[Coretan Dicta] Confession

Aku menulis sudah sejak lama, tapi selama aku menulis, aku bahkan nyaris tidak tahu apa tujuanku melakukan hal ini. Dulu aku berharap untuk menjadi seorang penulis, menulis novel bukan hanya sekadar impian, tapi juga obsesi. Tapi seiring berjalanannya waktu, keinginanku itu pun pudar dan aku menulis hanya sekedar hobi dan menikmati ketenaran singkat di dunia maya. Blog-ku ini pun diisi dengan berbagai jenis tulisan, tidak begitu peduli ada yang membacanya atau tidak. Meski sesungguhnya, aku bahkan bisa mengecek statistic blogku sampai 20 kali sehari karena merasa begitu senang jika ada 100 mata saja yang melirik tulisanku.

Semakin lama, tulisanku mulai terasa aneh. Aku ingin menulis fiksi lagi, mengeluarkan seluruh imajinasi liarku yang tersumbat di sudut kepala, tapi tiap kali aku mencoba menulis, tak ada satu pun yang berhasil tuntas. Mungkin ini karena buku-buku Paulo Coelho yang mencuci otakku dengan kisah hidup serta kata-katanya, hingga yang ada di kepalaku sekarang hanyalah kata-kata sok bijak yang diucapkan oleh seorang gadis lemah yang mencoba berlindung di antara suaranya.

Aku pun mulai merasa gila karena aku tidak bisa menulis. Hingga aku pun menulis kata-kata bijak yang sebenarnya kubuat untuk diriku sendiri dan mem-posting-nya, posting itu mendapat sambutan hangat akibat apa yang terjadi padaku ternyata dialami pula oleh beberapa ratus ribu orang di Indonesia kala itu. Aku menikmati komentar-komentar mereka, dan menyadari pengalaman-pengalaman itu pun menguatkanku. Aku yakin kini telah berada di jalan yang benar, tapi akibat dari tulisan itu, ternyata yang gila bukan hanya isi kepalaku tapi juga tulisanku.

Belakangan, tulisanku mulai terasa sok bijak (termasuk tulisan yang sedang kutulis ini), aku menulisnya dalam keadaan sadar dan aku juga menjiwai semua yang kutulis. Tapi kemudian perasaan takut itu datang, perasaan gusar dan tidak tenang itu kian hari kian menyergapku, lalu menelanku bulat-bulat hingga aku tak tahu harus bagaimana karena dihantui satu pertanyaan sinting.

‘Apa yang terjadi jika mereka tahu kalau sebenarnya aku tidak sekuat yang mereka sangka?’

After all, aku hanya gadis remaja biasa berumur 18 tahun. Aku merasakan apa yang mereka rasakan kebanyakan, tapi dengan tulisanku, aku mencoba menjadi kuat dan mengatakan pada diriku sendiri kalau aku bisa melaluinya. Aku berharap akan banyak orang yang bangkit karena tulisanku, tapi aku tidak berharap mereka menganggapku lebih bijak dari mereka dalam menghadapi hidup ini. Maka, melalui tulisan ini aku hanya ingin mengaku kalau:

Aku hanyalah aku.

Aku berjuang setengah mati mengambil risiko-risiko dalam hidupku dan belajar dari kegagalan-kegagalan serta ejekan, tatapan prihatin, serta sangsi dari orang-orang sekitarku. Aku masih berjuang hingga sekarang dan belajar untuk menjadi kuat dengan menuliskan seluruh apa yang ada di kepala juga hatiku ke dalam blog, karena aku menulis ketika hatiku sedang gusar, gundah, dan ketika aku merasa jatuh.

Baru kusadari belakangan ini bahwa sebenarnya aku menulis untuk diriku sendiri. Bukan berarti aku tidak ingin berbagi dengan orang lain, tapi semua yang aku tulis sebenarnya adalah kata-kata yang kutujukan pada diriku sendiri dan aku berharap aku pun menjadi kuat setelah menulis semua keluh kesah dan kegundahanku.

