Robotic Guy

zoom5ns9ki

Mulutku terjahit.

Rasanya tidak sakit, hanya saja hal itu membuatku tak dapat berbicara dengan orang lain. Selayaknya orang tunawicara, aku mengerjakan semuanya dalam diam. Aku mendengar perintah dan kukerjakan dalam diam. Aku mendengar tugas dan kukerjakan dalam diam. Kerja dan diam. Diam sambil bekerja.

 Talk less do more, itu prinsipku.

Aku benci orang-orang yang banyak bicara. Mereka hanya  dapat berkicau tentang perbuatan mereka, padahal tak ada satu pun yang mereka lakukan. Mereka mengagungkan diri mereka, tapi tak ada satu pun yang mereka hasilkan. Sungguh berisik.

Itulah sebabnya aku lebih suka mengerjakan sesuatu sendirian. Aku yakin semua yang kukerjakan menghasilkan hasil yang sempurna. Aku tak perlu orang-orang berisik itu, yang selalu mengutamakan bicara daripada bekerja, yang selalu lebih dulu mengeluh daripada bekerja.

Aku hanya perlu diriku sendiri.

“ Gas, gimana dengan tugas Biologi kita? Mau riset apa?”

Aku mengangkat wajah dari buku persamaan Fisika dan menatap seorang gadis, yang berdiri di dekat mejaku, dengan datar.

“Sudah selesai,” jawabku tenang, sembari membenarkan letak kacamata berbingkai hitamku.

“HEH?!” Gadis  berambut bob itu menjerit nyaring dengan mata membulat. “Be-beneran? Ma-makalahnya? Gimana? Aku bisa bantu apa?”

“Enggak perlu. Makalahnya juga sudah selesai,” jawabku lagi dengan nada yang masih sama datarnya dengan wajahku sekarang.

“Be—…”

“Aku bakal bawa makalahnya pas pelajaran Biologi besok untuk dikumpulkan. Kalian enggak perlu ngerjakan apa-apa lagi,” sambungku buru-buru saat kudengar gadis itu ingin menyanggah lagi.

Ia menatapku lekat untuk beberapa detik, ada raut tidak enak di wajahnya namun akhirnya ia pun hanya mendesah sembari tersenyum padaku.

“Terima kasih ya, Gas, tapi lain kali tolong biarin aku dan yang lainnya bantu kamu.”

Pembicaraan itu selesai bagiku. Aku pun memalingkan wajah. Kembali kepada persamaan-persamaan Fisika  yang menantangku untuk dipecahkan; tak memedulikan keberadaan gadis yang namanya saja tak aku ketahui itu.

Ah, gadis ini banyak bicara dan aku tak suka orang yang banyak bicara.

oooo

“Apa gue bilang, Len! Satu kelompok sama Bagas itu enak! Lu enggak perlu kerja, semuanya bakal diselesaiin sema tuh orang!”

Aku diam saja, tak menghiraukan kicauan Esra tentang Bagas yang sebenarnya. Tentu, itu sudah menjadi rahasia umum di seantero sekolah. Yah, semua orang terkesan tidak peduli dengan Bagas yang pendiam dan workholic itu, malah menganggap cowok itu tidak ada karena mereka bingung bagaimana cara menghadapinya. Kadang kala aku ingin melakukan hal yang sama, tapi hati nuraniku selalu berbicara lain.

Aku kasihan padanya.

Dan aku harus melakukan sesuatu agar Bagas mau berbaur dengan teman-teman sekelas.

oooo

“Jadi untuk festival sekolah kita tanggal 4 April nanti kita bakal bikin obake[1].Bahan-bahan berat seperti kayu dan yang lainnya sudah kita pesan, tapi masih ada yang kurang kayak cat dan pernak-pernik lain karena susah banget dicari. Kemudian…”

Aku melirik sekilas gadis berbadan bongsor,yang tengah berbicara di depan kelas, kemudian kembali berkutat dengan buku Biologiku. Hah, merepotkan. Aku paling benci dengan festival dan semacamnya. Jika sekolah mengadakan festival atau kegiatan lain, maka pelajaran hari itu akan diliburkan, dan itu sama saja dengan membuang-buang waktuku yang berharga  untuk belajar. Seharusnya sekolah itu tempat untuk belajar, bukan untuk tempat kegiatan-kegiatan useless seperti in—…

“AKU! Biar aku dan Bagas aja yang beli sisa bahannya!!”

HEH?!

