[Ficlet] The Man

seungri-MV - copia - copia

Title                       :               The Man

Author                  :               Benedikta Sekar

Cast                       :

–          Lee Seung Ri (Big Bang/YG Entertainment)

–          Sandara Park (2NE1/YG Entertainment)

Length                  :               Ficlet—1.310 kata

Genre                   :               Romance

Rate                       :               G

Disclamer            :

Saya tidak mengambil keuntungan apa pun dalam pembuatan fanfiksi ini, dalam bentuk uang mau pun materi. Semua cast bukan milik saya. Namun plot dan latar cerita murni dari imajinasi saya.

***

Sandara Park mungkin akan menjadi perawan selamanya.

Umurnya tak lagi memungkinkan dirinya untuk berkedip genit pada pria yang menarik perhatiannya di bar, atau bahkan sekedar memilih-milih pria untuk menemaninya semalam suntuk. Meski tak sedikit pria-pria itu jatuh hati padanya terlebih dahulu, mereka sontak mundur teratur ketika wanita itu mengatakan berapa umurnya di pertemuan mereka yang kesekian.

‘Wanita yang terlalu matang itu merepotkan,’ kalimat itu yang tertempel di wajah-wajah pria yang semula mendekatinya. Ya, mereka menyukai Dara—yang berwajah remaja seolah-olah jarum jam bernama  penuaan berhenti hanya untuk wanita itu—tapi tidak umurnya.  Sandara Park dianggap terlalu tua bagi jiwa muda mereka. Jika mereka bisa mencari wajah-wajah remaja yang selaras dengan umur mereka, untuk apa mereka bersanding dengan wanita yang lebih tua?

Ah, itu menyakitkan.

Dara sudah berulang kali patah hati dan ia muak dengan semua rasa sakit itu. Ia benar-benar sudah lelah mencari dan kini saatnya berpasrah diri; berusaha mengabaikan ratapan ibunya yang memintanya cepat menikah atau pun tatapan sinis kerabatnya yang selalu muncul dengan menggandeng pasangan. Tapi pada kenyataannya, Dara tak pernah menganggap Tuhan itu tidak adil, Tuhan justru sangat adil. Ketika nyaris semua wanita seumuran dirinya berlomba-lomba menyingkirkan kerut dan tanda-tanda penuaan, Dara masih bisa berlenggak di atas panggungnya dengan wajah percaya diri tanpa perlu memikirkan hal-hal seperti itu terjadi padanya.

Ya, Ajjhuma, ayo pulang! Mulutmu sudah berlumuran soju. Aku akan meninggalkanmu di pinggir jalan kalau kau sampai muntah di mobilku.”

Hic…” Dara menyeringai, akhirnya rekan kerjanya itu bersuara setelah sedari tadi diam mendengarkan segala ocehan dan caci makinya tentang kekasih yang baru saja mencampakannya. “Satu botol lagi, Seung Ri, satu botol lagi dan aku akan beranjak. Sungguh.”

“Hah, sudahlah, kau sudah mengatakan hal itu sejak botol keduamu. Aku muak mendengarnya.” Lee Seung Ri, pria yang menyandang status sebagai ‘tong penampung air mata Dara’ itu sudah tak tahan lagi untuk tidak menggerutu. Ia ingin sekali menyeret Dara keluar dari bar langganan mereka ini, tapi terakhir kali Seung Ri melakukan hal itu, ia justru mendapatkan beberapa luka cakar dan lebam di wajahnya.

Tiba-tiba saja, keheningan memeluk udara di antara mereka. Dara kini berhenti meracau dan hanya menggerak-gerakan gelas soju di tangan tanpa minat menegak isinya. Seung Ri pun menghormati keadaan ini, ia sudah sering menemani wanita yang umurnya terlampau jauh di atasnya itu menangis dan ia tahun kapan saatnya untuk berhenti berbicara dan hanya mendengarkan; mendengarkan seluruh luapan hati dan penderitaan yang sebenarnya sangat ingin pria itu akhiri—hanya saja kesempatan itu tak kunjung datang.

“Seung Ri, dengarkan aku, kau masih mau mendengarkanku ‘kan?” akhirnya Dara membuka suara, ia meletakan gelas soju-nya dan mengusap-usap wajahnya frustasi; kehilangan minat sama sekali pada cairan memabukan itu.

“Percuma saja aku bilang tidak, kau tetap akan memaksaku untuk mendengar,” sahut Seung Ri sinis dan Dara hanya terkekeh ringan.

