Jiwa-Jiwa yang Menuntut Damai

Jiwa orang-orang yang meninggal tetap bersama kita meskipun kita hanya bisa melihat mereka melalui mimpi. Ketika datang, mereka tak banyak bicara, kadang kala hanya tersenyum dan mengangguk atau barang kali terlihat murung karena jiwa mereka mendamba pertolongan.

 “Apa enak di sana, Pak?”

Pria berkumis tebal yang kulihat itu berwajah murung. Tubuhnya yang besar dan gemuk terlihat kaku seolah-olah kesulitan bergerak. Ia tak langsung menjawab pertanyaan yang kulontarkan. Selama beberapa detik keheningan menyelimuti kami di ruangan penuh cahaya putih itu sebelum akhirnya ia menggeleng dan menjawab.

“Enggak.”

Dan aku terjaga. Pelan-pelan aku bangkit dan duduk di pinggir tempat tidur. Mengatur napas juga kesadaranku yang masih berada di dua dunia. Lagi-lagi ada jiwa yang datang padaku dan kali ini Pak Koco. Ya, aku kenal pria berkumis tebal itu. Ia tetanggaku,  seorang tukang gigi yang cukup terkenal di kota ini; meninggal beberapa bulan yang lalu karena serangan jantung.

Setelah berhasil mengendalikan diri, secepat kilat aku meraih  Rosario yang selalu kuletakan di atas nakas dekat tempat tidurku dan mulai berdoa. Mendoakan jiwa Pak Koco, mohon kedamaian baginya dan juga jiwa-jiwa lain yang masih mengais doa damai bagi mereka.

Setelah selesai berdoa aku bangkit, berjalan menuju balkon kamarku dan menyandarkan perutku pada pagar pembatasnya. Udara pagi menyapa lembut wajahku, aku pun tersenyum sembari merapikan helai-helai rambutku di belakang telinga. Pagi yang damai, batinku. Maka, aku pun menutup mata, membiarkan suasana pagi menenggelamkanku, dan mulai mengosongkan pikiran untuk bermeditasi.

Aku tahu, bukan hanya aku seorang yang pernah mengalami hal ini. Mereka yang kehilangan anggota keluarga atau kerabatnya acapkali mengalami mimpi serupa. Tapi kadang-kadang mereka tidak mengerti maksud dari mimpi-mimpi tersebut; beberapa dari mereka bahkan mengacuhkannya, menganggapnya hanyalah bunga tidur semata. Tapi ketahuilah, mereka—jiwa-jiwa orang yang meninggal itu—muncul bukan tanpa alasan.

Pertama kali hal ini terjadi ketika aku, yang duduk di kelas tiga SMA, mengalami depresi berat karena tidak bisa mengerjakan UAS dengan baik. Aku sudah belajar mati-matian, les setiap hari, dan berjuang untuk memahami semua pelajaran yang diperlukan, tapi tetap saja tes itu masih terlalu sulit bagiku. Maka siang itu—usai menjalani UAS—aku tertidur, lelah dengan belajar dan muak untuk pergi les yang sia-sia. Dan saat itulah, Papa yang sudah meninggal mendatangiku untuk pertama kalinya.

Papa terlihat lebih muda daripada saat terakhir kali kuingat, mengenakan kaus, celana jins, jaket kulit dan topi—penampilan kegemarannya sejak muda. Ia sedang memerhatikanku yang tengah belajar di tempat bimbel. Kemudian, saat lesku usai ia pun mendekatiku dan menandatangani catatan belajarku hari itu tanpa bicara.

Papa datang setiap hari, dan selalu menandatangani catatan lesku seperti itu. Sampai suatu hari ia tidak datang; aku bingung dan bertanya-tanya. Maka, ketika Papa datang lagi untuk melihatku belajar keesokan harinya, aku pun memanggil Papa.

“Hai, Papa!” seruku sambil melambai. Papa pun mendekatiku dan duduk di sampingku. “Kenapa kemarin Papa gak datang?” tanyaku.

Papa hanya tersenyum sembari balas bertanya, “Memangnya kapan Papa pernah gak datang?”

Aku pun membuka buku catatanku dan mencari-cari bagian yang tidak ditandatangani Papa karena ketidakdatangannya. Tapi anehnya, semua catatanku bertandatangan; tidak ada yang tidak. Aku yang bingung, kembali menatap Papa, dan Papa pun hanya tersenyum simpul untuk mengakhiri pembicaraan kami.

Di sanalah titik awal saat kusadari bahwa jiwa-jiwa orang meninggal itu ada, mereka masih terhubung dengan kita dan kita harus membantu mereka untuk menemukan kedamaian.

Kubuka mataku dan menatap langit pagi yang kini mulai membiru. Bermeditasi membantuku menata ulang perasaan dan pikiranku. Bertemu dengan jiwa-jiwa itu kadang membuatku sedih, tapi mereka yang datang tidak selalu menuntut doa dariku. Beberapa di antara mereka justru menolongku dan membantuku untuk menghadapi hidup ini dengan cara lebih baik meski tanpa mereka di sisiku.

Demi kedamaian mereka.

End.

(Words Count 593)

“Diikutsertakan dalam Giveaway Hujan Daun-Daun

2 pemikiran pada “Jiwa-Jiwa yang Menuntut Damai

  1. Halo, hehehe 🙂 cerita yang bagus. Kadang orang memang berpikir kalau dunia kedua adalah dunia khayalan, tapi sesungguhnya orang yang meninggal tidak langsung raib sih. Saya percaya itu. Walau saya tidak pernah dapet wangsit berupa mimpi, tapi saat seseorang pergi meninggalkan kita, terkadang kita malah jadi lebih memerhatikan apa yang berlalu, yang dulu sering disepelekan, tapi ini, ya kata-kata milik mereka sebenernya punya manfaat tersendiri.

    1. Ah, beber banget Kak. Maksud saya dengan flash fic ini benar2 sama kayak yang kakak sampaikan. Kadang orang2 nyuruh kita melupakan mereka yang sudah meninggal dan akhirnya kita pun perlahan2 melupakan mereka. Padahal yang kita lakukan harusnya selalu mengenang mereka dan mengirimkan doa2. Hehehe, semoga mereka yang meninggal terus mendoakan kita ya kak. Terima kasih sudah membaca tulisan saya, semoga tulisan saya bisa leih berkembang lagi! 😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s