[Coretan Dicta] Menunggu dengan Gusar

IMG_20140613_080102

Aku mungkin sudah lelah berdoa. Bukan, bukan karena aku ngambek sama Tuhan atau apa, tapi karena aku sudah terlalu banyak berdoa hingga merasa diri konyol jika harus mengulang doa yang sama berkali-kali. Toh, Tuhan tidak tuli pun bukannya tak peduli dengan doa-doaku, Tuhan hanya menjawab jika waktunya sudah tiba.

Jadi, yang bisa kulakukan sekarang hanyalah menunggu.

Aku percaya dengan pertanda-pertanda yang semesta ini ciptakan. Sama halnya ketika aku galau dengan jurusan kuliahku, Tuhan menunjukkan jalannya dan aku akhirnya memutuskan untuk mengikuti pertanda dari-Nya. Institut Teknologi Bandung, Sekolah Bisnis Manajemen, jurusan Bisnis-Wirausaha. Tidak ada pilihan kedua, Tuhan? Bagaimana jika aku tidak masuk? Tidak ada. Itu yang Tuhan cetuskan di hatiku dan aku menurutinya seperti kerbau dicocok hidungnya.

Orang-orang di sekitarku mulai berkomentar, dari teman, keluarga, guru, bahkan diriku sendiri tak luput berkomentar. Kalau gak masuk, kamu ngulang satu tahun mau ngapain? Menganggur? Apa gak malu sama teman-teman kamu yang udah pada kuliah, hah? Aku nyaris goyah dan mulai meruntuki keputusan yang sudah terlanjur kuambil, tapi lagi-lagi Tuhan berkata di hatiku: ambil risiko, jangan takut! Aku bersamamu.

Jadi, lagi-lagi aku hanya bisa menunggu.

Aku pulang ke kampungku di Muara Teweh dan mulai bantu-bantu toko Mama meski yang kulakukan hanyalah bermalas-malasan, makan dan tidur. Hey, jangan tuduh aku anak kurang ajar ya, aku menunggu bukan? Menunggu itu pekerjaan yang sungguh membosankan selain menguras perasaan di hati. Ketika orang sedang menunggu, mereka akan menjadi malas melakukan sesuatu, hatinya gusar dengan kepastian hingga yang ada dipikirannya hanyalah “sesuatu yang ditunggu” itu.

Maka, kutegaskan sekali lagi, aku sedang menunggu.

Aku sudah tidak peduli dengan berat badan, aku makan yang ada di meja makan dan apa yang Mama belikan untukku. Beratku naik lagi dari 57 kembali ke 60, hingga membuat beberapa pakaian baruku terasa lebih sesak. Keparat, lihat cewek-cewek seksi berbikini yang ada di internet itu, seolah-olah mengejekku yang kembali gendut dan menghancurkan mimpiku sunbathing di pantai Kuta. Tapi ah, masa bodoh! Aku bisa kembali diet dan makan sayur setelah kutuntaskan pekerjaan menunggu ini.

Iya, iya… biarkan aku mengkambinghitamkan pekerjaan menunggu ini lantaran aku sudah terlalu muak merasa bersalah setiap kali ada makanan yang meluncur masuk ke mulutku.

Selagi menunggu, aku mencoba menulis kok. Banyak sekali ide cerita fiksi maupun non-fiksi di kepalaku dan beberapa di antaranya sudah tertuang, tapi tak ada satu pun yang selesai. Perasaan gusar itu selalu mengacaukan segalanya! Setiap kali kuselesaikan satu paragraf, aku akan berhenti dan beralih ke jendela Google Chrome; membaca komik online atau sekedar menilik berbagai laman tidak penting karena hal itu rasanya lebih menarik. Hanya kali ini saja aku bisa menulis, karena aku sudah terlalu muak mencoba menulis sesuatu yang bukan diriku. Ide menulis seperti ini pun baru tercetus tatkala aku sudah nyaris meludahi layar laptop-ku yang menampilkan sesuatu yang sama berhari-hari ini: Pilpres, Prabowo, Jokowi, coblos, salam dua jari, dan lain-lain.

Nyatanya sih, aku pendukung gila Jokowi, tapi belakangan aku mulai muak dengan pemberitaannya yang diulang-ulang akibat lawannya yang ngotot banget pengen menang sampai-sampai memalsukan hasil hitung cepat. Hell yeah, Jokowi itu takdir Tuhan untuk Indonesia! #BEJO! Sekeras apa pun orang-orang jahat mencoba menggagalkan Jokowi, Tuhan sendiri sudah berkata kalau Ia mendukung Jokowi. Rasakan pertanda-pertandanya wahai orang-orang yang tidak peka! Semesta menginginkan Jokowi jadi presiden Indonesia, jangan kau tentang hal itu!

Huffft. Tik, tok, tik, tok… detik jam dinding di kamarku masih berdetik dan ya, aku masih menunggu.

