegemarannya sejak muda. Ia sedang memerhatikanku yang tengah belajar di tempat bimbel. Kemudian, saat lesku usai ia pun mendekatiku dan menandatangani catatan belajarku hari itu tanpa bicara.

Papa datang setiap hari, dan selalu menandatangani catatan lesku seperti itu. Sampai suatu hari ia tidak datang; aku bingung dan bertanya-tanya. Maka, ketika Papa datang lagi untuk melihatku belajar keesokan harinya, aku pun memanggil Papa.

“Hai, Papa!” seruku sambil melambai. Papa pun mendekatiku dan duduk di sampingku. “Kenapa kemarin Papa gak datang?” tanyaku.

Papa hanya tersenyum sembari balas bertanya, “Memangnya kapan Papa pernah gak datang?”

Aku pun membuka buku catatanku dan mencari-cari bagian yang tidak ditandatangani Papa karena ketidakdatangannya. Tapi anehnya, semua catatanku bertandatangan; tidak ada yang tidak. Aku yang bingung, kembali menatap Papa, dan Papa pun hanya tersenyum simpul untuk mengakhiri pembicaraan kami.

Di sanalah titik awal saat kusadari bahwa jiwa-jiwa orang meninggal itu ada, mereka masih terhubung dengan kita dan kita harus membantu mereka untuk menemukan kedamaian.

Kubuka mataku dan menatap langit pagi yang kini mulai membiru. Bermeditasi membantuku menata ulang perasaan dan pikiranku. Bertemu dengan jiwa-jiwa itu kadang membuatku sedih, tapi mereka yang datang tidak selalu menuntut doa dariku. Beberapa di antara mereka justru menolongku dan membantuku untuk menghadapi hidup ini dengan cara lebih baik meski tanpa mereka di sisiku.

Demi kedamaian mereka.

End.

(Words Count 593)

“Diikutsertakan dalam Giveaway Hujan Daun-Daun

The Black Hair Guy

holding-hands-

Pukul empat pagi, aku terbangun dari tidur tanpa mimpiku. Menggeliat sedikit, berusaha mengumpulkan nyawa yang berserakan di alam bawah sadarku; alam yang dulu sangat kugemari karena menebar cerita-cerita aneh dan ajaib, tapi kini cerita-cerita itu hilang entah ke mana.  Ah, apa karena aku telah tumbuh dewasa? Entahlah. Memangnya, kapan terakhir kali aku memiliki bunga-bunga tidur itu?

Aku menarik tubuhku bangkit duduk di atas kasur dan bersandar ke dinding, berpikir dan mengingat-ingat, mengabaikan kewajibanku sebagai wanita di dapur  sejenak. Aku banyak bermimpi saat aku masih remaja, kebanyakan mimpi-mimpi itu kabur dan langsung kulupakan saat aku terbangun, tapi aku punya beberapa mimpi yang… emmmh, sepertinya masih kuingat sampai sekarang…

O, ya… dia. The Black Hair Guy.

Aku terkekeh singkat, dan tersipu. Bisa kurasakan pipiku menghangat tatkala berhasil mengingat bunga tidur masa remajaku itu. Dulu, aku pernah iseng menuliskan kembali mimpi-mimpi yang berhasil aku lihat dengan jelas di alam bawah sadarku. Hahaha, itu konyol memang, dan benar saja, kegiatan itu tak bertahan lebih dari seminggu karena aku tak sanggup mengingat-ingat mimpiku lagi saat terbangun.  Tapi kisah The Black Hair Guy ini yang paling berkesan untukku. Mimpi yang sederhana, tapi punya pesan yang membuat hatiku hangat setiap kali kurenungi.

Aku berdiri di sebuah tebing curam.

 Pijakanku rapuh, aku bisa saja terjatuh dan mati, tapi anehnya aku tidak takut. Dadaku penuh dengan perasaan berani untuk melewatinya. Di sana, di ujung tebing itu, aku punya mimpi-mimpi yang ingin kuraih, ambisi dan pencapaian yang seumur hidup kukejar, dan aku harus melalui tebing curam ini untuk mendapatkan itu semua. Ya, di bawah sana, kegelapan menyelimuti dan aku tahu kalau aku bisa melaluinya.

Tapi, saat aku ingin memulai langkahku, ada sebuah perasaan yang menahanku. Ketidaktenangan. Ketidaktenangan yang muncul karena aku belum menggenggam sebuah izin. Lantas aku berbalik, dan di sana berdiri seorang pria. Pria berambut hitam pekat. Ia mengenakan kemeja dan celana hitam katun yang membuatnya terlihat gagah. Aku menatapnya lekat dan seketika itu juga aku langsung mengetahui kalau dia…

Suamiku.

