[Resensi Buku] All She Ever Wanted – Patrick Redmond

PIC_14-04-20_16-16-56

Judul                     : All She Ever Wanted

Penulis                 : Patrick Redmond

Penerbit              : Gramedia Pustaka Utama

Terbit                    : Jakarta, 2010

Tebal                     : 504 halaman

Rate                       : 4,5/5

“Cinta bukan sekedar emosi, melainkan penyerahan diri. Penyerahan kekuasaan paling besar. Kalau kau mencintai seseorang, artinya kau memberi kekuasaan pada mereka untuk melukaimu lebih dari orang lain.”hal 311

Aku menemukan buku ini di antara buku-buku diskon yang lembar-lembarnya sudah menguning. Aku sudah melihat buku ini dua kali di tempat yang sama sebelumnya dan tidak punya rasa untuk menyentuh mau pun membelinya kala itu. Tapi tiba-tiba saja, hari Kamis kemarin aku menemukan diriku langsung membeli buku itu tanpa berpikir dua kali.

Kenapa?

Karena buku ini tiba-tiba saja mengingatkan tentang diriku yang dulu. Dan benar saja, tokoh Christina Ryan di buku ini seperti cerminan dari sosokku yang dulu. Seorang gadis gendut-besar yang mengalami tekanan batin yang hebat. Well, sebenarnya tidak sehebat itu sih, tapi cukup hebat untuk memacu semangatku hingga akhirnya mampu menurunkan berat badan sampai 21 kg. Hahaha XD. Lain kali aku akan menceritakan fase hidupku ini pada kalian, soalnya taget penurunan berat badanku sekarang belum tercapai.

Aduh, sepertinya aku selalu ngelantur di awal resensi. Okeh, kembali ke laptop, kisah ini tentang seorang gadis kecil berambut merah dan bermata hijau yang pada suatu hari mengalami guncangan batin saat ayahnya yang seorang pelaut pergi meninggalkannya dan ibunya. Ibunya yang sangat mencintai ayahnya langsung depresi dan malah menumpahkan rasa depresinya itu kepada Tina (nama kecil Christina Ryan). Tina yang masih kecil hanya ingin dicintai dan memohon kasih sayang pada ibunya namun yang ia dapatkan justru kata-kata kasar yang menusuk jantungnya.

“Coba lihat dirimu, Tina. Lihat dirimu sendiri! Bodoh, jelek, dan tidak berguna. Begitulah kau dan begitulah dirimu selamanya. Tidak heran ayahmu meninggalkanmu. Tak heran ia tergesa-gesa minggat dan meninggalkanmu.” – Liz Ryan kepada anaknya Tina Ryan, hal. 49

Wow, bagaimana mungkin seorang ibu berbicara seperti itu kepada anaknya? tapi ternyata tidak cuman itu tekanan batin yang harus ia terima. Di sekolah ia mengalami hal yang sama. Di bully secara mental, dikucilkan, dijelek-jelekan dan lain sebagainya. Orang-orang mengatainya si Jelek, buruk rupa dan gadis yang ditinggalkan ayahnya karena ayahnya dipenjara. Ia mengalami semua penderitaan itu selama bertahun-tahun. Ia mengalami tekanan batin itu selama bertahun-tahun. Sampai suatu ketika, ia menemukan dirinya ‘meledak’.

Semua kejadian yang menikamnya itu, tiba-tiba saja memberinya kekuatan untuk melawan. Ada amarah yang memaksanya untuk bangkit dan membuat rasa percaya dirinya tumbuh sedikit demi sedikit, dan ia berhasil. Melawan semua orang yang mengejek dan menghinanya, bahkan meledak sampai nyaris membunuh ibunya sendiri.

Luar biasa. Kebangkitan yang luar biasa drastis sampai-sampai orang-orang terdekat Tina tercengang dengan perubahan itu.

