Diposkan pada Serial

[BEJO Stories] Bejo Bejo Manchester United!

Jika Nuri menyandang status pacar Adi, maka Manchester United adalah istri sah cowok jangkung itu. Sudah dua tahun mereka pacaran dan Nuri paham betul kalau janji apa pun yang pacarnya itu ucapkan padanya, akan langsung dibatalkan jika ada acara nonton bareng teman-teman di komunitas pecinta sepak bolanya itu. Nuri sendiri tidak begitu mempermasalahkan klub idola pacarnya itu, ia justru mengagumi cowok itu karena berani menggemari sesuatu sampai sefanatik itu.

 Nyatanya, Nuri tidak suka terlalu fanatik dengan sesuatu, karena menurutnya, menjadi fanatik sama saja dengan memberikan kesempatan sesuatu tersebut melukainya lebih dalam. Selama menjalani hubungan dengan pacar-pacarnya yang terdahulu, ia tidak pernah menunjukkan obsesi yang berlebihan pada mereka seperti memberikan baju, hadiah, kejutan, dan lain-lain. Itulah sebabnya hubungan Nuri dengan mantan-mantannya tidak pernah berjalan mulus, paling lama tiga bulan. Selain karena mantan-mantannya itu merasa ‘tidak cukup dicintai’ oleh Nuri, cewek itu juga merasa risih setiap kali mereka mencoba memanjakannya dengan membelikan ini dan itu. Ia hanya ingin hubungan yang aman dan tidak terlalu dalam, jadi ketika mereka putus, ia bisa dengan cepat move on; tidak seperti kebanyakan cewek yang merana karena diputusin pacarnya.

Namun, cowok bernama Septiadi Ananda ini berbeda. Entah mengapa Nuri merasa begitu nyaman menjalin hubungan dengan cowok ini hingga bertahan dua tahun tanpa percekcokan yang berarti. Nuri menyukai Adi yang tidak begitu fanatik dengan dirinya karena bagi Adi, membeli atribut bertuliskan Glory Glory Manchester United dan kaos jersey klub bola kegemarannya itu lebih penting ketimbang membanjiri Nuri hadiah. Sementara Adi sendiri sering mengakui kalau Nuri berbeda dengan pacarnya yang dulu-dulu karena tidak menuntut yang macam-macam dan memperbolehkannya menikmati hobi bolanya ini.

Hubungan Nuri dan Adi benar-benar berjalan dengan aman selama ini karena mereka merasa nyaman satu sama lain, hingga tiba-tiba saja Adi mulai berubah seiring meredupnya peforma penampilan klub sepak bola kegemarannya itu.

Nuri tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi karena ia sendiri tidak pernah memahami permainan bola. Namun, yang ia tahu pasti Adi menjadi tidak semangat hidup belakangan ini. Ia tidak lagi pergi ke acara-acara nonton bareng, tidak juga melulu mengenakan atribut Manchunian-nya yang selalu menjadi ciri kas cowok itu, dan meski pun Adi jadi punya lebih banyak waktu bersamanya, Nuri merasa pikiran cowok itu berada entah di mana.

‘Udahlah, Di, toh masih ada musim depan. MU mungkin cuman gak beruntung musim ini,’ kata Nuri saat ia mengungkit prilaku Adi yang berubah. Tapi cowok itu justru menjawab Nuri dengan nada tinggi yang tidak pernah cewek itu dengar selama mereka bersama.

‘Kamu gak akan pernah ngerti perasaanku, Nur. Ngelihat tim yang selama ini berjaya dan ditakutin sepanjang masa jadi bulan-bulanan kayak gitu rasanya sakit! Apalagi itu klub idola sendiri! Jadi kamu gak usah banyak komentar, kamu gak pernah tahu rasanya dikecewain kayak gini! Soalnya kamu gak pernah ngebiarin diri kamu untuk merasakannya!’

Nuri benar-benar terkesiap kala itu, amarahnya langsung ikut tersulut dan mereka pun berakhir dengan saling membentak. Untuk pertama kalinya mereka cekcok sebesar ini, tapi anehnya, bukannya mengajukan gugatan putus seperti yang biasanya ia lakukan pada mantan-mantannya, Nuri justru merasa sedih.

Untuk pertama kalinya ia merasa sedih, bukan marah atau merasakan perasaan-perasaan sejenis itu. Mungkin ini akibat hubungan mereka yang sudah berjalan lama dan ia merasa sayang, tapi yang mengganggu pikirannya justru bukan itu, melainkan perkataan Adi yang menyulut kemarahannya.

Apa benar ia tidak mengerti karena ia tidak pernah membiarkan dirinya merasa dikecewakan?

Nuri akui itu benar. Memangnya siapa yang ingin merasa dikecewakan? Rasanya sakit bukan? Tapi cara Adi mengatakan hal itu justru membuatnya merasa gagal sebagai manusia. Ia jadi tidak punya hak mengatakan kalau ia memahami perasaan pacarnya sendiri, karena ia tidak pernah merasakannya, dan hal itu lah yang membuatnya merasa sedih, bukan marah.