Pria itu tersenyum, mengangguk—memberiku izin—lantas, ia mengulurkan tangan dan menawariku sebuah rasa aman. Ya, ia ikut melewati tebing curam itu. Ia membiarkanku berjalan mendahuluinya, sementara tangannya tetap menggenggam tanganku. Menjagaku agar tidak terjatuh meskipun ia sendiri tahu kalau aku bisa melalui tebing ini tanpa bantuannya.

Dan saat kami berhasil melalui tebing itu, kami melihat sebuah tempat yang sungguh indah yang tak bisa kulukiskan dengan kata-kata. Tempat di mana mimpiku berakhir.

Ah, sungguh, mimpi itu benar-benar berakhir dengan indah. Waktu itu teman-teman SMA-ku begitu muak dengan kisah bunga tidur yang indah itu karena aku nyaris mengulanginya setiap hari. Dan untuk beberapa tahun dalam hidup masa remajaku, aku sedikit banyak terobsesi dengan The Black Hair Guy ini karena jujur saja, mimpi itu terasa begitu jelas dan nyata. Hahaha. Ya ampun, mengingatnya kembali saat aku berada di posisi seperti ini rasanya benar-benar menggelikan.

“Errrh, Hon?”

Aku tersentak saat sebuah suara yang selalu menyapa setiap pagiku selama setahun belakangan ini terdengar. Buru-buru aku menoleh ke sisi lain tempat tidurku dan tersenyum.

Morning, Kebo…” sapaku setengah tertawa, masih terpengaruh dengan ingatan tentang mimpi itu.

“Kenapa kau tertawa-tawa?” pria itu turut bangkit duduk sembari merenggangkan otot-otot tubuhnya yang kaku. Iris birunya menatapku nanar, kebingungan tertera di sana, sementara aku hanya menggelengkan kepalaku sambil terus tersenyum, merapatkan tubuh kami dan melingkarkan kedua tanganku di bahunya.

“Kau bermimpi indah semalam?” pria itu bertanya lagi, tapi pertanyaannya justru membuat tawaku kembali pecah.

“Ya,” jawabku akhirnya di sela tawaku. “Aku bermimpi sangat indah semalam.”

Kulumat bibir pria itu dengan ciuman sementara jemariku meremas rambut pirangnya yang tebal.

Merasa bersyukur karena telah menemukan The Black Hair Guy-ku sendiri sekarang.

End.

(Words count 593)

“Diikutsertakan dalam Giveaway Novel Hujan-Hujan Daun

[Resensi Buku] All She Ever Wanted – Patrick Redmond

PIC_14-04-20_16-16-56

Judul                     : All She Ever Wanted

Penulis                 : Patrick Redmond

Penerbit              : Gramedia Pustaka Utama

Terbit                    : Jakarta, 2010

Tebal                     : 504 halaman

Rate                       : 4,5/5

“Cinta bukan sekedar emosi, melainkan penyerahan diri. Penyerahan kekuasaan paling besar. Kalau kau mencintai seseorang, artinya kau memberi kekuasaan pada mereka untuk melukaimu lebih dari orang lain.”hal 311

Aku menemukan buku ini di antara buku-buku diskon yang lembar-lembarnya sudah menguning. Aku sudah melihat buku ini dua kali di tempat yang sama sebelumnya dan tidak punya rasa untuk menyentuh mau pun membelinya kala itu. Tapi tiba-tiba saja, hari Kamis kemarin aku menemukan diriku langsung membeli buku itu tanpa berpikir dua kali.

Kenapa?

Karena buku ini tiba-tiba saja mengingatkan tentang diriku yang dulu. Dan benar saja, tokoh Christina Ryan di buku ini seperti cerminan dari sosokku yang dulu. Seorang gadis gendut-besar yang mengalami tekanan batin yang hebat. Well, sebenarnya tidak sehebat itu sih, tapi cukup hebat untuk memacu semangatku hingga akhirnya mampu menurunkan berat badan sampai 21 kg. Hahaha XD. Lain kali aku akan menceritakan fase hidupku ini pada kalian, soalnya taget penurunan berat badanku sekarang belum tercapai.

