[Resensi Buku] By The River Piedra I Sat Down and Wept – Paulo Coelho


PIC_14-04-19_19-33-20

Judul                     : By The River Piedra I Sat Down and Wept (Di Tepi Sungai Piedra aku Duduk dan Menangis)

Penulis                 :Paulo Coelho

Penerbit              : Gramedia Pustaka Utama

Terbit                    : Cetakan kedelapan, 2013

Tebal                     : 222 halaman

Rate                       : 5/5

“Cinta tak perlu didiskusikan; cinta memiliki suaranya sendiri dan berbicara untuk dirinya sendiri.” – hal. 91

Jadi, meskipun aku berhenti menulis, sejujurnya aku tidak pernah berhenti membaca. Dua bulan yang lalu aku membeli beberapa buku Eyang Coelho lagi dan membacanya ketika aku punya waktu. Pria ini adalah satu-satunya penulis yang karyanya ingin kukumpulkan selengkap mungkin dan meresapinya sampai ketetes terakhir. Yah, sepertinya aku benar-benar tergila-gila dengan tulisannya. Hahaha, jadi maaf ya kalau resensiku ini rada-rada bias. Tapi aku akan terus mencoba untuk membuat resensi buku seobjektif mungkin tanpa mengurangi perasaan damaiku yang meluap-luap setiap kali aku selesai membaca ataupun membuat resensi buku-buku Eyang Coelho.

Baiklah, back to the topic, kali ini aku ingin meresensi buku yang memiliki judul yang menurutku romantis. Entahlah, ketika aku sedang memilih-milih buku Eyang Coelho yang ingin aku beli, aku langsung jatuh hati pada buku ini dan membelinya. Dari cover bukunya, kalian bisa lihat kalau buku ini adalah jenis buku yang penuh dengan perasaan emosional dan terobang-ambing. Dan memang, buku ini benar-benar penuh dengan perasaan seperti itu.

Buku ini bercerita tentang seorang wanita bernama Pilar. Suatu hari wanita muda ini bertemu kembali dengan sahabat masa kecilnya sekaligus cinta pertamanya. Jujur saja, sinopsis di belakang buku ini menceritakan kalau ia bertemu kembali dengan kekasihnya, tapi di dalam buku ini pria itu bukan kekasihnya. Ia cinta pertama Pilar, dan Pilar menyimpan perasaan itu sampai akhirnya mereka berpisah karena pria itu ingin menantang dunia dan menceburi risiko-risikonya. Yah, ini hanya klarifikasi saja sih, biar kalian tidak tertipu saat membaca sinopsisnya.

Nah, saat bertemu dengan teman masa kecilnya itu kembali, ternyata teman masa kecilnya telah berubah menjadi seorang pemimpin spiritual yang sangat terkenal. Pria itu penuh dengan karisma, dan diselimuti oleh mujizat-mujizat. Awalnya, Pilar berniat untuk menghindarinya, tapi ternyata hatinya berkata lain dan akhirnya pertemuan mereka berujung dengan ajakan menghadiri sebuah konfrensi bersama-sama. Pilar memutuskan untuk menerima ajakan itu, tanpa tahu, bahwa hal itu memulai sebuah pengakuan tak terduga yang dikemukakan  teman masa kecilnya.

“Telah lama aku mencoba melupakannya, tapi kalimat itu tetap ada dan aku tidak bisa menyimpannya lebih lama lagi. Kalimat itu sangat sederhana: aku mencintaimu.”Teman masa kecil Pilar, hal. 38

Pilar terkejut dengan pengakuan itu. Ia benar-benar tidak menyangka dan mencoba menyangkalnya. Mengatakan dalam hati bahwa teman masa kecilnya itu bisa saja salah. Bahwa semua ini tidak masuk akal. Maka, ketika konfrensi berakhir, hal pertama yang ingin dilakukan Pilar adalah kembali ke kediamannya di Saragoza. Ia ingin cepat-cepat kembali dan melupakan mimpi semalamnya itu. Tapi ternyata, teman masa kecilnya itu justru berhasil membujuk Pilar untuk ikut bersamanya melakukan sebuah perjalanan kecil menuju tempat konfrensinya yang lain. Perjalanan yang memakan waktu satu minggu sembari menghampiri beberapa kota.

Perjalanan ini penuh dengan perasaan emosional. Pilar yang berperang dengan hatinya, terus-menerus dipaksa merenung dan mengaduk-aduk perasaannya; mencari-cari senjata untuk menghadapi gempuran emosi yang dipancarkan oleh teman masa kecilnya itu. Perjalanan  mereka diiringi dengan pembicaraan-pembicaraan panjang tentang kehidupan, visi-visi mereka, pandangan-pandangan spiritual dan sebagainya.

Sampai suatu ketika, mereka tiba di sebuah kota bernama Saint-Savin untuk merayakan hari raya Maria yang Dikandung Tanpa Noda. Di kota inilah puncak pergejolakan perasaan Pilar yang tertinggi, di mana akhirnya ia menemukan dirinya juga penuh dengan cinta dan hasrat yang menggebu-gebu terhadap teman masa kecilnya itu. Cinta masa kecilnya yang selama ini ia tahan membeludak dan akhirnya tumpah ruah.

