[BEJO Stories] Regret

Terima kasih telah bertransaksi dengan  @bajubejo

HAPPY BEJO!

 

Dino menyeringai sinis sambil menatap tulisan di layar iPhone-nya datar, lantas melempar benda itu ke atas meja sekenanya; ia yakin owner dari online shop yang baru saja ia hubungi itu perempuan karena menulis pesan selebay itu.

Tok. Tok.

Seseorang mengetuk pintu ruangannya dan Dino mendapati sekertarisnya, Arini, menjorokan kepalanya dari balik pintu. Perlakuan tidak sopan menurutnya, tapi karena wanita itu sudah bekerja dengannya lama sekali dan kini mereka tak ubahnya menjadi sahabat di kantor, Dino mencoba memakluminya. Lagipula, wanita itu selalu tahu di mana posisinya.

“Pak Dino, tadi saya dapat kabar kalau meeting dengan klien jam satu nanti di batalin dan sudah di-reschedule untuk lusa. Jadi, jadwal Bapak kosong sampai sore. Apa Bapak tidak ingin  makan siang?”

Dino bertopang dagu, menatap Arini yang hanya separuh tubuhnya saya yang ia lihat dengan tatapan yang masih tanpa emosi.

“Kamu tahu gak di dunia ini ada yang namanya intercom?”

Mendengar Dino tak peduli dengan ajakan makan siangnya dan berkomentar tentang hal lain, Arini hanya terkekeh tidak peduli.

“Buat apa sih pakai intercom segala kalau misalnya kita cuman terhalang pintu gini?” kata Arini sembari menyelipkan rambutnya ke belakang telinga. “Teknologi diciptakan bukan untuk membuat kita merasa jauh kan?”

Dino menggeleng tak acuh, sudah katam dengan segala filosofi hidup wanita itu yang menurutnya aneh dan tidak masuk akal.

“Jadi, mau makan siang?” tawar Arini lagi dan akhirnya pria itu pun mendesah setuju.

Ooo

Semua orang di kantor bergosip tentang Arini dan Dino yang terlampau dekat melebihi hubungan bos dan sekertaris. Ada yang bilang kalau Arini menjual diri agar bisa masuk ke perusahaan ini ada juga yang bilang kalau Dino mungkin saja gay sehingga kedekatannya dengan Arini hanya kamuflase. Tapi Dino bukan tipe orang yang peduli dengan hal-hal seperti itu sementara Arini juga tak pernah memusingkan kesinisan teman-teman sekantornya karena ia berhasil mencuri ‘kedekatan’ dengan atasan, hingga hubungan mereka pun berjalan sebagaimana mestinya tanpa terganggu dengan seluruh gosip-gosip yang menyebar.

“Kamu beneran bukan Gay ‘kan?”

Dino mengangkat wajahnya dari daging sapi yang sedang ia potong dan menatap Arini sejurus, menuntut penjelasan dari mana wanita itu berani bertanya hal aneh seperti itu dengan ekspresi wajahnya.

“Hahaha, aku cuman penasaran aja, kenapa orang kayak kamu sampai sekarang masih jadi fakir asmara,” terang Arini di sela kunyahannya. “Kamu ganteng dan sukses, kurang apa lagi? Aku yakin banyak cewek yang ngejar-ngejar kamu, tapi kamunya aja yang gak mau. Makanya aku tanya, kamu gay atau bukan.”

“Hidup terlalu singkat untuk disibukin buat hal-hal begitu,” jawab Dino minim argumen, terkesan tidak peduli dengan hal itu. Ia memang tidak pernah memikirkan nasib jodohnya sampai umurnya yang sudah lebih dari kepala tiga ini. Baginya, hal-hal seperti itu membuat hidupnya tidak fokus.

“Tapi menurutku…” Arini menyela dan Dino siap mendengarkan kata-kata sok bijak dari wanita itu. Kadang-kadang ia sendiri bertanya-tanya, kenapa ia sanggup hang out dengan Arini yang sifat dan pemikirannya jauh bertolak belakang dengannya. “Hidup juga terlalu singkat untuk dihabiskan sendirian.”

