Corat-Coret Dicta

[Coretan Dicta] Memalukan: Menulis Tentang Cinta tapi Tidak Pernah Jatuh Cinta

ss_heart_2008_011.png-400x333

Syalalala, jam berapa sekarang? Malam sekali ya. Anyway, aku sedang suntuk menunggu pengumuman SBMPTN. Aku sudah bosan baca manga online dan on di media sosial juga sama membosankannya. Jadi, aku memutuskan untuk menulis coretan lagi tentang hal-hal random. Dan hal random itu sekarang adalah tentang: cinta.

Sebagai penulis yang mengenal dunia literature dari novel-novel remaja picisan yang menganggap semua cinta itu seindah merangkai kata-kata, aku tentu saja sangat gemar mengungkapkan tema cinta di setiap tulisanku. Menyenangkan sekali menyalurkan imajinasi tentang cowok-cewek yang semula gak demen jadi kepincut terus akhirnya pacaran, seolah-olah hal seperti itu bisa terjadi di dunia nyata.Hahaha.

Tapi alasan sejujurnya kenapa aku mengangkat topik ini karena aku sedang writer’s block sih. Padahal ada banyak tulisan bertema cinta—yang selama ini kugandrungi—menanti untuk diselesaikan, tapi saat aku ingin menulis, ide yang tercetus di kepalaku tiba-tiba saja terasa hambar.

Semuanya terasa palsu. Omong kosong. Bullshit. Tahi kucing.

Karena pada kenyataanya, bagaimana bisa aku menulis tentang cinta sementara aku tidak pernah jatuh cinta?

Okay, okay, jangan pasang muka kaget gitu. Aku buka-bukaan aja deh ya, aku ini belum pernah sekali pun pacaran, bahkan di-PDKT-in cowok aja gak pernah sepanjang 18 tahun hidupku di dunia ini.

Kenapa?

Hell yeah, emang siapa sih yang suka sama cewek gendut, kacamata, kulit hitam, dan freak kayak aku? Nyaris semua isi kepala cowok itu sudah di cuci sama figur cewek super model yang kayak di televisi, dari mata turun ke hati. Aku tidak bilang inner beauty itu bullshit, tapi bagaimana mungkin orang mau kenal inner kamu sementara ngelihat kamu aja ogah? Aha! Baru sadar kan? Jangan pernah cuman ngandelin inner beauty kamu buat bikin orang jatuh cinta, kamu juga perlu bersolek, nurunin berat badan, berprilaku anggun dan menarik untuk itu. Believe me, I’ve learn that enough to tell you this, just take a look to this picture.

IMG_20140511_184848
Foto Before: Saat kelulusan kelas 3 SMP Foto After: Saat kelulusan kelas 3 SMA

See? Told you that. Segitu aja aku masih ngerasa gak cukup menarik untuk di lirik cowok. Aku sudah pernah ngerasain sakitnya di bully karena penampilan juga inner beauty aku yang benar-benar jelek. Aku akan bahas soal bully mem-bully ini kalau ada waktu. Aku menyebut masa itu dengan sebutan Dark Age, karena masa itu benar-benar masa terkelam dalam hidupku.

Sooooo, enough with this stupid curcol, let’s go back to the topic! Jadi, kenapa aku writer’s block saat menulis fiksi bertema cinta? Jawabannya sederhana sih, itu karena aku merasa seperti membohongi diriku sendiri dan juga pembacaku. Aku bisa saja menulis semua tentang cinta seperti yang sudah-sudah, tapi pada kenyataannya aku hanya menulis apa yang kulihat di televisi, apa yang kubaca di novel-novel, apa yang terjadi pada temanku, dan apa yang orang lain kisahkan padaku. Singkat kata, aku menulis fiksi tentang cinta bukan berdasarkan pengalamanku sendiri.

Heh, what a shame? I’m just a big liar.