Aku mencari jawaban semua pertanyaan-pertanyaan dengan menulis dan dengan membagi tulisanku dengan orang lain, aku mendapatkan kekuatan-kekuatan baru. Tidak semua orang menyukai tulisanku, ada banyak orang yang mengkritik serta mencaciku di masa lalu, atau mungkin juga di masa sekarang, karena merasa risih dengan isi blog-ku yang belakangan ini terkesan sok bijak. Tapi sebenarnya bukan mauku untuk menjadi sok bijak seperti ini, aku membutuhkannya agar aku bisa tetap waras.

Isi kepalaku sudah penuh sesak dengan rencana-rencana hidupku yang terus diguncang masalah serta prinsip-prinsip yang menentang keinginan orangtua, dan aku bisa gila kalau aku tidak menumpahkannya pada sesuatu. Aku punya banyak titik di mana aku merasa sendirian dan lemah dan aku tidak bisa berbuat apa-apa untuk memperbaikinya. Aku bilang pada diriku sendiri untuk tidak menyesali jalan yang telah kuambil, tapi sewaktu-waktu aku juga melihat kebelakang dan menangis tersedu-sedu di dalam hati. Aku mencoba untuk terlihat tegar di depan keluargaku dan mengatakan pada mereka kalau aku bisa berubah, tapi jauh di dalam  hatiku ada gadis kecil rapuh yang ingin dipeluk oleh seseorang dan menumpahkan segala sesuatunya sampai tak bersisa.

Semua tekanan-tekanan dari luar serta dari dalam diriku sendiri benar-benar nyaris membuatku gila, dan seperti yang kubilang tadi, hanya dengan menuliskannya aku pun bisa tetap waras. Menuliskan kata-kata dalam lembar-lembar digital ini, membantu aku mengerti apa yang sedang aku rasakan dan kadang kala aku bisa menemukan jawaban dari masalahku melalui itu. Menulis menolongku untuk tetap berada di dalam jalur hidupku dan meyakinkanku kalau apa yang aku ambil ini sudah tepat. Menulis juga satu-satunya sarana bagiku untuk menemukan diriku yang tersesat di ruang gelap, karena setiap kali aku selesai menulis aku menemukan cahaya baru yang entah datang dari mana, namun aku percaya cahaya itu menuntunku ke jalur yang tepat.

Jadi tolong, jangan anggap aku lebih bijak atau lebih kuat dari kalian karena sesungguhnya aku tidaklah berbeda dari kalian remaja seusiaku yang mengalami krisis-krisis tentang masa depan. Tulisan ini memang membuatku terkesan seperti orang yang besar kepala dan gede rasa, toh belum tentu juga orang menganggapku bijak dan lebih berani dari mereka? Tapi karena hal itu terus menerus menggangguku dan aku nyaris gila karenanya hingga terobsesi menulis hal-hal bijak lainnya. Lebih baik aku mengaku terlebih dahulu.

Aku ingin ketika aku menulis hal-hal serupa aku tidak memiliki beban; aku tidak memiliki beban untuk membuktikan apa yang kutulis dan aku tidak memiliki beban menjadi ‘orang bijak’ di dunia maya. Aku hanyalah aku, dan aku berharap kalian mau menerimaku yang seperti ini, karena meski hanya melalui kata-kata dalam tulisanku di blog ini, aku ingin kalian bisa menemukan diriku yang sebenarnya di setiap sudut-sudut tak kasatmatanya.

Terima kasih.

Dari Si Gila, Benedikta Sekar

Banjarbaru, Selasa, 29 Juli 2014

21.49 WITA

[Coretan Dicta] Berkah Bulan Ramadhan-ku Tahun Ini

mohon-maaf

Gak kerasa besok udah lebaran aja. Udah sebulan teman-teman yang beragama muslim menjalani bulan Ramadhan yang suci ini dengan jiwa, dan seperti biasa, aku juga punya kisah tersendiri di bulan Ramadhan ini.

Beberapa tahun ini aku punya beberapa pengalaman unik yang terjadi saat bulan Ramadhan. Pengalaman itu mengubah hidupku seluruhnya dan membantuku untuk memandang hidup ini dengan cara yang lebih baik. Kalian bisa lihat pengalaman-pengalamanku tahun-tahun yang lalu di postingan ini: Ramadhan juga Penuh Berkah Bagiku

Nah, tahun ini pun bulan Ramadhan yang datang tanpa terasa juga menjadi berkah tersendiri bagiku. Berkah apa itu? Hahahaha.