Srak!

Sontak aku berdiri ketika namaku disebut, dan semua orang di kelas pun menoleh serentak padaku. Namun, mataku hanya tertumpu pada gadis berambut bob yang berdiri di tengah-tengah kelas. Gadis itu hanya balas menatapku dengan senyum lebar tanpa dosa dan mengacungkan V-sign  ke arahku.

“Mohon bantuannya ya, Bagas!”

Grrrh. Si-sial. Gadis itu menyebalkan sekali.

oooo

 “Udah lama nunggunya? Sorry, ya aku telat. Soalnya di jalan tadi rada macet”

Bagas mengangkat wajahnya dari buku saku yang tengah ia baca ke arahku, kemudian tanpa banyak bicara ia langsung menunjuk tumpukan barang-barang di dekat kakinya. Sontak aku pun melotot, itu semua barang yang ingin kami beli bersama!

“Semua yang ada di daftar sudah aku beli, bonnya ada di masing-masing plastik. Kalian bisa ganti uangnya kapan aja.” Bagas menegakkan tubuhnya, yang semula bersandar pada tembok, dan menatapku semakin lekat. “Tolong jangan seret aku untuk urusan enggak penting kayak gini. Aku enggak perlu terlibat dalam kegiatan lain selain belajar. Aku perlu sendiri dan aku pun bisa sendiri, jauhi aku.”

Ukh, cowok ini…

Kupasang wajah paling jelek, paling jutek, paling betein yang pernah kumiliki dan memandang Bagas sangar sambil berkacak pinggang.

“DASAR COWOK ROBOT!!” Aku menjerit senyaring mungkin di depan wajahnya. Bagas pun sampai nyaris terjengkangkarena kaget. Beberapa orang memperhatikan kami terutama aku, tapi aku tak peduli. Cowok ini harus diberi pelajaran!

“Aku enggak mau tahu!” bentakku lagi seraya menunjuk sebuah mobil yang terparkir tak jauh dari tempat kami. “Angkat barang-barang ini ke dalam mobil itu sekarang dan kamu ikut aku ke sekolah! Kalau kamu bawa mobil sendiri ke sini, titipin aja ke supir aku! Kalau kamu diantar, bilang ke orang rumah kalau kamu bakal aku antar pulang! Aku enggak bakal terima alasan apa pun untuk menolak, karena aku udah enggak tahan lagi sama kamu!

“Kamu itu nyebelin!!”

oooo

Sebenarnya gadis ini maunya apa sih?

Baru pertama kalinya aku dibentak oleh seseorang, dan hal ini pun terjadi di depan umum. Benar-benar memalukan. Dan akhirnya dengan sangat terpaksa aku pun menyetujui kemauan gadis itu karena aku tak ingin berlama-lama berada di sana. Sialan, gadis ini semakin menyebalkan saja.

“Teman-teman! Ini barang-barangnya!” seru gadis berambut bob itu saat kami sampai di bagian belakang sekolah. Aku agak terperangah ketika mendapati seluruh anggota kelasku berada di sini, dan mereka semua bekerja untuk mempersiapkan festival yang akan diadakan lusa nanti.

“Huaaa! Akhirnya catnya datang!” seorang laki-laki yang tadi sibuk dengan lembaran tripleks langsung menyambar plastik cat di tanganku dan menilik setiap warna yang ada. “Waaaah! Lengkap! Semua warna yang kita mau ada! Padahal kemaren dicari-cari enggak ketemu! Makasih ya—.”

“Kalau mau bilang makasih, makasih ke Bagas aja, soalnya semua barang-barang ini dia sendiri yang beli,” sahut gadis berambut bob itu ketus, sembari melipat kedua tangannya di dada.

Laki-laki tadi beralih memandangku, seakan-akan takjub dengan apa yang baru saja ia dengar. Kupikir hanya dia yang berekspresi seperti itu, tapi ternyata semua orang yang ada di halaman belakang ini juga sama. Dalam beberapa detik keheningan merajai, hingga seseorang dari arah belakang berseru dengan nyaring dan disusul dengan yang lainnya.

“Bagas! Makasih banyak ya!”

“Makasih, Gas!”

Thanks, Bagas! Besok-besok lagi ya! Hahaha.”

“Bagas, lain kali gue ikut beli ya! Gue juga mau tahu tokonya!”

“Bagas, makasih!”

Aku terpaku, menatap setiap orang yang ada di tempat ini dengan saksama. Rasanya ada yang janggal. Sejak kapan mereka peduli padaku?