Namun, saat Pilar mantap dengan perasaannya. Sebuah kenyataan harus ditelannya bulat-bulat. Teman masa kecilnya itu bukanlah orang biasa. Teman masa kecilnya adalah seorang pria yang memiliki bakat dan di berkahi mujizat dari Bunda Ilahi. Ia adalah seorang calon imam, dan ia mengemban tugas berat: mewartakan sosok feminine Tuhan.

Ya, benar. Tugas mulia memanggil pria itu, namun hatinya terganjal cinta pada Pilar. Ia harus memilih, cinta harus memilih, antara mengemban tugas atau menuruti hatinya? Tapi pada kenyataannya, apa pun pilihan pria itu, pilihan itu sama-sama mulia. Cinta juga adalah sebuah kemuliaan. Karena saat manusia dilahirkan, masing-masing jiwa memiliki tugas dan jalannya masing-masing.

“Ya. Dunia ini berada di titik di mana banyak orang menerima perintah yang sama:  ‘Ikuti impianmu, ubah hidupmu, ambilah jalan yang membawamu kepada Tuhan. Lakukan Mujizatmu. Sembuhkanlah. Bernubuatlah. Dengarkan malaikat pelindungmu. Ubahlah dirimu. Jadilah seorang kesatria, dan berbahagialah saat engkau maju berperang. Ambil risiko.”Seorang Padre, hal. 166

Nah, bagaimana? Apa yang akhirnya teman masa kecil Pilar itu pilih? Apa ia akhirnya tetap menerima tugasnya sebagai pewarta, atau akhirnya memutuskan jalan yang lain, yang sama mulianya: hidup bersama wanita yang ia cintai? Cepat beli buku ini, dan ketahui akhir ceritanya di Tepi Sungai Piedra 🙂

Well, sesungguhnya, kenapa aku memberi bintang sempurna pada buku ini bukan karena cerita cintanya yang menggebu-gebu atau pun karena kutipan-kutipannya yang begitu kuat menohok. Tapi karena buku ini menguatkan imanku; keyakinan dan kepercayaanku.

Mungkin, beberapa peresensi yang agak sulit meresapi isi buku ini hanya akan menikmati cerita cintanya dan mengkritisi kesederhanaan plotnya yang kurang gereget. Yah, aku pun mengakui hal itu jika memandang dari kacamata mereka. Tapi aku menemukan, bahwa buku ini tidak bertitik berat pada sisi romansanya, tapi justru pada sisi spiritualnya. Ada sebuah doa tertulis di buku ini, yang membuat dadaku sesak dan mataku berair hingga meneteskan air mata. Doa yang penuh penyerahan dan kesederhanaan.

“Jadilah kehendakmu, Ya Tuhanku. Karena Engkau mengenal kelemahan di hati anak-anakmu, dan Engkau hanya memberi beban yang sanggup mereka pikul. Semoga Engkau memahami cintaku—karena hanya itu satu-satunya milikku, satu-satunya yang dapat kubawa bersamaku ke kehidupan selanjutnya. Kumohon, jadikan cintaku berani dan murni; mampukan cinta itu bertahan menghadapi berbagai perangkap dunia.”hal. 111

Kadang, kita lupa saat kita berdoa, kita hanya meminta kepada Tuhan tanpa memahami bahwa Tuhan mengerti bahkan tanpa perlu kita meminta. Maka, ‘Jadilah kehendak-Mu’, itu adalah kalimat yang menurutku benar-benar menohok. Selama ini doa-doa yang aku panjatkan penuh rasa meminta, ini dan itu, ini dan itu, tanpa ada rasa penyerahan dengan diakhiri kalimat ‘Jadilah kehendak-Mu’. Sehingga, saat doa-doa kita tidak sesuai dengan apa yang terjadi di kehidupan kita. Kita sering merasa kecewa kepada Tuhan. Kita kecewa kepadanya dan akhirnya meninggalkannya; malas berdoa dan lain sebagainya. Meminta kepada Tuhan tentu saja sangat diperbolehkan, tapi kita harus sadar Tuhan tahu apa yang terbaik untuk kita. Karena Ia mengenali segala kelemahan-kelemahan kita.

Sekali lagi, aku ingin mengatakan, meskipun tema spiritual di dalam buku ini bernuansa Katolik. Tapi ketahuilah, bahwa inti yang diajarkan buku ini sungguh universal. Sangat bisa diaplikasikan pada setiap agama di muka bumi ini karena tujuan kita beragama adalah menemukan kedamaian dan pegangan hidup. Eyang Coelho hanya kebetulan saja adalah seorang Katolik, dan ia menyampaikan tema spiritual di buku ini dengan caranya sebagai orang Katolik. Namun pesannya, pahamnya, dan ajakkannya untuk hidup damai bersama Tuhan sesuai dengan agama yang kita anut masing-masing dapat kita temukan di dalam buku-bukunya, termasuk di buku ini.

Akhir kata, bintang lima untuk buku ini. Kudidikasikan kepada Eyang Coelho karena ia telah menebar kasih dan kedamaian di hatiku dengan bukunya. Semoga, kalian Para Penikmat Kata juga bisa merasakan kasih dan kedamaian itu di hati kalian! 🙂

2 pemikiran pada “[Resensi Buku] By The River Piedra I Sat Down and Wept – Paulo Coelho

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s