Flash Fiction, Kompetisi Menulis, Romance, Supernatural

Yearning

Elizabeth  Parker duduk termangu di kursi kayunya, menatap bunga-bunga Bougainvillea berbagai warna yang ia tanam di pekarangan belakang rumahnya hampa.

Hatinya risau.

Hari ini ulang tahunnya yang ke-80, dan ia sendirian di sini—di rumah masa tua yang seumur hidup ia impikan, tapi kenapa ia tidak bahagia? Diliriknya kursi kosong di sampingnya, dan bibirnya mengulas senyum getir.

Seharusnya kau di sini, Sam, bisiknya dalam hati dan seketika itu juga rindu meledak di dadanya. Elizabeth mendesah; napasnya patah-patah. Dengan satu tarikan napas panjang Elizabeth memejamkan matanya, menahan air yang nyaris menetes di sudut matanya. Sementara angin sepoi-sepoi menerbangkan aroma sore; membuainya dengan kadamaian yang selalu ia harapkan datang menjemput.

Saat Elizabeth membuka matanya yang ia temukan bukanlah bunga-bunga Bougainvillea-nya, namun sebuah altar yang penuh dengan nuansa putih; menantinya melangkah mendekat.

Seketika itu juga Elizabeth menyadari kalau ia tengah mengenakan gaun pengantinnya dulu. Ia melihat tangannya yang berbalut sarung tangan putih, lalu menyentuh wajahnya. Tak ada kerutan. Kulit-kulit tuanya yang kendur kembali kencang. Di mana dia?

Elizabeth lantas kembali menatap altar, matanya kemudian menangkap sesosok pria yang berdiri di depan altar dan langsung menyadari bahwa pria itu adalah dia.

Sammy.

Elizabeth ingin berlari menerjang pria itu dan memeluknya erat untuk meluapkan rindunya yang menggebu-gebu, tapi langkahnya pelan—begitu anggun. Ia bisa mendengar suara lonceng gereja yang beradu dengan lantunan organ meskipun hanya ada dirinya dan Sammy di ruangan itu. Aroma mawar yang lembut mengecup cuping hidungnya, dan perasaan bahagia menyebar ke seluruh tubuhnya.

Kini Elizabeth bisa melihat sosok Sammy semakin jelas. Mata hazel pria itu menatapnya begitu lekat, senyuman manis terukir di wajah persegi itu, dan ia terlihat seperti saat pertama kali mereka bertemu; begitu muda, begitu menawan.

Ketika Elizabeth berhenti di depan Sammy, pria itu langsung menyambut tangan Elizabeth dan mengajaknya berdansa dalam diam. Mereka berdansa begitu luwes, berputar di sekeliling altar seolah-olah ingin menunjukkan kepada Tuhan betapa bahagianya mereka sekarang ini. Elizabeth tertawa lepas, jiwanya gembira; kembali ke masa ketika cinta masih membungkusnya seperti kepompong—rasanya nyaman dan tentram—dan Sammy terus tersenyum lebar, membuatnya semakin merasa luar biasa.

Namun kemudian, musik berhenti, lonceng tak lagi terdengar. Dansa mereka berakhir dan Sammy melepaskan genggaman tangannya. Sejenak ia menatap Elizabeth, lalu meraih wajah wanita itu untuk mencium dahinya lembut sebelum akhirnya melangkah pergi.

Elizabeth sontak merasa kehilangan. Hatinya yang semula berbunga-bunga tiba-tiba saja mencelus. Ia ingin berlari mengejar Sammy, tapi kakinya tertahan di lantai. Hingga akhirnya ia hanya bisa berteriak.

“Sam! Bawa aku!”

Sammy yang berada di depan pintu sontak berbalik, menatap Elizabeth dengan cara yang jauh berbeda. Di sana ada amarah, senyum tak lagi tampak, Elizabeth bahkan bisa merasakan gemeretak giginya yang terkatup rapat.

Sammy tidak ingin membawanya.

Elizabeth ingin menjerit lagi, memohon-mohon agar diizinkan pergi bersama dengan belahan jiwanya itu. Tapi seketika itu juga dunianya menjadi gelap. Sammy menghilang, pijakkannya runtuh, dan ia mendengar sebuah suara malaikat memanggil.

Malaikat kecilnya.

 

Granny? Granny? Wake up!”

Elizabeth membuka matanya perlahan dan sorot matanya pelan-pelan menangkap wajah bulat seorang gadis kecil yang memeluk kakinya.

“Granny? Apa yang terjadi? Kau tertidur di kursimu. Kupikir kau tidak akan bangun lagi!” Amanda, cucu pertama Elizabeth memandangnya khawatir, sontak ia teringat mimpinya barusan lantas tertawa dalam hati.

 “Tidak papa, aku hanya kelelahan.” Elizabeth bangkit, menggandeng tangan malaikat kecilnya masuk. “Apa ayah dan ibumu membawa manisan yang kuinginkan?”

“Tentu saja! Malam ini semua akan berkumpul merayakan ulang tahun Granny!”

Amanda tertawa renyah, dan Elizabeth tersenyum lebar. Hatinya menghangat kembali; penuh diisi cinta dari gadis kecil itu.

‘Tentu saja, Sam, tentu saja. Aku tidak boleh menyusulmu sebelum malaikat-malaikat kecil kita tahu bagaimana caranya mencintai,’ bisik Elizabeth dalam hati, diiringi suara lonceng gereja di ujung cakrawala.

End.

(Words Count 598)

“Diikutsertakan dalam Giveaway Hujan Daun-Daun

Iklan

5 thoughts on “Yearning”

    1. Kalau saya suka bagian mimpinya Kak. Tapi di penutupnya saya emang sedikit banyak bingung merangkai kata-katanya untuk menunjukkan maksud saya. Untungnya kesampaian 😀 Terima kasih sudah mau baca tulisan saya ya Kakak! 😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s