I’m fine being alone,” sambar Dino.

So, why am I here?” Arini mengangkat alisnya, menantang. Dino diam saja, tak menjawab pertanyaan yang sebenarnya sudah ia coba jawab sejak lama namun belum bisa ia pecahkan. “See…? Jangan congkak lah, kamu gak mungkin hidup sendirian terus. Mau aku bantu cariin jodoh?”

“Tsk…” Dino mendecak sinis, lantas melipat kedua tangannya di depan dada sembari menyandarkan punggungnya di kursi. “Jangan betingkah deh kamu. Nyari jodoh buat diri sendiri aja gak bisa mau bantu aku urusan begituan. Mending urus diri kamu sendiri aja dulu.”

Mendengar apa yang Dino katakan bibir Arini langsung mengerucut, ia paling benci diingatkan kalau sebenarnya ia juga fakir asmara. Umurnya memang belum tiga puluh, tapi tiga tahun lagi ia sudah pantas di cap perawan tua oleh keluarga besarnya. Ia benar-benar tak sanggup mendengar omelan Mama-nya tentang perjodohan dan lain sebagainya.

“Bukannya terima kasih udah ditawarin bantuan malah nyindir. Mau kamu apa sih?” sahut Arini masih dengan wajah masamnya.

“Gak usah kepo sama hidup aku. Sejak kapan kamu jadi orang yang pengen tahu gini?” balas Dino.

Arini pun mendesah berat, entah karena lelah menanggapi atasannya ini atau bingung dengan dirinya sendiri. Tapi kemudian, ia meletakan sendok-garpu di tangannya ke atas piring lantas mencondongkan tubuhnya sedikit mendekati Dino, seolah-olah hendak mengatakan hal yang sangat penting.

Okay, aku kepo, tapi setelah satu pertanyaan ini aku akan berhenti kepo-in kamu.” Dino sedikit mengangkat dagunya, meminta Arini melanjutkan ucapannya.

“Apa kamu bahagia sekarang?”

Dino terdiam sejenak. Ia mengingat posisi dan semua keberuntungan yang ia miliki sekarang ini, ada banyak orang yang berharap berada di posisi yang sekarang ia miliki dan ia yakin dengan semua itu ia bahagia.

“Aku bahagia,” jawab Dino, dan saat Arini membuka mulut lagi seolah-olah tidak puas dengan jawabannya, pria itu langsung menyela. “Hanya satu pertanyaan dan aku baru saja menjawabnya.”

“Apa masih ada yang ingin kamu capai setelah ini?” Arini mengabaikan peringatan Dino dan langsung menyelesaikan pertanyaannya yang lain. Dino mendengus jengkel, tapi sejenak ia pun memikirkan jawabannya. Ia masih dalam usia produktif dan yakin bahwa masih banyak hal yang bisa ia lakukan setelah ini, juga tentang mimpi-mimpi serta obesesi yang belum tercapai.

“Aku punya banyak hal lagi yang ingin aku capai,” jawab Dino akhirnya dan Arini pun kembali ke posisi duduknya semula. Mata wanita itu menatap Dino lekat, menyorotkan ekspresi sedih juga prihatin yang entah dari mana asalnya.

“Kalau masih banyak hal yang ingin kamu capai setelah ini…” Arini menyipitkan matanya, menatap Dino penuh selidik.

“Berarti kamu sekarang gak bahagia dong.”

Dino terperanjat dan sampai jam makan siang berakhir lalu mereka kembali menjadi Bos dan Sekertaris. Dino hanya bisa diam.

