[Coretan Dicta] Confession

Aku menulis sudah sejak lama, tapi selama aku menulis, aku bahkan nyaris tidak tahu apa tujuanku melakukan hal ini. Dulu aku berharap untuk menjadi seorang penulis, menulis novel bukan hanya sekadar impian, tapi juga obsesi. Tapi seiring berjalanannya waktu, keinginanku itu pun pudar dan aku menulis hanya sekedar hobi dan menikmati ketenaran singkat di dunia maya. Blog-ku ini pun diisi dengan berbagai jenis tulisan, tidak begitu peduli ada yang membacanya atau tidak. Meski sesungguhnya, aku bahkan bisa mengecek statistic blogku sampai 20 kali sehari karena merasa begitu senang jika ada 100 mata saja yang melirik tulisanku.

Semakin lama, tulisanku mulai terasa aneh. Aku ingin menulis fiksi lagi, mengeluarkan seluruh imajinasi liarku yang tersumbat di sudut kepala, tapi tiap kali aku mencoba menulis, tak ada satu pun yang berhasil tuntas. Mungkin ini karena buku-buku Paulo Coelho yang mencuci otakku dengan kisah hidup serta kata-katanya, hingga yang ada di kepalaku sekarang hanyalah kata-kata sok bijak yang diucapkan oleh seorang gadis lemah yang mencoba berlindung di antara suaranya.

Aku pun mulai merasa gila karena aku tidak bisa menulis. Hingga aku pun menulis kata-kata bijak yang sebenarnya kubuat untuk diriku sendiri dan mem-posting-nya, posting itu mendapat sambutan hangat akibat apa yang terjadi padaku ternyata dialami pula oleh beberapa ratus ribu orang di Indonesia kala itu. Aku menikmati komentar-komentar mereka, dan menyadari pengalaman-pengalaman itu pun menguatkanku. Aku yakin kini telah berada di jalan yang benar, tapi akibat dari tulisan itu, ternyata yang gila bukan hanya isi kepalaku tapi juga tulisanku.

Belakangan, tulisanku mulai terasa sok bijak (termasuk tulisan yang sedang kutulis ini), aku menulisnya dalam keadaan sadar dan aku juga menjiwai semua yang kutulis. Tapi kemudian perasaan takut itu datang, perasaan gusar dan tidak tenang itu kian hari kian menyergapku, lalu menelanku bulat-bulat hingga aku tak tahu harus bagaimana karena dihantui satu pertanyaan sinting.

‘Apa yang terjadi jika mereka tahu kalau sebenarnya aku tidak sekuat yang mereka sangka?’

After all, aku hanya gadis remaja biasa berumur 18 tahun. Aku merasakan apa yang mereka rasakan kebanyakan, tapi dengan tulisanku, aku mencoba menjadi kuat dan mengatakan pada diriku sendiri kalau aku bisa melaluinya. Aku berharap akan banyak orang yang bangkit karena tulisanku, tapi aku tidak berharap mereka menganggapku lebih bijak dari mereka dalam menghadapi hidup ini. Maka, melalui tulisan ini aku hanya ingin mengaku kalau:

Aku hanyalah aku.

Aku berjuang setengah mati mengambil risiko-risiko dalam hidupku dan belajar dari kegagalan-kegagalan serta ejekan, tatapan prihatin, serta sangsi dari orang-orang sekitarku. Aku masih berjuang hingga sekarang dan belajar untuk menjadi kuat dengan menuliskan seluruh apa yang ada di kepala juga hatiku ke dalam blog, karena aku menulis ketika hatiku sedang gusar, gundah, dan ketika aku merasa jatuh.

Baru kusadari belakangan ini bahwa sebenarnya aku menulis untuk diriku sendiri. Bukan berarti aku tidak ingin berbagi dengan orang lain, tapi semua yang aku tulis sebenarnya adalah kata-kata yang kutujukan pada diriku sendiri dan aku berharap aku pun menjadi kuat setelah menulis semua keluh kesah dan kegundahanku.

Aku mencari jawaban semua pertanyaan-pertanyaan dengan menulis dan dengan membagi tulisanku dengan orang lain, aku mendapatkan kekuatan-kekuatan baru. Tidak semua orang menyukai tulisanku, ada banyak orang yang mengkritik serta mencaciku di masa lalu, atau mungkin juga di masa sekarang, karena merasa risih dengan isi blog-ku yang belakangan ini terkesan sok bijak. Tapi sebenarnya bukan mauku untuk menjadi sok bijak seperti ini, aku membutuhkannya agar aku bisa tetap waras.