Aduh, sepertinya aku selalu ngelantur di awal resensi. Okeh, kembali ke laptop, kisah ini tentang seorang gadis kecil berambut merah dan bermata hijau yang pada suatu hari mengalami guncangan batin saat ayahnya yang seorang pelaut pergi meninggalkannya dan ibunya. Ibunya yang sangat mencintai ayahnya langsung depresi dan malah menumpahkan rasa depresinya itu kepada Tina (nama kecil Christina Ryan). Tina yang masih kecil hanya ingin dicintai dan memohon kasih sayang pada ibunya namun yang ia dapatkan justru kata-kata kasar yang menusuk jantungnya.

“Coba lihat dirimu, Tina. Lihat dirimu sendiri! Bodoh, jelek, dan tidak berguna. Begitulah kau dan begitulah dirimu selamanya. Tidak heran ayahmu meninggalkanmu. Tak heran ia tergesa-gesa minggat dan meninggalkanmu.” – Liz Ryan kepada anaknya Tina Ryan, hal. 49

Wow, bagaimana mungkin seorang ibu berbicara seperti itu kepada anaknya? tapi ternyata tidak cuman itu tekanan batin yang harus ia terima. Di sekolah ia mengalami hal yang sama. Di bully secara mental, dikucilkan, dijelek-jelekan dan lain sebagainya. Orang-orang mengatainya si Jelek, buruk rupa dan gadis yang ditinggalkan ayahnya karena ayahnya dipenjara. Ia mengalami semua penderitaan itu selama bertahun-tahun. Ia mengalami tekanan batin itu selama bertahun-tahun. Sampai suatu ketika, ia menemukan dirinya ‘meledak’.

Semua kejadian yang menikamnya itu, tiba-tiba saja memberinya kekuatan untuk melawan. Ada amarah yang memaksanya untuk bangkit dan membuat rasa percaya dirinya tumbuh sedikit demi sedikit, dan ia berhasil. Melawan semua orang yang mengejek dan menghinanya, bahkan meledak sampai nyaris membunuh ibunya sendiri.

Luar biasa. Kebangkitan yang luar biasa drastis sampai-sampai orang-orang terdekat Tina tercengang dengan perubahan itu.

Maka, waktu pun berlalu. Tina yang sebelumnya tinggal di pesisir, kemudian pindah dan bekerja di London. Menjadi gadis yang penuh percaya diri dan disegani semua orang, menjadi seorang Chrissie. Hidup gadis itu penuh dengan kesempurnaan, kestabilan, kepribadian yang tercipta dari luka-lukanya di masa lalu. Dan kemudian, Jack datang, cinta datang mengguncang kestabilan itu. Chrissie yang semula tidak ingin sosok Tina yang lemah, kecil dan penuh derita itu kembali di kehidupannya justru menjadi sosok seperti itu di depan Jack. Chrissie tergila-gila pada laki-laki itu, tapi ternyata, harga dirinya yang tinggi, keinginannya untuk mengendalikan dan semuanya itu, memenangkan dirinya. Hingga ia merusak hubungannya dengan Jack dan berakhir dengan hati yang merana ketika mengetahui kalau Jack justru kembali kepada mantan kekasihnya, Ali.

Maka, ada sosok lain yang datang, sosok lain yang mencintai Chrissie sama gilanya seperti Chrissie mencintai Jack: Alexander Gallen. Seorang jutawan, seorang yang mewarisi harta, ketenaran, dan kekuasaan yang sudah tersohor di segala penjuru Inggris. Chrissie mendapati dirinya berlari ke sosok pria itu dan mencoba mencintainya sama seperti ia mencintai Jack. Tapi tidak bisa. Sosok Jack mengingatkannya pada Ayahnya yang telah lama pergi, dan ternyata, itulah yang selama ini ia cari-cari dari semua pria yang ia kencani. Luka batinnya, luka-lukanya masih membekas di hati anak kacilnya.

Nah, bagaimana jadinya cerita cinta Chrissie ini? Apa ia bisa mewujudkan semua yang ia inginkan? Atau malah, sebuah tragedi tragis justru terjadi. Tragedi yang terjadi karena ada pihak yang terlalu mencintai hingga rela membunuh untuk mempertahankan cintanya. Mari, cari dan temukan buku ini! 😀 Kalian tidak akan menyesal!

