Smile Through The Rain

A_smile_in_the_rain_by_candlelight_maniac

Bian benci sekali dengan musim hujan juga guntur yang menggelegar. Baginya, musim yang menghabiskan waktu dua bulan dalam setahun itu benar-benar kala yang paling buruk. Ia harus siaga setiap waktu dengan jas hujan, payung, atau jaket, dan hal itu sangat merepotkan. Ditambah lagi kondisi cuaca yang tidak bersahabat itu acapkali menyebar virus-virus penyakit dan jika ia terjangkit, segala sumpah serapah pasti keluar dari mulutnya yang tertutup masker sepanjang waktu, karena itulah orang-orang pun langsung menjauh kalau sampai Bian terjangkit penyakit-penyakit musim hujan—entah itu flu, batuk atau pun demam—karena pria itu akan menjadi manusia paling annoying di muka bumi ini dengan terus menerus mengutuki hujan.

“Ah, kampret, hujan lagi! Belum juga Desember udah kayak gini, gak bisa di-skip aja ya musim hujannya? Loncatin ke tahun depan gitu. Argh! Mana lupa bawa jas hujan lagi! Sialan!” Bian mengomel sendirian di depan pintu gedung perpustakaan kampusnya, suasana lumayan lenggang meski waktu baru menunjukkan pukul tiga sore, mungkin hujan yang datang tiba-tiba ini membuat orang-orang berlarian mencari tempat berteduh.

“Cih.” Bian mendecak jengkel, lantas berbalik masuk kembali sembari merapatkan jaket denimnya dan melipat kedua tangan di depan dada. Di susurinya lagi tangga menuju lantai dua gedung perpustakaan dan memutuskan menunggu hujan reda sembari membaca beberapa modul rekomendasi dosen Akuntansi-nya.

Mata Bian melirik kanan dan kiri, mencari tempat yang dikiranya cukup nyaman untuk duduk, hingga tiba-tiba saja matanya terpaku pada pemandangan paling aneh yang baru pertama kali ia lihat dalam hidupnya. Bian terbujur kaku dan berdiri diam di tempatnya berada, pandangannya lurus lantas mencoba memahami fenomena di depannya itu. Baca lebih lanjut

[Coretan Dicta] Unfocus Moment

Please, go f*ck your own writing, Dict! Whatever, you s*ck!

Hahaha, maaf, coretan ini dibuka dengan kalimat kasar, tapi emang itu yang sedang aku rasakan sekarang ini. Kenapa aku bisa merasa begitu? Ini karena aku selalu menulis ketika aku merasa ingin dan butuh menulis, kadang kala hasrat ingin menulis itu tak bisa ditahan-tahan sehingga seketika itu juga aku memutuskan untuk menulis tanpa berpikir dua kali.

Dan akhirnya, ketika aku menulis aku menemukan kalau isi kepalaku keluar begitu saja tanpa ada filter yang memadai, karena satu-satunya momen ketika aku tak perlu berpikir adalah ketika aku sedang menulis. Aku menulis apa saja yang ada dipikiranku saat itu, tak peduli apa kata orang yang membacanya atau apa kata dunia tentangku. Aku tahu, dengan menulis aku menjadi diriku sendiri. Ada kebebasan yang tak bisa aku ungkapkan dengan kata-kata tentang kegiatan menulis ini, jadi aku biarkan saja semua kata-kata yang tertoreh di blog ini menjadi arsip dari riak-riak pemikiran yang muncul dan tenggelam. Lantas, ketika suatu hari nanti aku membaca ulang semua tulisan itu, aku bisa menemukan kesalahan-kesalahanku dan mencari kebenaran di antara kata-katanya.

Jadi, hahaha, jangan heran ya, untuk kalian yang mengikuti blog-ku ini dari awal dan menemukan keanehan-keanehan atau hal-hal absurd dari tulisanku ini, karena seperti yang aku bilang sebelumnya aku menulis ketika aku merasa ingin dan membutuhkan kegiatan itu hingga tidak memikirkan kewarasan dari setiap kata-katanya.

Sama seperti kejadian dan perasaan yang sedang aku renungkan sekarang ini.  Beberapa hari yang lalu aku ngecoret  tentang My True Dream, dan mengaku di sana kalau aku ingin mencoba untuk memupuk mimpi menjadi penulis lagi. But, as I thought, the time is not right. Sebesar apa pun keinginanku untuk mulai menulis kalimat pertama novel-ku atau bahkan membangun cerita di kepala, tak ada satu pun yang mucul.

Pertanyaannya: KENAPA BISA?

Hahaha, setelah kurenungkan semalam dan sepanjang perjalanan lari pagiku tadi, ternyata jawabannya sangat simple: aku tak bisa menulis buku pertamaku karena itu bukan saatnya.

Harus kuakui, selama ini aku selalu menomorduakan mimpi menjadi penulis itu meskipun itulah mimpi sejatiku. Bukan, bukan karena aku tidak menginginkannya, tapi aku selalu merasa itu bisa menunggu dan saatnya belum tepat. Dunia seolah-olah memberiku pilihan-pilihan yang lebih penting untuk kukejar ketimbang melangkah di jalan seorang penulis.

Choosing one path means abandoning others – if you try to follow every possible path you will end up following none Paulo Coelho

Selama ini aku mengira kalau aku bisa menghubungkan seluruh passion dan mimpiku menjadi satu dan menjalaninya dengan baik. Mungkin aku bisa menjadi seorang wirausaha sambil menulis, mungkin aku bisa belajar untuk tahun depan sambil mengerjakan novelku, mungkin aku bisa berwirausaha sambil belajar untuk tahun depan juga. Hahaha, segala kemungkinan itu, waktu-waktu yang yang kuhabiskan setiap harinya untuk membagi setiap detik untuk menjalaninya bersamaan ternyata sama sekali tidak membuahkan  hasil. Aku sama sekali tidak berjalan ke mana pun, dan aku diam di tempat. Sekali lagi, kenapa?

Karena aku tidak fokus.

Aku baru sadar kalau aku adalah orang yang seperti itu, aku mungkin tahu apa yang ingin aku lakukan tapi apa yang ingin aku lakukan ternyata banyak sekali! Aku ingin melakukan semuanya, tapi tentu saja itu tidak mungkin dan aku harus memilih. Ada masa depan di sana yang ingin aku kejar setengah mati, aku tahu masa depan seperti apa, tapi untuk meraihnya aku harus memilih jalan mana untuk pergi ke sana. Aku tidak bisa memilih semuanya karena seperti sekarang, aku hanya akan tersesat dan kebingungan sendiri.

Maka kuputuskan, untuk berhenti mencoba seluruh kemungkinan itu dan memutuskan untuk mengabaikan beberapa dan salah satunya adalah:

Stop trying to be a writer.

No, I’m not giving up yet, I believe I can reach it. But, right now, the other path is easier, bukan karena aku berhenti mengambil risiko-risiko dalam hidupku, tapi untuk terus bermimpi kamu harus benar-benar terjaga. Bisa dibilang, jangan takabur, tapi aku sebenarnya selalu takabur dan menjadi takabur itu menyenangkan karena dengan begitu aku tahu kesalahan-kesalahan apa yang aku buat dan bisa menertawakannya. Hahaha. But, let’s stop here, be wise for a moment lah Dict, kamu sekarang bukan anak-anak lagi yang setiap pilihannya bisa dimaafkan.

Lagipula, dengan menyadari bahwa menjadi pro-writer itu mimpi yang memiliki perjalanan yang panjang, aku juga ingin menunggu. Menunggu apa? Hehehe, pertanda, the omen, hal yang selalu kusebut-sebut dalam nyaris semua tulisanku belakangan ini. Aku pikir, alasan kenapa aku tidak bisa mulai menulis buku pertamaku meski aku ingin, alasan kenapa aku akhirnya harus memilih, alasan kenapa aku harus menunda mimpi menjadi seorang penulis adalah karena pertanda itu belum ada. Dengan semua itu, Tuhan seolah-olah berkata padaku:

 “Stop, trun around, and fix your mess. I won’t let you go through this path before you learn from the other path. Open your heart, WAIT My omen.”

 

 

So, I answer while smiling, “As you wish, God, I’ll do what do you want. No problem.” Then trun around.   

Hahaha, terdengar pasrah di telinga orang-orang yang suka menuntut pada Tuhan, tapi bagiku pribadi di sanalah esensi dari berdoa dan menjawab Bahasa Dunia. Aku tidak bisa menuntut Tuhan untuk mengabulkan doaku, aku berdoa banyak hal pada-Nya dan tidak seluruh doaku akan terjawab, tapi dengan menambahkan ‘terjadilah padaku sesuai dengan kehendak-Mu’ di akhir doa aku menyadari bahwa hidupku di dunia ini adalah untuk menikmati pertanyaan: What the hell is God what me to do in this f*cking life?

Sampai sekarang aku tidak tahu jawabannya dan aku rasa memang tidak perlu dicari jawaban dari pertanyaan itu. Tuhan akan menjawabnya ketika waktunya sudah tiba, hahaha. Sementara itu, sekarang yang bisa aku lakukan adalah memilih jalanku dan membuka hatiku untuk mendengar pertanda-pertanda yang akan ditunjukkan padaku. Aku percaya, jika memang menjadi penulis adalah mimpi sejatiku, Tuhan pasti akan membawaku ke jalan di mana mimpiku berada.

Just, wait His omen. Hehe.  

[Coretan Dicta] My True Dream

“Jika kau adalah seorang penulis, maka menulislah.”