Ooo

Arini percaya dengan keberuntungan dan ia selalu menganggap semua yang terjadi di hidupnya adalah sebuah keberuntungan, entah itu kejadian buruk atau kejadian baik, karena setiap hal yang terjadi di hidupnya pasti memiliki alasan. Sama seperti saat pertama kali ia masuk ke perusahaan ini dan mendapati Andino Raharja sebagai bosnya. Ia pikir pria anti sosial dan sulit bergaul itu akan menyulitkannya, tapi semakin lama ia mengenal Dino dan mendalami semua sikap dan prilakunya, Arini justru menemukan ada kesedihan aneh yang tak bisa ia ungkapkan dengan kata-kata di mata pria yang umurnya terpaut tujuh tahun darinya itu.

Apa hidup Dino sekarang penuh penyesalan?

Arini mulai bertanya-tanya lagi, tapi tak yakin apa ia berani bertanya langsung tentang hal itu setelah ia membuat Dino bungkam sepanjang hari ini. Sifat ingin tahunya mungkin sudah tak bisa ditahan lagi sekarang, karena sejak lima tahun bekerja di bawah Dino, ia sudah memendam banyak sekali pertanyaan pada pria itu.

Kring! Kring!

Blackberry Arini berdering dan buru-buru wanita itu mengangkatnya.

“Halo?”

“Kak! Kakak lagi sibuk gak?”

Oh, Nuri, adik perempuannya, tumben menelponnya.

“Enggak, lagi santai aja di kamar, baru pulang kerja. Kenapa?”

“Eh, coba deh beli baju di online shop yang kemarin aku ceritain! Beneran bawa keberuntungan loh, aku udah baikan sama Adi gara-gara beli baju di sana!”

Mendengar perkataan Nuri, Arini sontak tergelak. “Gak usah aneh-aneh lah, masa beli baju aja bisa bawa untung.”

“Ih, seriusan! Kakak sendiri percaya soal keberuntungan-keberuntungan kayak gitu kan? Coba deh, gak ada salahnya juga dicoba, siapa tahu kakak bisa cepat dapat jodoh. Hahaha.”

“Sialan kamu! Mentang-mentang udah taken! Jangan sampai kamu ‘dung’ duluan dari kakak ya?” balas Arini sengit, sementara tawa Nuri masih saja menggema.

“Udah ah, Kakak capek. Nanti deh kakak lihat online shop-nya, makasih udah ingetin Kakak soal jodoh ya!”

Click!

Arini mendesah berat, mengurut keningnya yang tiba-tiba terasa nyeri karena adiknya kembali mengingatkan tentang hal yang paling tidak ingin ia pedulikan. Ia punya prinsip hidup yang jelas dan filosofi yang ia yakini benar, ia mencintai pekerjaannya dan merasa puas dengan apa yang telah ia miliki sekarang karena tidak pernah melewatkan waktu sedetik pun untuk bersyukur. Namun, ketika ia bertemu dengan sesuatu yang berbau jodoh dan cinta, semuanya terasa buntu, karena mungkin saja ia satu-satunya wanita di dunia ini yang tidak pernah jatuh cinta yang benar-benar jatuh.

Dada Arini semakin terasa sesak mengingat perkara hatinya, lantas diliriknya laptop di atas meja dengan gusar. Wanita itu ragu-ragu menuruti saran adiknya untuk beberapa saat, namun akhirnya ia meyakini bahwa sekarang saatnya ia memohon keberuntungan kepada Tuhan dengan cara apa pun. Toh, tak ada salahnya berharap pada hal-hal kecil seperti ini.

Ooo

Semenjak perbincangan waktu itu, hubungan Arini dan Dino menjadi renggang, tapi lebih tepatnya Dino-lah yang menghindari Arini. Pria itu selalu mengisi waktunya dengan padat dan membuat Arini kepalang bingung dengan semua meeting yang sebenarnya tidak perlu buru-buru. Beberapa kali ketika waktu makan siang tiba, Arini mencoba mengajak Dino makan bersama, tapi pria itu selalu mencari-cari alasan dan membiarkan Arini menikmati makanannya sendirian. Arini sudah mencoba untuk tidak ambil pusing dengan perkara itu, tapi kian hari perasaannya jadi makin kacau dengan sikap Dino yang tidak seperti biasa itu.

Argh, menyebalkan!

Ting!