Sungguh. Buku ini benar-benar membuatku seperti menemukan diriku di masa lalu. Sosok Tina adalah sosok Arum yang dulu kutinggalkan bersama sosok-sosok buruk rupaku yang dulu. Sama seperti Chrissie, sosok Dicta yang kumiliki adalah pembaharuan. Aku juga mengalami saat-saat tertekan, kecil, dan tidak berdaya karena di-bully oleh orang-orang. Dan aku juga mengalami saat-saat itu: membenci diriku sendiri.

Sama seperti Chrissie yang membenci sosok Tina, aku juga pernah membenci sosok Arum yang selama ini bersemayam di dalam diriku. Hubunganku dengan Mama juga sempat menegang, karena selama ini aku tidak pernah cukup akrab dengan Mama. Wow, aku benar-benar merasakan kalau di dalam buku ini adalah aku. Aku benar-benar terbawa, aku bahkan bisa memahami perasaan sakit hati Chrissie dan turut membenci Jack saat pria itu memutuskan kembali ke mantan pacarnya. Kesengsaraannya, cintanya yang menggebu-gebu, dan kerinduannya kepada ayahnya.

Luar biasa.

Tapi kenapa harus minus 0.5, Dict? Bukannya kamu sampai kebawa seperti itu? yah, jawabannya karena aku tidak menginginkan diriku untuk benar-benar seperti Chrissie, dan aku juga tidak suka dengan sikapnya yang terlalu pongah. Hahaha. Aku bahkan tak sampai hati jika aku harus mengalami kehidupan seperti itu. Penuh dengan kepalsuan dan hati yang tidak damai. Aku tidak pernah merasa palsu saat aku menjadi Dicta, aku pun telah berdamai dengan Arum dan mengakui kalau Arum adalah salah satu fase dalam hidupku. Sosok ulat buruk rupa yang sekarang dalam masa kepompongnya menjadi sosok yang baru. Memikirkannya justru membuatku semakin bersemangat untuk menjadi orang yang aku inginkan. 😀

So, kesimpulannya, bintang 4,5 ya. Buku ini benar-benar cocok untuk kalian-kalian yang demen cerita-cerita psikologi romantis. Yang mengungkapkan perasaan-perasaan terdalam dan tersembunyi dari diri kalian masing-masing. Coba cari bukunya dan rasakan sendiri ketegangannya!

[Resensi Buku] By The River Piedra I Sat Down and Wept – Paulo Coelho


PIC_14-04-19_19-33-20

Judul                     : By The River Piedra I Sat Down and Wept (Di Tepi Sungai Piedra aku Duduk dan Menangis)

Penulis                 :Paulo Coelho

Penerbit              : Gramedia Pustaka Utama

Terbit                    : Cetakan kedelapan, 2013

Tebal                     : 222 halaman

Rate                       : 5/5

“Cinta tak perlu didiskusikan; cinta memiliki suaranya sendiri dan berbicara untuk dirinya sendiri.” – hal. 91

Jadi, meskipun aku berhenti menulis, sejujurnya aku tidak pernah berhenti membaca. Dua bulan yang lalu aku membeli beberapa buku Eyang Coelho lagi dan membacanya ketika aku punya waktu. Pria ini adalah satu-satunya penulis yang karyanya ingin kukumpulkan selengkap mungkin dan meresapinya sampai ketetes terakhir. Yah, sepertinya aku benar-benar tergila-gila dengan tulisannya. Hahaha, jadi maaf ya kalau resensiku ini rada-rada bias. Tapi aku akan terus mencoba untuk membuat resensi buku seobjektif mungkin tanpa mengurangi perasaan damaiku yang meluap-luap setiap kali aku selesai membaca ataupun membuat resensi buku-buku Eyang Coelho.

Baiklah, back to the topic, kali ini aku ingin meresensi buku yang memiliki judul yang menurutku romantis. Entahlah, ketika aku sedang memilih-milih buku Eyang Coelho yang ingin aku beli, aku langsung jatuh hati pada buku ini dan membelinya. Dari cover bukunya, kalian bisa lihat kalau buku ini adalah jenis buku yang penuh dengan perasaan emosional dan terobang-ambing. Dan memang, buku ini benar-benar penuh dengan perasaan seperti itu.

Buku ini bercerita tentang seorang wanita bernama Pilar. Suatu hari wanita muda ini bertemu kembali dengan sahabat masa kecilnya sekaligus cinta pertamanya. Jujur saja, sinopsis di belakang buku ini menceritakan kalau ia bertemu kembali dengan kekasihnya, tapi di dalam buku ini pria itu bukan kekasihnya. Ia cinta pertama Pilar, dan Pilar menyimpan perasaan itu sampai akhirnya mereka berpisah karena pria itu ingin menantang dunia dan menceburi risiko-risikonya. Yah, ini hanya klarifikasi saja sih, biar kalian tidak tertipu saat membaca sinopsisnya.