 Hah, Nuri mendesah sembari mengusap wajahnya letih, sakarang malam minggu kedua yang ia lalui sendirian di kamar sembari mengutak-atik smartphone-nya. Adi sama sekali tidak menghubunginya dan dirinya sendiri tidak mencoba untuk menghubungi lebih dahulu karena perasaannya masih campur aduk dengan gengsinya sebagai seorang cewek. Di kampus pun mereka tidak saling bertemu karena memang jurusan dan jadwal kuliah mereka berbeda. Semua terasa lebih rumit sekarang, ia tidak tahu apa yang bisa ia lakukan untuk memperbaiki keadaan hubungan mereka ini.

Mata Nuri bergerak naik turun memandang layar smartphone-nya, menilik beranda Instagram-nya jenuh karena tidak ada yang menarik, tapi ketika sudah ia ingin menutup dan mencabut baterai benda persegi empat itu, ia melihat sesuatu yang aneh.

Bejo Apparel Shop?

Seketika Nuri terkekeh, kombinasi nama ndeso dengan istilah barat seperti itu terasa aneh. Sepertinya ini akun baru yang di promosikan oleh akun online shop yang sudah ia follow. Tanpa berpikir dua kali Nuri membuka akun Instagram tersebut dan langsung terkejut ketika yang dilihatnya hanyalah kaos-kaos bersablon dan polo shirt.

Yaelah, dikirain isinya bisa lebih keren dari ini, gerutu Nuri dalam hati, tapi karena sudah terlanjur membuka, akhirnya Nuri memutuskan untuk melihat beberapa koleksi dari online shop itu. Mata Nuri kembali naik turun, melihat sekilas tapi akhirnya mendengus, sampai tiba-tiba saja matanya tertumpu pada satu gambar catalog yang memanjang baju polo shirt berwarna merah yang di bagian dadanya terbordir lambang klub bola yang sudah sangat ia hafal.

Menchester United.

Seketika itu juga pikirannya melayang lagi kepada Adi dan perasaan sedih itu langsung menggerogotinya tanpa ampun. Hatinya masih bimbang, untuk kembali menyerah atas hubungan ini atau tetap mempertahankannya. Nuri memikirkan perkataan Adi lagi, lalu melihat catalog baju di hadapannya sekali lagi. Mata cewek itu mengerjap-ngerjap kebingungan, apakah ia berani mengambil risiko merasa dikecewakan jika melangkah lebih jauh atau ia bisa saja berhenti di sini, mengakhiri semuanya dan ia kembali menjadi Nuri yang biasanya?

Polo shirt merah berberbordir lambang Menchester United itu seolah-olah mengejek; menertawakannya karena tidak berani mengambil risiko dalam hidupnya. Sialan, maki Nuri dalam hati, ia benci merasa terhina seperti ini, hingga akhirnya cewek itu pun memutuskan untuk menghubungi owner online shop bertajuk Bejo itu dan menantang baju yang tadi mengejeknya untuk memberikan keberuntungan padanya.

000

Nuri menarik napas dalam-dalam, pintu kayu berstiker Menchester United di depannya mulai membuat dirinya merasa sedikit terintimidasi, tapi akhirnya cewek itu memberanikan diri untuk mengetuknya.

Tok. Tok. Tok.

Tiga kali ketukan. Waktu menunjukkan pukul 10.00 pagi dan ia yakin cowok itu masih setengah tidur hingga ia perlu waktu lama untuk melangkah ke pintu dan membukanya.

“Apaan sih, Jo! Gue udah bilang jangan gang…”

Omelan Adi terhenti di tenggorokan saat matanya menatap sosok Nuri di balik pintu. Ia mengerjap beberapa kali, tidak yakin ini kenyataan atau hanya sekedar mimpi, tapi saat cewek di depannya itu tersenyum kikuk, Adi sadar pacarnya benar-benar berada di depan pintu kos-kosannya.

“Hai,” sapa Nuri kaku sementara Adi diam saja, hanya menatap ceweknya itu dengan ekspresi tidak percaya. Sampai akhirnya ia sadar dan balas menyapa Nuri.

“Hai juga.”

Nuri meringis. Rasanya dua minggu tidak bertemu dan menjalin kontak seperti ini membuat mereka terasa seperti orang asing. Mereka pun hanya saling melempar pandangan, mencoba berbicara melalui ekspresi masing-masing untuk beberapa saat. Hingga Nuri maupun Adi sadar, kalau kata maaf tertulis jelas di wajah yang mereka tatap sekarang ini.