Lift yang terbuka berbunyi dan dengan segera Arini melangkahkan kakinya menuju pintu keluar. Hari ini ia memilih mengerjakan semua pekerjaannya dengan cepat dan pulang lebih awal untuk menenangkan diri.

“Mbak Arini!” Pak Beno, satpam di kantornya, tiba-tiba memanggil dan dengan segera Arini menoleh ke arah pria yang mendekati usia pensiun itu. Dino bilang ia tidak tega memberhentikan Pak Beno atau pun menggantinya karena didikasi pria paruh baya itu pada perusahaan ini.

Arini berjalan  mendekati Pak Beno yang membawa sebuah bungkusan di tangannya. “Ada apa, Pak?”

“Ini ada paket buat, Mbak.” Pak Beno menyerahkan bungkusan di tangannya kepada Arini.

Arini mengerjap, mengingat-ingat tentang paket hingga akhirnya ia menyadari bahwa ini adalah pesanannya dari online shop yang waktu itu disarankan oleh adiknya Nuri, ia sengaja menggunakan alamat kantor karena sebagian besar waktunya ia habiskan di gedung pencakar langit ini.

“Makasih ya, Pak,” sahut Arini, lantas langsung menjejalkan bingkisan itu ke dalam tasnya lalu buru-buru melanjutkan perjalanan pulangnya. Ia sudah terlalu lelah memusingkan tentang keberuntungan dari paket ini dan memilih untuk membiarkan apa yang terjadi untuk terjadi saja.

Ooo

Dino memandang bingkisan di atas meja kerjanya risih. Ia tidak menyangka dari berpuluh-puluh orang yang berada di kantor ini paket pesanannya itu harus tertukar dengan Arini, sekertarisnya sendiri. Pak Beno yang mengantarkan paket ini ke ruangannya tadi sepertinya tidak menyadari kalau ia telah salah memberikan paket.

Sambil mendesah berat, Dino melirik jam di atas meja yang menunjukkan jarum pendek ke angka sepuluh dan ia pun memutuskan untuk lembur hari ini. Belakangan ia terlalu memaksakan dirinya tenggelam dalam pekerjaan, bukan hanya karena ingin menghindari Arini tapi sebagian besar karena ia ingin merenungi hidupnya.

Dino menyandarkan tubuhnya di kursi dan memejamkan matanya erat-erat; napasnya naik turun dan desahan lelahnya terembus nyaring.

Apa ia bahagia sekarang?

Pria itu kembali menanyakan pertanyaan yang sama dengan yang Arini tanyakan pada dirinya. Ia ingin sekali menjawab ‘ya’ dan menghibur perasaannya sedemikian rupa, tapi Arini kemudian membuatnya tersadar bahwa jauh di dalam hatinya ada sesuatu yang mati dan membuatnya tidak bisa menikmati kebahagiaan yang seharusnya bisa ia rasakan di posisinya sekarang.

Dino tidak bisa menemukan jiwanya.

Pria itu yakin ia bernapas dan hidup, tapi hanya sekadar itu, ia sudah lupa bagaimana rasanya menjalani hidup ini dengan jiwa. Semua pekerjaan kantor, uang yang mengalir ke rekeningnya, akhir pekan di kamar hotel berbintang, juga liburan di luar negeri hanyalah rutinitas yang tidak ada artinya; hanya untuk menunjukkan kesan pada dunia betapa sukses dan bahagianya ia sekarang sementara pelan-pelan ia melupakan mimpi-mimpi masa mudanya.

Hah, seandainya waktu bisa diputar kembali atau kesempatan itu masih ada, mungkin ia tak akan hidup dalam penyesalan seperti ini.

Ooo

Arini duduk di ruangan atasannya dengan tak henti-hentinya menggigit bibir—kebiasaannya jika sedang merasa gugup dan salah tingkah. Waktu baru menunjukkan pukul setengah tujuh pagi dan ia sudah berada di sini sementara teman-teman sekantornya yang lain baru selesai sarapan. Digenggamnya bingkisan yang dibungkus kertas kado berwarna cokelat di tangannya dengan perasaan campur aduk; ada rasa takut, bersalah serta penasaran yang menjadi satu di kepalanya.