Nah, saat bertemu dengan teman masa kecilnya itu kembali, ternyata teman masa kecilnya telah berubah menjadi seorang pemimpin spiritual yang sangat terkenal. Pria itu penuh dengan karisma, dan diselimuti oleh mujizat-mujizat. Awalnya, Pilar berniat untuk menghindarinya, tapi ternyata hatinya berkata lain dan akhirnya pertemuan mereka berujung dengan ajakan menghadiri sebuah konfrensi bersama-sama. Pilar memutuskan untuk menerima ajakan itu, tanpa tahu, bahwa hal itu memulai sebuah pengakuan tak terduga yang dikemukakan  teman masa kecilnya.

“Telah lama aku mencoba melupakannya, tapi kalimat itu tetap ada dan aku tidak bisa menyimpannya lebih lama lagi. Kalimat itu sangat sederhana: aku mencintaimu.”Teman masa kecil Pilar, hal. 38

Pilar terkejut dengan pengakuan itu. Ia benar-benar tidak menyangka dan mencoba menyangkalnya. Mengatakan dalam hati bahwa teman masa kecilnya itu bisa saja salah. Bahwa semua ini tidak masuk akal. Maka, ketika konfrensi berakhir, hal pertama yang ingin dilakukan Pilar adalah kembali ke kediamannya di Saragoza. Ia ingin cepat-cepat kembali dan melupakan mimpi semalamnya itu. Tapi ternyata, teman masa kecilnya itu justru berhasil membujuk Pilar untuk ikut bersamanya melakukan sebuah perjalanan kecil menuju tempat konfrensinya yang lain. Perjalanan yang memakan waktu satu minggu sembari menghampiri beberapa kota.

Perjalanan ini penuh dengan perasaan emosional. Pilar yang berperang dengan hatinya, terus-menerus dipaksa merenung dan mengaduk-aduk perasaannya; mencari-cari senjata untuk menghadapi gempuran emosi yang dipancarkan oleh teman masa kecilnya itu. Perjalanan  mereka diiringi dengan pembicaraan-pembicaraan panjang tentang kehidupan, visi-visi mereka, pandangan-pandangan spiritual dan sebagainya.

Sampai suatu ketika, mereka tiba di sebuah kota bernama Saint-Savin untuk merayakan hari raya Maria yang Dikandung Tanpa Noda. Di kota inilah puncak pergejolakan perasaan Pilar yang tertinggi, di mana akhirnya ia menemukan dirinya juga penuh dengan cinta dan hasrat yang menggebu-gebu terhadap teman masa kecilnya itu. Cinta masa kecilnya yang selama ini ia tahan membeludak dan akhirnya tumpah ruah.

Namun, saat Pilar mantap dengan perasaannya. Sebuah kenyataan harus ditelannya bulat-bulat. Teman masa kecilnya itu bukanlah orang biasa. Teman masa kecilnya adalah seorang pria yang memiliki bakat dan di berkahi mujizat dari Bunda Ilahi. Ia adalah seorang calon imam, dan ia mengemban tugas berat: mewartakan sosok feminine Tuhan.

Ya, benar. Tugas mulia memanggil pria itu, namun hatinya terganjal cinta pada Pilar. Ia harus memilih, cinta harus memilih, antara mengemban tugas atau menuruti hatinya? Tapi pada kenyataannya, apa pun pilihan pria itu, pilihan itu sama-sama mulia. Cinta juga adalah sebuah kemuliaan. Karena saat manusia dilahirkan, masing-masing jiwa memiliki tugas dan jalannya masing-masing.

“Ya. Dunia ini berada di titik di mana banyak orang menerima perintah yang sama:  ‘Ikuti impianmu, ubah hidupmu, ambilah jalan yang membawamu kepada Tuhan. Lakukan Mujizatmu. Sembuhkanlah. Bernubuatlah. Dengarkan malaikat pelindungmu. Ubahlah dirimu. Jadilah seorang kesatria, dan berbahagialah saat engkau maju berperang. Ambil risiko.”Seorang Padre, hal. 166

Nah, bagaimana? Apa yang akhirnya teman masa kecil Pilar itu pilih? Apa ia akhirnya tetap menerima tugasnya sebagai pewarta, atau akhirnya memutuskan jalan yang lain, yang sama mulianya: hidup bersama wanita yang ia cintai? Cepat beli buku ini, dan ketahui akhir ceritanya di Tepi Sungai Piedra 🙂

Well, sesungguhnya, kenapa aku memberi bintang sempurna pada buku ini bukan karena cerita cintanya yang menggebu-gebu atau pun karena kutipan-kutipannya yang begitu kuat menohok. Tapi karena buku ini menguatkan imanku; keyakinan dan kepercayaanku.