Belakangan aku mulai bertanya-tanya, bagaimana bisa orang-orang mudah sekali menulis tentang cinta seolah-olah mereka mengalaminya setiap hari? Aku sendiri bingung, mereka menilai cinta seakan cinta bisa diukur melalui tulisan-tulisan mereka. Seenaknya mendefinisikan cinta dan menyebarluaskannya, lantas merasa diri mengerti seutuhnya tentang cinta hanya karena berhasil menulis tentang cinta. Huh. Adakah di antara kalian berpikir demikian? Kuharap tidak. Karena sejujurnya, bagi diriku pribadi, menulis tentang cinta hanyalah sebuah khayalan yang tidak kesampaian.

Aku mengembangkan karakter tokoh-tokoh pria di dalam tulisanku sesuai harapanku akan bertemu dengan pria seperti itu di kemudian hari. Meskipun aku tahu gak akan pernah ada pria seperti itu muncul, setidaknya yah, aku bisa menciptakan dunia imajinasiku menjadi nyata dalam tulisan. Hahaha. Itulah enaknya menjadi penulis, bisa menyatakan imajinasi dalam kata-kata sementara orang lain hanya bisa berkhayal tentang pangeran impian mereka. Hump, so, proud to be a writer.

Eh, tapi jangan sangka melalui coretan ini aku mencanangkan  gerakan penghapusan genre romance di leteratur ya? Malah sebaliknya, menurutku semakin banyak menulis tentang cinta justru semakin baik. Itu membantu kita, khususnya diriku sendiri, untuk tetap waras.

Kalian sadar tidak sih, kalau cinta itu bukan sekadar tentang antara pria dan wanita yang berciuman. Cinta itu luas, luas sekali! Sekaligus lebih mistis dari yang kalian sangka selama ini. Banyak buku, orang, tokoh, dan ilmu yang mencoba untuk mendefinisikan cinta, tapi bagiku semua itu omong kosong. Cinta tidak bisa didefinisikan, cinta itu misterius dan akan tetap seperti itu untuk selama-lamanya. Titik.

Biarkan cinta memanifestasikan dirinya melalui apa saja yang terjadi di hidup kalian. Jangan kurung cinta dengan pikiran sempit tentang hubungan antara pria dan wanita. Coba sesekali buka tangan kalian lebar-lebar, jelajahi hidup ini dengan lebih saksama dan mungkin kalian akan menemukan cinta dalam wujud yang lebih sakral dan lebih indah daripada yang kalian kira selama ini. Ada sisi-sisi lain dari cinta yang patut kalian jelajahi dan telusuri, jangan pernah takut jika menemukan bahwa cinta ternyata tidak seindah yang didefinisikan film drama Korea, karena dari sana kalian pasti akan menemukan sesuatu.

Jadi, ajakkanku: ‘Jangan pernah berhenti menulis tentang cinta, tapi jangan menulis tentang cinta yang sama seperti orang lain kisahkan pada kalian.’ Cari terus sisi-sisi cinta yang lain, ada bagian-bagian yang tidak masuk akal tentang cinta tapi ia ada di sana dan memberitahu kalian apa yang harus dilakukan. Itu membantu kalian lebih kreatif, dan mungkin tidak akan berakhir seperti diriku yang sedang Writer’s Block ini. Hahaha, sejujurnya aku masih bingung untuk mencari-cari celah mana untuk menerobos masuk lebih dalam labirin cinta yang membingungkan itu karena dalam kasusku, aku sendiri tidak pernah benar-benar jatuh cinta pada lawan jenis yang menjadi topik kebanyakan dalam tulisanku. Semoga saja dengan menulis coretan ini aku bisa mengeksplor lebih dalam tentang cinta dan tidak melulu menulis cinta dari sisi yang itu-itu saja, karena seperti kata Paulo Coelho: ‘Aku menulis untuk diriku sendiri’. Jadi, aku pun harus berbuat seperti yang aku tuliskan sekarang. Hahaha, dasar merepotkan.

Nah, baiklah, sebagai penutup, aku punya kutipan dari diriku sendiri. Kutipan ini muncul tiba-tiba saja di kepalaku ketika aku selesai membaca buku Paulo Coelho yang judulnya Zahir, seakan-akan ada suara magis yang membisikannya di telingaku, hihihi, dan kutipan ini juga yang (mungkin) mendorongku untuk menulis coretan ini.