 

Belakangan aku mulai gila (emang kapan sih kamu gak gila, Dict?) dengan apa yang sudah, sedang dan akan aku lakukan dalam hidupku. Aku banyak menulis tulisan tentang diriku dan bercermin dari semua tulisanku itu lantas menyadari banyak hal ketika aku menulis. Aku tahu apa yang aku inginkan dalam hidupku nanti, it’s something like, ‘I’m gonna be the boss I won’t work under anybody’ dan hal tersimple untuk menjadi bos kecil dalam hidup ini adalah  menjadi seorang wirausaha. Aku yakin aku bisa melakukannya, aku sudah memulainya dan percaya bahwa ini adalah awal yang baik.

But then, I’m thinking over again, and these question come up: is that true? Is that your own dream, Dict?

I remember, Om-ku lah yang mengatakan bahwa bekerja di bawah orang lain sama saja menjadi pantat gajah, dan itu kurang mengesankan karena lebih baik menjadi kepala semut ketimbang pantat gajah. Yeah, you know what I mean lah, gak usah dijelaskan panjang lebar perdebatan hidup tentang pekerjaan ini. Intinya, pekerjaan di dunia ini terbagi menjadi dua, bekerja di perusahaan orang lain atau membangun perusahaan sendiri. Mana yang lebih baik, masing-masing orang yang menentukan, tapi aku memutuskan untuk memilih yang kedua: membangun perusahaan sendiri.

Jadi, sebenarnya ide menjadi wirausaha itu bukan dari dirimu sendiri, Dict? Bisa dibilang iya, karena pada mulanya aku justru berpikir menjadi seorang penulis.

Pertanyaan yang muncul kemudian di kepala kalian pasti: Kenapa ingin menjadi penulis? Akan kujawab jujur, karena hanya itu yang aku bisa. Dulu, saat membangun blog Kata-Kata Dicta ini, aku ingat semangat menjadi seorang penulis sungguh membara dan berapi-api. Aku ingin membuat sebuah novel, kumpulan cerpen, lantas menerbitkannya dan aku bisa menyandang status penulis itu dengan bangga. Seperti Paulo Coelho, seperti Raditya Dika, seperti Winna Effendi, seperti mereka yang berhasil menembus tembok persaingan dan menjadi juara dengan kata-kata mereka. Ya, aku ingin kata-kataku juga di dengar, meski hanya sedikit orang yang peduli, setidaknya mereka tahu aku ada.  Sesederhana itu.

Tapi kemudian, gempuran realitas datang dan perlahan tapi pasti aku melupakan mimpiku menjadi penulis. Sekarang aku menulis untuk diriku sendiri; mencoba tetap waras dengan menulis, dan keinginan untuk menyuarakan kata-kata itu keseluruh penjuru dunia perlahan pupus. Aku yakin mimpiku itu bisa menunggu, aku harus berhasil masuk ke dunia kerja ini dulu sebelum mimpi itu kukejar setengah mati. Menjadi wirausaha adalah pekerjaan yang paling mendekati mimpiku menjadi seorang penulis, karena aku tahu jika aku memiliki perusahaan sendiri aku bisa mengerjakan tulisanku kapan pun aku mau. Namun, malam ini aku kembali bertanya-tanya, sudah benarkah semua yang kulakukan ini?

Maka, dengan tenang aku kembali bertaruh, meskipun keragu-raguan itu masih saja ada dan menyelimuti setiap malamku: akan kucoba lagi memupuk mimpi menjadi seorang penulis. Pada kenyataannya, menjadi seorang wirausaha saja keluargaku ini sudah pontang-panting berkoordinasi untuk ‘menyelamatkan’ masa depanku. Mereka pikir, aku tak akan bisa maju jika menjadi wirausaha karena pekerjaan itu penuh risiko, tidak aman, dan aku akan miskin lantas diejek tetangga, dan sekarang aku kembali gila dengan kembali memupuk mimpi menjadi penulis?

Hahaha, kita lihat apa reaksi mereka saat suatu hari nanti aku menyuarakan mimpi ini; menangis kecewa atau menatapku prihatin.

Aku tahu, dengan gagal masuk ITB tahun ini dan memutuskan untuk mengulang tahun depan sudah cukup membuat seluruh keluargaku malu. Aku ini anak pertama dari ibu yang juga anak pertama dan ayah yang juga anak pertama, keluarga dari Papa serta keluarga dari Mama kedua-duanya menaruh harapan besar padaku. Tentu saja aku tidak bisa mempermalukan mereka dengan terus menerus mengejar mimpi-mimpi gilaku, tapi satu hal yang kuyakini:

THIS IS MY LIFE.

Aku bukan boneka keluargaku meski aku berhutang pada mereka karena telah membesarkanku. Aku yang akan memutuskan sendiri jalanku dan aku akan bahagia dengan jalan yang kupilih sendiri tanpa dipengaruhi oleh siapa pun. Meski aku harus menelan pahitnya diejek, dicemooh, tatapan prihatin, atau kesedihan dari semua orang di sekitarku, aku tahu itu semua adalah harga yang harus aku bayar karena mengambil jalan yang semua orang kira adalah sebuah gegilaan.

“Tell your heart that the FEAR of suffering is worse than the suffering itself and no heart has ever suffered when it goes in search of it’s dream.”Paulo Coelho, The Alchemist

Katakan pada hatimu bahwa ketakutan untuk menderita itu lebih buruk daripada penderitaan itu sendiri dan tak ada satu hati pun yang menderita ketika ia pergi mencari mimpinya. *I can’t stop smiling while writing after quoting his words*

Aku tahu sejak awal kalau hatiku ini tidak sekuat yang kusangka, aku sering goyah, kadang juga ketakutan itu datang dan menghancurkan seluruh keberanian dan kepercayaan diri yang selama ini aku tumpuk. Tapi Tuhan selalu punya cara untuk mengingatkanku tentang mimpi-mimpiku dan mengajariku tentang hal-hal baru melalui pertanda-pertanda-Nya. Aku yakin Tuhan tak pernah menutup telinga dengan doa-doaku, ia selalu berbicara denganku melalui Bahasa Dunia—bahasa yang hanya bisa dimengerti oleh orang-orang yang mau membuka hatinya sejenak dan mendengarkan kalau Dunia ini bicara sebagai perpanjangan suara Tuhan.

Dan sekarang aku sedang melakukannya; membuka hati untuk mendengarkan Bahasa Dunia, dan aku percaya bahwa aku mendengar kalau Dunia ini berkata bahwa mereka sedang bekerja sama untuk membantuku memeluk seluruh mimpi-mimpi gilaku.

[Coretan Dicta] Loneliness

Bagiku kesepian dan sendirian itu memiliki arti yang sangat berbeda dan benar-benar tidak identik. Kenapa? Karena ketika aku sendirian, aku justru merasa memiliki diriku sendiri seutuhnya. Sejujurnya, aku bukanlah orang yang supel, aku ini bertingkah ekstrovert hanya untuk mencari perhatian namun sesungguhnya, jauh di dalam diriku ini ada sisi introvert yang kadang kala mengambil alih.

Ada suatu waktu dalam masa hidupku aku tidak memiliki kepercayaan kepada keluargaku sendiri, termasuk mama dan papa. Sehingga, ketika aku merasa sendirian, aku merasa aku bisa melakukan semuanya dengan bebas tanpa merasa terkekang oleh kehadiran mereka.

Perasaan aku-lebih-senang-sendiri itu semakin menjadi saat SMP, aku pergi merantau ke ibukota provinsi Palangka Raya dan berpisah dengan Mama dan Papa yang tinggal di Muara Teweh (salah satu kabupaten di Kalteng). Di sana aku tinggal bersama Tante dan Om-ku yang tidak dikaruniai anak dan kurang-lebih aku sangat dimanjakan di sana—well, mengingat berat badanku naik 20 kg sampai aku lulus SMP sih, hahaha.

So, singkat kata, selama aku menjalani masa-masa SMP-ku, aku nyaris sama sekali tidak merasakan rindu yang mendalam kepada orangtua—terutama Mama. Sejak kecil ikatan terkuatku memang ada pada Papa, biasalah, anak perempuan pasti dekatnya ke Papa, tapi itu pun menurutku tidak cukup dalam dan mengakar sekali. Jadi ya, soso gitu perasaannya. Sampai akhirnya kuakhiri masa SMP-ku dan pindah ke Banjarmasin untuk menempuh masa SMA dengan segala pengalaman yang terduga. Hahaha.

Aku di-bully di SMA, kemudian mengalami krisis kepercayaan diri dan jati diri sementara tak ada satu pun keluarga terdekatku yang dapat menolong. Pertama kali aku menceritakan perihal di-bully itu ke papa dan papa malah menyarankan untuk pindah sekolah! Argh, what the… waktu itu dalam benakku, solusi pindah sekolah adalah hal terburuk yang aku terima, karena sesakit-sakitnya rasa ter-bully yang aku terima, aku TIDAK INGIN LARI dari masalahku itu. Itu tindakan pengecut, dan Papa-ku sendiri yang mengajakku untuk menjadi pengecut? Hatiku hancur, meskipun aku tahu maksud Papa waktu itu baik.

Lalu aku cerita ke Eyang dan tanteku perihal di-bully itu, mereka mendengarkan dengan baik dan memberiku solusi yang lain yaitu… pergi ke psikater! Wohooo, perasaan kayak Marshanda deh, disangka gila dan stress gitu. Hahaha. Mereka bilang itu untuk kebaikan, tapi hatiku masih berkata itu bukan solusi yang baik dan akhirnya ide itu pun tak pernah terlaksana sampai sekarang. Untung saja waktu itu aku tidak dibawa ke psikiater beneran, mungkin aku bisa dikasih obat anti-stress dan lain sebagainya ya. Hahaha.