Ngomong-ngomong soal #BEJO. Aku sebenarnya tidak percaya dengan keberuntungan. Maksudku, seperti yang kubilang di atas, keberuntungan sebenarnya hanyalah salah satu jenis pertanda yang Tuhan tunjukan. Memohon keberuntungan lebih ke arah memasrahkan diri kepada Tuhan dan berdoa yang terbaik menurut pandangan kita.  Seperti yang pemilik akun Twitter @kurawa katakan sebagai pencetus gerakan bejoisasi, “Bejo itu artinya berdoa kepada Tuhan”. Maka, aku pun meyakini doa itu dan ikut-ikutan tren hastag #BEJO, selain karena aku pendukung Jokowi aku juga berharap kepada Tuhan kalau aku beruntung. Beruntung menjadi salah satu mahasiswa ITB tahun ini.

Tapi, sementara aku berdoa melalui hastag #BEJO di Twitter dan Instagramku. Sebenarnya aku juga bertanya-tanya: definisi beruntung itu apa sih? Aku sendiri masih sulit mendefinisikan keberuntungan itu, sementara di lain pihak ada kata kesialan yang menghantui di belakangnya. Jika seandainya aku tidak masuk ITB tahun ini (amit-amit Tuhan! Amit-amit!*jedukin kepala ke tembok*), apa lantas aku menyatakan diri bahwa aku sedang sial? Bisa saja kan kalau aku masuk ITB tahun ini aku jadi orang yang pongah, sombong dan tidak tawakal lagi. Lalu, aku kuliah jadi main-main dan akhirnya tidak lulus? Maka, dengan mengulang satu tahun lagi aku jadi lebih bijak dan lebih menghargai seluruh kesempatan yang ada? Nah, kesimpulannya, aku tidak bisa menyatakan diriku sepenuhnya sedang sial dan tidak beruntung kan? Dari sudut pandang ini, aku justru terlihat beruntung.

But, who knows? Persetan dengan definisi #BEJO itu. Yang jelas, aku masih menunggu kepastian itu dengan hati gusar dan mengaminkan apa pun hasilnya, aku #BEJO!

Karena, selain aku percaya dengan pertanda-pertanda semesta, aku juga percaya akan “Semua yang terjadi pasti ada alasannya”. Aku mungkin tidak akan menjadi diriku yang sekarang tanpa masa lalu, tapi aku juga tidak bisa terjebak dalam masa lalu yang membelenggu kakiku. Hari ini aku kembali dicerahkan oleh buku Paulo Coelho yang berjudul Zahir, bahwa kita harus berdamai dengan masa lalu agar kita dapat memaknai hari ini. Caranya? Dengan terus menerus mengulang kisah masa lalu itu hingga hal itu tidak lagi menjadi pengganggu.

Maka, sekaranglah saatnya aku berdamai dengan masa laluku ketika aku berada di sana, mengambil keputusan tentang masa depan yang sekarang tengah kujalanani. Aku katakan pada kalian semua yang membaca coretan ini, aku mengambil keputusan itu dengan sadar, bahwa aku yakin kalau aku harus masuk ITB tahun ini tanpa pilihan kedua, bahwa aku memang menyesali keputusan itu saat sadar tes SBMPTN yang diberikan tahun ini kepalang susah dan bahwa selama masa penantian menunggu pengumuman ini aku nyaris meyakini kalau aku akan menjadi pengangguran setahun kedepan.

Argh! Aku gila. Aku sudah muak menunggu dan… tanggal berapa sekarang? 12? Sialan, masih empat hari lagi sebelum hari pengumuman dan perasaan penyesalan akan masa lalu itu semakin menggerogotiku. Aku hanya berharap dengan menulis coretan ini akan membuat perasaanku lebih baik dan aku bisa terbebas dari bayang-bayang tentang rasa malu yang kutanggung jika aku sial nanti. Setidaknya, aku sudah bercerita, dan biarkan cerita ini menjadi apa adanya. Entah ada yang membacanya atau tidak, seperti biasa aku ini hanya penabur kata-kata dan kalianlah—para penikmat kata yang sangat-sangat kucintai—yang menuainya.

Terima kasih sudah membaca dan menemani aku menunggu dengan gusar di sini, mohon doa kalian agar aku #BEJO tanggal 16 Juli nanti dan aku bisa melanjutkan mimpiku dengan rasa bangga, bukan pongah. Amin!

2 pemikiran pada “[Coretan Dicta] Menunggu dengan Gusar

  1. hiyaaa aku tau banget rasanya.. itu kyk aku banget buka word, buntu, terus keasikan main di google chrome xp dan tentang masa lalu.. bagus bangettt ternyata memang gaada cara lain selain berdamao dan bukan lari.. makasi banget coretannya yang kece ini 😀 GBU always.. kutunggu kabar baiknya tgl 16 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s