Maka, waktu pun berlalu. Tina yang sebelumnya tinggal di pesisir, kemudian pindah dan bekerja di London. Menjadi gadis yang penuh percaya diri dan disegani semua orang, menjadi seorang Chrissie. Hidup gadis itu penuh dengan kesempurnaan, kestabilan, kepribadian yang tercipta dari luka-lukanya di masa lalu. Dan kemudian, Jack datang, cinta datang mengguncang kestabilan itu. Chrissie yang semula tidak ingin sosok Tina yang lemah, kecil dan penuh derita itu kembali di kehidupannya justru menjadi sosok seperti itu di depan Jack. Chrissie tergila-gila pada laki-laki itu, tapi ternyata, harga dirinya yang tinggi, keinginannya untuk mengendalikan dan semuanya itu, memenangkan dirinya. Hingga ia merusak hubungannya dengan Jack dan berakhir dengan hati yang merana ketika mengetahui kalau Jack justru kembali kepada mantan kekasihnya, Ali.

Maka, ada sosok lain yang datang, sosok lain yang mencintai Chrissie sama gilanya seperti Chrissie mencintai Jack: Alexander Gallen. Seorang jutawan, seorang yang mewarisi harta, ketenaran, dan kekuasaan yang sudah tersohor di segala penjuru Inggris. Chrissie mendapati dirinya berlari ke sosok pria itu dan mencoba mencintainya sama seperti ia mencintai Jack. Tapi tidak bisa. Sosok Jack mengingatkannya pada Ayahnya yang telah lama pergi, dan ternyata, itulah yang selama ini ia cari-cari dari semua pria yang ia kencani. Luka batinnya, luka-lukanya masih membekas di hati anak kacilnya.

Nah, bagaimana jadinya cerita cinta Chrissie ini? Apa ia bisa mewujudkan semua yang ia inginkan? Atau malah, sebuah tragedi tragis justru terjadi. Tragedi yang terjadi karena ada pihak yang terlalu mencintai hingga rela membunuh untuk mempertahankan cintanya. Mari, cari dan temukan buku ini! 😀 Kalian tidak akan menyesal!

Sungguh. Buku ini benar-benar membuatku seperti menemukan diriku di masa lalu. Sosok Tina adalah sosok Arum yang dulu kutinggalkan bersama sosok-sosok buruk rupaku yang dulu. Sama seperti Chrissie, sosok Dicta yang kumiliki adalah pembaharuan. Aku juga mengalami saat-saat tertekan, kecil, dan tidak berdaya karena di-bully oleh orang-orang. Dan aku juga mengalami saat-saat itu: membenci diriku sendiri.

Sama seperti Chrissie yang membenci sosok Tina, aku juga pernah membenci sosok Arum yang selama ini bersemayam di dalam diriku. Hubunganku dengan Mama juga sempat menegang, karena selama ini aku tidak pernah cukup akrab dengan Mama. Wow, aku benar-benar merasakan kalau di dalam buku ini adalah aku. Aku benar-benar terbawa, aku bahkan bisa memahami perasaan sakit hati Chrissie dan turut membenci Jack saat pria itu memutuskan kembali ke mantan pacarnya. Kesengsaraannya, cintanya yang menggebu-gebu, dan kerinduannya kepada ayahnya.

Luar biasa.

Tapi kenapa harus minus 0.5, Dict? Bukannya kamu sampai kebawa seperti itu? yah, jawabannya karena aku tidak menginginkan diriku untuk benar-benar seperti Chrissie, dan aku juga tidak suka dengan sikapnya yang terlalu pongah. Hahaha. Aku bahkan tak sampai hati jika aku harus mengalami kehidupan seperti itu. Penuh dengan kepalsuan dan hati yang tidak damai. Aku tidak pernah merasa palsu saat aku menjadi Dicta, aku pun telah berdamai dengan Arum dan mengakui kalau Arum adalah salah satu fase dalam hidupku. Sosok ulat buruk rupa yang sekarang dalam masa kepompongnya menjadi sosok yang baru. Memikirkannya justru membuatku semakin bersemangat untuk menjadi orang yang aku inginkan. 😀

So, kesimpulannya, bintang 4,5 ya. Buku ini benar-benar cocok untuk kalian-kalian yang demen cerita-cerita psikologi romantis. Yang mengungkapkan perasaan-perasaan terdalam dan tersembunyi dari diri kalian masing-masing. Coba cari bukunya dan rasakan sendiri ketegangannya!

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s