Hantaman lain yang kuterima saat SMA adalah saat Papa pergi dengan damai terbebas dari segala penyakit yang dideritanya selama ini dan disimpan dalam peti mati berwarna putih gading itu. Untuk pertama kalinya dalam hidupku aku benar-benar merasa kesepian. Saat aku di-bully, aku masih punya beberapa teman yang mau menemaniku dan mendengarkan segala tangisanku, tapi ketika aku kehilangan Papa, aku tidak punya siapa-siapa lagi di rumah.

Hubungan dengan Mama tidak pernah berjalan mulus, kami tidak pernah dekat satu sama lagi karena kami benar-benar sama-sama keras kepala. Aku sudah tidak ingat berapa kali membuat Mama nangis, dan aku juga sudah tidak ingat berapa kali aku menangis karena Mama. Aku punya satu orang adik laki-laki yang benar-benar dekat dengan Mama, dan aku cemburu juga marah karena dengan begitu sempurna sudah dunia ini berkonspirasi untuk menusukku dengan perasaan kesepian itu.

Untungnya, saat itu aku tidak tinggal serumah dengan Mama. Aku masih di Banjarmasin, menempuh sisa-sisa masa SMA-ku, mencoba mengatasi masalah pem-bully-an itu sendirian. Jadi, kubiarkan saya rasa kesepianku itu tertekan oleh kebebasanku karena tinggal sendirian itu. Oh ya, aku lupa bilang, sampai detik ketika aku menulis coretan ini aku sama sekali tidak pernah menceritakan kasus pem-bully-an itu kepada Mama. Mungkin Mama tahu tentang kasus itu dari Eyang atau Tante-ku, tapi aku yakin ia tidak pernah tahu dariku secara langsung. Jadi, bisa disimpulkan kan bagaimana renggangnya hubunganku dengan Mama ini?

But, time passed so fast dan people change slowly. Pertengkaran-pertengkaran yang terjadi sebelum Papa meninggal mau pun setelah Papa meninggal, problematika yang muncul dan lain sebagainya, usaha-usaha untuk membuka hati dan mencoba mengerti Mama, semua perubahan diriku serta fisikku, dan semua hal yang terjadi dalam hidupku selama ini yang gak akan habis kuceritakan di dalam coretan-coretanku ini, pelan namun pasti mengajariku berbagai macam hal. Lantas perasaan kesepian itu pelan-pelan menghilang meski tidak benar-benar terlupakan.

Lalu, gempuran rasa kesepian yang kedua terjadi adalah masa sekarang. Baca lebih lanjut

[BEJO Stories] Regret

Terima kasih telah bertransaksi dengan  @bajubejo

HAPPY BEJO!

 

Dino menyeringai sinis sambil menatap tulisan di layar iPhone-nya datar, lantas melempar benda itu ke atas meja sekenanya; ia yakin owner dari online shop yang baru saja ia hubungi itu perempuan karena menulis pesan selebay itu.

Tok. Tok.

Seseorang mengetuk pintu ruangannya dan Dino mendapati sekertarisnya, Arini, menjorokan kepalanya dari balik pintu. Perlakuan tidak sopan menurutnya, tapi karena wanita itu sudah bekerja dengannya lama sekali dan kini mereka tak ubahnya menjadi sahabat di kantor, Dino mencoba memakluminya. Lagipula, wanita itu selalu tahu di mana posisinya.

“Pak Dino, tadi saya dapat kabar kalau meeting dengan klien jam satu nanti di batalin dan sudah di-reschedule untuk lusa. Jadi, jadwal Bapak kosong sampai sore. Apa Bapak tidak ingin  makan siang?”

Dino bertopang dagu, menatap Arini yang hanya separuh tubuhnya saya yang ia lihat dengan tatapan yang masih tanpa emosi.

“Kamu tahu gak di dunia ini ada yang namanya intercom?”

Mendengar Dino tak peduli dengan ajakan makan siangnya dan berkomentar tentang hal lain, Arini hanya terkekeh tidak peduli.

“Buat apa sih pakai intercom segala kalau misalnya kita cuman terhalang pintu gini?” kata Arini sembari menyelipkan rambutnya ke belakang telinga. “Teknologi diciptakan bukan untuk membuat kita merasa jauh kan?”

Dino menggeleng tak acuh, sudah katam dengan segala filosofi hidup wanita itu yang menurutnya aneh dan tidak masuk akal.

“Jadi, mau makan siang?” tawar Arini lagi dan akhirnya pria itu pun mendesah setuju.

Ooo

Semua orang di kantor bergosip tentang Arini dan Dino yang terlampau dekat melebihi hubungan bos dan sekertaris. Ada yang bilang kalau Arini menjual diri agar bisa masuk ke perusahaan ini ada juga yang bilang kalau Dino mungkin saja gay sehingga kedekatannya dengan Arini hanya kamuflase. Tapi Dino bukan tipe orang yang peduli dengan hal-hal seperti itu sementara Arini juga tak pernah memusingkan kesinisan teman-teman sekantornya karena ia berhasil mencuri ‘kedekatan’ dengan atasan, hingga hubungan mereka pun berjalan sebagaimana mestinya tanpa terganggu dengan seluruh gosip-gosip yang menyebar.

“Kamu beneran bukan Gay ‘kan?”

Dino mengangkat wajahnya dari daging sapi yang sedang ia potong dan menatap Arini sejurus, menuntut penjelasan dari mana wanita itu berani bertanya hal aneh seperti itu dengan ekspresi wajahnya.

“Hahaha, aku cuman penasaran aja, kenapa orang kayak kamu sampai sekarang masih jadi fakir asmara,” terang Arini di sela kunyahannya. “Kamu ganteng dan sukses, kurang apa lagi? Aku yakin banyak cewek yang ngejar-ngejar kamu, tapi kamunya aja yang gak mau. Makanya aku tanya, kamu gay atau bukan.”

“Hidup terlalu singkat untuk disibukin buat hal-hal begitu,” jawab Dino minim argumen, terkesan tidak peduli dengan hal itu. Ia memang tidak pernah memikirkan nasib jodohnya sampai umurnya yang sudah lebih dari kepala tiga ini. Baginya, hal-hal seperti itu membuat hidupnya tidak fokus.

“Tapi menurutku…” Arini menyela dan Dino siap mendengarkan kata-kata sok bijak dari wanita itu. Kadang-kadang ia sendiri bertanya-tanya, kenapa ia sanggup hang out dengan Arini yang sifat dan pemikirannya jauh bertolak belakang dengannya. “Hidup juga terlalu singkat untuk dihabiskan sendirian.”

I’m fine being alone,” sambar Dino.

So, why am I here?” Arini mengangkat alisnya, menantang. Dino diam saja, tak menjawab pertanyaan yang sebenarnya sudah ia coba jawab sejak lama namun belum bisa ia pecahkan. “See…? Jangan congkak lah, kamu gak mungkin hidup sendirian terus. Mau aku bantu cariin jodoh?”

“Tsk…” Dino mendecak sinis, lantas melipat kedua tangannya di depan dada sembari menyandarkan punggungnya di kursi. “Jangan betingkah deh kamu. Nyari jodoh buat diri sendiri aja gak bisa mau bantu aku urusan begituan. Mending urus diri kamu sendiri aja dulu.”

Mendengar apa yang Dino katakan bibir Arini langsung mengerucut, ia paling benci diingatkan kalau sebenarnya ia juga fakir asmara. Umurnya memang belum tiga puluh, tapi tiga tahun lagi ia sudah pantas di cap perawan tua oleh keluarga besarnya. Ia benar-benar tak sanggup mendengar omelan Mama-nya tentang perjodohan dan lain sebagainya.

“Bukannya terima kasih udah ditawarin bantuan malah nyindir. Mau kamu apa sih?” sahut Arini masih dengan wajah masamnya.

“Gak usah kepo sama hidup aku. Sejak kapan kamu jadi orang yang pengen tahu gini?” balas Dino.

Arini pun mendesah berat, entah karena lelah menanggapi atasannya ini atau bingung dengan dirinya sendiri. Tapi kemudian, ia meletakan sendok-garpu di tangannya ke atas piring lantas mencondongkan tubuhnya sedikit mendekati Dino, seolah-olah hendak mengatakan hal yang sangat penting.

Okay, aku kepo, tapi setelah satu pertanyaan ini aku akan berhenti kepo-in kamu.” Dino sedikit mengangkat dagunya, meminta Arini melanjutkan ucapannya.

“Apa kamu bahagia sekarang?”

Dino terdiam sejenak. Ia mengingat posisi dan semua keberuntungan yang ia miliki sekarang ini, ada banyak orang yang berharap berada di posisi yang sekarang ia miliki dan ia yakin dengan semua itu ia bahagia.

“Aku bahagia,” jawab Dino, dan saat Arini membuka mulut lagi seolah-olah tidak puas dengan jawabannya, pria itu langsung menyela. “Hanya satu pertanyaan dan aku baru saja menjawabnya.”

“Apa masih ada yang ingin kamu capai setelah ini?” Arini mengabaikan peringatan Dino dan langsung menyelesaikan pertanyaannya yang lain. Dino mendengus jengkel, tapi sejenak ia pun memikirkan jawabannya. Ia masih dalam usia produktif dan yakin bahwa masih banyak hal yang bisa ia lakukan setelah ini, juga tentang mimpi-mimpi serta obesesi yang belum tercapai.

“Aku punya banyak hal lagi yang ingin aku capai,” jawab Dino akhirnya dan Arini pun kembali ke posisi duduknya semula. Mata wanita itu menatap Dino lekat, menyorotkan ekspresi sedih juga prihatin yang entah dari mana asalnya.