Aku tidak lulus SMNPTN dan SBMPTN di ITB.

Sepertinya aku sudah panjang lebar menceritakan perasaanku pada kasus ini di posting-anku yang sebelumnya. Posting-an yang bikin tracking dan statistik blog aku mendobrak langit-langit itu benar-benar sebagai titik balik bagi hidupku. Di sana, ketika aku menulis itu, aku tidak hanya berbicara kepada mereka yang membacanya, tapi juga berbicara pada diriku sendiri. Aku selalu menulis apa yang ingin aku tulis, dan ketika aku menulis aku menulis untuk diriku sendiri, bukan sekadar mencoba memotivasi orang-orang yang membacanya, tapi lebih-lebih memotivasi diriku sendiri yang menulisnya.

Kali ini, aku ingin menceritakan apa yang aku lakukan setelah kejadian itu. Hal pertama yang aku lakukan adalah menikmati masa-masa kejayaan postingan itu dan menemukan bahwa ternyata tidak hanya diriku sendiri yang merasakan pahitnya kegagalan tidak lulus SBMPTN itu. Ketika aku membaca komentar-komentar mereka, aku merasakan kekuatan untuk menghadapi hidupku setelah ini dengan lebih baik. Terima kasih untuk kalian yang sudah berkomentar di sana, semoga kalian dilimpahi berkah dan kebejoan juga. Hehehehe.

Setelah aku mendapatkan kekuatanku untuk bangkit melalui tulisan itu, aku pun memulai sebuah perjalanan. Perjalanan yang membantuku bermeditasi dan akhirnya membuahkan sebuah keyakinan bahwa aku harus melakukan sesuatu untuk hidupku selama satu tahun ini. Aku percaya Tuhan menyuruhku untuk ‘membangun kembali’ sebelum aku bisa melanjutkan perjalananku. Ada banyak sisa-sisa masa lalu yang sepertinya harus diperbaiki agar aku bisa melanjutkan perjalanan hidupku ke depannya.

Masa lalu memang untuk ditinggalkan, tapi memperbaiki hubungan dengan masa lalu sebelum melangkah maju itu justru diperlukan. Hehehe. Sekarang aku sedang sibuk mempersiapkan pembukaan online shop-ku dengan berbagai pra-promosi dan perkenalan. Mempelajari prilaku pasar dan melayani beberapa buyer yang kebetulan berminat membeli baju-baju yang sudah aku terbitkan.

Sangat menyenangkan untuk mempelajari hal-hal baru. Berjualan online benar-benar hal baru bagiku, aku bahkan tidak pernah menyangka akan melakukan hal seperti ini di hidupku dan ini benar-benar berisiko sekaligus menantang. Aku sangat tidak sabar untuk menerbitkan online shop-ku ini. Semoga selama satu tahun ke depan aku bisa mendapatkan banyak kebejoan dari memulai sesuatu yang baru dan berbeda di hidupku.

Orang-orang di sekitarku memandang khawatir, mereka meragukan kemampuanku untuk mengelola online shop ini. Mereka takut kalau nanti aku gagal, mereka pikir aku tidak mampu karena aku ‘belum kuliah’ dan belum punya pengalaman membangun sebuah usaha. Tapi aku harus melakukan ini, aku harus mengambil risiko-risiko dan belajar dari kesalahan-kesalahanku tanpa dibuntuti rasa takut. Mereka yang takut dengan kegagalan sesungguhnya telah melakukan kegagalan terbesar dalam hidupnya. Dan aku percaya, dengan menantang risiko dan tidak takut dengan kegagalan, aku akan menjadi manusia yang lebih baik.

Akhir kata, terima kasih, Tuhan, untuk bulan Ramadhan tahun ini yang benar-benar berbuah berkah bagiku. Aku beryukur karena belum lulus SBMPTN tahun ini, akhirnya aku bisa belajar sesuatu yang baru. Belajar mengenalimu lebih dalam, dan belajar untuk memaknai hidup ini dengan lebih baik lagi. Aku mungkin belum benar-benar mengerti apa mau-Mu. Tuhan, tapi aku percaya bahwa terjadilah padaku sesuai dengan kehendak-Mu.