“Mereka bukannya enggak peduli,” gadis berambut bob itu menyikut lenganku, dan tersenyum seakan-akan dapat membaca isi kepalaku, “mereka cuman enggak tahu gimana caranya biar kamu mau bebaur dan menjadi bagian dari kelas ini.”

Tak ada suara yang keluar dari mulutku untuk menaggapi perkataannya. Sejak awal aku memang tak suka bicara ‘kan? Aku selalu menganggap mereka manusia-manusia yang terlalu banyak bicara dan tak pernah bekerja. Selalu menganggap mereka lebih senang bermain-main di SMA daripada belajar  yang merupakan kewajiban mereka. Aku tak suka mereka.

Tapi kenapa sekarang dengan kata-kata sesederhana itu aku bisa menemukan kehangatan di dadaku?

oooo

“Ya, ampun, Bagas! Lu kok bego banget sih soal beginian!?”

Aku dan beberapa temanku yang tengah menjahit kostum menoleh ke arah sumber suara itu berasal dan sontak tertawa terbahak-bahak ketika mendapati papan kayu yang seharusnya berbentuk salib malah terlihat seperti tanda ‘X’ cacat. Dan semua itu berkat jerih payah manusia robot bernama Bagas.

Sementara itu Bagas diam saja, memegang palu dan beberapa paku dengan tatapan hopeless. Kemudian dia menoleh ke arah Esra dan berbicara dengan sangat pelan kepada cowok yang duduk di sebelahnya itu.

“APA?! Lu enggak pernah kerja ginian?”

Sretttt! Bagas langsung membekap mulut Esra dan melirik malu ke arah kami. Melihat kejadian itu, suara tawa kami pun semakin nyaring dan menular ke kelompok-kelompok kerja lainnya.

“Ah, lu! Sini gue ajarin. Liat baik-baik, ya? Kalau lu pinter, lu pasti paham dalam sekali lihat!”

Ersa akhirnya mengajari Bagas bagaimana caranya ‘bertukang’, dan kami pun kembali ke pekerjaan kami masing-masing.

“Gue enggak nyangka, ternyata Bagas enggak se-perfect yang gue kira. Dia sama aja kayak kita-kita.” Ina membuka sesi gosip di antara kami, dan yang lainnya langsung menimpali dengan mengamini dan menambahkan apa yang ia katakan.

“Iya, selama ini dia ngelakuin semuanya sendirian. Apa-apa sendirian. Gue kadang enggak enak sama dia, tapi dianya sendiri yang bikin jarak. Gue bingung mau gimananya.”

Percakapan berlangsung alot, mereka saling membandingkan Bagas yang dulu dan Bagas yang baru mereka ketahui hari ini. Sementara aku hanya tersenyum dan tertawa jika memang ada hal lucu yang mereka katakan. Hingga akhirnya, pembicaraan itu melipir kepadaku.

“Eh,  jadi Len, lu kok bisa ngeluluhin hati Bagas? Lu pake pelet ya?”

Sontak aku melotot dan mencubit lengan Ina karena pertanyaan konyolnya. “Enak aja! Gue enggak pake pelet!”

“Terus, kenapa bisa?” tanyanya lagi sembari menggosok-gosok tangannya yang merah bekas cubitanku.

Aku terdiam, aku sendiri pun bingung kenapa berbuat sejauh ini untuk Bagas, padahal sebelum ini kami tidak pernah berbicara. Aku bahkan ragu apa dia tahu namaku, mengingat ia tak pernah sekalipun menyebutnya.

“Gue enggak tahu,” jawabku akhirnya; jujur dengan keadaan, “gue cuman kepengen dia bebaur sama kita karena lu semua enggak ada yang mau berusaha untuk bikin dia gabung. Dan gue pikir kenapa dia bisa kayak begini mungkin karena…” aku menoleh ke arah Bagas dan tersenyum simpul.

“Sebenarnya Bagas juga kesepian.”

oooo

Seperti yang kuduga, pekerjaan hari ini enggak ada yang selesai dan akhirnya harus dilanjutkan besok. Kebanyakan dari mereka lebih senang melakukan hal-hal bodoh dan sibuk bergosip ketimbang melakukan pekerjaannya. Grrrh, seandainya aku bisa berurusan dengan hal-hal seperti paku dan palu, semua pekerjaan itu pasti sudah kuselesaikan sendiri.