“Begini…” Dara berdeham; berusaha untuk menegakkan posisi duduknya yang sedikit limbung, ”apa menurutmu suatu hari nanti aku akan menemukan pria seperti ini?”

Dahi Seung Ri berkerut. “Maksudmu pria seperti apa?”

“Pria yang…” Dara menarik satu sisi bibirnya dan menatap Seung Ri lekat-lekat sebelum melanjutkan kata-katanya. “Pria yang mengenalku bukan hanya dari wajahku di televisi, tapi tahu apa yang kubenci juga yang kusukai. Pria yang tak malu ketika aku bertingkah bodoh mau pun konyol dan membiarkanku membebaskan diri ketika bersamanya. Pria yang tertawa bersamaku ketika saat-saat bahagia datang dan menghiburku saat aku menangis tanpa berusaha untuk mengguruiku. Pria yang bisa menerima betapa labilnya emosiku, omelanku yang kadang tak berujung, rasa ingin tahuku yang terlampau tinggi, sifat-sifat jelekku yang sulit diubah, dan semua sisi gelapku yang hanya akan kutunjukkan pada dirinya. Ya, pria seperti itu, aku ingin menemukan pria sempurna yang mungkin tidak hanya diinginkan olehku tapi juga seluruh wanita di muka bumi ini.

“Tapi…” Dara menarik napas dalam-dalam, bibirnya bergetar dan senyumnya turut berubah getir, “Aku tahu… pria seperti itu tidak ada dan tidak akan pernah aku temukan. Jadi pada akhirnya, aku hanya ingin pria yang seperti ini:

“Pria yang mengetahui umurku, tapi tidak takut untuk mengenal dan mencintaiku.”

Air mata Dara akhirnya meleleh, tapi tangisnya kali ini tidak meraung atau penuh emosi untuk mencaci. Dara hanya menangis, sesungkukan dengan kedua tangan bersedekap begitu erat. Wanita itu merunduk begitu dalam, berusaha menyembunyikan diri dari dunia yang menghimpitnya. Dan melihat itu semua, Seung Ri lagi-lagi hanya bisa diam dan mendengarkan.  Seung Ri tahu itu air mata ratapan, tangis yang pecah kala hati sudah tidak mampu lagi menyembuhkan luka-lukanya sendiri.

Dan baru pertama kali Lee Seung Ri melihat Sandara Park menangis seperti ini.

Tik… tik… tik…

Jarum panjang jam sudah berputar beberapa kali, sementara suara tangisan Dara yang mengisi dimensi yang tercipta di salah satu sudut bar penuh hiruk pikuk itu masih terdengar; Seung Ri pun setia bergeming. Sesungguhnya, hatinya selalu teriris setiap kali kejadian seperti ini terus berulang seperti opera sabun membosankan, hingga akhirnya, hatinya berhenti menyembuhkan luka-lukanya karena irisan itu terlampau menyakitkan. Karena pada kenyataannya, meski terlihat tegar dan tak peduli, Seung Ri selalu meratap tatkala wanita itu menangis karena pria lain.

Tapi lihat sekarang, Sandara Park pun meratap, pasrah dengan hatinya dan hanya menunggu seseorang untuk menyembuhkannya. Sama seperti yang Seung Ri rasakan selama ini. Apakah pria itu hanya akan diam saja dan membiarkan saat-saat seperti ini berlalu begitu saja?

Tentu saja tidak. Ia bahkan sudah menunggu saat-saat seperti ini tiba, satu titik ketika Dara akhirnya menyerah dengan petualangan-petualangan cintanya yang melalang buana sementara di dekatnya ada hati yang setia dilukai dengan semua cerita petualangan itu.

“Kau pasti akan menemukannya.”

Seung Ri meraih satu sangan Dara yang bersedekap dan menggenggamnya begitu erat. Tangis Dara sontak mereda karena perlakuan mendadak itu dan perlahan-lahan mengangkat wajahnya.

“Kau pasti akan menemukan pria yang mengenalmu, tahu apa yang kau suka dan tidak suka; yang justru menikmati kebodohan dan tingkah konyolmu; yang bersama-sama melalui waktu bahagiamu juga mendapingi di saat kau menangis; yang tetap menerima kelabilan emosi, omelan, rasa ingin tahu, sifat-sifat jelek, dan semua sisi gelapmu yang tidak masuk akal. Dengar perkataanku ini baik-baik, kau pasti akan menemukannya, karena pria itu,

“…adalah aku.”