“Kalau masih banyak hal yang ingin kamu capai setelah ini…” Arini menyipitkan matanya, menatap Dino penuh selidik.

“Berarti kamu sekarang gak bahagia dong.”

Dino terperanjat dan sampai jam makan siang berakhir lalu mereka kembali menjadi Bos dan Sekertaris. Dino hanya bisa diam.

Ooo

Arini percaya dengan keberuntungan dan ia selalu menganggap semua yang terjadi di hidupnya adalah sebuah keberuntungan, entah itu kejadian buruk atau kejadian baik, karena setiap hal yang terjadi di hidupnya pasti memiliki alasan. Sama seperti saat pertama kali ia masuk ke perusahaan ini dan mendapati Andino Raharja sebagai bosnya. Ia pikir pria anti sosial dan sulit bergaul itu akan menyulitkannya, tapi semakin lama ia mengenal Dino dan mendalami semua sikap dan prilakunya, Arini justru menemukan ada kesedihan aneh yang tak bisa ia ungkapkan dengan kata-kata di mata pria yang umurnya terpaut tujuh tahun darinya itu.

Apa hidup Dino sekarang penuh penyesalan?

Arini mulai bertanya-tanya lagi, tapi tak yakin apa ia berani bertanya langsung tentang hal itu setelah ia membuat Dino bungkam sepanjang hari ini. Sifat ingin tahunya mungkin sudah tak bisa ditahan lagi sekarang, karena sejak lima tahun bekerja di bawah Dino, ia sudah memendam banyak sekali pertanyaan pada pria itu.

Kring! Kring!

Blackberry Arini berdering dan buru-buru wanita itu mengangkatnya.

“Halo?”

“Kak! Kakak lagi sibuk gak?”

Oh, Nuri, adik perempuannya, tumben menelponnya.

“Enggak, lagi santai aja di kamar, baru pulang kerja. Kenapa?”

“Eh, coba deh beli baju di online shop yang kemarin aku ceritain! Beneran bawa keberuntungan loh, aku udah baikan sama Adi gara-gara beli baju di sana!”

Mendengar perkataan Nuri, Arini sontak tergelak. “Gak usah aneh-aneh lah, masa beli baju aja bisa bawa untung.”

“Ih, seriusan! Kakak sendiri percaya soal keberuntungan-keberuntungan kayak gitu kan? Coba deh, gak ada salahnya juga dicoba, siapa tahu kakak bisa cepat dapat jodoh. Hahaha.”

“Sialan kamu! Mentang-mentang udah taken! Jangan sampai kamu ‘dung’ duluan dari kakak ya?” balas Arini sengit, sementara tawa Nuri masih saja menggema.

“Udah ah, Kakak capek. Nanti deh kakak lihat online shop-nya, makasih udah ingetin Kakak soal jodoh ya!”

Click!

Arini mendesah berat, mengurut keningnya yang tiba-tiba terasa nyeri karena adiknya kembali mengingatkan tentang hal yang paling tidak ingin ia pedulikan. Ia punya prinsip hidup yang jelas dan filosofi yang ia yakini benar, ia mencintai pekerjaannya dan merasa puas dengan apa yang telah ia miliki sekarang karena tidak pernah melewatkan waktu sedetik pun untuk bersyukur. Namun, ketika ia bertemu dengan sesuatu yang berbau jodoh dan cinta, semuanya terasa buntu, karena mungkin saja ia satu-satunya wanita di dunia ini yang tidak pernah jatuh cinta yang benar-benar jatuh.

Dada Arini semakin terasa sesak mengingat perkara hatinya, lantas diliriknya laptop di atas meja dengan gusar. Wanita itu ragu-ragu menuruti saran adiknya untuk beberapa saat, namun akhirnya ia meyakini bahwa sekarang saatnya ia memohon keberuntungan kepada Tuhan dengan cara apa pun. Toh, tak ada salahnya berharap pada hal-hal kecil seperti ini.

Ooo

Semenjak perbincangan waktu itu, hubungan Arini dan Dino menjadi renggang, tapi lebih tepatnya Dino-lah yang menghindari Arini. Pria itu selalu mengisi waktunya dengan padat dan membuat Arini kepalang bingung dengan semua meeting yang sebenarnya tidak perlu buru-buru. Beberapa kali ketika waktu makan siang tiba, Arini mencoba mengajak Dino makan bersama, tapi pria itu selalu mencari-cari alasan dan membiarkan Arini menikmati makanannya sendirian. Arini sudah mencoba untuk tidak ambil pusing dengan perkara itu, tapi kian hari perasaannya jadi makin kacau dengan sikap Dino yang tidak seperti biasa itu.

Argh, menyebalkan!

Ting!

Lift yang terbuka berbunyi dan dengan segera Arini melangkahkan kakinya menuju pintu keluar. Hari ini ia memilih mengerjakan semua pekerjaannya dengan cepat dan pulang lebih awal untuk menenangkan diri.

“Mbak Arini!” Pak Beno, satpam di kantornya, tiba-tiba memanggil dan dengan segera Arini menoleh ke arah pria yang mendekati usia pensiun itu. Dino bilang ia tidak tega memberhentikan Pak Beno atau pun menggantinya karena didikasi pria paruh baya itu pada perusahaan ini.

Arini berjalan  mendekati Pak Beno yang membawa sebuah bungkusan di tangannya. “Ada apa, Pak?”

“Ini ada paket buat, Mbak.” Pak Beno menyerahkan bungkusan di tangannya kepada Arini.

Arini mengerjap, mengingat-ingat tentang paket hingga akhirnya ia menyadari bahwa ini adalah pesanannya dari online shop yang waktu itu disarankan oleh adiknya Nuri, ia sengaja menggunakan alamat kantor karena sebagian besar waktunya ia habiskan di gedung pencakar langit ini.

“Makasih ya, Pak,” sahut Arini, lantas langsung menjejalkan bingkisan itu ke dalam tasnya lalu buru-buru melanjutkan perjalanan pulangnya. Ia sudah terlalu lelah memusingkan tentang keberuntungan dari paket ini dan memilih untuk membiarkan apa yang terjadi untuk terjadi saja.

Ooo

Dino memandang bingkisan di atas meja kerjanya risih. Ia tidak menyangka dari berpuluh-puluh orang yang berada di kantor ini paket pesanannya itu harus tertukar dengan Arini, sekertarisnya sendiri. Pak Beno yang mengantarkan paket ini ke ruangannya tadi sepertinya tidak menyadari kalau ia telah salah memberikan paket.

Sambil mendesah berat, Dino melirik jam di atas meja yang menunjukkan jarum pendek ke angka sepuluh dan ia pun memutuskan untuk lembur hari ini. Belakangan ia terlalu memaksakan dirinya tenggelam dalam pekerjaan, bukan hanya karena ingin menghindari Arini tapi sebagian besar karena ia ingin merenungi hidupnya.

Dino menyandarkan tubuhnya di kursi dan memejamkan matanya erat-erat; napasnya naik turun dan desahan lelahnya terembus nyaring.

Apa ia bahagia sekarang?

Pria itu kembali menanyakan pertanyaan yang sama dengan yang Arini tanyakan pada dirinya. Ia ingin sekali menjawab ‘ya’ dan menghibur perasaannya sedemikian rupa, tapi Arini kemudian membuatnya tersadar bahwa jauh di dalam hatinya ada sesuatu yang mati dan membuatnya tidak bisa menikmati kebahagiaan yang seharusnya bisa ia rasakan di posisinya sekarang.

Dino tidak bisa menemukan jiwanya.

Pria itu yakin ia bernapas dan hidup, tapi hanya sekadar itu, ia sudah lupa bagaimana rasanya menjalani hidup ini dengan jiwa. Semua pekerjaan kantor, uang yang mengalir ke rekeningnya, akhir pekan di kamar hotel berbintang, juga liburan di luar negeri hanyalah rutinitas yang tidak ada artinya; hanya untuk menunjukkan kesan pada dunia betapa sukses dan bahagianya ia sekarang sementara pelan-pelan ia melupakan mimpi-mimpi masa mudanya.

Hah, seandainya waktu bisa diputar kembali atau kesempatan itu masih ada, mungkin ia tak akan hidup dalam penyesalan seperti ini.

Ooo

Arini duduk di ruangan atasannya dengan tak henti-hentinya menggigit bibir—kebiasaannya jika sedang merasa gugup dan salah tingkah. Waktu baru menunjukkan pukul setengah tujuh pagi dan ia sudah berada di sini sementara teman-teman sekantornya yang lain baru selesai sarapan. Digenggamnya bingkisan yang dibungkus kertas kado berwarna cokelat di tangannya dengan perasaan campur aduk; ada rasa takut, bersalah serta penasaran yang menjadi satu di kepalanya.

Semalam ia sukses memarahi owner online shop tempatnya membeli kaos karena mengira telah salah mengirim barang. Namun setelah diminta mengamati nama penerima yang tertera di paket pengiriman tersebut, ia baru sadar bahwa itu bukan namanya, tapi nama atasannya. Seketika itu juga ia panik karena sudah terlanjur membongkar paket baju yang dipesan bosnya itu. Namun di sela-sela rasa paniknya, Arini juga kembali bertanya-tanya ketika melihat signature yang tersablon di baju itu.

‘Business owners get to choose their own hours. We get to choose which 12 hours a day we work.’

Rasanya sangat tidak pas untuk Dino yang notabenenya adalah business owners sementara signature yang tersablon itu merujuk pada pekerjaan seorang fotografer. Anehnya lagi, Dino bahkan bisa membeli ratusan baju yang harga serta kualitasnya ratusan kali lebih bagus dari baju ini, tapi kenapa ia tertarik membelinya? Apa pria itu sedang bergurau dengan dirinya sendiri atau memang ada makna tersendiri yang membuatnya membeli baju ini, huh?