Isi kepalaku sudah penuh sesak dengan rencana-rencana hidupku yang terus diguncang masalah serta prinsip-prinsip yang menentang keinginan orangtua, dan aku bisa gila kalau aku tidak menumpahkannya pada sesuatu. Aku punya banyak titik di mana aku merasa sendirian dan lemah dan aku tidak bisa berbuat apa-apa untuk memperbaikinya. Aku bilang pada diriku sendiri untuk tidak menyesali jalan yang telah kuambil, tapi sewaktu-waktu aku juga melihat kebelakang dan menangis tersedu-sedu di dalam hati. Aku mencoba untuk terlihat tegar di depan keluargaku dan mengatakan pada mereka kalau aku bisa berubah, tapi jauh di dalam  hatiku ada gadis kecil rapuh yang ingin dipeluk oleh seseorang dan menumpahkan segala sesuatunya sampai tak bersisa.

Semua tekanan-tekanan dari luar serta dari dalam diriku sendiri benar-benar nyaris membuatku gila, dan seperti yang kubilang tadi, hanya dengan menuliskannya aku pun bisa tetap waras. Menuliskan kata-kata dalam lembar-lembar digital ini, membantu aku mengerti apa yang sedang aku rasakan dan kadang kala aku bisa menemukan jawaban dari masalahku melalui itu. Menulis menolongku untuk tetap berada di dalam jalur hidupku dan meyakinkanku kalau apa yang aku ambil ini sudah tepat. Menulis juga satu-satunya sarana bagiku untuk menemukan diriku yang tersesat di ruang gelap, karena setiap kali aku selesai menulis aku menemukan cahaya baru yang entah datang dari mana, namun aku percaya cahaya itu menuntunku ke jalur yang tepat.

Jadi tolong, jangan anggap aku lebih bijak atau lebih kuat dari kalian karena sesungguhnya aku tidaklah berbeda dari kalian remaja seusiaku yang mengalami krisis-krisis tentang masa depan. Tulisan ini memang membuatku terkesan seperti orang yang besar kepala dan gede rasa, toh belum tentu juga orang menganggapku bijak dan lebih berani dari mereka? Tapi karena hal itu terus menerus menggangguku dan aku nyaris gila karenanya hingga terobsesi menulis hal-hal bijak lainnya. Lebih baik aku mengaku terlebih dahulu.

Aku ingin ketika aku menulis hal-hal serupa aku tidak memiliki beban; aku tidak memiliki beban untuk membuktikan apa yang kutulis dan aku tidak memiliki beban menjadi ‘orang bijak’ di dunia maya. Aku hanyalah aku, dan aku berharap kalian mau menerimaku yang seperti ini, karena meski hanya melalui kata-kata dalam tulisanku di blog ini, aku ingin kalian bisa menemukan diriku yang sebenarnya di setiap sudut-sudut tak kasatmatanya.

Terima kasih.

Dari Si Gila, Benedikta Sekar

Banjarbaru, Selasa, 29 Juli 2014

21.49 WITA

7 pemikiran pada “[Coretan Dicta] Confession

  1. Eksistensialisme. Kalau kata Sartre, salah satu hal yang paling didambakan oleh manusia adalah pengakuan dari orang lain.
    Alamiah kok itu Dict, asal jangan kehilangan diri sendiri seutuhnya, hehe *ikut2an sok bijak*. Anyway keep writing! Ternyata kamu baru 18 taun? Cool.. Bagus2 tulisannya

    1. Yah, itu, saya mikir juga sih. Mungkin emang naluriah ngerasa seperti itu, tapi kadang bikin beban dan sakit kepala juga. Hahaha. Saya juga gak mau kehilangan diri saya sendiri, karena ngejar kepopuleran semata. menulis jadi beban kalau gitu.

      iya saya masih 18 tahun, hahaha. Tulisan saya biasa2 aja sih kak, syukur kalau kakak suka. Terima kash sudah bersedia mampir!

  2. Ping-balik: SBMPTN 2015: Tentang Mimpi dan Harga yang Harus Dibayar | Kata-Kata Dicta

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s