“Nur…” akhirnya Adi membuka suara. Menyadari pacarnya jauh-jauh datang ke kosannya seperti ini membuat hatinya mencelus. Hal yang benar-benar tidak disangkanya dari cewek super cuek seperti Nuri. “Er, sorry buat yang kemarin aku…”

Nuri mendongak sedikit, menatap Adi yang masih mencari kata-kata semakin lekat, diam-diam ia mengakui hatinya dirundung  rindu pada sosok ini. Jika tidak ingat mereka sedang marahan, mungkin ia akan menghambur ke pelukan Adi sekarang.

“Aku tahu kalau omonganku keterlaluan.” Adi menemukan kata-katanya dan ia pun menyelesaikannya. “Aku sadar, gak seharusnya aku lampiasin kekecewaan aku sama MU ke kamu, kamu gak salah apa-apa, David Moyes yang salah karena bikin tim kesayangan aku amburadul kayak gitu. Dan maafin aku juga karena gak berani datangin kamu duluan. Aku pikir kamu mau putus dari aku, jadi… aku nunggu kamu bilang putus… gitu.”

Mata Nuri menyipit. “Jadi kamu mau putus?”

“Gak! Gak! Gila aja!” Adi langsung panik, ia menggeleng kuat sambil mengibas-ngibaskan tangannya di udara. “Ke mana lagi gue harus nyari cewek kayak lu, Nur? Yang cuek aja kalau gue begadang nonton bola, yang santai aja pas gue batalin janji karena ada gathering fans klub, yang gak malu jalan sama gue meski gue pakai jersey, dan cewek yang entah kenapa dengan segala kecuekannya itu bikin gue nyaman.” Adi mendesah mencari udara, lalu tersenyum kikuk. “Kamu cewek langka. Satu-satunya yang berbeda dari sejuta cewek di luar sana yang benci punya pacar fans fanatik bola. Aku… aku  gak mau putus.”

Nuri sontak tergelak dengan reaksi heboh Adi hingga wajah cowok itu langsung berubah melas seperti sekarang. Sekali lagi ia diingatkan oleh hatinya sendiri bahwa ia merindukan Adi dan segala tingkah lakunya.

“Aku juga gak mau putus kok.” Nuri tersenyum lebar dan senyum itu pun melunturkan kekhawatiran di wajah Adi. “Kamu bener, aku gak ngerti apa pun tentang perasaanmu. Aku cewek cuek yang dengan kecuekannya itu menjaga diri untuk tidak berharap lebih agar nanti gak kecewa terlalu dalam. Kupikir itu cara paling aman untuk membina sebuah hubungan karena tidak akan ada rasa sakit yang tersisa jika hubungan itu berakhir. Tapi bersamamu selama dua tahun ini, aku juga belajar satu hal…”

Nuri menyodorkan bingkisan di tangannya pada Adi. Hadiah pertama yang ia berikan untuk cowok itu selama dua tahun kebersamaan mereka.

“Kamu ngajarin aku untuk mengambil risiko. Kamu merobohkan tembok yang selama ini aku bangun untuk melindungi perasaanku dari kemungkinan-kemungkinan disakiti dan dikecewakan oleh orang lain. Dan sekarang, kamu harus tanggung jawab.”

Nuri mendorong bingkisan di tangannya semakin dekat kepada Adi dan cowok itu pun mengambilnya. Adi menatap Nuri, dan Nuri pun menyuruh Adi membuka bingkisan itu dengan ekspresi wajahnya.

“Itu hadiah pertama aku ke cowok. Aku gak pernah kasih hadiah apa pun ke mantan-mantanku sebelum ini karena aku gak pernah mau merasa fanatik denga pacarku sendiri,” kata Nuri sembari menatap Adi membongkar bingkisannya dan mengeluarkan polo shirt merah yang terbordor logo Menchester United. Adi tersenyum lebar sekali mendapati hadiah itu dan menatap Nuri dengan perasaan yang ia sendiri tak bisa gambarkan dengan kata-kata.

“Bejo Bejo Menchester United ya, Sayang,” kata Nuri sambil mengulum tawa, wajahnya bersemu tatkala mendapati ekspresi Adi berlumur cinta untuknya. “Semoga MU musim depan bisa lebih bejo dari musim ini. Sebagai fans kamu, aku gak mau idolaku sedih melulu.”

Adi tertawa mendengar apa yang Nuri katakan, lalu menarik  cewek itu ke dalam pelukannya tanpa tendeng aling-aling; mengabaikan teman-teman kosannya yang mengintip iri dari balik pintu mereka masing-masing dan menyadari kalau ia merasa beruntung dicintai oleh cewek seperti Nuri.

~See You On The Next Story~


Polo Man United Signature 1

Klick [HERE] for order

Klick [HERE] for see another BEJOness on our website!

Iklan

Penulis:

Pecinta Naruto dan Conan, menganggap menulis adalah sebuah obsesi dan membaca buku sama dengan bernapas. Suka menghabiskan waktu di sudut kedai sendirian; ditemani laptop dan makanan yang paling murah di kedai tersebut :)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s