Semalam ia sukses memarahi owner online shop tempatnya membeli kaos karena mengira telah salah mengirim barang. Namun setelah diminta mengamati nama penerima yang tertera di paket pengiriman tersebut, ia baru sadar bahwa itu bukan namanya, tapi nama atasannya. Seketika itu juga ia panik karena sudah terlanjur membongkar paket baju yang dipesan bosnya itu. Namun di sela-sela rasa paniknya, Arini juga kembali bertanya-tanya ketika melihat signature yang tersablon di baju itu.

‘Business owners get to choose their own hours. We get to choose which 12 hours a day we work.’

Rasanya sangat tidak pas untuk Dino yang notabenenya adalah business owners sementara signature yang tersablon itu merujuk pada pekerjaan seorang fotografer. Anehnya lagi, Dino bahkan bisa membeli ratusan baju yang harga serta kualitasnya ratusan kali lebih bagus dari baju ini, tapi kenapa ia tertarik membelinya? Apa pria itu sedang bergurau dengan dirinya sendiri atau memang ada makna tersendiri yang membuatnya membeli baju ini, huh?

Perasaan Arini semakin terasa tidak nyaman. Berpuluh-puluh pertanyaan menumpuk di kepala wanita itu sampai-sampai ia nyaris tidak menyadari pintu ruangan ini terbuka dan pemiliknya masuk; mendapati dirinya sudah ada di sana.

“Maaf, aku nyuruh kamu datang pagi-pagi.” Dino buru-buru mengambil tempat duduk di hadapan Arini sebelum sempat wanita itu bangkit untuk memberi salam. “Ini paket pesananmu.”

“I-iya, Pak… gak papa.” Arini yang masih sedikit kaget dengan kehadiran Dino buru-buru mengambil paket yang masih terbungkus rapi itu, kemudian menyodorkan bikisan di tangannya tadi kepada Dino.

“A-anu, Pak… Maaf. Saya kemarin sudah terlanjur bongkar paket Bapak sebelum saya sadar kalau ini milik Bapak. Jadi, saya bungkus lagi sendiri.” Dino terpekur menatap bungkusan yang disodorkan kepadanya, kemudian meraihnya sembari menatap wanita di hadapannya ini lekat-lekat.

“Kamu lihat isinya?”

Deg. Jantung Arini rasanya berhenti berdetak untuk beberapa detik, sebelum akhirnya ia mengangguk kikuk dengan senyum getir penuh rasa bersalah.

Keheningan menyergap mereka berdua. Arini benar-benar merasa tidak enak sekarang ini meskipun di lain pihak ia juga gondok ingin bertanya tentang berbagai macam hal. Sementara Dino sendiri tidak tahu harus bagaimana menanggapi situasi seperti ini, ia ingin marah, tapi ia juga bimbang tatkala melihat pertanyaan menumpuk di wajah wanita itu—pertanyaan-pertanyaan yang sepertinya sudah lama ingin Arini tanyakan tapi Dino selalu punya cara untuk pura-pura tidak menyadarinya.

“Aku dulu fotografer.”

Suara Dino menuntaskan hening di antara mereka dengan pernyataan yang benar-benar tidak disangka oleh Arini. Wanita itu menatap Dino dengan ekspresi terkejut yang sama sekali tidak ia sembunyikan, tapi ia tidak berkata apa pun dan membiarkan Dino melanjutkan menjawab pertanyaan-pertanyaan yang terbaca di wajahnya.