Mungkin, beberapa peresensi yang agak sulit meresapi isi buku ini hanya akan menikmati cerita cintanya dan mengkritisi kesederhanaan plotnya yang kurang gereget. Yah, aku pun mengakui hal itu jika memandang dari kacamata mereka. Tapi aku menemukan, bahwa buku ini tidak bertitik berat pada sisi romansanya, tapi justru pada sisi spiritualnya. Ada sebuah doa tertulis di buku ini, yang membuat dadaku sesak dan mataku berair hingga meneteskan air mata. Doa yang penuh penyerahan dan kesederhanaan.

“Jadilah kehendakmu, Ya Tuhanku. Karena Engkau mengenal kelemahan di hati anak-anakmu, dan Engkau hanya memberi beban yang sanggup mereka pikul. Semoga Engkau memahami cintaku—karena hanya itu satu-satunya milikku, satu-satunya yang dapat kubawa bersamaku ke kehidupan selanjutnya. Kumohon, jadikan cintaku berani dan murni; mampukan cinta itu bertahan menghadapi berbagai perangkap dunia.”hal. 111

Kadang, kita lupa saat kita berdoa, kita hanya meminta kepada Tuhan tanpa memahami bahwa Tuhan mengerti bahkan tanpa perlu kita meminta. Maka, ‘Jadilah kehendak-Mu’, itu adalah kalimat yang menurutku benar-benar menohok. Selama ini doa-doa yang aku panjatkan penuh rasa meminta, ini dan itu, ini dan itu, tanpa ada rasa penyerahan dengan diakhiri kalimat ‘Jadilah kehendak-Mu’. Sehingga, saat doa-doa kita tidak sesuai dengan apa yang terjadi di kehidupan kita. Kita sering merasa kecewa kepada Tuhan. Kita kecewa kepadanya dan akhirnya meninggalkannya; malas berdoa dan lain sebagainya. Meminta kepada Tuhan tentu saja sangat diperbolehkan, tapi kita harus sadar Tuhan tahu apa yang terbaik untuk kita. Karena Ia mengenali segala kelemahan-kelemahan kita.

Sekali lagi, aku ingin mengatakan, meskipun tema spiritual di dalam buku ini bernuansa Katolik. Tapi ketahuilah, bahwa inti yang diajarkan buku ini sungguh universal. Sangat bisa diaplikasikan pada setiap agama di muka bumi ini karena tujuan kita beragama adalah menemukan kedamaian dan pegangan hidup. Eyang Coelho hanya kebetulan saja adalah seorang Katolik, dan ia menyampaikan tema spiritual di buku ini dengan caranya sebagai orang Katolik. Namun pesannya, pahamnya, dan ajakkannya untuk hidup damai bersama Tuhan sesuai dengan agama yang kita anut masing-masing dapat kita temukan di dalam buku-bukunya, termasuk di buku ini.

Akhir kata, bintang lima untuk buku ini. Kudidikasikan kepada Eyang Coelho karena ia telah menebar kasih dan kedamaian di hatiku dengan bukunya. Semoga, kalian Para Penikmat Kata juga bisa merasakan kasih dan kedamaian itu di hati kalian! 🙂

[Coretan Dicta] So, I’m Back!

cute-freedom-love-paradise-Favim.com-1014350

Setelah bulan-bulan menyedihkan, berkutat dengan buku-buku setinggi gunung dan segala tetek bengeknya yang nyaris menyita seluruh hidupku (iye, lebay), aku bebas melakukan apa pun.

AKU BEBAS

Tiga tahun masa SMA-ku akhirnya berakhir. Masa-masa penuh drama dan cerita yang gak akan pernah selesai aku kisahkan di blog ini; masa-masa transisi dari seorang Arum—nama kecilku, hanya orang-orang rumah yang memanggilku begitu dan beberapa temanku—menjadi seorang Benedikta yang kini lebih mengenali dirinya sendiri.