Kemudian, Selamat Idul Fitri bagi teman-teman yang merayakannya, bulan ini benar-benar bulan suci bagi kalian juga bagiku. Karena makna Ramadhan bagiku sebenarnya lebih dalam dari hanya sekadar menyaksikan fenomena berpuasa dan mudik, tapi juga sebagai cermin bagi hatiku untuk berbenah diri dan menjadi ‘baru’.

Mohon Maaf Lahir dan Batin ya Teman-Teman Pejuang Mimpi! Jika ada Kata-Kata Dicta yang kurang berkenan, mohon dimaafkan!

Peringatan Bagi Adik-Adik Kelas XII SMA!

675px-Warning_Sign.svg

Selamat datang untuk adik-adik kelas XII SMA yang baru saja naik. Aku yakin kalian pasti sedang dalam masa-masa gembira karena akhirnya menyandang status sebagai penjajah di sekolah kalian. Hahaha, I know that feel, Bro. Rasanya kayak lepas dari kurungan, kita jadi bisa melakukan apa saja karena kakak-kakak kelas sudah ditendang keluar dari SMA kalian.

Tapi ada satu hal yang ingin aku ingatkan pada kalian, posisi kalian sekarang ini adalah posisi paling genting dalam hidup kalian. Jangan sampai kalian menyepelekan ujian-ujian di depan kalian dengan menunda-nunda waktu untuk belajar. Yah, mungkin ini nasihat klise, tapi ketahuilah, akan ada banyak gempuran penyesalan jika kalian mengabaikan nasihat sederhana ini.

Ada dua pilihan jalan yang akan kalian tempuh setelah lulus SMA nanti. Kuliah atau mencari pekerjaan. Keduanya sama-sama baik, karena pada dasarnya adalah sama, mencari ilmu. Pembedanya hanyalah pada konsep.

Bagi kalian yang memutuskan untuk kuliah, yang terjadi adalah belajar dulu baru mencari pengalaman. Sedangan bagi kalian yang memutuskan untuk bekerja, yang terjadi adalah belajar dari pengalaman. Mana yang menurut kalian baik, pilihlah sendiri! Karena ini hidup kalian, bukan hidup orangtua kalian.

Nah, bagi kalian yang memutuskan untuk kuliah setelah lulus SMA, cabang jalan kalian kembali ada dua. Perguruan tinggi negeri atau perguruan tinggi swasta. Jika kalian memutuskan untuk masuk ke perguruan tinggi swasta, mungkin jalannya lebih ringan karena hanya dibutuhkan modal dompet tebal dan keyakinan kalau itu memang jalan yang ingin kalian tempuh. Sementara untuk kalian yang memutuskan untuk masuk Negeri, mari, siapkan mental juga hati kalian untuk melalui jalan yang terjal dan sulit ini.

Berikut tahapan-tahapan yang harus kalian lalui untuk masuk ke perguruan tinggi negeri.

Baca lebih lanjut

[Coretan Dicta] Memulai Sebuah Perjalanan

20140717_071037

Banyak orang yang tidak ingin memulai sebuah perjalanan dengan berbagai alasan. Kebanyakan alasan mereka berkisar tentang: ‘aku sudah nyaman berada di sini’, ‘untuk apa pergi ke tempat yang penuh risiko’, ‘aku masih punya pekerjaan yang harus kuselesaikan’, ‘aku tidak punya waktu, ‘aku malas’, dan ‘aku takut’. Hingga pada akhirnya, orang-orang tersebut terkurung dalam zona aman mereka dan membiarkan hidupnya dipenuhi dengan realitas yang berlaku otomatis.

Kalau boleh jujur, aku juga bukan seorang pemberani, aku juga masih ingin berada di zona amanku dan menghindari kemungkinan-kemungkinan untuk gagal. Tapi kemarin, setelah aku mengalami kegagalan pertamaku dalam hidup dan aku pun  menulis sesuatu yang bahkan diriku sendiri merasa takjub karenanya. Maka, kuputuskan untuk memulai sebuah perjalanan singkat yang sejak kemarin-kemarin kutunda karena berbagai alasan yang sudah kusebutkan di atas.