Thanks ya, buat hari ini.”

Sekaleng Coca Cola tiba-tiba saja menempel di pipiku dan membuatku sedikit terkejut karena kemunculannya yang tiba-tiba. Sontak aku mengangkat wajahku dan menemukan gadis berambut bob itu berdiri di sampingku.

“Kamu hebat banget bisa bikin salib sekeren itu,” katanya lagi sembari menyodorkan kaleng Coca Cola itu lantas duduk di sebelahku.

Mendengar apa yang ia katakan aku hanya tersenyum sinis. “Lain kali aku bakal bikin yang lebih keren,” sahutku sarkastis dan gadis itu pun tertawa nyaring.

See, ternyata hidup itu perlu orang lain ‘kan?” Gadis itu menoleh dan menatapku lekat, “siapa yang bisa ‘aku ingin sendiri dan aku bisa sendiri, jauhi aku’, huh?” tambah gadis itu dengan menirukan gaya bicaraku.

Aku diam saja, tak menanggapi perkataannya. Entah mengapa, aku tidak suka merasa digurui seperti ini.

“Gas, kenapa kamu begitu?” tanya gadis itu karena aku tak menanggapi perkataannya.

“Karena aku enggak suka sama orang yang banyak bicara,” jawabku setelah terdiam cukup lama.

“Banyak bicara bukan berarti hal buruk ‘kan?”

“Banyak bicara bikin pekerjaan enggak selesai,” jawabku lagi sambil menunjuk penghuni kelas yang tengah membereskan hasil kerja kami hari ini. “Liat aja, enggak ada satu pun yang selesai ‘kan?”

Kini giliran gadis itu yang terdiam, mungkin ada sebagian dirinya yang membenarkan perkataanku. “Gas, apa kamu pernah merasa kesepian?”

Lagi-lagi aku terdiam, bukan karena aku tidak mau menjawab, tapi aku memang tak tahu apa jawabannya. Rasanya ada sesuatu yang menusuk hingga membuatku tak sanggup berbicara barang sedikit pun.

“Enggak pernah ngomong sama orang lain itu rasanya seperti apa? Enak? Kalau enak, berarti manusia enggak perlu orang lain di hidup mereka.” Gadis itu semakin mendesakku, dan aku semakin tertohok. “Memang, kadang terlalu banyak bicara, terlalu banyak membanggakan diri, terlalu banyak berkicau itu mengganggu. Tapi bukankah hal itu yang membuat manusia terlihat lebih manusiawi?

“Dengan berbicara, membangun relasi, hidup di lingkungan sosial. Itulah manusia. Kalau kamu enggak suka, tandanya kamu itu…” Gadis itu mendekatkan wajahnya ke wajahku dan aku pun refleks memundurkan wajah karena malu.

“Ma-nu-sia ro-bot.”

“A-aku bukan robot,” sahutku sembari memalingkan wajah ke arah lain karena wajah gadis itu terlalu dekat dengan wajahku. Sial, kenapa aku jadi deg-degan begini. “A-aku cuman, cuman…”

“Cuman apa?”

Sret!

Tanpa kusadari aku langsung menggeser tubuhku menjauh ketika gadis itu semakin mendekatkan wajahnya yang innocence itu. Si-sial, kenapa aku bisa jadi aneh begini.

“Aku… aku… enggak punya teman. Ja-jadi… jadi…” aku mencoba mencari-cari alasan yang sekiranya masuk akal, namun suaraku malah tak mau keluar dengan benar. Hingga tiba-tiba saja gadis itu mengulurkan tangan kanannya ke arahku dan tersenyum.

“Kenalin. Namaku Valencia Nathania. Panggil aja Valen. Mari berteman ya, Bagas?”

Aku terkesiap, memandang tangan yang terulur padaku itu dengan perasaan tak menentu. Hingga akhirnya ada sebuah dorongan dari hatiku untuk menyambutnya dan membiarkan tangan kami bertautan untuk beberapa saat. Aneh. Rasanya hangat.

“Nah, sekarang enggak ada alasan lagi untuk kamu bertingkah seperti robot. Karena kamu bukan robot.” Gadis yang kini baru kutahu bernama Valen itu mengeratkan jabatan tangannya dan melebarkan senyum.

“Kamu temanku.”

 End.

[1] (Bahasa Jepang) Rumah hantu

A/N:

Hope this can give you some good memories of your high school days. Because when I write it, I swear I feel it. Thank you for reading.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s