Selama empat bulan ini aku benar-benar menahan diri untuk tidak menulis dan menuangkan rasa yang tetanam di kepala serta hatiku. Tapi, yah, akhirnya aku langgar juga sih beberapa waktu yang lalu dengan sebuah posting-an sederhana berupa fanfiksi. Hahaha. Maaf ya untuk posting-an itu, benar-benar memalukan. Aku sendiri sampai bingung, kenapa bisa menulis fanfiksi seaneh itu. tapi ya sudah lah, maklumi saja, mungkin karena aku sudah jarang menulis fiksi dan cerita-cerita sejenis, jadi sense untuk menulis sudah memudar. Lain kali aku akan menulis lebih baik lagi agar mata, hati dan pikiran kalian akan memetik buah-buah kata yang kutanam di blog ini (wetseh!).

Well, cerita sedikit sebagai pembukaan. Seperti yang kalian ketahui, blog ini sudah hiatus lamaaaa banget. Sejak Januari, awal tahun kemarin, aku menyimpan seluruh kisah hidupku yang sebenarnya pengen banget aku ceritain  di blog ini. Dari ulang tahun ke-18-ku yang hanya ditemani oleh sepiring capcai sampai pengalaman-pengalaman ajaib yang membuat perubahan dalam diriku secara pribadi. Pengalaman-pengalaman luar biasa yang udah sangat enggak sabar aku bagi ke kalian semua. Hehehe. Jadi, sementara aku memulihkan sense-ku dalam menulis fiksi, kalian bisa menikmati cerita-cerita hidupku yang mungkin tidak begitu menarik, tapi akan dengan senang kubagi dengan kalian.

Karena aku hanya menabur Kata-Kata, dan Para Penikmat katalah yang menuainya.

Ketika aku membangun blog ini, tujuan utamaku bukan cuman untuk menyalurkan hobi menulis fiksiku agar dunia mengenal dan mengakui tulisanku, tapi juga ingin berbagi. Ada banyak ide serta paham-paham di kepalaku yang ingin aku umbar kepada kalian semua. Ada kata-kata yang tak bisa aku ungkapkan di dunia nyata, maka kulontarkan sebebas-bebasnya di tempat ini. Tapi tentu, sesuai dengan kaidah dan norma, tanpa mengandung unsur yang menyinggung sara serta mengancam diriku sendiri. Hehehe.

Jadi, aku berkata-kata dan memberi pada kalian semua kata-kataku tanpa pamrih. Aku tidak pernah memaksa kalian meninggalkan komentar, hanya untuk sekedar mengatakan ‘wah, tulisanmu keren!’ dan ungkapan-ungkapan sejenis. Aku hanya ingin, ketika kalian membaca tulisanku, kalian akan mendapatkan ‘sesuatu’ lebih dari sekedar rasa senang, lebih dari sekedar rasa suka. Sesuatu yang mungkin akan mengubah hidupmu juga hidupku sendiri sebagai si penulis.

Ah, intinya itu lah, bagaimana ya menjelaskannya. Pokoknya begitu, pokoknya menulis ini sebuah panggilan buat aku. Menulis itu kayaknya salah satu cara Tuhan untuk menggunakan aku sebagai alatnya mengibarkan bendera cinta kasih. Ada waktu-waktu di mana rasa ingin menulis itu begitu kuat, namun anehnya ketika aku berhadapan dengan lembar putih Ms. Word otakku langsung nge-blank, tapi ketika aku merasa tidak ingin menulis, Tuhan justru menarikku ke sudut ruangan untuk menatap lembar putih itu kembali dan menarikan jemari di atas keyboard.

Seperti sekarang.

Ketika aku menulis ini, waktu sudah menunjukkan pukul 01.25 WITA. Aku baru saja ingin ke kamar mandi dan menggosok gigi, lalu tidur, tapi aku berhenti tiba-tiba di ruang makan. Melihat ruangan ini yang begitu sepi dan tenang, suara hatiku mendorongku untuk kembali ke kamar, mengambil laptop dan mulai menulis kembali. Sekarang, tulisanku mulai meracau, bingung mau nulis apa lagi karena aku sedang sangat bersemangat untuk menulis sampai-sampai isi tulisanku ini penuh dengan lanturan yang tidak berarti. Hahaha.

Tapi ya sudahlah, mungkin sekian saja aku bercorat-coret ria. Sejujurnya aku hanya ingin menyapa, sembari mencabut pengumuman ‘On Hiatus!’ di blog-ku ini. Aku akan lebih banyak bercerita dan berkata-kata di kemudian hari. Semoga kalian masih mau membaca kata-kataku ini meski hanya racauan yang tidak berarti. Karena kata-kataku ingin hanya kata-kata seorang gadis remaja berumur 18 tahun. Kata-kataku hanyalah…

Kata-Kata Dicta.