Perjalanan ini sebenarnya bukan perjalanan penuh petualangan seperti di film-film laga, aku hanya melakukan perjalanan dari rumah ke toko Mama yang berjarak kurang lebih empat sampai enam kilometer. Tapi mengingat jalan yang penuh dakian dan turunan yang memang merupakan medan jalan di kampungku, Muara Teweh ini, tentu saja hal itu menambah berat perjalanan yang kutempuh dengan berjalan kaki ini.

Semalaman aku tidak bisa tidur memikirkan apa-apa saja yang harus aku lakukan untuk mempersiapkan perjalanan ini. Tapi aku sadar kalau aku tidak perlu menyiapkan apa pun karena hal itu hanya akan membebaniku sepanjang perjalanan. Lalu, saat pagi tiba dan aku berkata pada Mama kalau ia boleh membawa motor  karena aku akan berjalan dari rumah ke toko, Mama bilang seperti ini padaku:

“Ngapain pakai jalan kaki segala! Gak usah macam-macam! Nanti kamu dikira orang stress! Coba dengar apa kata Mama!”

Detik itu juga, bukannya menurut, semangat untuk berjalan kaki dari rumah ke toko itu langsung membara seperti kobaran api. Hahaha. Aku langsung masuk kamar mandi, sikat gigi dan cuci muka, menunggu Mama pergi ke toko terlebih dahulu lalu keluar. Buru-buru aku melahap dua potong pisang di meja dan memasukan handphone serta botol minum ke tas.

“Mbok! Aku mau jalan kaki ke toko, kalau Mama telepon, bilang aja aku sudah di jalan!” Itu kataku saat berpamitan sama asisten rumah tanggaku. Si Mbok nurut saja, meski sebelumnya terpekik kaget dengan ide itu. Hahaha.

So, here I go! Kumulai perjalananku dengan melintasi turunan pertama yang berada tidak jauh dari rumahku yang ada di atas bukit. Baca lebih lanjut

[Coretan Dicta] Tentang Hidupku Setelah SBMPTN 2014

3366706471_b52fa37a4a

Hasil SBMPTN udah keluar dan aku ternyata #BEJO belum lulus masuk ITB. Bahahahahak. Mari sini, temenin aku ketawa. Hibur aku yang merana karena sukses bikin Mama pusing tujuh keliling dengan nasipku, sementara aku sendiri malah asyik-asyikan kebanyol sama kalian di sini.

Well, untuk apa sedih sih? #akurapopo sedih itu untuk mereka yang belum siap menerima kenyataan, sedih itu untuk mereka yang takut akan masa depan, sedih itu adalah mereka yang tidak bersyukur, sedih itu untuk mereka yang tidak bisa melihat keindahan dari keburukan.

Seperti yang kubilang di coretanku sebelumnya.  Apa pun hasil tes SBMPTN, aku akan tetap merasa diriku #BEJO. Aku selalu berusaha untuk memandang hidup ini dari sisi positifnya karena meruntuki penyesalan hanya akan berujung dengan kegagalan. Menilik kisah-kisah orang sukses di dunia ini, mereka yang berhasil meraih cita-citanya adalah orang-orang yang memandang sebuah kegagalan sebagai cambukan untuk mencoba lagi. Orang yang sukses adalah mereka yang jatuh tujuh kali tapi bangkit delapan kali.

Lagi pula, kenapa aku bisa sesantai ini, itu karena aku sudah memutuskan untuk tidak mau hidup hanya untuk mengikuti arus. Teman-temanku yang lain banyak yang stress karena mereka tidak lulus SBMPTN, mereka mulai panik untuk cari-cari perguruan tinggi swasta atau bersiap-siap untuk ikut ujian mandiri dengan biaya selangit. Tapi aku tidak ingin seperti mereka, aku ingin menjadi diriku sendiri yang menikmati setiap detiknya seolah-olah itu adalah detik terakhir aku menghirup napas.

Kalian harus mengerti, hidup ini terlalu pendek hanya untuk dipusingkan dengan masuk perguruan tinggi-kuliah-lulus-bekerja dan ujung-ujungnya menjadi PNS. Tsk! Tidak, aku tidak ingin seperti itu, aku ingin hidup dengan cara berbeda dan aku sudah bulat untuk menjalaninya. Hidupku tidak akan dipenuhi dengan penyesalan-penyesalan, hidupku akan dipenuhi dengan kisah-kisah petualangan atas percobaan-percobaanku menatang arus.