Perasaan Arini semakin terasa tidak nyaman. Berpuluh-puluh pertanyaan menumpuk di kepala wanita itu sampai-sampai ia nyaris tidak menyadari pintu ruangan ini terbuka dan pemiliknya masuk; mendapati dirinya sudah ada di sana.

“Maaf, aku nyuruh kamu datang pagi-pagi.” Dino buru-buru mengambil tempat duduk di hadapan Arini sebelum sempat wanita itu bangkit untuk memberi salam. “Ini paket pesananmu.”

“I-iya, Pak… gak papa.” Arini yang masih sedikit kaget dengan kehadiran Dino buru-buru mengambil paket yang masih terbungkus rapi itu, kemudian menyodorkan bikisan di tangannya tadi kepada Dino.

“A-anu, Pak… Maaf. Saya kemarin sudah terlanjur bongkar paket Bapak sebelum saya sadar kalau ini milik Bapak. Jadi, saya bungkus lagi sendiri.” Dino terpekur menatap bungkusan yang disodorkan kepadanya, kemudian meraihnya sembari menatap wanita di hadapannya ini lekat-lekat.

“Kamu lihat isinya?”

Deg. Jantung Arini rasanya berhenti berdetak untuk beberapa detik, sebelum akhirnya ia mengangguk kikuk dengan senyum getir penuh rasa bersalah.

Keheningan menyergap mereka berdua. Arini benar-benar merasa tidak enak sekarang ini meskipun di lain pihak ia juga gondok ingin bertanya tentang berbagai macam hal. Sementara Dino sendiri tidak tahu harus bagaimana menanggapi situasi seperti ini, ia ingin marah, tapi ia juga bimbang tatkala melihat pertanyaan menumpuk di wajah wanita itu—pertanyaan-pertanyaan yang sepertinya sudah lama ingin Arini tanyakan tapi Dino selalu punya cara untuk pura-pura tidak menyadarinya.

“Aku dulu fotografer.”

Suara Dino menuntaskan hening di antara mereka dengan pernyataan yang benar-benar tidak disangka oleh Arini. Wanita itu menatap Dino dengan ekspresi terkejut yang sama sekali tidak ia sembunyikan, tapi ia tidak berkata apa pun dan membiarkan Dino melanjutkan menjawab pertanyaan-pertanyaan yang terbaca di wajahnya.

“Dari kecil aku selalu menurut apa kata Papa.  Aku sekolah dan akhirnya lulus sarjana ekonomi sebagai persiapan mengambil alih perusahaan ini, tapi ketika aku berkenalan dengan fotografi, untuk pertama kalinya aku menentang Papa sampai kabur dari rumah dan jadi gelandangan di jalan.” Bibir Dino tertarik ke atas sedikit, mengingat masa-masa pemberontakannya selalu saya membuatnya geli sekaligus rindu. “Hanya berbekal beberapa potong baju dan kamera yang kubeli dengan tabunganku sendiri aku pergi ke jalan-jalan; menerima bayaran jadi tukang potret keliling atau bekerja paruh waktu di sebuah studio foto kenalanku. Papa tidak mencariku, ia kepalang sakit hati dengan polahku sampai-sampai tidak peduli kalau aku mati atau tidak. Tapi, aku juga tidak peduli, aku menikmati hidupku yang seperti itu.

“Dulu, aku punya mimpi gila. Berkeliling dunia hanya dengan camera dan mengambil gambar di semua tempat yang aku kunjungi. Aku bekerja semakin keras untuk mencari modal menyatakan mimpi gilaku meski ditertawakan teman-teman seprofesiku. Tapi belum sempat aku tuntas menyelesaikan mimpiku itu, kabar buruk itu datang.” Ekspresi Dino kembali mengeras, bibirnya terkatup rapat dan sepertinya dadanya bergemuruh penuh amarah meski tampak kesedihan tertoreh di wajah pria itu.

“Papa meninggal, serangan jantung. Otomatis perusahaan jatuh ke tanganku karena sudah termaterai di surat wasiat. Mama yang selama ini bungkam karena tak kuasa menentang Papa akhirnya memohon padaku untuk pulang, mengambil alih perusahaan, dan membesarkannya seperti yang mereka cita-citakan. Tentu saja aku menolak, aku masih punya ambisi yang belum tuntas, tapi Mama tak mau menyerah dan meminta belas kasihanku padanya. Akhirnya, aku mengalah, kusimpan kamera serta mimpiku di gudang dan kupimpin perusahaan ini sampai sekarang.”

Arini menatap Dino lekat-lekat, ia kini mengerti semua luka yang tersirat di wajah pria itu. Namun bukannya membereskan pertanyaan di wajahnya, Arini justru menemukan pertanyaan-pertanyaan baru.

“Kenapa… kamu tidak mengejar mimpimu lagi? Bukannya kamu sekarang sudah punya cukup uang untuk memulainya?” Arini bertanya hati-hati, semoga saja Dino masih ingin menuntaskan rasa penasarannya karena sekarang ia berada di posisi sebagai seorang sahabat, bukan bawahan.

“Kamu beli baju itu bukan tanpa alasan kan?”

Dino terdiam, ragu menjawab. Ia sendiri bingung kenapa ia membeli baju itu, bahkan tanpa berpikir dua kali. Mungkin ia teringat akan mimpinya, mungkin juga hanya ingin bernostalgia sedikit, tapi pada kenyataannya ia hanyalah pria yang merindukan kebebasan mengejar mimpi-mimpinya lagi. Tidak seperti sekarang.

Well…” Dino mengangkat bahu, lalu menghempaskan punggungnya ke sandaran kursi. Mencoba untuk meredam gejolak hatinya. “Aku punya uang sekarang, tapi aku tidak punya waktu untuk itu. Perusahaan ini sekarang menjadi tanggung jawabku dan aku tidak bisa meninggalkannya seenak jidat. Lagipula…”

“Dan kamu puas dengan hidup penuh penyesalan seperti ini?”

Dino terkesiap tatkala Arini tiba-tiba memotong ucapannya dengan pertanyaan yang paling ia takutkan terlontar dari wanita itu. Ia melempar pandangaan ke atas meja, entah melihat apa, karena yang ia lihat sekarang hanyalah hidupnya yang menyedihkan.

“Kamu punya segalanya, Din, tapi hidup kamu bahkan lebih menyedihkan dari bocah-bocah gelandangan di pinggir jalan yang punya mimpi berada di posisimu sekarang ini.” Arini menatap Dino sengit, seluruh pertanyaannya telah terjawab, tapi sekarang ia tak bisa mengendalikan emosinya untuk menghilangkan ekspresi terluka di wajah pria itu.

“Kamu punya seribu satu alasan untuk menentang mimpi-mimpi gilamu, tapi kamu bahkan tidak bisa menemukan alasan untuk berhenti melukai dirimu sendiri dengan keadaanmu sekarang. Jika kamu terlalu takut untuk menyatakan mimpimu, kenapa tidak memulainya dengan memegang kameramu lagi?”

Hening. Arini tahu Dino sedang berpikir, maka tanpa banyak bicara lagi ia berdiri, lalu keluar dan kembali menjadi seorang sekertaris bagi atasannya itu.

Ooo

Arini kembali bekerja hari ini dengan wajah berantakan, semalaman ia tidak bisa tidur karena memikirkan perkataannya kemarin pada Dino. Ia tahu ia telah melakukan hal yang benar, tapi itu tak bisa menutup kemungkinan kalau ia telah menyinggung perasaan atasannya itu. Duh, bagaimana kalau ia dipecat?

Blitz! Cekrek!

Cahaya terang tiba-tiba saja menyilaukan pandangan Arini yang sedang kalut dan seketika itu juga wanita itu terlonjak dari kursinya.

Sorry, aku lupa matiin blitz-nya…”

Arini mendengar suara Dino, tapi ia masih mengerjapkan matanya karena cahaya itu membuat matanya berkunang-kunang. Sampai akhirnya Arini mendapatkan penglihatannya kembali dan benar-benar terkejut ketika mendapati atasannya itu telah berada di depannya sambil memegang kamera.

“Kamu yang bilang kalau aku harus memulainya kan?” Dino menatap Arini lekat-lekat, sementara wanita itu masih membatu di posisinya. “Ini cara aku memulainya.”

Dino kembali mengangkat kameranya ke wajahnya kemudian memencet tombol stutter dengan lensa terarah ke wajah Arini.

 Bunyi itu kembali terdengar dan Arini tidak tahu bagaimana ekspresinya sekarang, entah merasa kaget atau senang karena ia mendapati Dino telah menuntaskan perkara hidupnya.

Thanks buat gambar luar biasanya.” Dino tertawa sembari menatap hasil jepretannya tadi, lalu tersenyum ke arah Arini.

“Berkat kamu, aku menemukan hidupku lagi.”

Dino melangkah melewati Arini dan masuk ke ruangannya  kembali, sementara wanita itu masih diam di tempatnya. Mengerjap-ngerjap beberapa kali sebelum akhirnya ia sadar bahwa itu adalah kali pertama ia melihat Dino tertawa dan tersenyum dengan tulus padanya. Detik berikutnya, Arini mendapati dadanya berdebar sangat kencang, lalu ia terhempas di  kursinya dengan wajah menghangat.

Jika ini yang dinamakan cinta yang sejatuh-jatuhnya, Arini yakin kalau ia tak mungkin bisa bangkit lagi.

~See You On The Next Story~


about-photographers-11

Klick [HERE] for order

Klick [HERE] for see another BEJOness on our website!