“Hidup ini untuk menebarkan cinta pada semua orang, bukan terkurung oleh cinta.”

Iklan

6 thoughts on “[Coretan Dicta] Memalukan: Menulis Tentang Cinta tapi Tidak Pernah Jatuh Cinta”

  1. kerenn.. tetap semangat, aq aja pernah pacaran, tpi sebenarnya aq gak ngerti hal itu, hanya ikut2n aja,, hahaha,, jdinya lucu….
    skrg aja, aq rada2 gak pengen pacaran…. serasa juga gak penting amat bt pcrn,,,
    hemm,, “CINTA” itu mank gak bisa di ungkapkan dgn kata2, tpi cinta itu sesuatu yang qt rasakan,, gak cuman bt manusia,, tpi cinta itu sesuatu yg tdk terlht, atau gmna ya.. aq juga bingung……
    eits.. tpi jangan lo terlalu merendahkan dri,,, rendah hati boleh….
    kamu diksh karunia oleh Tuhan itu luar biasa, gak semua org kek kamu,….
    kmu umur 18 itu sesuatu yang mengagumkan buat saya,,, gak pernah pcrn itu membuat saya iri ma kamu,,,,, pertahankan…..
    lebih bagus kalo kamu pacaran sekali untuk menikah…. gak usah buru2, jika blm punya pcr skrg artinya itu blm waktunya…..
    bersahabat, berteman itu lbh baik dri pcrn, cz dlm pcrn itu semua hanya luarnya saja….
    dibanding kalo kmu berteman atau bersahabat….
    fokus pada cita2 kamu aja…. Tuhan sudah menentukan siapa yang akan menjadi jodoh kamu kelak, so gak usah kwatir soal itu, santai aja, itu sdh ada, tgl kamu pekah ma suara Tuhan saja… kamu lakukan bagian kamu dan biarkan Tuhan yang lakukan bagianNya…..
    Tuhan Yesus memberkati…
    semangat terus

    1. Halo, Mira, terima kasih sudah bertandang 😀

      Jujur saja, saya pribadi masih berusaha keras untuk menghilangkan perasaan tidak pede dan rendah diri saya sih. Mungkin dampak dari dibully dulu, tapi saya yakin sekali kalau saya pasti bisa mengatasinya. Banyak hal yang lebih baik dipedulikan dari pada sibuk merendahkan diri. Hahaha.

      Untuk masalah jodoh, seperti yang kamu bilang, aku memang serahkan sama Tuhan. Hehehe. Hidup dengan baik, jodoh datang sendiri #eak

      Terima kasih doanya, GBU too!

  2. Brofist! Dibully itu emang sucks ya, gw pernah jadi korban pas sd dan itu traumatik banget. Sampe bela2in ngajar sd buat flashback membunuh ketakutan, dan pas ngeliat anak2 lucu itu jadi mikir, “orang2 yang bikin hidup gw as hell bertahun2 itu beneran cuma bocah 10 taunan kaya mereka nih?” N sekarang gw udah bisa move on dari kegelapan itu, hohoho.
    Lalu curcol di komen, haha. Tp lo jujur, gw suka. Ga gampang loh ceritain ‘dark age’ segamblang ini 🙂

    1. BROFIST! Sucks banget, rasanya harga diri di injek-injek. Hahaha.

      Tujuan saya untuk menceritakan ini sebagian besar karena saya mau kasih lihat ke orang-orang kalau dibully ternyata gak seburuk kedengarannya. Sejujurnya, dengan dibully saya malah bersyukur loh, meski sakit dan merasa terhina tapi kalau gak dibully saya gak bakal berani untuk berubah dan menjadi berbeda dari diri saya biasanya. Hahaha.

      Nanti kalau ada waktu saya ceritain jelas2 di posting :3

  3. dek boleh nggak aku screenshot dibagian “biarkan cinta memanifestasikan…”
    itu bagus menurut aku, membuat aku mikir juga tentang cinta yg aku alami.
    tetap semangat ya, oh iya aku baru nemu tulisan ini,hehe.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s