Saat aku berkata pada Mama kalau aku ingin masuk ITB dan mengambil jurusan Bisnis Kewirausahaan, aku sudah menentang keinginannya untuk memiliki anak seorang  Dokter dan PNS. Ketika aku berkata kalau aku tidak memiliki pilihan kedua dan serius memfokuskan diri masuk ke sana, aku sudah menentang keluargaku dengan risiko dipermalukan tetangga karena tidak lulus SBMPTN. Ya, aku sudah memulai pertentangan-pertentangan itu, mengambil risiko-risiko itu, dan menjalaninya meski di tengah jalan aku sempat goyah atau pun jatuh.

Aku akan menjalani hidup ini dengan tangan terbuka lebar dan menerima segala rasa yang hidup ini tawarkan bagiku. Kecewa, galau, gundah, gusar, maupun kesedihan, semuanya akan kutelan bulat-bulat meskipun terasa pahit dan aku nyaris muntah karenanya. Karena dengan tangan terbuka lebar, aku juga membiarkan perasaan-perasaan seperti harapan, semangat, optimisme, serta cinta datang dan memelukku erat, mendorongku untuk terus maju dan menjalani hidup ini dengan benar-benar hidup.

Apa maksudnya menjalani hidup dengan benar-benar hidup?

Kalau kalian penggemar berat Paulo Coelho seperti diriku, kalian pasti mengerti apa maksudku. Tapi mari kujelaskan secara ringkas apa maksudku dengan sebuah keinginan. Kelak, jika aku mati aku ingin menulis di batu nisanku seperti ini:

Dia mati ketika masih hidup.

Kalimat di batu nisan itu kutemukan di beberapa buku Paulo Coelho dan hal itu seolah-olah menjadi penyemangat bagi hidupku. Banyak orang di dunia ini yang tubuhnya hidup, tapi jiwanya telah mati. Mereka itu adalah orang-orang yang hidup dengan menciptakan stabilitas dan berhenti mengambil risiko-risiko serta tantangan-tantangan yang hidup ini tawarkan pada mereka hingga akhirnya jiwa mereka mati sementara tubuhnya menjadi robot.

Nah, aku tidak mau menjadi orang-orang yang seperti itu! Aku ingin hidup tanpa penyesalan dan menjalaninya dengan sungguh-sungguh mengikuti ke mana hatiku menantang untuk melangkah. Aku akan terima semua risiko-risiko yang hidup ini tawarkan padaku dan menikmati pahitnya kegagalan-kegagalan serta membuka telingaku lebar-lebar dengan cemooh-cemooh tetangga. Dengan begitu aku akan merasakan bahwa aku benar-benar hidup, dengan begitu ketika aku mati yang hilang hanyalah tubuhku, tapi ide, gagasan, visi-visi, serta kisah petualanganku tetap hidup di darah dan daging anak cucuku.

Oh, astaga, menulis ini saja benar-benar membuatku merinding. Aku jadi lebih bersemangat menjalani hidup ini sekaligus merasa takut dengan diriku sendiri. Kesadaran yang kutuangkan dalam coretan ini bukan pencitraan atau hanya kelakar omong kosong belaka hanya untuk menghibur diri sendiri karena belum lulus SBMPTN. Bukan, sungguh bukan itu, tapi aku benar-benar merasakannya (sekali lagi) seolah-olah ada kekuatan magis yang mengundangku untuk menuliskan hal ini dan berbagi pada kalian semua.

Aku tidak tahu apa yang kutulis ini juga akan memengaruhi pemikiran atau cara pandang kalian dalam menjalani hidup, tapi yang jelas, inilah caraku memandang dunia dan keburukan-keburukan yang terjadi di hidupku. Aku harap kalian punya visi tersendiri dalam hidup ini agar jalan kalian tidak seperti robot yang kaku dan tanpa jiwa, melainkan penuh tantangan meski jalannya becek dan berlumpur.