[Coretan Dicta] Kembali Bercermin dan Menangis

Menangis di depan cermin

Ketika sedang stress, orang melakukan banyak hal untuk melampiaskannya, ada yang mengurung diri di kamar, mukul tembok dan lain-lain. Untukku sendiri, makan adalah cara pelampisan stress yang paling mujarap. Dengan mengunyah makanan enak, aku merasa tenang, dan dengan terus mengunyah aku berharap seluruh masalahku ikut hancur lalu tertelan ke saluran pencernaanku.

Selama beberapa bulan belakangan ini, di mulai dari Ujian Nasional sampai ujian masuk berguruan tinggi dan akhirnya sekarang mulai merintis bisnis online, adalah masa-masa paling stress yang pernah aku alami di hidup ini. Asal kalian tahu saja, menulis membuat perasaanku lebih baik tapi makan adalah satu-satunya obat untuk stress itu sendiri bagiku.

So, singkat kata, pola hidup food combining yang selama tahun 2013 kemarin sangat-sangat-sangat membantuku untuk menurunkan berat badanku akhirnya berantakan! Setiap kali aku berusaha untuk konsisten, gangguan yang datang bukan dari diriku sendiri tapi dari makanan yang tersedia di meja makan (shit) juga dari waktu yang sudah tidak kumiliki lagi.

Belakangan aku mulai makan dengan pikiran ‘ah, sudahlah, lagi stress ini’ atau ‘ah, nanti deh lanjut lagi food combining-nya kalau udah tenang’ tapi kemudian masa-masa tenang itu tak kunjung datang (karena berbagai macam masalah pelik yang datang tanpa peringatan) dan makanku terus-terusan berantakan.

Lalu, pagi ini aku bercermin, memandang pantulan diriku sendiri di sana dan kembali meringis hingga nyaris menangis. Aku kembali, cetusku di dalam hati. Ya, aku kembali meruntuk, menangis, memaki, kalau apa yang kulihat di cermin itu adalah sesuatu yang tidak indah. Aku kembali mengingat saat-saat diet kerasku membuahkan hasil; waktu aku dengan gembira selalu bercermin dan mendapati diriku cantik dan bangga dengan apa yang telah kudapatkan. Saat-saat itu begitu menyenangkan dan aku merindukannya.

Hehehe, aku rasa banyak orang yang mencibir tulisanku ini, mengutukku karena tidak pernah bersyukur dan sebagainya. Tapi aku yakin orang-orang yang berkata seperti itu seumur hidupnya belum pernah ‘gemuk’ sampai mengalami krisis kepercayaan diri serta jati diri sepertiku. Aku punya banyak teman yang berbadan gemuk tapi mereka punya kepercayaan diri yang luar biasa hebat sehingga tidak begitu mempermasalahkan bentuk tubuh mereka, tapi bagiku, bentuk tubuh bukan sekedar agar terlihat cantik karena…

Aku diet dengan semangat merubah jiwaku.

Tidak hanya tubuh, aku ingin merubah diriku seluruhnya dari tingkah laku hingga ke dalam-dalamnya. Aku ingin hatiku ikut berubah bersamaan dengan bentuk tubuhku. Kalian tidak tahu, ketika dulu aku di-bully oleh teman-teman SMA-ku, kesalahan sebenarnya tidak sepenuhnya berada pada mereka yang mem-bully-ku, tapi juga pada diriku sendiri. Jiwaku buruk sekali, sumpah.

Aku sulit menggambarkan bagaimana sifatku dulu kepada kalian, karena hal itu orang lain yang menilai dan aku hanya mengambil kesimpulan dari kata-kata cibiran dari orang-orang di sekitarku itu. Tapi aku akan menjelaskannya dalam beberapa kata bahwa aku yang dulu itu jutek, pemalas, sok tahu, sombong, dan caper. Bagian caper dan sok tahu itu adalah yang paling membuat orang-orang di SMA-ku dulu risih, dan kombinasi tubuh yang buruk rupa (dulu kulitku hitam juga jerawatan) membuat semuanya menjadi lebih buruk. I’m ugly on the inside and outside.

Kalian akan sangat sulit membayangkan bagaimana kehidupan masa SMA-ku waktu itu. So, fucking awsome dengan segala cucuran air mata yang menganak sungai. Hahaha. But, then, I’ve learn something when I lose my Dad and I know someone like me must change. Aku buat debut baru di sekolah dan kehidupan masa SMA-ku berakhir dengan ‘tidak buruk-buruk amat’, karena orang-orang yang mem-bully-ku dulu akhirnya menemukan objek penderitaan yang lain. Mungkin aku sudah tidak seasyik dulu kali ya, karena dengan perubahan itu aku menemukan kepercayaan diriku yang hilang terinjak-injak. Hahaha.

Ah, sudahlah, jangan bahas-bahas masa SMA-ku dulu, kepanjangan ceritanya. Nanti aku bahas di posting-an yang lain aja biar lebih enak. Hehe. Sekarang aku mau lanjut bahas soal cermin, so, ketika aku bercermin dan melihat diriku lagi hari ini. Aku seolah-olah melihat diriku yang lama, Benedikta Sekar yang buruk rupa di luar mau pun di dalam, dan hal itu membuatku kaget sekaligus sedih. Oh ya, sekali lagi kutekankan, rasa kepercayaan diriku dulu hilang bukan hanya karena bentuk tubuh tapi sifat-sifat jelekku juga. Jadi, kasusku ini benar-benar berbeda dengan yang kalian lihat di FTV atau film-film drama Korea itu. Dan jangan kira menyangkal diri seperti itu mudah ya, nulis kayak gini sih gampang, nge-lakonnya susah. Hahaha.

Terus, ketika aku menyadari aura-aura dan sisi diriku pada zaman Dark Age itu datang kembali; aku yang pemalas dan sombong dan caper serta bertubuh tidak menarik. Seorang teman mengirimiku sms dengan isi: “Eh, gimana sih food combining itu? Ajarin aku dong!”

Ini pertanda, pikirku. Hahaha. Aku selalu percaya tentang pertanda-pertanda dan kurasa inilah saatnya untuk berhenti mengkambinghitamkan ‘stress’. Aku mulai menyadari alasan ‘stress’ itu hanyalah alasan yang kubuat-buat sendiri untuk membenarkan tindakan-tindakanku dan demi Neptunus, aku harusnya sadar bahwa tidak pernah ada orang yang stress ketika sedang mengejar mimpinya!

Orang-orang yang mengejar mimpinya berlari dengan perasaan bahagia meski terjatuh berkali-kali, sedangkan aku? Baru juga berapa ratus meter udah ngos-ngosan dan merengek minta minum. Hahaha. Aku belajar satu hal lagi dari hidup, dan seharusnya menyadari itu lebih cepat. Stress tidak mungkin bisa hilang kalau tidak kita sendiri yang menghilangkannya dari pikiran kita.

Jadi, dengan menulis ini, aku kembali bercermin juga kembali menemukan kesalahanku lantas memperbaikinya. Aku akan memulai hidupku kembali dan merapikan seluruh sisinya agar ketika aku bercermin lagi di kemudian hari aku bisa bangga dengan apa yang telah aku lakukan dalam hidup ini.

Ya, aku ingin melihat diriku sendiri dengan senyuman, bukan tangisan.

[BEJO Stories] Bejo Bejo Manchester United!

Jika Nuri menyandang status pacar Adi, maka Manchester United adalah istri sah cowok jangkung itu. Sudah dua tahun mereka pacaran dan Nuri paham betul kalau janji apa pun yang pacarnya itu ucapkan padanya, akan langsung dibatalkan jika ada acara nonton bareng teman-teman di komunitas pecinta sepak bolanya itu. Nuri sendiri tidak begitu mempermasalahkan klub idola pacarnya itu, ia justru mengagumi cowok itu karena berani menggemari sesuatu sampai sefanatik itu.

 Nyatanya, Nuri tidak suka terlalu fanatik dengan sesuatu, karena menurutnya, menjadi fanatik sama saja dengan memberikan kesempatan sesuatu tersebut melukainya lebih dalam. Selama menjalani hubungan dengan pacar-pacarnya yang terdahulu, ia tidak pernah menunjukkan obsesi yang berlebihan pada mereka seperti memberikan baju, hadiah, kejutan, dan lain-lain. Itulah sebabnya hubungan Nuri dengan mantan-mantannya tidak pernah berjalan mulus, paling lama tiga bulan. Selain karena mantan-mantannya itu merasa ‘tidak cukup dicintai’ oleh Nuri, cewek itu juga merasa risih setiap kali mereka mencoba memanjakannya dengan membelikan ini dan itu. Ia hanya ingin hubungan yang aman dan tidak terlalu dalam, jadi ketika mereka putus, ia bisa dengan cepat move on; tidak seperti kebanyakan cewek yang merana karena diputusin pacarnya.

Namun, cowok bernama Septiadi Ananda ini berbeda. Entah mengapa Nuri merasa begitu nyaman menjalin hubungan dengan cowok ini hingga bertahan dua tahun tanpa percekcokan yang berarti. Nuri menyukai Adi yang tidak begitu fanatik dengan dirinya karena bagi Adi, membeli atribut bertuliskan Glory Glory Manchester United dan kaos jersey klub bola kegemarannya itu lebih penting ketimbang membanjiri Nuri hadiah. Sementara Adi sendiri sering mengakui kalau Nuri berbeda dengan pacarnya yang dulu-dulu karena tidak menuntut yang macam-macam dan memperbolehkannya menikmati hobi bolanya ini.