“Dari kecil aku selalu menurut apa kata Papa.  Aku sekolah dan akhirnya lulus sarjana ekonomi sebagai persiapan mengambil alih perusahaan ini, tapi ketika aku berkenalan dengan fotografi, untuk pertama kalinya aku menentang Papa sampai kabur dari rumah dan jadi gelandangan di jalan.” Bibir Dino tertarik ke atas sedikit, mengingat masa-masa pemberontakannya selalu saya membuatnya geli sekaligus rindu. “Hanya berbekal beberapa potong baju dan kamera yang kubeli dengan tabunganku sendiri aku pergi ke jalan-jalan; menerima bayaran jadi tukang potret keliling atau bekerja paruh waktu di sebuah studio foto kenalanku. Papa tidak mencariku, ia kepalang sakit hati dengan polahku sampai-sampai tidak peduli kalau aku mati atau tidak. Tapi, aku juga tidak peduli, aku menikmati hidupku yang seperti itu.

“Dulu, aku punya mimpi gila. Berkeliling dunia hanya dengan camera dan mengambil gambar di semua tempat yang aku kunjungi. Aku bekerja semakin keras untuk mencari modal menyatakan mimpi gilaku meski ditertawakan teman-teman seprofesiku. Tapi belum sempat aku tuntas menyelesaikan mimpiku itu, kabar buruk itu datang.” Ekspresi Dino kembali mengeras, bibirnya terkatup rapat dan sepertinya dadanya bergemuruh penuh amarah meski tampak kesedihan tertoreh di wajah pria itu.

“Papa meninggal, serangan jantung. Otomatis perusahaan jatuh ke tanganku karena sudah termaterai di surat wasiat. Mama yang selama ini bungkam karena tak kuasa menentang Papa akhirnya memohon padaku untuk pulang, mengambil alih perusahaan, dan membesarkannya seperti yang mereka cita-citakan. Tentu saja aku menolak, aku masih punya ambisi yang belum tuntas, tapi Mama tak mau menyerah dan meminta belas kasihanku padanya. Akhirnya, aku mengalah, kusimpan kamera serta mimpiku di gudang dan kupimpin perusahaan ini sampai sekarang.”

Arini menatap Dino lekat-lekat, ia kini mengerti semua luka yang tersirat di wajah pria itu. Namun bukannya membereskan pertanyaan di wajahnya, Arini justru menemukan pertanyaan-pertanyaan baru.

“Kenapa… kamu tidak mengejar mimpimu lagi? Bukannya kamu sekarang sudah punya cukup uang untuk memulainya?” Arini bertanya hati-hati, semoga saja Dino masih ingin menuntaskan rasa penasarannya karena sekarang ia berada di posisi sebagai seorang sahabat, bukan bawahan.

“Kamu beli baju itu bukan tanpa alasan kan?”

Dino terdiam, ragu menjawab. Ia sendiri bingung kenapa ia membeli baju itu, bahkan tanpa berpikir dua kali. Mungkin ia teringat akan mimpinya, mungkin juga hanya ingin bernostalgia sedikit, tapi pada kenyataannya ia hanyalah pria yang merindukan kebebasan mengejar mimpi-mimpinya lagi. Tidak seperti sekarang.

Well…” Dino mengangkat bahu, lalu menghempaskan punggungnya ke sandaran kursi. Mencoba untuk meredam gejolak hatinya. “Aku punya uang sekarang, tapi aku tidak punya waktu untuk itu. Perusahaan ini sekarang menjadi tanggung jawabku dan aku tidak bisa meninggalkannya seenak jidat. Lagipula…”

“Dan kamu puas dengan hidup penuh penyesalan seperti ini?”

Dino terkesiap tatkala Arini tiba-tiba memotong ucapannya dengan pertanyaan yang paling ia takutkan terlontar dari wanita itu. Ia melempar pandangaan ke atas meja, entah melihat apa, karena yang ia lihat sekarang hanyalah hidupnya yang menyedihkan.

“Kamu punya segalanya, Din, tapi hidup kamu bahkan lebih menyedihkan dari bocah-bocah gelandangan di pinggir jalan yang punya mimpi berada di posisimu sekarang ini.” Arini menatap Dino sengit, seluruh pertanyaannya telah terjawab, tapi sekarang ia tak bisa mengendalikan emosinya untuk menghilangkan ekspresi terluka di wajah pria itu.