Belum lulus di SBMPTN tahun ini akan kuhitung sebagai kegagalan pertamaku dalam hidup. Aku mengalaminya karena mengikuti panggilan hatiku yang menuntunku ke sana dan aku tidak menyesal karena hal itu. Ini akan menjadi pecutan bagiku untuk belajar lebih giat lagi dan berjanji pada diriku sendiri kalau aku tidak akan mengulangi kegagalan yang sama tahun depan.

Mari, teman-teman, jangan takut untuk gagal karena aku percaya orang-orang yang memiliki hidup dengan penuh jiwa adalah mereka yang sering mengalami kegagalan dan belajar dari kegagalan-kegagalannya untuk hidup yang lebih baik, bukan mereka yang menjalani hidup seperti robot dan membiarkan jiwanya mati pelan-pelan.

Update 12 Juli 2015

SBMPTN 2015: Tentang Mimpi dan Harga yang Harus Dibayar

[Coretan Dicta] Memalukan: Menulis Tentang Cinta tapi Tidak Pernah Jatuh Cinta

ss_heart_2008_011.png-400x333

Syalalala, jam berapa sekarang? Malam sekali ya. Anyway, aku sedang suntuk menunggu pengumuman SBMPTN. Aku sudah bosan baca manga online dan on di media sosial juga sama membosankannya. Jadi, aku memutuskan untuk menulis coretan lagi tentang hal-hal random. Dan hal random itu sekarang adalah tentang: cinta.

Sebagai penulis yang mengenal dunia literature dari novel-novel remaja picisan yang menganggap semua cinta itu seindah merangkai kata-kata, aku tentu saja sangat gemar mengungkapkan tema cinta di setiap tulisanku. Menyenangkan sekali menyalurkan imajinasi tentang cowok-cewek yang semula gak demen jadi kepincut terus akhirnya pacaran, seolah-olah hal seperti itu bisa terjadi di dunia nyata.Hahaha.

Tapi alasan sejujurnya kenapa aku mengangkat topik ini karena aku sedang writer’s block sih. Padahal ada banyak tulisan bertema cinta—yang selama ini kugandrungi—menanti untuk diselesaikan, tapi saat aku ingin menulis, ide yang tercetus di kepalaku tiba-tiba saja terasa hambar.

Semuanya terasa palsu. Omong kosong. Bullshit. Tahi kucing.

Karena pada kenyataanya, bagaimana bisa aku menulis tentang cinta sementara aku tidak pernah jatuh cinta?

Okay, okay, jangan pasang muka kaget gitu. Aku buka-bukaan aja deh ya, aku ini belum pernah sekali pun pacaran, bahkan di-PDKT-in cowok aja gak pernah sepanjang 18 tahun hidupku di dunia ini.

Kenapa?

Hell yeah, emang siapa sih yang suka sama cewek gendut, kacamata, kulit hitam, dan freak kayak aku? Nyaris semua isi kepala cowok itu sudah di cuci sama figur cewek super model yang kayak di televisi, dari mata turun ke hati. Aku tidak bilang inner beauty itu bullshit, tapi bagaimana mungkin orang mau kenal inner kamu sementara ngelihat kamu aja ogah? Aha! Baru sadar kan? Jangan pernah cuman ngandelin inner beauty kamu buat bikin orang jatuh cinta, kamu juga perlu bersolek, nurunin berat badan, berprilaku anggun dan menarik untuk itu. Believe me, I’ve learn that enough to tell you this, just take a look to this picture. Baca lebih lanjut

[Coretan Dicta] Menunggu dengan Gusar

IMG_20140613_080102

Aku mungkin sudah lelah berdoa. Bukan, bukan karena aku ngambek sama Tuhan atau apa, tapi karena aku sudah terlalu banyak berdoa hingga merasa diri konyol jika harus mengulang doa yang sama berkali-kali. Toh, Tuhan tidak tuli pun bukannya tak peduli dengan doa-doaku, Tuhan hanya menjawab jika waktunya sudah tiba.

Jadi, yang bisa kulakukan sekarang hanyalah menunggu.

Aku percaya dengan pertanda-pertanda yang semesta ini ciptakan. Sama halnya ketika aku galau dengan jurusan kuliahku, Tuhan menunjukkan jalannya dan aku akhirnya memutuskan untuk mengikuti pertanda dari-Nya. Institut Teknologi Bandung, Sekolah Bisnis Manajemen, jurusan Bisnis-Wirausaha. Tidak ada pilihan kedua, Tuhan? Bagaimana jika aku tidak masuk? Tidak ada. Itu yang Tuhan cetuskan di hatiku dan aku menurutinya seperti kerbau dicocok hidungnya.