Hubungan Nuri dan Adi benar-benar berjalan dengan aman selama ini karena mereka merasa nyaman satu sama lain, hingga tiba-tiba saja Adi mulai berubah seiring meredupnya peforma penampilan klub sepak bola kegemarannya itu.

Nuri tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi karena ia sendiri tidak pernah memahami permainan bola. Namun, yang ia tahu pasti Adi menjadi tidak semangat hidup belakangan ini. Ia tidak lagi pergi ke acara-acara nonton bareng, tidak juga melulu mengenakan atribut Manchunian-nya yang selalu menjadi ciri kas cowok itu, dan meski pun Adi jadi punya lebih banyak waktu bersamanya, Nuri merasa pikiran cowok itu berada entah di mana.

‘Udahlah, Di, toh masih ada musim depan. MU mungkin cuman gak beruntung musim ini,’ kata Nuri saat ia mengungkit prilaku Adi yang berubah. Tapi cowok itu justru menjawab Nuri dengan nada tinggi yang tidak pernah cewek itu dengar selama mereka bersama.

‘Kamu gak akan pernah ngerti perasaanku, Nur. Ngelihat tim yang selama ini berjaya dan ditakutin sepanjang masa jadi bulan-bulanan kayak gitu rasanya sakit! Apalagi itu klub idola sendiri! Jadi kamu gak usah banyak komentar, kamu gak pernah tahu rasanya dikecewain kayak gini! Soalnya kamu gak pernah ngebiarin diri kamu untuk merasakannya!’

Nuri benar-benar terkesiap kala itu, amarahnya langsung ikut tersulut dan mereka pun berakhir dengan saling membentak. Untuk pertama kalinya mereka cekcok sebesar ini, tapi anehnya, bukannya mengajukan gugatan putus seperti yang biasanya ia lakukan pada mantan-mantannya, Nuri justru merasa sedih.

Untuk pertama kalinya ia merasa sedih, bukan marah atau merasakan perasaan-perasaan sejenis itu. Mungkin ini akibat hubungan mereka yang sudah berjalan lama dan ia merasa sayang, tapi yang mengganggu pikirannya justru bukan itu, melainkan perkataan Adi yang menyulut kemarahannya.

Apa benar ia tidak mengerti karena ia tidak pernah membiarkan dirinya merasa dikecewakan?

Nuri akui itu benar. Memangnya siapa yang ingin merasa dikecewakan? Rasanya sakit bukan? Tapi cara Adi mengatakan hal itu justru membuatnya merasa gagal sebagai manusia. Ia jadi tidak punya hak mengatakan kalau ia memahami perasaan pacarnya sendiri, karena ia tidak pernah merasakannya, dan hal itu lah yang membuatnya merasa sedih, bukan marah.

 Hah, Nuri mendesah sembari mengusap wajahnya letih, sakarang malam minggu kedua yang ia lalui sendirian di kamar sembari mengutak-atik smartphone-nya. Adi sama sekali tidak menghubunginya dan dirinya sendiri tidak mencoba untuk menghubungi lebih dahulu karena perasaannya masih campur aduk dengan gengsinya sebagai seorang cewek. Di kampus pun mereka tidak saling bertemu karena memang jurusan dan jadwal kuliah mereka berbeda. Semua terasa lebih rumit sekarang, ia tidak tahu apa yang bisa ia lakukan untuk memperbaiki keadaan hubungan mereka ini.

Mata Nuri bergerak naik turun memandang layar smartphone-nya, menilik beranda Instagram-nya jenuh karena tidak ada yang menarik, tapi ketika sudah ia ingin menutup dan mencabut baterai benda persegi empat itu, ia melihat sesuatu yang aneh.

Bejo Apparel Shop?

Seketika Nuri terkekeh, kombinasi nama ndeso dengan istilah barat seperti itu terasa aneh. Sepertinya ini akun baru yang di promosikan oleh akun online shop yang sudah ia follow. Tanpa berpikir dua kali Nuri membuka akun Instagram tersebut dan langsung terkejut ketika yang dilihatnya hanyalah kaos-kaos bersablon dan polo shirt.

Yaelah, dikirain isinya bisa lebih keren dari ini, gerutu Nuri dalam hati, tapi karena sudah terlanjur membuka, akhirnya Nuri memutuskan untuk melihat beberapa koleksi dari online shop itu. Mata Nuri kembali naik turun, melihat sekilas tapi akhirnya mendengus, sampai tiba-tiba saja matanya tertumpu pada satu gambar catalog yang memanjang baju polo shirt berwarna merah yang di bagian dadanya terbordir lambang klub bola yang sudah sangat ia hafal.

Menchester United.

Seketika itu juga pikirannya melayang lagi kepada Adi dan perasaan sedih itu langsung menggerogotinya tanpa ampun. Hatinya masih bimbang, untuk kembali menyerah atas hubungan ini atau tetap mempertahankannya. Nuri memikirkan perkataan Adi lagi, lalu melihat catalog baju di hadapannya sekali lagi. Mata cewek itu mengerjap-ngerjap kebingungan, apakah ia berani mengambil risiko merasa dikecewakan jika melangkah lebih jauh atau ia bisa saja berhenti di sini, mengakhiri semuanya dan ia kembali menjadi Nuri yang biasanya?

Polo shirt merah berberbordir lambang Menchester United itu seolah-olah mengejek; menertawakannya karena tidak berani mengambil risiko dalam hidupnya. Sialan, maki Nuri dalam hati, ia benci merasa terhina seperti ini, hingga akhirnya cewek itu pun memutuskan untuk menghubungi owner online shop bertajuk Bejo itu dan menantang baju yang tadi mengejeknya untuk memberikan keberuntungan padanya. Baca lebih lanjut

OPEN PROMOTION: BEJO Apparel Shop!

Profile Picture2 - Bejo

Akhirnya! Tepat jam 19.00 WIB, tanggal 7 Agustus 2014!

Setelah sekian hari persiapan dan pra-promosi di berbagai media sosial hingga hari ini, online shop-ku yang bertajuk BEJO Apparel Shop ini akhirnya buka juga secara resmi!

Yeppi!

Teman-teman semua di dunia maya, terima kasih sudah bersedia bertandang di post ini dan memberikan perhatian pada usaha yang baru buka ini ya. Maaf, jika online shop ini agak lebay dengan pakai opening promotion segala. Tapi aku hanya ingin berbagai perasaan dengan kalian, agar kalian tahu bahwa tidak ada yang mustahil jika kita mencoba.

Keinginanku untuk membuka sebuah online shop tercetus ketika masa-masa penantian pengumuman SBMPTN. Sepanjang waktu yang berjalan tersebut, aku sudah 80% yakin kalau aku tidak akan lulus dan mencari plan B untuk memulai masa depanku sekarang. Pilihan pertamaku adalah mencari sekolah D-1 bahasa Mandarin, tapi ternyata tidak ada dan akhirnya keinginanku untuk ke move out ke Pulau Jawa tahun ini pun pupus. Kemudian, pilihan keduaku adalah membuka usaha online, tapi waktu itu aku masih buta bisnis online dan aku benar-benar ragu akan hal itu.

Hingga akhirnya hari pengumuman SBMPTN pun tiba dan ternyata aku pun dinyatakan tidak lulus. Aku merasa sedih dan kecewa untuk beberapa saat, tapi akhirnya aku bangkit dan menyadari kalau hal itu adalah sia-sia. Selama beberapa hari aku membuat mama pontang-panting membujuk, memelas, dan menasihatiku tentang masa depan, apa yang bisa kulakukan selama satu tahun ini, dan lain sebagainya. Tapi aku tetap kukuhkan hatiku kalau aku akan mengulang tes SBMPTN tahun depan dan belajar otodidak selama setahun ini tentang bisnis online.

Kuabaikan segala kemurahhatian Mama padaku, dan aku pun mulai riset tentang bisnis online ini. Selama dua hari dua malam aku tidak bergerak dari depan laptop bahkan tidak menginjakkan kaki ke luar rumah bahkan seinci pun. Selama dua hari riset itu aku masuk mendaftarkan diri di FJB Kaskus dan mulai bertanya-tanya di sana, kemudian mendatangi blog-blog online shop untuk mencari tips menjadi seller di sebuah online shop, lalu mulai mengikuti lebih dalam orang-orang yang berjualan di media sosial, hingga tidak bisa tidur ketika mendapati kalau ternyata memerlukan modal yang tidak sedikit untuk membuat domain dan hosting. Sampai akhirnya aku menemukan metode berjualan dropshiper yang tidak membutuhkan modal sepeser pun, meski beruntung kecil ini.

Aku semakin gencar mencari-cari info tentang sistem dropshiper. Pikirku, tidak mengapa untung kecil, asalkan aku ‘memulai sesuatu’ dari sekarang. Aku wara-wiri mencari produsen yang terpercaya, dari buku, gantungan handphone, kosmetik, hingga akhirnya hatiku jatuh pada sebuah pabrik baju yang memiliki sistem dropshiper yang mupuni.

Singkatnya, aku pun mendaftar menjadi dropshiper mereka dan mereka pun melayani serta mengajariku dengan baik dan jelas. Tuhan sepertinya menjodohkan kami, hahaha, admin perusahaan tersebut benar-benar ramah padaku yang terhitung masih amatiran ini. Love them full lah!