Mata sembab Dara membulat, nyaris meloncat dari tempatnya tatkala mendengar pengakuan tak terduga dari orang yang selama ini tak pernah berani ia pandang sebagai salah satu kandidat pengisi hatinya. Karena yang Dara tahu, Lee Seung Ri adalah cassanova, yang senang menggoda para wanita karena seperti itulah image yang selama ini ia tunjukkan di layar televisi. Karena yang Dara tahu, Lee Seung Ri sama seperti pria muda lainnya, yang memandangnya sebagai wanita yang terlalu matang dan merepotkan. Karena yang Dara tahu, Lee Seung Ri tak mungkin jatuh cinta padanya, benar-benar tidak mungkin.

“Kau… jangan bercanda… kau bohong.” Dara berusaha menarik tangannya dari genggaman Seung Ri tapi pria itu justru semakin mengeratkan jari-jarinya.

Ya, Sandara Park! Lihat mataku dan katakan sekali lagi kalau aku berbohong.”

Seung Ri menatap Dara lurus-lurus, memaksa wanita itu memusatkan pandangan hanya kepada dirinya hingga tak berkedip; berusaha membuat wanita itu mengerti.

“Kau tidak pernah tahu, sudah berapa lama aku menjadi pria yang mengetahui umurmu, tapi tak pernah takut untuk mengenal dan juga mencintaimu.”

Dara mendapati dirinya tak bisa berkata-kata lagi, segala jenis emosi dan suara tertahan di tenggorokannya dan yang keluar hanyalah deru napas yang tak beraturan. Sekarang, wanita itu justru ingin menangis lagi; menangis lagi dengan sangat nyaring karena ia menemukan kejujuran di mata Seung Ri. Tapi pria itu justru buru-buru menarik tangannya hingga berdiri dan menyeretnya keluar dari bar tepat ketika tangisnya pecah.

“Kau boleh mencakar dan memukul wajahku nanti karena menyeretmu keluar dari sini. Jika kau ingin menangis bahagia, biar aku saja yang melihatnya karena air mata itu akan menjadi yang terakhir. Mulai sekarang, aku tidak akan membiarkan hatiku sendiri terluka dengan mendengarmu menangis tanpa bisa berbuat apa pun.”

Dara pun semakin kencang menangis sementara orang-orang yang melihat mereka  hanya bisa menatap kebingungan. Ia pasti akan memukul dan mencakar Seung Ri karena membuatnya malu seperti ini, tapi yang jelas, untuk saat ini. Sandara Park ingin menikmati hatinya yang meluap-luap bahagia karena untuk pertama kalinya, sepanjang hidupnya di dunia ini, ia merasa begitu dicintai.

End.

A/N:

Iyeeee, aku tahu, aku ngelanggar janjiku sendiri untuk gak menulis sampai selesai UN. Tapi aku beneran gatel deh pengen nulis dan akhirnya kesampaian nulis juga dengan menciptakan fanfiction sederhana ini. Maaf ya jelek, aku sendiri sih gak puas dengan tulisan ini karena aku tahu aku bisa nulis lebih baik lagi (sombong nih, minta gampar aja, hahaha).  Bener-bener agak gimana juga pas posting ini, tapi aku sudah mengerahkan seluruh kekuatan aku yang tersisa buat nulis (caelah!), jadi, semoga suka ya. Jangan segan-segan berkomentar di bawah sana. Akhir kata, sekian saja sapaanku kali ini, aku bakalan balik lagi dengan tulisan-tulisan yang lebih cetar karena aku sudah gatel  pengen nerbitin ‘MENU BARU’ atau ragam tulisan baru di blogku ini. Nyehehehe, sabar ya!

Buing! Buing

2 pemikiran pada “[Ficlet] The Man

    1. Halo Kak Kirana, maaf ya baru bisa balas komentar kakak sekarang. sedang dalam persiapan UN Kak. Hehehehe.

      Well, ini cuman fanfik warm-up ko. Saya nulisnya juga tengah malam dan kurang benar-benar menjiwai. Tapi saya seneng akhirnya bisa bikin fanfik Crack kayak gini. Hahahaha. 😛 Saya demen pairing aneh-aneh sih.
      Terima kasih ya sudah mau membaca tulisan saya ya Kak 😀 semoga berkenan datang kembali.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s