The Black Hair Guy

holding-hands-

Pukul empat pagi, aku terbangun dari tidur tanpa mimpiku. Menggeliat sedikit, berusaha mengumpulkan nyawa yang berserakan di alam bawah sadarku; alam yang dulu sangat kugemari karena menebar cerita-cerita aneh dan ajaib, tapi kini cerita-cerita itu hilang entah ke mana.  Ah, apa karena aku telah tumbuh dewasa? Entahlah. Memangnya, kapan terakhir kali aku memiliki bunga-bunga tidur itu?

Aku menarik tubuhku bangkit duduk di atas kasur dan bersandar ke dinding, berpikir dan mengingat-ingat, mengabaikan kewajibanku sebagai wanita di dapur  sejenak. Aku banyak bermimpi saat aku masih remaja, kebanyakan mimpi-mimpi itu kabur dan langsung kulupakan saat aku terbangun, tapi aku punya beberapa mimpi yang… emmmh, sepertinya masih kuingat sampai sekarang…

O, ya… dia. The Black Hair Guy.

Aku terkekeh singkat, dan tersipu. Bisa kurasakan pipiku menghangat tatkala berhasil mengingat bunga tidur masa remajaku itu. Dulu, aku pernah iseng menuliskan kembali mimpi-mimpi yang berhasil aku lihat dengan jelas di alam bawah sadarku. Hahaha, itu konyol memang, dan benar saja, kegiatan itu tak bertahan lebih dari seminggu karena aku tak sanggup mengingat-ingat mimpiku lagi saat terbangun.  Tapi kisah The Black Hair Guy ini yang paling berkesan untukku. Mimpi yang sederhana, tapi punya pesan yang membuat hatiku hangat setiap kali kurenungi.

Aku berdiri di sebuah tebing curam.

 Pijakanku rapuh, aku bisa saja terjatuh dan mati, tapi anehnya aku tidak takut. Dadaku penuh dengan perasaan berani untuk melewatinya. Di sana, di ujung tebing itu, aku punya mimpi-mimpi yang ingin kuraih, ambisi dan pencapaian yang seumur hidup kukejar, dan aku harus melalui tebing curam ini untuk mendapatkan itu semua. Ya, di bawah sana, kegelapan menyelimuti dan aku tahu kalau aku bisa melaluinya.

Tapi, saat aku ingin memulai langkahku, ada sebuah perasaan yang menahanku. Ketidaktenangan. Ketidaktenangan yang muncul karena aku belum menggenggam sebuah izin. Lantas aku berbalik, dan di sana berdiri seorang pria. Pria berambut hitam pekat. Ia mengenakan kemeja dan celana hitam katun yang membuatnya terlihat gagah. Aku menatapnya lekat dan seketika itu juga aku langsung mengetahui kalau dia…

Suamiku.

Pria itu tersenyum, mengangguk—memberiku izin—lantas, ia mengulurkan tangan dan menawariku sebuah rasa aman. Ya, ia ikut melewati tebing curam itu. Ia membiarkanku berjalan mendahuluinya, sementara tangannya tetap menggenggam tanganku. Menjagaku agar tidak terjatuh meskipun ia sendiri tahu kalau aku bisa melalui tebing ini tanpa bantuannya.

Dan saat kami berhasil melalui tebing itu, kami melihat sebuah tempat yang sungguh indah yang tak bisa kulukiskan dengan kata-kata. Tempat di mana mimpiku berakhir.

Ah, sungguh, mimpi itu benar-benar berakhir dengan indah. Waktu itu teman-teman SMA-ku begitu muak dengan kisah bunga tidur yang indah itu karena aku nyaris mengulanginya setiap hari. Dan untuk beberapa tahun dalam hidup masa remajaku, aku sedikit banyak terobsesi dengan The Black Hair Guy ini karena jujur saja, mimpi itu terasa begitu jelas dan nyata. Hahaha. Ya ampun, mengingatnya kembali saat aku berada di posisi seperti ini rasanya benar-benar menggelikan.

“Errrh, Hon?”

Aku tersentak saat sebuah suara yang selalu menyapa setiap pagiku selama setahun belakangan ini terdengar. Buru-buru aku menoleh ke sisi lain tempat tidurku dan tersenyum.

Morning, Kebo…” sapaku setengah tertawa, masih terpengaruh dengan ingatan tentang mimpi itu.

“Kenapa kau tertawa-tawa?” pria itu turut bangkit duduk sembari merenggangkan otot-otot tubuhnya yang kaku. Iris birunya menatapku nanar, kebingungan tertera di sana, sementara aku hanya menggelengkan kepalaku sambil terus tersenyum, merapatkan tubuh kami dan melingkarkan kedua tanganku di bahunya.

“Kau bermimpi indah semalam?” pria itu bertanya lagi, tapi pertanyaannya justru membuat tawaku kembali pecah.

“Ya,” jawabku akhirnya di sela tawaku. “Aku bermimpi sangat indah semalam.”

Kulumat bibir pria itu dengan ciuman sementara jemariku meremas rambut pirangnya yang tebal.

Merasa bersyukur karena telah menemukan The Black Hair Guy-ku sendiri sekarang.

End.

(Words count 593)

“Diikutsertakan dalam Giveaway Novel Hujan-Hujan Daun

Iklan

3 thoughts on “The Black Hair Guy

    1. Terima kasih ya kak sudah mau baca! Tahu gak, saya bikin ini sambil senyum2 sendiri sambil nginget mimpi saya tentang The Black Hair Guy ini. Kapaaan gitu saya ngayal ketemu dia di dunia nyata saya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s