Orang-orang di sekitarku mulai berkomentar, dari teman, keluarga, guru, bahkan diriku sendiri tak luput berkomentar. Kalau gak masuk, kamu ngulang satu tahun mau ngapain? Menganggur? Apa gak malu sama teman-teman kamu yang udah pada kuliah, hah? Aku nyaris goyah dan mulai meruntuki keputusan yang sudah terlanjur kuambil, tapi lagi-lagi Tuhan berkata di hatiku: ambil risiko, jangan takut! Aku bersamamu.

Jadi, lagi-lagi aku hanya bisa menunggu.

Aku pulang ke kampungku di Muara Teweh dan mulai bantu-bantu toko Mama meski yang kulakukan hanyalah bermalas-malasan, makan dan tidur. Hey, jangan tuduh aku anak kurang ajar ya, aku menunggu bukan? Menunggu itu pekerjaan yang sungguh membosankan selain menguras perasaan di hati. Ketika orang sedang menunggu, mereka akan menjadi malas melakukan sesuatu, hatinya gusar dengan kepastian hingga yang ada dipikirannya hanyalah “sesuatu yang ditunggu” itu.

Maka, kutegaskan sekali lagi, aku sedang menunggu. Baca lebih lanjut

Robotic Guy

zoom5ns9ki

Mulutku terjahit.

Rasanya tidak sakit, hanya saja hal itu membuatku tak dapat berbicara dengan orang lain. Selayaknya orang tunawicara, aku mengerjakan semuanya dalam diam. Aku mendengar perintah dan kukerjakan dalam diam. Aku mendengar tugas dan kukerjakan dalam diam. Kerja dan diam. Diam sambil bekerja.

 Talk less do more, itu prinsipku.

Aku benci orang-orang yang banyak bicara. Mereka hanya  dapat berkicau tentang perbuatan mereka, padahal tak ada satu pun yang mereka lakukan. Mereka mengagungkan diri mereka, tapi tak ada satu pun yang mereka hasilkan. Sungguh berisik.

Itulah sebabnya aku lebih suka mengerjakan sesuatu sendirian. Aku yakin semua yang kukerjakan menghasilkan hasil yang sempurna. Aku tak perlu orang-orang berisik itu, yang selalu mengutamakan bicara daripada bekerja, yang selalu lebih dulu mengeluh daripada bekerja.

Aku hanya perlu diriku sendiri.

“ Gas, gimana dengan tugas Biologi kita? Mau riset apa?”

Aku mengangkat wajah dari buku persamaan Fisika dan menatap seorang gadis, yang berdiri di dekat mejaku, dengan datar.

“Sudah selesai,” jawabku tenang, sembari membenarkan letak kacamata berbingkai hitamku.

“HEH?!” Gadis  berambut bob itu menjerit nyaring dengan mata membulat. “Be-beneran? Ma-makalahnya? Gimana? Aku bisa bantu apa?”

“Enggak perlu. Makalahnya juga sudah selesai,” jawabku lagi dengan nada yang masih sama datarnya dengan wajahku sekarang.

“Be—…”

“Aku bakal bawa makalahnya pas pelajaran Biologi besok untuk dikumpulkan. Kalian enggak perlu ngerjakan apa-apa lagi,” sambungku buru-buru saat kudengar gadis itu ingin menyanggah lagi.

Ia menatapku lekat untuk beberapa detik, ada raut tidak enak di wajahnya namun akhirnya ia pun hanya mendesah sembari tersenyum padaku.

“Terima kasih ya, Gas, tapi lain kali tolong biarin aku dan yang lainnya bantu kamu.”

Pembicaraan itu selesai bagiku. Aku pun memalingkan wajah. Kembali kepada persamaan-persamaan Fisika  yang menantangku untuk dipecahkan; tak memedulikan keberadaan gadis yang namanya saja tak aku ketahui itu.

Ah, gadis ini banyak bicara dan aku tak suka orang yang banyak bicara.

Baca lebih lanjut