[Coretan Dicta] Kembali Bercermin dan Menangis

Menangis di depan cermin

Ketika sedang stress, orang melakukan banyak hal untuk melampiaskannya, ada yang mengurung diri di kamar, mukul tembok dan lain-lain. Untukku sendiri, makan adalah cara pelampisan stress yang paling mujarap. Dengan mengunyah makanan enak, aku merasa tenang, dan dengan terus mengunyah aku berharap seluruh masalahku ikut hancur lalu tertelan ke saluran pencernaanku.

Selama beberapa bulan belakangan ini, di mulai dari Ujian Nasional sampai ujian masuk berguruan tinggi dan akhirnya sekarang mulai merintis bisnis online, adalah masa-masa paling stress yang pernah aku alami di hidup ini. Asal kalian tahu saja, menulis membuat perasaanku lebih baik tapi makan adalah satu-satunya obat untuk stress itu sendiri bagiku.

So, singkat kata, pola hidup food combining yang selama tahun 2013 kemarin sangat-sangat-sangat membantuku untuk menurunkan berat badanku akhirnya berantakan! Setiap kali aku berusaha untuk konsisten, gangguan yang datang bukan dari diriku sendiri tapi dari makanan yang tersedia di meja makan (shit) juga dari waktu yang sudah tidak kumiliki lagi.

Belakangan aku mulai makan dengan pikiran ‘ah, sudahlah, lagi stress ini’ atau ‘ah, nanti deh lanjut lagi food combining-nya kalau udah tenang’ tapi kemudian masa-masa tenang itu tak kunjung datang (karena berbagai macam masalah pelik yang datang tanpa peringatan) dan makanku terus-terusan berantakan.

Lalu, pagi ini aku bercermin, memandang pantulan diriku sendiri di sana dan kembali meringis hingga nyaris menangis. Aku kembali, cetusku di dalam hati. Ya, aku kembali meruntuk, menangis, memaki, kalau apa yang kulihat di cermin itu adalah sesuatu yang tidak indah. Aku kembali mengingat saat-saat diet kerasku membuahkan hasil; waktu aku dengan gembira selalu bercermin dan mendapati diriku cantik dan bangga dengan apa yang telah kudapatkan. Saat-saat itu begitu menyenangkan dan aku merindukannya.

Hehehe, aku rasa banyak orang yang mencibir tulisanku ini, mengutukku karena tidak pernah bersyukur dan sebagainya. Tapi aku yakin orang-orang yang berkata seperti itu seumur hidupnya belum pernah ‘gemuk’ sampai mengalami krisis kepercayaan diri serta jati diri sepertiku. Aku punya banyak teman yang berbadan gemuk tapi mereka punya kepercayaan diri yang luar biasa hebat sehingga tidak begitu mempermasalahkan bentuk tubuh mereka, tapi bagiku, bentuk tubuh bukan sekedar agar terlihat cantik karena…

Aku diet dengan semangat merubah jiwaku.

Tidak hanya tubuh, aku ingin merubah diriku seluruhnya dari tingkah laku hingga ke dalam-dalamnya. Aku ingin hatiku ikut berubah bersamaan dengan bentuk tubuhku. Kalian tidak tahu, ketika dulu aku di-bully oleh teman-teman SMA-ku, kesalahan sebenarnya tidak sepenuhnya berada pada mereka yang mem-bully-ku, tapi juga pada diriku sendiri. Jiwaku buruk sekali, sumpah.

Aku sulit menggambarkan bagaimana sifatku dulu kepada kalian, karena hal itu orang lain yang menilai dan aku hanya mengambil kesimpulan dari kata-kata cibiran dari orang-orang di sekitarku itu. Tapi aku akan menjelaskannya dalam beberapa kata bahwa aku yang dulu itu jutek, pemalas, sok tahu, sombong, dan caper. Bagian caper dan sok tahu itu adalah yang paling membuat orang-orang di SMA-ku dulu risih, dan kombinasi tubuh yang buruk rupa (dulu kulitku hitam juga jerawatan) membuat semuanya menjadi lebih buruk. I’m ugly on the inside and outside.