🙂

 

Banjarmasin, 17 April 2014

01.35 WITA

Ruang Makan Rumah Ibu Nes

(Photo taken from Google)

[Ficlet] The Man

seungri-MV - copia - copia

Title                       :               The Man

Author                  :               Benedikta Sekar

Cast                       :

–          Lee Seung Ri (Big Bang/YG Entertainment)

–          Sandara Park (2NE1/YG Entertainment)

Length                  :               Ficlet—1.310 kata

Genre                   :               Romance

Rate                       :               G

Disclamer            :

Saya tidak mengambil keuntungan apa pun dalam pembuatan fanfiksi ini, dalam bentuk uang mau pun materi. Semua cast bukan milik saya. Namun plot dan latar cerita murni dari imajinasi saya.

***

Sandara Park mungkin akan menjadi perawan selamanya.

Umurnya tak lagi memungkinkan dirinya untuk berkedip genit pada pria yang menarik perhatiannya di bar, atau bahkan sekedar memilih-milih pria untuk menemaninya semalam suntuk. Meski tak sedikit pria-pria itu jatuh hati padanya terlebih dahulu, mereka sontak mundur teratur ketika wanita itu mengatakan berapa umurnya di pertemuan mereka yang kesekian.

‘Wanita yang terlalu matang itu merepotkan,’ kalimat itu yang tertempel di wajah-wajah pria yang semula mendekatinya. Ya, mereka menyukai Dara—yang berwajah remaja seolah-olah jarum jam bernama  penuaan berhenti hanya untuk wanita itu—tapi tidak umurnya.  Sandara Park dianggap terlalu tua bagi jiwa muda mereka. Jika mereka bisa mencari wajah-wajah remaja yang selaras dengan umur mereka, untuk apa mereka bersanding dengan wanita yang lebih tua?

Ah, itu menyakitkan.

Dara sudah berulang kali patah hati dan ia muak dengan semua rasa sakit itu. Ia benar-benar sudah lelah mencari dan kini saatnya berpasrah diri; berusaha mengabaikan ratapan ibunya yang memintanya cepat menikah atau pun tatapan sinis kerabatnya yang selalu muncul dengan menggandeng pasangan. Tapi pada kenyataannya, Dara tak pernah menganggap Tuhan itu tidak adil, Tuhan justru sangat adil. Ketika nyaris semua wanita seumuran dirinya berlomba-lomba menyingkirkan kerut dan tanda-tanda penuaan, Dara masih bisa berlenggak di atas panggungnya dengan wajah percaya diri tanpa perlu memikirkan hal-hal seperti itu terjadi padanya.

Ya, Ajjhuma, ayo pulang! Mulutmu sudah berlumuran soju. Aku akan meninggalkanmu di pinggir jalan kalau kau sampai muntah di mobilku.”

Hic…” Dara menyeringai, akhirnya rekan kerjanya itu bersuara setelah sedari tadi diam mendengarkan segala ocehan dan caci makinya tentang kekasih yang baru saja mencampakannya. “Satu botol lagi, Seung Ri, satu botol lagi dan aku akan beranjak. Sungguh.”

“Hah, sudahlah, kau sudah mengatakan hal itu sejak botol keduamu. Aku muak mendengarnya.” Lee Seung Ri, pria yang menyandang status sebagai ‘tong penampung air mata Dara’ itu sudah tak tahan lagi untuk tidak menggerutu. Ia ingin sekali menyeret Dara keluar dari bar langganan mereka ini, tapi terakhir kali Seung Ri melakukan hal itu, ia justru mendapatkan beberapa luka cakar dan lebam di wajahnya.

Tiba-tiba saja, keheningan memeluk udara di antara mereka. Dara kini berhenti meracau dan hanya menggerak-gerakan gelas soju di tangan tanpa minat menegak isinya. Seung Ri pun menghormati keadaan ini, ia sudah sering menemani wanita yang umurnya terlampau jauh di atasnya itu menangis dan ia tahun kapan saatnya untuk berhenti berbicara dan hanya mendengarkan; mendengarkan seluruh luapan hati dan penderitaan yang sebenarnya sangat ingin pria itu akhiri—hanya saja kesempatan itu tak kunjung datang.

Baca lebih lanjut