Baca lebih lanjut

[BEJO Stories] Baju yang Berkata-Kata

Bungkam

Tidak semua orang bisa menyatakan suara hatinya dengan lantang. Kebanyakan dari mereka memilih untuk bungkam karena merasa malu dengan jati diri mereka dan takut lingkungan sosial mereka mencela-cela apa yang menjadi keinginannya. Orang-orang seperti ini biasanya adalah orang-orang yang tidak pernah berani mengambil risiko, mereka terlalu peduli dengan ‘apa kata orang’ sehingga tidak mendengar ‘apa kata hati’-nya sendiri. Seumur hidup, mereka terus menyangkali hasrat hatinya dengan mengatakan kalau apa yang ia lakukan sekarang benar dan aman, hingga pelan-pelan mereka melupakan hasrat itu lalu berakhir dengan membunuh jiwanya sendiri.

Jiwa yang mati akan menyisakan raga yang kaku seperti robot. Orang-orang yang menjalani hidupnya tanpa jiwa hanya memikirkan bekerja-uang-membesarkan anak-lalu pensiun. Mereka pikir itu adalah cara hidup yang paling aman, tidak berisiko dan membahagiakan, tapi pada kenyataannya adalah mereka menumpuk penyesalan sepanjang hidup dengan mengabaikan panggilan jiwa mereka.

Ketika mereka pensiun, mereka berpikir kalau itu merupakan sebuah kebebasan, namun penyesalan yang sudah mereka tumpuk justru mengambil alih dan menghantui pikiran mereka. Mereka lantas mulai berpikir ‘seandainya aku dulu seperti ini…’, ‘Seandainya ketika muda aku melakukan ini…’, ‘Seharusnya aku bisa begitu…’ dan lain sebagainya, hingga akhirnya pikiran itu terus menggerogoti dan masa-masa itu pun dipenuhi dengan penyesalan-penyesalan tentang masa muda mereka; merasa diri tidak berguna dan terlalu tua untuk memulai kembali.

Baca lebih lanjut

Jurnal Refleksi UC Onliners: Gerakan Berwirausaha

uceo-round-logo

Menurut seorang pakar ekonomi bernama Schumpter, faktor utama yang mendorong pertumbuhan ekonomi suatu negara adalah pengusaha dan inovasi. Kenapa bisa begitu? Karena semakin banyak pengusaha, maka semakin tinggi persaingan, jika persaingan di pasar semakin ketat,  maka pengusaha-pengusaha itu pasti melakukan inovasi pada produknya untuk tetap bertahan di pasar. Inovasi-inovasi inilah yang kemudian menggerakan roda ekonomi, adanya inovasi-inovasi tersebut kemudian bisa di ekspor atau bisa bertahan di pasar hingga pasar di sebuah negara tidak akan mati.

Nah, ngomong-ngomong, soal pengusaha dan inovasi. Beberapa hari yang lalu, aku secara tidak sengaja masuk ke website Universitas Ciputra. Sebenarnya, tidak ada maksud tertentu, hanya ingin melihat-lihat kembali universitas  yang beberapa waktu yang lalu sempat menjadi pilihan hatiku. Aku cukup mengaggumi sosok Bapak Ciputra yang berhasil sukses dalam hidupnya sebagai seorang pengusaha. Umurnya kini mungkin sudah terlampau tua untuk terus berkarya, tapi sepertinya, semangat dan pandangannya untuk Indonesia tetap ia tancapkan di benak orang-orang yang peduli pada usaha-usahanya.

Sambil melihat-lihat artikel yang ada, aku pun tanpa sengaja melihat sebuah forum yang dibuka oleh Universitas Ciputra secara umum dan gratis, yaitu: UCEO atau kepanjangannya Universitas Ciputra Entrepreneur Online. Forum ini didirikan dengan tujuan untuk berbagi ilmu dan semangat berwirausaha dikalangan masyarakat umum. Tentu saja tanpa berpikir dua kali aku pun memutuskan untuk mendaftar dan mengambil course marketing dari empat course yang disediakan.

Pada mulanya aku benar-benar bingung, aku tidak pernah masuk ke dalam sebuah forum seperti ini. Ditambah lagi, karena aku masuk di tengah-tengah course dan telah kebanyakan ketinggalan pelajaran, otomatis aku harus mengejar seluruh materi yang sebelumnya telah di ajarkan oleh pengajar melalui video-video pembelajaran yang ada.

Aku menghabiskan dua hari untuk mempelajari seluruh materi yang ada dan menggunakan Online shop-ku, BEJO Apparel Shop, sebagai materi anilisis bisnis.

Dimulai dari materi minggu pertama, yaitu 3C, yaitu Customers Needs, Company, dan Competitor. Aku mencoba menganalisa apa yang dibutuhkan oleh pembeliku, kemudian seperti apa brand dan perusahaan yang sedang aku bangun ini, serta siapa-siapa saja pesaing yang mengancam usahaku ini.

Kemudian, materi berlanjut di minggu berikutnya dengan analisis SWOT, yaitu  strengths, weaknesses, opportunities, dan treats. Dalam materi ini aku kemudian menganalisa tentang kekuatan-kekuatan dari perusahaanku lalu kelemahan-kelemahannya, lantas mencoba untuk menemukan peluang-peluang ke depannya serta ancaman-ancaman yang mungkin saja datang tak terduga.

Di minggu yang ketiga, materi mulai menjurus tentang marketing, yaitu STP, segementasi, Targeting dan Positoning. Aku mulai membagi-bagi pasarku menurutu demografis, geografis, tingkah laku, serta psikografisnya. Kemudian, menentukan target yang paling potensial bagi online shop-ku, dan akhirnya menentukan posisi di mana online shop-ku ini seharusnya berada.

Pada pekan terakhir, yaitu minggu ke empat, keseluruhan materi ditutup dengan tema Marketing Mix yang terdiri dari 4P, yaitu: Price, Promotion, Place, dan Product. Aku belajar menentukan harga bagi produkku, kemudian menentukan bagaimana melakukan promosi yang baik dengan format AIDA (attention, interest, desire, dan Action), lalu memosisikan online shop-ku di dunia maya untuk mendekati buyer-ku, dan yang terakhir mencoba mengakali meningkatakan kualitas produkku di mata buyer.

Materi di minggu yang ke empat ini tentang 4P pun kemudian di hubungkan dengan materi minggu ke tiga yaitu STP. Secara singkat bisa digambarkan seperti ini: Produk, Promosi, Place dan Price harus sesuai dengan target yang sudah kita tentukan. Jika kedua materi ini tidak singkron, otomatis usaha itu bakal labil dan ujung-ujungnya bangkrut.

Oh ya, ada satu materi terakhir sebagai FYI dari UCEO, adalah tentang daur hidup produk. Daur hidup sebuah produk dibagi menjadi empat, yaitu perkenalan, tumbuh, matang, kemudian mengalami masa-masa kemunduran. Dari keempat fase tersebut, kita bisa menggunakan materi marketing mix yaitu 4P di setiap fasenya. Namun dengan masing-masing fase difokuskan satu unsur dari 4P itu, seperti di fase perkenalan kita fokuskan dalam permainan harga, kemudian di tahap pertumbuhan kita bisa gencarkan promosi, lalu ketika produk kita sudah matang kita harus memikirkan tentang membuka cabang baru atau membangun usaha di tempat lain, dan yang terakhir ketika berada di posisi mundur, kita harus berfokus pada produk dan melakukan inovasi.

Fuh… selesai! Tahu gak? Semua materi itu aku coba pahami dalam dua hari dan sepertinya hasilnya tidak buruk-buruk amat. Aku jadi bisa lebih terfokus dalam  memetakan dan memulai usahaku ini di kemudian hari. Sudah kubilang pada kalian semua, bahwa aku tidak main-main dalam menjalani hidup ini. Aku sudah memutuskan untuk tidak kuliah tahun ini dan mencari pengalaman melalui usaha online ini. Teman-temanku yang sekarang sedang sibuk kuliah menemukan pengalamannya sendiri, dan aku pun sudah menemukan pembelajaranku sendiri. Kalian mendapatkan apa yang kalian inginkan, begitu juga aku. Hahaha, this is my life.

Akhir jurnal ini, aku ingin memberikan apresiasi yang sangat besar bagi Universitas Ciputra yang telah membuka course online gratis ini bagi umum. Aku tidak pernah habis pikir, kenapa sebuah Universitas Swasta begitu concern dengan hal ini sampai membuat inovasi yang menurutku patut di contoh oleh universitas-universitas negeri.

Kalian tahu tidak kenapa aku ingin sekali masuk ITB dan mengambil Sekolah Bisnis Menejemen? Itu karena mereka membuka satu-satunya jurusan S1 wirausaha di Indonesia. Aku benar-benar berharap bisa  menjadi seorang wirausaha yang ‘pintar’ di kemudian hari. Maksudku pintar di sini adalah, tidak hanya sekedar coba-coba. Aku ingin menjadi wirausaha yang kreatif yang mengukur risiko-risiko gagalnya dengan cermat dan memahami konsep dasarnya dengan sungguh-sungguh sebelum terjun di pasar yang sesungguhnya. Tapi, karena aku telah gagal tahun ini, otomatis aku pun belajar otodidak sembari mengambil risiko membangun online shop ini.

Syukurlah, aku beruntung (oh yeah, hidup BEJO!) bisa menemukan UCEO ini. Seandainya saja Universitas Ciputra tidak membukanya, mungkin aku belajar otodidak hanya dari membaca artikel-artikel semata tanpa benar-benar mengerti konsep dasarnya. Hahaha *peluk hangat Eyang Kakung Ciputra*

Untuk penutup, terima kasih kepada Bapak Nur Agustinus selaku pengajar dari course marketing, materi dan penjelasan Anda di video pembelajaran benar-benar telah membantu saya bangkit dan memahami seluruh konsep dasar marketing. Semoga di kemudian hari kita bisa bertemu dan saya bisa mengucapkan terima kasih secara langsung ke bapak.

Salam Entrepreneur,

Benedikta Sekar