“Kamu punya seribu satu alasan untuk menentang mimpi-mimpi gilamu, tapi kamu bahkan tidak bisa menemukan alasan untuk berhenti melukai dirimu sendiri dengan keadaanmu sekarang. Jika kamu terlalu takut untuk menyatakan mimpimu, kenapa tidak memulainya dengan memegang kameramu lagi?”

Hening. Arini tahu Dino sedang berpikir, maka tanpa banyak bicara lagi ia berdiri, lalu keluar dan kembali menjadi seorang sekertaris bagi atasannya itu.

Ooo

Arini kembali bekerja hari ini dengan wajah berantakan, semalaman ia tidak bisa tidur karena memikirkan perkataannya kemarin pada Dino. Ia tahu ia telah melakukan hal yang benar, tapi itu tak bisa menutup kemungkinan kalau ia telah menyinggung perasaan atasannya itu. Duh, bagaimana kalau ia dipecat?

Blitz! Cekrek!

Cahaya terang tiba-tiba saja menyilaukan pandangan Arini yang sedang kalut dan seketika itu juga wanita itu terlonjak dari kursinya.

Sorry, aku lupa matiin blitz-nya…”

Arini mendengar suara Dino, tapi ia masih mengerjapkan matanya karena cahaya itu membuat matanya berkunang-kunang. Sampai akhirnya Arini mendapatkan penglihatannya kembali dan benar-benar terkejut ketika mendapati atasannya itu telah berada di depannya sambil memegang kamera.

“Kamu yang bilang kalau aku harus memulainya kan?” Dino menatap Arini lekat-lekat, sementara wanita itu masih membatu di posisinya. “Ini cara aku memulainya.”

Dino kembali mengangkat kameranya ke wajahnya kemudian memencet tombol stutter dengan lensa terarah ke wajah Arini.

 Bunyi itu kembali terdengar dan Arini tidak tahu bagaimana ekspresinya sekarang, entah merasa kaget atau senang karena ia mendapati Dino telah menuntaskan perkara hidupnya.

Thanks buat gambar luar biasanya.” Dino tertawa sembari menatap hasil jepretannya tadi, lalu tersenyum ke arah Arini.

“Berkat kamu, aku menemukan hidupku lagi.”

Dino melangkah melewati Arini dan masuk ke ruangannya  kembali, sementara wanita itu masih diam di tempatnya. Mengerjap-ngerjap beberapa kali sebelum akhirnya ia sadar bahwa itu adalah kali pertama ia melihat Dino tertawa dan tersenyum dengan tulus padanya. Detik berikutnya, Arini mendapati dadanya berdebar sangat kencang, lalu ia terhempas di  kursinya dengan wajah menghangat.

Jika ini yang dinamakan cinta yang sejatuh-jatuhnya, Arini yakin kalau ia tak mungkin bisa bangkit lagi.

~See You On The Next Story~


about-photographers-11

Klick [HERE] for order

Klick [HERE] for see another BEJOness on our website!

5 pemikiran pada “[BEJO Stories] Regret

  1. Dikta, ini kryscopter96, maaf ya baru mampir untuk baca. Honestly, kamu kreatif banget ya… kerja online shop dengan cara promosi pake stories yang oke punya (tbh, aku juga udah baca yg BBMU :v).
    Overall, kamu nggak salah kalo bilang ini adalah salah satu yang kamu suka soalnya storyline-nya emang apik banget. Diksinya as great as usual. Dan umm, part yg paling saya suka itu di akhir-akhir… nyess banget abis. Ide ceritanya wow banget, kamu bisa ngambil problematika kehidupan tentang mimpi dan percintaan terus dikemas dalam cerita yang apik. Wow, two thumbs buat kamu.

    1. Halooo 😀 Gak papa, aku dibaca aja sudah seneng kok :3
      Hehehe, makasih ya sudah mau baca, aku nulisnya emang seneng banget. Makanya mau bagi-bagi di Twitter :3 Semoga suka ya, silakan main2 lagi ke sini. Hahaha.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s