Kalian akan sangat sulit membayangkan bagaimana kehidupan masa SMA-ku waktu itu. So, fucking awsome dengan segala cucuran air mata yang menganak sungai. Hahaha. But, then, I’ve learn something when I lose my Dad and I know someone like me must change. Aku buat debut baru di sekolah dan kehidupan masa SMA-ku berakhir dengan ‘tidak buruk-buruk amat’, karena orang-orang yang mem-bully-ku dulu akhirnya menemukan objek penderitaan yang lain. Mungkin aku sudah tidak seasyik dulu kali ya, karena dengan perubahan itu aku menemukan kepercayaan diriku yang hilang terinjak-injak. Hahaha.

Ah, sudahlah, jangan bahas-bahas masa SMA-ku dulu, kepanjangan ceritanya. Nanti aku bahas di posting-an yang lain aja biar lebih enak. Hehe. Sekarang aku mau lanjut bahas soal cermin, so, ketika aku bercermin dan melihat diriku lagi hari ini. Aku seolah-olah melihat diriku yang lama, Benedikta Sekar yang buruk rupa di luar mau pun di dalam, dan hal itu membuatku kaget sekaligus sedih. Oh ya, sekali lagi kutekankan, rasa kepercayaan diriku dulu hilang bukan hanya karena bentuk tubuh tapi sifat-sifat jelekku juga. Jadi, kasusku ini benar-benar berbeda dengan yang kalian lihat di FTV atau film-film drama Korea itu. Dan jangan kira menyangkal diri seperti itu mudah ya, nulis kayak gini sih gampang, nge-lakonnya susah. Hahaha.

Terus, ketika aku menyadari aura-aura dan sisi diriku pada zaman Dark Age itu datang kembali; aku yang pemalas dan sombong dan caper serta bertubuh tidak menarik. Seorang teman mengirimiku sms dengan isi: “Eh, gimana sih food combining itu? Ajarin aku dong!”

Ini pertanda, pikirku. Hahaha. Aku selalu percaya tentang pertanda-pertanda dan kurasa inilah saatnya untuk berhenti mengkambinghitamkan ‘stress’. Aku mulai menyadari alasan ‘stress’ itu hanyalah alasan yang kubuat-buat sendiri untuk membenarkan tindakan-tindakanku dan demi Neptunus, aku harusnya sadar bahwa tidak pernah ada orang yang stress ketika sedang mengejar mimpinya!

Orang-orang yang mengejar mimpinya berlari dengan perasaan bahagia meski terjatuh berkali-kali, sedangkan aku? Baru juga berapa ratus meter udah ngos-ngosan dan merengek minta minum. Hahaha. Aku belajar satu hal lagi dari hidup, dan seharusnya menyadari itu lebih cepat. Stress tidak mungkin bisa hilang kalau tidak kita sendiri yang menghilangkannya dari pikiran kita.

Jadi, dengan menulis ini, aku kembali bercermin juga kembali menemukan kesalahanku lantas memperbaikinya. Aku akan memulai hidupku kembali dan merapikan seluruh sisinya agar ketika aku bercermin lagi di kemudian hari aku bisa bangga dengan apa yang telah aku lakukan dalam hidup ini.

Ya, aku ingin melihat diriku sendiri dengan senyuman, bukan tangisan.

Iklan

7 thoughts on “[Coretan Dicta] Kembali Bercermin dan Menangis

  1. Dicta semangat, ya… aku terharu deh baca tulisanmu. Mungkin aku memang ga ngerti apa yang kamu rasain karena aku ga ada di posisimu, tapi ijinkan aku memberi seenggaknya semangat :3
    Mungkin kamu ga kenal aku一fyi, aku salah satu followersmu一dan akupun kenal kamu dari twitter :3
    Uhm, jangan putus asa ya 🙂 Tuhan pasti punya maksud dengan ‘menganugerahkan’ semuanya ini ke kamu. Semoga lulus SBMPTN tahun depan, Dicta 🙂

    1. Wah, terima kasih sudah mau baca coretanku ya. Hahaha, nulis coretan kayak gini selalu bikin perasaan lebih baik. Komentar kamu bikin aku semangat lagi nih, walaupun kita cuman kenal dari dunia maya, kadang teman-teman dunia mayaku lebih dekat daripada yang lain 😀

      Amin, semoga aku bejo dan lulus. Semoga kamu terus beju juga ya dalam hidup 😀

      1. Iya Dik. Kamu tetap semangat ya. Sekarangpun masih sibuk sama dagang online? Atau ada kegiatan produktif lainnya?

        Aamiin… aamiin… tapi aku maunya bejo bukan beju Dik 😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s